"Unspeakable Secret"
.
a secret you can't tell anyone
everyone has a secret like that
even if you say it's nothing special
even if i try to be indifferent
it's hurt
(Lio'gyu – Yuatha)
.
1 September 20xx
.
"Wonshik-ah, apa kau bisa menemaniku hari ini?"
"kau mau kemana memangnya Bin-ah?"
"aku akan menjemput Sungkyung nuna dibandara, lalu pergi ke Mapo-gu karena nuna ingin pergi kesana"
" ah.. nuna-mu sudah pulang dari Jepang?"
"tentu saja sudah! Kau senang apa Sungkyung nuna berlama-lama di Jepang?"
"nuna galak seperti dia seharusnya berlama-lama saja, mungkin saja ia akan memarahi kita seperti dulu. Itu mengerikan Bin-ah"
"Yah! Mau bagaimanapun juga dia nunaku, bodoh! Yasudah cepat bersiap-siap dan jemput aku"
"arraseo, kututup"
Klik
Hongbin memasukan ponsel biru tuanya kedalam sakunya, ia sudah bersiap dengan kemeja putih polosnya yang dibalut dengan jaket pink pudarnya dan celana panjang jeans casualnya dilengkapi dengan sepatu putih yang membuat dirinya semakin manis walau hanya dibalut dengan pakaian casual yang santai.
Sedangkan disisi lain, Wonshik tengah bersiap-siap dengan malas. Pasalnya ia tidak terlalu menyukai Sungkyung. Yeoja yang lebih tua darinya 3 tahun itu terkenal suka menyiksa dia maupun Hongbin—adik Sungkyung sendiri. Bahkan Wonshik pernah tidak ingin pergi ke rumah Hongbin karena Sungkyung.
Tangan panjang Wonshik mengobrak-abrik lemarinya asal, mencari baju mana yang akan ia gunakan untuk menjemput Sungkyung, kemudian ia meraih kemeja biru tua yang tergantung dilemarinya dan celana jeans hitam, dengan cepat ia mengenakkan pakaiannya lalu meraih kunci mobil Sport biru lautnya yang menetap di basement apartemen mewahnya.
Sebelum turun ia sedikit tidak percaya bahwa pantulan pada cermin itu adalah dirinya, ia kembali memperhatikan penampilannya yang menurutnya kurang setelah itu dengan sigap ia mengenakan kacamata hitamnya—Kau tau kan? Wonshik akan tampak sangat mempesona jika mengenakan kacamata walaupun ia masih tetap mempesona tanpa kacamata. setelah merasa cukup, Wonshik segera melangkahkan kakinya menuju basement apartementnya.
Mobil sport berwarna biru laut tanpa atap miliknya melesat dengan cepat dijalan raya menuju Hongbin yang menunggunya. Sesampainya di rumah Hongbin, Wonshik melambaikan tangannya saat melihat Hongbin berlari kecil ke arahnya.
"kupikir kau tidak menyukai Sungkyung nuna, Kenapa kau berdandan seperti ini? Hanya untuk menjemputnya" tanya Hongbin sedikit heran setelah melihat penampilan Wonshik yang sedikit nyentrik.
Sebenarnya Hongbin sedikit terpesona dengan penampilan Wonshik yang terlihat sangat tampan walaupun hanya dengan menggunakan kemeja biru tua yang melekat pas ditubuh atletisnya. Wonshik mengusak gemas surai hitam Hongbin "yah.. ini bukan karena nuna galak itu, aku tidak boleh terlihat jelek saat aku berada diluar rumah" jawab Wonshik. Hongbin mengangguk polos mengiyakan apa yang Wonshik katakan.
"arraseo, ayo cepat. Sungkyung nuna sudah menunggu kita" ajak Hongbin, lalu dengan cepat ia memasuki mobil Wonshik dan duduk di kursi penumpang tepat disebelah kanan Wonshik.
setelah itu, mobil sport Ferrari biru laut itu kembali melesat menuju bandara Incheon.
...
"Hongbin-ah!" suara melengking yeoja berperawakan tinggi bak model terkenal sembari melambaikan tangan panjangnya kearah Hongbin yang menoleh kesana kemari mencari seseorang, merasa terpanggil Hongbin menolehkan wajahnya ke arah suara dan mendapati Sungkyung yang melambai dengan senyuman lebar diwajah kecilnya.
"Ah! nunaa!" Hongbin menarik lengan Wonshik yang terlihat ogah-ogahan ke arah nunanya. Sesampainya dihadapan nunanya, Hongbin langsung menerjang Sungkyung dengan pelukan eratnya "ah! nuna jeongmal bogoshipo" rengek Hongbin manja
"aigoo, Hongbin-ah! nado bogoshipo" jawab Sungkyung sambil membalas pelukkan Hongbin tak kalah erat.
"agh! Nuna , aku tau kau merindukanku. Setidaknya longgarkan pelukanmu! Atau kau bisa membunuhku!" rintih Hongbin
Sungkyung terkekeh kecil lalu melepaskan pelukkannya pada Hongbin, mata coklatnya tak sengaja menatap punggung namja yang berdiri disebelah Hongbin dengan posisi sedang membelakanginya. Ia mengerutkan keningnya heran
"siapa dia?" bisik Sungkyung tanpa melepaskan pandangannya pada punggung namja itu. Hongbin mengikuti arah pandang Sungkyung kemudian tersenyum kecil "Ini Wonshik! Apa nuna ingat? Sahabatku dari kecil! nuna sering menganggunya dulu" jawab Hongbin lalu membalik paksa tubuh namja yang disebut Wonshik tadi, dan mau tak mau Wonshik membalik tubuhnya dan berhadapan dengan Sungkyung.
Mata Wonshik dan Sungkyung tak sengaja bertemu, Sungkyung menatap Wonshik bingung kemudian tersenyum hangat "ahh! Si bocah kecil itu? Bocah kecil yang selalu menangis saat ku sodorkan belalang itu?" canda Sungkyung sembari tertawa kecil. Wonshik terdiam menatap Sungkyung yang tertawa kecil seakan ia tengah melihat malaikat yang baru saja turun dari surga hanya untuknya.
"Yap! Nuna benar sekali! Wah hebat sekali ingatan nuna masih kuat eh? Haha" canda Hongbin balik, matanya melirik ke arah Wonshik yang terdiam dan terus menatap Sungkyung "Wonshik-ah, ada apa hm?" tanya Hongbin khawatir karena Wonshik tidak mengeluarkan suaranya sama sekali sedari tadi.
Wonshik terkesiap kecil saat Hongbin menggoyangkan lengannya, seakan tersadar dari lamunan singkatnya ia menoleh ke arah Hongbin lalu melemparkan senyuman kecilnya sembari menggeleng pelan.
Sungkyung memajukan bibir bawahnya menatap kedua namja didepannya yang kini mengalihkan pandangannya menjadi menatap dirinya yang ekspresinya berubah 360 derajat
"ada apa nuna?" tanya Hongbin bingung
"kalian berdua telat menjemputku, dan sekarang aku kelaparan! Ayo makan!" ajak Sungkyung dengan suara marahnya yang dibuat-buat, kedua tangannya ia silangkan didepan dadanya dan juga pipi yang digembungkan dan anehnya itu semua membuat Wonshik semakin tidak bisa mengalihkan pandangannya pada Sungkyung.
Hongbin tertawa melihat kelakuan kekanakan Sungkyung, "arraseo! Kajja kita makan! Ayo Wonshik!" ajak Hongbin senang, tangan kanannya menarik lengan Sungkyung dan tangan kirinya menarik koper pink berukuran sedang milik Sungkyung.
.
.
Hembusan angin menerpa wajah ketiganya saat mobil tanpa atap milik Wonshik melaju menelusuri jalan besar kota Seoul, Wonshik yang sedang menyetir sesekali melihat pada kaca mobilnya, ia memperhatikan dengan serius objek yang terpantul dari kaca mobilnya yang membuat sebuah senyuman terukir diwajah tampannya.
Hongbin menatap Wonshik heran, pasalnya sedaritadi Wonshik tersenyum-senyum sendiri setelah melihat kaca mobilnya. "Kenapa kau tersenyum? Apa ada yang lucu?" tanya Hongbin heran, ia menoleh ke belakang dan hanya mendapati nunanya yang sedang memejamkan matanya menikmati semilir angin yang menerpanya.
Wonshik menggeleng singkat "tidak ada" jawabnya tak kalah singkat.
Hongbin mengangguk mengiyakan, matanya kembali menatap keluar mobil dan melihat sesuatu yang membuatnya tersenyum senang.
"Nuna! Bagaimana jika kita makan disana? Disana ada samgyeopsal kesukaan nuna, mau?" tawar Hongbin sembari menunjuk salah satu restoran yang akan mereka lewati.
Wonshik memperhatikan ekspresi Sungkyung yang tersenyum senang saat mendengar 'samgyeopsal' kesukaannya, "Dahyunaji! (tentu saja) ayo cepat kesana! Perutku sudah sangat lapar" manja Sungkyung sembari mengelus perutnya, jangan lupakan ekspresi cemberutnya yang membuat Wonshik kembali terpesona.
"arraseo, Yah! Wonshik-ah! jangan melamun, ayo cepat menepi disana ada tempat kosong untuk parkir" Hongbin kembali mengacungkan tangannya menunjuk pada salah satu lahan parkir yang kosong. Wonshik terlonjak kaget karena bentakan Hongbin, dengan sigap ia memarkirkan mobilnya sesuai dengan instruksi Hongbin.
.
.
.
"WUAH! Jinjja daebak! Ini sangat enak!" Sungkyung mengacungkan ibu jarinya membuat Hongbin terkekeh pelan "benar bukan? Makanan disini sangat enak! Bahkan Wonshik juga suka makan disini, yakan Wonshik-ah?"
Wonshik mengangguk menanggapi, ia mengunyah Soondae kesukaannya. Sungkyung menyumpitkan daging samgyeopsal dan meletakkannya pada mangkuk Wonshik "Manhi mokgo! Aku yang traktir" seru Sungkyung, Hongbin tersenyum senang "Kau yang terbaik nuna!"
Wonshik terdiam menatap daging yang disumpitkan Sungkyung ke mangkuknya, ia tersenyum kecil lalu melahap makanannya.
.
Setelah menikmati berbagai makanan berat hingga ringan, Hongbin memutuskan untuk membawa nunanya berjalan-jalan disekitar Mapo-gu. Ia ingat saat ia masih kecil, ia sering mengajak Wonshik untuk menulis lirik lagu di salah satu tempat makan kecil di daerah Hongdae ini.
Tanpa terasa, hari mulai malam. Sungkyung menyarankan kedua namja yang menjemput sekaligus yang mengajaknya jalan-jalan seharian ini untuk pulang, selain tubuhnya yang mulai lelah. Ia juga merasa hari sudah gelap, mereka sudah berada diluar terlalu lama.
Wonshik menuruti permintaan Sungkyung, ia mengendarai mobilnya pelan menuju rumah mewah Hongbin yang terletak dipinggir kota Seoul. Mengapa dipinggir kota Seoul?
Ya, ayah Hongbin adalah seorang pengusaha yang sukses dan ibu Hongbin adalah seorang designer yang terkenal di negeri sakura sana. Hongbin hidup bagaikan putra raja sejak ia kecil, tapi ia tidak sombong ataupun memamerkan kekayaanya, malah terkesan menutupi semua itu.
Memang berat awalnya, saat Wonshik yang notabenenya anak yang anti sosial itu menghindari Hongbin yang hanya ingin berteman dengannya. Namun Hongbin yang tak kenal lelah, terus mendekati dan mengejar Wonshik kemanapun namja itu pergi. Lama kelamaan Wonshik mulai terbuka pada Hongbin yang telah memberikannya rasa nyaman untuk bersosialisasi dengan orang lain, disitulah mereka memulai tali persahabatan mereka berdua.
Tak terasa kini mereka sudah sampai di depan rumah keluarga Hongbin, Wonshik menolehkan wajahnya ke kanan untuk menatap Hongbin yang kini terlelap karena perjalanan mereka yang cukup jauh. Kemudian matanya melirik ke arah spion yang tergantung ditengah, matanya terpaku saat melihat Sungkyung yang juga tertidur. Posisi tidurnya sama dengan Hongbin tapi entah mengapa rasanya Sungkyung lebih menarik dipandang olehnya.
"Ngh..." itu lenguhan Hongbin, Wonshik mengerjabkan matanya kemudian berbalik menatap Hongbin yang sedang mengucek matanya yang masih mengantuk.
"Wonshik-ah, kita sudah sampai?" tanya Hongbin dengan suara seraknya—suara khas orang baru bangun tidur. Wonshik bergumam untuk menjawab pertanyaan Hongbin, setelah Hongbin terbangun, Sungkyung juga ikut terbangun.
"uhm.. sudah sampai? Hongbin-ah, cepat turun. Jadi Wonshik bisa pulang, ini sudah sangat larut. Wonshik-ah, langsung pulang ya? Jangan mampir kemana-mana, ini sudah malam. Dan kata Hongbin apartemenmu cukup jauhkan dari sini?" Sungkyung bertanya sekaligus memerintah Hongbin dalam perkataannya.
Hongbin yang masih setengah mengantuk langsung keluar dengan malas dari mobil Wonshik, disusul dengan Sungkyung setelahnya. Wonshik membuka kaca mobilnya, "baiklah, aku pulang dulu. Annyeong bin-ah... nuna" setelah mendapat anggukan dari Sungkyung serta lambaian dari Hongbin, Wonshik langsung menjalankan mobilnya untuk pergi pulang.
.
.
Sesampainya diapartement mewahnya, Wonshik menekan angka-angka yang dihapalnya dengan baik diluar kepala—'yah kata sandi dirumahnya memang harus dihapal bukan?
Setelahnya ia memasuki apartemennya yang gelap gulita, tangannya meraba-raba dinding disebelah kanannya untuk mencari saklar.
KLEK
"ah dapat!" seru Wonshik senang, jari telunjuknya menekan saklar itu turun.
KLEK
"Eh?"
Lampu tidak menyala? Bagaimana bisa?
Wonshik kembali mengulangi kegiatannya, jarinya menekan saklar itu berkali-kali berusaha menyalakan lampu itu. Tetapi nihil, lampu itu tidak menyala. Wonshik sedikit cemas, ia kemudian merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya dan menyalakan blitz sebagai pencahayaan untuk dirinya.
Kaki jenjangnya melangkah ke arah dapur, tenggorokannya kering karena suhu apartementnya yang panas dan gelap. Sebelum tangannya terulur, matanya menangkap beberapa kertas yang ia tempelkan dengan magnet di kulkas mahal miliknya.
'pantas saja tidak mau menyala, aku lupa membayarnya lagi. Hah.. ini karena lagu-lagu sialan yang membuatku sesibuk ini' Wonshik mengumpat dalam hatinya, tangannya mengambil air yang masih setengah dingin di kulkas lalu menegaknya dengan kasar.
"lalu aku harus apa? Aku harus tidur panas dan gelap-gelapan seperti ini?" Wonshik bermonolog, tangannya mengutak-atik ponselnya seolah mencari jawaban disana.
Dynamite
Oneulman na jogeum ukhalge oh!
Dynamite
Michyeo, nalttwieo, eojilleo, shake it down—
Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, menampilkan kontak nama Hongbin dilayarnya. Tanpa menunggu lama ia langsung menjawabnya.
"Yeoboseo?"
"Wonshik-ah, aku lupa menanyakan sesuatu tadi. kapan rencananya musikmu akan dipublish?"
Wonshik terdiam selama beberapa detik, "Hongbin-ah..." panggilnya pelan.
"hm ada apa?"
"ania (tidak)... ano, itu.. apa aku bisa menginap dirumahmu?" tanya Wonshik dengan sedikit nada memohon, ia sudah memikirkan saat ia mendengar suara Hongbin dari ponselnya. Dengan menginap dirumah Hongbin, Wonshik akan mudah untuk berkonsultasi dengan Hongbin yang notabene adalah sahabat sekaligus produser untuk musik-musiknya dan juga ia bisa bertemu dengan Sungkyung setiap saat. Ya kan?
Wonshik dapat mendengar desisan bingung Hongbin dari ponselnya "memangnya Kenapa? apa ada masalah?" kini Wonshik bisa mendengar nada khawatir yang terselip saat Hongbin membalas ucapannya.
"itu... aku lupa membayar tagihan listrik, ini karena aku terlalu sibuk dengan lagu-laguku. Setidaknya kalau aku menginap dirumahmu, aku jadi lebih mudah untuk berkonsultasi tentang lagu-laguku denganmu kan? Dan sepertinya ini akan lama Bin-ah"
"ah.. pabbo, yasudah kemari ini sudah sangat larut malam. Aku akan menyiapkan kamarmu, hati-hati ya. Aku akan menunggumu"
Seolah tak ingin menunggu lama, Wonshik langsung memutuskan sambungan ponselnya setelah mengatakan terima kasih pada Hongbin lalu bergegas untuk mengepak pakaian dan kebutuhan ia selama di rumah Hongbin. Sebenarnya tak terlalu banyak, karena pakaiannya masih banyak yang tertinggal dirumah Hongbin karena ia sering menginap disana dulu.
Sesampainya di rumah Hongbin, Wonshik langsung bergegas kekamarnya setelah para waiters membukakan pintu untuknya. Para waiters memberitahunya kalau Hongbin tadi menunggunya, namun karena Hongbin terlihat sangat mengantuk setelah makan malam. Jadi ia memilih untuk tidur dan meminta tolong para waiters untuk melayani Wonshik.
.
Hari mulai mendekati pagi, Wonshik melirik ke arah jam yang bergantung apik di atas tv kamarnya, jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi tetapi matanya belum juga terpejam. Tangannya sibuk bergerak menyusun lagu untuk menjadi satu irama yang bagus, bunyi benturan pad mouse yang digerakkan oleh Wonshik memenuhi ruangan yang disebut sebagai kamarnya yang kedap suara ini.
Walaupun ini rumah Hongbin, Wonshik sendiri memiliki kamar pribadi disini karena kebiasaannya saat kecil yang sering diajak menginap oleh Hongbin membuat Dongwook—appa Hongbin- membuatkan kamar untuk Wonshik yang sudah ia anggap anak sendiri. Apalagi setelah Wonshik menjadi composer dan bekerja sama dengan Hongbin, Dongwook semakin melayani Wonshik seperti anak kandungnya.
Kruyukk...
Perut Wonshik berbunyi tak beraturan, ia lapar. Wonshik sendiri bahkan baru ingat kalau dia belum makan sama sekali karena menempuh jarak yang cukup jauh dari apartemennya kerumah Hongbin membuat dirinya sedikit terburu-buru hingga lupa makan malam.
Dilanda dilema ingin makan atau tidak, Wonshik berjalan keluar dari kamarnya menuju ke dapur. Sesampainya didapur, matanya tanpa sengaja mendapati Sungkyung yang sedang meminum Wine mahalnya di bangku Bartender yang tersedia di dapur keluarga Hongbin.
Matanya sedikit membulat, saat ia menyadari Sungkyung tengah tersenyum kearahnya dengan ramah.
"Kenapa pagi-pagi seperti ini nuna belum tidur?" tanya Wonshik sedikit gugup—Hey! Siapa yang tidak gugup didepan calon gebetan hm?
Sungkyung meletakkan gelas winenya diatas meja "Tidak apa-apa, aku hanya sedang ingin minum karena tidak bisa tidur. Kau sendiri Kenapa tidak tidur?" tanya Sungkyung balik.
Wonshik berjalan mendekati Sungkyung "Aku tadi sedang mengkompose lagu, lalu aku ingat kalau kemarin malam aku lupa makan malam..." jawab Wonshik dengan malu-malu.
"Aigooo.. sampai kapan lava pabbo sepertimu jadi pelupa seperti ini? Jadi kau mau makan apa, biar aku yang buatkan" tawar Sungkyung sembari melipat kedua tangannya didepan dada. Wonshik tersenyum sumringah mendengar tawaran dari Sungkyung "Jeongmal? Apa saja yang penting aku kenyang"
"arraseo, chakkaman aku akan memasakkan boukkumbap" kata Sungkyung sembari berlalu, Wonshik semakin tersenyum senang "Wahh.. sudah lama aku tidak makan boukkumbap!" kata Wonshik senang, matanya terus memperhatikan Sungkyung yang sedang memasak.
Senyumnya terus merekah diwajahnya, bibirnya tak bisa berhenti tersenyum 'Bukan hanya cantik, ia juga perhatian dan pandai memasak' batin Wonshik terpesona. Tak lama kemudian Sungkyung berjalan ke arah meja makan lengkap dengan boukkumbap dan juga orange jus di tangan kanannya kemudian meletakkannya dihadapan Wonshik.
"Ja.. makanlah" kata Sungkyung senang, tanpa menunggu lama Wonshik langsung melahap hidangan didepannya. "Uahh, ini enak sekali nuna!" Wonshik memakan boukkumbap buatan Sungkyung dengan lahap tanpa menyadari kini saus dan beberapa nasi menempel dipipi dan disekitar bibirnya.
Sungkyung tertawa melihat tingkah Wonshik yang terlihat seperti anak kecil yang kelaparan "Yah! Pabbo.. kau makan berantakkan sekali" tangan lentik Sungkyung terulur untuk mengusap bulir-bulir nasi yang menempel dipipi Wonshik.
Disisi lain, Hongbin melihat aksi Sungkyung untuk Wonshik, ia meremat dadanya yang terasa nyeri. Melihat keduanya yang kini tengah tertawa senang pada satu sama lain, kakinya melangkah kembali kekamarnya yang berada dilantai atas. Ia mengurungkan niatnya untuk mengambil minum.
Hongbin duduk di kursi kerjanya sambil terus memikirkan kejadian tadi, hatinya terasa sakit saat mengingat kembali kejadian itu tapi ia mencoba untuk tidak berfikir macam-macam dan hanya menganggap bahwa mereka memang dekat dan Hongbin juga berpikir bukannya bagus kalau Wonshik dekat dengan nunanya?
Lalu Hongbin mengambil buku kecil yang ada di laci kecil disebelah kirinya, ia membuka buku kecil berwarna biru itu lalu menuliskan sesuatu diatasnya. Ia menuliskan apa yang ia lihat hari ini dan apa yang dia rasakan...
.
TBC
.
Review Corner
Loha loha loha !
Yuatha : jassik.. ayo bantuin saya, jangan ketawa saja kamu.
Ara94 : halo karaaa *loves emoji* setelah selesai ukk aku lanjutin kok kak WBBPnya, sekarang masih belum bisa karena FFN belum mengijinkan alias ERROR. Mian yaaa *sad emojis*
Jikooki : yups! Lanjut! Tfr yaa
Hyena Lee : lanjut lanjut! Tfr yaa
