Maaf sebulan lagi updatenya /nangis dipojokan/
Sehyun baru menyelesaikan semua uas /bow/ Semoga ipk pertama memuaskan haha /amin/ ^^
BIG THANKS FOR ALL READERS!
YANG SUDAH BERBAIK HATI ME-REVIEW, MEM-FOLLOW, MEM-FAV BB BY, JUGA SILENT READERS yang sudah pada bertobat—Thank You So Much! MAAF SEHYUN BELUM BISA BALES SATU-SATU REVIEWNYA T_T
THANKS ALSO FOR DEE EONNI UNTUK SARANNYA! DEVRINA EONNI BUAT FOTO-FOTO FEELS CHANBAEKNYA! CHINGUDEUL DITWITTER, FACEBOOK, DAN PM SEHYUN!
LOVE YOU ALL!
:*:*:*({})({})({})
We Are One
Enjoy
.
.
.
.
.
-BaekYeol Area-
Baekhyun tertidur disofa besar. Mata sipitnya memang terpejam. Namun dirinya tidak benar-benar pergi ke alam mimpi. Dia hanya merebahkan kepalanya pada dada bidang polos yang terasa hangat menyentuh pipinya. Rongga telinganya menangkap detakan jantung stabil Park Chanyeol yang membuatnya semakin terasa nyaman. Setelah menghabiskan waktu berdebat kecil dan melepas rindu dengan cara—ehem—bercinta tadi. Sebuah selimut besar menutupi seluruh tubuhnya sedangkan bagi Chanyeol hanya sebatas dada saja.
Tubuh mungil itu pun direngkuh oleh Chanyeol. Sesekali pria tampan berambut dark brown itu mengusap surai krem Baekhyun sembari menciuminya lembut. Chanyeol diam menikmati pemandangan malam dari teras apartemennya sendiri. Tatapan tajam dia edarkan pada setiap gedung-gedung yang berhiaskan gemerlap lampu kota Seoul.
Perlahan mata Baekhyun terbuka. Baekhyun sedikit mengadahkan kepalanya untuk melihat seseorang yang tengah memeluknya. Dia mendapati wajah keras kekasihnya sedang melamun. Baekhyun terdiam. Enggan menyapa terlebih dahulu.
Pikirannya beralih pada seminggu yang lalu. Tepat dimana dia melihat kekasihnya berciuman dengan gadis lain. Refleks merasakan nyeri didadanya. Baekhyun memeluk tubuh Chanyeol begitu erat sampai pria tampan tersebut menoleh.
"Baek? Kau sudah bangun?" Chanyeol tersadar akan pergerakan kekasihnya. Dia merendahkan wajahnya untuk menatap wajah namja mungil itu.
Pandangan mereka bertemu. Pipi Baekhyun yang memerah membuat Chanyeol benar-benar kehilangan akal. Baekhyun terlihat begitu manis. Maka dari itu Chanyeol mendekatkan wajahnya dan mencium Baekhyun perlahan. Bibir tersebut hanya menempel. Merasakan deru nafas dimalam yang mulai mendingin ini.
"Chanyeol"
"Hem?"
"Kau— Sebenarnya kau berhutang satu penjelasan padaku" ucap Baekhyun memandang Chanyeol yang tengah memeluknya.
Chanyeol terdiam. Mata bulatnya di alihkan menelusuri wajah indah Baekhyun. Pria mungil itu tetap menunggu. Dia tahu tidak kapan akan dapat kesempatan seperti ini lagi jika dia tidak bertanya sekarang juga. Lagipula Kai pernah mengatakan untuk bertanya pada Chanyeol jika waktunya tiba bukankah begitu?
"Siapa yeoja itu?"
Pertanyaan Baekhyun benar-benar langsung tertuju ke topik utama. Chanyeol menghela nafas berat. Apakah hal ini akan menjadi semakin buruk atau semakin baik jika dia memberitahukan pada Baekhyun?
Entahlah.
Tapi Baekhyun memang berhak mengetahui sesuatu untuk menghilangkan segala keraguannya. Dan keheningan panjang dengan mata yang saling bertatapan memberikan efek debaran tidak karuan pada jantungnya.
"Namanya Kang Seulgi" ucap Chanyeol membenarkan posisi duduknya dan mulai menatap datar kedepan.
Baekhyun tetap setia mendengarkan.
"Dia—entahlah aku juga tidak tahu harus mendeskripsikan dia apa. Dia yeoja aneh. Aku—tidak mencintainya. Tidak pernah"
"Aneh?"
"Dia berbahaya Baek" Baekhyun mengerutkan alisnya tanda tidak mengerti.
"Tapi dia adalah kekasihmu bukankah begitu?" terka Baekhyun.
"Tidak"
"Lalu kenapa dia menciummu saat itu?"
Chanyeol diam dan memandang wajah Baekhyun tidak nyaman. "Kau masih marah?"
Baekhyun tidak menjawab. Dia lebih suka diam dengan wajah tersakiti sambil menatap kedepan. Sementara Chanyeol menghela nafas berat. Memang disini dialah yang salah. Tapi sungguh. Chanyeol mempunyai alasan tertentu mengapa dia membiarkan Seulgi menciumnya saat itu. Chanyeol menyadari perubahan wajah kekasihnya dan mulai memeluknya erat. Baekhyun pasti sedih saat melihat dirinya di cium oleh Seulgi.
"Kau tidak perlu memaafkanku. Aku bersalah. Maafkan aku"
"Tidak. Aku—aku tidak peduli"
"Baekki..."
"Sungguh Yeol. Aku tidak suka kau membahasnya. Lagipula Kai mengatakan padaku bahwa aku harus percaya padamu. Bukankah itu yang aku butuhkan sekarang?" pertanyaan Baekhyun menusuk hati Chanyeol.
Chanyeol menghela nafas berat.
"Baiklah. Aku tidak ingin kau salah paham dengan tindakanku seminggu yang lalu. Akan kujelaskan. Aku memang pernah berhubungan dengannya dan kami memang pernah pacaran sejak JHS" ungkap Chanyeol.
Baekhyun bungkam.
Hatinya mencelos mendengar penuturan Chanyeol dan ada rasa takut menyelubunginya. Ternyata Seulgi merupakan orang yang cukup penting bagi Chanyeol. Dan satu fakta yang Baekhyun ketahui.
Dulu ternyata Chanyeol straight.
"Kau—sejak dulu straight?" lirih Baekhyun pelan menundukkan kepalanya dalam. Mencoba memberanikan diri bertanya akan satu hal yang mengganggunya.
Chanyeol tidak menjawab. Baekhyun semakin takut saat ini. Dia hendak menjauhkan tubuhnya dari Chanyeol. Namun pemuda itu menahannya.
"Dengarkan aku terlebih dahulu Baek"
Baekhyun mengangguk sambil menunduk. Sedangkan Chanyeol segera mengangkat dagu Baekhyun. Meminta Baekhyun menatapnya dalam untuk mempercayai setiap ucapan Chanyeol. Tatapan sayu Baekhyun menjatuhkan Chanyeol kebumi. Demi Tuhan! Baekhyun sungguh terlihat cantik dimatanya.
"Dia hanya pelampiasan"
"..."
"Semenjak aku berpisah dengan namja sebelumya dan kehilangan ibuku. Seulgi—tiba-tiba datang padaku. Dialah yang selalu berusaha disisiku dan memperhatikanku. Lalu entah sejak kapan dia menyatakan perasaannya dan aku menerimanya. Hanya karena ingin dia bosan akan tindakkan brengsekku dan mulai menjauh dariku. Nyatanya justru berkebalikan.
Meski berkali-kali dibelakangnya aku pergi ke klub dan menghabiskan waktuku dengan beberapa yeoja malam. Seulgi tidak kunjung marah atau melepaskanku. Dia tetap berkomitmen untuk memberikan segalanya untukku. Jujur aku nyaris tersentuh akan tindakannya dahulu. Namun tetap saja aku tidak peduli dia masih meyakini stastus kami atau tidak. Saat itu aku benar-benar jahat dan seenaknya.
Semakin lama berhubungan tanpa perasaan sedikit pun padanya. Aku tidak menyukai fakta dia memegang teguh pendirian bahwa Seulgi memiliki diriku untuknya seorang. Seulgi memang yeoja keras kepala.
Hari dimana dia mengklaimku terlalu possessif. Aku pernah mendapatinya mem-bully salah seorang yeoja yang memberikan coklat padaku di hari Valentine. Memang aku selalu berbuat seenaknya menjahili anak-anak di sekolah. Tapi tidak dengan yeoja. Dan Seulgi berani melakukan hal itu sampai anak itu trauma dan keluar dari sekolah"
Baekhyun tetap mendengarkan. Bibirnya sudah kelu untuk mengucapkan satu pertanyaannya yang melintas dibenaknya.
"Setelah itu Seulgi mendapat masalah dengan pihak sekolah. Dia menghilang dan kami tidak pernah bertemu lagi. Yeoja keparat itu pergi meninggalkanku tiba-tiba di hari peringatan dua tahun ibuku meninggal. Aku sama sekali tidak terpukul. Tapi aku menyesal dia sudah memasuki kehidupanku cukup dalam. Nyatanya dia semakin menyakinkan diriku bahwa aku memang tidak pantas untuk dikasihi siapapun"
Chanyeol memberi jeda dengan tawa miris.
"Orang-orang yang selalu kupercayai dan kubuka pintu hatiku untuknya selalu meninggalkanku dengan mudah. Aku—sejak saat itu aku sangat membencinya. Belum lagi setelah mengetahui fakta bahwa dia sudah bertunangan dengan orang lain disana. Dia benar-benar pembawa masalah"
Chanyeol mengakhirinya dengan desahan nafas panjang. Baekhyun menundukkan kepalanya. Chanyeol diam sambil menatap kepala Baekhyun. Jemari Chanyeol berallih pada dagu Baekhyun dan mengangkatnya kembali.
"Kenapa Baby? Apa kau sudah mengerti sekarang siapa yeoja keparat itu?" tanya Chanyeol bersuara berat.
Baekhyun mengangguk pelan. Dia mengigit bibirnya hendak mengeluarkan satu hal yang terus mendesak mulutnya untuk mengeluarkan kalimat itu.
"Yeol. A—apa kau. Pernah tidur dengannya?" tanya Baekhyun gugup.
Chanyeol diam. Membuat keheningan lama yang menimbulkan rasa khawatir.
"Yeol... Jawab aku. Aku tidak akan marah"
"..."
"Park Chanyeol"
"Entahlah. Aku tidak tahu"
Baekhyun tersentak. Dia mulai berpikiran negatif kembali. Jadi yang pertama memang bukan Baekhyun. Namja mungil itu sedikit iri pada Seulgi.
"Saat itu aku berumur lima belas dan pertama kali menginjakkan kakiku di klub malam karena terlalu frustasi mengenai peringatan kematian ibuku. Seulgi membawaku kesana dan.. entah mengapa paginya kami berakhir di ranjang"
Kalimat terakhir Chanyeol kembali menusuk-nusuk hati Baekhyun. Kepala namja itu menggangguk entah membenarkan pernyataan apa. Chanyeol yang melihat itu segera memeluknya erat.
"Tapi aku yakin kami tidak melakukan apa-apa. Kami masih terlalu kecil untuk mengetahui apa itu seks dan sebagainya" ungkap Chanyeol mengelus lembut kepala Baekhyun.
"Kau percaya padaku kan Baek?"
"..."
"Baekhyun?" panggil Chanyeol sementara Baekhyun masih menunduk dalam di dadanya.
"A—aku percaya" ucap Baekhyun.
Chanyeol melepaskan pelukkan mereka. Menatap wajah Baekhyun lekat-lekat lalu mulai mencium bibir Baekhyun dalam. Baekhyun melemah. Dia perlahan memejamkan matanya dan membalas ciuman Chanyeol. Perasannya sungguh bercampur aduk saat ini. Alisnya berkerut melampiaskan seluruh kegundahan hatinya pada ciuman ini. Baekhyun semakin mengeratkan rengkuhannya di leher Chanyeol. Sambil memberikan lumatan dalam pada pria jangkung itu.
Chanyeol memiringkan kepalanya untuk mencium Baekhyun lebih. Dia ingin merasakan Baekhyun sepenuhnya. Merasakan perasaan sakit Baekhyun dan dia merasa bodoh telah membuat Baekhyun seperti ini.
Nafas mereka memburu. Pikiran Baekhyun benar-benar blank saat menyangkut pautkan semuanya. Masalah berbelit-belit itu semakin membuat dirinya ingin mengklaim Chanyeol. Dia ingin egois untuk saat ini saja.
Apakah Baekhyun boleh melakukan hal itu?
Ciuman mereka berakhir. Kepala Baekhyun sedikit pusing. Dia masih memejamkan matanya. Merasakan seluruh kehangatan yang Chanyeol berikan. Maka dia membiarkan Chanyeol memberi kecupan-kecupan ringan di seluruh wajahnya. Jemari Baekhyun mengusap tengkuk Chanyeol pelan. Dia mendekatkan bibirnya pada telinga Chanyeol dan berbisik.
"I forgive you"
Chanyeol tersenyum dan menjatuhkan tubuh Baekhyun di sofa. Keduanya enggan melepaskan pandangan masing-masing. Baekhyun tersenyum lembut meski matanya menggenangkan sebuah cairan bening. Dia percaya Chanyeol. Karena dia mencintai Chanyeol. Dan dia tidak ingin kehilangan pemuda ini.
"Aku tidak akan meninggalkanmu meski keadaan sesulit apapun. Karena itu, jangan berani melangkah sejauh yang kau bisa dariku. Aku bersumpah akan mengejarmu kemanapun kau pergi Baekhyun" ucap Chanyeol dengan suara berat dan mulai mendekatkan wajahnya lagi pada Baekhyun.
'—Bahkan jika Seulgi melakukan perbuatan seperti dahulu pada 'dia'. Aku tidak akan perbuatannya terulang padamu Baek' lanjut Chanyeol dalam hati.
.
.
.
07.30 a.m (KST)
Baekhyun berjalan menyusuri lorong kelas. Hari masih terlalu dini untuk memulai pelajaran. Namun dia sudah datang terlebih dahulu seperti kebiasaan murid teladan lainnya.
Tidak sengaja, Baekhyun berpapasan dengan sosok yeoja berambut kuncir kuda yang tersenyum menawan. Gadis cantik itu mendekat pada Baekhyun. Mata kucingnya dihiasi eyeliner membuatnya semakin anggun meski terkesan angkuh. Dia bagaikan Ratu berkelas sesungguhnya.
"Kau—"
"Byun Baekhyun" panggil Seulgi seolah dia telah mengenal Baekhyun sejak lama.
Baekhyun meneguk ludahnya.
"Perkenalkan. Namaku Kang Seulgi" sapanya ramah sambil mengulurkan tangan. Baekhyun balas menjabat tangan Seulgi.
"Kau teman baik Chanyeol kah? Kulihat kau sangat akrab dengannya" tutur Seulgi tersenyum membuat Baekhyun berdiri kaku pada tempatnya.
"..."
"Kenapa diam? Perutmu sakit? Kau sudah sarapan?" Seulgi terus bertanya aneh.
Baekhyun bingung harus menjawab apa. Dia ingin mengatakan pada gadis ini bahwa Chanyeol tidak menyukainya dan Chanyeol adalah kekasihnya. Tapi bibirnya selalu kelu jika berhadapan dengan wanita yang menyukai Chanyeol. Dia teringat akan Minah yang dulu mendorongnya kedalam kolam akibat rasa benci juga cemburu padanya.
"Ah, begitu. Ternyata benar dugaanku"
Baekhyun mengangkat kepalanya. Dia menatap Seulgi yang bersedekap memandanginya dari atas sampai kebawah—menilai dirinya. Yeoja itu berjalan mendekat pada Baekhyun.
"Kenapa ada lagi namja sepertimu yang berani-beraninya mengambil hati dia?" ucap Seulgi lebih terdengar seperti desisan.
"Maksudmu apa?"
Seulgi tertawa.
"Still don't get the point?"
Baekhyun tidak bergeming. Seulgi kembali melampirkan senyumnya.
"Aku tidak peduli dia gay atau bukan. Pada dasarnya aku sangat mencintai Chanyeol apa adanya. But, well—seems really hard to get the main thropy isn't it?"
Baekhyun tidak menjawab. Dia tahu perkataan Seulgi akan mengarah pada hal berbahaya. Seperti memberikan warning atau sejenis itu layak yeoja psikopat lainnya.
"But i think, get rid of you (menyingkirkanmu) doesn't take any time too much. And i would like to see how Prince reaction after this" lanjut Seulgi lalu melangkahkan kakinya mundur.
Lorong kelas seketika riuh dan siswa-siswa yang baru saja berdatangan dan segera berlari pada satu sumber. Seulgi melampirkan senyum licik tanpa malu dihadapan Baekhyun. Sedangkan Baekhyun sudah mengepalkan tangannya—terlalu kesal untuk membahas semuanya bersama Seulgi. Dia tahu ada sesuatu yang tidak beres setelah ini.
"OMO! Kalian sudah lihat beritanya?" jerit salah satu yeoja mendekati kedua temannya yang baru saja datang.
"Apa?"
"Kajja, kita lihat!"yeoja itu menarik kedua temannya histeris.
Jantung Baekhyun berdebar kencang. Ada apa lagi ini?
"This is just the beggining. Aku tahu saat awal masuk Chanyeol pernah memberikan hadian special penyambutan murid baru di SM SHS. Tapi sayang aku tidak ada. Dan sebagai Queen disini aku berbaik hati memberikan penyambutan Specialkhusus untukmu Byun Baekhyun. Just enjoy it! Bye!" tutur Seulgi dan melangkah pergi.
Tidak berapa lama suara interkom terdengar di seluruh penjuru sekolah. Baekhyun menundukkan kepalanya. Dia terlalu lemas untuk berjalan lagi.
"Byun Baekhyun kelas 12-2. Harap segera melapor kepada pihak kepala sekolah sekarang!"
'Tamatlah riwayatmu Baekhyun...'
.
.
.
.
10.10 a. m (KST)
Chanyeol baru saja tiba disekolah. Namja tinggi diatas rata-rata ini terlihat berjalan santai tanpa peduli suara bisik-bisik yang keluar dari beberapa murid yang melintas dikanan kirinya.
Dirinya tetap berjalan angkuh menuju kelas 12-2 yang tentu saja merupakan kelas kekasihnya—Byun Baekhyun. Mengesampingkan gadis psikopat— panggilan baru untuk yeoja bernama Kang Seulgi dari Chanyeol— yang berkeliaran disisinya. Dia sama sekali tidak mau ambil pusing lagi dengan tindakan Seulgi selanjutnya. Jika pada akhirnya yeoja itu tahu bahwa Chanyeol mulai berhubungan dengan salah seorang namja manis lagi. Dia akan melindungi Baekhyun. Dia berjanji.
"Baekhyun?" tanyanya entah pada siapa. Berharap namja berparas imut itu menampakkan batang hidungnya.
Namun suasana hening menyelimuti kelas 12-2. Chanyeol mengeryit heran. Memang hari ini dia terlambat bangun pagi di karenakan ranjang besar kamarnya memanggil-manggil dirinya untuk terlelap seharian penuh.
Well, bukan masalah besar jika Chanyeol telat. Hal itu bahkan sudah puluhan kali dia lakukan semasa JHS maupun SHS.
"Hei kau tidak lihat Byun Baekhyun?" panggil Chanyeol pada salah satu siswa yang hendak masuk kedalam kelas.
"Um... Sebenarnya—"
"Chanyeol!"
Ucapan siswa tadi terhenti ketika suara namja lain menyahutkan nama Ketua Park dari kejauhan.
"Kai"
"Sial! Kau benar-benar bodoh!" umpat Kai tepat ketika dia sampai didepan Chanyeol.
"Yak! Apa-apaan kau ini kenapa malah mengataiku? Baru saja datang berani sekali kau—"
"Berapa kali kukatakan agar kau tidak keras kepala keparat?! Tidakkah kau mengerti waktu itu Luhan sudah memperingatimu?!" Kai mulai mencengkram kerah seragam Chanyeol dan mendorongnya pada jendela lorong kelas.
"Apa maksudmu brengsek?!" geram Chanyeol lalu menepis tangan Kai dan mencengkram balik kerah pemuda berkulit tan itu.
"Demi Tuhan! Apa sekarang waktu yang tepat bagi kalian berdua untuk saling memaki?" lerai Kris mendorong tubuh mereka berdua menjauh berusaha bersikap tenang.
"Lebih baik kau ikut kami Chanyeol. Ada sesuatu yang harus kau lihat. Akibat perbuatan bodohmu itu. Ini cukup mengejutkan" titah Chen dengan tatapan tajam.
Alis Chanyeol berkerut heran menanggapinya. Namun tidak dipungkiri pikirannya langsung mengarah pada Baekhyun. Maka dia segera berjalan cepat terkesan terburu-buru mengikuti gerakan Chen.
Sial. Dia hanya telat beberapa saat -sebenarnya hampir dua jam sesudah bel masuk pada jam 8- tapi sudah disuguhkan dengan kabar tidak menyenangkan.
Sebenarnya ada apa lagi ini?
.
.
Namja bermata bulat berada di kerumunan paling depan sambil membaca salah satu kertas disana. Begitu mendengar bahwa sahabatnya menjadi sumber utama desas desus pagi ini. Kyungsoo segera berlari kearah papan pengumuman.
Dia memberikan reaksi yang sama seperti murid-murid lainnya. Terkejut? Tentu saja. siapa tidak terkejut melihat foto sahabatnya tertempel manis disana dengan berita yang Kyungsoo sendiri baru ketahui hari ini.
Keramaian yang tadinya begitu berisik seketika hening saat seorang namja tinggi berserta namja tampan lainnya berjalan menuju papan sialan yang terpajang di sudut sekolah. Kayu panjang itu selalu menempelkan kertas mengenai isu-isu picisan tidak berguna yang tidak pernah berhasil menarik perhatian Chanyeol. Toh, jika dia menjadi berita utama disaa dia bisa langsung menghabisi seseorang yang berani memajang berita palsu tentangnya.
Namun, kali ini sepertinya berbeda.
Setelah membelah kerumunan yang akhirnya menjadi tenang. Mereka semua terdiam sambil memandang Chanyeol takut-takut. Dia bagaikan iblis yang hendak mengeksekusi semua murid disana. Tatapan tajamnya terturu pada salah satu artikel sampah yang membuat darahnya mendidih.
Sementara Kyungsoo—yang sekarang berdiri tepat disebelahnya menatap sayu wajah sangar Park Chanyeol.
"Chanyeol" panggil Kyungsoo sangat pelan.
Chanyeol tidak menggubrisnya. Pria itu justru berbalik cepat menimbulkan bisik-bisik yang riuh kembali diantara murid-murid SM SHS. Kyungsoo menunduk lalu menatap kearah artikel berisikan sebuah tulisan beserta foto Baekhyun yang sedang bercumbu dengan seseorang. Namun pria itu tidak terlihat jelas karena di pelaku memburamkan wajah pria dihadapan sahabatnya. Sehingga foto tersebut terfokus pada Baekhyun. Tidak lupa dengan note dibawah foto.
'Byun Baekhyun siswa berbeasiswa SM Senior High School kelas 12-2 di duga selama ini menyamar bekerja sebagai bartender di sebuah bar. Kebenaran yang telah diketahui dari saksi dia adalah pelacur disebuah klub malam di pinggir kota. Setiap malam Byun Baekhyun menyuguhkan dirinya pada pria-pria hidung belang untuk mencari kepuasannya tersendiri.
PS : Warning! Untuk semua siswa SM SHS!'
"Yak! Chanyeol kau mau kemana?" sahut Kai yang berdiri di belakang Kyungsoo.
Kyungsoo menoleh kebelakang mendapati wajah Kai yang berpeluh. "Aku baru tahu" lirih pria bermata bulat itu.
Kai mengangguk. "Aku juga. Padahal, aku sudah berusaha keras demi Baekhyun hyung dan Chanyeol. Namun kurasa aku salah"
Kali ini Kyungsoo menggeleng. "Tidak. Kau sudah sangat hebat dalam melindungi Baekhyun. Terima kasih Kai" ucap Kyungsoo berbisik dan Kai tersenyum miris.
Tidak berapa lama kebisingan dari kerumunan tersebut mereda dan suara decitan sepatu yang terdengar. Murid-murid kembali membuka jalan secepat yang mereka bisa untuk namja bergelar Ketua penguasa SM SHS itu. Mereka semua menghindar ketika Chanyeol kembali dengan tongkat baseball yang diseret dan—
BRAK!
Satu pukulan terlampau keras mengenai papan kayu tersebut hingga retak. Tepat pada bagian artikel yang sedang di perdebatkan. Chanyeol kembali mengayunkan stik panjang itu dan memukul bertubi-tubi ditempat yang berbeda. Sampai akhirnya mading sekolah menjadi roboh dengan sendirinya akibat hancur.
Kerumunan itu diam bergidik ngeri memandang korban yang baru saja Chanyeol habisi. Pria itu terengah-engah dengan emosi yang sangat berkalut-kalut. Peluh bercucuran dan tatapannya terlalu tajam menusuk kertas yang sudah tidak berbentuk dibawah kakinya.
"Kris" si pemilik suara bariton itu berbicara dingin. Membuat siapapun yang mendengar suara beratnya gemetar.
Kris maju, mendekat pada Chanyeol. Pria beringas itu melemparkan alat penyiksanya pada Kris yang menerimanya dengan tangkas.
"Kerja bagus" puji Kris dan Chen menghembuskan nafas tertawa.
"SEMUANYA BUBAR DARI SINI SEKARANG JUGA!" gertak Chanyeol kearah semua murid-murid yang masih menyaksikan.
Mereka berlari terburu-buru menghindar dari tempat mengenaskan itu. Sedangkan Kai dan Kyungsoo masih diam di tempat—terlalu tercengang menganggapinya. Pria ini benar-benar menyeramkan seperti iblis.
"Chen dimana dia?" tanya Chanyeol masih memandang tajam kearah kertas tadi.
Chen menatap Chanyeol yang berbalik menatapnya.
"Ruang kepala sekolah"
-Disaat yang bersamaan-
"Anda tidak bisa melakukan hal tersebut jika kebenarannya belum diketahui bukankah begitu?!" sahut seorang namja cantik dengan suara keras. Membuat lawan bicaranya tersentak kaget akan sikapnya yang tidak biasa.
"Tuan Xi. Kenapa anda berani sekali berbicara seperti itu? Apa bergaul dengan siswa seperti dia merubah sikap anda juga?"
Luhan terlihat marah menanggapi penuturan laki-laki dihadapannya -Kim Young Min- sang kepala sekolah SM SHS.
"Tentu saja tidak! Baekhyun anak baik-baik! Dan anda tidak berhak menuduhnya tanpa bukti!"
"Semua sudah terlihat jelas bukankah begitu? Foto dan tulisan yang dikirim melalui email saya pagi ini adalah salah satu bukti nyata Tuan Xi"
"Tidak bisakah anda memikirkan ulang semua keputusan anda?" sahut Luhan lagi sesekali menggebrak meja kerja pria dewasa itu.
Kim Youngmin menggeleng tanpa rasa belas kasih.
"Tidak. Maaf sekali Tuan Xi. Saya tidak bisa membiarkan murid pelajar berbeasiswa layak Tuan Byun untuk mengenyam pendidikan disini lagi"
Luhan tersentak. Dia beringsut mundur dengan wajah tercengang. Mengapa manusia didepannya ini benar-benar keras kepala? Apakah dia tidak bisa melihat bahwa ada sumber yang penyebaran berita palsu tersebut? Luhan mulai naik darah menghadapi pria tua didepannya.
Setelah mendapat kabar keparat dipagi hari. Kim Young Min memutuskan untuk memanggil semua siswa berbeasiswa, Baekhyun, Sehun dan juga Luhan salah satunya. Dikarenakan artikel tersebut membawa-bawa kata—siswa berbeasiswa SM Senior High School. Dan dia tidak mau nama baik sekolah yang dipercayakan padanya tercemar hanya karena murid jenuis pembawa masalah.
Pemuda berdarah Cina sedikit frustasi setelah berargumen tiada henti dengan pria tua berjidat lebar menyebalkan didepannya. Jika saja saat ini Luhan sudah lebih matang dia pasti akan mengambil alih seluruh sekolah ini. Lalu Kim Youngmin akan segera turun jabatan atau pergi saja sekalian. Kakek Park memang salah memilih Kepala Sekolah untuk SM SHS.
Luhan berbalik dan menatap Baekhyun yang tersenyum paksa. Pria manis itu berusaha meyankinkan Luhan bahwa dia tidak apa-apa. Tapi Luhan terlalu cerdas sehingga bisa membaca wajah Baekhyun. Sementara Sehun yang ikut ambil bagian dalam situasi ini hanya bisa menatap sendu kearah sahabatnya dan Luhan bergantian.
"Tuan Byun. Ini dapat merubah keputusan saya jika sekali lagi saya bertanya dan anda menjawab sejujur-jujurnya. Dan mungkin jawaban Tuan Byun akan memperngaruhimu Tuan Xi" jelas Young Min dan alis Luhan berkerut kesal menatapnya.
"Apakah benar kau bekerja di klub malam itu Tuan Byun?"
Baekhyun tersedak ludahnya sendiri. Dia bingung harus mencari-cari alasan apa. Nyatanya hal yang dipaparkan memang kebenaran. Tapi tidak dengan berita bahwa di klub ibunya dia menjadi seorang pelacur. Jelas-jelas foto yang Seulgi buramkan adalah Park Chanyeol.
Seulgi? Oh, yeoja itu sudah bertindak keterlaluan.
Baekhyun menunduk. Dia tidak ingin dikeluarkan dari sekolah ini. Dia ingin lulus dengan prestasi membanggakan dan mencari nafkah yang pantas demi kelangsungan hidup ibunya. Pria mungil itu hendak menangis jika dia tidak berusaha untuk cukup tegar saat ini.
"Tetaplah diam Baek" bisik Sehun kecil.
Ya, Sehun mengetahui hal ini. Tentu saja, karena mereka adalah teman masa kecil Baekhyun dan Sehun tetap tutup mulut bagaimana pun Youngmin ikut mendesaknya memberi tahu kebenaran.
"A—aku"
"Baekhyun!" bisik Sehun lagi.
"Aku memang bekerja di klub malam itu" ungkap Baekhyun.
Luhan membulatkan matanya. Dia tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut Baekhyun. Youngmin menghela nafas berat. Dia tetap mengatakan bahwa Baekhyun harus keluar dari sekolah ini.
"Ta—tapi, berita tersebut bohong"
"Semua sudah jelas dengan pernyataanmu bukan, Tuan Byun?"
"Memang. Tapi ketahuilah aku bukan seorang pelacur. Aku bekerja di klub malam demi ibuku. Demi membantu keuangan ibuku" jelas Baekhyun nyaris menumpahkan airmatanya.
Luhan menatap Baekhyun sendu. Dia tahu selama ini kekasih sepupunya adalah anak baik-baik. Tidak mungkin Baekhyun yang sangat mencintai Chanyeol sudi disentuh oleh pria lain demi uang. Luhan pun juga sudah menduga siapa dalang dibalik semua ini. Sekali lagi, dia kalah oleh bukti yang kurang.
"Maaf Tuan Byun. Saya tidak akan merubah keputusan yang telah saya buat. Sekarang kalian boleh meninggalkan ruangan ini" titah Youngmin memutar kursi kerjanya.
Tubuh Baekhyun begitu lemas. Pandangannya buram akan airmata yang menggenang dipelupuk. Dia hampir saja jatuh dari pijakannya jika Sehun tidak langsung merengkuh pundaknya. Apakah ini akhir dari harapannya ingin menjadi seorang pelajar? Kenapa kehidupannya begitu berat?
"Kita akan pikirkan jalan lain. Lebih baik sekarang kita keluar dulu Baek" bisik Sehun dan Baekhyun mengangguk pasrah.
Luhan memandang miris kedua namja yang baru saja meninggalkan ruangan. Hatinya memanas dan Luhan benar-benar ingin memukul kepala Youngmin dengan benda apa saja yang ada disana. Sayang Luhan masih sangat waras untuk berpikir jernih.
"Ajjushi" panggil Luhan.
Youngmin tetap tidak berbalik. "Aku tahu kau mendengar jelas kebenaran dari mulut Tuan Byun, Luhan-ssi. Bukankah itu sudah menjelaskan semuanya?"
"Tapi anda tidak bisa seenaknya membuang harapan orang untuk bersekolah. Apakah anda sendiri tidak dengar bahwa Baekhyun bekerja disana untuk memenuhi kebutuhan hidupnya?"
"Tapi mengapa harus diklub malam? Itu sama saja merusak reputasinya sebagai siswa berprestasi juga mencemarkan nama baik sekolah berkelas ini. Kau ingin nama baik sekolah keluarga-mu hancur Xi Luhan?" tutur Youngmini lalu membalikkan kursinya menatap Luhan.
"Tidakkah ada cara untuk tetap membuat Baekhyun memiliki beasiswanya di sekolah ini?"
Youngmin menyatukan kedua tangan ketika sikutnya bertumpu pada meja kerjanya. Dibalik wajah tenangnya pria tua itu tersenyum. Luhan tidak menyadari akan hal itu.
"Sebenarnya ada satu syarat yang selama ini hanya kau dan aku tahu. Aku masih sangat menginginkan hal itu. Dan kau pasti ingat bukankah begitu Luhan-ssi?"
Luhan terkejut.
Sial, pria tua ini masih saja mengingat tawaran keparat dua tahun yang lalu. Luhan hampir saja menjerit keras-keras hendak mengatakan 'tidak'. Tapi dia tidak bisa. Bawahan kakeknya begitu licik memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan darinya.
Luhan menutup matanya. Dia tidak ingin melihat Baekhyun sedih seperti tadi. Baekhyun adalah orang yang dicintai sepupunya. Luhan telah berjanji pada Chanyeol akan selalu membantunya, menemaninya, menjaganya diberbagai macam kesulitan yang tengah Chanyeol alami.
Luhan tidak ingin melihat wajah murung sepupunya kembali.
Maka dari itu Luhan menarik nafasnya dalam dan berucap dalam hati— 'maafkan aku Sehun...'.
Lalu—
"Aku menerima tawaran anda. Karena itu biarkan Baekhyun bersekolah dengan beasiswanya disini"
.
.
.
10.50 p.m (KST)
Chanyeol mengendarai mobilnya secepat mungkin. Dia menuju satu tempat yang tertera dipesan masuk ditujukan untuknya tiga puluh menit yang lalu.
-Flashback-
Setelah Chanyeol tadi menghampiri ruang kepala sekolah dengan penuh amarah nyatanya dia hanya menemukan Luhan didalam sana. Chanyeol hendak menghancurkan tempat itu. Tapi Luhan dengan cepat menghalaunya ketika melihat stik baseball ditangan sepupunya.
Luhan segera mengajak Chanyeol keluar ruangan laknat tersebut dan membicarakan ini dengan teman-temannya. Chanyeol bersiap protes akan Luhan yang terus menghentikan pergerakannya tapi Luhan tidak gentar. Pria cantik itu malah mencengkram erat pundak Chanyeol sambil berjinjit sedikit. Memandang Chanyeol kesal.
"Kau tahu siapa penyebab hal ini?" sahut Luhan dengan nada tinggi.
"Sudahlah Luhan. Chanyeol sudah membereskannya. Tinggal membuat semua siswa melupakan kejadian ini dan mengembalikkan nama baik Baekhyun" lerai Kris menjauhkan tubuh Luhan dari Chanyeol.
Luhan menarik pundaknya cukup kasar dari tangan Kris. Mendekat kembali pada Chanyeol. Sementara Kai dan Chen sibuk memperhatikan tindakan dua sepupu itu.
"Aku pernah mengatakan hindari Baekhyun sementara sampai yeoja itu pergi bukankah begitu? Kenapa kau bodoh sekali?" lirih Luhan perlahan seperti berbisik.
Chanyeol tetap diam menatap tajam Luhan. Pria cantik ini tidak pernah berekspresi sangat kesal maupun marah akan sesuatu. Luhan biasanya selalu bersikap tenang dalam menghadapi masalah. Namun, sepertinya dia juga jengah akan sifat keras kepala Chanyeol. Chanyeol akui memang dia sangatlah bodoh. Pria itu merasa bersalah dan benar-benar tidak segan untuk langsung menghukum dirinya sekarang.
"Kumohon kali ini berpikirlah lebih dewasa sebelum bertindak" lirih Luhan menatap tajam Chanyeol meski wajahnya sama sekali tidak menakutkan.
Sekilas Chanyeol bisa melihat cairan bening menggenang di pelupuk matanya. Chanyeol sedikit tersentak. Kenapa Luhan berekspresi seperti itu?
"Aku tau" ucap Chanyeol singkat mengalihkan pandangannya.
Luhan melepaskan cengkramannya dan mengangguk.
"Aku akan melindunginya Lu" pernyataan Chanyeol membuat mata Luhan melebar.
"Tapi—"
"Tidak akan kubiarkan dia bernasib sama dengan Kyungsoo. Tidak" tegas Chanyeol memandang tajam kedepan. Tidak berapa lama ponsel Chen berdering. Chen menatap Kai dan Kris bergantian lalu menatap kedua sepupu itu.
"Chanyeol. Aku dapat alamat barunya. Sepertinya dia ingin bicara padamu"
.
.
Seulgi duduk disalah satu sofa besar. Coat berwarna merah yang menutupi seragamnya nampak mempesona melekat pada tubuhnya. Mata kucing itu menatap tajam kearah keluar sambil mengigit ujung kukunya berhiaskan cat merah. Kedua kaki mulus yang disilangkan menarik perhatian beberapa pengunjung di caffe bernuansa barat.
Tidak berapa lama sosok jangkung memasuki caffe tersebut dengan bunyi deting bel yang terdengar khas. Seulgi mengalihkan pandangannya. Dia menurunkan kakinya dan duduk tegap ketika pria itu berjalan mendekat padanya.
"Chan—"
"Langsung saja. waktuku tidak banyak" pemilik suara berat itu berusaha menahan amarah melalui nada bicaranya. Jika saja Seulgi bukan yeoja. Pasti dia sudah habis oleh Chanyeol saat ini setelah berhasil merusak hampir setengah hidup Baekhyun.
Seulgi hanya tersenyum maklum dengan anggun. Dia mempersilahkan Chanyeol duduk terlebih dahulu. Merasa di caffe ini etika dan sopan santu diprioritaskan. Karena caffe ini memang tempat berkumpulnya para pembisnis maupun borjuis kota Seoul.
"Aku ingin kita kembali seperti dulu"
Chanyeol berusaha menahan tawa. Namun satu hembusan nada mengejek keluar begitu saja melalui bibirnya. Seulgi tetap tenang sambil menatap Chanyeol dalam.
"Setelah kau merasa berhasil menyingkirkan Baekhyun?"
"Itu bukan niatku"
"Cih, omong kosong" ketus Chanyeol menghiraukan ucapan gadis itu.
Seulgi menatap kebawah. Jujur Chanyeol memang tidak suka mempermasalahkan hal ini. Tapi berdebat dengan Seulgi si yeoja keras kepala tidak akan ada habisnya. Chanyeol tahu benar bagaimana sifat asli wanita ini.
"Maaf urusanku masih banyak. Aku tidak punya banyak waktu" sinis Chanyeol dan berdiri dari tempat duduknya.
"Kembalilah padaku" ucap Seulgi sedikit berteriak ditempatnya. Nada memerintahnya membuat Chanyeol kembali menahan geraman.
Chanyeol berbalik menatap Seulgi dingin.
"Jika kukatakan tidak?"
"Maka Baekhyun yang harus menyingkir" final Seulgi memandang Chanyeol berharap meski dia sudah mengucapkan kalimat mengancam.
'Sialan' batin Chanyeol.
Chanyeol kembali berjalan acuh. Dia sungguh tidak ingin peduli dengan apa yang akan Seulgi katakan selanjutnya. Seulgi jelas tak akan menyerah. Dan sebentar lagi yeoja itu akan melampiaskan ketidak mampuannya untuk mendapatkan Chanyeol pada Baekhyun. Chanyeol tidak ingin hal itu terjadi.
Pria tampan itu berhenti berjalan saat Seulgi mulai berdiri dari sofanya.
"Silahkan jika kau memaksa. Aku akan melindungi Baekhyun" ucap Chanyeol tanpa memandang Seulgi.
.
.
.
Kejadian berita palsu tersebut menghasilkan desas desus yang cukup parah. Hampir semua murid sekarang memandang Baekhyun sebagai manusia rendah. Wajar saja. Baekhyun si anak sederhana yang bergabung dengan kalangan atas sungguh tidak pantas bersekolah disana. Belum lagi beasiswanya membuat dia dulu menjadi pusat perhatian.
Lalu sekarang?
Akibat artikel picisan yang dihasilkan oleh Seulgi seolah membuat perhatian tersebut kembali terulang. Pria mungil itu mulai berjalan perlahan dilorong kelas bersama Sehun disampingnya. Semalam Baekhyun tidak pulang kerumah. Karena dia terlalu takut pihak sekolah memberitahu ibunya akan beasiswanya yang 'hampir' dicabut paksa tanpa pembelaan.
Sejak keluar dari perpustakaan –bersembunyi- sepanjang siang ini. Baekhyun berjalan menunduk mendengar teman-temannya membicarakan dirinya setajam kuping serigala dimalam hari. Sehun yang ikut mendengarnya semakin berjalan merapatkan tubuhnya pada Baekhyun.
"Baekhyun.. Jangan didengarkan apa kata mereka" lirih Sehun berusaha membuat Baekhyun tersenyum.
Pria mungil itu mengangkat sedikit wajahnya. Sebuah senyuman terlampau dipaksakan mengambang dibibirnya. Baekhyun terlihat manis meski hatinya tergores berulang kali.
"Arrasseo, Hun"
"Baekhyun!" suara bariton terdengar menggema di lorong kelas lantai tiga.
Baekhyun tahu siapa pemilik suara itu. Kaki mungilnya sempat berhenti melangkah dan saat namanya di lantunkan nafasnya sangat tercekat. Baekhyun berusaha sekuat mungkin untuk tidak menoleh.
"Chanyeol" satu pemberitahuan tidak penting dari Sehun diabaikannya.
"Baekhyun!"
Sahutan dari kejauan tersebut kembali menggema cukup kencang.
Hell! Tidak bisakah Chanyeol berhenti berteriak keras layaknya pria idiot? Ini sangatlah memalukkan! Oh, terbukti jelas bahwa Chanyeol memang benar namja idiot karena berhasil menarik perhatian murid-murid yang berada dilorong. Nyatanya murid-murid disekitar sana kembali berbisik-bisik menyebalkan.
Baekhyun kembali melangkah sambil mengepalkan kedua tangan disamping kanan dan kirinya. Dirinya seolah tuli dan enggan menoleh. Kepalanya terasa panas menahan lelehan airmata yang tiba-tiba saja memaksa keluar.
"Baekhyun-ah!"
Terus..
Baekhyun terus berjalan sementara bunyi sepatu yang berdecit cukup kasar mengikutinya secepat mungkin. Berusaha mendekat pada Baekhyun yang menjauh dirinya.
"Byun Baekhyun! Aku memanggilmu apa kau tuli?!" teriakkan mengancam tersebut membuat Baekhyun semakin cepat melangkah.
Pemuda manis itu benar-benar ingin lenyap sekarang juga. Dia sudah malu maksimal dengan tindakan bodoh Chanyeol yang memanggil-manggilnya heboh tidak tahu diri dihadapan seluruh murid disana. Belum lagi berita mengenai dia bercumbu dengan pria hidung belang –katanya- membuat dia semakin terpojok. Ketika merasa Chanyeol tidak mengejarnya Baekhyun hendak berlari. Namun—
"BYUN BAEKHYUN! AKU MENCINTAIMU! TIDAKKAH KAU DENGAR DARI TADI AKU MEMANGGIL NAMAMU BERULANG KALI PENDEK?!"
Baekhyun terlonjak dan berhenti berjalan.
Sebuah sahutan yang keluar dari mulut Chanyeol membulatkan semua pasang mata disana. Luhan yang baru saja menapakki tangga yang berada disamping Baekhyun ikut terkejut mendengarnya. Sehun? Pria culun itu menganga melihat perbuatan konyol Chanyeol yang tidak tahu tempat.
Baekhyun terdiam. Kepalanya menoleh pelan sementara Chanyeol sudah berada tujuh meter didepannya. Pria itu terengah-engah.
Namja bermarga Byun itu membalikkan badannya—menghadap Chanyeol. wajah ketua penguasa sekolah sangatlah tidak bersahabat. Baekhyun tahu betul jika keinginan Chanyeol tidak terlaksana dia akan bertindak sangat keras kepala meski dengan cara tolol sekalipun.
"Siapa suruh kau tidak mendengar ucapanku? Kau mau mati?" desis Chanyeol.
Benar saja. Baekhyun kenal Park Chanyeol yang berwatak berandal iblis seperti ini.
Entah mengapa seulas senyum manis tiba-tiba mengembang dibibir Baekhyun. Cairan bening yang menghiasi mata sipitnya membuat Baekhyun terlihat semakin menawan berkali lipat dari sebelumnya.
"Idiot Park Babo.." lirih Baekhyun menghembuskan satu nafas mengejek.
Chanyeol tersenyum miring dan berjalan cepat kearah pemuda itu lalu menciumnya tepat pada bibir Baekhyun. Murid-murid SM SHS membuka mulut mereka lebar-lebar menanggapi adegan tersebut. Sedangkan Luhan memberikan reaksi yang tida jauh berbeda. Begitu pun Sehun dikejauhan.
"Kajja"
Ucap Chanyeol setelah melepaskan ciuman mereka dengan penuh gerakan bergairah. Pria itu mulai menarik tangan Baekhyun dan mengajaknya pergi. Menyisakan bisik-bisik, jeritan histeris para fans Chanyeol, juga senyuman ringan Luhan.
Tidak berapa lama Luhan memandang Sehun. Dia melampirkan senyum tipis yang memberikan makna tanda tanya pada Sehun. Lalu pria cantik itu melangkah. Tidak membiarkan Sehun mengetahui jawaban dari senyum itu.
.
.
.
.
.
TBC
Follow sehyun : ohansehyun
Facebook : Oh Han SeHyun
See you next chap ! ^^
Review? XD
