Annyeong! Nihao!

Sehyun Back!

First

BIG THANKS FOR 2K REVIEWS!

I LOVE YOU GUYS SO MUCH!

:* :* :*{} {} {}

/heart sign with appa's yeol and umma's baek/

NO BASH for others Chara!

NO PLAGIAT ya!

This is just Fanfiction. Sehyun hanya minjem Characternya selanjutnya semuanya milik orang tua masing-masing juga Tuhan YME!

YAOI! DLDR!

We Are One in Our Real EXO L Heart!

Enjoy!

.

.

.

.

.

-BaekYeol Area-


22.00 p.m KST

Chanyeol berlari keluar apartemen Seulgi. Mata Chanyeol masih berkilat marah. Wajahnya sangat tidak menyenangkan. Tapi Chanyeol berusaha menyembunyikannya. Kakinya melangkah lebar-lebar menuju sebuah mobil. Didalam mobil Luhan bersembunyi bersama Sehun.

Luhan keluar dari mobil yang cukup jauh dari apartemen Seulgi. Mereka sengaja memarkirnya di ujung jalan supaya Seulgi tidak memperhatikan. Luhan dan Sehun bagaikan mata-mata dadakan saat ini.

"Kau tidak membunuhnya kan?" tanya Luhan cemas mengetahui Chanyeol mengusap dahinya frustasi.

Chanyeol menggeleng dengan ekspresi dingin sementara Luhan tersenyum lega.

"Tenang saja. Sebentar lagi kita akan memiliki bukti bahwa Seulgi pelakunya"

BIIIIPPPP!

Sebuah kotak hitam dengan bulatan bercahaya merah mulai menyala-nyala. Benda itu bergetar seiring kedipan lampu tersebut. Sehun yang memegangnya segera memberikan alat pelacak itu pada Luhan. Senyuman Luhan merekah seketika.

"Chanyeol. Kita berhasil menyadap ponsel Seulgi. Aku tahu dimana Baekhyun berada!" ucap Luhan bersemangat setelah menemukan lokasi orang yang ditelpon Seulgi.

Chanyeol hanya mengangguk acuh. Dia mengambil ponsel dari saku celananya. Jemarinya segera mendial nomor seseorang yang sedang menunggu kabar darinya.

"Leeteuk-ssi. Aku tahu Seulgi punya banyak bawahan diluar sana. Bantu aku menghabisinya satu persatu. Cegah mereka jangan sampai anak buah keparatnya menghalangi jalanku" pinta Chanyeol dengan nada datar.

"…"

"Aku tidak peduli bagaimana nasib para pengawalnya! Yang jelas mereka semua harus tertangkap! Kalau perlu kau mengurung mereka semua diruang bawah tanah agar tidak menggangu!" sahut Chanyeol keras.

Leeteuk menganggukkan kepala sekali tanpa Chanyeol melihatnya. "Saya akan usahakan yang terbaik Tuan. Tapi sekali lagi. Menghabisi sampai membunuh mereka tidak akan saya laksanakan" jelas Leeteuk lalu sambungan telepon terputus.

Chanyeol mendecih kesal. Matanya beralih melihat Luhan sedang menelpon para sahabatnya. Luhan memberi tahu lokasi dimana Baekhyun berada pada Kris, Kai, dan Tao yang juga ikut menemani. Mereka masih mencari Baekhyun dengan cara mengelilingi kota Seoul menggunakan kendaraan pribadi.

Chanyeol segera merampas ponsel Luhan dan mendekatkan pada telinganya. "Kris, Kai, Tao. Katakan pada Chen untuk tidak memakan waktu. Setelah itu temui aku ditempat yang telah diberitahu Luhan. Aku akan kesana sekarang"

"Tunggu! Kau tidak mungkin bisa kesana sendirian kalau mereka bergerombol kau bisa—"

BIIIPP!

Sambungan terputus.

Kai tidak sempat menyelesaikan kata-katanya. Pria berkulit tan itu memukul stir mobilnya keras. Dia amat kesal dengan sikap keras kepala Chanyeol yang seenaknya. Bagaimana jika sahabatnya mati saat menolong Baekhyun?! Bahkan sebelum Baekhyun sempat diselamatkan.

"Sial berandal bodoh itu!" umpat Kai didalam mobil.

"Apa dia akan kesana seorang diri? Dia tidak akan bisa menghadapi mereka semua!" ujar Tao panik.

"Lebih baik kita cepat pergi ke lokasi yang Chanyeol katakan. Semoga Baekhyun masih disana" ucap Kris berusaha tenang. Tao yang duduk dibelakang ikut membenarkan. Kai mengangguk pasti dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.

.

.

.

22.27 p.m KST

Malam semakin menyelimuti ramainya kota Seoul. Hanya saja tempat yang Chanyeol, Luhan, dan Sehun tuju sedikit jauh dari keramaian kota. Sungguh. Seulgi memang benar-benar berniat menjauhkan Baekhyun dari Chanyeol. Daerah disini nyaris sepi tidak terlihat banyak orang berlalu lalang seperti kota Seoul pada umumnya.

Beberapa bangunan kecil bertingkat dua berjajar disekitar jalanan. Klub malam illegal pun berdiri dijalanan bercahaya remang. Wanita-wanita berpakaian minim juga ikut hilir mudik didepan dua sampai tiga pintu masuk gedung. Tempat ini begitu murahan. Tidak terasa seperti kota. Dimana Seulgi bisa menemukan lahan mengelikan seperti ini?

Kotak hitam tadi mengarahkan mereka menuju sebuah gedung tua bertingkat. Bangunan itu terlihat sangat menyeramkan karena seluruh catnya berubah menjadi abu-abu tua. Seperti apartemen kosong tidak pernah terawat. Pria jangkung itu langsung berlari kearah gedung sebelum akhirnya Luhan menarik jaket Chanyeol.

"Lu, apa yang kau lakukan?!" amuk Chanyeol pada Luhan.

Luhan memasang wajah serius sementara Sehun berdiri disebelahnya.

"Jangan gegabah! Kau mau masuk kedalam dan mati lebih dulu?! Itu sama saja kau tidak akan bisa menyelamatkan Baekhyun bodoh!" balas Luhan tidak kalah galak.

Chanyeol membungkam mulutnya.

Otaknya sulit berpikir. Dia tidak punya banyak waktu. Chanyeol tidak peduli apakah dia akan dihabisi oleh anak buah Seulgi atau nyaris mati sebelum dia bertemu dengan Baekhyun. Namun dia tidak bisa mengelak bahwa dia sangat menghawatirkan Baekhyunnya. Dia lebih takut jika Seulgi merencanakan hal yang lebih berbahaya daripada presepsi bodohnya.

"Kita tidak punya banyak waktu Lu. Aku harus menolongnya biarkan aku masuk" lirih Chanyeol menatap lurus kearah bola si mata rusa.

Luhan tetap memegang jaket Chanyeol. Jujur, dia juga ingin cepat-cepat masuk kedalam dan menyelamatkan Baekhyun. Tapi dia sudah berpikir matang-matang. Jika anak buah Seulgi ada disana mereka akan sangat kalah jumlah. Luhan sendiri tahu dia tentu tidak pandai berkelahi.

Tapi Sehun? Entahlah, Luhan tidak yakin.

"Biar aku yang menemani Chanyeol" ucap Sehun memecah keheningan membuat mata Luhan melebar.

"Anii! Kau tidak boleh kedalam Sehun itu terlalu berbahaya!" cegah Luhan dengan panik.

Sehun memegang tangan Luhan lembut dan tersenyum. "Lu, Baekhyun pasti butuh bantuanku juga disana. Aku bisa menolongnya"

"Aniii! Aku tidak mau kehilanganmu Sehun-ah! Lebih baik kita tunggu Kris, Kai, dan Tao tiba! Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kalian berdua! Kumohon mengertilah!" pekik Luhan seraya langsung memeluk tubuh Sehun erat.

Chanyeol terdiam. Dia juga tidak ingin melihat Luhan merasa sedih saat Sehun babak belur nantinya. Maka Chanyeol memberi semacam tatapan kode pada Sehun. Sehun menatap khawatir kearah Chanyeol. Namun Chanyeol bersikeras sampai akhirnya Sehun menganggukkan kepala.

"Tunggu aku tidak akan lama" ucap Chanyeol pelan.

Tiba-tiba saja Chanyeol berlari dengan sangat cepat masuk kedalam gedung. Luhan yang melihat itu berteriak memanggil nama sepupunya. Seolah tuli, Chanyeol tetap berlari semakin jauh ke gedung tua tersebut.

'Baekhyun. Tunggu aku. Tunggu aku sebentar lagi, Baek. Aku pasti akan membawamu pulang pada ibumu' batin Chanyeol sambil terus melangkahkan kakinya cepat menaiki tangga-tangga kecil naik kelantai dua.

Chanyeol berhenti. Dia berpikir sejenak. Tempat ini memang cukup luas meski pencahayaannya terbilang kurang. Dan sialnya Chanyeol tidak tahu dimana lokasi sebenarnya Baekhyun disekap. Dia melupakan alat pelacak milik Luhan. Kenapa disaat seperti ini dia masih begitu idiot?

Chanyeol menghela nafas berat. Seketika pria jangkung itu merapatkan tubuhnya pada tembok ketika melihat ada orang melintas. Matanya melirik sedikit dari balik tembok. Ternyata hanya dua pria lanjut usia yang sedang berjalan santai sambil mengobrol. Kelihatannya gedung ini masih digunakan oleh beberapa orang. Mungkin semacam rumah susun tua yang sudah reot.

Belum lagi udara disini begitu lembab dan dingin. Chanyeol semakin khawatir mengingat yang Baekhyun sangat tidak bisa terkena udara dingin. Suhu tubuhnya bisa turun dan kulit putihnya akan langsung membiru samar. Baekhyun bagai mayat hidup terserang alergi jika terkena udara dingin yang menusuk. Membayangkan hal itu membuat Chanyeol semakin geram.

Kakinya kembali melangkah hanya saja sekarang lebih pelan. Dia harus lebih waspada. Chanyeol berjalan tenang seolah dia pun salah satu penyewa kamar digedung ini. Ketika sudah melewati dua pria itu Chanyeol segera berjalan cepat mencari-cari sosok Baekhyun.

Hampir memakan waktu dua puluh menit sudah Chanyeol berlari mengendap-endap. Sesekali menerobos beberapa kamar seperti orang kesetanan. Chanyeol tidak peduli dia dianggap pemuda yang tidak tahu tata krama oleh para penghuni kamar. Dia hanya ingin menemukan Baekhyun-nya secepat mungkin.

Keringat mulai bercucuran didahi Ketua Park. Ini sudah tangga lantai ketiga yang dia naiki. Ternyata memang tidak mudah seperti yang dia pikirkan. Chanyeol berhenti sebentar menetralkan nafas juga deru jantungnya.

Mata Chanyeol beralih melihat cincin manis yang melingkar dijarinya. Perasaannya bercampur aduk. Hatinya berdenyut nyeri mengingat Baekhyun. Kekasihnya sedang dalam bahaya dan dia tidak ada disana menolongnya. Apapun dapat terjadi jika itu menyangkut Seulgi. Chanyeol tahu betul bagaimana watak keras kepala yeoja itu.

"Baek… Kau dimana?" ucapnya pelan alisnya berkerut menahan gejolak frustasi.

Chanyeol kembali mencari. Langkahnya berhenti tiba-tiba ketika Chanyeol melihat namja tidak asing yang berjalan disalah satu belokan lorong. Chanyeol kembali merapatkan tubuhnya membelakangi tembok. Kepalanya terulur sedikit dan matanya membulat menyadari siapa namja itu.

"Daehyun" bisik Chanyeol.

Chanyeol terus memperhatikan namja ber-eyeliner itu. Sejak insiden dikantin Chanyeol memukul Daehyun pria itu memang tidak pernah terlihat lagi disekolah. Ternyata Daehyun juga suka bermain ditempat kumuh begini, pikir Chanyeol.

Diujung sana Daehyun sedang tertawa bersama tiga namja lainnya sambil menghisap sebatang rokok. Dia menepuk pundak namja-namja itu lalu menyuruhnya pergi. Ponselnya berdering dan Daehyun merogoh saku—mengambilnya.

"Oh, ada apa kau menelponku, Seulgi?" pertanyaan Daehyun membuat mata Chanyeol melebar.

'Seulgi?!' gumam Chanyeol dalam hati.

"Baekhyun? Ya dia sedang bersama kakakku" papar Daehyun sambil memasukkan tangan kedalam sakunya. Suaranya bergema akibat lorong yang sepi.

"Keparat kau Daehyun! Ternyata kau juga terlibat rencana Seulgi!" umpat Chanyeol dengan suara kecil.

"Apa?" suara Daehyun kembali terdengar.

"…"

"Tenang saja Chanyeol tidak akan bisa menemukannya disini" ucapan Daehyun membuat Chanyeol setengah tertawa.

"Kau sudah tertangkap basah brengsek! Dasar berandal bodoh!" bisik Chanyeol diujung lorong yang masih bersembunyi.

"Baekhyun baru saja dibawa pergi lima menit yang lalu. Chanyeol tidak akan bisa menemukannya" tawa Daehyun dan Chanyeol membulatkan matanya lagi.

"DAEHYUN!" teriak Chanyeol geram. Daehyun menoleh dan pria itu terkejut setengah mati.

"A—APA! Ke—kenapa dia bisa disi—"

Belum sempat Daehyun menutup sambungannya pria itu segera berlari kencang. Menyelamatkan nyawanya. Chanyeol tanpa pikir panjang langsung mengejarnya. Daehyun berlari disekitar lorong dan nasibnya benar-benar sial. Terdapat jalanan buntu menantinya. Dia hendak keluar lewat jendela diujung lorong. Namun sayang Chanyeol sudah berdiri dibelakangnya.

Chanyeol menarik kerah belakang kemeja hitam Daehyun lalu melempar tubuh pria itu menjauhi jendela tersebut. Daehyun terhuyung kebelakang nyaris mengambil ancang-ancang kabur kembali. Namun kaki panjang Chanyeol terangkat lalu menendang tubuh Daehyun tepat pada perutnya. Daehyun tersungkur sambil memegangi perutnya. Pria ber-eyeliner itu mulai terbatuk-batuk.

"Katakan padaku dia membawa Baekhyun kemana?" tanya Chanyeol dengan suara bassnya. Nafas terengah-engah. Pandangan terlalu menusuk.

Daehyun tetap diam menahan sakit. Dia menyunggingkan senyum licik membuat Chanyeol semakin ingin mematahkan kakinya. Chanyeol tidak bohong. Dia menginjak kaki Daehyun dan menekannya ketanah dengan sangat keras. Daehyun mengerang kesakitan.

Tuan Park merendahkan punggungnya dan menginjak kaki Daehyun lagi.

"Kutanya sekali lagi. DIMANA KALIAN MEMBAWA BAEKHYUN?!" teriak Chanyeol memecah lorong lembab tersebut.

Daehyun hanya bisa merintih. Dia memohon dilepaskan berkali-kali dari siksaan Chanyeol. Mata Chanyeol menggelap seolah kabut nafsu membunuh menyelubungi dirinya.

"Dia akan pergi keluar Seoul!" jerit Daehyun.

Chanyeol berwajah datar kemudian mulai berjongkok. "Dimana lokasinya?"

"Aku tidak tahu!" teriak Daehyun dan Chanyeol semakin malas dengan kebohongan yang sudah jelas diketahui olehnya.

Chanyeol mengambil sesuatu dari saku jaketnya. Mata Daehyun membulat melihat benda yang dikeluarkan Chanyeol. Sekarang dia pantas takut pada pria ini. Pisau lipat itu sudah dimainkan Chanyeol didepan matanya. Kelihatanya pisau itu merupakan trik untuk Daehyun berkata sejujur-jujurnya pada Ketua Park.

"Kau tau kemana benda ini akan menancap kan?" tanya Chanyeol dingin sambil memperhatikan kaki Daehyun yang diinjaknya.

"Tidak! Tunggu! Jangan lakukan itu Chanyeol!" Daehyun terlihat ketakutan dan berusaha meronta. Namun Chanyeol lebih kuat dan tanpa mendengar permohonan Daehyun yang kedua. Ketua Park tetap melakukannya.

Dia menggoreskan pisau itu kearah kaki Daehyun. Jeans Daehyun sudah robek hingga darah yang di nanti mengalir keluar. Pria itu berteriak. Kakinya seolah membeku. Nafasnya tidak beraturan merasakan kebas didaerah kakinya. Daehyun berusaha menahan tangan Chanyeol untuk tidak berbuat lebih jauh.

"BAIKLAH! KAKAKKU AKAN MEMBAWA BAEKHYUN KELUAR SEOUL! MEREKA SEDANG BERSIAP PERGI KE BUSAN! TOLONG JANGAN MEMBUNUHKU LAGI CHANYEOL!" pinta Daehyun terlihat begitu menyedihkan.

Chanyeol berdiri. Dia memasukkan pisau lipatnya sambil tersenyum puas. Pandangannya teralihkan ketika deru mobil terdengar dari arah luar. Chanyeol terkejut. Dipekarangan belakang dia melihat seorang namja mungil menggunakan selimut coklat yang menutupi seluruh tubuhnya. Baekhyun dibopong oleh salah satu pria berbadan tegap hendak masuk kedalam mobil.

"BAEKHYUN!" teriak Chanyeol dan pria bermasker hitam itu menoleh.

Chanyeol menatap tajam namja itu dari atas. Yongguk tersenyum licik dari balik maskernya. Dia melihat Chanyeol memecahkan kaca jendela dengan kakinya lalu tanpa pikir panjang langsung melompat turun dari lantai tiga.

Tubuh Chanyeol terjatuh dengan tidak stabil. Kaki Chanyeol terkilir dan dia tiba-tiba sulit berdiri. Tentu saja. Dia baru saja melompat dari lantai tiga apa itu tidak terlalu menyeramkan? Beruntung dibawah Chanyeol terdapat kardus-kardus bekas namun permukaan tanah tetap menyentuh tubuhnya.

"BAEKHYUN-AH!"

Panggil Chanyeol lagi. Mobil mulai berjalan pelan. Chanyeol semakin panik. Tidak! Dia baru saja berhasil menemukan Baekhyun-nya dalam kurun waktu enam jam. Chanyeol tidak ingin kehilangan Baekhyun lagi!

Chanyeol berusaha berdiri dan mengejar mobil tersebut. Melupakan fakta bahwa dia telah berjalan terseok-seok seperti manusia lumpuh. Pria itu meringis sakit. Namun perasaan untuk menolong kekasihnya jauh lebih besar.

Chanyeol tetap berlari seperti orang tolol.

Tangannya menggapai udara kosong. Seolah sampai pada mobil yang telah melaju meninggalkanya. Alisnya berkerut ketika rasa nyeri mulai menjalar dipersendian kakinya.

Persetan dengan kaki yang terluka! Chanyeol sudah menemukan Baekhyun dan dia harus tetap menyelamatkannya!

"BAEKHYUN!"

Ketua Park masih saja berlari sekuat tenaga mengejar mobil berwarna hitam sambil memanggil nama Baekhyun. Nasib malang menyerbu dirinya lagi. Kakinya tersandung sebuah jalanan tidak rata dan Chanyeol kembali terjatuh. Melihat mobil melaju semakin jauh Chanyeol mengerang sambil memukul-mukul tanah dengan keras.

Tidak!

Baekhyun sudah semakin jauh darinya..

"BRENGSEK! BAEKHYUN! BYUN BAEKHYUN!" teriak Chanyeol penuh amarah.

Pria itu berusaha berdiri tapi pergelangan kakinya benar-benar tidak bisa diajak kompromi.

"BAEKHYUN-AAAHHHH!"

Teriakan Chanyeol sangat keras bahkan terdengar sampai kedalam mobil yang sudah berjarak begitu jauh.

Sementara didalam mobil Baekhyun membuka matanya perlahan. Bekas airmata kering membuat matanya terlalu berat untuk berkedip. Hatinya merasa sakit mendengar suara Chanyeol berteriak-teriak sedari tadi memanggil namanya. Baekhyun juga sangat ingin balas menyahut.

Namun dia tidak bisa..

Baekhyun kembali memejamkan mata mengingat-ingat suara baritone kekasihnya. Seluruh tubuhnya lemas dan dia tidak bisa bergerak. Yongguk tersenyum licik sambil memandang kedepan. Dia mengelus surai krem Baekhyun yang tertidur dipahanya.

"Maaf Baek. Seulgi menyuruhku untuk menghabisimu. Tapi aku tidak sanggup. Aku terlalu mencintaimu. Maka aku yang akan menyelamatkanmu. Kita bisa bersama selamanya sekarang" bisik Yongguk lalu mengecup samping kepala Baekhyun.

Tatapan Baekhyun kosong. Sebutir cairan bening lolos dari matanya. Mendengar ucapan Yongguk, Baekhyun merasa sangat sedih. Dia sungguh lemah karena tidak bisa berbuat apapun.

'Chanyeol…' batinnya membalas panggilan kekasihnya yang sudah tak terdengar lagi.

Disisi lain Chanyeol masih berusaha berdiri sambil menopang tubuhnya pada lutut. Nafas Chanyeol terengah-engah sambil sesekali meringis. Kepalanya terasa pusing akibat luapan amarah tidak terbendung didalam dirinya. Tubuh Chanyeol hendak terjatuh kembali namun sebuah tangan dengan sigap menopangnya.

"Sehun" lirih Chanyeol setengah terkejut.

Sehun tersenyum sambil melingkarkan tangan Chanyeol dipundaknya. Luhan datang bersama mobilnya dibelakang. Tidak lama kemudian Kai juga memarkir asal mobilnya disebelah mobil Luhan.

"Sial! Apakah kita terlambat?!" tanya Kai setelah keluar dari mobil bersama Kris dan Tao.

Chanyeol hanya diam. Alisnya berkerut dalam dan matanya semakin menggelap. Dia benar-benar ingin menghabisi pria bermasker yang telah membawa Baekhyun pergi tadi. Jika luka dikakinya tidak terasa dia pasti sudah berlari kencang dan memecahkan kaca mobil hitam itu lalu membunuh si penculik.

"Kau terluka Chanyeol?" Luhan bertanya sambil memeriksa tubuh Chanyeol.

"Kakiku terkilir" jawabnya singkat.

"Apa anak buah Seulgi menghabisimu?" cemas Luhan dan tiba-tiba saja Chanyeol membalikkan badan pada Kai, Tao, dan Kris yang berdiri disebelahnya.

"Si Keparat Daehyun ikut membantu Seulgi menjalankan rencana busuknya" papar Chanyeol dan mata para penguasa sekolah juga Sehun dan Tao melebar.

"Yang benar saja?!" kaget Kai.

"Siapa Daehyun?" tanya Tao.

"Dia salah satu murid disekolah kami. Tapi sudah beberapa bulan dia tidak muncul. Ternyata dia juga salah satu teman Seulgi" papar Kris dan Tao mengangguk.

"Jadi, Seulgi tidak mengerahkan anak buahnya. Melainkan meminta bantuan Daehyun beserta kelompoknya" ungkap Luhan menyimpulkan.

Chanyeol mengangguk.

"Kemungkinan besar begitu. Aku tahu pasti Seulgi tidak bisa melakukan semuanya seorang diri. Sepertinya Chen sudah tidak sudi membantu psikopat itu lagi. Sekarang aku paham mengapa pertama dia mengincar klub malam Baekhyun" jelas Chanyeol.

"Mengapa?" Kai bertanya.

"Kurasa itu hanya alibi. Ingat Chanyeol menyuruh Chen untuk pergi ke perusahaan yang telah membeli klub malam itu juga em.. Baekhyun" Luhan sulit meneruskan penjelasannya melihat mata Chanyeol kembali menajam.

"Yang kutahu dulu Baekhyun adalah orang yang memiliki harta lebih seperti kalian semua. Hanya saja… Ayah Baekhyun berselingkuh dan Baekhyun serta ibunya pergi meninggalkan rumah tanpa berbekal apapun. Maka dari itu Baekhyun tidak mempunyai apa-apa selain klub malam yang sekarang telah dimiliki orang lain" jelas Sehun lalu membantu Chanyeol duduk dikap mobil selagi Luhan memperban kaki sepupunya.

"Pantas Seulgi mengincar klub malam itu. Dia kelihatannya sangat ingin membuat Baekhyun sengsara" komentar Kai sambil bersedekap.

"Mengapa Seulgi bisa sejahat itu pada Baekhyun?" heran Tao dan Kai hanya mengangkat bahunya.

"Entahlah. Mungkin dia iri pada Baekhyun hyung"

"Lalu apa kau mengetahui sekarang Baekhyun pergi kemana?" Kris bertanya sambil mengecek ponselnya.

"Bukankah pelacaknya masih berfungsi? Kita bisa mencari tahu keberadaan Baekhyun lewat orang yang ditelpon Seulgi tadi" Luhan memberitahu dan Sehun menggelengkan kepala.

"Orang itu sepertinya sudah sadar nomernya telah disadap. Sinyalnya tidak terlacak lagi"

Luhan mendesah kecewa mendengarnya.

"Baekhyun dibawa ke Busan" ucap Chanyeol sambil memandang lurus kedepan. Tiba-tiba saja Chanyeol berdiri dan masuk kedalam mobil.

"Chanyeol kakimu!" Luhan memperingati.

"Biar aku yang menyetir" ucap Kris lalu mengambil alih kemudi.

Para penguasa sekolah juga Sehun dan Tao segera masuk kemobil masing-masing. Chanyeol bersama Kris sedangkan Luhan, Kai, Tao dan Sehun berada dalam satu mobil. Kris segera melajukan mobil sementara Chanyeol duduk diam disebelahnya. Kris tahu Chanyeol sangat marah saat ini. Namun ada satu hal yang membuat Kris terkejut.

Chanyeol menangis.

Pria beringas itu mulai terisak layak anak kecil meskipun dia hanya diam.

"Arrghhh!" teriaknya sambil memukul kaca mobil.

Kris membungkam mulutnya. Dia tersenyum. Chanyeol memang seorang bocah bodoh baginya. Kris tahu seberapa besar Baekhyun bagi Chanyeol. Pria garang ini meski terkenal menyeramkan namun dia benar-benar memiliki hati yang tulus. Chanyeol tidak berbohong saat dia berkata bahwa dia mengkhawatirkan Baekhyun.

Chanyeol menundukkan kepala sambil menangis menutup mata pada dashbor mobil. Kris mengusap pundak adiknya perlahan. Mencoba memberikan kekuatan padanya.

"Kita pasti akan menyelamatkan Baekhyun. Chanyeol-ah. Jangan putus asa dahulu. Kalau perlu semalaman ini kita berkeliling Busan untuk mencarinya. Aku akan membantumu" ujar Kris.

Chanyeol berhenti terisak. Dia menganggukkan kepala sekali masih menunduk pada dashbor mobil membuat Kris tertawa kecil.

"Ternyata memang Baekhyun yang hanya bisa membuatmu terlihat se-menyedihkan ini Chanyeol-ah" candanya.

Tidak berapa lama ponsel Chanyeol bergetar. Chanyeol merogoh saku jaketnya sambil mengusap lelehan airmatanya. Kepalanya masih terbentur ke-dashbor. Chanyeol mengangkat telpon dari Chen.

"Bicaralah" titahnya kembali bersuara seolah dia tidak menangis sama sekali.

"Kau tidak akan percaya ini. Apa kau tau perusahaan yang mengambil alih klub malam yang dijual Tuan Byun, Chanyeol-ah?" sahut Chen dari sebrang sana.

"Tidak. Apa kau sudah memberi mereka uang yang kusuruh?!" tanya Chanyeol dengan nada marah.

"Tentu saja. Mereka awalnya menolak dan aku memaksa keras. Ternyata perusahaan yang dihutangkan oleh Tuan Byun adalah perusahaan milik keluarga Bang!" sahut Chen dan Chanyeol mengerutkan alisnya.

"Lalu? Apakah susah menghancurkan perusahaan picisan itu?"

"Tidak! Dengar! Keluarga Bang mempunyai anak dan itu adalah Yongguk. Mantan anak SM SHS yang dikeluarkan karena kau berkelahi dengannya sampai kau nyaris terbunuh! Tidakkah kau ingat? Dia musuh besar kita!" nada suara Chen semakin menjadi-jadi.

Chanyeol terkejut.

"Bang… Yongguk?! Yongguk! Bajingan!" desis Chanyeol dengan mata berkilat.

"Kau sedang dimana? Apa kau sudah menemukan Baekhyun?"

Tidak ada jawaban yang terdengar hanya Chanyeol menggeram kecil, "Busan"

"Apa?! Yongguk pasti membawa Baekhyun kerumahnya. Keluarga mereka memiliki mansion mewah disana"

Mata Chanyeol membulat setelah mendengar ucapan Chen.

"Beritahu alamatnya sekarang juga!"

"Sial! Aku tidak mengetahui alamat jelasnya. Mengapa kau tidak mengatakannya lebih dahulu tadi merepotkan saja!"

"Diam kau keparat beri aku alamatnya sekarang juga!" bentak Chanyeol dan Kris menoleh.

"Ada apa sebenarnya dengan Chen? Kenapa kalian malah bertengkar?" tanya Kris namun Chanyeol acuh.

"Kau pikir semudah itu? Kau lupa?! Perusahaan keluargamu akan bersaing dengan perusahaan Bang jika kita gegabah! Kau harus ingat keluargamu menjalin kerja sama dengan mereka. Dan soal anak buah Seulgi baru saja dibereskan oleh butlermu! Aku bersamanya sekarang. Mau tidak mau aku harus menerobos kembali markas Bang dan bertanya sedikit kasar. Kau harus tahu sekarang mereka benar-benar berlagak seolah mereka mafia berkelas"

"AKU TIDAK PEDULI! PERSETAN DENGAN HAL KERJA SAMA! HANCURKAN SAJA KAKI MEREKA SEMUA, SEKARANG!" titah Chanyeol dan Chen mendesah.

"Baiklah. Beri aku waktu lima menit. Alamatnya akan langsung kukirim padamu" jawab Chen santai.

Sambungan mereka terputus. Chen mengembuskan nafas dengan kepulan uap hangat keluar dari mulutnya. Udara semakin dingin dan malam semakin menantang dirinya.

"Kurasa ini salah satu balasan maafku karena dulu pernah membantu Seulgi menyeretmu untuk menjadi straight sepertiku. Nyatanya upaya bodoh itu tidak berhasil. Lagipula cintamu itu terlalu besar pada Baekhyun. Aku tidak berani menghalangimu lagi, Yeol" ujar Chen bermonolog. Lalu mengajak Leeteuk kembali masuk kedalam gedung perusahaan Bang dan memulai aksinya.

.

.

.

02.10 a.m KST

BRAKKKK!

Pintu mansion mewah didaerah Busan didobrak keras dari luar oleh kelima namja tampan.

Orang-orang yang berada didalam terkejut dan suasana seketika mencekam. Pria jangkung bermarga Park berjalan masuk kelewat santai sementara para sahabatnya mengikuti dari belakang.

"Yak! Mau apa kalian?!" gertak seorang namja didalam yang sedang berkerumun bersama beberapa yeoja malam.

"Ternyata sedang ada pesta kecil-kecilan disini. Kenapa kau tidak mengundang kami?" tawa Kai sambil memainkan tongkat baseball-nya.

"Kalian! Para namja pentolan di SM SHS!?" salah satu namja bertindik menyahut.

"Ah~ Ternyata berandal ingusan macam kalian mengenal kami juga. Kami sangat tersanjung" senyum Kai sementara Chanyeol berjalan mendekat lebih dulu.

"Dimana Byun Baekhyun?" tanya Chanyeol sedingin es namun tatapannya mematikan.

Namja bertindik tadi hanya tertawa mengejek diikuti teman-temannya.

"Ah! Hahahaha sepertinya Park Chanyeol si Ketua Penguasa SM SHS yang terkenal menyeramkan. Sama sekali tidak bisa apa-apa ketika kekasih mungilmu sudah disekap kami. Dia mungkin sudah mati sekarang" ejek Youngjae dan Chanyeol segera melayangkan tinjunya dengan sangat keras.

BRUKK!

Youngjae terjatuh dengan pipi berlebam sementara Chanyeol mendecih kearahnya.

"Jangan asal bicara kau sampah! Kelompok kalian bukanlah apa-apa. Kemari hadapi kami seperti perkelahian dulu" tantang Chanyeol dan pria bernama Himchan maju sambil melayangkan stik yang sudah dipegangnya.

Chanyeol menghindar dan Kai segera memukul Himchan tepat diperutnya.

BUK!

Himchan tersungkur.

Chanyeol berdiri tegap kembali mengamati para pasukan Bang yang tumbang satu persatu.

"Siapa lagi?" suara baritone itu membuat bulu kuduk kelompok Bang berdiri. Tatapan tajam mata Chanyeol mengintimidasi namja-namja disana. Namun beberapa dari mereka tidak bergeming.

Saat seorang namja bertopi hendak maju Kai lebih dulu memblokir pergerakan Chanyeol dan menghajar namja tersebut. Peluh mulai terlihat di dahi Kai. Namja berkulit tan itu tersenyum kearah Chanyeol sampai akhirnya Kris dan Tao mulai ikut maju melawan beberapa dari mereka.

"Chanyeol serahkan saja masalah disini padaku, Kris, Tao, dan Sehun. Kami bisa menahan mereka" ujar Kai sambil menepuk pundak Chanyeol.

Sehun yang tidak Chanyeol sangka bisa berkelahi pun mulai gesit mengelak tendangan salah satu lawannya. Chanyeol terperangah. Dia tidak sendirian. Teman-temannya begitu peduli bersedia untuk membantunya.

Chanyeol balas tersenyum pada Kai sambil mengangguk.

"Jangan sampai mati" pinta Chanyeol serius dan Kai tergelak.

"Tidak akan bodoh!" ucapnya lalu mulai bergabung memukuli namja-namja itu.

Chanyeol segera melangkahkan kakinya berlari menaiki tangga. Dia mempunyai insting kuat bahwa Baekhyun pasti disekap dikamar utama. Maka dia berlari tanpa merasakan kaki yang sejak tadi telah terkilir. Masa bodoh dengan kaki, Chanyeol masih terus mencari sebuah ruangan besar. Belum lama dia berlari seseorang membawa botol bir hendak memukulnya. Chanyeol menghindar kekiri dan berbalik badan lalu menendang punggung namja itu hingga dia terjatuh.

Tiga orang namja menghampirinya. Chanyeol kembali mengelak sesekali melayangkan pukulannya. Tidak lupa menghindar dengan gesit.

Dia sungguh marah sekarang dan begitu banyak orang yang ingin dibunuhnya. Tapi dia ingat itu hanya akan membuang-buang waktunya untuk menyelamatkan Baekhyun. Kedua pria itu tanpa sungkan dia pukuli kemudian dia lempar kearah jendela hingga kepala salah satunya terkena serpihan kaca yang pecah.

Chanyeol mendobrak beberapa kamar mewah. Nihil. Baekhyun tidak ada disana.

"BAEKHYUN-AH!" teriak Chanyeol.

Beberapa namja lain datang hendak menghabisinya. Namun mereka kalah cepat. Chanyeol menendang perut mereka juga melayangkan tinjunya mengenai bagian-bagian yang membuat mereka lumpuh seketika. Salah satu namja memukul Chanyeol tepat pada pipi Chanyeol dan memukulnya menggunakan stik baseball kearah perut Chanyeol.

Pria jangkung itu sempat tersungkur. Tapi Chanyeol langsung berdiri dan menyengkat kaki namja yang memukulnya hingga jatuh. Chanyeol menginjak pergelangan kakinya cukup keras lalu mematahkan tangan seseorang yang memukulnya tadi.

Pria jangkung itu kembali berlari. Mengarahkan kakinya pada pintu besar disana. Entah mengapa pintu itu sudah berhasil menarik perhatiannya. Chanyeol yakin Baekhyun ada disana.

BRAKK!

"BAEKHYUN?!" sahutnya kencang.

Kamar ini begitu luas dan banyak perabotan mewah. Hal pertama yang Chanyeol lihat adalah sesosok namja mungil dengan surai hitam yang tertutup oleh selimut putih besar. Chanyeol sangat yakin itu pasti Baekhyun.

Kakinya terburu-buru melangkah masuk melupakan fakta bahwa dia harus waspada sedari tadi. Sebuah bayangan dari belakang hendak melayangkan sebuah tongkat kayu. Ketua Park tidak sadar. Maka kepalanya terpukul oleh stik tersebut dengan begitu keras.

Chanyeol terjatuh kelantai. Samping kepala Chanyeol terluka hingga darah segar mulai mengalir disana. Tubuhnya gemetar dan dia sulit berdiri. Chanyeol membuka mata berusaha untuk tetap fokus. Namun pandangannya memburam.

"Akhh…" rintihnya memegangi kepalanya.

Chanyeol membalikkan badan dan dia bisa melihat siapa manusia keparat yang telah memukulnya. Pria tegap itu menyunggingkan senyum sambil membersihkan tongkatnya dengan angkuh.

"Apakah kau tidak mempunyai tata krama memasuki kamar orang Park Chanyeol?" tanya Yongguk santai.

"Yong…guk!" seru Chanyeol terbata-bata dikala kepalanya semakin pusing.

"BANGUN KAU MAKHLUK LEMAH!" bentak Yongguk lalu menendang tubuh Chanyeol keras.

BUK!

"Akh!"

Chanyeol meringis. Yongguk kembali memukuli tubuh Chanyeol dengan tongkat panjang yang dipegangnya. Pria bermarga Bang itu berhenti ketika badan Chanyeol sudah memerah dominan biru diseluruh badannya. Tubuh jangkung Chanyeol berguling merasakan nyeri yang mulai menjalar cepat.

"Akkhh….nghhh…" rintih Chanyeol kembali menahan rasa sakit.

"Haha lihat! Kau sungguh menyedihkan Park Chanyeol! Sama seperti setahun yang lalu!" papar Yongguk dengan tawa.

"Bajingan" umpat Chanyeol kecil sudut bibirnya sudah robek.

"Cih, kau masih bisa mengumpat setelah nyaris bertemu ajalmu sekali lagi" Yongguk berdecih dan dia menjatuhkan tongkatnya.

"Sama seperti setahun yang lalu saat kau melawan sepuluh anak buahku sendirian. Kau sangat bodoh maju sendiri tanpa teman-temanmu itu. Kurasa sekarang mereka sedang bersenang-senang dibawah. Berapa yang kau ajak? Empat? Haha mereka semua akan mati"

Chanyeol mengabaikan segala ucapan Yongguk dan berusaha memposisikan dirinya duduk bersandar pada pinggir ranjang. Tubuhnya begitu sakit. Yongguk benar-benar serius memukuli setiap inci tulangnya.

"Kupikir malam bersalju di taman waktu itu kau sudah mati. Ternyata aku salah" Yongguk menggelengkan kepala tidak percaya sambil bersedekap.

Chanyeol memberikan seulas senyuman mengejek.

"Tentu aku tidak mati. Seseorang menyelamatkanku" ucap Chanyeol memandang remeh Yongguk.

"Aku penasaran siapa orang itu. Hebat sekali dia. Padahal anak buahku sudah berhasil menggores pelipismu dengan pisau dan kurasa kau kehabisan darah. Tapi kau masih saja hidup. Sepertinya manusia yang menolongmu itu harus kubunuh agar tidak menghalangi"

"Jangan berani kau menyentuhnya dengan tangan kotormu itu Yongguk!" geram Chanyeol membuat Yongguk tertawa.

"Aku bahkan tidak akan segan menghabisi nyawanya sekarang jika aku tahu siapa dia"

Chanyeol berhenti mengerang. Nafasnya mulai putus-putus. Kesadarannya terasa semakin melemah akibat pukulan tadi. Yongguk benar-benar serius ingin membunuhnya.

Tentu saja.

Chanyeol dan Yongguk yang sama-sama merupakan salah satu pemimpin kelompok berandal sejak dulu memang tidak pernah akur. Yongguk yang pernah bersekolah di SM SHS bahkan dikeluarkan setelah ketahuan mengeroyok Chanyeol saat itu. Sejak saat itu persaingan mereka tidak pernah berakhir. Ini bukan kedua kalinya mereka saling berusaha menghancurkan satu sama lain.

Yongguk begitu puas melihat Chanyeol semakin melemah. Pria itu menarik jaket Chanyeol yang sudah lusuh. Memaksanya berdiri dengan lututnya.

"Lihat. Lihatlah makhluk mungil itu Park Chanyeol. Dia begitu cantik bukan?" bisik Yongguk dengan senyuman.

Chanyeol terdiam. Gejolak panas kembali terasa disekitar dadanya. Dia menatap Baekhyun yang terbaring lemah tidak berdaya. Matanya sungguh sayu. Wajah Baekhyun terlihat sangat tirus dengan bibir memucat.

Baekhyun seperti orang sakit.

"Aku dengar kalian berdua sekarang adalah sepasang kekasih. Benarkah begitu?"

Chanyeol tidak menjawab. Dia lebih suka memandang Baekhyun yang ikut menatapnya. Yongguk kembali membuka mulut.

"Jika kau mau tahu. Dulu aku adalah kekasih Baekhyun" ucapan Yongguk membuat Chanyeol terbelalak.

'Kekasih?'

"Tapi Baekhyun memutuskan hubungan kami secara sepihak dan melarikan diri dariku. Tidak disangka ternyata sekarang dia berpacaran denganmu. Seorang namja brengsek yang sejak dulu ingin kulenyapkan—Park Chanyeol" desis Yongguk namun Chanyeol tidak bergeming.

"Kenapa? Kau iri? Hah! Baekhyun pantas mencampakkanmu. Kau menjijikan. Sama psikopatnya dengan Seulgi" Chanyeol tertawa renyah seolah itu adalah lelucon paling menarik didunia.

Yongguk marah. Dia lagi-lagi memukul perut Chanyeol cukup keras. Pria jangkung itu menunduk merasakan nyeri. Yongguk menjambak rambut Chanyeol dan memaksanya kembali memaku pengelihatan pada Baekhyun.

"Lihatlah Baekhyun. Dalam kurun waktu enam jam tiga dosis narkoba sudah masuk kedalam tubuhnya. Hahaha dia memang hebat masih bisa bertahan. Seulgi memang benar-benar tidak kenal ampun dalam menyiksa seseorang"

Mata Chanyeol membulat mendengarnya.

Narkoba?

Baekhyun disuntikkan narkoba?!

"BRENGSEK!"

"Dan kau tahu bagian terfavoritnya?" Yongguk tersenyum licik dan mendekatkan bibirnya pada telinga Chanyeol.

"Tubuhnya sangat bagus kau harus tahu itu"

DEG!

Amarah Chanyeol yang sedari tadi tertahan meluap begitu mendengar kalimat Yongguk. Seolah lupa pada memar ditubuh serta kepala yang masih berdarah-darah. Chanyeol segera melepaskan paksa cengkraman Yongguk kasar lalu memukul pipi Yongguk dengan amat keras.

BUK!

"APA YANG BARU SAJA KAU KATAKAN BRENGSEK!?"

Yongguk tersenyum puas dengan darah disudut bibirnya.

"Kau tidak tahu apa saja yang telah kulakukan bersamanya sedari tadikan? Sayang sekali kau lengah Park Chanyeol haha" Yongguk tertawa dan..

BUK!

Satu pukulan lagi mengenai hidung Yongguk. Pria itu terhempas dan belum sempat dia bernafas Chanyeol kembali menghujaninya dengan pukulan secara bertubi-tubi disana sini. Rasa sakit Chanyeol menguap begitu saja. Dia tidak peduli. Ucapan Yongguk membuatnya sungguh sangat marah.

"Kau terlambat!" sahut Yongguk begitu bahagia melihat ekspresi musuh bebuyutannya.

Chanyeol semakin geram. Dia menendang tubuh Yongguk dan kembali memukuli wajahnya. Tangan Chanyeol terluka dan membengkak. Chanyeol tidak bisa berhenti sementara Yongguk sudah hampir kehabisan nafas. Darah Yongguk mulai mengotori tangan Ketua Park.

"Chan…" panggil Baekhyun ketika melihat kekasihnya tidak berhenti memukul Yongguk yang nyaris mati.

Darah mengalir dibawah Yongguk yang sudah banyak memar dan sobek dibeberapa bagian wajahnya. Mata Chanyeol menggelap. Jika tidak ada yang menghentikan amarahnya Chanyeol bisa saja benar-benar akan membunuh pria itu.

"Chanyeol… sudah…"

Suara parau itu masih tidak terdengar. Tiba-tiba Chanyeol mengeluarkan pisau lipat yang dia simpan disaku. Baekhyun terkejut melihatnya.

"Chanyeol… hen..tikan…" lirih Baekhyun lemah.

Chanyeol menghiraukan Baekhyun. Pisau itu sudah diangkat tinggi-tinggi dan hendak diarahkan kejantung Yongguk. Sebelum akhirnya sebuah teriakan menghentikan pergerakan tangannya.

"CHANYEOL!" sahut Baekhyun dengan suara serak.

Chanyeol tersadar. Nafasnya memburu dan dengan cepat dia menoleh kearah ranjang. Baekhyun sudah terduduk lemah sambil menitikan airmata. Bola mata mereka bertemu. Chanyeol kembali terpaku pada wajah Baekhyun. Seolah dirinya telah menemukan kembali alasan hidupnya. Matanya berubah normal dan dia melempar pisau itu.

Chanyeol berdiri dengan cukup kesulitan—hendak menghampiri Baekhyun. Pria mungil itu terlihat sangat pucat dengan bekas memar dipipi juga lehernya. Entah itu bekas pukulan atau tanda dari sikeparat Yongguk yang membuat Chanyeol semakin marah. Namun Chanyeol tidak peduli dia sangat ingin memeluk Baekhyunnya.

"Baek…"

"Chan… A—awas!" jerit Baekhyun dengan panik.

Chanyeol menoleh dan Yongguk sudah mengarahkan pisau lipat itu pada Chanyeol. Chanyeol terkejut dan dia tidak siap. Tanpa berpikir dua kali tangannya sudah menghentikan laju pisau itu. Yongguk terkejut saat melihat Chanyeol memegang pisau yang hendak menikam tubuhnya. Darah segar mulai mengalir disela-sela jari Chanyeol.

Pria itu memincingkan mata mengabaikan rasa nyeri. Dia menatap tajam Yongguk. Manusia rendah dihadapan Ketua Park sungguh membuat emosinya semakin berkalut-kalut.

Chanyeol tetap menahan pisau ditangannya membuat Yongguk kesulitan untuk mencabutnya. Dengan gerakan cepat Chanyeol sudah melayangkan sebuah pukulan menggunakan tangan kanan sampai Yongguk kali ini tersungkur tidak berdaya. Nafasnya masih terengah-engah dan pada akhirnya Chanyeol membuang pisau tersebut keluar jendela.

Semua sudah berakhir.

"Baek" panggil Chanyeol lagi ketika dia menoleh penuh kekawatiran.

Chanyeol segera merangkak menaiki tempat tidur dan menghampiri Baekhyun yang terduduk diujung ranjang. Chanyeol bersumpah hatinya sangat lega melihat Baekhyun dihadapannya sekarang. Dia sangat merindukan kekasihnya. Meski baru beberapa jam berpisah namun Chanyeol tidak kuasa menahan semua itu. Apalagi dengan fakta bahwa nyawa Baekhyun terancam oleh Seulgi.

Sekarang semuanya telah berakhir.

Baekhyun dan dia bisa bersama selamanya tanpa ada gangguan lagi dari siapapun. Perasaan Chanyeol semakin membesar. Hatinya meluapkan emosi kebahagiaan. Dia sangat ingin memeluk tubuh Baekhyun meski pergerakannya masih terseok-seok.

Chanyeol mengulaskan sebuah senyuman.

Tangan Chanyeol terulur hendak menyentuh wajah Baekhyun.

Namun..

PLAK!

Chanyeol terkejut. Matanya melebar tidak percaya. Suasana menjadi sangat hening sementara Baekhyun menundukkan wajahnya dalam-dalam.

Apa yang dilakukan Baekhyun barusan?

Dia…

Menampar jemari Chanyeol yang hendak menyentuhnya?

"B—Baekhyun…"

"Jangan!" ucap Baekhyun dengan nada amat dingin.

Chanyeol semakin terkejut.

Jangan?

Mengapa jangan? Dia tidak mengerti..

Ada apa apa dengan Baekhyunnya?

"Jangan menyentuhku Park Chanyeol"

.

.

.

.

.

TBC

Tenoneng tenoneng~ (?)

Haiii Chinguyaa did you miss meeh? kkkk XD *lemparin bensin*dibakar*

Karna lagi puasa dan mau lebaran sehyun mau minta maaf pada semua readers dan teman-teman sehyun dimana pun kalian berada hehe *sujud* Maaf sehyun emang suka lelet update sehyun nunggu IPK keluar dan Alhamdullilah.. menjulang banget nilainya.

Anyways! XD

*ff ini mau tamat dikit lagi huwaa*T^T

Chap ini bener-bener sesuatu haha sehyun tertawa sendiri bacanya -_- Lagi suka adegan tonjok-tonjokan ya mudah-mudahan feelsnya dapet ya.

Konflik Seulgi dipastikan berakhir disini. Please do not hate her because of my fanfiction ehe. She's nice after all. Dan janji Sehyun ga bohong buat bikin NC kkkk! Ditunggu saja!

Sehyun gabakal bosen ngucapin TERIMA KASIH sebesar-besarnya buat para readers setia BB BY! Yang udah memfav, memfollow, mereview, dan silent readers yang pada tobat moga-moga dapet berkah bias *aamiin* Eonni-eonni kesayangan sehyun juga para readers baru yang udah mau nyempetin bikin akun, yang nungguin, yang nanyain, yang nyemangatin, sama readers-readers baru!

I LOVE YOU ALL SO MUCH! :* :* :* {}{}{}

Sehyun boleh minta reviewnya? Kalau bisa jangan hanya next saja ya pasti ff ini dilanjut kok cuma agak ngaret huehehe. Sehyun bener-bener butuh saran dan komentar dichap ini untuk next ff juga biar bisa lebih baik lagi kedepannya. Xiexie Nimen!

See you in next Chap!

YEHETTTT XD