Kimochi Chapter 2
Kimochi
Naruto & all characters belongs to Masashi-sensei
Kimochi is Mine
Enjoy my story
No flame needed in my story
AU-Hishschool Fic
"AHHHH! PENCURI! AWAS, YA KAU! CEPAT KEMBALIKAN DOMPETKU BESERTA ISINYA!" Aku memukuli 'pencuri' sekaligus 'penyelamatku' dengan ransel kulit-imitasi-milikku. Belum puas, aku juga menendang lututnya sekaligus daerah 'istimewa' baginya yang seorang pria. Ia mengerang kesakitan dan akhirnya jatuh tersungkur.
"ARGHHH..." Ia memegangi bagian 'istimewanya' itu. Aku menginjak dadanya hingga kaus putih dan kemeja coklat tua yang tidak dikancingkan itu menjadi kotor. Sepertinya tidak terlalu sakit, hanya saja kausnya pasti akan menjadi kotor, mengingat aku menginjak dadanya dengan sneaker butut yang belum sempat kucuci sejak enam bulan yang lalu. Aku mengeratkan peganganku pada tubuh mungil Momo karena ia mulai menggeliat minta dilepaskan.
"Apa yang kau lakukan, bocah?" Ia mengerang dan wajahnya merah padam. Peduli amat. Dia 'kan seorang pencuri yang licik. Pura-pura mau menolong, malah akhirnya memanfaatkan kesempatan dan mengambil hak milik orang lain. Aku merapihkan helai-helai merah mudaku yang mengintip dari balik topi coklat-putih yang kupakai. Semua rambutku memang kujejalkan kedalam topi hingga tidak kelihatan. Aku memakai celana jeans hitam panjang dan kaus longgar berwarna putih bergambar panda yang sedang memakan bambu.
"Huh, Kau pura-pura lupa atau memang bodoh? Kembalikan sekarang juga dompetku lengkap beserta isinya! Sekarang juga!" Ia memandangku sambil mengernyitkan dahinya. Aku baru sadar kalau matanya terlihat ramah, meski sekarang sedang menyorotkan amarah.
"Dompet apa, hah? Kau mau memerasku? Penjaga!" Tiba-tiba saja pemuda ini berteriak. Sontak, aku langsung mengangkat kakiku dari dadanya. Ia bangkit sambil membersihkan kausnya. Namun, sepertinya tidak banyak bekerja. Mengingat nodanya akan membekas apabila tidak dicuci. Aku menyiapkan segala kata-kata yang tepat untuk menghadapi penjaga yang akan segera datang dari lorong di depan kami. Yang salah itu dia, bukan aku.
"Ada apa?" Tak disangka-sangka yang muncul malah seorang pemuda tampan yang kelihatan seumuran denganku. Ia mengenakan kaus berwarna biru donker dan celana panjang berwarna hitam. Aku meremas pelan tubuh Momo, saking kagetnya. Ia terlihat buru-buru mengeluarkan kacamata berbingkai tebalnya dari dalam saku kemeja, membuat wajah malaikatnya kembali terlihat aneh. Dasar kacamata laknat!
" ?" Kenapa malah dia yang muncul, sih?
"Aaahh, Sa-"
BUAGH
"Arghhh! Apa kau gila?" Aku juga belum mengerti apa yang barusan terjadi. Harusnya 'kan membela dia, tapi kenapa malah menendang lututnya?
"Kenapa orang-orang sangat senang menendangku pagi ini?" Lanjutnya sambil sesekali mengusap-usap lututnya. Ternyata Pencuri Tampan ini lumayan ramah dan Friendly.
"Apa yang sebenarnya ia lakukan padamu, Baka-Pink?" Tanya pelan. Tangannya terulur untuk melepaskan topiku. Helaian merah mudaku terurai.
"Jangan pakai topi itu. Aneh." Huh, dasar. Kau pikir memangnya kau sendiri tidak aneh bersama kacamata itu?
"Hei-" Aku baru saja mau menyuarakan isi hatiku barusan, namun 'pencuri tampan' menginterupsi. Menyebalkan.
"Jadi, Baka-Pink? Sepertinya aku mengingatmu. Pilihan nama yang kreatif sekaligus cocok." Wow, , coba lihat! Kau baru saja menemukan satu orang yang sama persis denganmu. Sifat menyebalkan dan wajah sok kerennya sama banget. Membuatku serasa ingin sekali menjambak rambutnya yang dikuncir itu.
"Eh, pencuri, dengar, ya. Namaku itu bukan Baka-Pink, tapi Sa-" Kini malah mencubit kedua pipiku. 'Kok rasanya hatiku melambung tinggi, ya? Aku mikir apa, sih.
"Tidak ada yang menanyakan namamu, Baka-pink. Aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi disini," Aku mendengus sebal. Tiba-tiba saja aku teringat ucapan di balkon perpustakaan.
"Eh, kau juga jangan sekarang kenalannya. Nanti saja, oke? Jangan merusak kesan misterius diantara kita. Kesan pertamanya sudah cukup bagus seperti di Sinetron."
"Memang kau tidak bertanya, tapi dia." Aku menunjuk 'Pencuri tampan' yang sedang menahan tawa saat melihat wajahku.
"Sayang sekali, memangnya kapan aku bertanya?" Arghhh! Kenapa sekarang ada dua orang tampan yang sama-sama menyebalkan dalam hidupku, sih? Beruntung sekaligus sial sekali! Apalagi Pencuri Tampan ini menatapku dengan tatapan seperti seorang cowok yang menaksir cewek. Bukan terlalu percaya diri atau apa, aku hanya menjelaskan apa yang menjadi pengelihatanku.
"Lupakan itu. Apa yang sebenarnya terjadi tadi?" Tanya wajahnya kelihatan serius dan kalau aku tidak salah, wajahnya terlihat
-Cemburu?
Ah, Mana mungkin dia cemburu. Iya 'kan? 'Kan?
"Begini, ORANG INI MENCURI DOMPETKU, DOMPET YANG DIPENUHI HASIL JERIH PAYAHKU! TABUNGANKU UNTUK MEMBELI SERAGAM KONOHA GARDEN HIGH!" Wow, suaraku serasa habis setelah berteriak kencang. Aku memicingkan mataku kepada Pencuri tampan yang sedang menutup telinganya, begitu juga .
"Itachi, kau benar-benar mencuri?" terlihat seperti seorang hakim. Keren! Ah, aku mikir apa, sih? 'Kan bukan waktunya untuk memikirkan hal semacam itu.
"Apa, sih? Mana mungkin. Aku cuma meminjamnya, bahkan aku janji untuk mengembalikannya-"
"Tapi 'kan aku tidak mengizinkannya, Kuso!" Pencuri tampan justru tersenyum.
"Ah, memang isinya berapa, sih? Lima puluh ribu Ryo? Nih, cukup gak?" Dia mengeluarkan lima lembar uang senilai sepuluh ribu ryo. Jumlah yang fantastis. Tapi jumlahnya kelebihan tiga puluh lima ribu ryo.
"Isinya hanya lima belas ribu ryo. Tolong berikan uang pas, sekaligus dompetku. Cepat!" Aku mengangsurkan tanganku ke arahnya. Ia menatapku sambil menahan tawa. Apa yang lucu? Orang ini sungguh menyebalkan.
"Kau bisa mengatasi ini, Tachi." Kulihat Mr. Sucks meninggalkan ruangan itu. Terdengar derak pintu pelan di belakang punggungku setelah Mr. Sucks keluar. Ah, sekarang hanya tinggal aku dan pencuri tampan ini.
"Baik. Oh, ya. Mmm, Baka-Pink? Aku lupa dimana meletakkan dompetmu itu. Bahkan aku lupa bentuknya seperti apa." Kuso. Sekarang aku benar-benar ingin sekali menghajar manusia nyebelin satu ini. Bertahanlah, Sakura.
"Bentuknya panjang sekitar satu jengkal tangan. Warnanya putih dan terdapat gambar rilakkuma-chan ditengah-tengahnya. Sebaiknya cepat kau kembalikan dompetku itu. Disana ada kartu pelajarku, kartu member Kanpaii dan member Megumi." Aku terengah setelah penjelasan panjangku padanya. Ia menatapku seolah kebingungan.
"Memang kartu-kartu itu penting?" Ah, pertanyaannya yang satu ini benar-benar membuatku naik darah.
"Memang penting? Tentu saja penting! Aku akan kehilangan identitas pelajarku dan tanpa kartu-kartu member itu aku takkan dapat diskon dan info-info menarik dari kedua toko buku favoritku itu. Kuso, kuso, kuso!" Alasan lainnya tentu saja karena untuk membuat kartu member aku harus menyisihkan seribu ryo untuk tiap kartunya. Kalau kartu pelajar, sih masih dapat ku toleransi. Pasalnya kartu pelajar yang ada di dompetku hanyalah kartu lama dari Hokage Highschool. Momo menyalak beberapa kali ke arahnya. Aku menekuk wajahku dan menatapnya garang, dia hanya menyengir kuda serta membentuk kedua jari tangan kanannya membentuk huruf v.
"Baik. Baik. Untuk mengganti kartu-kartu itu, kuberikan lima puluh ribu ryo, mau?" Tanyanya. Ah, aku kesulitan menolak pesona dari pencuri tampan ini. Kharismanya itu mengalahkan segala aura memikat dari Mr. Sucks malah. Aku kembali meremas Momo yang ada dipelukanku.
"A-ah itu terlalu besar, tapi mengingat kartu-kartu itu... Setengahnya saja, deh," Aku memalingkan wajahku dari pandangannya. Dua puluh lima ribu ryo rasanya setimpal.
"Oke, ini." Dia menyerahkan beberapa lembar uang padaku. Baiklah. Hanya saja sedih juga kalau mengingat dompet rilakkuma-chan kesayanganku yang kini entah dimana. Masa-masa indahku bersama dompet rilakkuma-chan... Ah,
"Ini," Dia mengangsurkan sebuah buku yang tebalnya sekitar lima sentimeter dengan cover berwarna gradasi hitam putih. Judulnya ditulis dengan cetakan berwarna merah seakan-akan ditulis dari genangan darah. Buku itu berjudul 'Kimochi'. God!
"Eh, untuk apa?" Aku menatap lamat-lamat buku itu bagaikan buku itu akan menerkamku apabila aku tidak memperhatikannya dengan baik.
"Untuk mengganti dompetmu. Ah, satu lagi," Ia mengeluarkan spidol ber-tip tebal dari saku kemejanya yang kini acak-acakan berkat ulahku. Dengan cepat dia menggoreskan spidol itu ke atas halaman pertama novel Kimochi. Apa, sih? 'Kok dia segala tanda tangan? Memangnya dia pikir tanda tangannya itu berharga?
"Ngapain kau tanda tangan diatas situ?" Tanyaku sambil memasang tatapan yang mungkin kalau dilihat sangatlah menyebalkan. Tatapan meremehkan. Namun, Pencuri tampan hanya terkekeh pelan.
"Kau tidak ingin tanda tangan dari penulisnya secara langsung? Ah, ya. Pastinya kau sudah puas karena sempat memukul, menendang dan menginjaknya. Ya, 'kan?" Ucapnya enteng sambil berjalan ke arahku. Ia berbisik di telingaku dengan nada yang amat sangat seksi.
"Tapi, aku suka perlakuan galakmu itu. Manis." Ah, dia meniup telingaku? Apa, sih? 'Kok dadaku jadi berdebar-debar. Rasanya sama persis seperti saat aku sedang bersama Mr. Sucks. Tapi orang ini...Mesum.
"TACHIHA-SAN! KAU ADA DIMANA?!" Teriak seseorang dengan suara yang menggelegar. Seorang wanita dengan rambut berwarna merah keluar dari lorong di depan kami. Mengapa wanita itu memanggil Pencuri tampan dengan sebutan 'Tachiha'? Itu 'kan nama pena dari penulis Kimochi. Apa jangan-jangan Pencuri tampan benar-benar penulis Kimochi? Aku pikir dia cuma bercanda tadi.
"Hai, Karui." Ucap Pencuri, eh maksudku Tachiha-san.
"Astaga! Ada apa dengan bajumu? Sepuluh menit lagi kau harus keluar! Tadinya kupikir kau benar-benar bersantai disini. Ternyata malah main kotor-kotoran! Dasar menyusahkan!" Wanita bernama Karui itu menarik lengan Tachiha-san dan melepas kemejanya. Ia menepuk-nepuk kemeja yang ada jejak sepatuku itu.
"Hanya sedikit kecelakaan," Ucapnya lalu menatapku lamat-lamat. Dia menyalahkanku,ya? "Kau tidak perlu khawatir, Karui. Aku masih memiliki cadangan di mobil." Tachiha-san duduk di salah satu kursi di lorong itu.
"Dia siapa? Salah satu fans?" Karui menatapku sebal. Hei, memang apa salahku hingga kau menatapku begitu?
"Bukan. Dia temanku." Aku sadar sekarang situasinya bertambah rumit. Lebih baik aku pergi sekarang.
"Ah, Sumimmasen." Aku ber-ojigi sejenak lalu pergi meninggalkan ruangan itu secepatnya. Di luar aku melihat seorang pemuda yang memakai kacamata berbingkai tebal sedang bersandar dengan santai di dinding.
"Baka-pink." Ucapnya lirih dan terkesan dingin.
†Kimochi†
"Oi, Mr. Sucks, kau kenal Tachiha-san?" Tanyaku pada Mr. Sucks yang kini tengah berjalan di sampingku. Karena merasa canggung pertanyaanku tak kunjung dijawab, aku pun memandangi Momo yang ada di dalam pelukanku.
"Ah, Jadi...Apa kau salah satu staffnya? M-maksudku staff event Meet and Greet ini?" Ia masih tidak menjawab. Pandangannya masih lurus ke depan. Kami sampai di tempat Meet and Greet. Semua orang telah mendapatkan kursi masing-masing. Ada sekitar seratus lima puluh orang, mungkin lebih. Untungnya Megumi Book Store adalah sebuah toko buku yang besar. Aku sebenarnya jarang mampir kemari karena Kanpaii Book Store dekat dengan rumahku.
"Kita duduk disana." Mr. Sucks menunjuk dua buah bangku kosong yang ada di sudut ruangan. Ah, Seharusnya aku sedang bersama Ino dan Tenten. Tapi, apa boleh buat. Lagipula pasti sulit menembus keramaian itu. Aku menghempaskan tubuhku ke atas kursi. Mr. Sucks memandangku sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke arah panggung kala terdengar suara nyaring dari sang MC.
"Selamat datang di acara Meet and Greet with Tachiha! Apa ada yang belum mengenal siapakah Tachiha-san ini?" Terdengar sorakan yang kencang dari para hadirin. Aku memperhatikan sofa dan meja rendah yang ada diatas panggung. Mungkin sebelum Meet and Greet dimulai akan diadakan talkshow singkat.
"Apa kau bercanda?!" Teriak seorang gadis berambut merah darah yang berada di barisan paling depan. Tadinya kupikir gadis itu adalah Karui-san-Salah satu Staff Tachiha-san, tapi setelah diperhatikan warna rambutnya jelas berbeda. Karui-san berkulit tan sedangkan kulit gadis itu seputih susu. Perbedaan yang lebih mencolok adalah, gadis itu memakai kacamata. Mereka berdua jelas orang yang berbeda.
"Ahahaha. Jadi, sepertinya kalian semua telah mengenal Tachiha-san dengan baik, ya? Syukurlah sehingga sepertinya aku bisa melewatkan bagian pembacaan biografi dirinya (Heh, yang benar saja! Bahkan aku belum mengenalnya!) Langsung saja kita panggilkan bintang utama kita hari ini, Tachiha!" Tepuk tangan yang riuh memenuhi seisi toko buku mengiringi naiknya seorang pemuda ke atas panggung. Ah, coba lihat. Kini dia telah mendapat kemeja baru, warnanya merah kotak-kotak hitam. Lagipula mana mungkin dia naik keatas panggung dengan kemeja yang ada cap khususnya-jejak sepatuku-itu.
Oke, kini para gadis mulai ganas. Mereka berteriak histeris kala mendapat kesempatan untuk menatap wajah Tachiha-san yang tampan itu. Berlebihan. Aku melihat dari ekor mata Mr. Sucks sedang memandangi wajahku. Seakan-akan ia ingin menilai reaksiku. Apa sama seperti para gadis fanatik itu. Aku tidak dapat memastikannya. Coba perhatikan kata 'Seakan-akan' tadi. Perlakuannya itu bagaikan seorang anak kecil yang sedang kesal apabila ada orang lain yang dekat-dekat dengan adik bayinya yang baru lahir. Mengerti maksudku? Mr. Sucks seperti sedang
.
.
.
.
-Cemburu?
-Cemburu? Hah?
-FIX! MANA MUNGKIN MR. SUCKS CEMBURU KARENA AKU!
"Konnichiwa, Minna-chan! Hajimemashite, watashi wa Tachiha desu! Yoroshiku nee!" Tachiha-san kembali mengobral senyuman memikatnya. Para gadis mulai menggila. Untung saja ada banyak bodyguard di sekitar panggung, Yah, setidaknya untuk mencegah serangan brutal para gadis yang tergila-gila pada Tachiha-san.
"Wah, terimakasih, ya. Sambutan dari kalian sungguh tak terduga. Mungkin sebelum acaranya dimulai, aku ingin memberitahukan kalian suatu rahasia penting," Ia terdiam untuk sesaat lalu menghela napas dengan cara yang amat seksi. Para gadis pun ikut terdiam saking terhanyut suasana. "Aku ini amat menyukai gadis yang santai namun sopan. Atau bisa dibilang gadis yang anggun?" Seketika para gadis duduk dengan rapi di kursi masing-masing. Mereka menyilangkan kaki dan tersenyum perlahan. Ruangan ini serasa kosong dan tak berpenghuni karena tiba-tiba saja hadirinnya membisu semua. Taktik yang sangat bagus, Tachiha-san.
Ada satu gadis di depan yang berbeda dari gadis yang lain. Ternyata nona muda berambut merah tadi. Ia terlihat berdiri dari kursinya dan berkacak pinggang. Tachiha-san memperhatikan tingkah gadis itu. Ah, gadis yang sangat berani. Ia naik keatas panggung dan berdiri tepat di depan Tachiha-san.
"Sayang sekali aku bukan tipemu, Tachiha-san. Aku agak sulit diatur. Daripada mengubah kepribadianku, aku lebih memilih agar kau menyukai diriku apa adanya," Para Bodyguards mulai menghampiri nona muda yang memakai dress bermotif garis-garis hitam putih itu. Gadis itu mengangkat tangan sebelah kanannya seolah meminta agar para Bodyguards itu berhenti. "Aku hanya ingin bilang itu saja, sekarang aku akan kembali." Benar saja, nona itu turun dari atas panggung dan kembali duduk keatas kursinya. Mata jelaga Tachiha-san menyorotkan kekaguman pada gadis itu.
"WHOOOOOOO!" Terdengar sorakan yang kencang dari gadis-gadis lain, namun nona itu masih santai dan tidak peduli.
"Ssst, Mr. Sucks... Aku rasa aku pernah melihat gadis itu di sekolah. Kau tahu siapa di-"
"Namanya Uzumaki Karin. Dia itu ketua fansclub Itachi dari seluruh Konoha Garden. Gadis yang agresif." Terbesit sedikit kekecewaan dalam hatiku. Mr. Sucks sepertinya mengenal gadis tadi dengan baik. Hah... sekarang justru aku yang cemburu karena dia.
Sesi talkshow pun dimulai. Ternyata nama asli Tachiha-san adalah Uchiha Itachi. Anak tertua dari Uchiha Group. Kalau dibalik jadi Itachi Uchiha, disingkat Tachiha. Cerdas sekali. Pantas saja Mr. Sucks memanggilnya Itachi. Tapi, 'kok Mr. Sucks mengetahui nama aslinya, ya? Ah, aku jadi pusing memikirkannya. Kini aku merasa aku adalah orang paling bodoh sedunia. Orang yang tidak tahu apa-apa. Jika sebelumnya aku merasa seperti bermain teka-teki yang menyenangkan bersama Mr. Sucks, kini aku justru menyesal karena tidak pernah mencari tahu tentang dirinya.
Aku tidak tahu nama asli Mr. Sucks.
Aku tidak tahu hubungannya dengan Tachiha-san.
Aku tidak tahu apa dia masih single atau sudah punya pacar.
Aku tidak tahu bagaimana perasaanku padanya.
Aku tidak tahu tempatku dihati Mr. Sucks.
Bahkan,
Aku tidak tahu siapa sebenarnya Mr. Sucks,
Tapi ia telah menempati posisi di sudut hatiku.
Entah sebagai apa.
Talkshow telah selesai dan digantikan dengan sesi Meet and Greet. Sofa dan meja rendah diturunkan dari atas panggung dan digantikan meja panjang beserta kursi-kursi besi. Nomor antrian mulai dipanggil satu persatu agar berbaris. Sudah memasuki nomor antrian empat puluh. Sebenarnya aku sama sekali tidak berniat untuk mengikuti sesi meet and greet. Hanya saja, aku harus menemui Ino dan Tenten yang mungkin saja kini marah padaku.
"Kau tahu, Mr. Sucks, sebentar lagi namaku akan di panggil. Untung nomorku masih dibawah lima puluh, jadi bisa dapat souvenir, hihi." Setelah mendengar ucapanku, Mr. Sucks langsung mengambil iPod dari dalam saku celananya dan menjejalkan headsetnya ke telinga. Sepertinya ia menyetelnya dalam volume penuh.
"Nomor empat puluh satu, Nomor empat puluh dua, -" Begitu mendengar namaku disebut, aku langsung melesat memasuki antrian. Di depanku ada Ino dan di depan Ino ada Tenten. Keduanya memasang wajah garang. Hehe, sepertinya aku baru saja membuat kesalahan.
"Kemana saja kau? Momo 'kan larinya lambat, pasti mudah dikejar." Tenten memasang wajah cemberut. Ino mengangguk pertanda setuju. Dengan kikuk, aku mengembalikan Momo pada Tenten yang masih menekuk wajahnya.
"Kau tahu, Saku. Kami sangat khawatir, loh." Wajah Ino melembut dan mengacak rambut merah mudaku. Ah, ternyata mereka mengkhawatirkanku, bukan marah padaku.
"Aku takut kau kenapa-kenapa hanya karena mencari Momo. Dasar monster manis yang menyusahkan!" Tenten memeluk Momo dengan erat. Mereka benar-benar teman yang baik.
"Ah, ya. Setelah Meet and Greet selesai aku tunggu di parkiran, ya?" Imbuh Ino. Tenten mengangguk, begitu juga aku.
Giliran Tenten telah selesai. Ia melewati aku dan Ino dengan wajah yang sumringah sambil memamerkan shikishi bergambar Tachiha-san memegang novel Kimochi. Ternyata souvenirnya hanya itu? Tidak menarik sama sekali. Kini giliran Ino. Ia mengeluarkan novel kimochi dari tasnya. Ah, aku agak malu juga rasanya kalau harus berhadapan dengan Tachiha-san. Toh, aku sudah dapat tanda tangannya dan souvenirnya juga tidak menarik.
"Ino, aku ada urusan." Aku baru mau keluar dari barisan, namun tangan Ino dengan sigap langsung menangkap tanganku.
"Kau pikir kau mau kemana? Tunggu sebentar!" Nyaliku menciut. Sebaiknya aku tunggu Ino selesai, lalu pergi. Kudengar Ino sedikit berbincang dengan Tachiha-san. Sebenarnya ada satu hal yang mengganjal. Ino memanggil Tachiha-san dengan imbuhan 'Nii'
"Ah, ya. Aku juga tak menyangka kalau ternyata Tachiha itu Itachi-nii. Tapi aku sangat senang-" Oke, ini aneh. Kini aku juga merasa Ino adalah orang yang amat asing bagiku. Masih banyak sekali hal yang belum kuketahui mengenai dirinya.
"Saku, aku pulang bersama Kakkoi-kun. Kau pulang berdua saja dengan Tenten, ya? Nanti aku bilang ke dia," Aku tak sadar kalau ternyata giliran Ino sudah selesai. " Aku duluan." Aku merasa mulas. Apa yang harus kulakukan? Kini kulihat Tachiha-san menatap lurus ke arahku dengan sorot mata yang tajam, namun kelihatan seksi? Eh?
"Hai, jadi siapa namamu, nona muda? Apa aku harus memanggilmu Baka-pink?" Seluruh staff dan editor novel Kimochi yang ada di sisinya tertawa pelan. Memalukan. Harus kuakhiri. Aku tidak mau diejek lagi.
"Namaku ini Haruno Sakura. Bukan Baka-pink. Sekali lagi kau panggil aku begitu, aku tidak bisa menjamin bahwa kejadian tadi tidak terulang lagi." Aku berbicara dengan pelan, namun dengan penuh penekanan. Ah, lagi-lagi senyuman memikat itu! Dia tersenyum padaku!
"Aku masih suka dengan sikapmu yang begitu. Jadi, Sakura? Apa yang kau inginkan? Kau sudah dapat tanda tanganku." Jangan jawab, Sakura. Manusia ini memang sengaja untuk memancing amarahmu. Acuhkan, acuhkan.
"Souvenirnya, Tachiha-san." Tachiha-san mengangguk. Salah satu staffnya yang berambut cepak meraih sesuatu dari kolong meja, namun tangan itu dihalaunya. Para gadis yang ada dibelakangku mulai tidak sabar.
"Biar aku saja," Ia menunduk ke kolong meja dan meraih sesuatu. Tampaknya ia sedang memilah shikishi bergambar wajahnya. "Ah, yang ini." Ia menorehkan tanda tangannya diatas shikishi. Aku melihat shikishi itu dan mengernyit. Apa istimewanya, coba?
"Ah, terimakasih, Tachiha-san." Ucapku dalam logat kansai, bermaksud untuk mengejeknya.
"Hei, sebaiknya shikishi itu jangan langsung dibuang. Mungkin berguna. Satu lagi, jangan panggil aku Tachiha. Panggil saja Itachi." Ia berkata sambil mengedipkan sebelah matanya. Seorang wanita normal pasti langsung meleleh jika melihatnya. Kalau aku, sih tidak. Bukan maksudnya aku tidak normal. Hanya saja aku ini gadis pemilih.
"Ah, terimakasih, Itachi-san." Lagi-lagi aku berucap dalam logat kansai yang konyol. Ia tertawa pelan mengiringi kepergianku dari antrian. Benar-benar lima menit paling menjemukan dalam hidupku.
†Kimochi†
Aku melangkahkan kakiku menuju parkiran. Cuacanya cukup panas siang ini, Aku berteduh di sebuah pohon akasia tua yang dinamakan megumi oleh warga sekitar. Sambil menyelipkan rambutku ke dalam topi, ku edarkan pandangan ke sekeliling parkiran untuk mencari Tenten. Fokus mataku pun tertuju pada satu titik.
Ino, Tenten dan Mr. Sucks sedang berdiri bertiga. Tenten dan Ino berbincang dengan sumringah, Mr. Sucks hanya menanggapi sesekali. Mereka berjarak sekitar sepuluh meter dari tempatku berdiri. Aku merasakan gejolak aneh di dalam perutku saat melihat keadaan itu. Sebenarnya siapa mereka? Mataku masih terpaku pada mereka, namun.
"Maaf," Suara yang manis dan renyah menyapa indraku. Ternyata gadis yang-Uzumaki Karin-tadi naik ke atas panggung. "Aku sedang terburu-buru." Ucapnya cepat, aku menangkap sedikit nada yang menyiratkan kekesalan dalam kalimatnya. Atau itu sekedar perasaanku saja.
"Mm, Uzumaki-san?" Tanyaku hati-hati, ia menghentikan langkahnya. Lalu berbalik menghadapku yang tengah mematung. Aku takut juga ia menganggap aku sebagai seorang yang sok kenal.
"Iya? Darimana kau tahu namaku?" Wah, ia menatapku sinis. Ia membetulkan letak kacamatanya, dari dekat dapat kulihat irisnya yang berwarna merah terang.
"A-ano. Aku rasa kita satu sekolah," Kembali aku berkata dengan terbata. Uzumaki-san nampaknya adalah orang yang perfeksionis dan kurang ramah. Aku jadi takut membuatnya tersinggung. Aku menyesal telah berani menegurnya. Bodoh. "Mungkin kau tidak mengenalku, tapi-"
"Ah, si anak beasiswa, ya? Bagaimana mungkin aku tidak mengenalmu? Kau ini adalah fenomena langka yang ada di Konoha Garden high. Jarang sekali ada siswa yang masuk secara gratis ke Konoha Garden. Huh, Aku duluan." Aku berdiri mematung, tak mampu merespon. Perih sekali kata-katanya. Fenomena langka? Ia anggap aku apa?
Malas menanggapi omongan Uzumaki-san, aku kembali terfokus pada- eh?- Kemana perginya mereka? Padahal tadi mereka bertiga- Ino, Tenten dan Mr. Sucks- Masih ada di seberang sana. Tiba-tiba saja aku merasakan tepukan pelan di bahuku, Tenten.
"A-ah. Tenten! Kupikir aku ditinggal sendiri." Ucapku pelan, jauh di lubuk hatiku aku merasakan rasa sakit yang luar biasa, entah karena apa. Aku mengutuk diriku sendiri karena telah membuat kesimpulan yang aneh.
"Tidak, kok. Yuk, pulang sekarang?" Tanya Tenten sambil tersenyum sumringah memamerkan gigi kelincinya. Momo tengah tertidur di tangannya, seperti anak bayi.
"Ya, Ngomong-ngomong Ino jadi pulang bersama kekasihnya?" Aku mendesah sambil meniup poniku yang keluar dari topi. Tenten sepertinya dapat membaca kegelisahanku, ia tertawa renyah.
"Kau takut kutinggal ya? Segitunya. Iya, Ino pulang bersama Kakkoi-kun nya. Gak masalah kan kalau kita pulang berdua saja?" Aku mematung. "Nanti aku antar kau sampai mana?"
"A-aku...sampai pertigaan saja. Nanti dari sana biar aku jalan kaki." Tenten mengangguk girang merespon kalimatku.
"Hei, girls." Suara yang tak asing lagi di telingaku, aku menoleh sambil memasang wajah garang, dengan harapan si sumber suara akan ketakutan.
"Itachi-nii!" Tenten langsung menepuk bahu Itachi sambil terseyum lebar, aku merasa kikuk dengan situasi ini.
"Um, aku rasa kita harus segera pulang, Tenten," Ucapku parau, Aku malas meladeni orang ini, lebih baik aku pulang dan membuat hipotesa mengenai kejadian-kejadian unik yang baru kualami hari ini. "Aku merasa lelah sekali." Aku menguap dan mengusap mataku.
"Kebetulan sekali, bagaimana jika aku saja yang mengantar kalian? Sekalian jalan-jalan." Tuturnya sambil tersenyum, lagi-lagi senyuman manis dan memikat itu!
"Bukankah seharusnya kau masih menghadiri meet and greet?" Tanyaku. Aku masih memandang Itachi-san dengan tatapan waswas.
"Acaranya sudah selesai, kok. Adikku sudah pulang duluan, jadi sebaiknya aku mengantar gadis-gadis manis ini," Itachi-san mengedipkan sebelah matanya sambil menyunggingkan senyuman super mempesona. Wah, sulit juga menolaknya. "Gak keberatan 'Kan Baka-Pink?" Tuturnya sambil menepuk-nepuk kepalaku. Ish.
"Wah, sayang sekali, Itachi-nii. Supirku sudah datang kemari, kasihan." Yah, gagal sudah rencana diantar pulang Itachi-san.
"Kalau begitu Tenten pulang dengan supirnya, biar nanti Baka-pink pulang bersamaku. How Bout that?" Tanya Itachi-san. Tenten mengangguk dengan cepat.
"Good advise, Bye Saku, Bye Itachi-nii." Seketika Tenten meninggalkanku dan masuk ke dalam mobilnya. Ini suatu situasi canggung yang menyenangkan. Tidak buruk 'kok diantar pulang oleh Cowok super sejenis Itachi-san. Lagipula ia harus melakukan sesuatu yang berguna untukku untuk menebus kesalahannya yang telah membuatku kesal seharian.
"Mata nee, Tenten!" Aku melambaikan tanganku ke arah Tenten, ia membalasnya. Tak lama kemudian mobil Tenten mulai menghilang dari area parkir.
"Yuk?" Itachi-san mengangsurkan tangannya, aku ragu. "Ayolah Baka-pink. Mari kita lupakan kejadian-kejadian konyol itu. Lalu mulai berteman?" Oke, aku pun meraih tangannya. Ia tersenyum, aku juga. Kini aku merasa konyol. Huft, ini adalah pertama kalinya aku diantar pulang oleh pemuda tampan yang juga terkenal.
†Kimochi†
"Yap, nanti aku turun di pertigaan sana." Ucapku sambil menunjuk ke arah depan. Itachi-san menoleh sekilas ke arahku. Ia mengulum senyum yang lagi-lagi harus ku katakan sebagai senyum memikat itu.
"Hn." Balasnya singkat. Itachi-san baik juga. Mudah-mudahan tidak ada motif terselubung di balik niatnya untuk mengantarku pulang. Loh? Kenapa mobilnya malah belok ke kiri?
"Itachi-san, pertigaannya sudah lewat, loh." Jelasku sambil menatapnya lamat-lamat.
"Memang. Tadi 'kan aku bilang sekalian jalan-jalan," Balasnya dengan suara rendah. Oh my god. Aku. Akan. Jalan-jalan. Bersama. Itachi-san. Berdua! Apa ini kencan? "Gak keberatan 'kan?"
"Sebenarnya... aku-"
"Kelamaan. Pokoknya kau harus ikut." Tuturnya. Aku pun hanya diam selama sisa perjalanan sambil harap-harap cemas menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ya, Kita sampai." Itachi-san memarkir mobilnya di depan gerbang rumah mewah. Seseorang muncul dari pos kecil di sebelah kiri gerbang mewah tersebut.
"Itachi-sama, Sasuke-sama sudah pulang duluan, ia titip pesan kalau anda pulang, Jangan buka gerbangnya. Maaf saya bingung. Apa yang sebaiknya saya lakukan?" Tanya pria baruh baya yang menggunakan jas hitam itu.
"Yang benar saja. Jangan-jangan dia marah soal kejadian tadi?" Itachi-san menggumam.
"Maaf?" Pria paruh baya tadi menginterupsi.
"Buka saja gerbangnya, Tazuna-san. Jangan khawatir soal Sasuke. Biar aku saja yang hadapi dia." Kalimat Itachi-san bagaikan perintah dewa. Pria bernama Tazuna tadi langsung membuka gerbangnya dan memberi jalan bagi mobil porsche Itachi-san untuk masuk.
Ini bagaikan taman firdaus! Terdapat banyak pohon rindang di sekeliling halaman yang super luas ini. Pohon-pohon dipotong dengan bentuk sedemikian rupa sehingga memanjakan mata. Di tengah halaman terdapat kolam air mancur raksasa dengan bentuk melingkar yang di tengahnya terdapat sebuah simbol raksasa, kipas berwarna merah-putih. Itachi-san turun dari mobil dan langsung melesat ke pintu mobil satunya dan membukakannya. Ia menjulurkan tangannya menyambut aku. Aku merasa seperti seorang putri.
"..." Aku menyambut tangannya dan turun dari mobil. Tak ada satu pun kata yang meluncur dari mulutku saat melihat rumah Itachi-san. Rumah ini bagaikan istana. Arsitekturnya meniru rumah-rumah di Jepang kuno. Namun, rumah ini amatlah luas dan bertingkat empat. Di tiap sudut halaman terdapat gazebo dengan atap rumbia yang kelihatan sejuk.
"Selamat datang di rumahku, Sakura!" Ia mengajakku untuk masuk ke dalam rumah.
"Itachi-san, mengapa kau mengajakku kemari?" Tanyaku yang tak dapat membendung lagi rasa penasaranku. Itachi-san terkekeh pelan.
"Nope, hanya ingin mengajak seorang teman. Sangat membosankan hanya berdua di rumah ini bersama adik laki-lakiku. Rumah ini perlu sentuhan seorang gadis ceroboh." Bisiknya pelan di telingaku. Seketika aku melepaskan tanganku dari genggamannya. Aku baru ingat kalau Itachi-san itu mesum.
"Ototou!" Itachi-san seperti sedang memanggil seseorang
"N-ng? Adikmu sudah dirumah?" Tanyaku.
"Ah, ya. Biar kupanggilkan dulu. Dia pasti senang sekali bertemu denganmuuu..." Itachi-san melingkarkan tangannya di bahuku.
"Ah, jangan. Nanti merepotkan. Biarkan saja. M-mm. Bisa kau angkat tangan mesummu dari bahuku?" Ucapku pelan. Ia seketika mengangkat tangannya itu lalu meninggalkanku sambil tersenyum lagi. Rasanya dalam seharian ini aku sudah banyak sekali melihat senyumannya itu. Anehnya aku tidak merasa bosan.
Akhirnya aku hanya mengitari halaman rumahnya yang luar biasa luas sekaligus indah itu. Tak pernah kusangka bahwa nantinya aku akan sangat sering kemari.
†Kimochi†
"Kenapa?" Tanya gadis berwajah muram itu pada kakakku. Kakakku hanya terdiam dengan ekspresi yang sulit terbaca.
"Nii-chan. Pulang." Rengekku sambil menggesekkan kepalaku ke kakinya. Aku merasa diriku begitu kecil dan rapuh saat itu.
"Kau akan merasakannya. Semua akan ada pembalasannya. Harap kau catat itu. Cepat atau lambat." Gadis itu kemudian pergi meninggalkan kakakku.
"Pulang. Nii-chan. Aku mau pulang." Kini aku mulai menangis. Aku terlalu bingung dengan kata-kata putus asa yang terlontar dari bibir gadis itu.
Saat itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti segalanya.
"Kau hanya salah paham, Konan." Ucap Kakakku parau lalu tersenyum dengan beribu perasaan yang terpendam dalam hatinya.
†Kimochi†
Setelah berkeliling halaman cukup lama, aku pun terduduk di salah satu gazebo lalu meletakkan kepalaku diatas meja melingkar, ditengahnya terdapat batang pohon yang menjadi penyangga atap gazebo sejuk ini. Andai aku memiliki ponsel berkamera, pasti kini aku sedang sibuk ber-selfie-ria seperti yang dilakukan orang kebanyakan apabila berada di sebuah tempat yang indah dan unik.
"Adikku sepertinya membenci kehadiran tamu istimewaku. Makan es krim saja, yuk?" Itachi-san menyodorkan es krim mangkuk ukuran jumbo padaku. Aku hampir tersedak melihat merknya. Limeberry, Merk Es krim yang terkenal mahal. Bukan hanya itu, es krim yang tengah ada di genggamanku ini juga salah satu limited edition flavour dari Limeberry. Dasar orang kaya.
"Sebenarnya, aku haus. Boleh minta air?" Tanyaku.
"Tentu. Akan kupanggilkan pelayan-"
"A-ah tidak. Biar aku ambil sendiri. Tunjukkan saja dapurnya padaku, oke?" Sanggahku.
"Masuk saja lewat pintu samping itu, ikuti saja lorongnya, lalu setelah sampai ujung kau belok ke kiri. Lurus lagi lalu belok ke kanan. Dapurnya ada di sebelah kanan, pintu ke tiga." Jelasnya panjang lebar. Aku cepat-cepat merekam informasi tersebut dalam benakku. Repot juga kalau aku salah berbelok. Rumah ini 'kan luas.
"Oke. Tidak masalah 'kan kalau aku masuk ke rumahmu?" Aku memandangnya. Menyebalkan ia malah asyik menjilati sendok eskrimnya sambil menatapku intens. Tatapan menggoda.
"Hehe, tentu saja. Tidak masalah. Asal jangan sampai tersesat. Kalau tidak cepat keluar nanti kau akan kutahan dalam rumahku." Ujarnya asal. Hih.
Cepat-cepat aku melangkahkan kakiku. Isi rumahnya kebanyakan benda-benda dari era-klasik, Dinasti Edo dan sebagainya. Itu pasti dapurnya. Aku menggeser pintu tersebut. Dapur ini nampak lenggang, kosong malah. Akhirnya aku menemukan dispensernya. Airnya dapat keluar sendiri saat kuletakkan gelas dibawahnya. Kulihat dua gelas jus tomat di atas meja besar. Apa ada orang yang menyukai jus tomat di rumah ini?
"Hei, apa-apaan kau membawa dia ke rumah? Mau pamer?! Cepat kau ajak dia pulang!" Samar-samar, eh tidak, jelas-jelas aku mendengar seseorang berteriak. Aku melangkahkan kakiku perlahan menuju meja besar tempat meletakkan berbagai alat-alat masak modern yang menjadi asal suara itu. Aku melihatnya. Seorang pemuda yang tengah menggenggam ponselnya. Kini ia tengah membelakangiku.
"Kau tidak boleh tahu alasannya!" Wah, ia kembali berteriak.
"Dia itu, rasanya seperti..Seseorang yang sangat dekat denganku. Bukan cinta atau apa! Dia itu teman pertamaku! Aku tidak ingin mereka merusak itu.." Suara pemuda itu terdengar bimbang. Aku memutuskan untuk tidak menguping lebih jauh lagi namun rupanya sikut tanganku ini sangat terkutuk hingga menyenggol mixer, lalu mixer itu menimpa perkakas dapur yang menggantung. Sialnya perkakas dapur itu menabrak dua gelas jus tomat yang ada di atas meja hingga...
"HEI!"
Isinya tumpah dan mengenai pemuda itu. Mati saja kau, Sakura.
"Sumimasen...Aku tidak sengaja. Sumimasen..." Aku menunduk dalam-dalam, tidak berani melihat wajahnya.
"Apa-apaan ini?!
TBC
Author Zone
Huehue. Cuma nemu ini pas ngubek2 folder. Hehe, jadinya update. Maap kalo zonk.
