Annyeong! Nihao!
Sebelumnya Sehyun memberi tahu ff ini murni hasil pemikiran Sehyun hingga chapter terakhir ini. Jika terdapat kesamaan dengan ff lain harap pc Sehyun. Terima Kasih!
NO BASH for others Chara!
NO PLAGIAT ya!
This is just Fanfiction. Sehyun hanya minjem Characternya selanjutnya semuanya milik orang tua masing-masing juga Tuhan YME!
YAOI! DLDR!
We Are One in Our Real EXO L Heart!
Enjoy!
.
.
.
.
.
-BaekYeol Area-
Previously
Nafas mereka saling memburu. Chanyeol mencium bibir Baekhyun lembut. Melumatnya sesekali kemudian menatap wajah cantik kekasih manisnya. Baekhyun tersenyum lemah. Dia mengelus pipi, hidung, dan dahi Chanyeol yang dibanjiri keringat.
"Aku mencintaimu Chanyeol" ucap Baekhyun.
Chanyeol melepaskan kontak mereka. Baekhyun sedikit meringis namun disisi lain dia merasakan kehilangan akan kehangatan Chanyeol. Chanyeol menarik selimut dan memeluk tubuh Baekhyun erat. Pria berandal itu mengecup kening Baekhyun lama. Kemudian turun kemata, hidung, lalu pipi chubby kekasihnya.
"Aku juga sangat mencintaimu Baekhyun" balasnya lalu memejamkan matanya.
Baekhyun tersenyum. Dia tidak segera tertidur. Meskipun tubuhnya sungguh lemas. Baekhyun masih memandang Chanyeol yang memejamkan mata.
"Terima Kasih karena kau selalu berusaha menolongku, Yeol. Terima kasih karena kau tidak pernah berhenti melindungiku dan menyayangiku. Aku selalu tertolong olehmu. Hatiku selalu kau penuhi dengan cintamu meskipun kau sungguh bodoh dalam menyampaikan segalanya. Aku sangat mencintaimu Park Babo" senyum Baekhyun lalu mengecup kening Chanyeol. Sebelum akhirnya dia ikut tertidur bersama kekasihnya.
.
.
.
.
Bad Boy The Last
Baekhyun duduk disebuah sofa panjang, teras kamar Chanyeol. Selimut besar menutupi pahanya dengan pandangan lurus kedepan. Memperhatikan taman indah milik keluarga Park.
Tidak berapa lama sebuah tangan melingkar dilehernya. Baekhyun memalingkan wajah dan mendapat sebuah kecupan manis tepat dibibirnya. Baekhyun tersenyum sambil mengelus lembut pipi kekasihnya.
"Chanyeol" panggilnya disela ciuman mereka.
Chanyeol balas tersenyum tanpa menjawab. Bibirnya masih sibuk memberi lumatan kecil pada si mungil. Chanyeol melepaskan ciuman mereka dengan bunyi decakan yang kentara. Baekhyun terkekeh namun itu tidak lama karena Chanyeol segera menyodorkan beberapa pil dan segelas air putih ditangannya.
"Aku sudah sembuh" Baekhyun merenggut melihat Chanyeol menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Kau belum. Minum, Baby" jelas Chanyeol singkat sambil menyodorkan tiga obat tersebut.
Baekhyun menghela nafas dan menerimanya. Dia sudah merasa lebih baik bahkan setelah seks mereka berakhir malam itu. Well, sebenarnya itu baru kemarin lusa. Tapi entah mengapa bercinta dengan Chanyeol mengembalikan semua energinya.
Oh, ayolah Byun Baekhyun. Kau terdengar seperti seorang maniak sekarang.
"Tadi Chen menelponku" ucap Chanyeol sambil memperhatikan Baekhyun meminum cepat obat-obatnya.
"Dia baru saja menemui Seulgi" lanjut pria jangkung itu lalu memindahkan gelas yang Baekhyun berikan pada meja kecil disebelah sofa.
"Bagaimana keadaan Seulgi?"
Chanyeol terdiam. Baekhyun mengerutkan alisnya saat tidak mendapat jawaban dari Chanyeol.
"Dia sudah membaik. Sepertinya kejiwaannya sedikit terganggu. Chen bilang dia terus menggumamkan kata 'maaf' dan namaku tentunya. Entah apa yang menganggu anak itu. Sudahlah jangan dipikirkan" acuh Chanyeol sambil memeluk tubuh mungil Baekhyun.
Baekhyun menahan tubuh Chanyeol yang hendak merengkuhnya.
"Mengapa kau bilang jangan dipikirkan? Seulgi sedang sakit, Yeol"
"Ya. Dia memang 'sakit'"
"Chanyeol!"
"Ahh, sudahlah jangan membahasnya Baek. Apa kau tidak kesal mendengar namanya? Dia sudah mencelakaimu!" papar Chanyeol sedikit marah.
Baekhyun menutup mulutnya. Kepalanya menggeleng menandakan pernyataan Chanyeol barusan salah.
"Aku tidak peduli dia sudah berbuat jahat padaku. Tapi aku tidak ingin berlaku buruk padanya Yeol. Kau tau, dia hanya kesepian dan terlalu terobsesi pada ambisinya. Aku rasa Seulgi tidak salah" ungkap Baekhyun membuat Chanyeol tercengang.
Mengapa kekasihnya masih saja mengasihi seseorang yang telah merusak hidupnya? Apa benar Baekhyun seorang manusia?
Chanyeol berdecak gusar lalu menyandarkan kepalanya pada pinggir sofa. Tangan lentik Baekhyun mengelus dada Chanyeol lembut. Matanya terus menatap wajah tampan kekasihnya.
"Kita tidak boleh membencinya. Seulgi hanya tersesat oleh cintanya kepadamu. Pasti ada alasan dibalik tindakannya"
Chanyeol mengangguk. Dia memandangi wajah Baekhyun lekat-lekat. Tangan kirinya terangkat mengelus pipi chubby itu. Baekhyun mengulaskan senyuman manis pada Chanyeol.
"Sial. Kau benar-benar seorang malaikat kesasar Baek"
Baekhyun terkekeh kecil mendengar ucapan kekasihnya.
"Baiklah. Aku tidak akan membencinya jika itu yang kau inginkan, Baby" senyum Chanyeol dan Baekhyun yang kali ini mengangguk sebagai jawaban.
"Kalau begitu mari kita jenguk Seulgi sekarang juga!"
"Mwo?!"
.
.
.
Chanyeol dan Baekhyun sudah sampai disebuah rumah sakit besar dan terbilang paling mahal di Seoul. Chanyeol terus menggenggam tangan Baekhyun erat. Hal itu sukses membuat si kecil merengek akibat sikap possessif Tuan Park.
"Berhentilah memegang tanganku terlalu erat Yeol! Ini sangat sakit"
"Tidak! Aku takut Seulgi akan mengancammu lagi atau hal buruk lainnya. Kita harus waspada!" Baekhyun mengeryit mendengar ucapan konyol Chanyeol.
"Aishh… Yeol lepaskan!"
"Yak! Byun Baekhyun! Kau tidak suka kita bergandengan tangan hah?" sungut Chanyeol menghentikan langkah mereka berdua.
Baekhyun mendesah malas. Kekasihnya ini mengapa harus bersikap menyebalkan disaat seperti ini? Sebenarnya dia sangat malu karena ucapan Chanyeol sedikit keras. Membuat dirinya dan si jangkung sekarang sukses menjadi pusat perhatian.
"Jangan berteriak Park Babo ini rumah sakit" bisik Baekhyun kesal.
Chanyeol nyengir. Dia mendengar Baekhyun memanggilnya dengan panggilan favoritnya. Jika si pendek ini sudah bisa mengatainya berarti dia memang sudah sembuh total.
"Baiklah, Sayang"
Baekhyun mengangguk dengan semburat rona dipipinya. Chanyeol kembali menggenggam tangan Baekhyun namun kali ini lebih lembut. Jadi Baekhyun tetap membiarkannya. Toh jika dia melarang, Chanyeol akan lebih keras kepala darinya.
Baekhyun dan Chanyeol hampir sampai dikamar rawat Seulgi. Sebelum akhirnya seorang suster keluar dari ruangan tersebut dengan sangat tergesa-gesa. Baekhyun yang heran segera berjalan lebih cepat melepaskan tangan Chanyeol.
"Permisi. Saya teman dari Kang Seulgi. Apa dia ada didalam?" tanya Baekhyun.
Suster itu terlihat cemas dan mengarahkan matanya kesegala arah. Dia menjelaskan keadaan pasien yang hendak dia periksa lima menit yang lalu pada Baekhyun. Mata Baekhyun melebar mendengarnya. Sementara Chanyeol masih berjalan santai mendekati Baekhyun dan sang suster.
"Ada apa?" tanya Chanyeol datar.
"Anu… Nona Kang" gugup sang suster.
Chanyeol mengerutkan alisnya. "Ada apa dengan dia?"
"Nona Kang menghilang Tuan… Padahal saya baru saja meninggalkannya sepuluh menit yang lalu. Ini sudah keempat kalinya dia menghilang seperti ini dari kamarnya" jelas suster bernama Yoona.
"Kemana dia pergi?" Chanyeol mulai panik begitupun Baekhyun yang terus berdiam diri sesekali berpikir.
"Chanyeol! Baekhyun!" sebuah sahutan mengejutkan mereka bertiga.
"Chen!"
"Seulgi menghilang lagi?" sambar Chen dengan nafas terengah-engah berlari bersama seorang pria bule disebelahnya.
"Where did she go?" pria bule itu mencengkram pundak Yoona yang hanya menggeleng tidak tahu.
"Saya tidak tahu Tuan. Baru saja saya meninggalkan beliau saat hendak mengambil infus baru. Namun dia sudah tidak ada diranjangnya" panik Yoona.
Chen mengusak rambutnya kasar sementara Chanyeol dan Baekhyun masih diam.
"Siapa dia?" tanya Chanyeol yang penasaran.
Chen melirik lelaki tampan disebelahnya. Dia menghela nafas pelan sambil mengangkat tangan sebelum menjawab.
"Perkenalkan. Dia Jackson. Tunangan Seulgi di Amerika" papar Chen dan Jackson mengulurkan tangannya.
"Nice to meet you. You must be Chanyeol" sapa Jackson dengan ramah namun wajahnya masih setengah panik akibat hilangnya Seulgi.
Chanyeol hanya mengangguk dengan ekspresi datar.
"I'm really sorry about what she did to your boyfriend. Truly I am"
"It's Okay. Just forget about it Jack. He don't mind it either" balas Chanyeol acuh lalu melemparkan pandangan pada Baekhyun yang masih diam.
Jackson tersenyum sambil ikut memandang Baekhyun. Pria mungil itu terlihat gusar sama seperti Yoona sekarang. Tiba-tiba tangan Baekhyun menarik jaket Chanyeol membuat namja jangkung itu terheran menatapnya.
"Kita harus keatap sekarang, Yeol!"
.
.
Hembusan angin yang kuat menerpa wajah pemilik wajah cantik yang sedang berdiri di ujung gedung dengan tatapan kosong. Punggung tangannya terus mengeluarkan darah akibat infus yang dicabutnya dengan sembarang. Seulgi kembali menitikkan airmatanya.
BRAK!
"Seulgi!" teriak Chanyeol panik.
Tidak berapa lama Chen, Jackson, Baekhyun dan Yoona— suster Seulgi, berlari menghampiri dari belakang.
"Cepat turun kemari dasar kau yeoja bodoh! Apa yang mau kau lakukan hah?!" geram Chanyeol memandang tajam gadis cantik yang menolehkan setengah badannya.
"Chanyeol-ah" sebuah senyuman terulas dibibir Seulgi. Namun seketika mata kucing itu menangkap sosok cemas Baekhyun, senyuman itu memudar. Seulgi menundukkan kepalanya. Dia menyatukan kedua tangan dan merapatkannya didada.
"Baekhyun…" lirihnya kecil.
"Seulgi. Kumohon jangan lakukan apa yang kau pikirkan saat ini. Ayo turunlah" pinta Baekhyun lembut sambil berjalan mendekati Seulgi.
"Jangan mendekat!" yeoja itu mulai berteriak.
Suasana berubah mencekam. Tidak ada yang berani mengambil pergerakan terlebih dahulu. Apalagi bertindak gegabah saat ini.
"Jangan mendekat kau Byun Baekhyun! Aku tidak pantas kau kasihani!" jeritnya kalap.
Baekhyun terdiam dengan tangan terulur. Ini memang bukan pertama kalinya dia dibentak gadis itu. Tapi Baekhyun dapat merasakan perasaan Seulgi sekarang.
"Seulgi. Come here please. Lets go home, Baby" kali ini suara Jackson yang membujuk Seulgi.
Yeoja itu menggelengkan kepala.
"I can't. I don't want to…"
"Then what did you want to do? Let me do it for you. But you have to get down from there first, Dear" suara lembut Jackson melemahkan hati Seulgi.
"Benar Seulgi. Turuti permintaan tunanganmu!" titah Chen pada akhirnya.
Seulgi semakin mengeratkan pegangan tangannya. Dia menggeleng lagi sambil tersenyum lemah. Jantung Baekhyun berdegup kencang. Dia takut Seulgi benar-benar akan melompat tanpa berpikir lagi.
"Aku tidak pantas hidup. Yang kulakukan hanyalah merusak hidup orang lain untuk mencari kebahagiaanku sendiri" Seulgi mulai berbicara dan suasana semakin terasa hening.
"Sejak kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan saat umurku sepuluh tahun. Aku kehilangan segalanya. Namun aku tidak pernah kekurangan untuk hal materi. Kehidupanku selalu terpenuhi meski tanpa orang tua. Tapi segala perebutan harta oleh anggota keluarga lain membuatku jijik akan hidup yang kujalani. Semua terasa sangat hampa tanpa ada yang mengerti diriku.
Lalu, ketika bertemu Chanyeol di JHS aku merasa aku telah menemukan sosok diriku yang lain didalam dirinya. Dan mulai saat itu aku jatuh cinta padanya. Entah mengapa aku tidak bisa melupakannya. Aku menginginkan dia menjadi milikku setelah semua yang ku punya telah hilang dan pergi meninggalkanku…
Chanyeol tidak menolakku dan membiarkanku berada disisinya. Aku semakin mencintainya. Meski Jackson adalah orang yang sejak dulu ditakdirkan bertunangan denganku. Maka dari itu dia memang harus selalu ada disampingku dan juga sangat mencintaiku. Tapi… aku masih menginginkan Chanyeol menjadi milikku.
Nyatanya Chanyeol tidak berubah. Dia sekarang lebih mencintai yang lain. Mencintai seseorang yang memang sebenarnya lebih baik dariku yang sangat buruk ini. Menyedihkan bukan?" Seulgi mulai terkekeh kecil disela tangisnya.
Kepala gadis itu terangkat dan memandang Baekhyun.
"Maafkan aku Baekhyun" ucapnya tulus dengan senyuman.
Kemudian matanya beralih pada Chanyeol yang masih cemas-cemas dengan pergerakan Seulgi selanjutnya. Yeoja itu kembali mengulaskan senyuman manis sampai matanya membentuk bulan sabit.
"Maafkan aku, Chanyeol" lirih Seulgi sebelum akhirnya satu kakinya meloloskan diri dari tanah yang dipijaknya.
Seulgi menutup mata ketika tubuhnya terhuyung kebelakang. Dia sudah sangat siap dengan pilihan hidupnya. Seulgi hendak merasakan gravitasi membawa tubuhnya terjun ketanah namun…
GREB!
Mata Seulgi terbuka.
Dia sangat terkejut akan dua hal. Pertama, karena dia tidak jadi bertemu ajalnya. Kedua, seseorang yang tengah menyelamatkannya saat ini.
"Byun Baekhun" ucap Seulgi nyaris tercekat ditenggorokannya.
Tangan Baekhyun terulur kebawah sambil terus memegang erat tangan Seulgi. Baekhyun menghembuskan satu nafas tawa. Dia sendiri bingung mengapa tubuhnya bisa berlari sangat cepat daripada yang lain sebelum Seulgi jatuh.
"Mengapa kau menolongku?" bisik Seulgi yang berurai airmata.
"Karena jika kau mati sainganku akan berkurang" kekeh Baekhyun dengan wajah kesusahan.
Seulgi terdiam. Ucapan Baekhyun memang asal dan terkesan mengejek. Tapi seketika hatinya menghangat. Seulgi sadar bahwa dia sudah sangat jahat pada Baekhyun yang telah berniat menolongnya dan menyadarkannya akan hidup.
"Bodoh" bisik Seulgi diselingi senyuman mengejek.
Baekhyun ikut tersenyum lalu menarik tubuh Seulgi dibantu oleh Chanyeol dan Jackson. Seulgi terduduk lemas ketika menyentuh permukaan tanah lagi. Dia memandang Baekhyun yang segera direngkuh oleh Chanyeol. Sementara disisi lain Jackson juga sedang memeluknya erat.
"Baekhyun-ah" panggil Seulgi.
Baekhyun menoleh.
"Aku mengalah. Aku tidak sanggup mencintai Chanyeol yang keras kepala seperti itu" lirih Seulgi dengan tatapan tajam bagai kucing hitam. Sikap angkuhnya kembali lagi seperti semula.
Baekhyun menganggukkan kepalanya sambil tertawa.
"Terima kasih Seulgi"
"Tidak. Terima kasih telah menolongku, Byun Baekhyun" ucap Seulgi acuh lalu gadis itu balas memeluk Jackson yang sudah menggendong tubuhnya hendak kembali keruang perawatan.
.
.
.
Baekhyun mulai kembali bersekolah. Biasanya suasana ada atau tanpa adanya Baekhyun tidak akan merubah apapun. Namun sekarang berbeda. Semua murid SM SHS sudah mengetahui dengan jelas dan menerima kenyataan. Bahwa Ketua mereka—Park Chanyeol mengencani seorang namja underdog berwajah manis.
Kyungsoo segera berhambur memeluk sahabatnya ketika Baekhyun keluar dari mobil yang Chanyeol kendarai. Baekhyun balas memeluk Kyungsoo melepas rindu. Tidak lama kemudian dia melihat Sehun yang berdiri diantara Chen dan Kai.
"Sehun!" sahut Baekhyun ceria.
Dia segera memeluk Sehun hangat. Sehun sempat terkejut. Namun tangan yang membeku diudara mulai menepuk pundak Baekhyun perlahan, lalu balas memeluknya.
"Selamat datang kembali kesekolah, Baek" senyum Sehun dan Baekhyun mengangguk ikut tersenyum dipelukan Sehun.
Chanyeol memegang kerah belakang baju Sehun kasar. Sementara tangan lainnya memegang tengkuk Baekhyun. Tangan besar itu mendorong berlawanan kedua namja yang sedang asyik dengan dunianya sendiri.
"Menyingkir" desisnya dingin.
Baekhyun tertawa. Dia lupa bahwa Chanyeol masih sedikit sensitif soal hubungannya dengan Sehun. Baekhyun dan Sehun memang terlalu akrab. Membuat Chanyeol maupun Luhan— yang masih bisa bersikap sabar pun, bisa menjadi iri akan kedekatan mereka berdua.
"Mianhae, Chanyeol-ssi" ucap Sehun lalu memandang Luhan yang menekuk wajahnya.
"Jangan dekat-dekat lagi atau kau kuhajar seperti dulu Oh Sehun" ucap Chanyeol mengabaikan Sehun sambil merangkul Baekhyun masuk kedalam gedung.
Sehun hanya menghela nafas maklum. Matanya beralih pada Luhan yang menatapnya. Luhan mengalihkan pandangannya ketika merasakan jantungnya berdetak merespon tatapan Sehun.
Pria albino itu tersenyum lalu meraih tangan Luhan tanpa para penguasa sekolah lain juga Kyungsoo ketahui. Tidak berapa lama Chen merangkul leher Sehun. Membuat namja itu terhuyung mengikuti pergerakan Chen dengan Luhan yang mengekorinya. Masuk kedalam gedung setelah mendengar bel masuk berbunyi nyaring.
Siang hari disaat para siswa siswi SM SHS menghabiskan waktu makan siangnya di kantin. Kedua namja ini malah berpikir sebaliknya. Mereka saling menyudutkan tubuh mereka disalah satu rak perpustakaan yang cukup sepi sambil memagut bibir satu sama lain.
"Mhhh… Nghhh…" desahan manis mengalun dari bibir merah milik Luhan.
Sehun memiringkan kepalanya tanpa berhenti melumat lembut bibir milik si rusa. Kedua mata Sehun maupun Luhan terpejam meresapi sensasi menggelitik maupun hawa panas yang menjalar disekitar aliran darah mereka.
Sehun merapatkan tubuh Luhan yang membentur rak sementara tangannya meremas pinggang ramping Luhan sambil mengubah posisi tangan kanannya disamping kepala Luhan menuju leher mulus Luhan. Kaki Luhan mencoba menggoda paha luar Sehun dengan cara mengaitkannya.
Tidak berapa Luhan maupun Sehun melepaskan ciuman mereka secara bersamaan. Bunyi decakan terdengar diantara perpotongan bibir mereka. Luhan dan Sehun enggan mengalihkan tatapan satu sama lain.
"Luhan" bisik Sehun.
Luhan tersenyum. Bibir merekah itu hendak mengeluarkan sepatah kata sebelum akhirnya dering ponselnya mengalihkan seluruh momen manis tersebut. Luhan segera mengangkat tanpa melihat siapa si penelpon. Dia takut suara ringtone-nya membuat gaduh tempat persembunyian mereka.
"Yeoboseo?"
"Lu. Ini aku. Kebetulan aku ada disekitar Caffe dekat sekolahmu dan berniat mampir. Apa kau tidak keberatan menemuiku disini?"
DEG!
Pertanyaan Minseok membuat Luhan terdiam kaku. Sehun yang menyadari perubahan raut wajah Luhan mulai melepaskan rengkuhannya. Luhan memandang Sehun dengan ekspresi tidak rela.
"Aku sedang ada urusan Minseok-ssi…"
"Ohh… Begitu" nada kecewa sedikit terdengar dari suara Minseok.
Sehun menggelengkan kepalanya. Mencoba memberi tahu Luhan bahwa dia tidak seharusnya berbohong seperti tadi. Namun Luhan acuh dan berjalan menjauh. Sehun mengikutinya sambil membisikkan sesuatu. Perkelahian kecil terjadi diantara mereka selagi ponsel Luhan masih tersambung ke Minseok.
"Lu, apa itu Sehun? Kau… Sedang bersamanya bukan?" terka Minseok membuat tubuh Luhan dan Sehun kaku seketika.
"K—kau bicara apa Minseok-ssi? Aku sedang sendirian di perpustakaan" dusta Luhan gugup.
Minseok tersenyum masam meski Luhan tidak meihatnya. "Kemarilah, Lu. Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu" ucap Minseok tanpa meninggalkan kesan lembutnya pada Luhan.
Namja rusa itu meneguk ludah. Perasaannya kacau balau. Dia tidak ingin melepaskan Sehun, namun disisi lain dia tidak tega menghianati Minseok yang begitu baik padanya.
"Baiklah. Tunggu aku sebentar, Minseok-ssi"
Tidak berapa lama Luhan sampai di Caffe yang Minseok katakan.
Namja cantik itu mulai berjalan pelan kearah meja Minseok yang sedang tersenyum manis. Pria dewasa itu menyuruh Luhan untuk duduk dan mulai memesankan Luhan minuman. Luhan menolak dengan halus. Kedua tangannya terkepal dipaha. Kepala Luhan tertunduk bagai anak yang bau dituduh mencuri sekotak permen. Jantungnya juga dipaksa untuk bergemuruh kencang. Luhan bergerak gelisah.
Apa Minseok sudah mengetahui bahwa dia bermain dibelakangnya?
Luhan merasa sangat jahat saat ini.
"Luhan-ah" panggil Minseok melihat Luhan tidak kunjung menatapnya.
Kepala Luhan terangkat pelan dan dia terkejut menemukan sebuah senyuman tulus dibibir Minseok. Airmata seketika terbendung dikelopak matanya. Luhan merasa dia adalah manusia rendah sekarang.
"Minseok-ssi… Maafkan aku…" isak Luhan dengan suara nyaris hilang.
Minseok melipat kedua tangannya diatas meja lalu menaikkan alisnya pertanda tidak mengerti. Senyuman itu masih disana dan tidak kunjung menghilang. Menimbulkan hati Luhan yang teriris berkali-kali.
"Aku… Sebenarnya—"
"Kau tidak perlu meminta maaf Luhan" ucap Minseok.
Pria berusia dua tahun lebih tua dari Luhan itu mengulurkan tangannya. Luhan tidak paham. Tapi setelah Minseok mengatakan 'tanganmu', Luhan segera memberikannya.
Betapa Luhan terkejut ketika Minseok menyentuh lembut tangannya. Cincin pertunangan mereka berdua ditarik pelan dari jemari si rusa.
"Min—"
"Kau bebas sekarang Luhan-ah. Maaf telah membuatmu menuruti permintaan konyol ayahku. Tidak seharusnya kau berbuat begitu. Kau tidak perlu menahan diri lagi" jelas Minseok sambil terkekeh kecil.
Nafas Luhan terkecat ditenggorokan ketika Minseok mengalihkan pandangannya keluar jendela. Disebrang Caffe dia melihat Sehun yang berdiri memperhatikannya sedari tadi. Sebutir airmata meluncur begitu saja dipipi Luhan.
"Kau mencintainya bukan? Kurasa Oh Sehun-lah yang terbaik untukmu, Luhan. Bukan aku. Meski aku memang sungguh-sungguh menyukaimu sedari dulu. Tapi aku sudah tahu bahwa aku sekarang sama sekali tidak mempunyai celah didalam hatimu" papar Minseok lalu menyeruput kopi yang tadi dipesannya.
"Minseok-ssi" lirih Luhan.
"Terima Kasih…" tambahnya lagi.
Minseok kembali mengulaskan senyum lembut. Pria itu mengusak rambut Luhan yang terkekeh sambil menangis. Luhan beranjak pergi dari tempat duduknya. Meninggalkan Minseok yang masih memperhatikan cincin pertunangannya dengan Luhan.
Hembusan nafas berat terdengar dari mulutnya. Sebuah senyuman masam dia lampirkan tanpa bisa dicegah lagi. Cincin bersinar itu seketika tenggelam didalam kopi yang baru saja dia minum. Hatinya memang sakit. Tapi dia lebih menginginkan Luhan bahagia.
Ya. Meski bukan dia yang dapat membahagiakan pria tercintanya.
.
.
.
Sebentar lagi bulan November memasuki tanggal terakhir. Mendekati angka dua puluh tujuh suasana hati Chanyeol semakin berbunga-bunga. Tapi itu tidak bertahan lama ketika kedua orang tuanya mengumumkan bahwa tanggal tersebut menjadi tanggal perayaan pernikahan mereka.
Park Chanyeol merasa tidak senang.
Pasalnya, sejak sehari sebelum pesta dimulai pun Chanyeol sudah dibuat'' sesibuk mungkin selama acara persiapan itu berlangsung. Apalagi ketika hari H telah tiba, Chanyeol tetap tidak bisa meninggalkan pesta itu. Berkali-kali dia mencari Baekhyun tapi tamu lain langsung datang menghampirinya juga Kris. Keinginan Tuan Park untuk berduaan dengan kekasih mungilnya sirna sudah.
"Chanyeol. Jaga sikapmu. Kita harus menyambut para teman pembisnis ayah. Tahanlah sebentar hasratmu untuk menemui Baekhyun!" seakan mengerti, Kris memperingati adiknya dengan tegas. Hal itu sukses menurunkan semangat hidup Chanyeol seketika.
"Baiklah, dasar pemaksa!" umpatnya kecil.
Disisi lain ruangan pesta. Sosok yang dicari sedari tadi oleh Tuan Park sedang berada ditengah – tengah kerumunan kecil keluarga Park.
"Aigo, inikah namja menggemaskan yang membuat cucu berandalku itu berubah?" terka Park Aboji sambil menyipitkan mata.
Baekhyun tersenyum malu sambil berjalan. Dia membantu memapah Park Aboji ikut berjalan pelan bersama dengan Park Hana—ibu Luhan juga Luhan yang berada disampingnya.
"Namaku Byun Baekhyun, Aboji. Maaf, aku baru memperkenalkan diriku"
"Astaga Chanyeol benar-benar pintar dalam memilih. Kau memang sangat manis Baekhyun-ah" goda Hana dan Baekhyun tertawa.
"Eomma. Aku kasihan dengan Baekhyun yang menjadi kekasih Chanyeol. Dia terlalu baik untuk iblis itu" sesal Luhan merangkul lengan Baekhyun.
"Ya! Rusa lemah. Siapa yang kau maksud iblis, hah?" suara bass mengerikan itu terdengar ditelinga para manusia yang sedang berbincang-bincang.
"Chanyeol" panggil Hana yang tidak begitu terkejut atas kehadiran keponakannya.
"Permisi Kakek Tua. Apa yang kau lakukan dengan pemuda manis ini? Dia milikku" tegas Chanyeol tanpa sopan santun membuat Baekhyun melototi kearahnya.
"Chanyeol jaga sikapmu!" sahut Baekhyun.
"Tidak apa Baekhyunie. Cucuku yang brengsek ini memang sudah biasa berbicara seperti itu pada Aboji" jelas Park Aboji sembari menyindir Chanyeol.
Chanyeol menampilkan wajah setengah tidak percaya yang cukup menyeramkan. "Baekhyunie?! Yak! Sejak kapan kau boleh memberikan nama manis pada Baekhyunku, Kakek Tua?!" amuk Chanyeol bertingkah seperti anak kecil.
Chanyeol menjadi geram sendiri, namun itu tidak bertahan lama karena Baekhyun dengan cepat memukul kepalanya keras. "Jaga ucapanmu jika berbicara dengan yang lebih tua dasar Park Babo!"
"Aishh… Sakit, Baby"
"Bagus Baekhyunie! Pukul dia terus!" girang Park Aboji bersama Luhan sambil tertawa.
"Yak! Kalian berdua!" umpat Chanyeol marah. Dia berdecak kesal dan langsung menggenggam tangan Baekhyun— menariknya berjalan menjauhi kakeknya yang terus memanggil-manggil nama Baekhyun.
"Chanyeol! Lepaskan! Kita masih ditengah-tengah pesta. Kau mau pergi kemana?" cemas Baekhyun sambil mengikuti langkah besar Tuan Park.
"Kita akan bercinta dan kau tidak boleh protes!" paparan mutlak Chanyeol berhasil melebarkan bola mata Baekhyun juga pipi yang memerah padam.
"Apa?! Aku tidak mau!"
Chanyeol seketika menghentikan langkahnya. Tubuhnya berbalik lalu menatap tajam Baekhyun yang terlihat ketakutan. Seharusnya dia tidak bicara 'tidak mau' karena Chanyeol tak pernah menerima penolakan. Ingat! Pria tinggi itu dapat menjadi sangat keras kepala.
"Apa tadi yang tadi kau katakan, Sayang?" tanya Chanyeol dengan nada lembut membuat Baekhyun merinding.
"Ma—maksudku bukan aku tidak mau. Tapi…"
"Hem? Tapi apa?" Chanyeol tersenyum sembari mendekatkan tubuhnya perlahan pada Baekhyun.
"Aishhh! Ki—kita masih dipesta dan disini sangat ramai Yeol. Bagaimana jika suaraku terdengar" ungkap Baekhyun malu.
Chanyeol semakin mengembangkan senyumnya. Baekhyun kalah lagi. Pria mungilnya ini jika sedang dilanda rasa gugup memang selalu menggemaskan. Tapi perkataan Baekhyun ada benarnya.
Keluarga Chanyeol sedang menyewa sebuah mansion mewah yang terdapat di Pulau Jeju. Hanya untuk menyelenggarakan pesta pernikahan orang tua Chanyeol. Sehingga tamu yang diundang tidak diragukan lagi. Mereka semua adalah orang-orang berkelas dan berasal dari kalangan atas. Jika Chanyeol dan Baekhyun ingin melakukan perbuatan tidak senonoh itu ditengah berlangsungnya acara. Mereka harus memilih tempat yang tepat.
"Baiklah kita cari tempat kosong yang kupastikan kedap suara"
Chanyeol kembali melangkahkan kakinya sementara Baekhyun hanya bisa pasrah. Mata bulat itu melirik sebuah rungan kecil disamping tangga yang cukup sepi. Kelihatannya tempat itu bagus untuk bercinta. Lagipula kamar di mansion ini sudah penuh oleh keluarga maupun kerabat jauh. Jadi mereka tidak bisa memakainya dengan sembarang.
Entah mengapa pintu ruangan kecil itu sangat susah untuk dibuka. Ketika Chanyeol berhasil membuka pintu ruangan itu matanya dipaksa membulat lebih besar dari ukuran aslinya. Ternyata tempat itu sudah berpenghuni oleh kedua insan yang sedang bergumul panas.
"KYUNGSOO!" pekik Baekhyun histeris.
Kai maupun Kyungsoo terdiam sejenak dari kegiatannya. Namun Kai acuh terhadap jeritan Baekhyun. Dia kembali menghajar Kyungsoo yang sedang menungging dibawahnya.
"Ngghh... Uhhh… Baekhyun-ahh..."
"Yak! Tidak bisakah kau menutup pintunya?! Aku tidak bisa fokus dan kami hampir klimaks! Kenapa kalian selalu saja menggangguku bercinta dengannya?!" geram Kai tidak berhenti memaju mundurkan tubuhnya meski Chanyeol dan Baekhyun—yang sudah memerah padam, masih menatapnya.
"Cih. Brengsek! Mentang – mentang kalian baru saja menikah!" desis Chanyeol yang akhirnya menutup pintu itu dengan cara membantingnya.
Dia kembali menggenggam tangan Baekhyun kemudian berjalan menjauh dari kedua namja yang masih mendesah-desah hendak merusak pendengarannya. Sebenarnya Chanyeol maupun Baekhyun maklum saja dengan tindakan Kai dan Kyungsoo. Karena mereka berdua telah resmi menikah secara dadakan seminggu yang lalu.
Setelah lama berputar-putar tanpa suara. Chanyeol dan Baekhyun kelelahan. Keinginan Tuan Park untuk bercinta juga sudah menguap terbawa suasana riuh pesta.
Mereka berakhir dengan duduk disebuah bukit kecil yang menghadap hamparan laut indah Jeju. Keramaian pesta dibelakang mereka masih terdengar. Namun seakan peduli, Chanyeol lebih mementingkan momennya berduaan bersama Baekhyun.
"Baek, kau melupakan sesuatu?" tanya Chanyeol yang akhirnya memecah keheningan mereka.
"Lupa apa?" Baekhyun menoleh acuh pada Chanyeol.
Pria itu nyaris tidak percaya dengan apa yang namja mungil ini katakan. Mengapa Baekhyun-nya menjadi bersikap cuek dan pelupa seperti ini? Oh, jangan bilang otak Baekhyun mendadak tidak fokus akibat pemandangan menggelikan Kyungsoo dan Kai tadi.
"Hari ini, Baek kau lupa hari ini hari apa?"
"Hari sabtu. Memang kenapa kau bertanya?"
"Aku tidak peduli sekarang hari sabtu!"
"Tapi tadi kau bertanya hari!" sungut Baekhyun ikut sewot seperti Chanyeol.
Chanyeol menghembuskan nafasnya. Dia mencoba sabar. Mungkin Baekhyun memang masih tidak fokus akibat adegan mengejutkan tadi.
"Baiklah. Aku mengganti pertanyaanku. Tanggal Baek. Sekarang tanggal berapa, Sayang?" tanya Chanyeol kembali bersikap manis sambil memandang lekat Baekhyun.
Namja itu mengerutkan alis dengan bibir manyun. Dia terlihat berpikir keras mencoba mengingat sesuatu. Sementara Chanyeol masih menunggu penuh harap. Baekhyun dapat mengingat hari ulang tahunnya.
"Jadi sekarang kau amnesia dan melupakan hari maupun tanggal eoh? Apa kau tidak membaca kalender ponselmu sebelum kau bangun pagi?" tutur Baekhyun polos membuat Chanyeol terbaring lemas seketika dirumput bukit.
"Argghh! Kau yang melupakannyaaaaa!" teriak Tuan Park frustasi sambil menutup mata menggunakan lengannya.
Baekhyun tersenyum sesekali menahan tawa melihat cara Chanyeol merajuk. Tingkahnya semakin lama semakin bodoh. Baekhyun menyukai hal itu dari Chanyeol. Park Babonya sangat lucu jika bereaksi seperti ini.
Chanyeol bangkit terduduk dengan tiba-tiba membuat Baekhyun setengah terkejut. Pria ganas itu menatap sangar Baekhyun. Mata bulat Chanyeol seolah menyedot seluruh isi perhatian Baekhyun dan tidak dapat dipungkiri. Dia jatuh cinta dengan pandangan Chanyeol yang begitu dalam padanya.
"Byun Baekhyun…"
"Ya?" jawab Baekhyun masih bersikap acuh.
"Kau benar-benar lupa hari ini hari apa?" tanya Chanyeol mengandalkan suara baritonnya.
Baekhyun mengangguk menggunakan senyum lembut. Jantung Chanyeol berhenti berdetak. Dia hendak marah ketika dengan santainya Baekhyun bilang bahwa dia lupa. Tapi itu tidak jadi setelah melihat si mungil tersenyum.
"Ahh… Sudah lupakan saja" lirih Tuan Park sedih.
Chanyeol mengerutkan tubuhnya. Menenggelamkan wajah pada lengan kekarnya sambil terduduk lemas. Baekhyun tertawa kecil. Wajah Chanyeol berubah menjadi sangat jelek saat ini.
Maka Baekhyun membawa telapak tangannya menyentuh permukaan wajah kekasih tampannya. Chanyeol menoleh dengan lesu. Sekarang tidak ada jarak diantara mereka berdua. Baekhyun kembali tersenyum lalu berucap didepan bibir Chanyeol.
"Selamat Ulang Tahun, Park Babo kesayanganku. Aku mencintaimu"
Setelahnya, Baekhyun kemudian menyatukan bibirnya dengan bibir Chanyeol. Chanyeol tidak terkejut juga tidak mengelak meski dia kesal tadi. Jantungnya justru berdetak cepat dan dadanya menghangat. Dia memejamkan mata ketika merasakan sapuan halus bibir Baekhyun yang mulai bergerak. Bahkan Chanyeol tersenyum disela-sela dia hendak memagut bibir Baekhyun.
Ditemani suara hamparan ombak yang menderu-deru dibawah sana. Juga angin sejuk yang berhembus menerpa kulit. Chanyeol dan Baekhyun masih berciuman dengan begitu lembut dominan pelan. Seolah waktu akan mengikis detik-detik momen kebersamaan mereka berdua.
Baekhyun melepaskan pagutan mereka perlahan. Dia membuka mata dan melihat Chanyeol masih menutup matanya. Jemarinya perlahan mengusap pipi Chanyeol yang terlihat menikmati sentuhannya.
Chanyeol membuka matanya. Dia melihat garis semu berwarna merah dipipi chubby milik Baekhyun. Baekhyun mulai mengigit bibirnya sambil memainkan jarinya.
"Aku tahu, hari ini kau mendapat berbagai kado mahal dari para teman-temanmu. Dan aku… tidak bisa memberikan kado semahal itu untukmu. Jadi aku tidak tahu harus bagaimana. Apa tidak apa-apa jika aku hanya memberikan ciuman tadi sebagai kado untukmu?" tanya Baekhyun ragu-ragu.
Chanyeol masih menatap Baekhyun dengan mata bulatnya. Demi Tuhan! Park Chanyeol sangat ingin memeluk Baekhyun erat sambil berteriak menyerukan bahwa dia bahagia, ciuman tadi sangatlah menyenangkan hatinya lalu berakhir diranjang bersama Baekhyun. Tapi dia berusaha menahannya hanya untuk melihat wajah manis malu-malu milik Baekhyun-nya sekali lagi.
Baekhyun semakin mengigit bibirnya mengetahui Chanyeol tidak merespon. Pria mungil ini mendesah kecewa. Kadonya terlalu sederhana dan tidak bermakna. Tentu saja Chanyeol tidak suka. Padahal Chanyeol selalu memberikan segala hal yang terbaik untuknya. Tapi Baekhyun tidak bisa membalasnya. Dia merasa bodoh.
Tapi Baekhyun tidak menyerah. Dia masih memiliki alternatif lain yang memang terkesan sangat gila untuk ukuran namja pemalu sepertinya. Namun demi hari besar kekasih tercintanya. Dia harus membuang jauh-jauh semua rasa malunya.
"Ka—kalau kau mau. Aku bisa menjadi milikmu seharian ini" tawaran Baekhyun begitu ambigu.
Tapi Chanyeol—yang dasarnya memang otak mesum, dapat langsung mengerti maksud Baekhyun. Dia terus mencoba menahan tawa dan melihat sejauh mana Baekhyun akan berusaha menarik perhatiannya.
"Jadi kau ingin aku menyetubuhimu sekarang juga begitu?" terka Chanyeol membuat jantung Baekhyun berdebar menjadi-jadi.
Baekhyun mengangguk.
"Dan kau ingin aku melakukan itu padamu seharian? Kau berjanji tidak akan protes dan mengeluh bahkan jika aku berlaku kasar?"
Baekhyun mengangguk pasrah lagi dengan wajah memerah padam. Astaga, Chanyeol benar-benar sudah tidak tahan. Saat itulah Park Chanyeol tertawa sangat keras. Baekhyun membulatkan mata melihat tindakan Chanyeol. Menyadari Chanyeol sedang bercanda, Baekhyun merenggut kesal lalu mulai berdiri— hendak berjalan namun Chanyeol segera memeluknya erat.
"Astaga kau menggemaskan sekali Baek!"
"Yak! Lepaskan aku dasar Park Babo! Aku sudah mempermalukan diriku sepenuhnya demi kau tapi kau malah!" amuk Baekhyun dan Chanyeol tertawa sambil mengecupi wajah Baekhyun.
"Baiklah. Baiklah aku minta maaf. Habis tadi kau berkata kau melupakan hari ulang tahun kekasihmu yang paling penting sedunia. Ini hukuman untukmu!"
"Cih, apa bagusnya hari ulang tahun? Kau hanya akan bertambah tua dan menambah umur menuju kematianmu Yeol" sungut Baekhyun masih marah.
"Yak! Kau sangat jahat Baby!"
"Haha rasakan!"
Baekhyun tertawa jahil melihat ekspresi Chanyeol.
"Kau benar-benar harus dihukum akan perkataanmu Byun Baek!"
Baekhyun gelagapan sendiri mendengar pernyataan Chanyeol. Pria jangkung itu menggenggam tangan Baekhyun berjalan menuju ruangan pesta kembali. Dia menaiki panggung didepan meja pengantin yang sedang menyantap makanan.
"Tes" ucap Chanyeol megecek microfon yang dipegangnya.
Suara bass itu menarik perhatian kedua orang tuanya maupun tamu undangan. Mereka segera merapat untuk mendengar perkataan Chanyeol yang mereka kira Chanyeol hendak memberikan beberapa sambutan atas pernikahan ayahnya. Kris, Tao, Luhan dan Sehun yang duduk disamping mempelai pria ikut memperhatikan dengan seksama. Bahkan Kai dan Kyungsoo juga hadir disana—mungkin urusan mereka sekarang telah selesai.
Tuan Park berdehem sejenak melancarkan tenggorokannya sambil terus menggenggam tangan Baekhyun yang sedang gelisah sendiri.
Apa dia akan menghukum Baekhyun dengan cara bercinta dihadapan para tamu? Oh, tidak mungkin… Baekhyun harap Chanyeol masih dapat berpikir waras.
"Pertama-tama, aku ingin mengucapkan selamat kepada ayahku, Park Seunghyun yang akhirnya bisa menikahi ibu, Michele Wu yang sangatlah cantik. Sialnya, ayahku benar-benar pria beruntung sekarang" papar Chanyeol sambil mengedipkan mata pada ibu barunya yang tertawa.
"Dasar anak nakal!" komentar Seunghyun sesekali terkekeh kecil.
"Baiklah. Jadi, aku berdiri disini karena ingin memberitahu kalian sesuatu yang memang seharusnya aku katakana dengan meriah dan penuh keromantisan dihari pertunangan ayahku malam itu. Tapi sayang sekali, Luhan telah merusaknya. Brengsek kau Luhan!" umpat Chanyeol memandang tajam Luhan yang duduk disebelah Sehun.
Namja rusa itu mengerutkan dahi.
"Ya! Kenapa jadi salahku?"
"Jadi aku akan mengulang reka adegan yang sebetulnya hendak terjadi pada malam itu dihadapan kalian semua" jelas Chanyeol mengabaikan pertanyaan Luhan.
Chanyeol mendekatkan tubuhnya pada Baekhyun dan melepaskan cincin manis yang mengalung dijemari si mungil.
"Yeol. Kau mau apa?"
Pria tampan itu tersenyum. "Mendapatkan kado terbaikku darimu, Baek"
Baekhyun dibuat heran. Namun ketika Chanyeol menjauhkan mic tadi dan mulai berlutut dihadapannya. Tubuh Baekhyun mendadak kaku seketika.
"Byun Baekhyun. Aku melamarmu dihadapan kedua orang tuaku, ibumu, juga para tamu yang menjadi saksi cinta kita" ucap Chanyeol tegas lalu tersenyum sambil menyodorkan cincin bersinar itu.
"Aku tidak sempurna. Sejak dulu aku hanyalah iblis yang tersesat. Namun cahaya dari hati malaikatmu yang menuntunku padamu. Jika kau bertanya apa kado terbaik yang bisa kau berikan padaku dihari ulang tahunku ini. Jawabannya adalah kau. Kau, Baekhyun. Yang jikanya bersedia menjadi pendamping hidupku. Aku tidak ingin memilikimu hanya seharian ini. Aku ingin memilikimu selama waktu bahagia yang bisa aku habiskan bersamamu.
Aku tidak akan takut jika berkali-kali kita dipisahkan oleh orang-orang yang hendak menghancurkan kita. Aku tidak peduli dengan mereka. Karena aku akan terus mengejarmu kemana pun kau pergi. Melindungimu dengan segenap kekuatanku dan terus menemanimu disaat kau bersedih. Aku berjanji. Maka dari itu… Menikahlah denganku Byun Baekhyun"
Penuturan Chanyeol membuat Baekhyun benar-benar tidak dapat bergerak dari tempatnya. Bahkan bernafas saja sulit. Chanyeol mengatakannya dengan tegas dan tanpa keraguan sedikit pun. Bahkan saat dia mengucap kata 'janji'.
Tidak bisa dipungkiri Baekhyun tersentuh. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Suara para tamu maupun teman-temannya yang riuh pun menjadi tidak terdengar. Dia hanya bisa mendengar suara Chanyeol yang mengatakan 'Aku juga mencintaimu' diakhir kalimatnya tadi sebelum dia mencium Chanyeol di bukit.
Baekhyun maju selangkah mendekati Chanyeol. Tamu – tamu itu menunggu dengan jantung berdebar seperti yang Chanyeol rasakan. Kaki Tuan Park kebas dan tangannya sedikit gemetar. Meski Chanyeol sudah yakin Baekhyun akan menerima lamarannya tetap saja dia merasa gugup.
Airmata Baekhyun sudah menggenang dipelupuk matanya. Baekhyun menundukkan tubuhnnya lalu memeluk Chanyeol. Tubuh Chanyeol membeku ketika Baekhyun menganggukkan kepalanya.
Suara gemuruh para tamu yang bergembira memecah keheningan tersebut. Bahkan Seulgi yang juga hadir disana turut menyaksikan dengan senyum kebahagiaan. Mereka bertepuk tangan menghargai keberanian Chanyeol mengungkapkan hubungannya. Chanyeol berdiri lalu membawa tangannya pada tangan Baekhyun. Memasangkan cincin bersinar itu dijemari Baekhyun dan mengecupnya lembut. Mereka saling memandang satu sama lain. Sampai akhirnya Chanyeol mengecup manis kening Baekhyun penuh cinta.
.
.
.
.
Lima Tahun kemudian.
Sosok pria berparas manis terlihat sedang membersihkan gelas-gelas dihadapannya. Dia begitu telaten dalam mengerjakan pekerjaanya. Para pengunjung yang baru masuk kedalam pintu berdenting dia sambut dengan senyuman manis. Setelah selesai dengan gelas-gelas itu. Dia mengusap tangannya pada apron hitam yang dia kenakan.
"Baeby tolong bantu eomma. Ambilkan beberapa botol dibelakang" pinta sang Ibu.
Namja itu mengangguk patuh lalu berjalan kedalam ruang staf. Mengambil kotak kayu berisi botol-botol milk cream juga bubuk kopi.
Tidak berapa lama, seorang pemuda tinggi memasuki Caffe tersebut. Aroma kopi diseluruh ruangan langsung menyerbak masuk kedalam indra penciumannya. Musik jazz yang mengalun lembut semakin mendukung suasana tenang untuk bersantai.
Pria itu duduk dimeja bartender Caffe lalu memesan sesuatu. Seorang pegawai bernametag Lay langsung melayaninya. Meracikkan pesanan yang sudah biasa dia minum jika pria itu berkunjung kemari.
"Lama kau datang tidak kesini yah. Kau menjadi sangat sibuk setelah menjadi pemimpin perusahaan. Kau juga sudah tidak terlihat seperti bocah sekolah menengah lagi" tutur Lay dan pria tampan itu tersenyum sembari meniup kopinya.
"Tentu. Sekarang urusanku dikantor bertambah. Tidak punya waktu luang banyak hanya sekedar beristirahat"
"Aku bisa melihat itu" kekeh Lay menanggapi ucapan si Tampan.
Sambil menikmati kopinya tiba-tiba saja pria tampan itu mendengar suara pecahan yang berasal dari belakang meja bartender. Lay segera menghampiri sumber suara itu. Keributan kecil nyaris terjadi disana. Karena penasaran, kepala pria itu terjulur untuk melihat seseorang yang sedang berjongkok sembari membersihkan pecahan botol-botol tersebut.
Entah mengapa dia merasakan euphoria dejavu menghampirinya. Sudut bibir pria berusia dua puluh empat tahun itu terangkat. Dia kembali mengingat pertemuan pertama dengannya. Seolah garis takdir kembali mengingatkannya pada kejadian seperti ini yang membawanya pada cinta sejati.
"Lay, cepat bersihkan pecahan botol ini. Nanti lantainya akan menjadi lengket jika didiamkan dan Baby kau gantikan tugas Lay dulu sementara" omel sang pemilik Caffe lalu berjalan pergi.
Namja itu berdiri sedikit gelisah lalu tubuhnya membeku ketika melihat seseorang yang sedang duduk dengan cangkir yang telah kosong.
"Kau…" lirihnya tidak percaya.
Namja itu tersenyum lembut. Dia menyodorkan cangkirnya yang telah kosong pada pemuda manis dihadapannya.
"Bisa aku minta tambah?" pintanya.
Pemuda manis ini mengangguk lalu membuatkan Cappucino seperti yang selama ini dia lakukan untuk pria yang sedang dibelakanginya. Setelah kopi tersebut selesai dibuat. Namja itu memberikannya lalu menopangkan sikutnya pada meja bartender sambil memperhatikan Park Chanyeol yang tengah menyeruput Cappucino buatannya.
"Enak?" terkanya melampirkan sebuah senyuman.
Chanyeol membalas senyum memabukkan itu.
"Kau tidak perlu bertanya lagi, Baeby" balas Chanyeol lalu memegang pipi Baekhyun dan mencium bibirnya perlahan. Mengabaikan fakta bahwa mereka sedang ditempat umum meski pengunjung tidak begitu banyak disore hari ini.
"Aku merindukanmu, Park Babo" bisik Baekhyun masih bertahan dalam posisinya tanpa mau melepaskan bibir mereka.
Chanyeol tersenyum lagi. "Aku juga. Aku sangat merindukanmu".
Mereka hendak menyatukan bibir mereka lagi.
Namun—
"APPA!"
Suara pekikkan anak kecil mengagetkan kedua namja itu. Chanyeol nyaris terjungkal kebelakang dari kursinya. Ketika seorang gadis mungil berusia empat tahun menarik jaket tebalnya dengan cukup kuat. Tidak berapa lama seorang namja cantik ikut berlari masuk kedalam Caffe sambil menggandeng seorang anak laki-laki.
"Kenapa Appa malah kabur kesini?! Pantas saja aku cari tadi Appa tidak ada! Appa benar-benar menyebalkan!" sunggut gadis itu sambil menghentakkan kakinya.
Chanyeol hendak membuka mulut menenangkan gadis mungilnya. Tapi sepupu terbaiknya sudah terlanjur emosi sampai mulai menyemburnya dengan makian.
"Chanyeol! Kau keterlaluan sekali meninggalkan Sena sendirian di taman! Untung dia pintar bisa mengingat arah Caffe Baekhyun! Sikap kekanakanmu benar-benar bodoh!"umpat Luhan lalu menjitak kepala Chanyeol.
"Yak! Luhan!"
"Park Chanyeol! Jadi kau meninggalkan anak kita sendirian di taman?!" kali ini Baekhyun yang mengamuk setelah tahu kondisi sebenarnya.
"Tapi, Baek aku merindukanmu. Kita sudah tidak bertemu selama seminggu karena aku keluar negeri dan ketika pulang malah Sena yang menjemputku di bandara. Dia bahkan menyuruhku menemaninya bermain ditaman dekat sini sebentar—"
"Eomma!"
Gadis mungil bernama Sena langsung memblok perkataan ayahnya dengan cara mengangkat kedua tangannya dihadapan Baekhyun. Dia meminta digendong oleh Baekhyun yang masih berdiri dibelakang meja Caffe. Baekhyun terenyuh melihat sikap menggemaskan putrinya. Dia mengabaikan rengekan Chanyeol lalu menggendong Sena sambil mengelusnya penuh kasih sayang. Sementara suaminya merenggut kesal sesekali mengaduh kesakitan akibat pukulan Luhan.
"Ini tidak adil, Sena! Sudah seminggu appa di Jerman dan tidak bertemu eommamu kau sekarang malah mengambil jatah appa?" komentar Chanyeol lesu dan Sena tertawa melihat ekspresi jelek ayahnya.
Chanyeol menarik sudut bibirnya melihat tawa manis Sena. Sebesit ide jahil terlintas dibenaknya. Tangan besar Chanyeol menggelitiki perut Sena sampai gadis itu tertawa menangis minta ampun. Baekhyun juga tidak mau kalah. Dia menggoda Sena dengan cara mengecupi wajahnya.
Melihat hal itu Luhan segera menggandeng Jinwoo—anak laki-lakinya dengan Sehun, lalu pergi mencari kursi kosong di Caffe.
"Ada-ada saja keluarga mereka. Untung saja Appamu tidak semanja itu Jinwoo-ya" kekeh Luhan dan Jinwoo mengangguk dengan wajah polosnya.
Chanyeol akhirnya berhenti menggelitiki Sena lalu tersenyum memandang kedua malaikat tercintanya. Entah sejak kapan mimpinya menjadi kenyataan. Dia sudah tidak sendiri lagi dan saat ini tengah diberi kebahagiaan luar biasa. Termasuk dari Baekhyun yang tenyata memiliki anugerah lebih hingga mereka mendapatkan si mungil Park Sena.
"Selamat datang kembali Appa" sambut Baekhyun lalu mengecup pipi Chanyeol.
Chanyeol balas mencium kening Baekhyun lembut. Sementara Sena hanya memandang dengan mata polos kelakuan kedua orang tuanya.
"Sena juga mau dicium!" titah Sena penuh rasa iri membuat Baekhyun dan Chanyeol tertawa. Sifatnya memang sama sekali seperti Chanyeol. Kemudian Chanyeol segera menggendong Sena dan mengecupi pipi chubby Sena yang diturunkan oleh Baekhyun.
Kehangatan menyelimuti keluarga kecil Park yang memulai lembaran petualangan baru untuk Chanyeol maupun Baekhyun setelah Park Sena lahir.
Melewati cerita yang berliku-liku akan manis pahitnya kehidupan. Pada akhirnya cinta mereka dapat tersampaikan dan akan terus berjalan seiringnya waktu yang tidak pernah berhenti berputar.
Seperti jika kita menyimpan rapi sebuah foto penuh memori disetiap lembarannya. Kenangan tersebut tidak akan pernah pudar dan setia menjadi pengingat bagi kisah mereka.
We keep this love in this photograph
We made these memories for ourselves
Where our eyes are never closing
Hearts were never broken and time's forever frozen still –Ed Sheeran Photograph-
THE END
.
.
.
.
.
Sehyun's Notes:
/sujud syukur/
Akhirnyaaaaa ff YAOI pertama Sehyun bisa selesai juga setelah sekian lama \\T^T/ MANSEE!
Pas nulis kata The Endnya sehyun cukup terharu entah mengapa haha /abaikan/
Sehyun mengucapkan terima kasih sebesar besarnya bagi para readers yang udah setia ngebaca ff sehyun sejak setahun yang lalu sampai ending/hiks/ Buat Bebe Myeon & Jong untuk saran dan masukan karakter sampai keceritanya— semoga kita bisa berfujioshi ria selalu hohoho ^^ Eonni-eonni, Saeng-saeng, Oppa, happiness de light-ku yang aku jadikan bahan buat ff ini haha, silent readers yang udah pada bertobat, yang Mem-Fav, Mem-Follow ff ini, juga yang kasih semangat terus di Facebook sampai twitter Sehyun Sangat Sayang Kalian Semuaa!
Tanpa kalian Sehyun gak bakal bisa ngelanjutin ff amatiran ini. Apalagi setelah sehyun menghadapi banyak banget cobaan seperti rumor baekyeon juga kehilangan bias tercinta yang balik ke Beijing :') /ah, gege tunggu sehyun hohoho~
I LOVE YOU ALL! :*:*:* {}{}{}
Terima Kasih bagi yang sudah membaca Bad Boy BaekYeol sampai akhir!
Kalian Semua LUAR BIASA /heart sign with appa Yeol & umma Baek/
.
.
.
.
.
.
Sehyun sudah merencanakan 2 sequel untuk badboy baekyeol. Tapi satu cerita berikutnya menceritakan kehidupan anak perempuannya ChanBaek. Bagi yang setuju Sehyun bikin Sequel komen di kotak review yah hehe.
Nantikan juga project ff ChanBaek Sehyun selanjutnya !
Akhir kata!
Salam YEHET untuk semua CBS ^_^v
