Tolong baca Author's Note diakhir cerita
Kamsahamnida!
Xie xie!
Play BGM
[Girls Day - I miss you]
We are One!
.
.
.
.
-BaekYeol Area-
"Astaga! Mereka berciuman!"
"Ahh! Dia kembali!"
"Seulgi! Yeoja itu Kang Seulgi bukan?"
"Tentu saja! Tidak salah lagi dia Kang Seulgi.. Oh, tidak dia mendapatkan bibir Ketua Park lagi..." lirih salah satu yeoja menahan tangis.
"KYAAAA! TIDAKK!"
"Aku tidak kuat melihatnya..."
"Hentikan! Hiks.."
Begitulah jeritan pilu, komentar iri, menyedihkan, memenuhi seluruh halaman SM SHS. Tentunya uraian kata yang dilampirkan lebih dominan pada suara kaum hawa. Siswa yang menjadi penonton setia pun ikut mengomentari pasangan tersebut layaknya juri menilai adegan romantis Ketua Penguasa Sekolah dan si gadis cantik.
"Haha. Mereka bagaikan sebuah lukisan yang keluar dari frame!" puji salah satu murid laki-laki— terpana memandang Park Chanyeol yang berdiri kaku dengan mata terbuka dengan Seulgi yang menciumnya tanpa izin. Sementara lain halnya bagi para siswi yang masih histeris menanggapi.
Benar.
Kedua manusia berlainan jenis itu memang sempurna. Park Chanyeol yang tampan bak pangeran sedangkan Kang Seulgi yang mempunyai aura cantik menawan layaknya Tuan Putri kerajaan. Tidak heran sejak dulu mereka memang menyandang gelar terkenal di SM SHS. Dan kedatangan Seulgi membuat para siswi-siswi menjadi semakin tertekan.
Queen Seulgi telah kembali.
Tidak butuh waktu lama bagi untuk mengenali Seulgi bagi para murid SM SHS yang sudah lama bersekolah disana . Apalagi murid-murid yang sejak SM JHS melanjutkan ke SM SHS. Mereka pasti mengenal betul siapa itu Seulgi.
Bagaikan sebuah film yang memiliki tombol pause. Semua kegiatan disekitar mereka terasa bergerak begitu lambat. Sepasang kaki mungil itu masih berpijak ditanah. Namun pikirannya melayang entah kemana. Kepalanya menunduk menatap lahan kosong yang tidak begitu menarik jika diperhatikan. Tapi apa daya? Haruskah dia mengadahkan wajahnya sekedar melihat kekasihnya sedang dicium oleh gadis lain?
Mata sipit Baekhyun memberanikan diri memandang kearah tangan kanannya. Tatapannya begitu kosong. Jemarinya mati rasa. Bahkan dia mulai merasa udara disekelilingnya menipis dan dadanya tercekat hebat.
Tangan besar yang sedari tadi memegang tangan kecilnya harus menghilang. Sehingga tidak berapa lama Baekhyun seperti disadar sepenuhnya ketika Chanyeol melepaskan tangan Baekhyun sepihak. Baekhyun hanya bisa diam tanpa membantah. Kepalanya menunduk lagi dengan berbagai spekulasi yang berkeliaran kesana kemari diotaknya.
Segalanya entah mengapa terasa begitu rumit.
Baekhyun semakin sulit bernafas menanggapi hal tersebut. Matanya memanas dan dadanya sungguh semakin terasa nyeri. Dia sendiri tidak mengerti mengapa perasaannya begini. Semuanya terjadi begitu cepat dan tidak diduga. Bahkan ketika kehilangan kehangatan tangan kekasihnya dirinya serasa diterhempas ketanah dengan keras.
Sungguh menyedihkan ekspresi Byun Baekhyun saat ini.
Seulgi menyudahi acara 'ciuman sepihak' tersebut. Menyadari pemuda tampan dihadapannya sama sekali tidak merespon ciuman manisnya. Namun gadis itu tetap tersenyum melihat Chanyeol masih memandangnya dengan tatapan yang sama seperti tadi.
"Kau tidak berubah" ucap Seulgi membuyarkan lamunan Chanyeol seketika.
Pria tinggi itu mengejapkan matanya beberapa kali seolah sadar akan sesuatu yang sedari tadi menghipnotis dirinya. Namun sekali lagi. Seulgi bergerak terlalu cepat hingga tubuh kurusnya mendekat untuk mendekap Ketua Park lebih erat. Memeluknya dengan mata terpejam seolah Chanyeol akan pergi dari pandanganya saat itu juga.
"Aku sangat merindukanmu, Chanyeol-ah—"
Baekhyun diam.
"Saranghae"
Dan pernyataan Seulgi sukses memaksa tubuh Baekhyun untuk semakin menjatuhkan dirinya kebawah. Betapa sakitnya hati sang pemuda mungil itu mendengar satu kata cinta yang keluar begitu mudah dari mulut sang yeoja asing. Entah mengapa Baekhyun bahkan tidak menangis. Dia cukup pintar untuk menyadari bahwa dia masih terlalu bingung dengan situasi ini. Sehingga airmatanya lebih baik tidak dikeluarkan sekarang.
Oh, apa karena dia berusaha terlihat lebih kuat dihadapan kedua manusia itu?
Baekhyun tetap tidak mengerti.
Kakinya gemetar pada pijakkannya sendiri. Ingin rasanya dia beranjak pergi dari sana jauh-jauh tanpa harus melihat perkara yang membuat hatinya lebih sakit lagi.
GREB!
"Ikut aku" genggaman tangan seseorang yang berbisik dengan nada memerintah. Mutlak membangunkan Baekhyun dari lamunannya.
Kepalanya menoleh pelan pada sumber suara. Namja itu menemukan mata pemuda mungil itu berkaca-kaca. Jujur namja itu sedikit iba melihat ekspresi Byun Baekhyun yang terlihat sangat menyedihkan. Lalu tanpa meminta persetujuan lebih lanjut dari Baekhyun. Namja itu sudah menggeret paksa tangan si mungil menjauh dari pasangan yang sedang menggemparkan seluruh siswa siswi SM SHS.
"Siapa dia Chanyeol-ah? Anggota barumu? Wajahnya manis" timpal Seulgi sambil merengkuh lengan kekar Chanyeol.
Chanyeol hanya diam. Tatapannya datar menatap lurus. Kesadarannya sudah pulih sepenuhnya ketika mendengar derap langkah Baekhyun menjauh darinya. Pria tampan itu mendesahan berat. Dengan segera Chanyeol melangkahkan kakinya menjauh sehingga rengkuhan Seulgi dilengannya secara otomatis terlepas.
"Chanyeol? Kau mau kemana?" tanya Seulgi.
Chanyeol seolah tuli. Dia tetap berjalan dan entah mengapa tujuannya malah kembali masuk kedalam lorong sekolah. Kepalanya sakit sekarang.
"Chanyeol!" Seulgi tidak menyerah.
Dia cukup heran dengan sikap Chanyeol yang mengacuhkannya seperti ini. Walau sebenarnya Seulgi tahu betul tipe pria macam apa seorang Park Chanyeol. Tapi tindakan Chanyeol yang tidak membalas ciumannya atau bahkan mengucapkan kata 'selamat datang kembali!' membuatnya merasa terabaikan.
Demi Tuhan. Bermimpilah terus Seulgi. Park Chanyeol bukanlah lelaki romantis seperti yang kau harapkan. Dia hanya seorang berandal sekolah yang tidak menyukai berbagai peraturan.
"Chanyeol berhenti! Kau tidak dengar aku memanggilmu?" sahut Seulgi, nada bicaranya naik satu oktaf ketika tangan mulusnya menarik pergelangan tangan Chanyeol.
Chanyeol berhenti berjalan. Mau tidak mau tubuhnya berbalik karena paksaan tindakan Seulgi. Yeoja itu berusaha mengambil alih perhatian Chanyeol sebisa mungkin.
Namun Chanyeol tetap pada pendiriannya. Diam membisu menatap datar Seulgi yang melampirkan senyuman manis. Yeoja itu menaruh tangannya pada pundak Chanyeol. Mengusapnya sensual kebelakang leher Chanyeol dan menariknya mendekat. Tangan kirinya mengelus lembut pipi pria tampan itu. Sedangkan Chanyeol? Dia tetap diam. Bahkan ketika Seulgi merapatkan dadanya pada tubuhnya.
"Kau masih sangat dingin. Tidak berubah sama sekali. Tapi aku baru saja kembali dan aku merindukanmu. Tidakkah kau menyambutku setelah dua tahun kita tidak bertemu? Kau tidak ingin bersamaku seharian ini? Kita bisa menghabiskan waktu di apartemenku Yeol. Bagaimana?"
Tawaran Seulgi membuat sudut bibir pemuda itu naik keatas. Dia mendekatkan wajahnya pada Seulgi sementara yeoja cantik itu tersenyum menunggu tindakan Chanyeol selanjutnya. Bibir Chanyeol beralih pada telinga Seulgi. Dia menghembuskan nafas beratnya lalu membuka mulut hendak mengatakan..
.
.
.
"Maaf. Kita putus!"
Ucap Chanyeol penuh penekanan dengan nada terkesan sangat dingin. Tidak mempedulikan reaksi gadis dihadapannya. Chanyeol melepaskan diri dari pelukan Seulgi. Lalu menyungggingkan senyuman tipis sekali melihat mata kucing itu melebar tidak percaya. Kal ini Seulgi terdiam kaku berusaha mencerna tiga kata yang baru saja dia dengar.
Dan setelah kesadarannya kembali satu tetes airmata jatuh membasahi pipinya. Ekspresi liciknya menghilang. Matanya memerah dan alisnya berkerut dalam. Bibirnya terbuka mengeluarkan satu hembusan nafas mengejek.
Seulgi tidak memungkiri bahwa ia sangat shock.
Pada akhirnya dia menggeram kesal. Seulgi tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya dengan seorang namja. Apalagi namja yang sangat dia cintai. Seulgi adalah wanita idaman seluruh pria.
Hell, dia baru saja kembali dari Amerika demi Chanyeol dan Chanyeol dengan mudah mengakhiri hubungan mereka? Tepat saat Seulgi baru saja melepas rasa rindu-nya sepihak pada pria tampan itu. Dia sudah dicampakkan dengan tidak terhormat. Hal seperti ini sangat menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang Ratu SM SHS.
"Hah. Jadi ini kejutan yang dia katakan? Menarik sekali" lirih Seulgi tersenyum menakutkan berurai airmata.
Dia sudah tahu dibalik semua ini. Pasti ada sumber yang menyulut api emosinya. Dan bukan Kang Seulgi jika dia tidak bisa menghancurkan siapa saja yang berusaha untuk menghalangi segala keinginannya.
Seulgi mengusap bekas airmatanya kasar dan cepat melangkahkan kakinya pada parkiran yang sudah sepi. Langit berubah menjadi gelap. Mata kucing itu menemukan sosok lelaki yang dia cari.
"Jadi ini maksudmu?" tunding Seulgi tanpa basa basi.
Pemuda itu menoleh. Dirinya yang bersandar pada mobilnya tersenyum sambil bersedekap. Ketika melihat ekspresi kacau Seulgi sudut bibirnya terangkat—tersenyum remeh.
"Ah aku paham!" seperti mendapatkan pencerahan dan sedikit bermain-main. Namja itu kemudia membuka bibirnya dengan tangan mengacung keatas.
"Astaga. Secepat itukah dia menyatakan hal itu padamu?"
"Jangan sok dramatis! Aku tahu kau mengetahui sesuatu disini Oppa"
"Hah, kukira dia butuh waktu setahun mengatakannya. Ternyata tidak"
"Oppa! Dengarkan aku!" bentak Seulgi merasa ucapannya dianggap angin semilir oleh si namja joker.
"Inikah kejutan yang kau katakan?" Seulgi bertanya dengan nada rendah. Suaranya terdengar lebih dominan menahan amarah daripada menahan isakkannya. Sedangkan pemuda itu tetap tersenyum licik.
"Bukankah sudah kukatakan padamu sebelumnya? Menjauhlah dari Park Chanyeol, Seulgi"
"Tidak! Kau pikir aku apa? Aku mencintainya Oppa!" dan pernyataan Seulgi sukses membuat Kim Jongdae tertawa keras.
"Pfff... Kurasa kau mencintai kebohongan yang kau buat sendiri Seulgi. Sudah kubilang kejutan ini hanya akan memaksamu untuk semakin pergi darinya. Lepaskanlah Park Chanyeol dan kembalilah pada tunangan kaya-mu di Amerika. Jangan ganggu kehidupannya lagi disini" jelas Chen menatap tajam kearah Seulgi.
Seulgi merenggut. "Aku tidak mau kembali kesana! Aku lebih memilih Chanyeol! Dia harus bersamaku!"
Jeritan terakhir Seulgi memecah suasana hening disana. Chen diam. Dalam hatinya dia bergumam— 'Tentu tidak akan terjadi Seulgi' tambahnya.
Chen juga tidak ingin ambil andil dalam masalah yang akan disebabkan oleh perempuan ini. Tapi dia sudah terjerat bagai ikan dalam kungkungan jaring.
Yang bisa Chen lakukan hanya memperingatkan Seulgi. Atau... tetap diam jika dia mulai berpihak pada Chanyeol. Dan keputusan Chen adalah—
"Lakukanlah sesukamu. Aku yakin sekali kali ini Chanyeol tidak akan melepaskannya" ucap Chen final lalu berbalik dan membuka pintu mobilnya.
"Sudah kuduga. Kau telah menyembunyikan sesuatu yang tidak aku ketahui. Sekarang kau ada dipihak Chanyeol eoh, Oppa?" Seulgi tersenyum miris mendengar pernyataan Chen. Mata sudah berkilat-kilat penuh amarah.
Chen berusaha tenang. Dia hanya mengabaikan Seulgi dan mulai masukki mobilnya. Hingga suara mesin terdengar menderu. Meninggalkan Seulgi sendirian di tempat parkir SM SHS.
Gadis cantik itu masih berdiri kaku. Hanya Chen yang dia miliki. Satu-satunya orang yang bisa dia andalkan saat ini enggan membantunya. Membantu Seulgi untuk mengubah Chanyeol meski dengan cara yang tidak seharusnya.
Well, Seulgi adalah yeoja keras kepala. Dia tidak berhenti sampai disitu. Maka Seulgi mengambil ponselnya dan menekan satu tombol menuju seseorang yang sekarang diharap bisa membantunya.
"Pergi mata-matai Park Chanyeol sekarang juga. Jika kau sudah dapat info dimana dia berada hubungi aku kembali"
.
.
.
Sebuah mobil berhenti tepat dipinggir jalanan sepi. Hanya suara mesin yang memenuhi keheningan diantara dua namja didalamnya. Salah satu dari mereka terlihat gusar menatap namja mungil disampingnya— Terdiam seperti kehilangan nyawa.
Baekhyun terus menatap kosong segala yang hal yang ditangkap oleh sang retina. Pupilnya menatap kearah dashbor mobil Kim Jongin. Seakan dari dalam dashbor itu akan keluar berbagai jawaban yang menghapuskan kegelisahan diotaknya.
"Hahh..."
Kim Jongin atau sebut saja Kai, menghembuskan nafas selagi mengusak kepalanya dengan kedua tangan. Gusar, kesal, dan cemas—mungkin. Entahlah. Dia sendiri bingung harus mengatakan apa pada Baekhyun.
Tunggu? Kenapa dia harus bertingkah seperti Chanyeol yang harus menjelaskan alasan situasi tersebut terjadi? Dia bukan kekasih Baekhyun. Lantas kenapa dia menjadi seseorang yang paling bersalah disini?
"Aku... mau pulang. Terima kasih atas tumpangannya Kai-ah" lirih Baekhyun membuka pintu mobil namun..
KLEK!
Kai meng-autolock semua pintu mobilnya.
"Kai... Biarkan aku pergi sekarang..."
"Hentikanlah Byun Baekhyun. Aku tahu kau cukup terkejut dengan kejadian tadi" ungkap Kai dengan nada rendah.
Baekhyun kembali diam. Tangannya kaku dan tubuhnya melemas mengingat kembali adegan Chanyeol yang sebenarnya dicium oleh gadis yang tidak dia kenal. Jika Baekhyun boleh jujur dia ingin sekali mengetahui alasan kejadian tersebut. Tapi dia takut dengan apa yang akan dia dengar dari Kai. Maka dia hanya diam tanpa berharap apa-apa.
"Kai... Aku harus pulang" lirihnya dengan suara gemetar. Entah kenapa Baekhyun suka sekali menyebutkan kata 'pulang' saat ini.
Kai merasa pilu melihatnya. Hubungan mereka baru saja memasuki babak manis. Namun kenapa penghalau selalu datang merusak segalanya? Kai tidak tahan untuk memberitahu Baekhyun. Tapi dia tidak ingin melukai seseorang yang amat sahabatnya cintai ini.
"Baekhyun" panggil Kai.
Baekhyun tidak bergeming. Kai memanggilnya lagi kali ini lebih lembut dan lebih sopan. Takut membuat Baekhyun marah padanya. Mengingat ternyata umur Baekhyun lebih tua beberapa bulan.
"Hyung... Tatap aku" pinta Kai.
Baekhyun pun akhirnya menoleh.
Betapa terkejutnya Kai melihat mata Baekhyun memerah dihadapannya saat ini. Kai sangat tahu Baekhyun sedang menahan tangisannya. Tapi apa itu tidak berlebihan sampai mata memerah lalu genangan air memenuhi pelupuk matanya?
"Hyung... Kau—"
Kai tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Dia hanya mampu menelan seluruh ucapannya bulat-bulat. Baekhyun terus memberikan pandangan seolah meminta Kai mengatakan segala hal yang Baekhyun tidak ketahui. Namun pada akhirnya Kai mengalah. Dia menghela nafas berat dan membuka mulutnya..
"Hyung. Apa pun yang terjadi.. Aku harap kau bisa menghindar dari Chanyeol saat ini sampai semuanya membaik" ucap Kai cepat sambil memandang kejalanan.
Apa?
Apa tadi Baekhyun salah dengar?
Baekhyun tidak merasa tuli. Dia mendengar jelas apa yang pria seksi ini katakan. Namun nukan hal itu yang dia inginkan dari Kai. Kenapa Kai malah mengatakan hal yang tampak membuat semuanya menjadi lebih buruk?
Penuturan Kai membuat hati Baekhyun semakin tertusuk. Tubuhnya kembali nyeri disemua sudut sendi-sendinya. Baekhyun mengedipkan mata beberapa kali. Menghalau airmata dipelupuknya jatuh.
Kenapa saat ini dia harus menjauh dari Chanyeol? Jadi pemikiran Baekhyun tentang Seulgi benar? Apa benar selama ini Chanyeol menduakannya?
"Kenapa?" tanya Baekhyun dengan suara parau.
Kai meneguk ludahnya. Dia menyadari satu kebodohan yang baru saja dia ciptakan. Kalimatnya tadi justru akan membuat Baekhyun semakin terluka. Tapi apa boleh buat. Ini demi Baekhyun sendiri dan hubungan mereka kedepannya.
"Aku tidak bisa menjelaskannya. Lebih baik kau dengar langsung dari Chanyeol. Tentunya... setelah yeoja itu kembali pergi" tutur Kai penuh kegusaran sambil menggenggam erat stir mobil.
"Tapi hyung. Selama yeoja itu masih disini. Aku harap kau tetap percaya pada Chanyeol. Dia sangat mencintaimu Baekhyun hyung. Percayalah!" tambah Kai menatap dalam pada mata Baekhyun.
Baekhyun mengalihkan pandangannya kemana-mana. Dia sungguh sangat bingung mengapa sekarang dia harus menjauh namun juga tetap percaya pada kekasihnya. Apa yang selama ini para penguasa sekolah sembunyikan. Dan siapa yeoja itu?
Entah kenapa dia merasa dungu karena tidak paham akan situasi ini. Dia hanya bisa mengikuti segala perintah Kai. Juga berharap penuturan Kai mengenai Park Chanyeol yang sangat mencintainya bukanlah omong kosong belaka.
Lagipula sebelum mereka bercinta Baekhyun memang pernah mengatakan bahwa Chanyeol butuh kepercayaannya bukan? Karena itu ketika mengingatnya Baekhyun berusaha menyanggupinya.
Baekhyun menutup mata. Pandangannya seolah memudar dipenuhi oleh genangan airmata. Baekhyun berusaha bernafas netral sambil membuka mulutnya.
"A—aku mengerti" lirih Baekhyun pelan.
Kai mengangguk tanpa Baekhyun ketahui. Dia kembali menyalakan mesin mobil dan melajukannya menuju rumah Baekhyun.
.
.
.
"Fuck!"
Untuk kesekian kalinya pria tampan itu mengumpat. Dia mendapati layar ponselnya menampilkan warna merah dengan gambar gagang telepon. Pertanda ponsel Baekhyun tidak bisa dihubungi.
Tangannya begitu lihai mengayunkan stir mobilnya kesana kemari. Sementara mata bulatnya menatap kiri dan kanan. Berusaha mencari sosok mungil yang sedari tadi tidak dia temukan. Bahkan ketika mobilnya sudah berhenti tepat didepan rumah sederhana keluarga Byun. Rumah itu kosong dan satu tempat lain yang dia ketahui adalah klub malam tempat Baekhyun biasa bekerja. Dia harus mendatangi tempat itu dan menemui Baekhyun sesegera mungkin.
Ponselnya berdering nyaring. Dengan cepat Chanyeol mengangkatnya tanpa melihat siapa si penelpon. Seketika suara yeoja yang terdengar seakan merusak gendang telinganya. Chanyeol berdecak kesal lalu memutuskan sambungannya dengan Seulgi yang tadi menelpon.
"Yeoja brengsek!" umpatnya lagi.
Disisi lain Seulgi tersenyum.
"Gotcha Prince Park! Aku sudah menemukan keberadaanmu sekarang" ucap Seulgi menyeringai, ketika mendapat satu pesan dari seseorang mengenai keberadaan Chanyeol yang telah disadap ponselnya.
"Ikuti mobil Chanyeol sekarang!" perintahnya pada sang supir.
.
.
.
Chanyeol mendapati seorang namja yang sedang berdiri dibalik meja bar. Namja itu membelakanginya. Tanpa berpikir dua kali kaki jenjangnya melangkah lebar-lebar penuh ketidak sabaran dalam hatinya.
"Hyung" panggilnya pada sang bartender.
"Eoh, Chan—"
"Langsung saja. Apa Baekhyun ada disini?" tanya Chanyeol cepat dengan nafas terengah-engah.
Lay menatap sekitar. Bahkan kebelakang ruang staf sembari mengelap salah satu gelas ditangannya. Pemuda itu memberikan reaksi heran pada wajah Chanyeol sambil mengangkat kedua bahunya. Melihat ekspresi Lay sepertinya dia juga tidak mengetahui dimana keberadaan Baekhyun.
Chanyeol mendesah keras. Dia sempat berputar ditempat mengedarkan pandangannya sama seperti Lay tadi. Chanyeol mengusap wajahnya kasar sambil berkacak pinggang— sedikit frustasi.
"Kemana dia?" tanyanya lagi pada Lay.
"Entah. Aku belum melihatnya hari ini" jelas Lay tanpa memandang Chanyeol.
Chanyeol mengangguk lemah. Sejenak perasaannya menjadi begitu berat. Dia tahu setelah ini Baekhyun pasti akan menjauhinya sebelum dia menjelaskan semuanya. Maka tanpa pamit terlebih dahulu pada Lay. Chanyeol membawa kakinya keluar dari klub malam tersebut. Meninggalkan Lay yang menatapnya sendu.
Lay menghela nafas berat. "Dia sudah pergi. Kau boleh keluar Baeby" ucap pria bertindik itu pada Baekhyun yang sedang berjongkok dibawah meja bar.
Baekhyun memeluk kedua kakinyanya dengan wajah bertumpu ke-lutut. Dia semakin mengengerutkan tubuhnya sambil sesekali mengusap lengannya sendiri. Berusaha mendapatkan kekuatan entah dari mana asalnya.
Dia harus kuat untuk tidak menangis. Baekhyun tetap memegang janjinya pada Kai. Dan Baekhyun tidak ingin kepercayaan dirinya dan Chanyeol runtuh. Meski selalu terdapat kata 'tidak mudah' dalam setiap tindakannya namun Baekhyun berusaha sebisa mungkin. Namun saat ini akan lebih baik jika dia tidak menemui Chanyeol terlebih dahulu. Dia masih belum siap harus menghadapi kekasihnya dengan ekspresi seperti apa nantinya.
Sementara dibalik tembok yang mengarah pada lorong klub. Seulgi bersembunyi memantau Park Chanyeol yang sedari tadi bergerak gusar disekitar bar. Seulgi merasa Chanyeol sedang mencari seseorang. Pria itu terlihat gusar dan cemas. Belum sempat Seulgi menghampirinya pria tinggi yang berada dilantai dansa melangkah keluar menuju pintu bertuliskan exit.
Sayang Chanyeol terlalu cepat berlari meninggalkan tempat itu sebelum Seulgi mendatanginya dan hendak bertanya hal-hal aneh.
Seminggu telah berlalu.
Semenjak kejadian mengejutkan di SM SHS. Sekolah tersebut masih saja dibuat gempar sekali lagi oleh Queen mereka yang kembali bersekolah disana. Para yeoja penggemar penguasa sekolah yang dulu sering berkumpul dan mengagumi mereka sekarang sudah tidak ada. Mereka hanya sering memandang dari tempat yang sangat sangat jauh. Sekedar mengagumi para namja tampan tersebut. Mereka tentu tidak ingin mendapat death glare dan hukuman dari Kang Seulgi—sang Queen SM SHS.
"Kalian benar-benar sudah berubah" ungkap Seulgi sambil mengaduk-aduk jusnya.
Para penguasa sekolah hanya bisa diam menganggapi kecanggungan disalah satu meja kantin.
Yap, hal seperti ini bukan sesuatu yang langka. Seulgi pernah bergaul dengan mereka. Gadis itu juga merupakan salah satu gadis yang bisa dekat dan pergi bersama-sama dengan para penguasa sekolah.
Hanya Seulgi seorang.
Dan benar-benar bukan Seulgi namanya jika tidak bisa bersikap biasa seakan tidak terjadi apapun. Bahkan ucapan mutlak Chanyeol mengenai berakhirnya hubungan mereka seminggu yang lalu hanya terabaikan. Seolah hal tersebut tidak pernah terjadi.
Seulgi terus saja mendekat kepada Chanyeol bahkan lebih lengket dari sebelumnya. Dia bahkan tidak memusingkan sikap dingin Chanyeol padanya. Tanpa stastus baginya bukan masalah. Asal tidak ada yang berani mendekat pada Park Chanyeol—pangeran miliknya.
"Chanyeol. kau tidak makan?" tanya Seulgi dengan senyuman menawan.
Chanyeol tetap diam. Seulgi terus berbicara meski dia tahu Chanyeol tidak akan mendengarkannya. Karena bagi Chanyeol hal itu sangatlah tidak penting. Pandangan keempat temannya beralih pada Chanyeol dan Seulgi bergantian. Beberapa dari mereka mendesah dan terlihat malas. Luhan yang tidak tahan mengambil tindakan pertama untuk menjauh dari meja yang—sungguh membuatnya jenuh.
"Aku mau kekelas" ucap Luhan sedikit mendelik.
Seulgi hanya melambaikan tangan. Lalu kembali memeluk santai lengan kekar Chanyeol yang masih saja menutup mulut disampingnya.
"Chanyeol-ah. Hari ini temani aku pergi ke Myeondong yah. Ada beberapa baju yang ingin kubeli" ujar Seulgi menatap pada rahang bawah Chanyeol dan mengusapnya perlahan.
"Hentikan" suara berat itu keluar diikuti nada terkesan ketus.
Chanyeol menampik tangan Seulgi cukup kasar. Membuat orang-orang yang duduk dimeja yang sama dengan Ketua penguasa sekolah juga Seulgi semakin hening. Mereka berusaha acuh sambil terus fokus memakan makanannya masing-masing.
"Chanyeol-ah. Kau kenapa? Biasanya kau tidak begini. Sekarang kau berubah"
"..."
"Chanyeol. Aku berbicara padamu" lirih Seulgi sedikit memaksa.
Yeoja itu kembali memasang wajah sendunya berharap Park Chanyeol luluh akan tatapan cantik gadis itu.
"Chanyeol"
Pria itu menghela nafas berat.
"Aku mendengarkan"
"Tapi kau tidak menatapku, Chanyeol.."
"Aishh... Kau benar-benar merepotkan!" geram Chanyeol yang akhirnya memalingkan wajahnya membuat Seulgi tersenyum senang.
"Hmm, Chanyeol-ah. Beberapa hari yang lalu aku melihatmu pergi ke klub malam"
Deg!
Tubuh Chanyeol menegang.
Pria itu mengerutkan alisnya sambil memandang kedepan. Apa selama ini Seulgi membuntutinya? Ternyata yeoja ini belum menyerah untuk menyelidiki lebih lanjut mengapa Chanyeol tiba-tiba mengakhiri hubungannya. Pasti ada penyebab dari segala tindakan aneh Chanyeol.
"Apakah malam itu kau sedang mencari seseorang eoh?" tanya Seulgi lagi.
"Bukan urusanmu" ucap Chanyeol cepat.
"Kenapa waktu itu kau ada di klub malam kecil?"
"..."
"Ternyata kau mulai tertarik bermain-main dengan yeoja disana. Jadi inikah alasanmu menyudahi hubungan kita?" ujar Seulgi diselingi tawa miris.
Chanyeol tidak menjawab.
"Kau tau? Sebetulnya, sama sekali bukan gayamu untuk pergi ke klub murahan seperti itu. Kau seharusnya bermain di klub yang lebih besar. Kau terlihat asing disana"
"Berhenti berbicara seenaknya atau bertanya hal-hal aneh! Ini urusanku. Kehidupanku! Kau tidak berhak melarangnya bahkan maturnya!" sahut Ketua penguasa sekolah sambil berdiri dan menggebrak meja membuat siswa siswi lain mengarahkan pandangan pada meja mereka.
"Chanyeol jangan berteriak" ucap Kai pelan.
Chanyeol tidak menghiraukan perkataan Kai. Dia terus menatap tajam pada mata kucing Seulgi yang juga menatapnya sinis. Mata itu seolah menantang Chanyeol untuk mengeluarkan sikap binalnya. Namun Chanyeol tentu saja tidak akan sebodoh itu melanggar janjinya pada Baekhyun.
Gadis itu tersenyum—lebih tepatnya menyeringai pada pemuda itu. Tebakan Seulgi memang benar mengenai respon Chanyeol. Dia hanya butuh bukti lain yang menguatkan hipotesisnya.
"Kau tidak perlu marah. Aku hanya bertanya Chanyeol" senyum Seulgi lalu menyerup jusnya lagi. Tampak acuh.
Seulgi benar-benar memancing emosi Tuan Park. Chanyeol segera melangkahkan kakinya menghindari meja tersebut. Dirinya benar-benar marah dengan segala sikap Seulgi yang sealu berbuat seenaknya. Pikirannya juga jenuh terus menerus membayangkan sosok yang membuat hatinya berkali-kali lipat merindu seperti orang tolol.
Pria itu berjalan tegap dengan wajah frustasi. Beberapa murid yang melintas bersinggungan dengannya enggan mendekat. Mereka sadar akan tindakan Chanyeol yang selalu mem-bully murid lain jika suasana hatinya sedang bosan atau buruk.
Lain halnya ketika Chanyeol berpacaran dengan Baekhyun. Dia terlihat begitu berbeda dan lebih menghargai manusia. Yah, setidaknya pem-bully-an di sekolah itu sedikit berkurang akibat Baekhyun.
Kenyataannya? Baekhyun sekarang sudah tidak disisinya. Entah hal apa yang sudah disepakati oleh teman-teman sekelompoknya. Mereka semua terlihat berusaha begitu keras menghindarkan Chanyeol dan pemuda mungil itu. Luhan sempat berkata untuk menjauhi Baekhyun sementara. Chanyeol hanya menyanggupi dengan sikap keras kepalanya. Dia sungguh sangat enggan diharuskan berlari pergi dari sumber kehidupannya.
Tapi apa boleh buat?
Dipihak lain Baekhyun ternyata melakukan hal yang sama. Meski beberapa kali sempat melihat wajah Chanyeol. Baekhyun akan langsung berlari secepat mungkin sampai Chanyeol sendiri kewalahan mengejarnya. Bukan hal yang tiba-tiba jika Baekhyun menjauhinya. Chanyeol tahu dia sudah kepergok basah sedang berciuman dengan Seulgi. Walau seratus persen itu adalah kesalahan Seulgi yang melakukannya secara sepihak. Tapi Baekhyun belum tahu kebenarannya bukan?
Lelah sudah semua saraf yang berfungsi didalam diri Chanyeol. Sekarang yang ada dibenaknya setiap saat hanya rasa bersalah pada Baekhyun, Baekhyun, dan Baekhyun. Dia ingin mencoba membenahinya. Memperbaiki hubungan mereka. Dia ingin kembali melihat senyuman dan sikap menggemaskan Byun Baekhyun jika ia sedang marah.
Chanyeol bisa gila.
Chanyeol tidak bisa seperti ini terus. Dia tidak ingin melihat ekspresi sendu dari wajah kekasih-nya lagi. Dia yakin Baekhyun menjauhinya pasti karena membenci dirinya. Maka dari itu dia mengambil tindakan nekat. Dia sungguh tidak peduli oleh larangan Luhan dan tanggapan dari pemuda mungil itu jika mereka akhirnya bertemu muka.
Dia sudah sangat merindukan Byun Baekhyun.
.
.
.
Namja mungil itu menatap pemandangan ribut dihadapannya. Lampu-lampu klub yang bersinar terang gemerlap kesana kemari secara acak. Tetap tidak membuatnya terpengaruh. Musik yang berbunyi keras pun tidak menggubris pendengarannya. Beberapa orang dihadapannya sudah mabuk dan pergi bergantian.
Sementara namja itu masih berdiri diam sambil membersihkan sebuah gelas dengan gerakan lambat. Matanya turun kebawah menghasilkan sebuah pandangan kosong. Hatinya sedikit nyeri tapi hal tersebut tidak terpampang diwajahnya. Baekhyun terlalu kaku untuk mengekspresikan segala perasaannya saat ini.
Wajahnya seolah tidak memiliki kesempatan hidup. Mata sayu. Pikiran tidak menentu. Juga bahunya yang semakin turun ketika sesosok bayangan terlintas dipikirannya. Namja itu mulai menundukkan kepala sembari menutup mata.
Kenapa tiba-tiba dia mengingat Chanyeol?
Ini bukan hal yang sulit. Seminggu sudah Baekhyun lalui dengan sangat baik. Apa susahnya untuk bersabar menunggu sampai yeoja itu pergi dan Baekhyun bisa meminta penjelasan langsung tanpa gangguan? Selesai bukan?
Yang perlu Baekhyun pegang saat ini hanyalah kepercayaannya pada sang kekasih.
Baekhyun menggelengkan kepalanya sekali. Lalu menghembuskan nafasnya sampai sang pipi chubby menggembung. Dia berusaha menghilangkan perasaan risau itu dan kembali fokus pada pekerjaannya.
"Selamat malam Tuan. Anda mau pesan apa?" tanya Baekhyun ramah pada salah satu pelanggan setianya.
"Aku sedang tidak mood minum wine Byun. Rasanya terlalu membosankan"
Baekhyun mengangguk tersenyum menampilkan eye smile-nya.
"Tentu saja. Lagipula itu tidak bagus untuk kesehatanmu, Tuan Cho" saran Baekhyun lalu terkekeh bersama pemuda yang lebih tua darinya.
"Bisakah kau berikan aku sesuatu yang dapat menghilangkan rasa bosan ini? Tentunya sebuah minuman baru darimu. Aku ingin mencobanya"
Baekhyun terlihat berpikir sejenak.
"Ah! Aku bisa membuatkanmu cappucino Tuan Cho. Apakah kau mau?"
Tuan Cho mengeryit. Dia pikir Baekhyun akan meracikkan minuman berakohol yang lain. Namun saran Baekhyun tidak begitu buruk. Tuan Cho tersenyum lalu mengacungkan jari telunjuknya.
"Baiklah. Aku mau satu"
Baekhyun mengangguk. Dia berbalik lalu membuatkan satu cappucino hangat tanpa krim seperti yang selalu dia buat untuk Chanyeol.
Chan—Chanyeol?
Tunggu...
Kenapa Baekhyun malah menyarankan untuk membuatkan minuman yang biasanya selalu Chanyeol pesan jika dia datang kemari? Dia merutuki kebodohan yang baru saja dia lakukan. Lagi-lagi pikirannya mengarah pada pemuda itu.
Kenapa Chanyeol tidak bisa menghilang dari otak Baekhyun barang sehari saja? Baekhyun merasa pusing saat ini.
Pemuda mungil itu menutup matanya rapat-rapat. Kepalanya serasa mendapat hentakkan keras. Airmatanya ingin keluar tanpa bisa dihalau lagi. Dan hal inilah yang membuat kepalanya semakin sakit—menahan airmatanya. Setelah cappucino itu selesai dibuatnya Baekhyun segera memberikan cangkir itu pada Tuan Cho dengan sebuah senyum paksaan.
Baekhyun berbalik secepat mungkin sambil mencengkram dadanya yang semakin terasa nyeri. Kakinya hendak melangkah meski gemetaran menuju pintu staff yang terdapat dibelakang. Sampai akhirnya sebuah tangan menggenggamnya sebelum sempat dia pergi meninggalkan tempatnya berkerja.
Baekhyun terdiam ditempat. Deru nafas seseorang terdengar ditelinganya. Baekhyun masih belum mau berbalik karena jantungnya seketika berdebar kencang hanya mendengar suara nafas berat yang sangat dia kenali. Suara desahan bariton yang terengah-engah mengingatkannya pada seorang pemuda yang merengkuhnya hangat seperti malam pertama mereka.
Tubuh Baekhyun berbalik perlahan dengan gerakan sangat kaku. Dia hampir tidak percaya akan presepsinya sendiri. Mulutnya terbuka kelu saat mendapati wajah seseorang yang selama seminggu ini memenuhi pikirannya hingga dia menjadi orang sinting di dunia.
Airmata itu sudah menggenang dimatanya. Pemuda dihadapannya masih terengah-engah sampai akhirnya sebuah senyuman terukir manis dibibirnya. Membuat satu airmata Baekhyun lolos begitu saja.
Baekhyun sungguh sangat merindukan pria bodoh ini.
"Kenapa—"
Belum sempat Baekhyun meneruskan kalimatnya Chanyeol langsung menarik tubuh kurus itu kedalam pelukkannya. Chanyeol membawa tangan kanannya pada leher Baekhyun sementara tangan kirinya mendekap pinggang itu lebih erat. Sedikit meremas pinggang sang pria mungil sampai tubuh mereka benar-benar merapat. Pemuda pendek itu merasakan hal yang sama. Tangannya mencengkram bahu Chanyeol. Tidak berapa lama tangannya begitu gugup ketika bergerak perlahan menuju leher Chanyeol. Wajah manisnya dia sembunyikan dibahu lebar Tuan Park.
Sungguh—tindakkan mereka menggambarkan adegan sepasang kekasih yang tidak bertemu lebih dari seribu tahun. Tapi seakan peduli karena menarik tatapan Tuan Cho dan beberapa pengunjung lainnya. Chanyeol terus memeluk Baekhyun. Tidak lupa mengecupi samping kepala Baekhyun dalam-dalam seolah Baekhyun akan pergi jauh esok.
"Ba—babo.." lirih Baekhyun sangat pelan. Kepalanya menunduk ketika Chanyeol memberi jarak pada tubuh mereka.
Chanyeol terkekeh pelan sambil mengelus berkali-kali surai krem Baekhyun.
"Inikah kalimat pertama yang kau katakan ketika akhirnya aku memutuskan untuk nekat menemuimu?" ucap Chanyeol tersenyum lembut.
Baekhyun menggeleng lemah. Dia mengangkat wajahnya. Menatap Chanyeol sehingga nampaklah lelehan sungai yang tercetak pada pipi mulusnya. Kedua ibu jari Chanyeol bergerak menghapus jejak airmata Baekhyun. Sementara pemuda yang lebih pendek darinya tertawa kecil sambil memegang tangan hangat yang menangkupkan kedua pipinya.
"Aku bahkan melupakan alasanku untuk marah padamu" kata Baekhyun dan Chanyeol menghembuskan satu nafas penuh senyuman khasnya.
"Kau tidak perlu melupakannya"
"Tapi kurasa aku harus.."
"Tidak. Tidak perlu"
"Haruskah aku berlari menjauh darimu lagi?"
Chanyeol menggeleng cepat.
"Jangan berani kau lakukan. Hal itu hanya akan semakin menyiksaku" Baekhyun tertawa.
"Sesekali kau harus merasakannya Yeol"
Chanyeol kembali menggeleng dan mendekatkan wajahnya.
"Jangan. Apapun selain hal itu. Jika kau marah jangan menjauh. Kau boleh memarahiku. Memakiku. Membenciku. Bahkan memukuliku jika itu membuatmu merasa puas"
Kali ini Baekhyun yang menggeleng sambil mengeryit.
"Aku tidak menyukai kekerasan"
"Dan aku lebih tidak menyukai ketika diharuskan memberi jarak diantara kita" tutur Chanyeol menyatukan kening keduanya.
Wajah Baekhyun memanas. Dia tersenyum manis menanggapi ucapan konyol kekasihnya. Hatinya mulai menghangat.
"Dengar. Aku tahu kau masih membenciku. Setelah ini kau boleh menghabisiku"
Baekhyun memasang wajah polos keheranannya saat mendengar kata-kata Chanyeol. Dia terlihat sangat menggemaskan. Chanyeol merindukan wajah itu.
"Sudah kubilang aku tidak menyukai kata kekerasan. Dan apa maksudmu dengan kalimat 'setelah ini?'"
Sudut bibir Chanyeol terangkat. Dia menarik pinggang Baekhyun kembali merapat pada tubuhnya. Ibu jarinya memegang dagu Baekhyun dan mulai menyatukan kedua bibir mereka.
Baekhyun terkejut awalnya. Namun mata sipit itu menutup dengan sangat perlahan ketika bibir Chanyeol bergerak menyesap bibir bawahnya. Pemuda mungil itu sungguh tidak kuasa untuk ikut melumat bibir tebal kekasihnya. Jemari lentik Baekhyun bergerak pada leher Chanyeol. Mengusapnya perlahan sampai naik kekepala Chanyeol.
Baekhyun mendesah dan mulutnya terbuka. Membiarkan Chanyeol lebih dalam mengeksplore langit-langit hangatnya.
Setetes saliva turun membasahi bibir Baekhyun. Mereka larut dalam ciuman yang kian memanas. Sampai akhirnya pemuda mungil itu tiba-tiba tertawa disela-sela ciumannya bersama Chanyeol. Hembusan nafas berat Chanyeol yang menerpa wajahnya seolah menggelitik. Baekhyun bahkan benar-benar lupa alasan mengapa sejak seminggu yang lalu dia menghindari pemuda ini.
Chanyeol kembali mencium bibir Baekhyun. Melumat bibir itu sedikit lebih liar dan tidak beraturan. Baekhyun terengah-engah dan tangannya tidak sengaja menjambak rambut Chanyeol melampiaskan hasratnya. Mereka berciuman sangat pelan, dalam, dan menikmati setiap momen mereka untuk menyesapi bibir pasangan masing-masing. Penuh kelembutan. Kerinduan dan perasaan tulus.
Mereka berhenti melakukan penyatuan bibir tersebut.
Bibir mereka memang berhenti memagut namun masih menempel meski tidak begitu dekat. Mereka hanya saling menetralkan nafas yang saling memburu. Chanyeol terkekeh diikuti Baekhyun. Dia benar-benar melupakan segalanya jika sudah bersama pria mungil ini. Yang Chanyeol sungguh butuhkan hanya Baekhyun. Bahkan sejak seminggu yang lalu dia sama sekali tidak tertawa lalu Baekhyun membuat hal itu sekarang terjadi.
"Bogoshipeo" lirih Baekhyun didepan bibir Chanyeol.
Park Chanyeol tersenyum lalu menjauhkan tubuh mereka. Dia ingin menatap langsung wajah pria yang selama ini dia rindukan setiap menit kehidupannya. Chanyeol mengecup sekilas bibir Baekhyun.
"Nado, bogoshipeo Baby" ucapnya lalu mencium lembut kening Baekhyun dengan gerakan lambat. Sampai membuat seorang yeoja yang berdiri jauh dari mereka sangat iri melihat pemandangan tersebut.
.
.
.
.
TBC
Hai apa kabar? /pertanyaan klasik/
FF ini makin nggak jelas yah? Feelsnya nggak kerasa yah? Gimana? huhuhu /nangis dipojokan/
Makasih buat para Saranghae Readers yang mau nunggu ampe ff ini lumutan /hiks/ Buat para Eonni-eonni, saeng-saeng, Luge sehyun (loh?), silent readers, readers yang udh bikin akun buat fav & follownya Terima Kasih! ^^
I LOVE YOU! :*:*:*
Sebelumnya Sehyun mau minta maaf buat chap kemaren. Appa Yeol maaf anakmu menistakan dirimu /digampar Umma Baek/. Btw hepi besday Pahh~ /telat banget -_-/
Dan sehyun juga mau minta maaf sama semua fans Seulgi Red Velvet /bungkuk dalam/ Sehyun emang nggak ngebiasin Seulgi tapi bukan berarti Sehyun benci (tentu tidak!).
Sehyun harap kalian juga berpikiran sama. Toh, ini hanya fanfict. Kalau kalian mau benci jangan sama Seulginya yah. Sehyun hanya minjem namanya saja. Kalau kalian merasa ada OC yang lebih cocok untuk menggambarkan karakter Seulgi di ff sehyun monggo readers~ kalian bebas berimajinasi! Seulgi anak baik kok hehe /peluk Seulgi eonni/
Alasan pertama kenapa sehyun milih Seulgi :
1. Hasil voting karakter bersama dengan dua cabe nan kece terbaik sehyun
2. Disalah satu award gitu exo menang dan Chanyeol speech-nya bawa-bawa nama Seulgi. Sehyun pikir Chanyeol demen sama Seulgi yang masih trainee /dibakar exo-l/
3. Wajah Seulgi kayak queen! Mendukung banget! Seneng aja liatnya XD
Oke sudah jelas kan? /kedip cantik/
Kalau kurang jelas hajar sehyun aja sama pertanyaan-pertanyaan readers di :
Twitter : ohansehyun
Facebook : Ohan Se Hyun
PM
And then
Sneakpeak (?) next chap !
"Kau—sejak dulu straight?" lirih Baekhyun pelan.
.
.
"Dengarkan aku terlebih dahulu Baek"
.
.
Jantung Baekhyun berdebar kencang. Ada apa lagi ini?
.
.
"This is just a beggining. Aku tahu saat awal masuk Chanyeol pernah memberikan hadian special penyambutan murid baru di SM SHS. Tapi aku melewatkan hal itu sayang sekali. Dan sebagai Queen disini aku berbaik hati memberikan penyambutan Special khusus untukmu Baekhyun. Just enjoy it! Bye" tutur Seulgi dan melangkah pergi.
Tidak berapa lama suara interkom terdengar di seluruh penjuru sekolah. Baekhyun menundukkan kepalanya. Dia terlalu lemas untuk berjalan lagi.
"Byun Baekhyun kelas 12-2. Harap segera melapor kepada pihak kepala sekolah sekarang!"
'Tamatlah riwayatmu Baekhyun...'
.
.
.
.
Review? XD
