Annyeong! Nihao!
7K Words! 30+ page! Jangan lupa! Siapkan kresek jikalau readers mabok nantinya huehehe
I LOVE YOU ALL
:*:*:*{}{}{}
NO BASH for others Chara!
NO PLAGIAT YA!
This is just Fanfiction. Sehyun hanya minjem Characternya selanjutnya semuanya milik orang tua masing-masing juga Tuhan YME!
YAOI! DLDR!
We Are One in Our Real EXO L Heart!
Always OT12!
Enjoy!
.
.
.
.
.
-BaekYeol Area-
"Lu, mereka sudah sampai?" tanya Chen yang menelpon Luhan—suaranya terdengar sedikit terengah-engah.
Luhan mengangguk sembari duduk dengan gelisah menunggu mereka didalam mobil. Sebelumnya dia sudah berteriak-teriak kepada kelima temannya untuk diizinkan masuk kedalam. Namun usahanya sangat sia-sia karena pada akhirnya dia harus tinggal sendirian. Chanyeol menyuruh Luhan tetap disini—didalam mobil. Karena jika mereka tidak keluar dalam waktu satu jam berarti Luhan harus memanggil bala bantuan. Entah apakah itu polisi atau butlernya.
"Kau ada dimana Chen?" tanya Luhan sesekali mengetuk-etuk stir mobil dengan gusar.
"Apartemen Seulgi"
DEG!
Luhan membulatkan matanya. "Chen… Kau tidak berpikir untuk—"
"Tidak Lu. Tentu tidak"
Luhan tidak menjawab. Dia sendiri sebenarnya cukup ragu karena Seulgi dan Chen memang berteman baik sejak JHS.
"Aku tahu perbuatannya salah. Maka dari itu aku tidak akan membantunya lagi" papar Chen sambil berdiri menunggu lift yang membawanya kelantai yang dia tuju.
"Hanya saja sekarang perasaanku sangat tidak enak" tambah Chen setelah denting pintu lift menggema dan membiarkan pintu tersebut terbuka.
Luhan masih diam. Pria bermata rusa itu juga bingung apakah Seulgi memang masih pantas dikasihani seperti yang Chen lakukan? Tapi dia merasa Seulgi hanya tersesat dan dibutakan oleh obsesinya sendiri pada Chanyeol.
Luhan lalu menganggukan kepalanya tanpa terlihat Chen.
"Baiklah. Beritahu aku kabarnya jika kau sudah menemuinya, Chen" ujar Luhan lalu sambungan terputus.
"Aku harap kalian semua baik-baik saja…" cemas Luhan sambil memperhatikan mansion itu dari kejauhan.
-Meanwhile-
Entah apa yang ada diotak Chen sampai dia berpikir bahwa Seulgi sekarang dalam kondisi tidak baik-baik saja. Sebetulnya tujuan dia menemui Seulgi terlebih dahulu adalah memperingati yeoja itu agar dia berubah dan meminta maaf pada Baekhyun nanti. Sebelum Chanyeol—yang kemungkinan akan sangat marah besar pada perbuatan jahatnya lalu berniat menghukum Kang Seulgi lebih jauh. Namun sekarang Chen benar-benar tidak mengerti mengapa perasaannya sangat tidak tenang.
"Seulgi-ah. Ini aku Chen" panggilnya sambil memencet tombol intercom disamping pintu apartemen Seulgi.
Chen terdiam. Sudah tiga kali dia mencoba memberitahu Seulgi lewat speaker kecil itu. Kenapa pintu itu tidak kunjung dibuka? Apa yeoja itu marah padanya?
Oh tentu saja. Memang sudah seharusnya Seulgi marah terhadap Chen. Pria yang bisa yeoja itu andalkan telah berkhianat padanya. Chen pun juga tidak akan heran jika nanti Seulgi berniat mengusirnya sesegera. Chen tahu betul semua sifat Seulgi.
Hanya saja sekarang dia membutuhkan sahutan memilukan dari balik pintu ini. Namun sebaliknya. Chen malah mendapati keheningan.
"Seul—" Chen menghentikan ucapannya ketika dia tidak sengaja berinisiatif mendorong pintu apartemen Seulgi sedikit bertenaga.
"Tidak terkunci?" herannya.
Tanpa ragu, pria tirus itu melangkahkan kakinya semakin jauh kedalam. "Seulgi? Ya! Kau ada dirumah? Mengapa kau tidak mengunci pintu, yeoja bodoh!" umpat Chen melihat kearah ruang tamu dan terdiam kaku.
Astaga.
Apartemen mewah ini telah kacau berantakan.
Beberapa perabotan rusak disana sini. Layar televisi mahal pun sudah retak. Meja kaca hancur seperti habis dihantam benda-benda. Begitu banyak pecahan kaca berceceran. Bulu-bulu angsa dari bantal mendominasi lantai apartemen Seulgi. Yang paling membuat Chen terkejut adalah ceceran darah menuju suatu kamar.
Chen mengerutkan alis dalam-dalam. Jangan-jangan ada seseorang yang mencoba merampoknya. Tapi presepsinya menghilang ketika dia melihat foto Chanyeol semasa JHS dilantai yang sudah terobek menjadi beberapa bagian.
Dia tahu Seulgi telah menggila disini.
Chen mencoba mengikuti jejak tetesan darah itu kearah sebuah kamar gelap. Dia sedikit waspada jikalau yeoja itu mengamuk. Nyatanya dugaannya salah lagi. Chen melihat Seulgi dengan mata basah juga pandangan kosong sedang duduk diatas tempat tidurnya. Sebuah pisau telah siap dia arahkan pada nadi kiri gadis cantik itu.
"SEULGI!" teriak Chen panik.
Seulgi mengangkat bola matanya. Wajahnya sungguh kacau.
"Oppa…" lirihnya. Mata kucing itu begitu sayu dan dahinya terdapat goresan panjang entah mengapa.
"Hentikan! Kau gila?! Singkirkan pisau itu!" titah Chen namun Seulgi acuh.
Seulgi tersenyum dengan ekspresi wajah yang terluka. Dia mengoreskan pisau itu tanpa ragu—seolah kulitnya bukan apa-apa. Chen yang melihat itu segera berlari mendekat. Menyambar pisau itu dan membuangnya menjauh.
Pemuda itu lebih terkejut setelah menyadari ternyata luka Seulgi bukan hanya disatu tempat saja. Tetesan darah dilantai tadi ternyata berasal dari tangan kanan Seulgi yang sudah digores terlebih dahulu.
"Mianhae Chanyeol-ah. Jangan membenciku… hiks.." lirih Seulgi mulai merancau.
Chen bergerak gelagapan. Alisnya berkerut dalam dengan debaran jantung yang berdegup kencang. Tanpa pikir panjang dia membopong tubuh Seulgi keluar apartemennya. Sementara mata Seulgi sudah tertutup lemah karena kehabisan darah.
.
.
.
Malam setelah perkelahian besar antara Para Penguasa Sekolah SM SHS dengan Bang Yongguk CS. Mereka semua pada akhirnya dibekuk oleh polisi. Awalnya kelompok Chanyeol sempat ditahan. Namun mereka tidak memiliki bukti bersalah. Melainkan Yongguk CS yang dimintai keterangan lebih lanjut. Kenyataanya pesta kecil—yang dihancurkan tiba-tiba oleh kedatangan para penguasa sekolah, menyelipkan beberapa rokok kecil yang tidak lain adalah narkoba.
Namun nasib Yongguk begitu baik. Dia tidak ditahan karena keluarganya tidak ingin reputasi Yongguk—yang dipilih sebagai penerus keluarga Bang tercemar. Maka Yongguk hanya diasingkan keluar negeri. Begitulah kabar terakhir yang terdengar.
Empat hari pun telah berlalu.
Seorang namja bertubuh tinggi mulai memasuki lorong SM SHS yang sudah begitu ribut dipenuhi oleh kerumunan yeoja yang berbisik-bisik. Pria jangkung itu berjalan acuh sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku. Tidak lama empat sosok namja tampan lain mengikutinya dari belakang.
Gerombolan yeoja itu berteriak melihat kehadiran para penguasa sekolah yang absen selama empat hari ini. Akhirnya lima pria pujaan yang mereka tunggu kembali menghiasi keramaian sekolah. Tidak lupa para siswi tersebut segera mengeluarkan kamera dan ber-fangirl ria pada penampilan Chanyeol CS yang terlihat sangat berbeda.
Tentu saja.
Siapa yang tidak bertanya-tanya melihat kepala Park Chanyeol dibalut sebuah perban putih? Wajah Ketua Park juga samar-samar membiru dengan beberapa band aid menempel dipipinya. Tidak lupa perban putih ditangan kirinya yang sobek akibat menghalau pisau sialan dari Yongguk.
"Lihatlah Ketua Park semakin seksi!" bisik seorang yeoja setengah memekik.
Chanyeol yang mendengar itu hanya diam. Sementara Kai dan Kris tersenyum. Mereka juga tidak jauh berbeda dari Chanyeol. Tangan Kai diperban sementara satu band aid terpasang dikeningnya. Sedangkan Kris, wajah tampannya sedikit memar dengan bekas luka sobek disudut bibirnya. Namun tidak ada luka yang parah.
Lain halnya dengan Chen dan Luhan yang tidak mendapat luka pukul sedikit pun. Tapi dengan kondisi wajah Chanyeol, Kai, dan Kris yang babak belur tidak menyusutkan nilai popularitas mereka. Malah para penguasa sekolah tetap dipuja puji para siswi maupun beberapa siswa disekolah.
"Omo! Kris benar-benar semakin tampan meskipun banyak luka!"
"Kai juga. Senyuman mautnya tidak pernah berubah! Aku semakin menyukainya!"
"Aishh! Chen yang lebih menawan dalam hal tersenyum!"
"Aniiii! Luhan Oppa yang paling manis jika tersenyum!"
Para siswi itu masih terus berdebat tanpa para penguasa sekolah ambil pusing. Chanyeol justru bersikap acuh. Kris pun menyebarkan aura dingin. Sementara Kai dan Chen masih dengan sifat playboy-nya. Lain halnya dengan Luhan yang tetap diam namun sikap ramah tidak lepas dari dirinya.
"Kau yakin sudah bisa keluar rumah, Yeol? Kau baru saja selamat dari ajalmu setelah mendapat empat jahitan" ucap Chen disamping Chanyeol terdengar sedikit menjengkelkan.
Pria berandal itu hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab.
"Biarlah. Kurasa ada yang ingin dia bicarakan dengan seseorang" tambah Kris dan Chen mengangguk.
"Mari temui dia!" sahut Kim Jongdae antusias.
Sementara dari kejauhan para siswa yang sedang berkerumun dilorong juga ikut terkejut. Beberapa dari murid SM SHS memang selalu up to date mengenai berita. Apalagi berita para penguasa sekolah memang sudah terkenal. Jadi wajar jika sebagian dari mereka mengetahui aksi pertengkaran sengit kedua kelompok tersebut.
"Bukankah mereka harusnya diskors karena bertengkar dengan siswa dari SHS lain?" heran salah seorang siswa.
"Ya! Kau lupa?! Dengar-dengar keluarga Park adalah pemilik sekolah ini. Jadi mana mungkin mereka diskors? Lagipula Ketua Park dan Bang Yongguk memang selalu berselisih sejak mereka masuk SM SHS!" komentar para namja yang bersedekap memperhatikan para penguasa sekolah sedang berjalan.
"Aku dengar dari temanku yang menjadi anggota kelompok Bang sebelum akhirnya dia memutuskan keluar. Yongguk—si pemimpin, menculik senior Byun Baekhyun—namja underdog yang sekarang menjadi pacar Ketua Park"
"Hah?! Serius?" namja-namja lain mulai merapat mendengar Yuta berbicara.
Yuta mengangguk. "Katanya mereka disuruh oleh Queen Seulgi untuk menculiknya. Tapi anggota Ketua Park berhasil menghabisi anggota Yongguk terlebih dahulu. Pada akhirnya kemenangan telak didapat oleh pihak Ketua Park"
"Jadi mereka berpenampilan berantakan seperti itu karena mereka habis bertengkar satu sama lain?"
Yuta mengangguk lagi.
"Tunggu! Lalu bagaimana dengan si kutu buku yang juga berwajah memar—"
Namja-namja itu mulai mengalihkan pandangannya pada Sehun yang sedang berdiri menghadap keluar jendela lorong depan kelas. Sehun mendengar semuanya. Termasuk Kyungsoo yang sedari menemaninya.
"Biarkan saja, Hun. Abaikan mereka!" ucap Kyungsoo lalu men-death glare kawanan siswa tersebut hingga mereka menyingkir.
Sehun tersenyum maklum. Pelipisnya mendapat satu band aid dan bagian pipi kirinya masih berwarna biru yang mulai memudar.
Yap.
Seorang Oh Sehun yang terkenal sebagai kutu buku berbeasiswa nyatanya bisa berkelahi dengan lihai. Mereka semua tentu tidak akan menyangka hal itu. Untung saja luka Sehun tidak separah Chanyeol yang mesti mendapat jahitan dikepalanya.
Chanyeol melihat Sehun yang sedang berbincang dari kejauhan. Langkahnya memang sejak tadi ditujukan untuk namja itu. Ketika para penguasa sekolah sampai dihadapan pria albino itu. Sehun tersenyum.
"Selamat pagi, Chanyeol-ssi" sapanya ramah.
"Pagi" jawab si pemilik suara bariton.
"Kau sudah boleh keluar dari rumah?" tanya Sehun sekedar berbasa basi dan Chen berhambur kearah Sehun merangkul lehernya.
"Astaga tidak kusangka si kutu buku berkacamata tebal ini jago berkelahi! Jika saja aku melihatnya langsung aku pasti juga akan menghajarmu Oh Sehun!" canda Chen dan Kai maupun Kyungsoo mengeryit.
"Dia sekarang sudah tidak memakai kacamata bodoh!" timpal Kai membuat Chen menepuk dahinya.
"Benar juga! Sekarang kau sudah bertransformasi menjadi namja keren Oh Sehun!" puji Chen dengan suara keras hingga gerombolan yeoja yang masih mengikuti para penguasa sekolah menjerit ketika menyadari penampilan Sehun.
"Astaga! Aku baru sadar bahwa Oh Sehun bisa menjadi sangat tampan! Lihatlah sekarang warna rambutnya berbeda!" bisik salah satu siswi sambil mengambil foto Sehun.
"Kyaaa! Mulai sekarang dia akan menjadi idolaku!"
"Hah! Kau curang! Aku menyukainya terlebih dahulu!" celoteh para yeoja itu.
Luhan yang sedari tadi berdiri disebelah Chanyeol mulai tersenyum. Matanya naik memandang Sehun yang juga ikut menatapnya. Luhan tidak banyak bicara akhir-akhir ini. Dia terlalu kagum pada kemampuan yang Oh Sehun miliki.
"Dia berkelahi dengan baik" papar Kris membuka kembali percakapan.
"Tentu saja! Dia juga menolongku beberapa kali saat aku lengah. Thanks Sehun!" ucap Kai sambil menepuk pundak Sehun bersahabat.
Sehun menggelengkan kepala dan terus berkata bukan apa-apa. Bola matanya masih betah berlabuh pada Luhan yang mengalihkan mata rusanya kearah lantai dengan senyuman dibibirnya. Tiba-tiba lamunan Sehun buyar saat merasa Chanyeol menatap kearahnya.
"Terima kasih telah ikut membantuku menyelamatkan Byun Baekyun, Kacamata—ah, bukan. Oh Sehun maksudku" ujar Chanyeol dengan senyuman yang jarang pria beringas itu tampakkan.
Sehun balas tersenyum.
"Tidak perlu berterima kasih Chanyeol-ssi. Baekhyun juga sahabatku. Mana mungkin aku membiarkannya tertimpa musibah seperti itu. Lagipula kau yang sebenarnya menyelamatkan dirinya. Bukan aku" papar Sehun.
Chen merangkul pundak Sehun lebih erat. "Bodoh kau Sehun! Kau juga ambil bagian disana menggantikanku! Harusnya aku yang ikut menghajar mereka!"
"Tapi nyatanya kau tidak ada disana Chen" ejek Kai.
Chen mendelik. "Aku harus mengurus yeoja itu terlebih dahulu"
"Yeah, bagaimana dengan kondisinya?" pertanyaan Kai membuat para namja disana menjadi terdiam.
"Entahlah. Aku belum mengetahui kabarnya lagi" lirih Chen, pandangannya berubah.
"Yak! Sehun-ah kenapa kau sangat lambat?! Apa kau tau jika Chanyeol sudah berkata seperti itu berarti sekarang kau ada dilingkungan kami!" tiba-tiba Chen merubah mood-nya lalu menjitak kepala Sehun pelan.
Sehun memasang muka heran. "Maksud kalian?"
Kai dan Chen tertawa. Sementara Kris hanya tersenyum sambil bersedekap.
"Chanyeol memintamu menjadi bagian dari kami Oh Sehun. Mulai sekarang kau adalah teman dekat kami. Chanyeol merasa dia membutuhkanmu kedalam kelompok kami" jelas Kris diiringi senyum Luhan yang masih memaku bola matanya pada lantai.
Sehun terdiam. Matanya melebar meminta penjelasan pada Chanyeol. Namun Ketua Park mengangguk pasti. Membuat para siswa siswi juga Kyungsoo yang sengaja mendengar hal itu terkejut setengah mati.
Sehun sekarang telah menjadi salah satu penguasa sekolah.
"Aku—"
"Welcome Sehun-ah" sahut Chen lalu memeluk Sehun tanpa pria itu sempat meneruskan ucapannya.
Kai segera merangkul Kyungsoo yang masih speechless. "Kau juga bagian dari kami Kyung. Bukan hanya Sehun saja" bisiknya dan Kyungsoo mengangguk memberikan sebuah senyuman pada tunangannya.
"Chanyeol-ah" panggil Kyungsoo.
Chanyeol menoleh kearah pria bermata bulat itu.
"Ya?"
"Bolehkah siang ini aku menjenguk Baekhyun?"
.
.
.
Kyungsoo baru saja keluar dari kamar Chanyeol.
Pria mungil itu langsung mendapati Chanyeol yang sedang berdiri bersandar disamping pintu sambil memasukkan tangannya kedalam saku. Kyungsoo tersenyum pada Chanyeol. Sementara Kai, Kris, Chen, Luhan, maupun Sehun masih didalam kamar Chanyeol—menjenguk Baekhyun.
"Bagaimana?" tanya Chanyeol tanpa memandang Kyungsoo.
"Dia sudah terlihat baik-baik saja. Apa kau tidak ingin masuk?" tanya Kyungsoo namun Chanyeol hanya diam sebagai jawaban.
"Tidak. Keberadaanku hanya akan membuat si pendek semakin sakit. Biarkan saja"
Meskipun Kyungsoo tahu Chanyeol berbohong tapi getaran dari suara Chanyeol yang terdengar memilukan hatinya. Berapa lama Chanyeol menahan diri untuk tidak melihat kondisi kekasihnya? Kyungsoo tahu Chanyeol bukan tipe pria penyabar.
"Chan—/Soo—"
Mata mereka berdua membola. Entah mengapa suasana menjadi canggung ketika keduanya hendak berbicara.
"Kau duluan" senyum Kyungsoo.
Chanyeol menatap Kyungsoo lama kemudian dia membuka mulut.
"Bisa kita bicara sebentar, berdua ditaman?"
.
.
Chanyeol dan Kyungsoo berjalan pelan ditaman belakang kediaman Park. Kyungsoo melangkahkan kakinya sedikit cepat, meninggalkan Chanyeol dibelakangnya. Pria bermata bulat itu terpana memperhatikan beberapa bunga yang sudah mulai mekar. Pikirannya beralih pada saat dia masih sering bermain kesini. Tentunya sebagai kekasih Chanyeol dulu.
"Soo" panggil Chanyeol saat dilihat sepertinya pria mungil itu lebih fokus pada pekarangan mewah keluarga Park.
Kyungsoo berbalik.
"Ya?"
"Aku—"
Chanyeol mengalihkan bola matanya kebawah. Kalimatnya terasa tercekat ditenggorokan. Tapi dia harus mengatakan hal yang sejak dulu ingin dia ucapkan pada pemuda dihadapannya.
"Soo... Aku minta maaf" lirih Chanyeol menatap dalam kearah bola mata Kyungsoo.
Kyungsoo memandang Chanyeol setengah terkejut. Namun seulas senyum mengembang dibibirnya. Kepalanya menggeleng dan dia mulai berjalan mendekati Chanyeol.
"Untuk apa? Kau tidak punya salah sama sekali, Chan" papar Kyungsoo.
Chanyeol menghembuskan nafasnya. Tubuhnya seolah berat menghadapi pria yang pernah mengisi hatinya dulu. Chanyeol hanya ingin meluruskan masa lalunya.
"Karena, aku tidak bisa menolongmu saat Seulgi merusak segalanya" ungkapan Chanyeol menyadarkan Kyungsoo.
Pria bermata bulat itu terdiam. Dia tersenyum tipis dan kembali menggelengkan kepala.
"Tidak apa. Itu bukan salahmu"
"Tapi harusnya aku—"
"Kai telah menolongku, Chanyeol"
Kali ini Chanyeol yang terdiam.
Memang benar. Setelah Seulgi sukses menghancurkan hidup Kyungsoo dengan menjatuhkan perusahaan keluarganya. Kai tiba-tiba datang membantu Kyungsoo. Entah dorongan dari mana Kai bisa berbuat seperti itu namun hal itu telah merubah kehidupan Do Kyungsoo selamanya.
"Kai yang menolongku saat itu. Dan aku tidak bisa merasa tidak lebih bersyukur dari ini. Ternyata selama ini dia menyayangiku. Bahkan sekarang kami sudah bertunangan. Aku bahagia bisa memilikinya, Chan" senyuman Kyungsoo melegakan hati Chanyeol.
Pria jangkung itu ikut mengangkat sudut bibirnya. Dia memang merasa bersalah pada pemuda mungil ini. Akibat Chanyeol, Kyungsoo jadi ikut terkena perbuatan jahat Seulgi.
"Tapi aku juga ingin meminta maaf"
"Untuk?" Chanyeol mengangkat kedua alisnya.
"Untuk meninggalkanmu waktu itu saat kau sedang berada dimasa sulit. Maafkan aku Chan" papar Kyungsoo dan Chanyeol kembali tersenyum.
"Tidak apa. Kurasa sekarang aku telah mendapatkan yang lebih baik setelah kehilangan berkali-kali. Aku juga tidak akan menyerahkan diapada takdir"
"Baekhyun?"
Chanyeol mengangguk. "Dia adalah segalanya bagiku. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan jika dia menjauh seinci pun dariku. Rasanya... Aku tidak bisa hidup tanpanya" ungkap Chanyeol menatap lurus membuat Kyungsoo tersenyum lembut.
"Kalau begitu jangan terus bermurung seperti itu, Chan. Kau tahu, ini sama sekali bukan dirimu. Melihatmu menahan diri dengan kondisi melemah setelah kau berhasil menyelamatkan Baekhyun. Hal itu terkesan menyebalkan. Kurasa kau hanya butuh keberanian. Temuilah dia. Aku yakin Baekhyun juga pasti sangat merindukanmu"
Chanyeol mengangguk. Dia menarik Kyungsoo kedalam pelukan hangat. Mata Kyungsoo membulat namun dia segera menutupnya sambil menepuk punggung Chanyeol. Setidaknya hubungannya dengan Kyungsoo tidak akan canggung lagi mulai dari sekarang. Dia bersyukur Kai adalah pilihan terbaik Kyungsoo.
"Berjuanglah Chanyeol-ah"
Tanpa Chanyeol dan Kyungsoo sadari. Mata sipit itu memperhatikan keduanya sedari tadi. Sebuah cincin manis melingkar dijemarinya. Baekhyun memegang dadanya yang terasa nyeri dengan bibir terkulum rapat. Dari balik jendela kamar Chanyeol dia dapat melihat kearah taman belakang—tempat biasa Chanyeol kabur dari rumah.
Chanyeol dan Kyungsoo sedang berpelukan.
.
.
.
Chanyeol membenci rumah sakit.
Sejak kematian ibunya. Rumah sakit masuk kedalam black list kehidupannya. Gedung berbau obat-obatan itu adalah tempat menyedihkan juga sumber penyesalan dirinya. Maka dari itu saat dia hampir pingsan setelah berhasil menolong Baekhyun. Chanyeol segera dilarikan kerumahnya sendiri dan dioperasi.
Kepala belakang Chanyeol mendapat empat jahitan. Memang tidak cukup dalam dan Park Chanyeol terlalu kuat untuk mengidap penyakit gegar otak. Sementara tangan Chanyeol yang terkena pisau mendapat tiga jahitan yang tidak begitu dalam. Bagi seorang Chanyeol. Itu bukan semua masalah besar.
Hell, dia baru saja selesai dioperasi dan butuh waktu pemulihan lama akibat luka-lukanya. Namun nyatanya hanya butuh dua hari agar Chanyeol sadar setelah masa operasi. Padahal jika orang melihat luka yang didapatnya. Mereka akan mengira Chanyeol membutuhkan waktu paling sedikit seminggu untuk benar-benar pulih. Belum lagi kakinya yang sempat terkilir sehabis melompat bebas.
Persetan dengan rasa sakitnya.
Hal pertama yang dia ingat ketika membuka mata adalah Byun Baekhyun.
Chanyeol bangun dihari kedua seharusnya dia tidur, beristirahat untuk menyembuhkan lukanya. Tiba-tiba saja tubuh jangkungnya berdiri lalu berjalan tertatih kearah kamarnya yang menjadi kamar Baekhyun sementara. Pria berandal itu sengaja menyuruh Leeteuk untuk menempatkan Baekhyun bersebelahan dengan Chanyeol. Dengan alasan yang sama. Tidak ada tempat bernama 'rumah sakit' untuk proses penyembuhan mereka berdua.
Chanyeol berlari membuka pintu kamarnya sedikit tergesa-gesa. Belum lagi Leeteuk sempat mencegahnya untuk bangun karena luka jahitannya masih baru. Chanyeol mengacuhkan seluruh pelayannya yang berusaha mengembalikan dirinya ketempat tidur. Pria itu membuka paksa pintu kamarnya berharap Baekhyun juga khawatir akan keadaannya.
"Baek..." Chanyeol memanggil nama Baekhyun. Dirinya merasa lega saat melihat kekasihnya terbaring dalam kondisi baik-baik saja.
Chanyeol berjalan perlahan kearah ranjang. Langkahnya berhenti ketika melihat Baekhyun beringsut mundur perlahan dari tempatnya. Baekhyun kembali menatapnya dengan tatapan yang paling Chanyeol benci. Ekspresinya begitu menyiksa hati Chanyeol.
Lagi-lagi Baekhyun menolaknya seperti malam itu.
Beberapa dokter menghalau Tuan Park untuk mendekati Baekhyun dengan alasan Baekhyun masih butuh masa penyembuhan untuk obat-obatan asing yang masuk kedalam tubuhnya.
Sebetulnya dosis obat terlarang yang Seulgi berikan tidak begitu parah. Efek sampingnya hanya membuat badan Baekhyun melemah seperti orang sakit keras. Namun Baekhyun tetap saja butuh pemulihan akan benda kimia yang masuk kedalam tubuhnya.
Chanyeol menggeram. Dia kembali memaku pengelihatannya pada kekasihnya. Tetapi Baekhyun malah memalingkan wajah. Hal itu sukses membuat Chanyeol merasa dia baru saja ditusuk oleh tombak tepat dihatinya. Chanyeol terdiam dengan berbagai asumsi. Sekarang hatinya terasa sangat sakit.
Dua hari berlalu.
Chanyeol berusaha tidak menggubris Baekhyun saat dia sedang dalam masa penyembuhan. Ibu Baekhyun juga sempat tinggal dua hari untuk menemani putranya dan Chanyeol mengizinkannya. Berbeda dengan teman-temannya juga baru diperbolehkan menjenguk Baekhyun pada hari keempat.
Akan tetapi...
Demi langit, bumi, beserta isinya. Park Chanyeol-lah orang didunia ini paling ingin menjenguk keadaan Byun Baekhyun. Chanyeol sampai sekarang belum berani menjejakkan kakinya lagi kedalam kamarnya. Saran Kyungsoo juga dia abaikan selama dua hari akibat rasa takutnya.
Chanyeol tahu penyebab Baekhyun seperti itu dan dia tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Dalam hatinya dia terus menggumamkan wajah ketakutan Baekhyun setiap saat.
Pandangan Baekhyun...
Pandangan itu...
Akh! Chanyeol bisa gila karena frustasi sendirian. Dia sangat ingin menemui Baekhyun tanpa adanya penolakan lagi dari pria manisnya. Mengapa hal itu sangat sulit?
.
.
.
22.14 p.m KST
Dua jam.
Sudah dua jam lewat seorang pria jangkung dengan banyak perban dikepala maupun tangannya terlihat sedang berjongkok dipinggir sebuah lorong megah dikediaman keluarga Park. Kedua tangan Chanyeol diluruskan sambil bertumpu pada lututnya. Mata tajamnya terus menatap lantai berkarpet merah.
Park Chanyeol menunggu.
Entah sampai kapan dia harus menunggu. Dia tidak tahu. Rasa lelah itu menguar ditubuhnya. Chanyeol menghembusan nafas ketika kepalanya terangkat dan mulai bersandar pada pintu dibelakangnya.
CKLEK!
Pintu disampingnya terbuka.
Seorang namja cantik keluar dari kamar bersama seorang dokter. Namja itu memandang wajah lesu Chanyeol. Sedangkan Chanyeol tetap terdiam seolah tidak punya semangat hidup.
"Semoga Tuan Byun cepat sembuh, Tuan Park" ucap sang dokter dengan sebuah senyuman setelah selesai memeriksa Baekhyun rutin setiap harinya.
Luhan membungkuk berterima kasih lalu kembali memandang Chanyeol sambil memincingkan mata.
"Kau tahu? Kurasa dia benar-benar membencimu"
Mata Chanyeol melebar mendengar pernyataan menyebalkan sepupunya. Chanyeol merasa lelucon si rusa tidak lucu. Tapi Luhan tetap menahan tawa melihat ekspresi menyeramkan Chanyeol.
"Brengsek kau, Luhan" umpat Chanyeol, alisnya berkerut dalam.
Luhan bersedekap angkuh. Dia memperhatikan wajah sepupunya yang tampan sedikit terhalang oleh perban. Chanyeol semakin kurus. Akhir-akhir ini dia tidak bisa menjaga tubuhnya. Belum lagi aura gelap masih nyaman berkeliling disekitar Chanyeol. Memberi kesan bahwa pria itu sedang murung luar biasa.
"Kau tidak akan masuk?" tanya Luhan untuk kesekian kalinya.
Chanyeol masih diam menatap lurus kearah tralis tangga.
"Entahlah"
"Dia sudah tertidur setelah minum obat"
Chanyeol mengubah posisinya. Kepalanya menoleh pada Luhan. Pria cantik itu masih menahan tawa. Astaga... Sepupu beringasnya ini jika sedang galau memang sangat menggemaskan seperti anak anjing tersesat.
"Lebih baik kau menemuinya saat dia tertidur. Aku yakin seminggu saat kejadian itu kau pasti sangat menghawatirkannya. Cepat masuklah. Temui dia Yeol dan berhenti menahan diri! Kau sungguh bodoh!" papar Luhan dan Chanyeol akhirnya berdiri setelah menghela nafas.
"Thanks, Lu" lirihnya.
Luhan menepuk pundak sepupu tercintanya sambil tersenyum. "Anytime, Yeol"
.
.
.
Chanyeol melangkahkan kakinya masuk kedalam kamarnya sendiri. Jujur saat dia menapakkan kakinya. Dia langsung merasa asing memasuki ruangan yang telah ditempatinya seumur hidup.
Chanyeol menutup pintu sambil menyandarkan kepalanya sejenak. Matanya tertutup sambil menghembusan nafas menguatkan tekadnya untuk berjalan lebih jauh. Mendekati malaikat yang terbaring diranjang.
Suasana gelap mendominasi kamar Chanyeol. Hanya cahaya yang berasal dari luar jendela yang tertangkap bola matanya. Untungnya jendela besar itu tertutup diudara sedingin ini. Sepertinya Luhan sudah mulai paham hal-hal yang Baekhyun tidak suka. Atau karena memang Chanyeol orang yang memberitahu Luhan segalanya saat pria cantik itu hendak merawat Baekhyun?
Entahlah.
Baekhyun terlalu banyak menginvasi isi pikiran Chanyeol sekarang.
Pria itu terus melangkah dengan sangat pelan lalu duduk kursi kecil samping ranjang. Matanya tidak beralih pada sosok ciptaan Tuhan yang amat dia cintai. Baekhyun tertidur dengan nafas yang teratur membuat Chanyeol tersenyum tipis.
Chanyeol menumpu sikutnya dilutut lalu menyatukan kedua tangannya. Pandangannya turun kebawah mengulang kejadian lalu yang terus memaksanya berpikir. Mengapa kekasih mungilnya mengeluarkan aura penolakan untuk dirinya.
Apakah, dugaannya benar selama ini?
Apakah Baekhyun telah—
Chanyeol menghembuskan nafasnya setelah terlalu banyak mencari alasan dikepala. Sampai saat ini dia harus merasa bersyukur karena telah berhasil menatap wajah Baekhyun sedemikian dekat.
"Baek" ucapnya pelan.
Baekhyun tidak merespon. Sudut bibir Chanyeol terangkat. Setidaknya Baekhyun tidak akan memperlihatkan wajah itu lagi. Biarkan Chanyeol menyesapi wajah cantik Baekhyun saat ini walaupun mata indah itu terpejam. Bola mata Chanyeol menangkap beberapa noda memar mengganggu dipipi chubby Baekhyun.
"Kau benar-benar menyebalkan" ucap Chanyeol dengan nada sedingin es.
"Apa kau tahu bagaimana perasaanku saat ibumu menelponku dan mengatakan bahwa kau dibawa oleh orang-orang yang merenggut klub malammu? Awalnya kupikir semua itu hanyalah candaan mengingat sebentar lagi hari ulang tahunku tiba. Hah, aku sangatlah bodoh haha…"
Chanyeol mulai bercerita entah pada siapa. Hal konyol yang bersemayam diotaknya membuat pria tampan itu tampak stress. Tapi Chanyeol tetap melanjutkan.
"Lalu entah mengapa melihat ibumu menangis kemarahanku semakin memuncak. Aku memang tidak heran saat mengetahui bahwa Seulgi pelakunya. Yeoja itu sungguh keterlaluan telah menyekapmu digedung tua bau itu. Aku yakin kau pasti juga tidak suka.
Sebelumnya ketika masuk dan berkali-kali berlari untuk mencarimu. Aku sudah nyaris putus asa. Tapi melihat cincin ini" Chanyeol berhenti berbicara dan mengelus cincin pertunangannya dengan Baekhyun secara rahasia. Pria itu menyunggingkan senyum manis.
"Aku tidak jadi menyerah pada takdir" ucapnya.
Chanyeol terus berbicara sendiri seperti orang dungu. Pria jangkung ini ingin mengeluarkan isi hatinya meski Baekhyun sekali lagi, tidak mendengarnya.
"Apa kau tahu pendek? Kakiku nyaris patah saat terjun dari lantai tiga ketika melihatmu! Padahal kakiku terkilir parah dan akhirnya aku tetap berlari sekencang yang aku bisa sampai terlihat idiot. Bahkan aku memanggil namamu sekeras mungkin agar kau menoleh. Nyatanya kau tidak memberikan respon apapun. Mungkin Yongguk sialan itu sudah membiusmu dengan obat perusak itu. Aku tidak tahu… Pikiranku serasa buram saat melihatmu semakin jauh dariku, argghh!"
Ketua Park mengusak rambutnya. Dia menatap wajah damai Baekhyun kembali. Bola matanya turun kebawah.
"Seminggu sejak kau diculik Si Brengsek itu. Aku—sejujurnya sangat ingin bertemu denganmu. Aku tidak bohong. Aku sangat ingin bertemu denganmu, Baek! Tapi… Reaksi yang kau berikan terakhir kali sungguh—" Chanyeol mengeraskan rahangnya.
"Tsk! Kau membuatku sangat gila, Baek!" lirih si pemilik suara bariton sambil menyisir rambutnya dengan kepala tertunduk.
Chanyeol menghela nafas mencoba menghalau kembali perasaan sakit dihatinya. Dia menutup mata dengan tangan kanannya. Perasaannya bergelut. Demi Tuhan… Dia sangat ingin memeluk Baekhyun. Namun Baekhyun masih tidak bergeming dari tempatnya.
Chanyeol takut dia juga akan menyakiti Baekhyun.
"Aku tahu aku terlambat menyelamatkanmu. Aku sadar akan hal itu… Maafkan aku Baek" sebuah isakkan kecil lolos dari bibir Chanyeol.
"Aku sangat tidak berguna. Aku— membuatmu takut dengan tindakkanku. Aku terlambat. Yongguk keparat itu benar,aku menyedihkan. Aku tidak bisa menyelamatkanmu, Baek!"
Terjadi keheningan panjang. Chanyeol masih bernafas terputus-putus juga menunduk menutup matanya. Airmata itu berusaha dia tahan. Tetapi dia tidak sanggup. Hatinya semakin tersiksa mengingat Baekhyun telah disentuh pria lain.
Chanyeol merasa tidak pantas untuk Baekhyun saat ini.
"Padahal… tiga tahun yang lalu. Kau datang menolongku" ujarnya ketika suara Chanyeol kembali stabil.
"Kau ingat? Malam bersalju awal bulan Desember? Saat itu salju pertama telah turun. Dan... seorang pemuda babak belur bersimbah darah dipelipisnya duduk menunggu kematian menjemputnya.
Pria itu sudah tidak peduli pada kehidupan. Dia merasa sangat siap menantikan malaikat maut ikut menariknya menemui sang ibu disurga. Tulangnya serasa remuk dihabisi satu kelompok menjijikan itu. Yang bisa pria itu lakukan hanyalah tetap duduk. Karena memang nyatanya tubuhnya tidak kuat berjalan"
Park Chanyeol tersenyum mengingat masa lalu.
"Kemudian. Tidak lama dia menunggu malaikat maut menjemputnya. Justru sebaliknya. Malaikat pelindunglah yang datang. Malaikat cantik ber-hoodie dengan raut sedih menatap pria mengenaskan itu.
Malaikat itu panik dan sungguh bodoh bahwa pria itu sebenarnya adalah iblis yang nyaris mati. Namun tanpa takut—malaikat itu tetap menyentuh wajah iblis itu. Sentuhan yang lembut. Pria bersikap iblis itu tidak bisa melupakannya sampai sekarang.
Lalu—" Chanyeol mulai terkekeh dalam ceritanya.
"Dia memberikan pria itu band aid berwarna pink dengan motif strawberry dimana-mana. Sungguh malaikat polos yang menggemaskan. Pria itu hanya diam. Awalnya dia bingung mengapa manusia berwujud malaikat ini masih sangat baik terhadapnya? Bahkan malaikat itu berkata dia akan pulang kerumah mengambil obat untuk pria menyeramkan itu. Benar-benar bodoh.
Akhirnya… karena tidak sanggup menahan perasaan itu. Sang iblis tersentuh dengan kebaikan si malaikat mungil. Namun iblis itu merasa tidak pantas dikasihani. Maka dari itu lebih baik dia pergi, bersembunyi sejauh yang dia bisa.
Ternyata, malaikat mungil itu malah menangis dibuatnya. Dia menangisi seorang pria berkedok iblis itu. Melihatnya, sang iblis pun merasakan perasaan berbeda. Hatinya menghangat. Mengapa masih bisa ada seseorang yang ingin menangis untukku meski sikapku sudah sangat brengsek saat itu?" suara Chanyeol berhenti.
Memori saat pertama kali dia bertemu Baekhyun masih tergambar jelas dibenaknya. Dia tersenyum sejenak lalu menghela nafasnya. Kemudian Chanyeol bangkit dari kursi.
"Kau tahu? Yang aku sangat ingin lakukan adalah memelukmu, Baek. Sangat. Kupikir aku yang menolongmu waktu itu hanyalah balas budi untuk pertolonganmu sebelumnya. Namun aku lengah. Aku terlambat. Aku tidak bisa menyelamatkanmu tanpa kau telah disentuh oleh Si Bajingan itu. Maafkan aku Baekhyun—arghh…"
Ketika lelehan airmata jatuh membasahi pipinya, Chanyeol mulai berjalan cepat kearah pintu didepan ranjangnya. Dadanya terasa sangat sakit. Dia memegangnya, berharap rasa nyeri berkepanjangan ini bisa menghilang.
Chanyeol akui dia lemah. Dia tidak cukup kuat menahan hasratnya untuk melepas rindu dengan Baekhyun sampai—
"Chanyeol"
DEG!
Chanyeol berhenti berjalan. Matanya membulat mendengar suara parau yang dia kenal betul. Debaran jantungnya tidak stabil dan kepalanya menoleh kaku.
"Jangan pergi..."
Diranjang. Baekhyun terduduk lemah. Airmatanya mengalir sambil mencengkram erat selimutnya.
Chanyeol menatap Baekhyun nyaris tidak percaya. Akhirnya bola mata mereka bertemu lagi dengan tatapan berbeda. Dan Baekhyun malah menyuruhnya untuk tidak pergi. Bibir Chanyeol kelu hendak mengucapkan sepatah kata.
"Ternyata itu kau… Pria bodoh yang duduk ditaman itu adalah… Kau…" lirih Baekhyun nyaris seperti berbisik.
Perasaan Chanyeol kembali bergejolak. Giginya bergemeletuk dan buku tangannya memutih. Persetan dengan Baekhyun yang menolak sentuhannya sejak kemarin.
Chanyeol tidak peduli.
Kaki jenjangnya dipaksa berjalan cepat kearah Baekhyun. Dia merangkak menaiki ranjang mendekati pria mungil itu. Namun seperti biasa. Respon Baekhyun adalah yang terburuk saat itu.
"Andwae! Jangan dekati aku, Yeol!" Baekhyun berteriak sambil terus bergerak mundur kebelakang.
Chanyeol mengabaikannya. Dia memojokkan Baekhyun pada kepala ranjang dan memegang pangkal tangan Baekhyun yang terlihat sangat kurus. Baekhyun panik. Wajahnya menjadi semakin pucat.
"Chanyeol!"
"Lantas mengapa kau menyuruhku jangan pergi?!" Chanyeol membentak Baekhyun.
Baekhyun terkesiap. Dia bernafas terburu-buru sama seperti Chanyeol seolah mereka habis berlari bermil-mil. Baekhyun menundukkan kepalanya. Tangan Chanyeol beralih menyentuh dagu Baekhyun dan mengangkatnya. Tapi Baekhyun enggan menaikkan kepalanya.
"Jangan berkata, 'jangan pergi' padaku seperti itu pendek! Aku justru semakin menginginkanmu!" desis Chanyeol suaranya nyaris bergetar.
"Tidak, Yeol!"
"Baek..." lirih Chanyeol melembut sambil tetap berusaha membuat Baekhyun menatapnya.
"Hentikkan! Jangan menyentuhku!"
"Baekhyun"
"Aku— Aku yang tidak pantas untukmu, Yeol! Kau sudah sepantasnya menghindariku!"
"Baekhyun. Tatap aku jika kau sedang bicara" Chanyeol masih berusaha bersabar.
Baekhyun menggelengkan kepalanya. Chanyeol berinisiatif mendekatkan wajahnya pada wajah Baekhyun. Sebaliknya, ketika Baekhyun melihat pergerakan Chanyeol dia menghindar. Kepalanya menghadap kesamping. Hati Chanyeol kembali teriris melihat sikap Baekhyun.
"Tidak… Aku tidak bisa menatapmu, Yeol! Mengertilah!"
"Byun Baekhyun"
"HENTIKAN! AKU KOTOR CHANYEOL! AKU TIDAK PANTAS UNTUKMU!" jerit Baekhyun kalap lalu mengangkat wajahnya.
Chanyeol menatap Baekhyun merana. Wajah pria mungilnya berubah. Wajah cantik, manis, dan menggemaskan itu telah berubah. Baekhyun benar-benar tersakiti. Lebam itu masih terpampang dipipi chubbynya. Sudut bibir Baekhyun juga memerah gelap. Kekasih cantiknya begitu tersiksa.
Chanyeol mengeraskan rahangnya.
'Keparat kau Yongguk'
"Kita—kurasa. Lebih baik kita putus sa—" belum sempat Baekhyun menyelesaikan kalimatnya kepalanya tersentak kebelakang.
Chanyeol menabrakkan bibirnya pada bibir Baekhyun. Pemuda mungil itu terdorong kearah kepala ranjang sambil menutup matanya rapat. Pria jangkung ini mencengkram kedua tangan Baekhyun diudara. Kepalanya bergerak miring melumat bibir Baekhyun dalam-dalam tanpa membiarkan Baekhyun melawan balik.
"Nghhh mhhh…Nhhh..."
Baekhyun mendesah frustasi. Tangannya masih bergerak kasar mencoba menolak Chanyeol yang menyesap bibirnya. Sebutir airmata lolos dari mata sipit itu. Jantung Baekhyun berdebar dan pipinya memanas.
'Chan…. Hentikan. Akulah yang tidak pantas untukmu. Aku kotor' ulang Baekhyun berkali-kali dalam hatinya.
Chanyeol melepaskan ciuman itu saat dirasa Baekhyun telah kehabisan nafas. Dia tidak berniat menjauhkan wajah Baekhyun barang seincipun dari hidupnya. Bibirnya masih berada didepan bibir Baekhyun. Mereka berlomba-lomba menghembuskan uap panas itu.
Suara nafas Chanyeol membutakan mata Baekhyun. Hati Baekhyun juga terasa sakit. Dia memejamkan mata sambil terus menangis kecil. Chanyeol yang menyadari hal itu berbisik pelan dan terlalu lembut sampai hati Baekhyun melemah.
"Dimana dia menyentuhmu, Baek?"
Baekhyun tetap memejamkan mata. Memori menyeramkan itu kembali terulang. Memori saat Yongguk menyetubuhinya dengan kasar sampai berulang kali terlintas dibenaknya. Baekhyun sudah meronta dengan berbagai cara tetap tidak berhasil. Yongguk telah menguasai tubuhnya.
Baekhyun tersentak. Dia menarik tangannya kasar dari genggaman Chanyeol. Lalu mendekap kedua tangan didepan dadanya—mengerutkan tubuhnya. Bayangan Yongguk yang memasuki miliknya secara paksa sambil menamparnya membuat Baekhyun semakin membenci dirinya sendiri. Kenangan menyakitkan itu menjatuhkan harga dirinya. Kepala Baekhyun berputar dan dia mulai menjerit frustasi memukul dadanya berulang kali.
Chanyeol yang menatap tindakan kekasihnya dengan penuh amarah terpendam. Hatinya hancur melihat Baekhyun melakukan hal itu. Chanyeol mencoba melepaskan tangan Baekhyun yang menyiksa dirinya sendiri perlahan. Baekhyun masih terisak namun isakkan itu terendam ketika Chanyeol mencium bibirnya lembut.
"Baek, katakan padaku dimana dia menyentuhmu" bisik Chanyeol tanpa mau melepaskan ciuman mereka.
Baekhyun masih memejamkan matanya.
"Baekhyun. Lihat aku. Tatap mataku. Ini aku Chanyeol. Maka dari itu bukalah matamu" pinta Chanyeol lembut sambil memegang samping kepala Baekhyun.
Baekhyun berusaha membuka sedikit demi sedikit kelopak matanya yang mulai sembab. Ya, dia melihat Chanyeol. Kekasih idiotnya yang sedang tersenyum menenangkan membuat hati Baekhyun luluh.
Baekhyun meneguk ludahnya.
"Di—disemua tubuhku. Dia… Dia menyentuhku dengan kasar. Tubuhku kotor Chan" lirih Baekhyun dengan suara bergetar.
Dia takut Chanyeol membencinya. Dia takut Chanyeol meninggalkannya setelah dia ditiduri pria lain. Tapi sesungguhnya dia tidak ingin Chanyeol menjauh darinya.
Chanyeol mengecup sayang samping kepala Baekhyun. Baekhyun kembali menutup matanya. Lalu Chanyeol berbisik pelan.
"Aku akan membersihkan tubuhmu, Baek. Aku yang akan menghapuskan perasaan menjijikan darinya" ucap Chanyeol dengan sebuah senyuman lembut.
Baekhyun melebarkan matanya sedikit. Baekhyun tidak menjawab. Dia sungguh terkejut dengan perkataan Chanyeol. Mengapa kekasihnya ini tidak marah ataupun membencinya? Chanyeol bodoh!
Chanyeol membaringkan tubuh Baekhyun tanpa menindihnya. Dia menjadikan lengannya sebagai penopang berat tubuhnya dan mulai mencium bibir manis Baekhyun kembali. Kedua matanya terpejam. Tangan kanannya merengkuh pinggang Baekhyun untuk merapatkan tubuhnya.
Bibir Chanyeol mulai melumat perlahan bibir bawah Baekhyun yang masih gemetar. Chanyeol memberi lumatan kecil. Perlahan dan begitu lembut. Menyesapi perasaan menyentuh bibir si mungil. Berharap Baekhyun juga dapat merasakannya.
Tangan Baekhyun yang berada disamping kepalanya diarahkan oleh Chanyeol pada leher pria berandal itu. Baekhyun masih mengendurkan pelukannya tapi Chanyeol menuntut. Sambil terus memagut bibir Baekhyun, Chanyeol berhasil mengalungkan tangan Baekhyun pada lehernya.
"Mhhhh…. Nhhh…" Baekhyun mendesah.
Otaknya mulai diperintahkan untuk merespon ciuman kekasihnya. Dia membalas ciuman Chanyeol dengan kaku. Seolah dia baru pertama kali merasakan kehangatan dari bibir yang dipagutnya. Chanyeol yang mengetahui hal itu tersenyum dan kembali memiringkan kepalanya mencium Baekhyun lebih dalam.
Bibir Chanyeol terbuka dan dia mencoba melesakkan lidahnya kedalam perpotongan mulut Baekhyun. Pria mungil itu sudah terlena, mabuk akan ciuman manis kekasihnya. Dia membiarkan lidah Chanyeol masuk. Meneliti sesuatu didalamnya, memagut benda tidak bertulang tersebut, menikmatinya sampai saling melilit lidah masing-masing. Tetesan liur itu menandakan bahwa keduanya sudah terbuai begitu jauh dalam pagutan panas tersebut.
Chanyeol berpikir Baekhyun sudah mengenali dirinya. Maka dia menurunkan ciumannya kerahang Baekhyun. Semakin turun dan berhenti pada pundak Baekhyun. Pria tampan itu mengecupnya sambil memainkan lidahnya disana. Baekhyun menggeliat.
Tangan besar Chanyeol mulai membuka kancing baju Baekhyun satu persatu. Telapaknya mengelus dada Baekhyun yang bernafas naik turun. Membiarkan jemari Chanyeol mencari letak gundukkan kecil yang dapat meningkatkan hasrat pemuda mungilnya.
"Ahhh…" Baekhyun mendesah.
Kekasihnya memilin nipple Baekhyun membuatnya menengang sementara bibir Chanyeol tidak lepas dari leher Baekhyun. Memberikan kissmark yang menutupi seluruh tanda menjijikan yang dihasilkan Yonggok.
"Berani sekali bajingan itu meninggalkan jejak ditubuh indahmu ini, Baek. Aku akan menghilangkannya" bisik Chanyeol dengan nada rendah.
Baekhyun mengangguk pasrah. Tangannya mengelus kepala Chanyeol yang menyesap lehernya bagai vampir haus darah. Sebuah kenangan terlintas dibenaknya.
Diperpustakaan. Chanyeol pertama kali menyentuh lehernya dengan kasar namun tersirat kelembutan didalamnya. Sudut bibir Baekhyun melengkung naik sedikit.
Chanyeol melepaskan ciumannya. Memperhatikan sebentar karya indah yang telah dia ukir ditubuh Baekhyun. Mulutnya beralih pada dada Baekhyun yang terbuka. Dia merunduk mencium nipple Baekhyun. Meraba perut kecil Baekhyun sambil memberikan kecupan ringan sampai kecupan itu semakin turun kebawah.
Kelopak mata Baekhyun berkedip berkali-kali merasakan sensasi menggelitik diperutnya ketika Chanyeol membuka celananya. Pipinya memanas ketika seluruh pakaian yang melekat didirinya menghilang.
Tangan Baekhyun menjambak rambut Chanyeol pelan. Nafasnya tertahan saat Chanyeol telah memegang penisnya. Bibir Tuan Park kembali bekerja menciumi penis mungil Baekhyun. Menyadarkan Baekhyun bahwa dia benar-benar akan menggantikan seluruh sentuhan kotor Yonggok ditubuhnya.
"Chan—Ahhh" kepala Baekhyun terdorong refleks kebelakang.
Pria jangkung dibawahnya mulai mengulum penisnya. Chanyeol meremas batang Baekhyun lembut sambil terus menaik turunkan bibirnya perlahan. Menggoda Baekhyun untuk meminta lebih. Mulut Baekhyun terbuka mendesahkan nama kekasihnya. Kepalanya pusing akan gairah dan tubuhnya mengejang. Dia merasa meledak karena gerakan Chanyeol kian dipercepat mengulum penisnya.
Sensasi aneh Baekhyun rasakan diperutnya. Baekhyun mengigit bibirnya kuat menyadari dirinya akan semakin dekat.
"Chanyeol!" Baekhyun mendapati klimaksnya.
Dia mengeluarkan cairannya dan Chanyeol tidak sungkan meneguk lelehan sperma milik simungil. Dia justru tersenyum puas telah mendengar Baekhyun meneriakkan namanya. Sepertinya Baekhyun telah sadar bahwa yang sedang bercinta dengannya adalah Park Chanyeol bukan orang lain.
Pria itu mengulum jemarinya sendiri dihadapan Baekhyun. Tatapan tajam Chanyeol membuat Baekhyun merona padam. Mata Baekhyun menelusuri wajah Chanyeol yang penuh perban. Kekasihnya ini terlihat seperti serigala seksi yang hendak menyantapnya.
Chanyeol berhenti mengulum dan memasukkan jarinya pada lubang yang sedari tadi menggoda penisnya untuk menegak. Kaki Baekhyun mendadak kaku. Baekhyun meremas sprai disampingnya. Jari-jari Chanyeol mulai bergerak menusuk dinding rektumnya.
Jemari panjang itu serasa menghantarkan listrik ketika menumbuk semakin dalam dan menyentuh prostat Baekhyun. Chanyeol menambahkan dua jarinya lagi. Melakukan gerakan kasar seolah mengoyak lubang sempit itu agar melebar.
"Chanyeol-ahhh…" Baekhyun merancau.
Chanyeol menarik jemarinya melihat Baekhyun sudah siap. Baekhyun juga terlihat tidak menolak sentuhannya lagi. Kali ini Chanyeol bisa melepas rindunya.
Chanyeol menegakkan tubuhnya sambil berlutut dihadapan Baekhyun. Melepas seluruh pakaiannya. Melempar celananya asal dan kembali menjatuhkan tubuhnya diatas Baekhyun membuat ranjang bergoyang.
Mata Baekhyun terbuka lebar. Jantungnya berdegup kencang. Dia kembali teringat akan Yongguk yang menindihnya.
"JANGAN!" Baekhyun berteriak.
Dia mendorong tubuh Chanyeol namun Chanyeol tidak bergeming. Pria itu justru kaget sebelum akhirnya Chanyeol paham. Trauma Baekhyun kembali lagi. Namja mungil itu menutup matanya erat dan tubuhnya gemetaran.
"Andwae Yongguk… Lepaskan aku" Baekhyun merintih tidak jelas.
"Baek. Tenanglah. Ini aku, Chanyeol! Bukan Yongguk! Tatap aku lagi, Baek! Bukalah matamu, Baby" Chanyeol menangkupkan pipi Baekhyun sambil mengguncangnya.
Dia mengelus surai coklat Baekhyun dan Baekhyun membuka mata perlahan. Menatap bola mata bulat Chanyeol. Pria mungil itu memperhatikan seluruh wajah Chanyeol. Chanyeol tersenyum menyadarkan lamunan Baekhyun.
Benar.
Ini Chanyeol. Yang menyentuhnya sekarang adalah Chanyeol. Bukan si keparat itu.
"Aku disini Baekhyun. Aku menjagamu…" ucap Chanyeol menenangkan.
Baekhyun tersentuh. Dia menganggukkan kepalanya perlahan. Chanyeol ikut mengangguk saat dia merasakan Baekhyun sudah menyadari bahwa itu dirinya.
"Maafkan aku Chanyeol"
"Tidak apa. Jangan menutup matamu lagi. Pandang aku saat kita melakukannya Baek. Kau tidak perlu mengingat bayangan menakutkan itu lagi"
Baekhyun menganggukkan kepala kembali. Dia mengusap pipi Chanyeol. Pria jangkung itu mengambil tangan Baekhyun dipipinya dan mencium telapak si mungil dengan mata terpejam.
"Aku mencintaimu, Byun Baekhyun" ucap Chanyeol lalu merendahkan tubuhnya dan menaikkan satu kaki Baekhyun kepundaknya.
Baekhyun tersenyum. Kali ini senyumannya bagai sebuah magnet bagi Chanyeol. Membuat sudut bibir namja itu ikut tertarik keatas. Chanyeol memposisikan miliknya yang sudah tegak didepan lubang Baekhyun.
Baekhyun menarik nafas pelan lalu mengalungkan lengannya dipundak Chanyeol. Mata mereka tidak beralih kemana pun. Hanya terpaku menatap satu sama lain.
"Aku juga mencintaimu, Park Chanyeol" bisik Baekhyun.
Chanyeol mencoba memasukkan kepala penisnya perlahan. Baekhyun menutup matanya sembari meringis merasakan milik Chanyeol mulai terdorong kedalam tubuhnya. Lengannya memeluk punggung tegap Chanyeol erat. Chanyeol memejamkan mata merasakan kenikmatan yang kekasihnya berikan.
Pria tampan itu menarik nafas dan ketika melihat Baekhyun menangguk, Chanyeol segera mengentakkan miliknya sampai telak mengenai prostat Baekhyun. Baekhyun memekik merasakan batang berurat Chanyeol memenuhi dirinya.
Sementara Chanyeol menggeram sambil terus menatap kekasihnya. Lubang itu sangat sempit, hangat menjepit kejantanannya. Memaksa Chanyeol ingin bergerak dengan cepat sebelum dia bisa klimaks dengan sendirinya tanpa berbuat apapun.
Pinggul Chanyeol mulai bergerak perlahan berusaha tidak menyakiti Baekhyun meskipun dia lebih menyukai ketika dirinya bergerak kasar. Namun sekali lagi. Dia ingin menghapuskan segala trauma kekasih mungilnya. Dia menarik penisnya dan menghentakkannya lagi. Menusuk Baekhyun berulang kali ditempat yang sama. Gerakan itu dilakukan berulang-ulang membuat tubuh Baekhyun tersentak terus menerus keranjang.
"Ahhh… Ngghhh, Yeol"
"Mhhhh… Baekk… Hahh" Chanyeol memejamkan mata.
Lubang Baekhyun menyempit semakin dia mendorong miliknya lebih dalam. Chanyeol mulai bergerak cepat dan sedikit kasar. Bibir mereka kembali bersatu dengan nafas memburu. Lidah mereka juga tidak luput merasakan sensasi seks yang mereka alami.
Suasana dikamar Chanyeol semakin memanas. Baekhyun mendesah memancing kekasihnya bergerak menuntut lebih. Gairah menyelimuti aktivitas mereka berdua. Dan Baekhyun sudah mulai terbiasa dengan sentuhan kekasihnya.
Sentuhan Chanyeol yang lembut tapi kasar membuatnya semakin menyukai segala hal yang Chanyeol berikan padanya.
"Chanyeol-ahh… Ngghhh… Lagi, kumohon" pinta Baekhyun memelas.
Chanyeol menyunggingkan senyuman lalu menyentak penisnya kembali.
"Akkhhh! Chan—"
"Kau sangat sempit Baek— Arghh sialan sekali bajingan itu ikut. Ah—merasakannya" Chanyeol mengerang sambil menatap tajam Baekhyun.
"Tapi, uhhh… Aku tidak menyukainya. Aku... Nhhh... hanya menikmatinya—saat melakukannya bersamamu" ucap Baekhyun terengah-engah.
Chanyeol tersenyum seksi. Dia mendekatkan bibirnya pada leher Baekhyun dan menyesapnya kuat sementara pinggulnya tidak berhenti bergerak menembus lubang Baekhyun.
"Kau milikku. Hanya milikku Baek!"
"Ngghhh… Mhhh. Iya"
"Desahanmu. Shhh… Hanyalah untukku seorang yang boleh mendengarnya Baek!"
Baekhyun mengangguk. Dia menarik kepala Chanyeol mengajaknya kembali berciuman. Nafasnya terputus-putus dalam melumat bibir tebal kekasihnya. Gerakan Chanyeol semakin tidak beraturan begitu pun Baekhyun yang ikut bergerak berlawanan. Baekhyun menekan pinggul Chanyeol dengan kakinya. Memperdalam tubuh mereka untuk melekat satu sama lain.
"Chanyeol… Aku, semakin dekat"
Chanyeol membuka matanya.
Dia membalikkan posisi tubuh Baekhyun menjadi menungging tanpa melepaskan kontak mereka. Baekhyun yang sudah kalut akan gairah meluap-luap hanya mampu mengikuti pergerakan Chanyeol. Pria itu menghentakkan penisnya lebih dalam membuat Baekhyun mengangkat kepalanya.
Chanyeol merendahkan dadanya. Merapatkan tubuhnya pada punggung Baekhyun. Menautkan jemari keduanya lalu kembali memaju mundurkan miliknya dengan cepat.
"Uhhh… Nhhh… Chanyeol.. Ahhh..."
Wajah Baekhyun memanas.
Dia merasakan milik Chanyeol didalam sana. Mengoyak-oyak lubangnya hingga Baekhyun ikut bergerak berlawanan. Urat penis Chanyeol sungguh menggoda ereksi Baekhyun. Tangan mungil Baekhyun turun kebawah meremas miliknya pelan.
Chanyeol yang menyadari hal itu menyingkirkan tangan Baekhyun dan menggantikannya. Tidak lupa Chanyeol menyesap pundak Baekhyun. Menambah kenikmatan namja yang sedang mendesah dibawahnya.
Sudah berapa kali Chanyeol menghentikan Baekhyun pada klimaksnya. Pria mungil itu mendesah frustasi. Dia memukul dada bidang Chanyeol yang sekarang sudah membalik kembali tubuhnya untuk terlentang pasrah sambil membuka pahanya lebar-lebar membiarkan Chanyeol menguasai tubuhnya.
Baekhyun lelah. Dia berhenti bergerak namun Chanyeol tidak. Pria ganas itu masih belum letih menggenjot pemuda mungil itu.
Baekhyun melenguh memejamkan mata erat. Penis Chanyeol kian membesar membuat Baekhyun menyempitkan lubangnya. Baekhyun tahu Chanyeol juga mulai dekat pada klimaksnya. Baekhyun menjeritkan nama Chanyeol saat dia akhirnya telah sampai dan menumpahkan spremanya kedada Chanyeol.
Tidak berapa lama Chanyeol ikut mengeluarkan lahar panasnya dilubang Baekhyun. Namun pria itu tidak berhenti menggerakkan pinggulnya sampai seluruh cairan itu keluar dari batangnya. Lelehan sprema Chanyeol meluber tidak terbendung membasahi spreinya.
Nafas mereka saling memburu. Chanyeol mencium bibir Baekhyun lembut. Melumatnya sesekali kemudian menatap wajah cantik kekasih manisnya. Baekhyun tersenyum lemah. Dia mengelus pipi, hidung, dan dahi Chanyeol yang dibanjiri keringat.
"Aku mencintaimu Chanyeol" ucap Baekhyun.
Chanyeol melepaskan kontak mereka. Baekhyun sedikit meringis namun disisi lain dia merasakan kehilangan akan kehangatan Chanyeol. Chanyeol menarik selimut dan memeluk tubuh Baekhyun erat. Pria berandal itu mengecup kening Baekhyun lama. Kemudian turun kemata, hidung, lalu pipi chubby kekasihnya.
"Aku juga sangat mencintaimu Baekhyun" balasnya lalu memejamkan matanya.
Baekhyun tersenyum. Dia tidak segera tertidur. Meskipun tubuhnya sungguh lemas. Baekhyun masih memandang Chanyeol yang memejamkan mata sambil mengelus lembut pipi Chanyeol.
"Terima Kasih karena kau selalu berusaha menolongku, Yeol. Terima kasih karena kau tidak pernah berhenti melindungiku dan menyayangiku. Aku—selalu tertolong olehmu. Hatiku selalu kau penuhi dengan cintamu meskipun kau sungguh bodoh dalam menyampaikan segalanya. Aku sangat mencintaimu, Park Babo" senyum Baekhyun lalu mengecup kening Chanyeol. Sebelum akhirnya dia ikut tertidur bersama kekasihnya.
.
.
.
.
.
TBC
Tinggal Satu Chap lagi!
Readers pasti nungguin endingnya kan? Hohoho~
Gimana NCnya sudah HOT? *bakar! bakar!*
Jujur sehyun sangat terkejut chap sebelumnya kalian pada nangis. Padahal sehyun ngga mau bikin kalian nangis *deg-degan sih iya* tapi kenapa respon kalian pada nangis semua rata-rata? Sehyun jadi merasa bersalah dan harus bagi-bagi permen deh T^T
Ya, Sehyun bakal selalu minta maaf pada readers karena selalu nungguin ff ini ampe bisulan, lumutan, dakian haha gak deh *bercanda* peace! Sehyun berusaha update fast tapi gak yakin soal NC T^T
Ohya sehyun update ff titipan Author Hyurien92 judulnya My Endless Love! Ceritanya tentang ChanBaek slight KrisBaek *sehyun gamau spoiler baca aja yah sendiri hehe* Monggo dibaca para chanbaek shipper dijamin tambah ngefeels hohoho~ ^_^
BIG THANKS TO ALL READERS, YANG MEMFAV, MEMFOLLOW, SIDERS, EONNI-EONNI, SAENG-SAENG, OPPA-OPPA SEHYUN*gak ada oppa wey*! kkk^^ LOVE YOU! xoxo
Follow sehyun at
FB: OHan Se Hyun
twitter: ohansehyun
YEHET! XD
Review?
