Summary : Hiruk piruk kota New York yang dulu di padati oleh berbagai manusia dengan masing masing kesibukannya, kini bagaikan kota mati. Yang di sebabkan oleh Sebuah virusmematikan yang kini menyebar di kota New York. Virus yang akan mengubah manusia menjadi zombie ketika menghirupnya.

Disclaimer : Naruto udah pasti bukan punya saya. Naruto itu punya nya Om Kishi. Sama Sasuke juga boleh lah ya.

Genre : Horror, Mystery, Friendship. Romance (maybe).

Cast : SasuNaru. ItaKyuu, NejiGaa, ShikaKiba.

Rate : T

Warning : YAOI, OOC, Typos, Bahasa tidak sesuai EYD, Author newbie, dll.

Naruto, Gaara, Kiba : 18 tahun

Kyuubi : 23 tahun

Sasuke, Neji, Shikamaru : 21 tahun

Itachi : 24 tahun

A/N : Disini Kakashi nya gk pake masker and gk punya tompel :v

Pokok'a guantengggg deh :* :v

======= INCIDENT WILD CITY =======

Chapter sebelumnya...

Naruto sampai di ruang bawah tanah. Naruto melihat Kakashi tengah terduduk di antara reruntuhan bangunan dengan memegangi dadanya. Keningnya mengeluarkan darah. Sepertinya efek terbentur sesuatu yang keras. Keadaan Haku, Izumo, perempuan berambut pirang pun hampir sama seperti Kakashi.

"Dimana pamanku?" Naruto berjongkok di depan Kakashii. Raut muka Naruto bagaikan mayat hidup, pucat. Sepertinya efek terlalu banyak berlari. Kakashi terbatuk, mulutnya mengeluarkan darah. Telunjuknya menunjuk Iruka yang tengah di cekik oleh seseorang.

Mata Naruto terbelalak ketika melihat Iruka telah di gigit lehernya. Iruka tidak bisa melawan, tubuhnya bergetar hebat. Tubuhnya terasa mati rasa. Sementara si pelaku penggigitan hanya terkekeh bak Luficer yang sudah mengalahkan 1000 pasukan malaikat. Membuat bulu kuduk siapapun meremang. Sungguh menyeramkan.

Emosi Naruto telah mencapai batasnya.

"APA YANG TELAH KAU PERBUAT PADA PAMANKU!"

Chapter 2

Naruto berteriak murka. Wajahnya memerah karena menahan amarah. Sedangkan wanita itu hanya tersenyum licik, dan kemudian menjatuhkan Iruka. Naruto bisa melihat kalau tubuh Iruka masih bergetar hebat. Naruto rasanya ingin mencabik - cabik wanita yang kini tengah menyunggingkan senyum licik. Buku - buku jari Naruto sampai memutih karena mengepalkan tangannya dengan erat.

"Naruto!"

Kyuubi, Kiba, dan Gaara menghampiri Naruto dengan nafas terengah - engah. Mata mereka terbelalak kaget melihat Kakashi dan yang lainnya tengah terluka parah.

"Gaara, Kiba, cepat bawa paman Kakashi beserta yang lainnya keatas." Kyuubi memerintahkan kedua temannya untuk membawa Kakashi pada pihak medis. Tanpa diperintahkan dua kali, Gaara dan Kiba pun langsung menjalankan perintah Kyuubi.

"Naruto apa yang sebenarnya terjadi di sini, dan dimana paman Iruka?"

Kyuubi bergidik ngeri melihat aura yang keluar dari tubuh Naruto. Aura membunuh yang sangat pekat. Mata Naruto pun memandang wanita berhoodie yang berada di tengah - tengah ruangan dengan tajam. Selama mengenal Naruto, Kyuubi tidak pernah melihat Naruto seperti sekarang ini.

Bola mata ruby itu membelalak untuk kedua kalinya ketika melihat Iruka tidak sadarkan diri, tapi tubuh Iruka bergetar hebat. 'Apa yang perempuan lakukan pada paman iruka?' Batin Kyuubi bingung.

Tap

Tap

Tap

"Hey Naruto kau mau kemana?!"

Naruto melangkahkan kakinya dengan pelan kearah wanita ber hoodie tersebut. Tangannya masih mengepal erat, tatapan matanya pun masih sama. Aura yang dikeluarkan Naruto semakin pekat. Membuat siapapun yang berada di ruangan tersebut bergidik ngeri, bahkan Kyuubi sekali pun.

Naruto kini sudah berjarak satu meter dengan wanita itu.

Sedangkan wanita tersebut masih berdiri tenang ditempatnya. Seringai licik nya tidak pernah lepas dari bibir yang berwarna merah darah. Dalam hati Naruto memandang jijik pada wanita tersebut. Mulutnya penuh darah, kukunya tajam siap mengoyak siapapun, seluruh tubuhnya juga penuh darah dan lendir, matanya emerald nya sangat menyeramkan. Rambut pink nya lusuh, kotor, dan berantakan. Benar - benar menjijikan.

"Aku tanya sekali lagi, apa yang telah kau lakukan pada pamanku."

Suara yang keluar dari mulut Naruto terdengar sangat berbahaya. Datar, dan dingin. Penuh dengan kemarahan, mata secerah langit musim panas itu pun berkilat bahaya.

"Menurutmu apa yang sudah aku lakukan pada paman mu bocah?! " Wanita tersebut kini menatap Naruto tajam.

Gigi Naruto bergemeletuk karena menahan emosi, siap meledak kapan pun. Bagaikan bom waktu. Naruto tidak memperdulikan bau anyir yang menguar dari wanita di hadapannya.

Naruto mengeluarkan sebuah pistol dari saku jaketnya. Rasanya Kyuubi ingin bertanya dari mana Naruto mendapatkan senjata itu. Namun niatnya di urungkan mengingat kondisinya tidak memungkinkan untuk bertanya.

"Jawab pertanyaanku brengsek! Atau aku akan membunuhmu! " Naruto mengarahkan moncong pistolnya tepat di dada wanita itu.

Emosi Naruto semakin membuncah ketika mendengar suara kekehan dari wanita di hadapannya. "Kau tidak akan bisa membunuhku. Lihat saja penampilanmu! Aku yakin kau tidak memiliki keterampilan menembak, apalagi membunuhku bocah!." Wanita itu tersenyum remeh.

Kyuubi hanya memandang Naruto dan wanita ber hoodie secara bergantian. Otak jeniusnya mendadak tumpul. Bingung, apa yang harus dilakukannya sekarang. Di ruangan bawah tanah cuman ada dirinya, Naruto, Iruka yang tidak sadarkan diri, dan Wanita ber hoodie.

Naruto sudah bersiap menarik pelatuk pistolnya. Tapi gerakannya terhenti ketika merasakan kakinya di cengkeram oleh seseorang. Mata biru shappire nya membelalak kaget ketika menyadari jika sang pamanlah yang mencengkeram kakinya. Naruto meringis sakit. Naruto juga tidak bisa melihat ekpresi Iruka. Di karenakan posisi Iruka yang menelungkup.

Ekpresi shock kini menghiasi wajah Naruto dan Kyuubi.

Bagaimana tidak shock!?

Lihatlah keadaan Iruka sekarang ini. Iruka berdiri dengan gerakan lambat. Ekspresi Iruka pun sangat tidak biasa. Iruka terlihat seperti sedang melamun. Pandangan matanya kosong, dan terlihat seperti orang tolol. Kedua tangannya menarik - narik pakaian yang di pakai oleh Naruto, sehingga membuat Naruto sedikit menjauhi Iruka. Naruto juga merasakan jika tangan pamannya sangat dingin.

'Apa yang terjadi dengan paman Iruka?!' Batin Naruto dan Kyuubi bersamaan.

Suara kekehan kembali terdengar. "Kau lihat bocah. Aku memang tidak membunuh pamanmu, tapi_" Wanita itu kembali menyeringai, seringai nya kali ini lebih mengerikan dari sebelumnya. "Aku merubahnya menjadi zombie hahahahah!" Untuk pertama kalinya wanita itu tertawa. Suaranya menggema ke seluruh ruangan.

Kalian jangan berharap akan mendengar suara tertawa yang merdu. Salah besar jika kalian berharap seperti itu! Yang ada kalian akan mendengar suara tertawa yang sangat mengerikan.

Entah sudah berapa kali shappire dan ruby membelakak. Hari ini terlalu banyak kejadian yang membuat Naruto dan Kyuubi shock. Di tambah pengakuan dari Wanita yang kini sedang tertawa. Pengakuan yang akan membuat siapapun kaget dan tidak percaya.

Demi Tuhan!

Iruka menjadi zombie!

What the hell is go in on?!

Naruto menatap pamannya dengan pandangan campur aduk, antara sedih, kaget, marah, dan tidak percaya. Sial! Ini semua karena wanita berengsek itu! Batin Naruto emosi.

Naruto berlari kearah Wanita tersebut dengan cepat. Tapi, ada 'seseorang' berlari kearah yang sama, dengan kecepatan yang tidak bisa ditakar oleh nalar manusia. 'Seseorang' tersebut menendang kencang Naruto.

BRUKK

"Naruto!"

Punggung Naruto membentur reruntuhan yang berada di samping Kyuubi. Naruto bisa mendengar suara tulangnya patah. Kepalanya juga berdenyut sakit dan rasanya sangat pusing, sesuatu berbau anyir mengalir dari kepala Naruto. Pandangan matanya juga memburam.

"Uhuk.. uhuk.. pa-man?" Naruto terbatuk dan mengeluarkan darah.

Kyuubi langsung berlari kearah Naruto dan berjongkok di depannya. Rasa khawatir mulai menggerogoti benak Kyuubi. "Kau tidak apa - apa Naruto?" Rasanya Kyuubi ingin menangis melihat kondisi Naruto sekarang. Walaupun Naruto bukan adik kandung Kyuubi, tapi Kyuubi sangat menyayangi Naruto layaknya adik kandung sendiri. Begitu juga sebaliknya.

"APA YANG PAMAN LAKUKAN PADA NARUTO!?" Kyuubi berteriak murka kearah Iruka. Sementara Iruka hanya memandang Kyuubi dengan sorot mata yang sama. Kosong.

"Percuma kau berteriak seperti itu bocah... Dia sudah menjadi zombie. Dia sudah tidak punya perasaan. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah makan makan dan makan." Wanita itu berjalan ke arah Iruka.

"Bunuh mereka semua Iruka."

Iruka berlari cepat kearah Kyuubi dan Naruto.

Habislah kitaaa! Batin Kyuubi dan Naruto ketika melihat Iruka semakin dekat.

DOOORRRR

Seorang polisi berambut hitam, menembak Iruka tepat di dadanya. Iruka jatuh dengan suara berdebum keras. Tapi anehnya Iruka tidak mati. Iruka kembali berdiri dengan lambat. Menatap sang polisi dengan matanya yang kosong.

Bantuan datang. Terlihat beberapa polisi yang sudah mengarahkan moncong pistolnya kearah Iruka dan wanita itu.

"Cihh... mengganggu saja. Ayo pergi Iruka." Wanita itu melompat dari reruntuhan satu ke reruntuhan yang lain diikuti oleh Iruka. Mereka pun menghilang lewat atap laboratorium bawah tanah yang sudah hancur.

"Pa-man..." dan Naruto pun akhirnya pingsan.

.

.

.

.

"Hahh~~ bosan."

Helaan nafas keluar dari bibir tipis seorang remaja berambut kuning.

Sudah sekitar satu minggu lebih sejak kejadian Iruka yang menjadi zombie, dan Naruto yang terluka dikarenakan Iruka. Naruto tidak menyimpan dendam sedikitpun terhadap Iruka yang telah membuatnya menerima lima jahitan di bagian kiri kepalanya. Naruto terlalu menyayangi Iruka.

Selama seminggu pula Naruto tidak di ijinkan keluar rumah oleh Kyuubi. Setiap malam Kyuubi, Gaara, dan Kiba selalu menginap dirumah Iruka guna menemani Naruto.

Sewaktu tertidur. Naruto selalu mengigau, memanggil nama Iruka terus - menerus. tak jarang pula Naruto menangis ditengah malam karena merindukan sang Paman. Kyuubi yang melihat Naruto seperti itu

tidak tega. Dan memutuskan untuk menemani dan menginap dirumah Iruka.

Naruto tentu saja tidak protes. Karena dirinya pun merasa sangat kesepian tanpa adanya sosok sang Paman.

"Lebih baik aku ke kantornya paman Kakashi saja."

.

.

.

.

Lambrogini (maaf klo salah :v) berwarna hitam mengkilat berhenti tepat di depan Kantor Kepolisian New York.

Naruto turun dari mobil, menghela nafas, dan kemudian mengacak - acak rambut basahnya.

Setelah mengunci mobilnya. Naruto mulai melangkahkan kakinya memasuki Kantor Kepolisian New York.

Ketika ingin membuka pintu masuk, Naruto merasakan ponselnya bergetar. Oh ternyata Kyuubi yang menelepon.

"Moshi Moshi Kyuu-nii."

"[Dimana kau bocah?! Kenapa tidak ada dirumah?! Harus berapa kali ku bilang, jangan keluar rumah sendirian Naruto."] Nada bicara Kyuubi yang tadinya kasar berangsur - angsur melembut. Naruto tahu, jika saat ini Kyuubi tengah mengkhawatirkannya. Perlakuan Kyuubi yang selalu mengkhawatirkannya secara berlebihan membuat Naruto mau tak mau menyunggingkan senyum tipis.

Mempoutkan bibirnya sekilas. "Naru bosan dirumah terus Kyuu-nii. Lagipula Naru juga perginya ke kantor Paman Kakashi."

"[Baiklah. Aku dan yang lainnya akan menyusul sebentar lagi…"]

Mengetahui Kyuubi yang akan datang membuat Naruto tersenyum lebar. "Ok. Aku tunggu Kyuu-nii. Sampai bertemu lagi. Pip." Telepon dimatikan. Memasukan kembali smartphonenya kedalam saku, Naruto kemudian melanjutkan langkahnya untuk menemui Kakashi.

Naruto tahu jika selama perjalanan menuju ruangan Kakashi. Orang - orang menatapnya terus - menurus. Ada yang berbisik - bisik, ada yang wajahnya memerah, ada yang cekikikan, adapula yang mengiriminya wink. 'Apa ada yang salah dengan penampilanku?' Mengernyitkan dahi, dan kemudian Naruto mengangkat kedua bahunya cuek.

.

.

.

.

"Aku dengan Kakashi-san akan membentuk tim khusus yang melibatkan 'mereka' dalam pencarian Iruka-san. Benar begitu?" Seorang polisi berambut bob bertanya pada temannya yang memakai kacamata hitam.

"Ya itu benar Lee." Si laki - laki berkacamata hitam membenarkan ucapan Lee.

"Tapi, dari yang aku dengar. Kakashi-san merahasiakan perihal ini dari keponakan Iruka-san. Apa boleh begitu Shino? Menurutku dia harus tahu. Bagaimanapun juga dia kan keponakan satu - satunya Iruka-san." Lee menenggak habis kopinya, kemudian membuang kalengnya kedalam tong sampah.

"Kalau soal itu aku tidak tahu. Mungkin Kakashi-san tidak ingin melihat Naruto terluka lagi." Shino membenarkan letak kacamatanya yang sedikit menurun sampai pangkal hidungnya.

"Kau tahu kan. Jika Kakashi-san sangat menyayangi Naruto." Shino menyenderkan sejenak tubuhnya, dan kembali meminum kopinya.

Ya memang tidak diragukan lagi. Orang - orang yang bekerja di kantor Kepolisian New York memang mengenal Naruto. Dikarenakan Iruka yang sering mengajaknya ketika bekerja. Dan mereka juga tahu jika Kakashi juga sangat menyayangi Naruto layaknya keponakannya sendiri.

"Lebih baik kita kembali bekerja Lee." Membuang kaleng kopinya, Shino kemudian melanjutkan langkahnya yang diikuti oleh Lee. Tanpa mereka ketahui, laki - laki berambut kuning telah mendengarkan pembicaraan mereka.

'Sialan paman Kakashi!'

.

.

.

.

Di dalam ruangan yang di dominasi oleh cat berwarna putih. terlihat laki - laki berambut perak sedang duduk di kursi kerjanya. Kedua tangannya saling bertaut. Menopang dagu dan menatap 'tamunya' yang berdiri di depan meja kerjanya dengan sorot pandangan bosan.

Kakashi kemudian mengetuk - ngetuk mejanya dengan bolpoin berwarna merah. Menunggu sang 'tamu' untuk mengatakan sesuatu.

Kalau boleh memilih, rasanya Kakashi ingin melempari 'tamunya' dengan dokumen - dokumen yang ada dimejanya. Tapi niat mulianya tak kunjung terlaksana mengingat itu adalah tindakan yang tidak sopan. Apa yang akan dipikirkan orang - orang ketika mengetahui Seorang Hatake Kakashi yang terkenal berwibawa, ramah, dan genius itu melempari 'tamunya' dengan dokumen - dokumen.

"Jadi, ada apa Senior Kakashi memanggil 'kami' kemari?" Setelah beberapa saat, salah satu 'tamu' Kakashi akhirnya mengeluarkan suaranya.

"Tidak perlu menjelaskan panjang lebar. kalian pasti juga sudah mengetahui alasan kenapa kalian dipanggil kesini bukan?" Kakashi memandangi 'tamunya' satu persatu.

"Senior ingin 'kami' melacak keberadaan Senior Iruka, dan menangkap wanita berambut pink yang di identifikasi telah membuat Senior Iruka menjadi Zombie dan menghilang. Benar begitu." 'Tamu' Kakashi yang lain ikut menimpali ucapan sang Jenderal berambut perak.

Mengangguk samar. "Benar. Satu minggu yang lalu. Salah satu pihak kepolisian mengatakan jika Iruka telah berubah menjadi zombie. Maka dari itu aku menghubungi 'kalian'_" Menghela nafas sejenak. Kakashi kemudian melanjutkan perkataanyanya. "Aku ingin membuat tim khusus yang diketuai oleh 'kalian'. 'Kalian' boleh bebas memilih siapa saja yang akan menjadi anggota tim. Tapi, maksimal hanya empat orang saja."

"Tapi jika boleh tahu siapa gerangan wanita berambut pink Itu senior?"

"Wanita itu adalah Haruno Sakura. Salah satu ilmuwan yang cukup berpotensi dan juga kekasih dari Kabuto, dalang dari semua kekacauan ini. Cih! Aku tidak menyangka Kabuto akan melakukan hal seperti ini hanya karena didasari oleh dendam di masa lalu." Kakashi mengeratkan gengaman pada bolpoinnya.

"Tapi kenapa wanita itu bisa berubah mejadi zombie juga senior? Apakah dia juga telah menghirup virusnya? Dan kenapa pula dia menjadikan senior Iruka menjadi zombie?"

"Kalau soal itu aku sendiri belum tahu. Itulah yang akan menjadi tugas 'kalian'. Kami sangat mengharapkan 'kalian' berhasil menemukan Iruka." Sorot mata Kakashi kini berubah menjadi sendu. Membuat sang 'tamu' tidak tega melihatnya.

"Hahhh~~ baiklah. Kalian boleh kembali dan ber_"

BRAKKKKK

"KAKASHI JJISANNN...!"

Ucapan Kakashi terpotong ketika pintu ruangannya di dobrak oleh makhluk kuning dan disusul oleh suara cempreng yang memekakaan telinga. Kakashi sangat mengetahui siapa pemilik suara tersebut.

"Minggir!" Pemuda tersebut mendorong kasar "tamu" Kakashi.

Kakashi meneguk salivanya ketika melihat tatapan tajam yang dilayangkan padanya. Keringat dingin juga sudah menuruni pelipis sang Jendral. Aura pemuda di depannya sangat mengerikan.

"Apa benar jika Kakashi-san akan membentuk tim khusus untuk mencari paman Iruka?"

Kakashi tahu jika laki - laki didepannya sudah memanggil dengan embel - embel 'san' itu berarti dia sedang marah. Memangnya apa salah dirinya hingga membuat laki - laki pirang tersebut marah. Kakashi rasanya ingin menceburkan diri ke lumpur lapindo.

Wait!?

Sejak kapan di New York ada lumpur lapindo Kakashi.

"Ano... itu. Kau tahu dari mana Naruto?" Kakashi menggaruk pipinya sekilas.

"Paman tidak perlu tahu. Yang jelas, aku akan ikut tim yang paman tunjuk untuk mencari paman Iruka." Naruto menunjuk - nunjuk muka Kakashi. Dasar NarUke tidak sopan.

"Tapi Naru_" Kakashi tidak jadi melanjutkan perkataannya ketika melihat Naruto menatapnya tajam.

"Aku-tidak-menerima-ponalakan-Paman." Naruto menekan setiap kata yang di ucapakannya. Membuat Kakashi menghela nafas.

Kakashi tahu, sangat tahu malah. Jika seorang Namikaze Naruto itu imutnya luar biasa. Tapi jangan sekali - kali membuatnya marah. Karena Naruto akan sangat menyeramkan jika sedang marah. Naruto juga sangat hobi melempar gunting. (Seperti salah satu seme paporit author dari fandom sebelah :v)

Kakashi ingat. Waktu itu dia pernah menjadi korban lemparan gunting Naruto. Saat itu, kakashi tidak sengaja menjatuhkan PSP Naruto kedalam aquarium. Naruto sangat marah. Karena PSP itu adalah hadiah ulang tahun ke 16 dari Kyuubi. Kemudian, Kakashi merasakan sesuatu berbau anyir mengalir dari pipinya. Ternyata Naruto melemparinya dengan gunting dan mengenai pipi Kakashi. memang lukanya tidak terlalu dalam, tapi tetap saja sakit. Sejak saat itulah, Kakashi menetapkan hati untuk tidak membuat Namikaze Naruto marah.

Tapi sekarang, Kakashi telah membuat Naruto marah. Nasib baik Naruto tidak melemparinya dengan gunting.

Seorang laki - laki berambut layaknya pantat ayam. Yang tidak lain adalah salah satu 'tamu' Kakashi, menatap Naruto dengan intens, tidak mengalihkan pandangannya barang seinci pun. Mungkin terpesona.

Siapa yang tidak akan terpesona pada pemuda berambut kuning jabrik, wajah yang imut bin unyu - unyu, memiliki tanda lahir di masing - masing pipinya, hidung mancung, bibir tipis berwarna merah alami, dengan postur tubuh yang tidak terlalu tinggi, dan ramping. Terlebih lagi sekarang pemuda tersebut hanya mengenakan singlet warna putih, dan celana jins selutut. Ughh... sexy. /mimisan/

"Sas.. berkediplah khekhekhe." Laki - laki yang berada disamping si pantat ayam terkekeh melihat sang 'adik' yang menatap pemuda jabrik itu tanpa berkedip. Dia tahu jika 'adiknya' tertarik dengan pemuda kuning tersebut.

"Hn"

"Merepotkan.. hoammm.. lebih baik aku tidur." Pemuda berkuncir melangkahkan kakinya menuju sofa yang ada disudut ruangan dan merebahkan tubuhnya. Mata kuacinya perlahan mulai menutup.

"Naruto?!"

Ohh.. rupaya Kyuubi, Gaara dan Kiba sudah datang.

Kyuubi mengenakan T-shirt merah bercorak abstrak dan mengenakan celana jins selutut. Begitu juga dengan Gaara dan Kiba. Mereka semua mengenakan celana jins selutut. Hanya bedanya T-shirt Kiba warna coklat, dan Gaara putih. Tidak lupa sneakers. Menambah kesan manis pada diri masing - masing.

"Kyuu-niii...!" Naruto berlari kearah Kyuubi dan memeluknya erat. Mengundang rasa cemburu dari si pemuda berambut layaknya chicken butt.

Sementara Kyuubi yang melihat Naruto memeluknya hanya tersenyum tipis, dan menepuk - nepuk puncak kepala Naruto.

"Kenapa kalian datang kemari juga?" Kakashi memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.

"Ck! Kami menghawatirkan Naruto, jadi kami menyusulnya." Kyuubi menjawab malas.

Gaara berdiri disamping Kyuubi, sementara Kiba sudah duduk disofa. Kiba mengernyit ketika melihat seseorang yang sedang tidur. "Paman Kakashi. Siapa dia?" Semua yang ada didalam ruangan menengok kearah Kiba yang sedang menunjuk 'seseorang' yang tengah tertidur.

"Dia teman kami." Laki - kaki berambut panjang. Layaknya model iklan shamppo. Dan memiliki mata berwarna putih (indigo) menjawab pertanyaan Kiba.

"Siapa mereka paman?" Kali ini Gaara yang bertanya. Mata emerald nya menatap datar laki - laki yang menjawab pertanyaan Kiba tadi.

"Mereka adalah tim khusus yang aku tugaskan untuk mencari Iruka." Kakashi dengan tegas menjawab pertanyaan Gaara. "Dan Naruto juga akan ikut dengan mereka."

"HEHHHH...!"

"Mana bisa begitu paman! Naruto kan baru saja sembuh. Aku tidak akan mengijinkannya!" Kyuubi melotot kearah Naruto. Sedangkan Naruto hanya nyengir(?).

"Dia yang memaksa Kyuu." Kali ini pandangan mata Kakashi tertuju pada Naruto.

"Kalau begitu aku juga ikut." Gaara tersenyum ke arah Naruto. Naruto? Jangan ditanya. Sekarang dia sudah berada dipelukan Gaara. Mengucapkan banyak terima kasih.

"Kenapa kau juga ikut - ikutan Gaara!?" Kyuubi mengacak rambutnya dan menatap tajam Gaara. Gaara yang ditatap seperti itu tidak merasa gentar sedikitpun. Sudah biasa ditatap seperti itu oleh Kyuubi. Apalagi jika menyangkut hal yang berhubungan dengan Naruto.

"Aku yakin Naruto juga ingin mencari keberadaan paman Iruka. Dan membuat perhitungan dengan wanita ber hoodie itu. Iya kan Naruto." Gaara tersenyum ketika melihat anggukan antusias dari Naruto.

"Kenapa Kyuu-nii tidak ikut saja. Boleh tidak paman Kakashi?" Kakashi mendengus ketika melihat Naruto mengeluarkan puppy eyes no jutsu.

"Baiklah..." Kakashi menghela nafas. Entah sudah berapa kali hari ini dia menghela nafas. Menghadapi tingkah bocah - bocah labil yang berada diruangannya membuatnya pusing.

"Yeayyy... terbaiklah." Sekarang Naruto berganti memeluk Kakashi.

Kyuubi tentu saja tidak bisa berbuat apa - apa. Mau tidak mau, suka tidak suka, dia harus ikut.

'Apa dia selalu memeluk orang jika sedang senang. Dasar dobe.'

Udah tahu dong siapa yang membatin seperti itu?

"Nah... Mereka adalah sahabat lamaku juga anggota FBI. Yang berambut panjang dan berkeriput itu adalah Uchiha Itachi. Dan disampingnya itu adalah adiknya, Uchiha Sasuke. Sementara yang sedang tertidur itu Nara Shikamaru. Dan yang terakhir adalah Hyuuga Neji." Kakashi menjelaskan satu - persatu nama dari sang tamu yang ternyata adalah anggota FBI dan merangkap sebagai sahabatnya.

"Itachi. Sebagai ketua tim, apakah kau menginjinkan mereka untuk bergabung di tim mu?" Kakashi menatap Itachi. Sedangkan Itachi tetap berfokus pada Kyuubi. Dalam hati Kakashi berdecih.

"Anak yang berambut Kuning itu adalah Namikaze Naruto, yang tidak lain adalah keponakan dari Iruka. Kemudian ada Uzumaki Kyuubi, lalu ada Sabaku Gaara, dan yang terakhir adalah Inuzuka Kiba. Aku harap Kalian bisa bekerja sama. Mengerti?!"

"Ya/Hn."

Semua menjawab dengan serempak. Kecuali Kiba dan Shikamaru.

"Kibaa! Berhentilah bermain - main dengan 'kekasihku'! Lagipula kenapa kau membawanya?!" Naruto berteriak ketika melihat Kiba yang tengah asyik bermain dengan 'kekasihnya'.

Kiba yang kaget langsung berdiri dan tersenyum kikuk. "Ma-maaf Naruto. Tadi aku melihat'nya' sendirian diruang tamu rumahmu. Makanya aku bawa kemari hehe." Kiba menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Semua yang berada diruangan Kakashi hanya sweetdrop melihat tingkah Naruto. mereka sudah tahu apa yang dimaksud 'kekasih' oleh Naruto.

Sementara Sasuke, Itachi, dan Neji hanya mengernyit bingung. Tidak mengerti ucapan yang terlontar dari mulut Naruto.

"Sini! Kembalikan 'kekasihku'!" Naruto mendengus dan merebut sang 'kekasih' dari tangan Kiba.

Kali ini giliran Sasuke, Itachi, dan Neji yg sweetdrop. Mereka sudah tahu apa yang dimaksud 'kekasih' oleh Naruto.

Ternyata 'kekasih' Naruto yang dimaksud adalah sebuah PSP keluaran terbaru hadiah ulang tahun yang ke-18 dari sang paman. PSP berwarna putih dan ditempeli stikers bergambar rubah berekor sembilan_pemberian Kyuubi_dibagian belakangnya.

"Dasar dobe".

"Siapa yang memanggilku begitu!?"

"Aku."

Ohh ternyata Sasuke lah yang telah telah memanggilnya dobe.

Naruto menatap sengit Sasuke. Shappire dan Onyx saling tatap. Sasuke merasa jika mata Naruto itu sangat Indah. Warna biru cerah. Sasuke seakan - akan tenggelam dalam birunya samudra. Membuat kinerja jatungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Sedangkan Naruto merasakan tengah mengarungi indahnya langit malam. Gelap dan dipenuhi oleh ribuan bintang. Naruto terlalu polos untuk mengartikan kenapa sekarang jantung berdetak sangat cepat ketika menatap mata Sasuke.

"Kau bilang apa Teme?" Memutuskan untuk tidak menatap Sasuke lagi.

"Dobe."

CKRIS

Satu gunting berwarna merah melayang kearah Sasuke. Untung Sasuke mempunyai refleks yang bagus. Sehingga guntingnya tidak mengenai Sasuke, dan berakhir membentur tembok. Semua mata terbelalak melihatnya. Kecuali Shikamaru yang masih tertidur.

Ruangan kerja Kakashi terasa berat. Membuat siapapun yang didalamnya sulit untuk bernafas.

Naruto mengeluarkan aura hitam pekat disekelilingnya. Menatap tajam Sasuke. Sedangkan Sasuke hanya menyeringai. Walaupun nyatanya dia sempat shock juga lantaran Naruto melempar gunting kearahnya. Nasib baik.

"Ekhemm...!" Kakashi berdehem cukup keras. Berharap suasana didalam kantornya kembali tenang. Dan cukup berhasil. Kini Naruto sudah tidak adu deathglare dengan Sasuke, dan malah asik bermain dengan 'kekasihnya' di sofa yang tadinya ditempati oleh Kiba.

"Paman Kakashi..." Kyuubi memanggil Kakashi dengan suara pelan. Tapi masih bisa di dengar oleh yang lainnya.

"Ya Kyuubi." Kakashi bisa merasakan jika Kyuubi ingin berbicara serius. Terlihat dari raut wajahnya yang berubah menjadi tegas.

"Bukankah seseorang yang telah menjadi zombie pergerakannya akan sangat lambat? Tapi kenapa paman Iruka_." menjeda sebentar. Semua orang yang berada didalam ruangan menunggu perkataan Kyuubi selanjutnya. Bahkan Shikamaru pun sudah membuka matanya. Dan Naruto langsung mempause gamenya ketika nama sang paman keluar dari mulut Kyuubi.

"_tapi kenapa gerakan paman Iruka sangat cepat. Kecepatannya pun tidak bisa di ukur dengan nalar manusia." Kyuubi menerawang langit - langit ruangan Kakashi. Ingatan tentang kejadian satu minggu yang lalu kini berputar - putar kembali dalam benaknya.

Kakashi mengernyitkan dahinya. Memandang Kyuubi dengan serius. "Apa maksudmu Kyuu?"

"Waktu itu. Saat Naruto berlari, dan berniat menghajar wanita ber hoodie yang berada di laboratorium bawah tanah. Aku melihat seseorang berlari sangat cepat ke arah Naruto. Dan setelah itu menendang Naruto, sehingga dia membentur reruntuhan. Ternyata itu adalah paman Iruka." Pandangan Kyuubi kini bertumpu pada Naruto yang tengah menundukan kepalanya.

"Kau ingat kan Naruto?"

"..."

"Saat itu hanya ada aku, Naruto, paman Iruka, dan wanita itu. Wanita itu menyuruh paman Iruka untuk membunuh kami. Seandainya bantuan tidak lekas datang, mungkin sekarang kami sudah tewas ditangan paman Iruka." Kyuubi melangkahkan kakinya mendekati Naruto. Naruto masih menundukan kepalanya. Tapi Kyuubi tahu jika Naruto sedang menangis. Terlihat dari bahunya yang bergetar. Kyuubi berjongkok didepan Naruto. Dan memeluknya erat.

Shikamaru yang tadinya berada di sebelah kiri Naruto, kini sudah berpindah di samping Neji.

Hening

Semuanya tidak ada yang mengeluarkan suara. Suara yang terdengar hanyalah isak tangis dari Naruto.

Sasuke yang melihat Naruto menangis, entah kenapa merasakan sesak dibagian dadanya. Seakan - akan ada sebongkah batu besar yang menghimpit paru - parunya.

"Sasuke. Kau bawa Naruto keluar." Sasuke menatap Itachi dengan sorot mata bingung. Kenapa harus Sasuke? Kenapa bukan Kyuubi.

"Aku tahu kau menyukainya Sas. Maka dari itu hiburlah Naruto. Biar aku yang berbicara pada Kyuubi." Itachi berbisik ditelinga Sasuke.

"Kau bawa Naruto pulang Kyuu. Gaara dan Kiba juga lebih baik pulang saja." Kakashi kembali memijit pelipisnya yang terasa semakin berdenyut. Kenapa Sakura menjadikan Iruka zombie, dan kenapa pula harus Iruka. Terlalu banyak pertanyaan - pertanyaan yang bersarang dikepala Kakashi.

"Senior Kakashi. Bolehkah Sasuke yang mengantar Naruto pulang? Sementara Neji akan mengantar Gaara, dan Shikamaru bersama Kiba. Ada yang harus aku diskusikan dengan Kyuubi." Itachi berjalan mendekati meja Kakashi.

Kakashi menatap Naruto yang masih berada dipelukan Kyuubi. "Baiklah. Sasuke jaga baik - baik Naruto. Begitu juga dengan Shikamaru dan Neji."

Mereka bertiga mengangguk mantap.

Kyuubi lalu melepaskan pelukannya. "Kau pulang duluan ok. Nanti aku akan menyusulmu." Kyuubi mengusap lembut pipi Naruto guna menghapus lelehan air mata yang masih setia mengalir di kedua pipi Naruto.

Naruto pun mengangguk.

"Tolong jaga adikku baik - baik pantat ayam. Kalau sampai sesuatu terjadi padanya kau akan merasakan akibatnya." Kyuubi sebetulnya tidak rela Naruto diantar pulang oleh Sasuke. Kyuubi bisa melihat dari sorot mata Sasuke. Jika adik dari Uchiha Itachi itu tertarik dengan Naruto.

"Hn."

"Kami pulang." Sasuke kemudian menggenggam tangan Naruto dan berjalan keluar dari ruangan kerja Kakashi. Diikuti oleh Shikamaru dan Kiba, lalu Neji dan Gaara.

TBC

YEAHHHHH...

Chapter dua udah update

Gimana? Makin gk jelaskan ceritanya ya wkwk, maklumin saja ya masih newbie hohoho :v

Terima kasih buat semuanya.. buat readers yg udah mau baca cerita gaje saya. Terima kasih yg udah mau follow dan favorite'in ff gk jelas ini. Hontouni Arigatou ^^ *bow

Saya tahu kok ff saya tidak sebagus ff SN yang lain :3

Tapi saya terus mencoba membuat hasil yang terbaik. Walaupun hasilnya malah ancur gini #pundung

Mau curhat dikit boleh ya ^^

Sebetulnya ff IWC itu first'a adalah ff collab dan bukan yaoi. Judul'a pun yang nyari temen saya. Prolog'a pun dia yang nulis. Tadinya ide cerita saya itu mau horror setan. Tapi tanpa didiskusikan terlebih dahulu temen saya sudah mengshare prolog'a dengan ide zombie. Nahh karena chaper 1 adalah bagian saya, maka mau gk mau saya pun mengikuti alurnya. Kan gk mungkin prolog'a about zombie, jalan cerita'a about setan :v

Parah'a setelah saya share chapter 1 nya, temen saya gk mau ngelanjutin -_-. Akhirnya saya meminta ijin pada teman saya untuk meminjam judul Incident Wild City. Alur'a pun banyak yang saya rubah. Karena saya jadikan ff Yaoi. Dan saya share disini.

Btw, maaf ya belum sempet bales riview XD

Yoshhh...

Cukup segitu sajalah cuap - cuap gk bermutu dari saya.

Maaf untuk chapter ini belum ada adegan berdarah - berdarahnya.

RnR