Bad Boy BaekYeol Sequel

Married a Bad Boy (Part II)

Cast :

ChanBaek

EXO Members

Disclaimer :

FF ini murni imajinasi dari sehyun sendiri. Jika FF sehyun memiliki kesamaan cerita silahkan dikomen atau kritik pedes sekalian juga gakpapa. So! NO PLAGIAT atau COPAS TANPA IZIN yah Chingudeul Saranghae! Semua cast milik TUHAN kecuali LUHAN yang punya hati Sehyun hehe~ ^_^

No Bash! Love and Peace!

WARN!

YAOI! BOY X BOY!

Cerita ini fiksi. Hanya imajinasi penulis yang kelewat jauh berimajinasi. Well, hal itu memang tidak dapat dibatasi manusia. Tapi mampu dituangkan dalam sebuah bentuk yang diharapkan menghibur para pembaca hehe.

M-PREG!

Jika ada yang tidak Suka harap segera di close webnya atau skip saja T^T Saya tidak maksa kalian baca dan part NC disini agak sedikit berlebihan karena porsinya beda dari biasanya, hoho.

Astaga maafkan anakmu yang terlalu –ehem– berpikiran terlanjur kotor *hiks* mungkin seharusnya aku mencari calon suami *astaga kuliah aja belom kelar haha* TvT

Summary :

Sesudah melewati syarat menyusahkan yang diberikan oleh Park Seunghyun. Chanyeol dan Baekyun dapat menyentuh sama lain juga berbagi kehangatan dimalam pertama mereka. Namun ternyata tanpa disangka suatu keajaiban menimpa Byun Baekhyun.

.

.

.

Special For ALL CHANBAEK SHIPPERS AND OTHERS SHIPPER TOO!

Thanks for always supporting me and give much love to this Fanfiction

I LOVE YOU! *heart sign*

We are One!

-BGM-

[Ailee – Insane]

[EXO – Girl x Friend]

.

.

.

Enjoy

.

.

.

-BaekYeol Area-


Previously

Maka dari itu. Sekarang Chanyeol dan Baekhyun sudah berdiri didepan ranjang. Disinari cahaya rembulan sambil berhadapan satu sama lain. Chanyeol menatap lekat pria yang selalu membuatnya jatuh cinta berkali – kali. Kemudian tangan itu mengelus lembut pipi Baekhyun yang seketika terpejam merasakan rangsangan yang diberikan suaminya.

Chanyeol tersenyum lalu membawa bibirnya mendekat pada bibir tipis Baekhyun. Baekhyun memiringkan wajahnya dan langsung membuka perpotongan bibirnya hingga Chanyeol refleks melumat si pemilik bibir candu baginya. Mereka saling melumat satu sama lain secara perlahan. Meresapi gairah yang mulai muncul diantara mereka.

"Jadikan aku milikmu selamanya, Park Babo" lirih Baekhyun sambil tersenyum mengawali malam panjang mereka.

.

.

.

"Emhh… ini tidak benar" sebuah erangan lolos dari bibir tipis milik pemuda mungil dibawah kukungan seorang namja tampan.

Chanyeol mengadahkan kepalanya, sedikit mengangkat dada menjauh dari tubuh ringkih Baekhyun.

"Apa yang tidak benar?" tanyanya sangat heran mengapa suaminya ini menghentikan aktivitas yang sedang ditekuni Chanyeol.

Baekhyun menghembuskan nafas. Pipinya bersemu merah padam dan paru – parunya serasa haus akan udara. Bagaimana dia tidak kekurangan pasokan oksigen? Sejak Chanyeol menyentuhnya lalu menidurkan pria mungil itu dia sudah dihajar bertubi – tubi. Park Chanyeol menghujaninya dengan ciuman yang terlampau mesra pada bibir Baekhyun.

Baekhyun tahu ini adalah malam pertama—ehem, ralat! Malam kesekian yang akan mereka habiskan bersama. Chanyeol pun juga sudah menantikannya semenjak dia berhasil melampaui syarat sialan dari ayahnya. Dan pria bertubuh seksi ini tidak akan menyia – yiakan detik berharga mereka.

"Ini tidak benar Yeol" sekali lagi, pernyataan Baekhyun sungguh tidak masuk akal.

"Apa yang tidak benar Baby?" tanya Chanyeol kembali sedikit kesal.

"A—apa kita akan sekarang melakukannya?"

"Malam pertama kita maksudmu?"

Baekhyun mengangguk penuh keraguan.

"Tentu saja Baby. Kita sudah menikah. Sudah sah satu sama lain. Bahkan aku sudah meminta izin ibumu dan pada semua orang dimuka bumi ini untuk menyetubuhimu. Apakah kau masih tidak percaya?"

"Kau berlebihan" komentar Baekhyun sambil memainkan kancing baju Chanyeol.

Pria itu terkekeh. "Tapi kau menyukainya kan?"

"Apa aku harus menjawabnya?"

"Ah, tidak perlu. Aku sudah tahu" Chanyeol menyengir bodoh. Baekhyun kembali mengerutkan tubuhnya pada dada bidang Chanyeol yang mulai menindihnya lagi.

Mereka masih berpakaian lengkap meski peluh sedikit bercucuran didahi seksi nan tampan Park Chanyeol. Baekhyun pun kondisinya tidak jauh beda. Hanya saja ketiga kancingnya sudah terbuka akibat tangan nakal suaminya. Mereka masih belum mau bermain ke inti entah mengapa.

"Jadi? Aku boleh melanjutkannya?" tanya Chanyeol mencoba bersikap lembut.

Baekhyun berpikir sejenak. Dia sendiri lupa apa yang membuat mereka berhenti ditengah – tengah. Sepintas ingatannya kembali setelah diotaknya terlintas seperti bohlam yang menyala.

"Aku ingin mandi" tutur pemuda bermata sipit ini.

Chanyeol membulatkan matanya.

Tunggu apa ini tidak aneh? Mandi? Bukankah jika bercinta Baekhyun juga akan berkeringat? Lalu apa bedanya? Mengapa sekarang pemuda mungil ini mempunyai niat untuk membasuh tubuhnya?!

"Kau bercanda Baek. Lihatlah sekarang sudah jam berapa? Jam setengah sepuluh! Kau itu tidak tahan udara dingin!" jelas Chanyeol memberikan beberapa penekanan pada kalimatnya sendiri.

"Aku tahu! Aku tidak rabun, Park Babo! Tapi tubuhku lengket sekali. Aku tidak suka" cicit Baekhyun mengendus aromanya sendiri.

"Aku suka! Aku menyukainya, Baek demi Tuhan hal itu tidak ada bedanya ketika kita akan bercinta nanti!" Chanyeol masih ngotot. Sebenarnnya ereksinya sendiri sudah berkedut kesakitan. Oh, ayolah Baekhyun jangan menahan libido si pemangsa ini.

Baekhyun merenggut dan mulai memposisikan tubuhnya untuk duduk. Dia memasang wajah yang seratus persen dijamin membuat suaminya mengalah. Kedua tangannya terlipat didepan dada dan mulai merajuk.

"Aku ingin mandi…" lirihnya sambil memajukan bibir.

Chanyeol menahan hasratnya untuk segera melumat bibir mengiurkan tersebut. Dia menghela nafas sekali. Sungguh Tuhan memang sedang mengujinya. Oke, tahanlah sebentar Park Chanyeol. Kau akan mendapatkan bokong seksi milik suamimu. Pasti!

"Baiklah, Nyonya Park" ucap Chanyeol sedikit mendesah.

Baekhyun tersenyum manis dan berlutut. Pria mungil itu mengecup bibir Chanyeol sekilas sambil menangkupkan wajah pemudanya dengan kedua tangannya. Chanyeol merengkuh pinggang ramping Baekhyun. Dia juga balas tersenyum. Menandakan dia sudah tidak semarah tadi.

"Gomawo. Aku mandi dulu ya. Tidak akan lama kok"

Baekhyun beringsut turun kebawah ranjang berjalan menuju kamar mandi.

"Kau yakin suami tertampan sejagat raya milikmu ini tidak ingin bergabung didalamnya? Kujamin waktu mandimu akan terasa yahut Baekhyun" goda si pemilik suara bass sambil menoleh kearah si mungil.

Baekhyun semakin menyipitkan mata dengan bibir mengerucut. Chanyeol tertawa melihat ekspresi menggemaskan Baekhyun.

"Baiklah aku mengerti"

"Setelah aku mandi. Giliran kau. Okay?"

Chanyeol mengangguk sembari merebahkan tubuhnya diatas ranjang empuk itu. "Okay, Baeby"

.

.

.

20 menit kemudian.

Chanyeol keluar dari kamar mandi setelah melakukan ritual mandi malam yang paling tidak disukainya. Jujur saja, sebenarnya pria maskulin idaman seluruh wanita maupun uke itu jarang mandi. Tapi yang mananya ciptaan berkualitas Tuhan. Meskipun dia tidak mandi kadar ketampanannya tetap tidak berkurang sedikitpun.

Namun tubuh atletis itu sudah membersihkan dirinya. Sekarang Chanyeol tampak segar dengan handuk putih melilit di area pribadinya. Huh, menganggu saja benda itu!

Chanyeol mengedarkan pandangannya kesegala arah. Tidak ada tanda – tanda dari suami mungilnya. Kemana Baekhyun pergi? Apa pria itu melarikan diri akibat rasa gugup malam pertama? Ah, tidak mungkin. Mereka sudah berkali – kali bercinta masa Baekhyun masih canggung?

"Baekhyun?" Chanyeol memanggilnya.

Sunyi.

Chanyeol merasa heran. Dia sedikit panik. Apa Baekhyun diculik? Oh, Chanyeol mulai paranoid kembali. Seulgi sudah tobat. Mana mungkin dia kembali ingin merusak hubungan sah mereka?

"Baekhyun kau dimana?!" sahut Chanyeol mulai kesal.

"Disini!" suara itu melegakan perasaan Chanyeol.

Kaki jenjang pria jangkung itu segera melangkah mendekati sumber suara. Baekhyun diluar kamar. Lebih tepatnya diteras yang terdapat kolam renang outdoor disampingnya dengan pemandangan pantai dibawahnya. Sedang duduk sambil memainkan kakinya di air.

"Astaga kupikir kau menghilang. Jangan seperti itu lagi!" ucap Chanyeol sedikit menaikkan nada bicaranya.

Baekhyun memiringkan kepala.

"Ada apa?"

"Kupikir kau menghilang, Baek"

"Kau terlalu berlebihan"

"Aku hanya khawatir" balas Chanyeol lalu berkacak pinggang menanggapi reaksi Baekhyun yang terbilang santai.

"Maaf" cicitnya dan Chanyeol segera menundukkan tubuhnya untuk mencium pucuk surai si mungil.

"Tidak apa – apa. Kenapa kau malah diluar dengan bathrobe itu? Seharusnya kau didalam. Nanti kau kedinginan"

"Udaranya sejuk, Yeol. Lihatlah langitnya begitu bersih. Keren sekali bukan?" ucap Baekhyun memandang keatas.

Chanyeol tersenyum lalu menyeret Baekhyun untuk berdiri. Namun belum sempat dia mengajak suaminya untuk melanjutkan sesi yang tertunda Baekhyun sudah menahan gerakan suaminya.

"Aku ingin berenang"

What?! Berenang?!— batin Chanyeol menjerit kaget .

"Jangan bercanda Baeby. Kau tidak bisa berenang" Chanyeol mengingatkan sebelum si mungil tenggelam seperti jaman mereka sedang –ehem- kasmaran.

Tanpa menghiraukan larangan Chanyeol. Baekhyun langsung berdiri lalu membuka bathrobe—nya dan membiarkan penutup tubuh tersebut mendarat kelantai pinggir kolam. Chanyeol yang melihatnya tidak mengedipkan mata sedikitpun. Jakunnya mulai naik turun meneguk ludah. Seluruh sarafnya serasa kaku memandang tubuh telanjang Baekhyun. Dada Chanyeol bergemuruh berniat menerkamnya.

Dia tahu si mungil ini sedang menggodanya.

Chanyeol ingin tahu sejauh mana Baekhyun berusaha menarik perhatiannya. Atau menarik perhatian penisnya yang mulai ereksi kembali? Entahlah.

Baekhyun turun kearea kolam itu pelan – pelan. Tidak sadar bahwa kolam merupakan pusat phobianya pada air dalam jumlah banyak yang menggenang tenang. Jika air laut beda lagi. Baekhyun hanya takut pada kolam renang, itu saja.

Menyadari hal itu Chanyeol yang dasarnya sudah protektif pada suaminya. Langsung terjun kebawah setelah melepas—ehem—penutupnya dengan cepat.

"Baek!" sahutnya segera merengkuh Baekhyun yang sedikit berjengit kaget setelah memasukkan semua tubuhnya kedalam air.

Chanyeol memegang pinggang Baekhyun dan membawa tubuh mereka naik keatas dengan mudah. Semula air tenang yang menggenang itu mulai bergerak akibat tubuh mereka. Baekhyun tertawa disela – sela wajahnya terbanjiri air dari atas kepala.

"Kau membuatku jantungan!" panik Chanyeol namun melihat si kecil tertawa dia merasa Baekhyun menikmati kejadian tadi.

"Aku kira bagian yang ini dangkal" kekehnya dengan tangan melingkar pada leher Chanyeol.

"Memang dangkal! Buktinya, aku saja masih bisa berdiri. Lihat?!"

Baekhyun mem-poutkan bibirnya. "Tinggi kita berbeda Chanyeol!"

"Kalau begitu pikirkan baik – baik apa yang akan kau lakukan sebelum tahu akibatnya! Jangan membuatku takut lagi, Baek" sungut Chanyeol sedikit frustasi.

Baekhyun diam. Dia menunduk merasa bersalah. "Baiklah aku mengerti. Maafkan aku, Yeol"

Chanyeol mendesah. Punggungnya sudah menyentuh pinggir kolam. Chanyeol menyadarkan kepalanya kebelakang. Sebetulnya dia tidak ingin terlihat seperti membentak si mungil. Dia hanya khawatir malam indah mereka akan menjadi kacau hanya karena kolam renang sialan yang nyaris menenggelamkan Baekhyun. Baekhyun yang melihat Chanyeol masih marah mulai merendahkan tubuhnya dan menaruh kepala didada bidang suaminya.

"Aku— hanya ingin kita melakukannya dikolam"

Satu kalimat berupa bisikan yang meluncur dari bibir tipis itu membuat mata Chanyeol terbuka. Dia tidak salah dengar kan? Jadi ini maksud Baekhyun yang sengaja mencari alasan untuk mandi? Karena ingin bercinta di kolam?

Chanyeol memperhatikan wajah Baekhyun dengan seksama. Dia seolah meminta jawaban ketika tangannya mengangkat dagu Baekhyun untuk menatapnya. Mata Baekhyun sukses membius fungsi kinerja otak Chanyeol.

Tanpa persetujuan lebih lanjut, Chanyeol sudah melumat bibir yang selalu menghipnotis pikirannya agar berbuat sesuatu yang lebih panas. Baekhyun membalas ciuman Chanyeol perlahan. Bibirnya menghisap bibir bawah Chanyeol sementara pria jangkung itu melakukan hal yang berlawanan. Kepala Baekhyun terhentak beberapa kali karena Chanyeol meraupnya dengan rakus.

Dia mengimbangi ciuman suaminya. Mengusak rambut basah Chanyeol dengan sedikit menjambaknya. Maka Chanyeol membuka mulut. Lidah mereka saling mendamba satu sama lain. Memagut dan melilit layaknya manusia yang haus akan definisi bercinta. Chanyeol terus memasukkan lidahnya kedalam mulut Baekhyun. Cairan liur mereka menetes bercampur air kolam.

Nafas keduanya mulai tidak teratur. Hembusan hangat Chanyeol pada permukaan pipi Baekhyun membuatnya semakin memanas. Pria mungil itu merasa pusing akibat ciuman yang dianggapnya luar biasa dari sebelumnya.

Sepertinya Chanyeol serius dengan pernyataan dia akan membuat Baekhyun tidak bisa berjalan di pagi hari.

"Baek, aku menginginkanmu" bisik Chanyeol, bibirnya sudah mengecupi leher jenjang Baekhyun.

Melumatnya, menggigitnya sensual sampai menimbulkan tanda membekas. Pria jangkung itu memberikan warna – warna merah keungunan lebih banyak disekitar pundak maupun dada Baekhyun.

Hingga ciumannya turun kearah nipple namja mungil itu. Chanyeol mulai mengulumnya. Membiarkan Baekhyun membusungkan dada merespon sensasi geli bercampur nikmat.

"Ahhh… Emhhh… Chan—" Baekhyun mendesah.

Mulut ajaib Chanyeol bekerja dengan sangat lihai menggoda nipple Baekhyun untuk mengeras. Pria itu mengigitnya kasar sedangkan dengan tangan lainnya memelintirnya. Tidak hanya sampai disitu. Chanyeol menyentuh penis Baekhyun dan mengurutnya perlahan.

Baekhyun memejamkan mata sembari mendongakkan wajahnya keatas. Maka lehernya kembali menjadi sasaran bibir seksi Chanyeol tanpa tangan yang dibawah berhenti bekerja. Memanjakan seluruh titik sensitif Baekhyun.

"Yeol. Masukkan saja" erang Baekhyun dikala dia sudah mendapatkan klimaksnya.

Chanyeol tersenyum miring lalu mengangkat pinggang Baekhyun untuk merapat padanya. Tubuh Baekhyun jadi semakin ringan akibat tekanan air disana. Membuatnya memudahkan penetrasi mereka.

Chanyeol melebarkan belahan menggoda milik Baekhyun. Lalu memasukkan miliknya perlahan sambil memandangi wajah suaminya yang begitu manis. Dia tersenyum ketika Baekhyun berjengit mengigit bibirnya. Maka dengan sekali hentakkan, batang Chanyeol sudah sepenuhnya menembus lubang sempit Baekhyun.

"Ahhhh!" Baekhyun berteriak.

Ohh, sungguh wajahnya semakin membuat penis Chanyeol mengeras didalam sana.

"Bergeraklah" titah Baekhyun.

Chanyeol mulai menggerakkan miliknya keluar masuk secara perlahan. Tangan besarnya memegang pinggang Baekhyun membantunya turut menaik turunkan tubuhnya secara berlawanan. Mata bulat itu terpejam merasakan pijatan luar biasa yang diberikan Baekhyun terhadap penisnya.

Ini terlalu nikmat.

"Ahhhh… Ngghh.. Baek" erang Chanyeol ketika dia belum menemukan titik yang dapat memuaskan Baekhyun.

Kenapa malam ini sulit sekali?

"Chan… Teruss… Mhhhh… Ahhh" desah Baekhyun yang juga merasa heran mengapa mereka belum merasakan kenikmatan yang lebih.

Baekhyun mengalungkan kakinya pada pinggang Chanyeol. Pria itu tidak berhenti menggerakkan tubuhnya. Mengoyak lubang Baekhyun yang menjadi semakin licin.

"Ahhh!" Baekhyun berjengit.

'Gotcha!' batin Chanyeol sambil menyeringai.

Dia menemukan titik kenikmatan Baekhyun. Maka pria seksi itu mengeratkan pegangannya pada pinggang Baekhyun dan terus menghujam ditempat yang sama. Baekhyun berteriak keenakkan. Dia memeluk tubuh Chanyeol lalu mengajaknya berciuman panas.

"Mhhh… Baek. Kau sungguh nikmat" puji Chanyeol disela ciuman mereka.

Baekhyun memasukkan lidahnya. Memagut miliknya dengan Chanyeol sambil meremas rambut suaminya. Chanyeol menghentak miliknya lebih dalam membuat Baekhyun meraup dengan kasar bibir Chanyeol yang terbuka sampai hidung mereka bertabrakan.

"Auhhh" rintih si mungil.

Chanyeol tertawa. "Haha. Pelan – pelan saja, Sayang. Kau pasti, ahh… mendapatkan—uhh…nya"

Baekhyun terkekeh dan mengangguk. Dia kembali menciumi leher Chanyeol. Melumatnya, mengigitnya, lalu menghisapnya seperti yang selalu Chanyeol lakukan. Chanyeol tersenyum ketika Baekhyun menjilat hasil karyanya.

"Kau—uhh. Dasar penggoda kecil yang.. ngghh.. ahh.. seksiihh" ucap Chanyeol lalu menghujam lubang Baekhyun kembali.

"Ngghhh… hahh… ahh.. Berhenti bicara Park Babo!" geram Baekhyun merasakan milik suaminya membesar disana karena urat penis Chanyeol menggesek kasar dindingnya.

"Chan— aku hampir sampai" Baekhyun memperingati.

Chanyeol menambah kecepatannya. Dia mendorong miliknya lebih dalam, lebih cepat, hingga bergerak acak. Baekhyun hanya mendesah – desah seolah pikirannya melambung jauh. Kepalanya pusing dan pipinya memanas. Ini sungguh nikmat. Chanyeol semakin hari semakin hebat dalam membuatnya terlena akan seksnya. Tubuh Baekhyun begitu mendamba setiap sentuhan suaminya.

Dengan tiga kali hentakkan kuat Chanyeol menyemburkan spermanya kelubang Baekhyun. Si mungil yang merasakan benih hangat Chanyeol memejamkan mata erat. Baekhyun menghela nafas panjang lalu tersenyum pada pria yang sedang asyik memandang wajahnya yang tengah berorgasme bersama.

"Kau cantik sekali, Baek. Pipimu yang memerah saat kita sampai. Membuatku selalu jatuh cinta padamu" papar Chanyeol lalu mengecup bibir Baekhyun.

Wajah Baekhyun bersemu mendengarnya. Namun dia mendesis kecil sambil meremas pundak Chanyeol. Sedangkan pria itu acuh, tetap memberikan kecupan kecil pada Baekhyun.

"Emmh… kenapa punyamu keluar banyak sekali? Aku ahh—" Baekhyun mengangkat pinggangnya saat dirasa Chanyeol masih menggenjotnya dengan pelan setelah mereka orgasme.

"Mungkin belum keluar semua" Chanyeol menyengir bodoh disela tarikan nafasnya.

Baekhyun hanya merenggut.

Tiba – tiba Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun hingga namja itu telungkup diatas kolam renang. Wajah Baekhyun masih memerah dan kepalanya sungguh pening pasca orgasme. Dia tahu kearah mana situasi ini akan berujung saat pinggangnya dipaksa naik keatas.

Chanyeol sudah menindihnya lalu mengaitkan kedua tangan mereka. Tidak lupa memberi satu kecupan panjang dibahu namja mungil dibawahnya. Baekhyun terkekeh menanggapinya. Dia sudah mengerti kadar hasrat seksual suaminya yang tinggi.

Chanyeol kembali menghentak Baekhyun.

"Ahhh Yeoolll!"

"Sshhh….Baekk" tanpa jeda lagi Chanyeol segera menggerakkan pinggangnya dengan cepat.

Tubuh Baekhyun tersentak – sentak kedepan. Tetesan air beserta liur Baekhyun yang menetes jatuh kelantai pinggir kolam. Baekhyun mendesah dominan memekik nikmat. Angin laut malam yang berhembus tidak mengganggu aktifitas panas mereka berdua.

Chanyeol masih begitu kuat untuk menghujam miliknya jauh kedalam Baekhyun. Tangan lainnya beralih kepenis Baekhyun lalu mengocoknya cepat. Tidak tanggung, bibirnya memberi banyak kissmark dipunggung si mungil.

Baekhyun kalah telak. Seluruh titik sensitifnya dikuasai tubuh seksi Chanyeol. Pria tercintanya ini benar – benar menghabisinya. Baekhyun hanya bisa mendesah kencang. Alunan suaranya bagaikan musik ditelinga Chanyeol. Chanyeol menyukai itu.

"Ahhhh… Nghh… Chan—"

"Uhhh… Mhhh…"

"Faster… Ahhh"

Chanyeol tersenyum miring. "As you wish, Baby"

Sampai akhirnya Baekhyun mendekati klimaks. Chanyeol menggantungkannya. Memutar tubuh mereka menjadi Baekhyun terlentang dilantai pinggir kolam dengan kaki terbuka lebar. Chanyeol langsung menyambar bibir Baekhyun. Memagutnya hingga bibir Baekhyun merasa bengkak akibat ciuman ganas Chanyeol.

Baekhyun merasa akan klimaks. Otot dindingnya mengencang meransang penis Chanyeol juga ikut klimaks bersamanya. Lalu hentakkan terakhir, mereka berdua sama – sama mengeluarkan cairan hangat dalam jumlah banyak. Berteriak menyuarakan kepuasan mereka yang telah mencapai puncaknya.

Baekhyun terkekeh lagi membuat Chanyeol yang masih mengatur nafas menjadi heran.

"Kenapa?" tanya Chanyeol sambil mengusap peluh dipipi Baekhyun.

Baekhyun menggeleng. Ikut mengusap dahi Chanyeol yang terlihat mempesona. "Milikmu kenapa keluar sangat banyak Yeol? Tidak seperti biasanya. Jika aku yeoja pasti aku bisa langsung hamil!" tawa Baekhyun dan Chanyeol mengecup pipinya gemas.

"Karena penisku yang selalu memberimu kenikmatan ini pintar bisa merasakan kalau sekarang adalah malam pertama kita" jawaban bodoh Chanyeol membuat Baekhyun memasang wajah datar.

"Park Babo!"

Giliran Chanyeol yang tertawa. "Aku tidak sungkan bahkan jika kau dapat hamil Baek"

Baekhyun terdiam mendengar ucapan pemuda itu. Dia menatap Chanyeol sendu. "Tapi aku—"

"Aku tahu. Jangan diteruskan" Chanyeol memotong ucapan Baekhyun.

Mereka terdiam selama lima detik sampai akhirnya Baekhyun melotot memandang Chanyeol yang sudah tersenyum lebar.

"Astaga! Kau bangun lagi!" pekik Baekhyun menahan pundak Chanyeol untuk turun dan mencium bibirnya.

"Memang, Baek. Dan aku tidak akan membiarkanmu tidur malam ini! Bersiaplah!" ucap Chanyeol kemudian menggempur Baekhyun lagi.

Baekhyun benar – benar tidak akan bisa berjalan selama tiga hari kedepan.

.

.

.

Pemuda mungil itu membuka mata ketika jam diponselnya menujukkan pukul 08.21 A.M. Suara deburan ombak yang menderu menggelitik pendengarannya. Baekhyun memejamkan mata. Membalikkan badannya kearah samping.

Tidak ada Chanyeol.

Baekhyun berinisiatif duduk saat dirasa bokongnya merespon rasa perih yang perlahan menjalar disekitarnya. Pria manis itu kembali tiduran dengan posisi telungkup. Dia menghela nafas. Sebenarnya Baekhyun masih sangat mengantuk karena kegiatan malam pertama mereka baru selesai jam stengah 4 pagi.

Mengingatnya wajah Baekhyun memerah padam.

Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Chanyeol dengan rambut basahnya terlihat begitu segar. Pria tampan itu tersenyum melihat Baekhyun memajukkan bibirnya acuh.

"Selamat pagi kesayangan Park Chanyeol" ucapnya lalu mendekati Baekhyun dan mengecup bibirnya memberi morning kiss.

"Kesayangan apanya… Kalau kau sayang padaku jangan menghajarku seperti tadi malam, Yeol. Bokongku jadi sangat sakit" keluh Baekhyun dengan suara pelan.

"Maaf Baby. Habis kau terlalu menggoda, aku tidak kuasa" Chanyeol kembali nyengir membuat Baekhyun memutar bola matanya malas.

"Baiklah kau mandi dan aku akan membawakan sarapan kekamar" ucapnya setelah selesai memakai pakaian.

Baekhyun menggeleng. "Aku mau turun kebawah"

"Tapi kau masih—"

"Sudahlah. Bantu aku kekamar mandi" potong Baekhyun lalu mengangkat tangannya seperti anak kecil yang meminta digendong.

Chanyeol tersenyum. "Baiklah Tuan Putri"

"Yakkk! Park Chanyeol jangan sebut aku seperti itu!" kesal Baekhyun lalu memukul suami yang sedang menggendongnya ala bridal style menuju kamar mandi.

Setelah acara mandi yang sangat ribut. Mereka berdua akhirnya turun ke ruang makan Resort yang sudah disewa keluarga Park. Baekhyun agak kesulitan berjalan tapi Chanyeol masih setia membantu suaminya dengan cara memegangi pinggangnya.

"Astaga pengantin baru bangunnya sangat siang" komentar ibu Baekhyun sembari tersenyum saat menemukan cara berjalan anaknya yang aneh.

"Maaf eomma. Chanyeol tidak membangunkanku. Kupikir masih pagi"

"Tidak apa. Ayo sarapan dulu, Baby. Chanyeol juga" ucap Ibu Baekhyun lalu hendak berjalan mengambilkan sarapan Baekhyun. Mengingat anaknya susah berjalan. Tetapi Chanyeol mencegahnya. Dia mencium pipi Ibu Baekhyun kemudian mulai mengambilkan sarapan untuk Baekhyun.

Saat duduk Baekhyun disambut oleh teman – temannya. Berbagai pertanyaan terlontar dari Kyungsoo, Luhan, dan Tao. Sementara para seme hanya diam terkecuali Kai yang penasaran.

"Desahanmu keras sekali Baek. Sampai terdengar kekamarku" celoteh Kai membuat Baekhyun membulatkan mata. Dia melirik Chanyeol yang sudah duduk disebelahnya dengan piring berisi makanan.

"A—aku tidak mendesah sekeras itu!"

"Jangan bohong Baby aku tahu kau menikmatinya" goda Chanyeol lalu mengecup pipi Baekhyun. Baekhyun memukul paha Chanyeol keras. Tuan Park mengaduh membuat teman – temannya tertawa.

"Ehem. Boleh aku meminta perhatian kalian sebentar?" tiba – tiba suara Sehun mengalihkan pandangan orang – orang yang ada dimeja itu.

"Ada apa Hun?" tanya Baekhyun.

Sehun tersenyum. Pria albino itu berdiri dari kursinya. Dia mulai berlutut dihadapan Luhan yang sedang duduk disebelahnya— merasa heran. Luhan memutar kursi yang membelakangi meja mereka. Karena Kyungsoo menyarankan, begitu pun Baekhyun yang sudah gemas sendiri.

Sehun mengeluarkan sebuah kotak dari celana pendeknya. Dia membuka penutup kotak itu menampilkan cincin silver yang menimbulkan gemuruh dijantung Luhan. Pria cantik itu mengigit telunjuknya hendak menangis.

"Aku tahu ini terlalu pagi untuk sebuah lamaran dan tanpa persiapan. Tapi aku takut kau dilamar oleh pria lain lagi" ucapan Sehun membuat beberapa orang disana tertawa.

Luhan masih duduk sambil mengulaskan senyuman menunggu kata – kata Sehun. Pria itu memegang tangan Luhan dan menatapnya lekat.

"Maukah kau menikah denganku, Luhan? Maukah kau menyandang marga Oh bersamaku?" ucap Sehun dengan senyuman lembut.

Luhan mengangguk tanpa berpikir lagi. Dia langsung berhambur memeluk Sehun hingga pria itu terjungkal dengan posisi duduk.

"Iya Sehun! Aku mau!" sahutnya dengan air mata yang menggenang.

Semua yang ada diruangan itu bertepuk tangan menanggapi. Baekhyun sempat menitikkan air mata. Akhirnya sahabatnya sudah mempunyai keberanian melamar pria yang selama ini menjadi tujuan hatinya. Sehun dan Luhan tersenyum penuh kebahagiaan.

"Berbahagialah Sehun-ah" senyumnya.

.

.

.

Dua bulan berlalu.

Sejak acara lamaran mendadak Sehun untuk Luhan, dua minggu kemudian mereka menikah. Tidak lama seminggu kemudian Kris dan Tao menyusulnya. Sementara Chen dan Minseok masih berpacaran. Mereka bilang mereka tidak ingin terburu – buru.

Baekhyun dan Chanyeol juga sudah tinggal disalah satu rumah yang menjadi rumah idaman mereka berdua. Semua keadaan berjalan dengan baik layaknya rumah tangga harmonis.

Chanyeol bekerja diperusahaan ayahnya—sesuai dengan janjinya. Baekhyun pun turut membantu ibunya bekerja di Caffe. Sekarang klub malam itu sudah tidak ada. Ibu Baekhyun membeli sebuah Caffe sederhana, tapi cukup luas didaerah perkotaan Seoul. Tidak jauh dari tempat tinggal Chanyeol dan Baekhyun.

Jika jam kerja Chanyeol sudah selesai dia akan menjemput si mungil dan pulang bersama. Lalu mereka akan makan malam dirumah. Setelah itu bercinta sampai pagi.

Benar – benar rumah tangga yang selama ini Baekhyun idamkan.

Sampai akhirnya dipagi buta sebuah suara menganggu tidur Chanyeol. Pria itu berlari kearah toilet ketika mengetahui itu adalah suara Baekhyun. Dia menemukan Baekhyun terduduk lemas dimuka closet dengan kepala tertunduk.

"Ada apa Baek?" tanya Chanyeol setengah terkejut.

Baekhyun menggelengkan kepala. "Tidak tahu…" lirihnya.

Chanyeol berjongkok hendak mengangkat tubuh ringkih itu ketika sudah menyelipkan tangannya pada paha Baekhyun. Namun Baekhyun langsung mendorong tubuh Chanyeol dan kembali mengeluarkan isi perutnya. Chanyeol mendekati Baekhyun dan mengurut lehernya sesekali mengusapnya.

"Baekhyun kau sakit?" cemas Chanyeol. Tidak tega melihat Baekhyun muntah – muntah sedemikian banyaknya.

Setelah selesai, Baekhyun mem-flush closet itu lalu terkulai lemas didada Chanyeol.

"Aku ingin minum, Yeol" lirihnya.

Chanyeol mengangguk. Dia menggendong Baekhyun ketempat tidur. Kemudian pergi kearah dapur dan datang dengan secangkir teh panas juga segelas air putih. Baekhyun meneguk air putih itu perlahan. Kemudian Chanyeol memberikan teh panas tetapi Baekhyun menolak pelan.

"Minumlah Baek. Tubuhmu kehabisan energi. Ini mungkin bisa menghangatkan perutmu" bujuk Chanyeol dan akhirnya Baekhyun meminum teh itu.

Chanyeol memperhatikan wajah Baekhyun. Memang pemuda itu semakin kurus jika dilihat. Makanannya juga mulai pilih – pilih. Chanyeol tidak mengerti kondisi Baekhyun yang terbilang aneh seperti ini. Padahal seminggu yang lalu mereka masih kuat bercinta. Apa ini efek buruk dari terlalu banyak bercinta?

Oh, Chanyeol mulai khawatir.

"Baby. Besok kita kedokter ya?" tawar Chanyeol sambil mengelus lembut surai Baekhyun.

Baekhyun menggeleng lemah. "Aku tidak mau. Aku tidak sakit Yeol"

"Tapi kau baru saja muntah"

"Aku baik – baik saja"

"Tidak! Pokoknya besok kau harus kedokter! Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu. Besok kita kedokter oke" Baekhyun mengalah daripada harus berdebat panjang lebar tanpa henti dengan suaminya yang keras kepala.

Dia memejamkan mata saat Chanyeol membawanya kedalam pelukannya. Chanyeol tidak berhenti mengelus kepala Baekhyun sampai dia juga ikut terlelap.

.

.

.

Pagi hari Chanyeol membawa Baekhyun ke rumah sakit sekitar jam sepuluh. Ketika selesai sarapan tadi Baekhyun sempat muntah lagi sebanyak dua kali. Chanyeol menjadi semakin khawatir.

Dia tidak pernah melihat Baekhyun sakit seperti ini. Mungkin pernah saat Baekhyun dirawat pasca penculikkan. Tapi melihatnya tidak dalam kondisi baik menyakitkan hati Chanyeol.

Chanyeol memapah tubuh ringkih itu berjalan pelan masuk kedalam rumah sakit. Setelah mendaftar, tanpa perlu menunggu lama mereka segera masuk kedalam ruang pemeriksaan.

"Selamat pagi Baekhyun hyung, Chanyeol hyung" sapa seseorang yang memakai jas putih dengan stetoskop mengalung dilehernya.

"Pagi Tao" balas Chanyeol sementara Baekhyun melampirkan senyuman lemah.

Tao yang menjadi suami Kris memang bekerja sebagai dokter. Jadi mereka tidak perlu repot – repot mengantri. Lagipula rumah sakit ini masih mempunyai relasi dengan keluarga besar Tao.

"Astaga, Baekhyun hyung mukamu pucat sekali…" ucap Tao setelah melihat kondisi pemuda itu.

"Dia muntah – muntah beberapa hari yang lalu. Tadi pagi juga. Makannya sekarang mulai tidak teratur dan setiap makan dia selalu memuntahkannya lagi. Sebenarnya dia sakit apa Tao?" tanya Chanyeol mewakili Baekhyun yang sudah terbaring diranjang rawat.

"Baiklah. Aku akan memeriksa Baekhyun hyung dulu"

Chanyeol mengangguk.

Lima menit kemudian Baekhyun keluar dari tirai yang tersibak. Dia berjalan tertatih dengan segera Chanyeol langsung menghampiri Baekhyun dan memapahnya. Sedangkan Tao masih berdiri sambil membaca sebuah berkas yang baru saja diberikan oleh suster disampingnya.

Tao duduk dengan wajah tersenyum. Chanyeol yang melihatnya sedikit heran begitu juga Baekhyun.

"Ada apa? Baekhyun sakit apa Tao?"

Tao terdiam, senyuman itu masih terpapar diwajahnya. Dia menatap Baekhyun dan menggenggam tangannya. "Aku tidak percaya tetapi keajaiban mungkin saja terjadi tanpa diduga" kemudian dia melirik Chanyeol.

"Selamat Chanyeol hyung! Kau akan menjadi ayah. Baekhyun hyung hamil dua minggu!" ungkap Tao.

Chanyeol dan Baekhyun membulatkan mata. Mereka saling bertatapan dan wajah Baekhyun justru lebih kaget daripada Chanyeol. Dia menatap perut datarnya.

Astaga.

Benarkah ada kehidupan lain didalam perutnya? Bagaimana bisa?

"Tao. Jangan bercanda" ucap Baekhyun masih tidak percaya.

Tao mengangguk yakin. "Benar hyung. Kau hamil! Muntah – muntah yang kau alami itu adalah efek dari kehamilan awal. Biasanya gejalanya tidak jauh dari merasa pusing dan mual. Ah, ini sudah kutuliskan beberapa resep obat dan susu yang baik untuk janinmu"

Baekhyun masih terdiam. Dia tidak percaya apakah dia harus senang atau sedih. Dia adalah namja. Mengapa dia bisa hamil? Apa ibunya memang salah melahirkannya kedunia sebagi lelaki?

Chanyeol mengucapkan terima kasih kepada Tao dan menuntun Baekhyun keluar dari ruangannya. Pria mungil itu masih diam. Chanyeol tidak menggubrisnya. Dia lebih memilih untuk menebus obat terlebih dahulu kemudian pulang karena Baekhyun butuh banyak istirahat.

Baekhyun tetap diam sesampainya dirumah. Chanyeol agak khawatir dengan kondisinya. Tapi ini adalah berita baik. Maka dia segera menelpon keluarganya beserta Ibu Baekhyun. Tidak ketinggalan teman – temannya pun dia hubungi dan Luhanlah yang paling antusias mendengarnya.

Chanyeol mengalihkan pandangannya kearah Baekhyun. Dia tidak bergeming. Pria jangkung itu melangkah mendekati Baekhyun yang sedang menonton televisi. Dia melihat Baekhyun mulai mengelus pelan perut datarnya.

"Baek. Ini obatmu. Diminum dulu, Sayang" ucap Chanyeol pelan sambil berlutut didepan Baekhyun.

Baekhyun meminum obat itu dengan patuh. Chanyeol tersenyum memandang pemuda yang selalu membuatnya merasakan hangatnya cinta dihatinya.

Chanyeol mengambil tangan Baekhyun dan mengggengamnya erat. Baekhyun menatap Chanyeol dengan pandangan sendu. Dikecupnya tangan mungil itu berkali – kali sampai Baekhyun akhirnya tersenyum.

"Kau mungkin masih tidak percaya. Tapi aku tidak akan bohong jika sekarang aku mengatakan bahwa aku sangat bahagia bersamamu, Baek. Karena kau telah menghadiahkanku seorang malaikat kecil yang akan membuat diriku menjadi ayah seutuhnya. Aku sungguh bersyukur. Terima kasih, cintaku" perkataan Chanyeol begitu lembut menggema ditelinganya.

Baekhyun menitikkan airmata. Awalnya dia merasa ragu mengapa hal ini bisa terjadi. Tapi senyuman Chanyeol menguatkan hatinya. Kepala Baekhyun mengangguk dan Chanyeol langsung memeluknya erat.

"Terima kasih juga Chanyeol" isak Baekhyun.

Chanyeol mengelus kepalanya perlahan. Dia menghapuskan jejak air mata Baekhyun dan mengecup bibirnya lembut. "Kita rawat bayi kita yah, Baek. Aku berjanji akan menjadi ayah yang baik" senyum Chanyeol.

Baekhyun tertawa. "Kalau kau ayah lalu aku siapa?"

Chanyeol mengangkat kedua alisnya. Dia baru ingat. Tapi sedetik kemudian dia tertawa. "Kau jadi eomma-nya. Karena kau yang menyimpannya didalam perut kecilmu ini" papar Chanyeol sambil mengelus perut rata si mungil.

"Baik – baik didalam sana yah, Baby. Appa menunggumu lahir"

Bagaikan seberkas cahaya kehangatan dihati Baekhyun. Senyuman itu tidak pernah luntur dari bibirnya. Dia sangat beruntung memiliki Chanyeol yang begitu menyayanginya. Baekhyun pun juga berdoa agar diberi kekuatan untuknya dan anaknya nanti.

.

.

.

Menjelang empat bulan kehamilan Baekhyun. Ternyata dia tidak sendiri mengalami hal seperti ini. Sahabat baiknya Kim Kyungsoo juga mendapatkan sesuatu yang special. Baekhyun turut bahagia dengan pasangan Kai dan Kyungsoo yang kehamilannya sudah berjalan sebulan.

Sementara disisi lain Luhan yang juga sangat menginginkannya malah tidak bisa. Tetapi dia tidak bersedih. Karena Sehun mengatakan bahwa mereka akan mengadopsi anak jika anak Chanyeol dan Baekhyun sudah lahir.

Tuan Park begitu protektif dalam menghadapi Baekhyun yang tengah hamil. Dia tidak keberatan setiap hari meladeni permintaan aneh Baekhyun yang bisa dibilang tidak masuk akal dalam masa mengidamnya.

Terkadang Baekhyun merengek minta dibelikan sesuatu yang aneh. Seperti stick baseball, bola basket, atau pita berwarna – warni. Baekhyun sendiri tidak mengerti apa yang dia mau dan mengapa dia menginginkan semua itu. Bahkan ketika Chanyeol akhirnya membawa barang – barang tersebut pulang.

Ini sungguh langka bagi Tuan Park karena sejak dulu pria bengis itu memang tidak suka disuruh – suruh. Apalagi diperintah. Ingat Chanyeol dulunya adalah Ketua dari Penguasa Sekolah. Namun kastanya sekarang jatuh oleh Baekhyun yang menjadikannya pesuruh.

Sungguh menyedihkan..

Walau begitu Chanyeol tetap setia melaksanakan setiap keinginan Baekhyun. Demi dia dan bayi mereka kelak.

Suatu hari permintaan Baekhyun mulai melantur jauh. Beberapa diantaranya menyakitkan hati Chanyeol meski itu tidak terpasang diwajahnya. Ibu Baekhyun hanya berkata bahwa menantunya terbilang sangat hebat dalam menjaga kesabarannya.

"Aku ingin melihat Sehun!" pekik Baekhyun saat Chanyeol sedang libur bekerja.

Chanyeol yang melakukan perintah Baekhyun—dengan berat hati tetap membawa Sehun kerumahnya. Responnya begitu mengejutkan Chanyeol. Baekhyun sangat girang setelah melihat sahabatnya itu. Luhan yang ikut datang tidak cemburu sama sekali. Dia tahu Baekhyun mungkin hanya merindukan suami tampannya itu.

"Sudahlah! Jangan bertindak seperti anak kecil, Yeol! Baekhyun mungkin sedang ingin ngidam melihat wajah tampan" Luhan terkekeh geli setelah mengeluarkan kalimatnya.

"Yak! Memangnya aku tidak tampan?! Aku juga tidak kalah tampan dari Sehun!" kemudian Chanyeol mengamuk dan mengusir Sehun beserta Luhan untuk pulang.

Dibulan ketujuh kehamilan Baekhyun masa ngidam aneh itu sirna sudah. Chanyeol bisa dengan tenang mengurus Baekhyun. Namun yang mengejutkan adalah seiring dengan membesarnya perut Baekhyun. Pemuda itu malah semakin lemah.

Sudah empat kali Chanyeol bolak – balik rumah sakit hanya karena Baekhyun kerap dicek keadaannya. Chanyeol sendiri sebenarnya tidak menyukai rumah sakit meski Tao berjanji akan memberikan perawatan penuh. Tapi tetap saja Chanyeol tidak nyaman, begitupun Baekhyun.

"Chanyeol…" suara parau Baekhyun membangunkan Chanyeol yang tertidur disebelahnya.

Chanyeol menyalakan lampu kecil yang ada dikamar lalu memapah Baekhyun kekamar mandi. Dia mengurut tengkuk pemuda itu dengan sabar. Ya. Baekhyun muntah kembali. Tapi kali ini yang keluar hanya air.

Entah apa yang diderita Baekhyun dikala malam selalu merasa mual dan pening. Fisiknya melemah seiring perkembangan janinnya. Setelah selesai membersihkan mulutnya Chanyeol mulai menggendong tubuh Baekhyun dan membaringkannya diranjang mereka.

Dia berjalan sebentar kearah dapur dan kembali dengan nampan berisi gelas maupun obat. Baekhyun sangat lelah. Bayangkan saja setiap hari dia harus meminum lima obat dipagi dan siang hari hanya demi menguatkan tubuhnya. Dan jika malam tiba semua obat itu akan dikeluarkan lagi.

Chanyeol sedih melihat kondisi lemah Baekhyun.

Dia mengusap perut Baekhyun perlahan sesekali mengecupnya. "Kenapa kau sangat bandel didalam sana, Baby? Apa kau tidak tahu eommamu kesakitan? Tumbuhlah dengan baik. Appa akan menjagamu.." bisik Chanyeol berbicara pada perut Baekhyun.

Baekhyun tersenyum kecil. Tiba – tiba dia merasa perutnya mendapat sebuah gerak. Baekhyun sungguh terkejut karena setelah tujuh bulan lamanya gerakan itu tidak pernah muncul.

"Akh! Yeol, dia menendang!" rintih Baekhyun dan Chanyeol membulatkan mata.

"A—Apa?! Kau bercanda?"

Baekhyun mengangguk sesekali meringis.

"Astaga! Akhirnya kau meresponku! Hey, Baby! Ini appa sayang! Ini appa!" sahut Chanyeol gemas.

Baekhyun tertawa sementara Chanyeol menitikkan air mata. Dia sungguh terharu melihat pergerakan kecil didalam sana. Seolah bayi mereka berbicara pada Chanyeol.

"Pasti dia marah karena diomeli olehmu" kekeh Baekhyun dan Chanyeol tersenyum.

"Hey jagoan! Harusnya appa yang marah karena dirimu appa jadi tidak mendapat jatah selama ini. Huhu… Appa sudah tidak kuat menanggung beban ini. Tubuh eommamu semakin seksi setiap harinya. Menggoda appa untuk memangsanya setiap malam" lirih Chanyeol bersikap melankolis.

Baekhyun memutar bola mata malas.

"Dasar mesum!"

"Tapi kau suka kan?"

Baekhyun menarik wajah Chanyeol dan mengecup bibirnya sekilas.

"Aku juga merindukannya" bisik Baekhyun didepan wajah Chanyeol.

Pria tampan itu membulatkan mata. Dia tidak percaya bahwa Baekhyun juga merindukan seks mereka. Oh, astaga dada Chanyeol bergemuruh seperti seorang gadis. Chanyeol bisa gila! Dia sungguh menginginkan Baekhyun saat ini.

Chanyeol membenamkan wajah kebantal. Baekhyun yang melihatnya terheran. Ada apa lagi dengan suaminya?

"Kau kenapa Yeol?"

Chanyeol mengangkat wajah lalu menatap lekat si mungil. "Kenapa kau malah mengatakannya Baek? Aku— malah semakin menginginkannya… Uhh" keluh Chanyeol dan kembali membenamkan wajahnya.

Baekhyun mengulaskan senyum sambil mengelus surai hitam suaminya. "Kurasa, emm… Kurasa tidak apa kita melakukannya. Bukankah banyak pasangan yang juga melakukan seks dikala hamil?"

Chanyeol seketika bangkit sampai Baekhyun terkejut. Ekspresinya berubah berseri – seri seperti anak anjing dihadapan Baekhyun. Sungguh menggemaskan.

"Benarkah?" sahutnya.

Baekhyun mengangguk agak ragu. "Mungkin"

"Ohhh. Penantianku akhirnya berujung juga! Terima kasih Tuhan!" setelah mengucapkan kalimat konyol itu Chanyeol langsung mencium bibir Baekhyun hingga pemuda itu terjatuh keranjang.

Baekhyun membalas ciuman Chanyeol. Mereka saling memagut bibir satu sama lain seolah mengikis seluruh kerinduan yang selama ini mereka tahan. Chanyeol menopang tubuhnya dengan siku agar tidak menindih Baekhyun.

Mereka masih terbuai dalam momen ciuman panas hingga akhirnya Chanyeol melepaskan celana Baekhyun beserta celana dalamnya. Memasukkan jari - jarinya kedalam lubang Baekhyun lalu melepaskan celananya sendiri.

"Pelan – pelan. Nanti Baby-nya kesakitan, Yeol!" Baekhyun memperingati sebelum Chanyeol berubah buas dan dibalas dengan anggukan Chanyeol.

Chanyeol mulai memasukkan penisnya perlahan. Mendorongnya sedikit demi sedikit. Sementara Baekhyun mengigit bibirnya. Chanyeol mulai menggerakkan pinggulnya pelan, berusaha untuk tidak menyakiti Baekhyun juga anaknya. Namun dia memang selalu tidak bisa menahan gejolak nikmat yang lubang Baekhyun berikan.

"Akh! Sempitt, Baek"erang Chanyeol memejamkan matanya erat.

Reaksi yang selalu dia dapatkan dari Baekhyun adalah yang terbaik. Dia merindukan lubang hangat si mungil yang tidak pernah gagal menjepit miliknya erat. Chanyeol kembali bertindak brutal menggenjot tubuh Baekhyun. Sedangkan Baekhyun juga frustasi. Dia menginginkan lebih tapi dia pun merasa sakit dan takut akan kondisi bayinya.

"Ahhh… Yeol… Nghhh, pelan – pelan" desahnya.

"Uhhh… Baek"

"Mhhh… Ahhh… Ohhh"

"Baek— Aku, aku… sudah dekat sepertinya" ujar Chanyeol memperingati sambil terus menghujam Baekhyun.

Tubuh Baekhyun tersentak ketika Chanyeol mencapai klimaks dan mengeluarkan cairannya. Nafas mereka terengah – engah akibat masa orgasme yang mereka rasakan. Chanyeol tersenyum lalu mencium bibir Baekhyun.

"Terima kasih, Sayang" ucapnya dan Baekhyun mengangguk sambil melampirkan senyuman manisnya.

Chanyeol melepaskan kontak mereka. Dia bangkit dari ranjang dan membuka kaosnya yang sudah basah. Berjalan kearah lemari hendak mengambilkan baju baru untuk Baekhyun yang basah oleh keringat.

"Akhh…" tiba – tiba Baekhyun merintih sambil memegangi perutnya.

Chanyeol menoleh ketika dia sudah memakai kaosnya.

"Akhh! Chanyeol! Sakit… sakit Yeol!" ringis Baekhyun sambil memegangi perutnya.

Pria jangkung itu segera mengenakan celana panjangnya dan mendekat kearah Baekhyun. "Ke—kenapa Baek?"

"AAAAHHHH! SAKIT!" Baekhyun mulai menjerit sambil meremas kencang sprei.

"Astaga jangan – jangan kau akan—"

"IYA AKU AKAN MELAHIRKAN YEOL! CEPAT BAWA—UHH, BAWA AKU KERUMAH SAKIT!" teriak Baekhyun frustasi tanpa menyaring volume suaranya. Membuat Chanyeol dengan setengah keidiotannya segera berlari kebawah dan membuka garasi.

Ditengah perjalanan dada Chanyeol bergedup kencang seakan dia tengah dihantui oleh bayang – bayang menakutkan. Oh, tentu saja. Dia merasa bersalah karena mengajak seks Baekhyun yang tengah hamil. Akhirnya Baekhyun malah kesakitan seperti ini.

"AUUH! AHHHH! OHH! AHH! CHANYEOL!" Baekhyun masih berteriak – teriak histeris.

Chanyeol harus tetap fokus memasang pandangannya pada jalanan. Meski keringat sudah mengucur deras dari pelipisnya. Dia harus fokus. Namun tiba – tiba Baekhyun menjambak rambutnya dengan kencang.

"Akh! Baek! Sakit! Ki—kita bisa menambrak nanti"

"Aku tidak peduli! Cepatlahhh! Ahhh! Uhh!" bentak Baekhyun kalap.

Chanyeol pasrah saja merasakan nyeri diujung kepalanya. Dia tetap melajukan mobil dengan kecepatan penuh meski Baekhyun mulai merancau aneh – aneh. Sesekali dia mengumpat apa saja yang ditangkap bola matanya.

"INI SALAHMU! PARK BABO! BODOH! MESUM! CABUL! ARRGHH!"

"Iya… Iya Baek ini salahku. Limpahkan sakitmu padaku..." ucap Chanyeol hendak menangis. Sepertinya rambutnya akan botak sebentar lagi.

Setelah mengalami perjalanan yang menyakitkan—sialnya rumah sakit milik Tao begitu jauh hingga dia harus merasakan penyiksaan sementara— Akhirnya mereka sampai dan Baekhyun langsung dilarikan ke UGD.

"Baekhyun hyung akan melahirkan?!" Tao yang terburu – buru menghampiri ketika sebelum sampai Chanyeol memang sudah menghubunginya terlebih dahulu.

"Cepatlah tolong Baekhyun, Tao…"

Tao mengangguk. "Baiklah. Pertama – tama kau harus tenang hyung. Tenangkan dirimu"

Chanyeol akhirnya diam meski jantungnya berdetak kesetanan melihat wajah kesakitan Baekhyun. Tubuhnya serasa lemas. Belum kepalanya masih sakit akibat jambakan maut milik suaminya.

"Tapi bagaimana bisa Baekhyu hyung kontraksi, hyung? Padahal janin Baekhyun hyung masih tujuh bulan. Bayinya akan prematur" ujar Tao menatap lekat Chanyeol.

Chanyeo meneguk ludahnya. "Iya... Kurasa ini salahku. Ka—kami melakukan seks dan Baekhyun malah kesakitan…"

Tao membulatkan mata mendengarnya.

"Astaga! Baekhyun hyung sedang hamil tua dan jika kalian melakukan seks berarti kalian hendak melakukan proses induksi pada janinnya, Chanyeol Hyung!" papar Tao dan Chanyeol menunduk lemah.

"Maaf. Aku pikir tidak apa – apa…" Tao menggelengkan kepala mendengar ucapan Chanyeol. Dia segera memerintahkan suster – suster untuk memindahkan Baekhyun menuju ruang operasi. Setelah memberikan infus pada Baekhyun.

"MAU KEMANA KAU HAH?! KEMARI KAUU!" teriak Baekhyun ketika suster mulai mendorong brangkar itu menjauh dari Chanyeol.

"Iya aku disini, Sayang"

Chanyeol menggengam tangan Baekhyun sesekali mengecupnya.

"Uhhh… Chanyeol"

"Sakit ya? Bartahanlah! Kau bisa Baek! Ayo Baby jangan buat eomma kesakitan" cemas Chanyeol tapi masih berusaha menyemangati suaminya. Meskipun dia sendiri sangat panik dan cemas. Apa yang dia lakukan memang sangat bodoh.

Chanyeol menyesal.

"Chanyeol! Hiks… Park Babo ini semua salahmu!" Baekhyun mulai menangis dan genggaman mereka terlepas saat pintu ruang operasi tertutup.

Chanyeol jatuh terduduk. Bibirnya hendak mengucapkan nama Baekhyun sekali lagi namun semua itu terlambat. Dirinya begitu lemas. Ini semua salahnya. Jika saja dia bisa lebih baik dalam mengontrol hasrat seksnya. Dia pasti tidak akan membahayakan Baekhyun dan anaknya.

Sial, Chanyeol merasa ingin pingsan.

Tidak berapa lama Kris, Sehun, Luhan, Kai, dan Kyungsoo datang beserta Ibu Baekhyun. Chanyeol langsung menangis kedalam pelukan Ibu Baekhyun. Dia mengucapkan permintaan maaf beberapa kali sesekali mengutuk dirinya kenapa dia bisa begitu bodoh.

Sementara teman – temannya hanya bisa berdoa dan menguatkan hatinya.

'Oh, Tuhan tolonglah orang – orang yang paling kucintai didalam sana' batin Chanyeol terus berdoa dalam hati.

.

.

.

Tiga tahun kemudian.

Chanyeol bermimpi.

Dia bermimpi berada ditempat yang serba putih. Taman bunga menghiasi tempatnya berpijak sekarang. Tempat itu sungguh indah. Mungkin ini yang bisa disebut surge olehnya. Sampai akhirnya bola mata bulat itu dari kejauhan menatap seseorang yang selalu membuatnya jatuh cinta.

Dia tersenyum manis sambil menggendong anak kecil yang terlihat begitu menggemaskan.

Chanyeol ikut tersenyum hendak menghampirinya. Tapi kakinya tertahan. Nafasnya seolah tersumbat ditenggorokannya dan keringatnya mulai mengucur.

Chanyeol panik. Pandangannya buram. Bahkan ketika pria tercintanya memanggilnya dari kejauhan. Pengelihatannya sudah tertutupi kegelapan.

Chanyeol masih menutup mata ketika—

BUK!

Sesuatu memukul matanya yang terpejam cukup keras.

"Akkkkhhh!" rintihnya sambil mengelus – elus bola matanya yang terasa nyeri.

"Ah! Dia sudah bangun!" ujar seseorang yang sedang tiduran disebelahnya.

Chanyeol membuka matanya. Dia merasa mendengar suara Baekhyun. Tapi bola matanya malah menangkap sosok bayi berumur tiga tahun yang sedang telungkup diatas dadanya. Jemari bayi itu sudah masuk kedalam lubang hidungnya membuat Chanyeol susah bernafas. Jadi ini alasan mengapa dia merasa sesak tadi.

"Selamat pagiii Appa!" sapa seorang malaikat dengan senyuman manisnya.

Chanyeol balas tersenyum saat Baekhyun mencium bibirnya memberi Tuan Park morning kiss seperti biasa.

"Haha. Sena ayo lepaskan jarimu, Nak" pinta Baekhyun lembut lalu menyingkirkan jemari mungil Sena dari hidung Chanyeol.

"Dasar Putri Nakal! Beraninya kau memukul wajah tampan appa hanya untuk membangunkan appa! Sini appa hukum!" gemas Chanyeol dan langsung menghujani Sena kecupan bertubi – tubi.

Bayi mungil itu tertawa dengan suara lucunya. Suaranya begitu menggelitik pendengaran Chanyeol untuk terus menjahili Putri Kecilnya. Baekhyun yang melihat itu tersenyum. Sejak melahirkan Sena dengan proses sesar tubuhnya berangsur membaik.

Dia sempat cemas saat sadar Sena lahir prematur. Tapi Baekhyun bersyukur Sena baik – baik saja. Dan itu membuktikan dari tubuh Sena yang sangat sehat dan berisi di umur yang sudah mencapai tiga tahun.

Bahkan bayi mungil itu sudah bisa memukul ayahnya setiap pagi demi membangunkannya. Memang itu bukan hal baik. Baekhyun sendiri tidak mengajarkannya. Tapi dasarnya sifat berandal Sena tidak jauh dari tabiat Park Chanyeol—ayahnya.

Sekarang setiap pagi Baekhyun bisa menikmati pemandangan Chanyeol yang begitu bahagia sambil mengigiti tangan gembul milik Sena. Baekhyun tertawa manis.

"Ayo kalian mandi! Hari ini kita akan pergi piknik bersama keluarga dan teman – teman!" ucap Baekhyun memperingati dengan posisi duduk sambil berkacak pinggang.

Chanyeol dan Sena saling bertatapan lalu kembali menatap Baekhyun.

"Ayo kita habisi eomma dulu Sena – ya. Hiahhhh!" sahut Chanyeol kemudian menindih Baekhyun dan mengecupi wajah pria tercintanya dibantu oleh Sena.

Begitulah kebahagiaan keluarga mereka. Lengkap sudah kehidupan Park Chanyeol dan Byun Baekhyun dengan kehadiran Park Sena putri pertama mereka.

Sebuah kebahagiaan dapat terlahir dari rasa sakit yang pernah diderita. Melewati banyak rintangan berliku yang memang merupakan bumbu dari suatu kehidupan. Itu sudah menjadi bagian dari cerita setiap manusia.

Karena semua bermula dari seorang berandal bertabiat buruk yang mampu berubah karena kehangatan hati seorang malaikat mungil.

.

.

.

.

.

END

Akhirnya END lagi untuk kedua kalinya.

Sedih gak? *nggakkk* TwT

Terima kasih untuk semua yang sudah mau menyempatkan waktu berharga kalian untuk baca ff yaoi abal – abal amatiran udik pertama milik sehyun ini *deep bow* Maaf sekali lagi sehyun gak bisa nyebutin satu – satu nama kalian semua. Tapi yang jelas sehyun sangat senang kalian masih menantikan ff sehyun update*hiks*

Sehyun punya project baru yang ceritanya mengandung unsur Fantasy Romance. Idenya emang gak jauh – jauh dari ya.. you know when you read it hehe.

Penasaran? Cek di story Sehyun yah ^^

Sehyun juga bakal kasih special side story tentang kehidupan Sena yang sudah dewasa. Ada yang tertarik? Kalau ada 30 orang yang tertarik bakal sehyun bikin. Tapi kalau ngga ya gak jadi hehe. Karena cerita Sena akan beda dari ChanBaek. Kalian akan tahu kalau membaca nanti.

Sekali lagi kalau ingin mendekatkan diri(?) dengan sehyun, follow saja :

FB : OHan SeHyun

Twitter : ohansehyun

IG : sehyun14

Pin BB : yang minat banget tanya di PM/DM aja hehe *digampar ChanBaek*

Sekian dari Sehyun~

Salam YEHET OHORAT! XD