Bad Boy BaekYeol Sequel
Married a Bad Boy (Part 1)
Cast :
ChanBaek's
EXO Members
Kang Seulgi
Jackson Wang
Disclaimer :
FF ini murni imajinasi dari sehyun sendiri. Jika FF sehyun memiliki kesamaan cerita silahkan dikomen atau kritik pedes sekalian juga gakpapa. So! NO PLAGIAT atau COPAS TANPA IZIN yah Chingudeul Saranghae! Semua cast milik TUHAN kecuali LUHAN yang punya hati Sehyun hehe~ ^_^
No Bash! Love and Peace! Don't forget!
YAOI! BOY X BOY!
Summary :
ChanBaek berencana menikah setelah lulus SMA. Kedua orang tua Chanyeol maupun ibu Baekhyun tidak setuju terhadap tanggal pernikahan mereka yang terlalu terburu – buru. Chanyeol mendapat syarat, yaitu seminggu tidak bertemu Baekhyun sampai tiba waktunya mereka berdiri di Altar. Mampukah Chanyeol mengatasi tantangan tersebut?
.
.
.
.
Special For Park Chanyeol's Birthday!
Happy Bithday Papah! (maaf agak telat yang penting masih bulan November kan? Hehe) Semoga kekar selalu (?) dan semakin tamvan tiap harinya! Maafkan anakmu ini suka khilaf setiap melihat lekukan menggoda milik mamah Baek punya kkkk.
I LOVE YOU! *heart sign*
We are One!
Enjoy
.
.
.
-BaekYeol Area-
"Appa, Mama, aku dan Baekhyun ingin menikah minggu depan"
Pernyataan Chanyeol membuat seluruh orang – orang— khususnya keluarga Park yang sedang berkumpul diruang tengah seketika terdiam. Beberapa dari mereka membulatkan mata. Terkecuali Park Haraboji yang matanya memang sudah sangat sipit. Pria berusia tujuh puluh tiga tahun itu hanya mengelusi jenggot panjangnya seolah sedang berpikir.
Posisi kedua namja yang sedang meminta restu tersebut sangatlah formal. Baekhyun masih dengan setia duduk bersimpuh menemani Chanyeol disebelahnya sembari menggigit bibir. Namja mungil itu menundukkan kepalanya dengan tangan terkepal dikedua lututnya.
Bagaimana bisa Baekhyun tidak menunjukkan ekspresi cemas? Tentu saja. Dua jam setelah mereka melaksanakan upacara kelulusan. Chanyeol segera meminta seluruh keluarganya berkumpul—termasuk teman – teman sekelompoknya, para penguasa sekolah untuk menjadi saksi permintaan konyol mereka berdua.
"Park Chanyeol, kau sudah gila?" Park Seunghyun akhirnya membuka suara setelah keheningan yang terjadi beberapa menit sebelumnya.
Chanyeol mengerutkan alisnya mendengar perkataan sarkastis ayahnya. Mata bulat itu mengarah pada ibu barunya. Bibir Chanyeol memanggil sang ibu— Michele Park, dengan sebutan 'Mama' karena dia bilang dia sudah terlanjur memanggil ibu Baekhyun dengan 'Eomma'. Menurutnya itu hanya sekedar pembeda saja. Lagipula Michele juga tidak merasa masalah dengan hal tersebut.
Chanyeol memperlihatkan muka memohon yang serius. Michele memperhatikan anak lelaki maupun suaminya bergantian. Dia berdehem sejenak saat merasakan kecanggungan diantara kedua namja bermarga Park ini.
"Begini, Sayang. Sebaiknya kau dan Baekhyun duduk dulu dikursi. Baru kita bicarakan hal ini baik – baik ya?" pinta Michele dengan lembut.
Chanyeol menggeleng tegas.
"Tidak, Ma. Aku tidak akan beranjak sampai Appa menjelaskan kenapa permintaanku terdengar gila" desis Chanyeol menatap dingin Seunghyun.
Mereka bertatapan sengit seolah akan terjadi pertumpahan darah dalam beberapa menit lagi.
"Sudahlah Chanyeol. Apa yang kau katakan memang tidak masuk akal!" bisik Baekhyun sambil menyikut kekasihnya.
"Sssstttt. Diam, Baby! Tidakkah kau lihat aku sedang berusaha mendapatkan masa depan kita?!" balas Chanyeol berbisik penuh penekanan hingga Baekhyun mengeryit kesal.
"Berusaha? Apa kau tidak merasa permintaan kita—maksudku, permintaanmu ini memang terlalu cepat?!"
"Aishh! Tidak bisakah kau diam saja dan tunggu mereka berkata 'ya'?! Sebentar lagi mereka akan berkata Ya dan kita akan menikah!"
"Kenapa pikiranmu dangkal sekali?! Tentu saja tidak Chanyeol! Berpikirlah dengan waras!" bisik Baekhyun lebih keras.
"Yak! Tadi disekolah kau tidak protes saat aku mengatakan aku akan menikahimu minggu depan! Kenapa sekarang kau malah—"
"Itu karna kau membungkam mulutku dengan bibir tebalmu itu!"
Chanyeol menghembuskan satu nafas tawa diiringi dengan seringai seksinya.
"Kau tidak bisa menyalahkanku Byun Baekhyun. Bukankah kau sendiri tidak menolak sama sekali dan malah menciumiku lebih ganas? Jika kita menikah lebih cepat kita bisa melakukan hal seperti itu dimana saja bahkan seharian sampai kau puas!" papar Chanyeol terlanjur bersemangat sambil tersenyum mesum setelah mengucapkan kata itu.
Wajah Baekhyun sontak memerah padam. Dia segera mencubit pinggang Chanyeol keras hingga namja itu berjengit kesakitan. Sementara Park Seunghyun hanya menggelengkan kepala melihat pertengkaran kecil kedua namja yang ngebet nikah ini.
"Appa! Aku tidak akan berdiri dari tempat ini sampai kau mengizinkan kami menikah minggu depan!" sahut Chanyeol.
Baekhyun mengadahkan wajahnya hendak menghentikan ucapan Chanyeol lagi. tapi pria itu malah menggenggam tangannya semakin erat membuat Baekhyun meringis kecil. Dia tahu Chanyeol tidak akan mau mengalah untuk hal ini. Meskipun namja mungil itu sedikit terharu dengan ketegasan Chanyeol tapi tetap saja Chanyeol bodoh baginya.
Lulus dari sekolah menengah bukan berarti mereka boleh menikah dengan bebas bukan? Apakah Chanyeol tidak berpikir bahwa nanti perusahaan ayahnya akan diwariskan padanya? Dia harus matang dalam mempersiapkan hal itu dimasa mendatang. Mengapa otak udang Tuan Park ini hanya memikirkan, 'Menikah dengan Baekhyun! Menikah! Menikah! Menikah! Pokoknya harus bisa menikahi Baekhyun sekarang!'
"Aku akan membahagiakannya. Aku berjanji Appa" dua kalimat yang meluncur dari bibir Chanyeol membulatkan mata Baekhyun.
Kali ini jantung Baekhyun berdebar dan dia sungguh terharu pada keseriusan Chanyeol.
"Aku juga akan meneruskan perusahaan Appa dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi jika itu yang kau inginkan pria keras kepala" ucap Chanyeol masih memandang lekat ayahnya.
Seunghyun terdiam. Michele mengatakan untuk merestui mereka namun Seunghyun masih belum mau melakukannya. Bukan dia tidak menyukai Baekhyun. Dia sangat senang Baekhyun adalah orang yang Chanyeol pilih. Tapi anak berandalnya ini tidak boleh diberi jalan semulus kulit Byun Baekhyun. Anggap saja Park Seunghyun bukan pria kaku lagi. Dia juga ingin bersenang-senang dengan Chanyeol yang sedang merendahkan diri didepannya hanya demi Baekhyun. Dan bagi Seunghyun ini sangat menarik.
"Baiklah. Aku menyutujui pernikahan kalian" ujarnya.
Chanyeol menatap Baekhyun dengan wajah sumringah. "Tapi pertama – tama kau harus mengikuti syarat yang akan aku ajukan" Seunghyun tersenyum tipis tanpa terlihat Chanyeol.
Pria beringas itu menggertakkan gigi. Mengapa susah sekali meminta restu dari pria keras kepala ini?! Chanyeol membatin.
"Baik, akan kuturuti! Cepat katakan!" titah Chanyeol kembali dalam mode angkuh bak Ketua Penguasa lagi.
"Selama persiapan pernikahan kalian dilaksanakan kau tidak boleh bertemu dengan Baekhyun" senyum Seunghyun membuat yang lain maupun Chanyeol terdiam.
Tuan Park meneguk ludah susah payah. Dia terlihat ragu. Pasalnya tidak melihat wajah Baekhyun dalam waktu sehari saja dia sudah uring-uringan. Apalagi selama itu?! Namun sekali lagi. Demi restu. Apapun akan Chanyeol lakukan.
Demi kehidupan dia dan Baekhyun.
"Aku menerimanya" tegas Chanyeol.
"Baiklah. Dalam waktu dua minggu sebelum pernikahan kalian diselenggarakan kau dilarang mendekati atau bersentuhan dengan Baekhyun barang sedikit pun, Park Chanyeol"
Mata Chanyeol melotot hebat. Dia nyaris berdiri dari posisinya.
"APA?! DUA MINGGU?!"
Ohh, sepertinya Tuan Park lupa menanyakan berapa lama jangka waktu syarat tersebut berlaku.
.
.
.
Tiga hari telah berlalu. Kali ini para penguasa sekolah— terkecuali Luhan, sedang berkumpul di Caffe ibu Baekhyun. Rusa manis itu sibuk menghabiskan waktu bersama Baekhyun, Tao, dan Kyungsoo di dapur Caffe. Berlatih meracik minuman untuk para kekasihnya.
Di meja kayu berbentuk oval tersebut para lelaki tampan itu duduk dalam diam. Suasana sungguh mencekam ketika dihadapkan oleh Ketua mereka— Park Chanyeol yang terlihat seperti orang yang di vonis mengidap penyakit leukimia dan umurnya tidak lebih dari lima menit lagi.
Oke ini berlebihan.
Baru tiga hari berjalan tapi aura gelap Chanyeol sudah menyerbak dimana – mana layak sebuah virus. Membuat situasi di tiap detiknya semakin canggung. Mungkin sekali berucap hal yang menyinggung perasaannya semua leher orang-orang yang ada di meja itu akan patah.
"Ohh ayolah!" sahut Chen setengah menggeram. Pria itu memang tidak suka kondisi hening seperti ini.
Kai dan Kris mengela nafas berat. Sementara Sehun tetap diam sesekali menatap keluar jendela. Chen mengacak rambutnya kasar melihat Chanyeol yang meletakkan seluruh wajahnya dengan tidak elit diatas permukaan meja. Entah dia kesusahan bernafas atau tidak. Chen tidak mau ambil peduli.
"Baru tiga hari! Yak pria bodoh bertahanlah!" sahut Chen memaksa Chanyeol mengadahkan wajahnya.
Chanyeol mengangkat muka lusuhnya. Matanya sedikit sembab dengan kantung mata yang nyaris menyaingi milik Tao. Kris tertawa pada akhirnya diikuti kekehan Sehun. Sedangkan Kai mulai tergelak.
"Hey, adikku yang cengeng! Baekhyun sedang melayani pelanggan disana. Apa kau tidak mau bertemu dengannya?" goda Kris sambil menahan tawa.
Chanyeol menggeleng seperti bocah kecil tersesat di pasar swalayan dan sudah ditinggal ibunya pulang.
"Bahhh. Kau benar – benar menyedihkan. Aku tidak ingat mempunyai Ketua seperti dirimu. Kau sungguh jelek!" ejek Kai dan Chanyeol tetap memasang wajah sakit.
"Semangatlah Chanyeol-ah. Tinggal sebelas hari lagi" ucap Sehun.
Chanyeol mengangguk lemah lalu membenamkan kembali kepalanya pada meja Caffe.
.
.
.
Memasuki hari kelima persyaratan (sialan) pernikahan ChanBaek, Tuan Park diberi cobaan hidup lebih besar dari yang dia kira.
Baekhyun mengecat rambut coklatnya menjadi pirang. Dan Luhan tidak bohong saat mengatakan Baekhyun sungguh sangat manis dan cocok dengan warna rambut barunya. Ternyata perubahan itu disarankan atas dasar keinginan Park Haraboji juga Park Hana— ibu Luhan.
Akhir – akhir ini Baekhyun sering bolak balik kerumah keluarga Park atas saran Park Haraboji. Pria tua itu berkata sebagai menantu yang baik Baekhyun harus berusaha akrab dengan seluruh keluarga Park. Ya, begitulah bagian dari siasat Luhan maupun komplotan tukang mengisengi Park Chanyeol.
Chanyeol yang melihat Baekhyun melintas melewati kamarnya, mengepalkan tangannya keras. Para penguasa sekolah juga sedang berkumpul di rumah Chanyeol, sekedar bermain. Chanyeol segera menjedotkan kepalanya berkali – kali tanpa ampun pada tembok rumah. Setelah melihat betapa manisnya sang kekasih.
"Yak! Yeol! kau memang sudah gila?!" pekik Chen dan Kai panik.
"Hentikan tingkah bodohmu itu Chanyeol! YAKK!" Kris yang biasanya diam mulai panik.
Dia akhirnya bertindak menahan Chanyeol yang masih berusaha membunuh dirinya secara perlahan. Chanyeol terhuyung dan teman – temannya membopong tubuh jangkung itu yang nyaris tidak sadarkan diri kedalam kamarnya (Chanyeol begitu lemah karena masih dalam mode mayat hidupnya).
Baekhyun yang menoleh kebelakang merasa cukup khawatir. Kakinya melangkah dengan sendirinya menuju kamar si pria idiot. Namun Luhan menahan tangan Baekhyun.
"Lu..."
"Jangan Baek!" senyum Luhan.
"Tapi, Chanyeol kelihatan sangat sengsara"
Luhan terkekeh menanggapi ucapan polos sahabatnya. "Memang seharusnya dia seperti itu. Anggap saja ini latihan juga balasan untuk memperbaiki sikap buruknya dulu pada Paman Park dan Haraboji" tutur Luhan.
Baekhyun mengangguk lalu kembali melangkah mengikuti Luhan. Pandangannya tidak mau beralih dari pintu besar milik Tuan Park. Sampai akhirnya tubuhnya berjengit ketika mendengar Chanyeol berteriak.
"ARGGHHH! BYUN BAEKHYUN KENAPA KAU MANIS SEKALI?!" dengan begitu frustasi suara bassnya menggema hebat di seluruh ruangan.
Baekhyun tertawa.
'Sabarlah Park Babo-ku. Kau pasti bisa melewatinya!' gumamnya lalu kembali berjalan.
.
.
.
Seminggu telah berlalu.
Chanyeol sekarang duduk dikursi roda memakai baju tebal serta syal yang menutup tubuhnya. Wajah tampan itu telah sirna hanya dalam kurun waktu seminggu. Chanyeol terlihat seperti kakek tua yang sudah tidak kuat berjalan dan umurnya akan usai ketika dia mengedipkan matanya detik itu juga.
Oke ini sangat berlebihan dan sudah benar – benar keterlaluan.
Park Chanyeol yang selama sembilan belas tahun kehidupannya tidak pernah menuruti perkataan maupun syarat menggelikan yang dibuat ayahnya. Pada akhirnya tunduk patuh demi masa depan dia dan Baekhyun yang telah dinanti – nantikan.
Berpisah saat Seulgi menculik Baekhyun saja sudah menghancurkan setengah pandangan Chanyeol tentang arti kehidupan. Sekarang? Dia dihadapkan dengan 'dilarang mendekati atau bersentuhan dengan Baekhyun barang sedikit pun'.
Dilarang mendekat?
Bersentuhan?
Chanyeol bisa gila (atau memang sudah positif gila saat ini).
Kali ini mereka kembali berkunjung ke Caffe ibu Baekhyun. Kursi roda Chanyeol berhenti didorong oleh Kai yang dengan patuhnya menjadi suruhan Tuan Park hanya karena merasa iba pada makhluk idiot itu.
Saat seorang perempuan berjalan mendekat kearah meja yang biasa Para Penguasa sekolah tempati. Namja – namja tampan itu segera berdiri kemudian memberi salam pada ibu Baekhyun yang balas tersenyum menanggapi.
Ibu Baekhyun melihat kondisi Chanyeol ikut merasakan keprihatinan. Namun dia tidak dapat mengelak untuk ikut tersenyum terhadap sikap kekanakan calon menantunya. Meski diawal Ibu Baekhyun juga kurang setuju mengenai pernikahan. Karena Baekhyun harus kuliah terlebih dahulu. Tapi dengan cara Chanyeol meyakinkannya mereka akhirnya mendapat restu dengan sangat lancar.
Berbeda bagi restu dari keluarga Park.
"Aigo, Channie. Kau sudah makan? Kau nampak sangat kurus sekarang" ujar Ibu Baekhyun sambil mengelus rambut Chanyeol.
"Eomma..." Chanyeol mulai merengek seperti bayi membuat Chen menampilkan ekspresi hendak muntah.
"Astaga Yeol jagalah sikapmu didepan Bibi! Kau benar – benar bukan temanku!" sungut Kai dengan jijik dan Sehun terkekeh.
"Apa kau mau Baekhyun buatkan sesuatu untukmu?" tawar Ibu Baekhyun dan seketika wajah Chanyeol langsung berseri – seri.
"Bolehkah?"
"Tidak. Tentu tidak" tolak Kris dengan tegas.
Chanyeol menggerutu.
"Maaf Bibi. Tapi aku yang ditugasi untuk mengawasi pergerakan Chanyeol dalam masa persyaratannya ini" papar Kris begitu dewasa dan Ibu Baekhyun mengangguk sambil terkekeh.
"Baiklah kalau begitu. Selamat berjuang Channie. Tinggal enam hari lagi sampai tiba hari penikahanmu dengan Baby! Fighting!" Ibu Baekhyun mengepalkan tangannya lalu mengusap lembut pipi Chanyeol yang kembali menampilkan wajah sendunya.
Tidak berapa lama Luhan datang bersama Kyungsoo juga Tao sambil membawa nampan berisi cangkir kopi dan beberapa kue serta sandwich. Suasana menjadi riuh saat mereka sudah bersama dengan pasangan masing – masing, terkecuali untuk Chen. Tapi dia tidak masalah karena dia sedang asyik menyibukan diri bertukar chat dengan seseorang yang baru saja dikenalnya saat pesta pernikahan kedua orang tua Chanyeol.
"Sehun-ah. Aku membuat kopi ini dibantu oleh Baekhyun. Cobalah" senyum Luhan sambil menyodorkan kopi itu pada Sehun dengan hati – hati.
Wajah Luhan berharap – harap cemas melihat Sehun meneguk kopi dengan hiasan cream latte bergambar hati. Sehun balas tersenyum lalu mengangguk menandakan kopi racikan Luhan sangat enak.
Luhan tersenyum lebih lebar. Tanpa sadar dia mengecup singkat bibir Sehun yang duduk disebelah Chanyeol sehingga bibirnya ikut dilapisi busa cream latte. Luhan terkekeh manis sedangkan Sehun membatu sembari menatap Chanyeol was was.
Disisi lain Kyungsoo sedang digoda mati – matian karena Kai minta disuapi kue red velvet spesial buatan Kyungsoo. Sementara Kris dan Tao ngobrol tanpa melepaskan kontak mata mereka. Hal itu menyulut api yang ada didalam tubuh Chanyeol.
'Berani – beraninya mereka bermesraan! Padahal yang akan menikah adalah aku! Tapi aku sama sekali tidak merasakan kehangatan sebelum menikah! Sial! Aku mengutuk kalian semua!' jerit Chanyeol dalam hati dengan mata berkilat.
Chanyeol mengalihkan pandangannya pada counter Caffe. Matanya membulat dan jantungnya dibuat berdebar dengan sosok yang sedang memperhatikannya. Namja manis itu tersenyum sambil menunjuk kearah Chanyeol.
Chanyeol mengikuti arah jari Baekhyun. Dia terkejut mendapati secangkir Cappucino yang biasa dibuatkan oleh Baekhyun. Cream latte diatas kopi itu bertuliskan C + B dengan pola indah. Sudut bibir Chanyeol terangkat. Sudah berapa lama dia tidak tesenyum seperti ini?
Dia menyeruput kopi yang memang sengaja Baekhyun buatkan secara diam – diam. Kepalanya kembali menoleh kebelakang dan mendapati kekasihnya berbicara tanpa suara. Ibu jari dan telunjuk Baekhyun menyatu, menghasilkan hati kecil yang dia lampirkan pada Chanyeol.
Dan tanpa Chanyeol harus menebak. Dia sudah tahu bahwa Baekhyun mengatakan, 'Aku mencintaimu. Berjuanglah!'
.
.
.
Hari kesembilan.
Keluarga Chanyeol dan Baekhyun bersama dengan para penguasa sekolah. Pergi ke negara Thailand untuk mengadakan presepsi pernikahan. Park Haraboji menyarakan cucunya untuk menikah di pulau tropis sekaligus acara berlibur bagi keluarga besar.
Pagi hari jam delapan mereka sudah bersiap dibandara untuk take off. Tidak berapa lama mereka sampai di Thailand siang hari. Didalam pesawat Chanyeol pun tidak mendapat kesempatan mendekati Baekhyun. Kris menjaganya dengan sungguh ketat begitupun Luhan. Kedua sepupunya itu memang sangatlah kurang ajar. Chanyeol akan menghabisi mereka setelah syarat keparat ini selesai.
Baekhyun begitu kagum akan kekayaan yang dimiliki keluarga Park. Demi menyelenggarakan pesta mereka. Keluarga Park menyewa satu resort termewah dan termahal yang ada di Thailand.
Sesampainya dikamar Baekhyun dibuat terkagum lagi dengan hiasan kamar yang menggabarkan keindahan laut. Ranjang dengan tirai kelambu tipis dengan seprei selembut sutra. Hiasan kerang dan bintang laut juga mendominasi dekorasi ruangan tersebut. Lalu ketika dia membuka jendela kaca besar. Pemandangan pantai berpasir putih langsung menyambut mata sipitnya.
Baekhyun memejamkan mata sejenak sampai akhirnya dia merasakan kehadiran seseorang disamping jendela kaca yang ternyata membatasi kamar satu dengan kamar lainnya.
Chanyeol.
Pria jangkung itu berdiri disana memakai kaos biasa juga celana pendek berwarna coklat yang dia kenakan dibandara tadi. Baekhyun memang tidak diperbolehkan melakukan kontak mata dengan Chanyeol. Jadi dia tidak begitu memperhatikan kekasihnya dengan seksama. Ternyata kekasihnya menjadi semakin tampan tanpa dia sadari. Padahal sehari sebelumnya Chanyeol nyaris berjanggut. Namun sepertinya dia sudah membenahi diri. Dan rambut Chanyeol...
Dia juga ikut mengecatnya menjadi warna hitam. Tataan rambutnya yang berantakan membuat Tuan Park sangat seksi dalam pandangan Baekhyun. Pipi chubby itu merona ketika mata bulat kekasihnya tidak mau berhenti menatapnya.
Baekhyun was was. Tapi tidak ada tanda – tanda Luhan atau pun Kris. Bisakah dia menyentuh Chanyeol sekarang meskipun jendela bening ini memisahkan jarak mereka? Chanyeol mungkin saja dapat menerobos masuk kedalam kamar Baekhyun. Namun dia tidak ingin mengambil resiko juga menggagalkan segala usaha kerasnya.
Tinggal lima hari lagi. Kau bisa Chanyeol.
"Baek! Cepat turun kebawah. Kita akan makan siang" sahut Luhan yang kepalanya menyembul dari balik pintu depan.
Baekhyun terkaget lalu menganggukkan kepala. Dia melambaikan tangan pada Chanyeol dan berjalan pergi. Chanyeol masih diam ditempatnya. Dia menghembuskan nafas berat.
'Sebentar lagi. Bertahanlah sebentar lagi, Park' batinnya pada diri sendiri.
.
.
.
Baekhyun sangat senang dapat menghabiskan waktu berliburnya di negeri tropis ini. Pria mungil itu berenang dengan bantuan Luhan (ingat di chapter 6 Baekhyun tidak bisa berenang), membuat istana pasir, berjemur, bahkan bermain voli pantai bersama teman – teman yang lain. Thailand menurutnya tidak buruk meski masakannya lumayan pedas dan kurang cocok dengan selera Baekhiyun. Namun pantai indah ini mengalihkan semua ketidak puasannya.
Sudah dua hari yang lalu dia selesai mem-fitting baju untuk pernikahan yang diselenggarakan pada akhir pekan. Mereka juga berbelanjan beberapa perlengkapan lainnya di salah satu pusat perbelanjaan besar di Thailand.
Chanyeol dan Baekhyun masih dibatasi oleh syarat yang menjadi hambatan mereka untuk bertatap muka. Michele bilang Chanyeol dan Baekhyun baru boleh bertemu dialtar nanti. Beruntung waktu itu ada sedikit celah untuk melihat kekasih tercintanya.
Jujur Baekhyun sangat merindukan Chanyeol. Tanpa si jangkung idiot, kehidupannya terasa hampa. Tidak ada Chanyeol yang biasa menggodanya atau menciumnya jika wajah Baekhyun bersemu padam.
Tidak.
Baekhyun menghela nafas sambil memainkan pasir menggunakan batang pohon yang dia temukan disebelahnya tadi.
Sekarang ini KrisTao, HunHan, Chen, dan Kai mengadakan permainan voli pantai. Chanyeol tidak ikut serta. Dia malah berbaring diam pada salah satu kursi santai. Dia mengenakan kacamata hitam dengan wife beater yang menampilkan otot berlekuknya.
Para yeoja disekelilingnya berusaha menggodanya. Namun Chanyeol acuh. Dia malah pura – pura tertidur. Salah satu dari mereka menggunakan bahasa inggris untuk dapat berkomunikasi dengan Chanyeol. Sampai akhirnya Chanyeol melirik kearah Baekhyun yang duduk manis dipantai sedang mencuri pandang padanya.
Chanyeol mengeluarkan senyum jahil. Salah satu gadis Thailand bersama teman bulenya mulai berbincang – bincang dengan si jangkung. Baekhyun masih memperhatikan mereka. Tidak berapa lama dia melihat lengan kekar kekasihnya dielus oleh gadis – gadis seksi itu.
Chanyeol hanya tertawa menanggapi ucapan mereka. Sesekali mata bulat itu melirik apakah Baekhyun cemburu seperti yang dia harapkan? Nyatanya?
Baekhyun malah berdiri dan memberikan raut kesal. Entah mengapa sebutir airmata lolos begitu saja dari mata sipitnya. Baekhyun kesal. Dia sudah dua minggu tidak menyentuh atau berbicara dengan calon suaminya. Tapi Park Babo itu malah terlihat asyik bersama para gadis cabai yang Baekhyun akui mereka memang punya body bagus.
Baekhyun beranjak pergi, setengah berlari. Chanyeol yang panik— mengingat besok adalah upacara pernikahan mereka, segera berlari mengejar Baekhyun. Tapi dia tidak sadar akan bahaya yang mendekatinya. Maka—
BUK!
"ASTAGA CHANYEOL!" Luhan berteriak kencang membuat Baekhyun berhenti berlari dan menoleh.
Betapa terkejutnya dia melihat Chanyeol yang sedang telungkup diatas pasir. Baekhyun berjalan mendekat dan hendak menyentuhnya. Tapi Kyungsoo dan Tao langsung menahannya.
"Dia kenapa?" cemas Baekhyun.
"Hanya terkena bola. Sepertinya pipinya sedikit bengkak" papar Kris yang mengecek wajah Chanyeol setelah dibalikan tubuhnya.
Perlahan mata Chanyeol terbuka. Kepalanya sedikit pusing. Sial! Hantaman bola voli itu sangat sakit. Pria tampan itu meringis sambil memegang pipinya yang sedikit membengkak.
"YAK! SIAPA YANG MELEMPAR BOLA VOLI TADI?!" geram Tuan Park ketika sadar.
"Aku! Lagi pula kenapa kau malah berjalan kearah area lapangan ini dasar bodoh!" umpat Kai dan Chanyeol mulai memukul kepalanya.
"Brengsek! Besok aku akan menikah! Bagaimana jika wajahku berlebam begini keparat?!"
"Ya sudah lebih baik kau cepat kompres pipimu. Kau juga Kai. Minta maaf pada Chanyeol" titah Kris dan Kai meminta maaf meski Chanyeol acuh.
"Sial... kemana Baekhyun?"
"Tadi Kyungsoo dan Tao menariknya pergi. Kau mau ikut kami bermain Yeol?" ajak Sehun.
Chanyeol hanya mengibaskan tangannya. "Aku mau kembali ke kamar"
"Butuh bantuan?" tawar Luhan.
Chanyeol menggeleng.
"Tidak perlu. Kalian semua membuatku muak" paparnya datar.
Luhan hanya balas mencibir. "Dasar Penggerutu!"
Malam datang semakin cepat. Mereka semua pergi kelantai bawah untuk makan malam. Luhan awalnya mengajak Baekhyun namun Baekhyun berkata untuk duluan saja. Sebenarnya Baekhyun hanya ingin mengecek kondisi Chanyeol meski dia masih sedikit kesal.
Kaki mungil itu berjalan kearah jendela pembatas kamar sebelah. Baekhyun baru saja mandi. Jadi dia hanya mengenakan kemeja kotak – kotak dan celana pendek yang nyaris tidak terlihat akibat tertutup kemejanya.
TOK! TOK!
"Yeol..." panggil Baekhyun dengan suara rendah.
Tidak ada jawaban. Apa Chanyeol juga ikut makan?
Baekhyun mendesah kecewa. Dia hendak berbalik namun suara kaca yang ditabrak mengalihkan pandangannya.
"Ye—"
"Baek!" bisik Chanyeol dengan mata membulat dan tubuh merapat pada jendela kaca itu.
Baekhyun tanpa pikir panjang langsung ikut mendekatkan tubuhnya pada jendela. "Kau tidak apa – apa? Apakah masih sakit? Sudah diobati belum?" cemas Baekhyun namun kepala Chanyeol menggeleng sembari tersenyum.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku" ucap Chanyeol memandang Baekhyun.
Baekhyun memajukan bibirnya. "Kau tidak pantas dikasihani! Tadi kau berselingkuh!"
"Aku hanya menggodamu. Apa kau cemburu?"
"Apa kau mesti bertanya?" Chanyeol tertawa.
"Positif cemburu!"
"Kau positif gila!"
"Jangan dibahas lagi Baek. Kau membuatku semakin ingin memecahkan kaca sialan ini dan mencumbumu habis – habisan!" geram Chanyeol dengan tatapan tajam membuat pipi Baekhyun bersemu.
"Pecahkan saja. Aku tidak peduli. Aku... merindukanmu" bisik Baekhyun bersuara lirih.
Chanyeol mengerutkan alisnya. Jantungnya berdebar melihat Baekhyun begitu polos dan jujur mengatakannya. Tangannya semakin terkepal kuat menahan niat untuk tidak menjadikan kaca mahal itu sebagai korban kegemasannya pada Baekhyun. Akhirnya Chanyeol hanya bisa menundukkan kepalanya denan kedua tangan di sisi kiri kanan kepalanya.
"Kau tahu? Aku sangat menderita dengan syarat brengesek yang ayahku buat"
Baekhyun mengangguk. "Kau sudah berusaha Yeol dan aku sangat bangga padam—"
"Aku ingin menciummu Baek" ucap Chanyeol serius.
Baekhyun membeku. Tatapan Chanyeol seolah menelanjanginya. Chanyeol begitu seksi ketika dia berkata tanpa keraguan sama sekali. Baekhyun berwajah sendu. Dia juga ingin mencium Chanyeol. Memeluknya dan membisikkan kata cinta sambil berbagi kehangatan.
Namun dia tidak bisa.
"Kalau begitu cium aku" balas Baekhyun.
Chanyeol terdiam ketika melihat Baekhyun memejamkan matanya dibalik kaca. Dia terkekeh kecil dan memegang sisi kaca yang menampilkan wajah Baekhyun. Chanyeol mendekatkan bibirnya pada benda dingin itu, begitupun Baekhyun.
Pada akhirnya mereka menjadikan kaca sebagai media pertemuan mereka. Chanyeol masih menempelkan bibirnya pada kaca seolah – olah mereka memang sedang menikmati bibir satu sama lain.
Saat ciuman mereka terlepas. Pandangan mereka kembali bertemu. Baekhyun tertawa manis menghasilkan magnet bagi Chanyeol. Dia juga tertawa menanggapi betapa bodohnya sikap mereka yang bahkan hendak mengikarkan janji suci esok.
"Tunggu aku di altar" pinta Baekhyun dan Chanyeol mengangguk.
"Pasti, Baeby. Aku akan menunggumu"
.
.
.
Diatas bukit kecil dengan deru ombak dibawah mereka. Baekhyun mulai berjalan perlahan mendekat seorang pria yang sedang berdiri menantinya. Chanyeol mengulaskan senyumanya. Tuxedo putih dengan rambut yang ditata keatas menampilkan sosok Park Chanyeol yang begitu tampan dan dewasa.
Jantung Baekhyun berdegup sungguh kencang. Dia mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri selagi melangkah. Hingga akhirnya tangan mereka dapat merasakan kehangatan satu sama lain. Disaat itulah semua kegugupan dan rasa gelisahnya menghilang. Baekhyun tersenyum bahagia dan mengatakan 'aku bersedia' dengan sangat lancar tanpa keraguan sedikitpun. Meyakinkan Chanyeol bahwa dia juga telah menyerahkan seluruh jiwa dan raganya pada pria tercintanya.
Chanyeol terus menatap Baekhyun lekat. Senyuman tidak pernah lepas dari paras menariknya. Sampai ketika bibir mereka bertemu barulah Chanyeol maupun Baekhyun merasakan kehangatan terdalam yang telah lama mereka impikan. Para tamu bersorak riuh melihat adegan itu. Membuat suasana acara pengucapan janji suci tersebut menjadi lebih meriah dari sebelumnya. Kedua belak pihak keluarga juga turut berbahagia, bahkan ibu Baekhyun tidak berhenti menitikkan airmatanya. Menatap wajah Baekhyun yang penuh suka cita.
"Akhirnya aku bisa menyentuhmu juga Baek" ucap Chanyeol lalu mencium kembali bibir Baekhyun penuh kelembutan.
.
.
.
Pesta pernikahan Chanyeol dan Baekhyun benar – benar terbilang sangat ramai karena begitu banyak tamu undangan yang datang. Setelah pindah tempat kedalam gedung yang menampilkan pemandangan pantai indah Thailand. Kedua mempelai masih tidak bisa bersama untuk waktu yang lama. Chanyeol berada disekitar luar gedung dekat pantai sambil menyalami beberapa kolega ayahnya. Sedangkan Baekhyun berfoto bersama tamu lainnya didalam gedung.
Padahal hari ini adalah hari yang dinantikan oleh Tuan Park untuk terus menempel kemana – mana bersama si mungil yang sudah sah menjadi miliknya. Namun wajah murung seorang Park Chanyeol masih terpajang jelas dimukanya.
Adanya persyaratan atau tidaknya sama sekali tidak merubah apapun.
"Baekhyun! Selamat! Sekarang kau sudah bersuami!" pekik Kyungsoo girang sambil memeluk Baekhyun.
"Terima Kasih Kyung!"
"Mari kita berfoto dulu! Hari ini kan momen besar! Kita harus mengabadikannya!" Luhan segera menarik Baekhyun, Tao, dan Kyungsoo merapat.
"Yah! Tao kau tidak terlihat! Coba sekali lagi!" Luhan semakin bersemangat menjulurkan tangannya untuk berselca.
Tangan besar Ketua Park hendak menyentuh namja mungil yang sudah halal lahir batin menjadi milik suaminya itu. Seakan mereka tenggelam kedalam momen kebahagian. Sepertinya para uke itu tidak berniat berhenti mengambil gambar sampai memori kamera Luhan full.
"Mereka ribut sekali seperti gadis perawan" oceh Kai yang datang dan menepuk pundak Chanyeol sambil memperhatikan para uke itu.
"Hahaha. Biasanya Luhan tidak akan berhenti sampai baterai kameranya habis" tambah Sehun yang juga berdiri berjejer bersama mantan para penguasa sekolah.
"Biarkan saja mereka menikmati waktu mereka. Sebentar lagi juga bosan" papar Kris lalu meneguk wine-nya.
"Apa kalian semua yakin kalau mereka semua masih perawan—ah maksudku perjaka? Bukankah kalian yang telah menjebol telak pertahanan mereka?" celetuk Chen sangat santai yang sontak membuat semua namja – namja tampan itu menoleh padanya.
Kris dan Sehun langsung memalingkan muka. Sementara Kai berdehem seolah – olah dia sedang terkena penyakit batuk keras. Lalu Chanyeol? Fantasi liarnya mulai mengudara tanpa melepaskan pandangannya dari Baekhyun disana.
"Uhuk! Aku kan sudah menikah jadi tidak masalah" balas Kai menatap tajam Chen.
Chen hanya berdecih. Dia melihat Kim Minseok dari kejauhan. Pria itu tersenyum lembut padanya. Chen mengeluarkan smirk handalannya. Dengan cepat dia meneguk wine yang ada di meja saji lalu menghampiri pria itu tanpa pamit pada teman – temannya.
Chanyeol masih dalam mode menghayal. Otak mesumnya sungguh aktif bekerja akibat perkataan bodoh Chen. Dia tidak sabar menantikan nanti malam. Chanyeol berjalan mendekat kearah Baekhyun.
"Baekhyun!" sahut Chanyeol gemas.
Baekhyun tidak mendengar karena Lay turut hadir di pesta dan memberinya selamat. Chanyeol menggeram frustasi. Tidak berapa lama sebuah tangan menariknya membuat tubuh jangkung itu berbalik.
"Selamat atas pernikahanmu Chanyeol" ucap Seulgi yang berdiri anggun bersama Jackson disebelahnya.
Chanyeo tersenyum.
"Sama – sama. Terima kasih sudah mau datang kalian berdua"
Jackson hanya mengangguk dan mereka bersalaman. Lalu Jackson mulai berbincang – bincang dengan tamu lain ketika ada yang menyapanya. Tinggalah Seulgi dan Chanyeol berdua disana.
"Bukan masalah. Lagipula sekalian berlibur. Ngomong – ngomong Baekhyun dimana?" tanya Seulgi sambil mengalihkan pandangannya.
"Seulgi!" sahut Baekhyun.
Seulgi menoleh lalu tersenyum pada pria manis disampingnya. Mereka berpelukan sembari Seulgi mengucapkan selamat. Baekhyun benar – benar senang Seulgi bisa memenuhi janjinya untuk datang kepernikahannya.
"Aku dengar Chanyeol mendapat persyaratan tidak boleh bertemu atau menyentuhmu selama acara pernikahan kalian berlangsung?"
Baekhyun terkikik. "Ya. Begitulah"
"Heol. Dia hebat juga bisa bertahan selama itu tanpamu"
"Sebetulnya dia nyaris menyerah. Tapi syukurlah si idiot itu bisa melaksanakannya dengan baik sampai sukses"
"Ya! Apa itu caramu memanggil suami barumu Baby?" Chanyeol merengut disebelah Baekhyun sambil merangkul pinggangnya erat.
"Jangan bersikap bodoh Yeol!" malu Baekhyun tapi Seulgi malah tertawa kecil menanggapinya.
"Oh ya. Sabtu depan gantian kalian yang harus datang ke New York" ucap Seulgi sambil tersenyum.
"Jangan bilang kau—"
"Ya. Aku akan menikah dengan Jackson. Kuharap pernikahanku tidak mengganggu waktu bulan madu kalian"
"Tentu saja tidak. Hitung – hitung sekalian mencoba hotel di New York" canda Chanyeol sambil melampirkan smrik-nya pada Baekhyun yang bersemu.
"Astaga kau masih saja malu – malu dengan suamimu, Baekhyun. Aku penasaran bagaimana malam pertama kalian" komentar wanita bermata kucing itu sambil bersedekap.
Sontak pipi Baekhyun memerah lagi dan dia tidak berani menatap Chanyeol yang sedang memandangnya penuh aura hendak memangsanya.
"Tenang saja. Kupastikan dia tidak akan bisa berjalan tiga hari kedepan, Seul"
Mendengar pernyataan Chanyeol, Baekhyun semakin mengerutkan pegangannya dipinggang Chanyeol. Oh, tidak… Apakah Chanyeol benar – benar serius dengan ucapannya? Kelihatannya meski Chanyeol idiot dia bukan tipe yang suka bercanda seperti itu jika menyangkut masalah ranjang.
.
.
.
Pukul sembilan malam pesta meriah tersebut telah usai. Para keluarga, saudara, maupun penguasa sekolah sudah kembali kekamar masing – masing.
Chanyeol dan Baekhyun menempati sebuah suite room yang berlokasi diatas bukit. Pemandangan dibawahnyas menampilkan laut malam negeri Thailand. Baekhyun menikmati momen terkagumannya pada kamar yang memang didesain bernuasa romantic itu. Kelopak mawar dimana – mana dengan lilin aroma terapi yang mendukung suasana disana. Sementara Chanyeol dibelakangnya meletakkan koper mereka tidak jauh dari lemari pakaian. Sebelumnya Park Hana sudah berkemas untuk baju mereka karena sebelumnya keluarga Park berkumpul kembali setelah semua tamu undangan pulang.
Flashback
"Chanyeol selamat! Karena kau berhasil melewati syarat dariku dan telah menjadi pria dewasa yang siap bertanggung jawab atas Baekhyun" ucap Seunghyun dengan bijak sambil menepuk anaknya.
"Tentu saja! Tekadku keras seperti baja! Tidak mudah rapuh atau patah semangat biarpun aku tahu kalian semua memang benar – benar brengsek sengaja mencoba menguji nyaliku. Sayangnya kalian tidak bisa mengalahkanku! Menyedihkan! Haha" tawa jahat Chanyeol menggelegar diseluruh ruangan. Sementara Luhan hanya menggelengkan kepala dan yang lain berwajah datar menanggapinya.
"Dasar idiot" lirih Luhan.
"Baiklah! Kalau kau bisa berkata kau memang bertekad baja. Bisakah kau melaksanakan hal ini?" tantang Park Haraboji berwajah serius.
"Apa? Jangan bilang kau ingin menunda honey moon-ku bersama Baekhyun Kakek Tua!?" geram Chanyeo yang langsung merapatkan tubuhnya pada Baekhyun.
"Ternyata otak udangmu cepat juga menangkap maksudku"
"Apa?! Tidak! Ohh, tidak bisa! Aku tidak akan membiarkan kau melarangku lagi untuk menyentuh si mungil ini! Tidak akan!" sahut Chanyeol penuh penekanan.
"Berarti kau kalah! Menyedihkan! Haha" tawa Park Haraboji mengikuti gaya Chanyeol tadi.
Chanyeol menggeram. Dia tidak suka harga dirinya dijatuhkan seperti ini oleh kakeknya. Tapi dia juga tidak ingin melepaskan momen malam pertamanya dengan Baekhyun. Baekhyun hanya menatap Chanyeol. Jujur dia juga tidak setuju dengan tantangan Park Haraboji. Dia juga menginginkan Chanyeol malam ini.
Mereka saling bertatapan dengan tangan Chanyeol yang menggenggam erat tangan si mungil. Tatapan tajam Chanyeol beralih pada Park Haraboji. Semua orang disana seketika hening. Tiba – tiba Chanyeol berjalan mendekat kearah ibu Baekhyun yang duduk disebelah Michele.
"Eomma. Aku mencintai Baekhyun. Karena itu, izinkan aku bercinta dengan anak tersayangmu malam ini eomma" ucap Chanyeol penuh ketegasan didepan ibu Baekhyun sambil membungkuk 90 derajat.
Mata Baekhyun membulat dan pipinya bersemu merah. Orang – orang yang mendengar Chanyeol meminta izin sejelas itu juga ikut terkejut. Chanyeol menegakkan tubuhnya dan tersenyum pada ibu Baekhyun tanpa rasa malu sedikit pun.
"Aku ingin menjadikannya milikku meski aku dan Baekhyun tahu ini bukan malam pertama kami" jujurnya lalu mengaruk tengkuknya tak gatal.
Chen tertawa keras membuat mereka semua tersadar. Astaga, Tuan Park ini memang benar – benar nekat dan keras kepala sampai harus berkata sejujur itu dihadapan orang banyak.
Baekhyun hanya tersenyum dibelakang punggung Chanyeol. Ini adalah Chanyeolnya. Park Babo idiot yang tingkah lakunya memang tidak pernah bisa diprediksi dan selalu bersikap spontan seenak jidatnya.
Baekhyun menyukai Chanyeol yang seperti itu.
Selamanya.
.
.
Maka dari itu. Sekarang Chanyeol dan Baekhyun sudah berdiri didepan ranjang. Disinari cahaya rembulan sambil berhadapan satu sama lain. Chanyeol menatap lekat pria yang selalu membuatnya jatuh cinta berkali – kali. Kemudian tangan itu mengelus lembut pipi Baekhyun yang seketika terpejam merasakan rangsangan yang diberikan suaminya.
Chanyeol tersenyum lalu membawa bibirnya mendekat pada bibir tipis Baekhyun. Baekhyun memiringkan wajahnya dan langsung membuka perpotongan bibirnya hingga Chanyeol refleks melumat si pemilik bibir candu baginya. Mereka saling melumat satu sama lain secara perlahan. Meresapi gairah yang mulai muncul diantara mereka.
"Jadikan aku milikmu selamanya, Park Babo" lirih Baekhyun sambil tersenyum mengawali malam panjang mereka.
.
.
.
.
.
TBC!
Hayo siapa yang menunggu NC honeymoon ChanBaek's?
Review?
YEHET! XD
