Annyeong!

Sehyun Back!

Siapa yang kangen? /tebak flying kiss/ digebuk readers/

Maaf kali ini Sehyun udah lama gak update selama dua bulan /sujud lagi didepan readers/

Sehyun bener-bener usahain setiap hari nulis dimana-mana hati Sehyun senang(?) Ditransjakarta. Dikelas pas free class. Dimobil appa. Diwc. Dirumah Luhan /apa ini/ Ya pokoknya Sehyun sempetin bahkan saat tugas mengalir dengan indah /bakar tugasnya/ T^T

BIG THANKS!

Untuk para readers, reviews-nya, siders, untuk silent readers silahkan bertobatlahhh, juga yang udah follow favorite ff Sehyun, yang suka nanyain, nungguin ff abal-abal ini, para eonni khususnya Dewi eonni, Dee eonni leader chanbaek shipper ^^ juga Devrina eonni yang ngangenin akhir-akhir ini maaf kalo sehyun suka telat bales bbm ehe. Last, buat Lee Taein sobat koleris Sehyun dikampus yang ngasih ide pas lagi mentok sampai chap terakhir. Ahh, thank you so much! /kecupin semua satu satu/ :*:*:*{}{}{}

I LOVE YOU ALL! ^^

.

.

.

WARN!

YAOI! DLDR!

We Are One in Our Real EXO L Heart!

Enjoy

SPECIAL FOR OH SEHUN BIRTHDAY! \*^_^/*

.

.

.

.

.

-BaekYeol Area-


"Ada perlu apa tiba-tiba kau datang kemari?"

Seorang namja melangkahkan kakinya masuk kedalam sebuah ruangan kosong. Seluruh murid-murid sudah tidak ada disekitar lingkungan sekolah. Sedangkan bagi Kim Junmyeon alias Suho yang menjabat sebagai Ketua Dewan Organisasi SM SHS. Maupun murid tangan kanan kepala sekolah SM SHS masih tetap menjalankan tugasnya sampai matahari terbenam.

"Aku hanya ingin mampir. Salahkah?"

Suho menatap datar kepada yeoja yang sedang duduk dimejanya biasa memimpin rapat. Kemudian dia menggelengkan kepala tidak habis pikir. Sebenarnya pria berwajah tampan itu selalu tersenyum manis kepada siapa saja. Dan dia rasa itu tidak perlu ditujukan pada yeoja yang sudah dia kenal betul sejak JHS.

"Apa yang kau inginkan Seulgi?" tanya Suho lalu menaruh berkas yang baru saja dia pegang kearah meja.

"Oppa. Aku ingin mendengar kabar baik darimu. Bolehkah?"

Suho menaikkan satu alisnya. "Kabar apa?"

Seulgi menurunkan kaki yang sejak tadi disilangkan dan berdiri mendekati Suho. Dia tersenyum mengeluarkan seluruh pesona cantiknya. Sayang itu tidak berpengaruh bagi Suho.

"Mengenai Byun Baekhyun"

"Beasiswanya tidak dicabut" seakan mengerti Suho langsung menyembur Seulgi dengan jawaban yang yeoja itu harapkan. Nyatanya justru berkebalikan.

Seulgi membulatkan matanya. Dia berdiri sedikit kaku membiarkan Suho mengambil alih kursinya dan duduk dengan tenang. Sementara Seulgi berusaha menahan gejolak panas didada setelah mengetahui rencananya telah gagal.

"Ke-kenapa bisa?" tanya Seulgi tidak percaya.

Suho menghembuskan nafasnya. "Jadi benar kau yang melakukannya?"

Seulgi menoleh cepat dengan wajah tegang. Dia bungkam dengan mata melotot seolah tatapannya mampu menakutkan Suho. Suho hanya menyipitkan mata memandang serius kearah Seulgi.

"Ke-kenapa?!" teriak Seulgi—nyaris frustasi.

"Luhan yang menggantikkannya" tutur Suho acuh lalu mengambil selembar kertas dari mejanya.

"Luhan?" ulang Seulgi dan Suho menoleh padanya.

"Ya. Dia menerima tawaran ayahku"

Seulgi tersentak. Wajahnya semakin mengeras dan matanya mengeluarkan kilatan menakutkan. Nafasnya satu satu dan tubuhnya terasa memberat. Disisi lain dia tidak percaya kenapa Luhan juga nekat terkena imbas dari rencananya. Sungguh, Luhan bukanlah target Seulgi. Namun sepertinya pria cantik itu ikut turut serta dengan sukarela. Apa boleh buat?

"Kurasa ambisimu pada Park Chanyeol harus kau hilangkan Seugi. Kau tau bukan. Kau pernah keluar dari sekolah ini karena masalah itu" ucap Suho tanpa melihat yeoja itu.

Seulgi hanya diam ditempat. Perlahan dia melangkahkan kakinya. Menghiraukan segala ucapan Suho. Dia yakin setelah ini Byun Baekhyun harus menerima kegagalan yang dia dapat. Lebih dari yang sebelumnya.

.

.

.

"Aku tidak bisa berdandan"

Ungkap Oh Sehun yang terus saja duduk risih didepan kaca kamarnya. Sementara Baekhyun berdiri dibelakang. Menyisir rambutnya sambil menatap pantulan Sehun dicermin.

"Oh! Ayolah! Kau ingin berhasil kan? Ini adalah kesempatanmu Sehun-ah!" Baekhyun mulai menyemangati Sehun.

Pria culun itu menggeleng sambil melakukan perlawanan terhadap tangan Baekhyun yang berusaha mengambil kacamata laknat milik Sehun. Usaha Baekhyun memang tidak sia-sia. Sekarang wajah Oh Sehun sudah terlepas dari kacamata yang menutupinya.

"Lihatlah kau lebih tampan daripada sebelumnya tanpa kacamata ini!" puji Baekhyun lalu mencoba memakai kacamata Sehun asal.

"Kumohon kembalikan... Aku tidak bisa melihat"

"Omong kosong"

"Sungguh, Baek. Kenapa kau bertingkah menyebalkan seperti ini?"

"Aku hanya ingin kau lebih menawan dalam mengungkapkan perasaanmu pada Luhan" tutur Baekhyun dan wajah Sehun pun memerah. Pria albino itu terdiam menunduk kaku.

"A—aku tidak siap"

"Apa maksudmu tidak siap?!" sahutan Baekhyun membuat Sehun menutup telinganya.

"A—aku hanya be—belum siap saja"

Baekhyun berdecak kesal dan mulai mendorong Sehun kembali menghadap kaca.

"Lihatlah! Kau tampak sempurna tanpa kacamata bodohmu itu! Kau tampan Sehun!" Baekhyun berseru berusaha menyadarkan namja pucat yang sedang duduk didepannya.

Sehun menundukkan kepalanya lagi. Dia sendiri tidak yakin apakah Luhan akan menerima dirinya yang bergaya sangat culun. Belum lagi dia berstatus sangat rendah dilingkungan sekolah. Yeah, seorang geeks. Padahal Sehun tidak lebih idiot daripada kekasih sahabatnya ini—si Park Chanyeol.

"Luhan pasti akan menyukaimu! Ayo kau hanya perlu sedikit perbaikkan"

Dan ucapan terakhir Baekhyun siang itu. Mereka habiskan untuk mem-make over Oh Sehun menjadi manusia sesungguhnya.

-Flashback-

"Mereka pasti akan membunuhku setelah ini..." Baekhyun berujar lesu sambil mengikuti langkah Chanyeol.

Pria itu menoleh dengan senyum tampan melihat pucuk surai krem yang terlihat lembut. Tangan besarnya beralih pada kepala Baekhyun dan mengusaknya gemas. Baekhyun sedikit protes pada Chanyeol. Tapi itu tidak bertahan lama karena pipi chubby tersebut mulai memerah menanggapi senyuman lembut kekasihnya.

"Tentu tidak akan terjadi, Baby"

"Kenapa kau selalu bersikap spontan begitu? Kau bisa memanggil namaku dari dekat. Bukan berteriak seperti manusia purba tinggal dihutan dengan sikap idiot masuk keabad modern!"

"Komentarmu berlebihan, Baek"

"Bukan aku. Tapi sikapmu yang berlebihan" Baekhyun merenggut dalam genggaman Chanyeol dan pria itu terkekeh.

"Baiklah. Maafkan aku. Aku hanya ingin seluruh murid yang berani membicarakanmu itu tahu bahwa aku sangat mencintaimu. Dan nyatanya mereka salah menilai Byun Baekhyun-ku! Dia bukanlah namja yang ada di berita keparat itu!" jelas Chanyeol lalu mencium tangan Baekhyun dengan tatapan tajam.

Baekhyun terdiam. Jantungnya kembali berpacu cepat. Setiap tindakan konyol Chanyeol Baekhyun akui memang sangat menyusahkan dirinya. Tapi dia menyukai sifat bodoh namja-nya yang selalu berusaha memperbaiki segala kesalahan yang dia buat. Entah mengapa Baekhyun merasa sangat beruntung memiliki Chanyeol sebagai kekasihnya.

"Byun Baekhyun-ku? Sejak kapan aku jadi milikmu?"lirih Baekhyun masih dengan wajah cemberut.

"Yak! Kau itu milikku pendek! Kau—"

"Aishh berhentilah berteriak-teriak seperti tadi Park Chanyeol ini disekolah bukan hutan belantara!" sahutan seorang namja cantik mengalihkan pandangan kedua pasangan tersebut.

"Luhan-ssi"

"Baek. Panggil aku Luhan tidak usah pakai embel-embel ssi. Aku memaksa"

"Cih, ada apa kau datang menganggu? Sudah sana pergi bercinta dengan si kacamata!" usir Chanyeol sambil merangkul pundak Baekhyun menjauh beberapa senti dari Luhan.

Baekhyun yang mendengar hal itu segera menyikut perut Chanyeol. "Jangan berkata bodoh Yeol!"

"Auhh.. sakit Baby" Chanyeol merintih memegangi perutnya sedikit berlebihan.

"Biarkan saja sibodoh satu ini. Baekhyun aku punya berita bagus untukmu!"

Baekhyun mengangkat wajahnya ragu. Jika dia melihat Luhan dia teringat akan kejadian tidak menyenangkan diruang kepala sekolah. Dimana Luhan telah mengetahui perkerjaan sampingan Baekhyun diklub malam ibunya.

"Luhan. Aku—minta maaf soal pekerjaanku—"

"Tidak perlu. Chanyeol sudah menjelaskan mengenai caramu bekerja disana. Kau tidak melayani para hidung belang itu bukan? Aku tahu kau berkata jujur dan berita itu memang akal-akalan menyusahkan dari Seulgi.

"Tentu saja. Karena aku yang selalu menjaganya saat dia bekerja" ucap Chanyeol bangga dan Luhan berwajah datar menanggapinya.

"Baekhyun-ah beasiswamu tidak jadi dicabut oleh kepala sekolah. Kau masih bisa bersekolah disini. Bagaimana kau mau kan?"

Sontak Baekhyun terperanjat kaget. Dia membulatkan mulutnya sambil menutup mulut dengan satu tangan. Sementara Luhan tersenyum dan Chanyeol menatap Luhan heran.

"Be—benarkah Luhan-ssi ah, maksudku Luhan? Beasiswaku... Aku, masih bisa bersekolah disini?" gugup Baekhyun menatap Luhan nyaris berkaca-kaca.

Beasiswa itu seakan alat penting untuknya bertahan hidup disekolah ini. Memang itulah kenyataannya. Jika dia tidak mendapat itu. Dia tidak akan bisa bersekolah bersama Chanyeol lagi.

Luhan mengangguk dengan senyum termanisnya.

"Tentu. Mulai besok belajarlah seperti biasa. Hanya tinggal satu semester lagi di tingkat tiga ini. Sayang sekali jika kami harus mengeluarkanmu. Kau adalah salah satu murid panutan disini Baekhyun" papar Luhan dan Baekhyun langsung berhambur memeluk Luhan.

"Terima kasih. Aku sungguh-sungguh berterima kasih Luhan" Baekhyun mulai menangis terharu dipelukan Luhan. Pria cantik itu mengangguk dan sedikit mengusap kepala Baekhyun menenangkannya. Sedangkan Chanyeol memandangnya penuh iri.

"Sudahlah jangan menangis. Oh ya kau sudah tahu apa yang akan kau pakai untuk malam ini?" ucap Luhan lalu menatap Chanyeol.

Baekhyun mengusap airmatanya sambil menggeleng heran. Wajah basah itu terlihat imut sekali. Merangsang Chanyeol untuk menjilat bekas lelehan airmata itu. Tapi pasti dia akan kena pukul oleh Luhan karena bermesraan ditempat umum. Park Chanyeol memang idiot.

"Chanyeol kau tidak memberitahunya?" sungut Luhan dan Chanyeol mengalihkan pandanganya acuh.

"Apa itu?" kali ini Baekhyun mendongak untuk menatap wajah Chanyeol.

Mata Chanyeol menoleh kebawah kearah Baekhyun. Ibu jarinya mengusap airmata Baekhyun yang masih sedikit berbekas. Dia sedikit mengangkat sudut bibirnya melihat ekspresi polos namja mungil itu.

"Ayahku akan bertunangan malam ini"

.

.

.

Mobil bugatti veyron terbaru warna abu-abu milik Chanyeol sudah terparkir manis didepan pekarangan rumah sederhana keluarga Byun. Pria tinggi itu terlihat tampan dengan jas setelan berwarna hitam. Tidak lupa rambutnya yang ditata keatas menampilkan dahi seksinya.

Park Chanyeol tampil sangat tampan bak pangeran malam ini.

Namja itu bersandar nyaman pada pinggiran mobilnya sambil memainkan ponsel/ Tangan kirinya dimasukkan kedalam saku. Menunggu seorang putri cantik -sebenarnya Baekhyun- yang sedang bersiap didalam.

Tidak berapa lama seorang pemuda dibalut coat tebal berwarna coklat senada dengan rambutnya. Keluar dari rumah tersebut. Baekhyun melangkahkan kakinya menuruni tangga kecil depan pintu dengan ibunya mengikuti dari belakang.

Tubuh Chanyeol sempat ter-pause beberapa detik melihat penampilan kekasihnya. Dia menegakkan badan jangkungnya dan membungkuk sopan pada ibu Baekhyun ketika mereka sampai dihadapannya. Sementara Baekhyun mengalihkan pandangannya sejak Chanyeol memperhatikan dirinya dari atas sampai bawah. Tataan rambut Baekhyun yang disisir rapih menyamping terlihat menggemaskan. Belum lagi Baekhyun memakai eyeliner dengan softlens berwarna abu-abu yang membuatnya semakin mempesona.

"Apa? Jangan menatapku seperti itu maniak" komentar Baekhyun ketus sedikit menyipitkan matanya.

"Baekhyun kenapa bicaramu seperti itu?" mendengar celetuk anaknya. Ibu Baekhyun segera memukul pelan kepala anaknya.

Baekhyun meringis kesakitan sementara Chanyeol tertawa. "Tidak apa-apa eomma. Baekhyun lebih manis jika dia seperti ini" balas Chanyeol dan pipi Baekhyun bersemu menanggapinya.

"Su-sudahlah nanti kau bisa telat Chanyeol! Kajja!" gugup Baekhyun lalu mendorong-dorong tubuh Chanyeol menjauh dari ibunya . Sebelum dia dipermalukan lebih jauh didepan orang tuanya sendiri oleh Chanyeol.

Chanyeol membungkuk kembali. Tidak lupa Baekhyun melambaikan tangan kepada ibunya saat dia berdiri dipintu sebelah yang sudah dibukakan Chanyeol. Mereka sempat berdebat kecil akibat Chanyeol memperlakukan Baekhyun bak seorang putri malam ini. Membuat ibu Baekhyun yang menatapnya tertawa-tawa melihat kelakuan anak dan calon menantunya kelak-ehem-.

"Dasar anak-anak" ucapnya ketika mobil Chanyeol melaju meninggalkan rumah Baekhyun.

Dua puluh menit telah berlalu. Pagar hitam yang memblokir mansion mewah Chanyeol akhirnya terbuka. Baekhyun memainkan jadinya sambil mengigit bibir disebelah kursi kemudi.

"Demi Tuhan aku gugup"

Chanyeol menatap kekasihnya dan tersenyum sekilas. Lalu mengecup tangan Baekhyun yang baru saja digenggamnya. Berusaha menenangan Baekhyun. Dia mulai memarkirkan mobil dengan handal tepat didepan pintu mewah kediamannya. Baekhyun sampai membuka mulutnya lebar-lebar memandangi rumah Chanyeol. Sungguh megah dan besar.

Pria itu membukakan seat belt Baekhyun dan keluar tiba-tiba. Hal itu membuat pria mungil ini panik. Mau tidak mau Baekhyun harus keluar karena mobil akan diparkirkan oleh bodyguard keluarga Park.

Baekhyun benar-benar berdiri kaku saat Chanyeol sudah melangkahkan kakinya—hendak masuk kedalam rumah. Namun pria tampan itu akhirnya berhenti dan menoleh kebelakang menatap Baekhyun. Tanpa banyak bicara, Chanyeol menuruni dua tangga dan mengulurkan tangannya dengan punggung yang sedikit membungkuk. Membuat pipi Baekhyun merona karena menjadi pusat perhatian dihalaman rumah Chanyeol. Sementara dikanan kirinya terdapat bodyguard yang tidak ambil pusing menatap kejadian tersebut.

Baekhyun menyambut uluran tangan Chanyeol. Jujur dia meneguk ludahnya sendiri sambil menunduk malu. Kenapa Chanyeol sangat blak-blakkan? Mereka baru saja sampai ditempat pesta. Tidak tahukah mereka menjadi pusat perhatian saat ini?

"Tidak perlu gugup. Kau sempurna malam ini" puji Chanyeol berbisik pada telinga Baekhyun lalu membawanya kedalam.

Pria mungil itu tercengang. Ruangan yang sangat luas memaku pengelihatannya. Rumah Chanyeol benar-benar menakjubkan. Hiasan-hiasan berwarna putih menjadi menjadi tema dekorasi pertunangan keluarganya. Beberapa pria dan wanita yang terlihat berkelas menyapa Chanyeol ramah. Sepetinya mereka adalah rekan-rekan bisnis ayah Chanyeol. Sementara untuk menjaga sopan santun kali ini Ketua Park berusaha bersikap baik. Baekhyun sendiri agak sedikit terkekeh melihatnya.

"Chanyeol" sahut seseorang yang melambaikan tangannya disudut ruangan dekat tangga yang sangat besar.

Chanyeol menarik tangan Baekhyun mendekat pada namja yang memanggilnya. Pria itu mengulurkan tangannya memberi ucapan selamat. Dan mata Baekhyun membulat melihat seseorang yang bersama namja itu.

"Kyungsoo?!" sahutnya cukup terkejut.

"Hai Baek" sapa Kyungsoo ramah lalu membungkuk sedikit pada Chanyeol yang diam.

"Kenapa kau... Bersama Kai?"

"Ah, aku lupa kalian bersahabat" ucapan Kai membuat Baekhyun heran.

"Tunggu! Ini kedua kalinya aku melihat kalian bersama! Apa sebenarnya kau dan Kai—"

"Astaga apakah disini acara reunian mantan kekasih?" gelak tawa Chen yang baru datang membuat keempat orang tersebut menoleh.

"Maksudmu?" Baekhyun terus bertanya seperti orang dungu disini.

"Chen diamlah. Jangan berulah dipesta Ibuku" tiba-tiba sosok jangkung berdiri dibelakang Baekhyun. Baekhyun berbalik dan menatap Kris yang tersenyum ramah.

"Hai Baekhyun. Senang kau bisa datang kemari"

"Ah, iya. Terima kasih telah mengundangku, Kris" ucap Baekhyun lalu membungkuk. Mata Baekhyun menangkap seorang namja asing dibelakang Kris. Namja itu lebih tinggi darinya. Dia memiliki mata sangat sipit dengan lingkaran hitam dibawah matanya. Namun terkesan menyeramnya meliha banyak tindikkan kecil telinga sebelah kanan. Juga rambut bercat blonde seperti Kris.

Merasa canggung ketika dua namja itu saling menatap. Kris yang berdiri diantara mereka menyuruh lelaki itu memperkenalkan dirinya. Baekhyun sedikit mengadahkan kepalanya menatap namja itu.

"Annyeonghaseyo. Huang Zi Tao imnida" ucapnya dengan aksen Korea yang aneh.

"Annyeonghaseyo. Byun Baekhyun imnida"

"Baekhyun-ah. Maaf kalau cara bicaranya aneh. Dia berasal dari Cina" jelas Kris dan Baekhyun tersenyum mengangguk.

"Ni hao" sapa Baekhyun dan Tao terkejut.

"Ni hao. Ni keyi shuo Hanyu ma?(Apakah kamu bisa berbicara bahasa Mandarin)" balas Tao, matanya mulai berbinar. Sedangkan namja-namja lain hanya berjengit dan ada yang terpana heran.

"Bu. Wo hui yi dian yi dian (Tidak. Saya hanya bisa sedikit)" ujar Baekhyun dan Kris tersenyum.

"Baby. Sudah jangan berbicara aneh lagi. Aku pusing" ungkap Chanyeol merasa sedari tadi perhatian Baekhyun terambil oleh namja lain.

Baekhyun mempoutkan bibirnya. Tanpa aba-aba lagi tangannya sudah ditarik menjauh dari kerumunan para penguasa sekolah yang tampil mempesona. Dia terus memperhatikan Kyungsoo yang tersenyum padanya. Setelah pesta ini Baekhyun harus mendapatkan penjelasan darinya.

"Chanyeol. Kita mau kemana?" tanya Baekhyun dan Chanyeol berhenti berjalan.

"Ayo aku ingin menunjukan sesuatu padamu" ucapnya santai dan Baekhyun berhenti mendadak.

"Bisa kau jelaskan terlebih dahulu situasi disana tadi? Aku tidak paham kenapa Kyungsoo ada disana dan—"

CHU!

Baekhyun membuka matanya lebar. Chanyeol tiba-tiba mendorong tubuhnya pada salah satu pilar dilorong yang cukup gelap. Dengan gerakan cukup kasar Chanyeol mencium bibir Baekhyun bernafsu. Melumat bibirnya berkali-kali lalu melepaskannya hingga menimbulkan bunyi decakan kentara.

"Chan—"

"Maaf..." lirihnya membuat Baekhyun terheran dengan nafas satu-satu.

"Eh? Kenapa?"

Chanyeol kembali mencium bibir Baekhyun penuh kelembutan. Dia hanya menempelkan bibirnya. Menghantarkan rasa hangat ketika kedua belah bibir itu kembali bertemu. Baekhyun mulai menutup matanya merasakan deru nafas berat Chanyeol.

"Sejak melihatmu keluar dari rumah aku benar-benar sudah tidak bisa menahannya. Kau sungguh cantik. Sungguh sempurna Baek" bisik Chanyeol didepan bibir Baekhyun.

Pipi pria mungil itu bersemu. Dia mengeratkan pelukannya dan tersenyum manis. Jantungnya bergemuruh seolah hendak meledak menghancurkan seluruh sistem tubuhnya.

"Kau juga sungguh tampan dan lebih sempurna dariku Yeol" balas Baekhyun lalu membawa tangannya mengusap rahang kekasihnya.

Chanyeol tersenyum dan mulai memeluk Baekhyun erat.

"Jika kau ingin mengetahui sesuatu. Kris Tao, Kai dan Kyungsoo. Mereka bertunangan" jelas Chanyeol.

"Bertunangan? Sejak kapan? Kenapa Kyungsoo tidak memberitahukannya padaku?"

Chanyeol tidak menjawab. Dia lebih suka menatap tajam wajah si mungil. Juga merapatkan tubuhnya pada Baekhyun. Kepalanya dimiringkan dan perlahan mendekat kembali. Tangan Baekhyun yang sedari tadi menahan dada Chanyeol melemah. Dirinya dibiarkan terlarut dalam obsidian bening kekasihnya. Sang mata hampir terpejam sepenuhnya saat melihat wajah Chanyeol semakin lama semakin mendekat dan...
"Ehem. Maaf mengganggu" seseorang menginterupsi tidak jauh dari lorong tempat mereka bermesraan.
Pria blasteran Kanada itu sedikit canggung begitupun Baekhyun yang langsung mendorong tubuh Chanyeol menjauh. Chanyeol membiarkan tubuhnya dihempaskan menjauh dari si mungil dengan ekspresi malas. Pria itu bahkan mendesah panjang tanda tak senang.
"Yeol, acara utama sudah dimulai. Kau harus ikut serta" papar Kris.
"Sial" desis Chanyeol menahan amarah lalu berbalik dengan malas.
Tangannya menarik telapak tangan Baekhyun dan mengenggamnya erat. Mereka berdua berjalan sedikit terburu-buru melewati Kris yang tersenyum maklum. Chanyeol membisikkan sesuatu pada telinga Baekhyun sambil berjalan diselingi senyuman khas Tuan Park. Mata sipit Baekhyun seketika membulat. Dia mendongakkan kepalanya melihat wajah sang kekasih. Belum sempat dia membuka mulut. Aula megah tersebut berubah menjadi riuh saat Chanyeol menampakkan diri bersama Kris yang sudah disampingnya.
Kepala Baekhyun menunduk dalam. Dia malu sekali dan tangan Chanyeol tidak berniat melepaskan genggamannya.
Tidak berapa lama salah seorang MC kembali berbicara. Pria yang memperkenalkan diri dengan nama Leetuk mengucapkan tanda terimakasih pada seluruh tamu undangan. Setelah itu mempersilahkan pria tua berbalut hanbok berwarna biru gelap maju dan mengucapkan sepatah kata penyambutan.
"Yeol dia.."
"Ya. Pria tua beruban menyebalkan disana. Dia kakekku" bisik Chanyeol begitu dekat pada kuping Baekhyun.
Pria tua itu berbincang-bincang sedikit didepan para tamu undangan. Tidak lupa menambahkan gurauan yang membuat suasana semakin menghangat. Kemudian kakek berumur tujuh puluh tiga tahun itu menoleh kearah Chanyeol dan Kris berdiri. Disela sela pidatonya dia sempat terdiam dan menatap heran.
"Astaga dimana cucuku yang paling manis? Apa dia mencat rabutnya menjadi coklat terang?" tanyanya sambil menyipitkan mata.
Para tamu undangan melirik kearah seseorang yang dimaksud sang kakek. Baekhyun terkejut dan mengibas-ibaskan tangannya dengan panik. Tanda sang kakek salah orang. Chanyeol terkekeh melihat Baekhyun gelagapan sendiri sementara Kris membenarkan pernyataan Park Aboji.
"Bukan aboji. Dia Baekhyun. Bukan Luhan"
Park Aboji mengangguk dan mengalihkan matanya pada Chanyeol "Cih, anak berandal itu akhirnya datang juga. Siapa yang berhasil menyeretnya? Harus kuberi hadiah dia" ketus Park Aboji lalu semua tamu tertawa
"Byun Baekhyun, aboji! Byun Baekhyun yang membuat Chanyeol datang!" sahut Kai tiba-tiba dan Park Aboji mengelus-elus dagunya sesekali mengangguk.

Baekhyun benar-benar berharap saat namanya di elukan Kai menghilang saat itu juga. Sementara kekasihnya malah tersenyum menahan tawa. Baekhyun sungguh menggemaskan.
"Baiklah. Silahkan Leetuk kau yang mengambil alih kembali. Kurasa pinggangku mulai terasa sakit berdiri lama lama" keluh Park Aboji lalu dua maid datang dan memapahnya. Tidak lupa diakhiri dengan tepuk tangan meriah.

Baekhyun ikut bertepuk tangan mengagumi sikap menghibur sang kakek. Dia pikir keluarga Park tidak bisa diajak becanda layaknya Chanyeol. Tapi pendapatnya berubah. Mereka keluarga baik meski dulu mungkin pernah mengalami situasi pahit.

"Dan sekarang mari sambutlah Tuan Park Seunghyun dan Nyonya Michele Wu"

Seketika suasana tampak lebih meriah dari sebelumnya. Ketika pria tampan berusia sekitar empat puluh enam tahun dan wanita yang sebaya dengannya menampakkan diri berjalan beriringan. Wanita yang memakai gaun putih dengan rambut pirang telihat begitu menawan serta anggun. Baekhyun sempat terpesona dengan senyuman hangat yang dia pancarkan.

"Baek, itu ibuku" ucap Kris memberi jawaban akan pertanyaan dikepala Baekhyun sejak wanita itu keluar.

"Apa?! Dia cantik sekali! Masih terlihat sangat muda Kris!"

Kris tertawa mendengar pernyataan Baekhyun. Dia mengangguk dan menatap sang ibu yang sedang berdiri bersama calon suaminya yang memberikan sepatah kata penyambutan.

"Lalu disebelahnya ayahku" papar Chanyeol dengan wajah datar.

Baekhyun membuka mulutnya nyaris tidak percaya. "Berarti kalian akan menjadi kakak beradik? Wah! Selamat Kris! Yeol!" sahut Baekhyun menjabat tangan keduanya bersamaan.

Kedua pria tampan itu balas tersenyum. Kris menyentuh kepala Baekhyun dan mengusapnya. Dia lebih kagum oleh pria manis dihadapannya yang terlihat menggemaskan. Chanyeol yang melihat itu segera menjauhkan tangan Kris.

"Singkirkan tanganmu! Kau mau mati?" desis Chanyeol dan Kris hanya mengangkat bahunya.

Baekhyun kembali menatap kedepan. Senyumnya semakin mengembang ketika Park Seunghyun—ayah Chanyeol sedang menyematkan sebuah cincin berlian putih ditangan ibu Kris. Mereka bagaikan sebuah lukisan indah. Baekhyun sungguh terpana. Dia berharap bisa memiliki pertunangan indah seperti ini suatu saat nanti.

Pikirannya mulai melayang kemana-mana. Tanpa sadar pipinya memerah membayangkan bagaimana Chanyeol akan melamarnya suatu saat nanti. Apa Chanyeol juga akan tersenyum bahagia jika bersama dengannya? Apa Tuhan mengizinkan Chanyeol menjadi pendamping hidupnya?

Baekhyun mengangkat kepalanya dan mendapati kekasihnya sedang menatapnya lekat. Bola mata mereka terkunci satu sama lain. Park Chanyeol tidak bisa melepaskan matanya dari pesona Byun Baekhyun. Dia mengangkat sudut bibirnya sedikit lalu mengenggam tangan Baekhyun yang bersemu merah.

"Setelah acara ini ikut aku" bisiknya dengan nada berat.

Astaga, suara Chanyeol semakin membuat wajah Baekhyun panas. Dipikirannya apakah setelah ini mereka akan melakukan seks? Ouh, pipi Baekhyun sudah dipastikan mendidih layaknya air direbus. Baekhyun mengangguk sekali. Berusaha mengendalikan detak jantungnya dengan memandang kearah lain. Mata sipitnya menangkap sosok tidak asing sedang berdiri disebelah pilar besar dengan segelas wine ditangannya.

"Seulgi" lirihnya pelan.

Kenapa yeoja itu datang? Ah, tentu saja dia juga merupakan orang berkelas disini. Namun sayang Seulgi kenyataannya tidak diundang sama sekali. Seulgi memandang Baekhyun penuh kebencian sambil meneguk wine-nya. Baekhyun diam. Peringatan pertama Seulgi sungguh bukan main-main. Dia bisa saja menghilangkan masa depan Baekhyun dalam waktu beberapa detik. Baekhyun harus waspada.

"Astaga! Kau siapa?!" sahutan Kyungsoo memecah lamunan Baekhyun.

Para penguasa sekolah terlihat mengelilingi pria yang dimaksud Kyungsoo tadi. Baekhyun penasaran akan keributan kecil disebelah dan segera berjalan mendekat. Mengabaikan Chanyeol yang memanggilnya.

"Oh Sehun!" serunya girang lalu berlari kearah pria yang dimaksud.

"Kau si kutu buku? Kenapa kau berubah begini?" tanya Kai heran melihat penampilan Sehun hari ini.

"Ya Tuhan kau benar-benar tampan Sehun! Kalau tahu begini lebih baik kau lepaskan kacamatamu saja sejak dulu" puji Kyungsoo terpesona membuat Kai mengeryit tidak suka.

"Ya! Kacamata! Ada apa dengan penampilanmu malam ini?" Chanyeol yang berjalan mendekat sangat takjub.

Sehun hanya tersenyum. Rambut Sehun dicat putih dengan poni menyamping. Tidak lupa dengan softlens berwarna abu-abu terang yang dipilihkan Baekhyun tadi siang. Jas berwarna hitam yang melekat ditubuh membuatnya mengambil setengah perhatian tamu pesta.

"Sudah kubilang kau tampan Sehun-ah. Percaya dirilah" ucap Baekhyun dan Sehun mengangguk.

"Terima kasih Baek" balasnya.

"Ayahmu tidak datang Oh Sehun?" tanya Kris sambil menjabat tangan Sehun yang agak kikuk menanggapinya.

"Tidak. Beliau sedang ada urusan bisnis di London. Aku yang menggantikannya. Terima kasih telah mengundangku Kris-ssi" ucap Sehun dan tiba-tiba Leeteuk kembali mengambil alih acara..

"Para hadirin tamu undangan yang terhormat. Kami memiliki satu lagi acara penting yang membawa kabar berita baik bagi keluarga Park" senyum Leeteuk menarik perhatian para tamu undangan lagi termasuk para penguasa sekolah Baekhyun, Kyungsoo, maupun Sehun.

Tidak berapa lama seorang pria cantik dengan balutan tuxedo putih keluar dari lantai atas. Semua mata tertuju pada Luhan yang amat menawan. Dia membungkuk beberapa kali sambil berjalan menuruni tangga. Malam ini Xi Luhan sukses mengalahkan seluruh kecantikan wanita diruangan itu.

Mata rusanya menangkap sosok namja tinggi yang berdiri dibawah sana. Pria itu menatap penuh kekaguman atas penampilan Luhan yang baginya selalu tampak sempurna dari sudut manapun. Luhan tersenyum pada Sehun. Begitu pun sebaliknya. Entah mengapa rasa gundah Sehun menghilang saat menatap senyuman Luhan.

Luhan mengalihkan pandangan pada seseorang yang menyambutnya dibawah sana. Pria yang lebih tinggi dari Luhan mengulurkan tangannya dan membimbing Luhan berdiri disebelahnya. Tiba-tiba pria itu mengeluarkan sebuah cincin. Lalu memakaikannya dijari manis Luhan. Luhan tetap tersenyum pada pria dewasa dihadapannya. Dan saat itulah semua orang terkejut.

"Para hadirin sekalian Tuan Muda Xi Luhan dan Presedir Kim Minseok sudah resmi bertunangan hari ini. Berikanlah tepuk tangan meriah pada mereka" ucap Leeteuk. Gemuruh tepuk tangan pun terdengar memenuhi ruangan pesta.

"Lu ge..." lirih Tao tidak percaya.

"Lu-Luhan bertunangan dengan siapa?" tanya Kai sangat terkejut pada Kyungsoo. Pria bermata bulat itu hanya menggeleng tidak yakin.

"Sepertinya aku pernah melihatnya beberapa kali. Kalau tidak salah Presedir Kim Minseok adalah anak pertama dari kepala sekolah Kim Youngmin. Apa Luhan tidak memberitahukan kalian mengenai pertunangan ini?" Kyungsoo bertanya kepada yang lain. Melihat ekspresi dari para penguasa sekolah cukup menyedihkan. Terkejut akan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.

"A—aku tidak tahu akan hal ini. Sial! Chanyeol kenapa kau tidak memberi tahu kami!?" seru Chen lalu menggoyangkan bahu Chanyeol yang terdiam kaku. Sama seperti Kris dan Tao.

Chanyeol hanya diam. Dia juga tidak menyangka jika Luhan akan bertunangan malam ini juga seperti ayahnya. Luhan telah menyembunyikan sesuatu darinya. Chanyeol bisa merasakan hal itu. Namun bukan itu saja yang lebih dia cemaskan. Kepalanya menoleh pada seseorang yang menaruh hati pada sepupu cantiknya.

"Se—hun..." cicit Baekhyun. Bibirnya kelu saat menoleh pada sahabatnya dibelakang sana.

Sehun masih menatap lurus kedepan. Memandang Luhan yang tersenyum begitu manis seolah dia benar-benar bahagia. Bahkan ketika pipinya dicium ditengah kerumunan para tamu undangan. Sehun merasa sudah tidak punya celah lagi.

Pria albino itu menghela nafas dengan senyuman. Tubuhnya berbalik saat Baekhyun menatapya dan hendak berlari mengejar. Chanyeol menahan lengan Baekhyun. Menyuruhnya untuk memberi Sehun waktu. Sedangkan Chen dan Kai masih sibuk berargumen mengapa Luhan tidak menjelaskan berita pertunangannya ini pada para sahabatnya?

"Sehun" lirih Luhan dengan suara kecil dikejauhan.

.

.

.

Sinar bulan menerangi seluruh taman kota. Cahaya lampu redup pun dikalahkan oleh bintang-bintang yang memenuhi langit malam. Sungguh menyedihkan. Cuaca begitu cerah sementara hati Sehun berisi awan mendung didalamnya.

Pria kurus itu terduduk disebuah ayunan sambil menundukkan kepalanya. Sudah hampir sejam dia terdiam disana tanpa bergerak sedikitpun. Tangan kirinya memegang kacamata hitam berbentuk kotak. Sedari tadi Sehun terus memutar-mutar kacamata tersebut dengan pandangan kosong. Jujur, Sehun akui. Dia adalah pria bodoh. Sehun merasa terlalu bodoh saat ini.

Seharusnya sudah sejak lama dia mengungkapkan perasaannya pada Luhan. Jika dia bergegas lebih cepat dan tidak ambil pusing akan posisinya disekolah Sehun tidak akan pernah bimbang. Dia sudah menyukai pria cantik itu sejak pertama kali dia melihatnya di upacara penerimaan murid baru. Hanya saja, Luhan saat itu masih bolak balik ke Amerika selama beberapa bulan untuk mengurus surat-surat kepindahannya.

Luhan begitu sempurna. Sedangkan Sehun hanyalah kutu buku menjijikan yang selalu menundukkan wajahnya jika bertemu dengan Luhan.

Menyedihkan.

Tidak terasa setetes airmata jatuh membasahi pipinya. Sehun bukan pria kuat. Dia memang lemah. Tapi siapa sangka pria pujaannya akan bertunangan malam ini. Tepat ketika hatinya telah memantapkan diri untuk mengutarakan perasaannya?

Sehun merasa kalah. Merasa konyol akan sikap dan tindakan manis Luhan maupun waktu yang telah mereka lewati bersama.

Pria itu mengusap bekas lelehan airmatanya hendak beranjak pergi sebelum akhirnya tubuh Sehun menegang kaku.

"Lu—Luhan-ssi..." gugupnya saat memandang sosok Luhan yang berdiri tiba-tiba dihadapannya.

"Kenapa malah kabur?" sebuah pertanyaan mengejutkan keluar dari bibir Luhan.

Sehun tergagap tidak dapat memilah kata yang baik. Jantungnya kembali nyeri. Dia tahu Luhan pasti melihatnya keluar tadi. Mengapa dia begitu banyak bertindak bodoh malam ini?

"Aku—hanya mencari udara segar" bohongnya dengan senyuman palsu.

Luhan memberikan pandangan yang berbeda. Matanya berubah tajam seperti mata Chanyeol. Namun tidak meninggalkan kesan ramah disana.

"Kau mengecat rambutmu"

"Huh?" Sehun mengangkat kedua alisnya.

"Dan melepas kacamatamu juga memakai softlens. Ada apa denganmu hari ini Oh Sehun?" tanya Luhan tetapi ditelinga Sehun itu bagaikan kata sindiran semata.

Sehun menggaruk kepalanya tak gatal. Dia mencoba terus tersenyum meski terasa sakit. "Maaf. Hari ini aku benar-benar aneh Luhan-ssi.."

"Jangan memakai ssi! Aku tidak suka"

"Tapi.."

"Aku bilang jangan!" sahut Luhan yang membuat Sehun terkejut.

"Em.. Baiklah kalau begitu Luhan"

Luhan terdiam. Dia berwajah muram seketika. Matanya menatap kebawah membuat Sehun tidak bisa melepaskan mata pada Luhan meski hatinya hancur lebur.

"Kau jangan per—"

"Selamat atas pertunanganmu Luhan" ucapan Sehun membuat Luhan mengangkat bola matanya.

"Aku tidak tahu kau akan menikah secepat ini. Aku yakin pria itu pasti sangatlah hebat hehe" kekeh Sehun terlihat bodoh dan Luhan tidak menjawab.

Terjadi keheningan berkepanjangan diantara mereka. Luhan maupun Sehun terdiam dengan pikiran masing-masing. Sulit untuk mengungkapkan kata-kata yang tepat. Tapi Sehun merasa ingin lenyap dari hadapan Luhan sekarang juga. Hatinya merasa berkali-kali lipat sakit saat melihat cincin yang berada dijari manis Luhan.

"Sehun, kau..."

"Aku harap kau bahagia Luhan" papar Sehun dengan senyuman manisnya.

Luhan terkejut. Matanya memandang wajah Sehun kembali. Sebuah hentakan keras telak mengenai dadanya. Nafasnya seolah tercekat dan tubuhnya bergetar. Persendiannya ngilu dan tangannya membeku.

"Kembalilah kepesta. Tunanganmu pasti sudah menunggumu disana. Kau bisa kedinginan diluar sini" Sehun berdiri dari tempatnya lalu hendak berjalan pergi.

Luhan buru-buru membalikkan badannya dan mencengkram tangan Sehun. Kepalanya menunduk dalam sambil menggenggam tangan Sehun dan membawanya pada pipi Luhan. Sehun sedikit terkejut ketikak merasakan tangannya basah.

Luhan menangis?

"Jangan pergi" isaknya kecil namun tidak terdengar oleh Sehun.

"Luhan..."

"Kumohon jangan pergi Sehun-ah" Luhan berseru sambil mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh airmata. Sehun terkejut dan segera mendekat pada Luhan lalu menyeka bulir bening tersebut.

"Lu..."

"Aku... Aku menyukaimu Sehun-ah. Jadi kumohon jangan pergi meninggalkanku.." lirih Luhan lalu memejamkan matanya.

Sehun masih berdiri pada tempatnya. Dia benar-benar keterlaluan telah membuat pria cantik yang disukainya menangis. Ingin rasanya dia mengutuk dirinya sendiri melihat Luhan yang rapuh.

"Maafkan aku... Aku tidak mengatakan padamu bahwa aku bertunangan malam ini" isak Luhan dan Sehun mengangguk. Mendekatkan wajahnya.

"Tidak apa-apa. Kau berhak bahagia Luhan. Pria itu sangat cocok untukmu"

Kepala Luhan menggeleng cepat. "Aku... terpaksa. Maafkan aku" Luhan akhirnya jujur mengingat dadanya terasa semakin sesak setiap dia membayangkan nasibnya. Namun ini semua demi kebaikan orang-orang yang dia cintai juga. Sampai harus mengorbankan perasaannya berkepanjangan.

"Maksudmu apa?" tanya Sehun sambil mengusap pipi Luhan.

"Aku bertunangan dengan Minseok-ssi untuk melindungi Chanyeol dan Baekhyun. Aku minta maaf..." ungkap Luhan membuat Sehun terkejut.

"Aku... tidak bisa mencintai Minseok. Aku sudah berusaha. Tapi—"

Sehun langsung menarik Luhan kedalam pelukannya. Luhan menangis kembali. Kali ini lebih dari sebelumnya. Dia juga mengeratkan rengkuhannya dileher Sehun dan Sehun pun melakukan hal yang sama.

"Aku juga menyukaimu. Aku menyayangimu. Tidak. Aku pikir aku mencintaimu Luhan. Maafkan aku yang pengecut selama ini Luhan. Maaf aku tidak bisa melindungimu. Maafkan aku.." papar Sehun lalu menatap wajah Luhan.

Luhan tersenyum sendu. Baginya mendengar Sehun mengatakan dia mencintai dirinya merupakan hal terbaik pada malam hari ini dibanding pertunangannya dengan Minseok. Wajahnya berkali lipat lebih cantik dari sebelumnya. Dia menggelengkan kepalanya dan tanpa aba-aba satu pun. Bibir Sehun sudah mendarat dibibirnya.

Luhan tidak terkejut. Dia justru tersenyum disela-sela ciuman pertamanya dengan Sehun. Memang ini yang selama ini dia harapkan. Ciuman manis dari Oh Sehun. Dirinya balas mencium Sehun dan mempererat rengkuhannya.

Bibirnya bergerak seiring degupan jantung yang berdentum cepat. Lelehan airmata Luhan membuat ciuman mereka semakin dalam. Luhan membuka mulutnya membiarkan Sehun menjelajah lebih dalam. Sehun menekan tengkuk Luhan sementara Luhan mengusak rambut Sehun.

"Aku tidak akan meninggalkanmu Luhan" ucap Sehun disela-sela ciuman mereka.

Sehun mencium bibir manis Luhan kembali. Luhan memejamkan matanya sambil memeluk tubuh tegap Sehun erat. Tangan kanan Luhan mengambil benda yang sedari tadi Sehun pegang.

Luhan memakaikannya dimata Sehun sesaat ciuman mereka terlepas. Pria cantik itu mencium bibir Sehun sekilas dan menyatukan kening mereka. Airmata masih mengalir dipipinya. Membuat Sehun menghilangkan jejak tersebut dengan ibu jarinya.

"Sehun-ah"

Sehun bergumam menanggapi panggilan Luhan. Suaranya sungguh lembut dan memabukkan isi kepala Sehun.

"Jadilah yang pertama untukku malam ini. Miliki diriku sepenuhnya Oh Sehun" ucap Luhan mengawali malam mereka yang belum berakhir.

-Meanwhile-

Baekhyun menundukkan kepalanya. Dia merasa sedih hari ini. mungkin seharusnya dia berbahagia. Namun alasan Luhan lebih memilih Minseok sedikit membuatnya kecewa. Berarti selama ini Luhan memang tidak menyukai sahabatnya? Tapi, melihat dari pandangan mereka berdua semua itu terlihat sangat jelas.

"Baek"

Panggilan Chanyeol membuatnya menoleh.

"Apa?"

"Ssstt" Chanyeol mengarahkan jari telunjuknya pada bibir Baekhyun.

Pria mungil itu tidak sadar bahwa dia sudah berada dilorong rumah Chanyeol dan dihimpitkan. Baekhyun hendak protes mengingat kemesuman Chanyeol yang tidak tahu tempat disaat dia murung. Tetapi tubuhnya terdiam seketika saat melihat Seulgi berjalan sambil mengarahkan pandangannya kesana kemari. Sepertinya dia mencari sesuatu.

"Chanyeol... Seulgi mencarimu" bisik Baekhyun ketika gadis itu memanggil nama kekasihnya. Chanyeol menghela nafas malas. Dia meraih tangan Baekhyun cepat lalu berlari menghindari Seulgi yang telah menemukan Chanyeol.

"Chanyeol!" sahutnya.

Seakan tuli mereka berdua terus saja berlari. Chanyeol berbelok dan lorong rumahnya sudah buntu. Baekhyun sedikit panik bagaimana jika mereka tertangkap Seulgi? Baekhyun sedang ingin menjauh dari yeoja ambisius itu.

"Chan!" bersamaan dengan sahutan Baekhyun tubuh mereka berdua menghilang diantara tembok rahasia yang berputar.

Seulgi tidak menemukan mereka disudut lorong. Dia menghentakkan heelsnya kasar kelantai. Baru saja dia ingin mengambil kembali Chanyeol dengan cara nekat. Mereka sudah menghilang.

"Sial! Awas kau Byun Baekhyun!"

Sementara itu Baekhyun membuka matanya. Chanyeol tertawa melihat reaksi panik Baekhyun lalu menuntun tangannya berjalan mendekati pintu rahasia. Seketika pintu yang menghubungan ruang rahasia tersebut terbuka dan menampilkan kamar mewah bernuansa biru elegan.

"Kenapa kau diam saja? Ayo kemari" ajak Chanyeol lalu Baekhyun berjalan cepat mengekorinya.

"Aku hampir saja mati ketakutan karena berpikir kita akan tertangkap Seulgi"

"Itu tidak akan terjadi. Well, dia memang sudah sering kemari dulu. Tapi dia tidak tahu soal tembok rahasia yang langsung terhubung dengan kamarku ini"

"Apa?! Ja-jadi ini kamarmu?" panik Baekhyun bersemu merah.

Chanyeol tersenyum jahil dan mulai mendekat. "Tentu. Kenapa kau jadi gugup begini?"

"A-ani! Aku tidak gugup! Hanya—" Baekhyun terdiam sejenak. Chanyeol mengikuti arah pandang kekasihnya saat Baekhyun berjalan menjauhinya.

"Huwaaaa! Pemandangannya hebat! Astaga aku tidak tahu kamarmu setinggi ini, Yeol! Dari sini kita bisa melihat kota! Sangat indah! Lihat-lihat mungkin saja itu rumahku!" girang Baekhyun memperhatikan pemandangan dari balkon kamar Chanyeol.

Pria jangkung itu terkekeh melihat wajah Baekhyun yang sangat antusias. Pria mungil itu terus berkomentar betapa asyiknya setiap hari jika bisa duduk santai disini menikmati lampu-lampu malam kota Seoul. Dan betapa beruntungnya sang kekasih bisa tinggal didaerah yang pemandangannya menyenangkan.

Chanyeol melangkahkan kakinya kedalam kamar selagi Baekhyun sibuk sendiri. Pria manis itu menutup mata merasakan terpaan angin malam yang sejuk. Baekhyun memang tidak suka udara dingin. Tapi sepertinya ini pengecualian karena tidak berapa lama tangan kekar itu memeluknya erat.

Baekhyun tersenyum masih dengan mata terpejam. Dia tidak menyadari Chanyeol sedang melakukan sesuatu dengan tangan kirinya. Dirinya merasa risih saat Chanyeol mengecupi samping kepalanya.

"Yeol apa yang—" ucapan Baekhyun terhenti seketika tangan kirinya memandang sebuah benda berwarna perak pekat melekat pada jari manisnya.

"Yeol ini!"

"Happy Anniversary 4th month Baeby Byun" ujar Chanyeol dengan suara berat.

"And please marry me Baekhyun" tambah Chanyeol sambil menatap wajah Baekhyun.

Pria mungil itu membulatkan matanya. Dia tercengang. Sebutir airmata lolos begitu saja dari pipinya. Hatinya bergemuruh tidak kenal lelah dan rasa bahagia menguap begitu saja melalui nafasnya.

"Kau... Melamarku?" terka Baekhyun masih tidak percaya.

Chanyeol mencium pipi chubby Baekhyun lembut.

"Tentu saja. apalagi yang bisa aku lakukan?"

"Tapi Sehun dan Luhan—"

Tanpa aba-aba Chanyeol segera memeluk tubuh Baekhyun erat. "Aku tidak ingin seperti mereka. Jujur aku mungkin egois saat ini. tapi sungguh aku tidak ingin kehilangan dirimu. Aku juga tidak akan membiarkan mereka berpisah. Percayalah pasti ada suatu alasan dibalik tindakan Luhan yang tidak aku ketahui" jelas Chanyeol dan Baekhyun mengangguk.

"Aku mau... Aku mencintaimu Yeol" isak Baekhyun lalu memeluk Chanyeol sambil tersenyum.

"Aku lebih mencintaimu Byun Baekhyun" balas Tuan Park lalu mencium Baekhyun sampai akhirnya mereka berakhir diranjang Chanyeol malam itu.

Dari arah luar pintu kamar Ketua Park terilhat sosok gadis cantik berdiri sambil melipat tangan didada. Jantungnya tertusuk ribuan jarum mendengar suara-suara desahan Baekhyun maupun Chanyeol. Tanpa sadar satu tetes airmata jatuh membasahi pipinya. Matanya memanas menatap sendu kebawah dalam diam. Dia sudah tidak segan-segan akan memulai segalanya. Chanyeol harus menjadi miliknya.

"Nikmati malam terakhirmu bersamanya Baekhyun" ucapnya lalu berjalan dengan penuh rasa sakit.

.

.

.

.

.

TBC

Review kalian bikin sehyun semangat loh. Jadi jangan sungkan isi kotak saran kalo perlu isi masukan/komentar sekalian. Itung-itung buat kado ultah Sehyun tanggal 14 wkwk :v /abaikan/ga nyambung/

Oya! Happy Birthday Maknae EXO yang makin ganteng makin sexy sebootynya makin ngeselin dah! Jangan lupa sama Luhan yaa! I know he love you so much Hunnie! TvT Love You!

Yehet!

See you guys in next chap! ^^