"Unspeakable Secret"

.

a secret you can't tell anyone

everyone has a secret like that

even if you say it's nothing special

even if i try to be indifferent

it's hurt

(Lio'gyu – Yuatha)

.

2 September 20xx

.

Hongbin terbangun dari tidurnya, semalam ia tidak bisa tidur sama sekali. Kepalanya masih terasa pusing karena kurang tidur, ia memutuskan untuk keluar dari kamar. Kedua orbsnya memperhatikan sekelilingnya dengan seksama, tidak ada Sungkyung dan juga Wonshik. Pintu kamar mereka berdua pun tertutup rapat. Dengan langkah gontai Hongbin berjalan menuruni tangga menuju dapur, sesampainya disana para waiters langsung menyambutnya dengan sopan.

Hongbin tersenyum singkat kepada para waiters yang sudah ia anggap nuna-nunanya sendiri–karena mereka sudah bekerja sejak Hongbin masih kecil "apa Sungkyung nuna dan Wonshik belum bangun?" tanya Hongbin.

Para waiters menundukkan wajahnya sembari menjawab "iya Tuan Muda, Nyonya muda dan Tuan Wonshik masih tertidur karena mereka tidur terlalu larut malam" jelas salah satu waiters yang paling tua disana.

"Ah.. kalau begitu siang ini biar aku saja yang memasak makanan, kalian boleh istirahat" kata Hongbin sambil tersenyum, tangannya mengangkat segelas susu yang di sediakan untuknya kemudian menegaknya pelan.

Para waiters itu mengerutkan keningnya heran "Apa Tuan muda yakin ingin memasak hari ini? Biar kami bantu tuan" seru salah satu waiters itu sedikit cemas. Hongbin menyerahkan gelasnya yang kosong pada waitersnya dan langsung diterima dengan cepat waiters itu.

Hongbin mengembungkan kedua pipinya, membuat para waiters yang berumur lebih tua dari Hongbin merasa gemas dengan tingkah tuan mudanya "apa aku tidak meyakinkan untuk memasak? Aku bisa melakukannya sendiri tau"

"Baiklah Tuan, Jika memerlukan bantuan kami. Kami akan membantu" setelahnya waiters itu membungkukkan tubuhnya kemudian berlalu pergi. Selepas perginya para waiters, Hongbin langsung bersiap memasak, ia mencari-cari resep di smartphonenya. Kemudian ia memutuskan untuk memasak makanan rumah khas korea.

Kimchi jiggae (Sup Kimchi), beberapa banchan dan juga daging sapi segar telah ia letakkan dimeja masaknya, ia memulai kegiatannya dengan sangat terampil dan lincah mungkin karena dulu dia pernah tinggal sendirian di apartemen pribadinya selama 3 tahun yang membuat ia harus bisa memenuhi kebutuhannya sendiri selama itu.

Akhirnya masakannya pun jadi dan sudah ia susun dengan sangat rapi di meja makan, tepat setelah Hongbin meletakkan piring masakannya yang terakhir Wonshik dan Sungkyung keluar dari kamar mereka masing-masih. Wajah Sungkyung yang sudah terpoles make-up terlihat cerah saat melihat masakan Hongbin.

"Woahh~! Kelihatannya enak, kau yang memasak ini semua?" tanya Sungkyung excited, kaki panjangnya berlari kecil mendekati meja makan.

Melihat kedatangan nunanya—dan juga Wonshik- Hongbin langsung mengangguk canggung "ne nuna, aku hanya dalam mood memasak. Makanlah"

Hongbin menyodorkan semangkuk nasi pada Sungkyung yang langsung diterima dengan senang "Waaa~ jalmokkeseumnida!" pekik Sungkyung.

Hongbin menggeleng-geleng melihat nunanya yang seperti anak kecil didepan makanan buatannya, Wonshik mengambil tempat duduk tepat di sebelah Sungkyung dan dihadapan Hongbin.

"Wonshik-ah! ayo makan" ajak Hongbin, Wonshik menganggukkan kepalanya singkat kemudian jari-jari panjangnya menyumpitkan salah satu makanan kedalam mulutnya. Sungkyung tersenyum disela-sela kunyahannya "Ini enak sekali bin-ah! yakan Wonshik?"

Wonshik langsung mengangguk cepat saat Sungkyung melihat kearahnya "Um... iya! Ini sangat enak" jawab Wonshik sembari melemparkan senyum kearah Sungkyung. Hongbin yang mendengar pujian untuk masakkannya langsung tersenyum sumringah.

"Benarkah?" tanya Hongbin pada Wonshik yang duduk di hadapannya, Wonshik menoleh sekilas pada Hongbin "Ya.." jawab Wonshik singkat kemudian kembali menolehkan wajahnya ke arah Sungkyung.

Merasa seseorang menatap kearahnya, Sungkyung balik menatap Wonshik. "Manhi Mokgo~ (makanlah yang banyak)" kata Sungkyung sembari menyumpitkan Kimchi ke mangkuk Wonshik.

Wonshik tersenyum "Nuna-do (nuna juga)"

Disisi lain, Hongbin menatap keduanya polos. Hatinya sedikit nyeri melihat ke akraban keduanya yang begitu dekat. Tapi di pikirannya hanya satu 'Wonshik menyukai masakannya' pikir Hongbin senang.

.

Selesai makan, mereka bertiga melanjutkan kegiatannya masing-masing. Hongbin kembali kekamarnya setelah mengantarkan Sungkyung kedepan gerbang rumahnya untuk pergi bekerja. Sedangkan Wonshik, ia juga kembali kekamarnya untuk melanjutkan musiknya.

Hongbin duduk dikursi kerjanya, tangan kirinya mengambil buku kecil berwarna biru yang selama 2 tahun terakhir ini ia tulis dari laci kecil disebelahnya. Ia menuliskan beberapa kalimat dibuku itu, setelahnya ia meletakkan kembali buku itu kelacinya, sembari memastikan tidak ada seorangpun yang tau selain dirinya perihal buku itu.

Merasa sudah aman, Hongbin melanjutkan pekerjannya yang tertinggal sejak kemarin.

Hingga tak terasa hari sudah mulai sore, namja berdimple manis yang sedari tadi mengerjakan kewajibannya sebagai CEO muda itu beranjak dari duduknya sebelumnya ia sedikit merenggangkan otot-otot tangan dan punggungnya yang sedikit kaku karena terlalu lama duduk dan mengetik. Perut ber-absnya sedikit terasa lapar, akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan pergi menuju ke dapur, sebelumnya ia menghentikan langkahnya tepat didepan kamar Wonshik yang berada disebelah kamarnya.

Hongbin membuka kamar Wonshik pelan –Tidak lebar tetapi tidak juga terlalu kecil sehingga matannya dapat melirik ke arah Wonshik yang sedang duduk di mejanya, wajah Wonshik terlihat letih dengan headphone yang menutupi kedua telinganya dan tangan-tangan lincahnya menarik sibuk diatas keyboard.

Sebenarnya Hongbin sedikit merasa kasihan pada Wonshik, karena pekerjaan yang ia berikan pada Wonshik untuk comeback VIXX kali ini membuat Wonshik harus ekstra dalam mengerjakan tugasnya dalam keadaan apapun.

Hongbin berinisiatif untuk memberikan Wonshik beberapa camilan, perlahan ia menutup kembali pintu kamar Wonshik dan dengan langkah terburu-buru Hongbin berjalan kembali menuju dapur.

Tangan-tangannya sibuk mengeluarkan bermacam-macam buah segar yang ada di kulkas lalu memotongnya kecil-kecil agar memudahkan Wonshik untuk memakannya, sesudah meletakkan buah-buahan segar yang telah dipotongnya di piring, Hongbin menuangkan jus stroberi kedalam gelas kemudian meletakkannya dinampan.

Setelah dirasa cukup, Hongbin mengangkat nampannya lalu membawanya kekamar Wonshik. Tangan kanannya yang bebas membuka kenop pintu kamar Wonshik.

"Wonshik-ah! aku membawakanmu buah-buahan dan juga jus stroberi" Hongbin yang masih berada didepan pintu mengangkat tangan kirinya untuk menunjukkan semangkuk buah-buahan dan jus stroberi yang dibuatnya. Wonshik mengangguk singkat headphonenya yang kini hanya bertengger di telinga kanannya.

"Um.. taruh saja disitu, Gomawo" jawab Wonshik tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer dihadapannya, jarinya menunjukkan sisi mejanya yang kosong, wajahnya sedikit melemparkan senyum tipis yang membuat Hongbin balas tersenyum senang, tanpa disuruh dua kali. Hongbin berjalan masuk lalu meletakkan nampannya diatas meja kerja Wonshik.

Hongbin melirik kearah layar komputer Wonshik yang penuh dengan hal-hal yang tidak ia ketahui sama sekali.

"Wonshik-ah, apa ini untuk comeba—"

Belum sempat Hongbin menyelesaikan pertanyaannya, Sungkyung yang ternyata sudah pulang dari pemotretan langsung masuk kekamar Wonshik yang pintungnya memang belum Hongbin tutup.

"Wuahh.. kamarmu rapih sekali dan apa ini? Lagu untuk comeback VIXX nanti?" Sungkyung berdiri disebelah Wonshik yang sedang duduk. Kedua mata coklat muda milik Sungkyung memperhatikan tampilan komputer Wonshik yang cukup membingungkan –maklum dia bukan anak teknologi yang mengetahui hal-hal canggih seperti itu (kecuali kamera, tentunya)

Wonshik yang melihat kedatangan yeoja cantik yang berstatus sebagai nuna dari Hongbin langsung menoleh kearah yeoja cantik itu yang kini sedang memperhatikan komputernya dengan excited.

"Ah! nuna, kau sudah pulang?" tanya Wonshik, Sungkyung mengangguk menjawab pertanyaan yang diberikan padanya. Wonshik tersenyum sekilas "iya, ini lagu untuk VIXX nanti"

"Wah~ apa kau yang membuat semua ini?" tanya Sungkyung takjub

Wonshik menggaruk tengkuknya canggung "yah.. begitulah" ujarnya diakhiri dengan kekehan kecil pada suara baritonnya. "apa nuna mau mendengarkannya?"

Sungkyung mengangguk cepat, "Um! Aku mau" jawabnya mantab, ia sangat penasaran dengan lagu-lagu yang Wonshik buat. Selama ini ia hanya mendengarkan semua lagu-lagu VIXX, boygrup yang debut di agensi Hongbin itu memang selalu menggunakan lagu-lagu Wonshik untuk lagu baru mereka. Sekarang ini adalah kesempatannya untuk menjadi orang pertama yang mendengarkan lagu Wonshik bukan?

Wonshik tertawa pelan kemudian ia beranjak dari duduknya untuk memberikan Sungkyungkan tempat duduk, setelahnya Wonshik memasangkan headphone mahalnya di kedua telinga Sungkyung dari belakang.

Sungkyung memejamkan matanya untuk menajamkan pendengarannya, membuat telinganya semakin peka pada lagu Wonshik yang mengalun jelas pada kedua telinganya.

"lagu ini bagus sekali!" puji Sungkyung sembari mengacungkan ibu jarinya. Bibir Wonshik tersenyum lebar, ia kembali menunjukkan lagu buatannya yang lain. Sungkyung dengan senang hati mendengarkannya, lalu setelahnya ia memuji Wonshik tentang lagu-lagu buatannya.

Tanpa sengaja kedua mata Sungkyung melihat semangkuk buah-buahan dan juga jus stroberi disisi kanannya. "wuahh~ ada buah, boleh aku minta?" tanya Sungkyung.

Tangan besar Wonshik saat ini menyodorkan mangkuk buah dan juga gelas itu pada Sungkyung "makan saja jika nuna mau, lagi pula aku sedang tidak mood untuk makan buah saat ini"

Sungkyung mengangguk setelah melemparkan senyum pada Wonshik "Gomawo, Wonshik-ah!"

Satu persatu potongan buah-buahan itu Sungkyung suapkan kemulut kecilnya, tak luput juga jus stroberi kesukaannya ia minum.

"wuahh~ masshitaa" Sungkyung memejamkan matanya erat, seolah ia meminum-minuman terenak yang pernah ada tanpa menyadari busa-busa jus itu menempel di bibir atasnya. Wonshik mengambil tisu lalu mengusapkannya perlahan pada bibir Sungkyung yang terkesiap karena perilaku tiba-tiba Wonshik, kini keduanya terdiam dengan suasana canggung meliputi keduanya.

Namja manis berdimple yang berdiri tak jauh dari keduanya kini merasa terasingkan, Hongbin—namja berdimple yang sedari tadi melihat keduanya yang tak menghiraukannya sama sekali. Padahal ia yang pertama masuk kekamar Wonshik, ia memutuskan untuk beranjak keluar.

"a—itu, aku baru ingat, aku ada banyak perkerjaan dikantor. Sepertinya aku harus pergi sekarang" pamit Hongbin, tangannya sudah memegang kenop pintu dan hendak membukanya sebelum Sungkyung membalas pamitannya.

"Kenapa harus sekarang? Ini juga sudah hampir malam dan apa kau tidak mau mendengarkan lagu-lagu buatan Wonshik?" yeoja cantik kelahiran 1990 itu memajukan bibirnya, matanya menatap kesal pada Hongbin.

Namja yang berstatus sebagai adik Sungkyung itu balas menatap kearahnya, sedetik kemudian Hongbin mengalihkan pandangannya menatap kenop pintu yang masih digenggamnya.

"aku sibuk, untuk apa aku mendengar lagu-lagu Wonshik? Toh aku nanti akan mendengarakannya di kantor" tanpa menunggu jawaban dari Sungkyung, Hongbin langsung membuka pintu dan berjalan keluar.

BLAM!

Tanpa sadar Hongbin menutup pintu kamar itu cukup keras, membuat kedua orang didalamnya terlonjak kaget. Hongbin tidak langsung pergi dari tempatnya karena kakinya tidak mau mengikuti perintah tubuhnya sendiri, badan kurusnya merosot kebawah membuatnya jadi berlutut di lantai rumahnya yang dingin. Matanya memanas hingga ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakannya yang siap keluar kapan saja.

Ia berusaha berdiri walaupun kakinya masih terasa lemas, ia terus berjalan menuju mobil pribadinya yanga ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakannya yang siap keluar kapan saja.

Ia berusaha berdiri walaupun kakinya masih terasa lemas, ia terus berjalan menuju mobil pribadinya yang berada didepan rumahnya. Untungnya tidak ada satupun waiters yang melihatnya.

Hongbin langsung masuk kedalam mobil mewahnya setelah membuka pintu mobilnya dengan terburu-buru. Air matanya meleleh turun kepipinya, nafasnya tercekat, isakan demi isakan keluar dari bibirnya yang kini memerah karena sedari tadi ia gigit. Seberapa kerasnya ia berusaha menenangkan dirinya sendiri tapi usahanya itu nihil, hatinya tetap terasa sakit dan isakan tidak berhenti keluar dari mulutnya.

Sejujurnya ia sendiri tidak mengerti, Kenapa dirinya jadi selemah ini? apa ia marah pada nunanya yang sudah memakan buah-buahan yang ia berikan untuk Wonshik? Ia sediri tidak mengerti dengan perasaannya sendiri.

.

.

.

Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam, tetapi namja berdimple itu tidak beranjak dari tempatnya sama sekali. Ia sudah duduk di kursi kebesarannya sejak 2 jam yang lalu. Matanya sembab dan sedikit membengkak karena ia tidak berhenti menangis sejak tadi, ruangannya masih sangat gelap karena ia bahkan lupa untuk menyalakan lampunya dan itu semua karena ia ingin sendiri sekaligus menenangkan perasaannya yang kacau.

Tiba-tiba saja, pintu ruangannya terbuka disusul dengan lampu yang menyala membuat Hongbin dengan cepat menghapus air matanya.

"Oh, mian! Aku kira tadi tidak ada orang" rupanya sekertaris kepercayaan Hongbin sekaigus sahabat kecilnya yang datang, hal ini sedikit membuat Hongbin menghela nafasnya lega.

Hongbin berusaha untuk tidak menatap sahabatnya itu "Kenapa kau kemari?" tanyanya pelan, Gongchan berjalan mendekati meja Hongbin kemudian mengambil beberapa kertas yang tertutup map biru "aku hanya mau mengambil kertas kontrak VIXX yang aku berikan padamu 2 hari yang lalu, kau sendiri sedang apa disini? Kenapa tidak menyalakan lampunya?" Gongchan menyusun kertas-kertas itu kemudian meletakkannya didekapannya santai, mata sipitnya memperhatikan wajah Hongbin yang sedang menunduk. Walau tidak terlalu jelas tapi Gongchan tau, sahabatnya itu habis menangis.

"kau menangis?" tebak Gongchan cemas

Hongbin menggeleng cepat, wajahnya masih sedikit menunduk "tidak! Tidak kok, tadi hanya kemasukkan debu jadi mataku berair seperti ini"

Gongchan mengerutkan keningnya bingung "eyy.. mana mungkin ada debu masuk, ruanganmu'kan selalu bersih. Ceritalah Kenapa, aku akan mendengarkanmu" setelahnya ia menarik kursi lalu duduk dihadapan Hongbin, matanya menatap serius pada Hongbin yang kini balik menatapnya.

"apa? Aku tidak apa-apa" Hongbin sedikit merasa risih karena tatapan serius Gongchan, tidak biasanya sahabat kecil sekaligus sekertarisnya seperti ini. Hongbin menggeleng untuk meyakinkan Gongchan, tetapi sia-sia. Gongchan tetap bersikukuh meminta penjelasan darinya.

Hongbin diam, ia bingung. Haruskah ia mengatakannya pada Gongchan apa tidak.

Gongchan mendecih sebal "Yah! Kau anggap apa aku ini? Aku ini sahabatmu sejak kecil, kenapa menyembunyikan rahasia denganku sih?"

Pada akhirnya Hongbin memang harus menceritakannya pada Gongchan, sesaat ia menghela nafasnya berat "hah.. baiklah kau menang, aku akan bercerita" Hongbin menceritakan semua isi hatinya pada Gongchan apapun yang ia lakukan, apapun yang ia pikirkan dan apapun yang ia rasakan semuanya ia ceritakan. Namun tidak memberitahu siapa tokoh yang ada didalam ceritanya.

Gongchan merasa bingung sekaligus heran pada sahabatnya, sejak kecil mereka berdua memang sangat dekat. Apalagi kedua orang tua Gongchan memang dekat dengan keluarga Hongbin, membuat keduanya menjadi sahabat sejak kecil. Tetapi sejak kecil hingga sekarang, Gongchan belum pernah melihat Hongbin menangis. Sungguh! Hongbin adalah anak yang kuat, ia juga selalu tersenyum pada semua orang. Dan kini, hanya Gongchan seoranglah yang mengetahui sisi lemahnya seorang Lee Hongbin.

"sejujurnya aku tidak mengerti dengan jalan ceritamu, lalu bagiamana jika perempuan itu benar-benar menyukai namja lain? Bukannya kau menyukai yeoja itu sejak lama?"tanya Gongchan.

Ya, Hongbin menceritakan bahwa dirinya masih straight dan dalam ceritanya noonanya menjadi namja sedangkan Wonshik menjadi yeoja—untuk menutupi jika sebenarnya dialah yang menyimpang saat ini.

Hongbin mengusap wajahnya kasar, kedua tangannya ia lipat diatas meja kemudian ia tumpukan dagunya disana dengan malas. "Yah.. mau bagaimana lagi? Kalau mereka saling suka aku tidak apa-apa kok, karena aku tau dia akan mendapatkan namja yang sangat baik dan sempurna. aku juga tidak akan bisa mendapatkan dia"Hongbin kembali menggigit bibir bawahnya keras, matanya memanas dan juga bibirnya bergetar. Ia harus menahan tangisannya –lagi.

"kau terlalu naif, Lee Hongbin" Gongchan menggeram pelan, matanya menatap tajam tepat dimata polos namja berdimple didepannya. "kau terlalu naif! Walau bagaimanapun juga kau kan sudah menyukai–ani mencintai dia sejak kelian kecil. Bagaimana bisa kau merelakannya dengan begitu mudahnya? Aku bingung dengan jalan pikiranmu!" cercah Gongchan yang mulai kesal karena sahabatnya yang terlalu baik.

Gongchan bersumpah, Hongbin masih sangatlah polos dan belum mengerti dengan baik apa itu cinta walaupun Hongbin sendiri sudah menemukan siapa cinta pertamanya. Namun sayang, cinta pertamanya tidak sesuai dengan harapannya bahkan harus bertepuk sebelah tangan.

Dan Gongchan juga sangat yakin jika orang juga memiliki rasa untuk Hongbin hanya saja mereka berdua itu takut mengutarakannya. Hongbin terdiam, matanya menatap dengan kosong. Pikirannya kacau saat ini, tanpa sadar air matanya berjatuhan membuat Gongchan semakin cemas.

"H-hongbin-ah! jangan menangis. Aku akan menemanimu disini, tenangkanlah dirimu lebih dulu"

Setelahnya, Hongbin mengangguk sembari menghapus air matanya. Gongchan tersenyum lalu mengusak surai dark brown Hongbin usil. "gomawo Gongchan-ah" ucap Hongbin sembari tersenyum tipis, sahabat kecilnya balas tersenyum kearahnya.

"cheonma, Hongbin-ah"

.

HAHAHAHAHAHA

TBC

Tuberculosis

Jikooki : Hongbin gak lagi masak apa-apa, jadi dia ga bakal angst paling iteman doang '-'

Hongbinie : Hongbin yang tesakiti season 2 muncul nih, selamat menikmati '-'

Ara94 : saya merasa nista bikin beginian, yo mian lah. Gatauu.. aku kemaren post selalu try again. Makanya ga ada post lagi.

Sampai jumpa next chapter bay.