"Hayi, ayo bangun, ini adalah hari pertamamu sekolah," kata Mrs. Park.

Aku dapat mendengar ibuku yang memanggilku dalam tidurku yang nyenyak. Aku tidak berusaha membuka mataku karena aku masih sedikit mengantuk. Aaah, biarkan aku tidur lebih lama lagi.

"Aaah.. mama, 10 menit lagi,"

Aku memeluk bantalku dengan sangat erat. Namun, ibuku tidak menyerah untuk membangunkanku. Dia terus mendorongku dengan sangat kuat membuat aku menjadi tidak ingin tidur lagi. Aku membuka mataku perlahan dan melihat ibuku.

"Aah, mama, selamat pagi," kataku sambil berusaha melemaskan seluruh tubuhku.

"Cepat mandi, karena Chanyeol sudah dari tadi bersiap-siap," kata Ibu sambil mengambil selimutku dan melipatnya.

"Ah? Oppa sudah mandi?"

"Iya dari sejak tadi. Jadi sekarang kamu harus cepat sebelum ditinggal olehnya," Ibumu kemudian meletakkan selimut di atas tempat tidur dan kemudian pergi keluar.

"Aah, bukankah lebih baik di tinggal olehnya?"

Aku berusaha menyadarkan diriku sendiri ketika ibu pergi. Ah, badanku masih terasa pegal dan lemah. Dengan sedikit tenaga aku berjalan menuju ke kamar mandiku. Aku mandi dan menyalakan air yang masih dingin di pagi hari. Tentu saja aku tidak ingin terlambat di hari pertama sekolah.

Aku buru-buru memakai baju sekolahku. Aku sangat senang dengan sekolah yang aku masuki. Walau sebenarnya Chanyeol-oppa yang menyuruhku masuk ke sekolah itu. Kau tau, aku sudah sangat senang dengan masa SMP-ku. Karena selama setahun penuh dia tidak ada di sekolahku dan menggangguku seperti biasanya. Tidak ada dia yang berteriak setiap dia melihatku di sekolah. Tidak cukupkah dia melihatku di rumah? Sekarang aku akan melewati dua tahun lagi bersama dia di sekolah. Aku harap dia tidak melakukan kegaduhan yang lebih.

Seperti biasa aku berjalan ke dapur untuk menikmati sarapan. Dan ya, aku melihat dia di sana sedang makan dengan cerianya. Juga dia melambai kepadaku sambil memanggilku. Pagi hari dia sudah melakukan hal yang merepotkan.

"Hayiii-aah, selamat pagi," Dia kemudian berdiri dan menyambutku. Dia melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tentu saja dia sangat senang aku memakai seragam sekolah yang sama dengannya.

"Oppa, ada apa?" Aku melihatnya dengan pandangan sinis, dan langsung berjalan menuju meja makan tanpa mempedulikan dirinya.

Dia melihatku dengan mata yang berkaca-kaca. Ya, dia pasti akan memberikan pujian yang sangat berlebihan dalam 3-2-1.

"Kamu sangat pantas dengan baju itu, Hayi-ah~~! Mama, lihat, Hayi sangat cantik, bukan?"

Ibuku juga berada di sini sekarang, dia melihatku dengan tersenyum, "Iya, benar sekali, our Hayi sangatlah cantik,"

Aahh, aku menghela napas lagi. Tidak bisakah pagi hari berjalan seperti biasa saja?

"Kau tau Hayi, oppa sangat senang. Akhirnya bisa satu sekolah denganmu lagi," dia kemudian duduk di sebelahku.

Ya, kau tau kakak lah yang memaksaku satu sekolah dengannya. Dia terus memohon-mohon kepadaku layaknya orang bodoh. Namun, aku tidak enak hati menolaknya. Karena kau tau, tidak ada yang bisa menolak kebaikan dari orang seperti dia. Chanyeol-oppa adalah orang yang sangat baik.

"Iya, oppa. Tapi aku tidak," kataku sambil mengambil sarapanku.

"Tapi-tapi-tapi, oppa sudah menyiapkan banyak hal untukmu untuk hari yang menyenangkan ini," Dengan aegyo-nya yang luar biasa jelek, dia kemudian mengambil sesuatu dari kantongnya.

Sebuah pita yang cantik.

"Hayi pasti sangat cantik memakainya," Dia kemudian menunjukkan wajah yang paling bahagia yang pernah dia miliki. Sekali lagi aku merasa sangat bersalah untuk menolaknya. Dengan cepat dia langsung berusaha menempelkan pita itu ke rambutku.

Yap, aku langsung bangkit berdiri dari tempat dudukku, berusaha menjauh. Yang benar saja aku memakai pita yang gede dan bodoh itu. TIDAK!

Aku berlari menjauh darinya supaya tidak terkejar. Namun, kakak tidak menyerah, dia terus tersenyum melihatku.

"Oppa! Kalau kau menempelkan pita itu ke kepalaku, aku akan membunuhmu!"

"Hmm, tapi oppa ingin melihat adek oppa yang sangat imut memakainya,"

"HELL NO!"

Kelihatannya pagi ini berjalan seperti biasa. Kakakku selalu melakukan berbagai macam hal di pagi hari, setiap hari. Namun, itu semua menjadi keceriaan di rumah ini. Dia tidak pernah menyerah untuk menggangguku.

"Waaah, sudah saatnya berangkat," kata Ibu.

Aku langsung mengambil tasku dan berjalan menuju ke depan rumah. Aku memakai sepatuku. Sementara kakak malah mengambil kameranya dengan sangat bersemangat.

"Hayi, ayo kita foto sekali dulu, oppa ingin menjaga moment kita yang sangat berharga ini,"

"*sigh* Baiklah, oppa," aku berusaha berdiri di sebelahnya. Sementara ibuku mengambil foto kami berdua.

"Senyum, Hayi,"

Aku memberikan senyumanku yang paling malas. Kenapa juga kita harus berfoto di pagi hari, huh?

"Wah, Hayi sangat cantik walau berwajah jelek,"

Aku terkejut dengan kata-katanya. Aku berlari dan melihat foto yang berada di kamera. Oh my! Aku benar-benar sangat jelek di foto itu! Aku berusaha mengambil kamera itu dari kakakku karena merasa malu dengan fotoku sendiri.

"Hapus itu!"

Chanyeol-oppa langsung mengangkat kameranya. Tentu saja aku tidak bisa sampai, karena dia sangatlah tinggi, bagaimana bisa aku menyamainya. Aku berusaha meloncat dan mengambil kamera itu dari dirinya. Jeez, Chanyeol-oppa benar-benar menyebalkan. Aku tidak peduli lagi. Aku berjalan keluar dari rumah.

"Jeez, whatever. Lebih baik kita cepat-cepat pergi sebelum terlambat,"

Chanyeol-oppa kelihatan puas dan mengejarku. "Ibu kami pergi dulu,"

"Iya, hati-hati di jalan,"

Begitulah kami berdua berangkat menuju sekolah.

Kami sampai di sekolah. Untung saja kami belum terlambat sama sekali. Ya, aku dapat bernapas cukup lega. Aku tidak ingin terlambat di hari pertama sekolah.

Aku berjalan mengikuti Chanyeol-oppa karena aku belum terlalu tau tentang sekolah ini. Jadi dia menuntunku, aku terkagum melihat suasana sekolah. Sangat besar dan indah, juga banyak sekali orang-orang yang baru pertama kali kulihat.

Dan ya, setiap orang menyapa Chanyeol-oppa. Namun, aku tidak terlalu terkejut melihat pemandangan ini. Karena oppa adalah orang yang ceria, dia pasti memiliki banyak teman.

Tidak sepertiku.

Semua orang melihatku dengan pandangan aneh. Aku takut berjalan di sebelahnya, semua orang seperti memberikan pandangan tidak percaya kepadaku.

"Tenang saja, Hayi, oppa ada di sini,"

Aku senang dia mengatakannya kepadaku.

Upacara penerimaan murid baru dimulai. Semua murid berbaris dengan rapi di lapangan upacara, termasuk aku. Di sana aku bertemu dengan Minzy, temanku. Aku langsung mengejarnya.

"Minzy-ah!"

"Hayi, lama tidak berjumpa," dia tersenyum kepadaku.

"Hehehe, kita satu kelas loh, aku sangat senang," kataku.

"Wah, baguslah, aku bersyukur kita satu kelas,"

"Tentu saja,"

Kami berdua sudah cukup lama berteman. Tentu saja dia juga tau tentang kakakku. Dia merasa kakakku sangat baik dan keren. Ya, begitulah, kakakku selalu baik kepada setiap orang sampai membuat setiap hati terambil olehnya.

Tapi bagiku dia hanya kakak yang mengganggu dan berlebihan. Sudah banyak sekali kejadian yang mengerikan terjadi karena dirinya.

Aku masih melanjutkan obrolanku dengan Minzy tanpa melihat ke depan.

"Test, test, selamat pagi semuanya~~~!"

Ya, bagaimana bisa suara itu tiba-tiba terdengar dengan sangat keras? Aku sepertinya terlalu banyak memikirkan Chanyeol-oppa. Begitulah, aku membalikkan badanku dan sangat terkejut melihat dia yang berada di depan. YA, dia berada di depan sana, di depan semua murid baru. B-bagaimana bisa, huh? Sementara murid lain terlihat biasa saja, termasuk Minzy yang berada di sampingku saat ini. Apa yang sedang terjadi sekarang?!

"Selamat datang kepada seluruh murid baru~! Saya di sini sebagai perwakilan dari osis dan kepala sekolah! Nikmati masa kalian di sini~!"

"Juga, baik-baik kepada adikku ya~! Namanya adalah Park Hayi!"

Kemudian dengan bodohnya dia menunjuk ke arahku. Juga dia melambai kepadaku dengan senyuman bodoh yang paling dia meliki di dunia. Semua mata tertuju kepadaku. Haaaa, CHANYEOL-OPPAAA!

"Psst, kau sangat beruntung punya kakak yang keren seperti itu, Hayi," Minzy menyenggolku sedikit.

"Ah, hahaha...,"

Aku berusaha tersenyum kepada setiap orang yang melihatku. Namun, aku memberikan tatapan yang mematikan kepada Chanyeol-oppa yang berada di atas panggung. D-dia-dia, benar-benar... Ah, lupakan.

Hari pertama sekolah tapi sudah begitu gaduh di tempat ini.

Ketika aku pergi kantin, banyak sekali kali orang yang melihat ke arahku. Seakan-akan papan "Chanyeol's Sister" berada di atasku. Aku sangat tidak suka dengan pemandangan ini. Ya, untunglah Minzy sekarang berada bersamaku dan membuatku tidak merasa sendiri.

"Minzy, aku merasa semua mata tertuju kepadaku," kataku sambil mengambil sendok nasi.

"Tentu saja, terutama karena kakakmu tadi mengenalkan dirimu. Seharusnya kamu sangat bangga, Hayi. Terutama dia juga sangat tampan, pintar, dan baik. Perfect~!"

"Pfft, wth?" Aku mengalihkan wajahku darinya dan melihat orang yang sangat tidak ingin kulihat.

Chanyeol-oppa.

Kemudian suara teriakannya terdengar lagi, "Hayi-ah~~!"

Aku melihat Chanyeol-oppa yang datang bersama teman-temannya. Sepertinya mereka adalah teman dekatnya. Dia datang mendekat dan duduk di sebelahku.

Seperti biasa dengan sangat ceria dia mengatakan, "Hmm, jadi, ini adalah Hayi, adik kesayanganku~! Dia sangat cantik, bukan?"

"Oppa, stop it," kataku yang kedengarannya kesal.

"Jangan marah, Hayi. Oppa, hanya ingin mengenalkanmu dengan teman-temanku," katanya sambil tersenyum.

Terkadang aku selalu kalah karena senyumannya itu, aku jadi tidak bisa menolak keberadaannya. Aku berdiri dari tempat dudukku dan melihat teman-teman kakakku.

"Anyyeong haseyo, I'm Park Hayi,"

Aku melihat teman kakakku satu persatu. Aku terkejut, mereka sangat tanpan dan cantik. Mereka juga kelihatan senang melihatku. Entah kenapa aku sedikit merasa berdebar melihat temannya.

"Hi, I'm Baekhyun, nice to meet you," Dia sangat tampan, begitulah yang ada di pikiranku ketika melihatnya.

Kemudian aku melihat temannya yang satu lagi, seorang perempuan yang cantik dan tinggi. Dia sangat berkilau seperti seorang model. Semua teman Chanyeol-oppa sangatlah berkilau, bahkan dia juga.

"Hello, Hayi, I'm Sooyoung. Nice to meet you. Aww, you're so cute," Kemudian dia mencubit pipiku sejenak membuatku tersipu malu.

"A-ah.. Thank you,"

"Dia sangat cantik, bukan? Hehehe, karena dia adik dari Chanyeol yang sangat tampan ini,"

Aku sangat ingin facepalming di tempat ini karena dirinya. Apa yang sedang dia lakukan, huh? Mempermalukanku?

"Oppa, aku mau makan," kataku yang mulai kedengaran kesal.

"Oh, I'm sorry, Hayi. Kamu boleh duduk sekarang," Kemudian aku duduk bersama dengan kakakku. Dia dan teman-temannya ikut duduk di meja kami.

Aku melanjutkan makanku dengan berusaha tidak terlihat aneh. Karena, ya, teman-temannya ada disini, aku tidak bisa bergerak leluasa. Namun, bagaimana Minzy kelihatan sangat senang. Dia memanggilku untuk mendekatkan telingaku.

"Yaa, Hayi, kakakmu punya teman yang cantik dan ganteng, tapi tidak sepertimu,"

"Wth? Yaa! Minzy,"

"Just kidding, hehehehe,"

Aku tau aku tidak seperti oppa, terlihat sempurna dan ceria. Namun, aku juga tidak ingin di bandingkan dengannya.

Dia melanjutkan pembicaraannya dengan temannya, terutama dia sekarang berada di sebelahku, "Hmm, Baekhyun, Sooyoung, aku ingin sekali Hayi menjadi anggota OSIS yang selanjutnya di sekolah ini. Terutama aku nanti bisa bermain terus sama Hayi," Dengan itu, dia langsung tersenyum dengan bahagianya dan juga aku hampir membuang seluruh makananku. Untung saja aku dapat menahannya. Bagaimana bisa dia tiba-tiba mengatakan hal seperti itu, huh?

"Oppa!" Aku menyenggol tubuhnya supaya dia sadar dengan kata-katanya. Namun, teman-temannya hanya tertawa melihat kami. Tidak membantuku sama sekali, mereka malah setuju, Jeez.

"Kedengarannya bagus, Chanyeol. Hayi pasti bisa menjadi anggota osis yang baik," Salah satu temannya, Baekhyun, mengatakannya. Sekali lagi dia terlalu bersinar dengan senyuman di wajahnya itu. Entah kenapa aku merasakan aura lain dari dirinya. Namun, dia terlalu tampan, aku jadi tidak bisa membencinya, juga senyumannya terlalu indah. Kenapa aku selalu dikelilingi oleh orang-orang yang berkilau?

"Wah, Hayi pasti akan menjadi anggota yang paling imut di OSIS," kata Sooyoung sambil tersenyum.

Unni yang satu ini, benar-benar cantik. Aku sangat senang melihat wajahnya yang cantik. Dia terlihat sangat cool dari segala segi dan sisi. Jika dibandingkan denganku... Well, lupakan itu. Aku harus melanjutkan makanku sebelum semuanya ku muncratkan karena Chanyeol-oppa.

"Jadi, Hayi, kakak akan mendaftarkan namamu sebagai anggota OSIS di sekolah ini. Dan kita akan selalu bersama," kata Chanyeol-oppa dengan senyuman versi angel level 100 yang dia miliki. Semua orang pasti akan terjatuh dan meleleh, tapi aku tidak. Aku bangkit dari tempat dudukku dan mengajak Minzy untuk pergi. Cukup dengan semua ini, hari ini juga masih hari pertama sekolah.

"Oppa, aku sudah selesai makan, dan jangan pernah berfikir untuk memasukkanku dalam anggota OSIS!" aku memberikan tatapan mematikan kepadanya. Sementara aku menunduk kepada kedua temannya dengan wajah tersenyum, "Aku pergi duluan," Kemudian aku pergi meninggalkan mereka, pergi ke kelas bersama Minzy.

Dia masih bisa berteriak dengan bersama, "Kamu pasti akan merubah pikiranmu, Hayi-ah~! Oppa, tetap akan mendaftarkanmu sebagai anggota OSIS!"

Oppa! Sekali lagi, aku pasti akan... Tidak, tidak boleh, Hayi. Biarkan aku melalui hari ini dengan damai.

"Sampai jumpa lagi, Minzy," kataku sambil melambaikan tanganku kepadanya.

"Bye,"

Aku tetap berada di depan sekolah menunggu kakakku untuk datang. Aku tidak enak hati meninggalkan dirinya sendiri. Namun, dia sepertinya akan lama karena ada urusan dengan OSIS. Aku tidak terlalu memikirkan tentang dia yang lama, tought. Sejak dulu sepertinya aku selalu menunggunya pulang, karena dia selalu sibuk. Namun, dia dengan bahagianya akan menyambutku.

"Hayi-ah," Ya, itu pasti dia yang datang menyambutku dengan bahagianya. Aku menoleh dan melihat dia yang berlari dengan semangatnya.

"Oppa, lama banget," kataku yang berusaha terlihat kesal.

"Maafkan, oppa, Hayi," dia berusaha memelas. Aku tetap saja menolaknya, karena dia juga sudah sangat menyebalkan seharian ini.

"Tidak mau," Aku mulai berjalan dan tidak mempedulikannya.

Dia langsung mengejarku dan berhenti di depanku, aegyo-nya dalam mode on sekarang, dia akan menyerangku lagi, "Hayi-ah, maafkan oppa, ya, maafkan, oppa, ya, hmm? Hmm?"

Astaga, jika kamu dapat melihatnya langsung, kamu pasti akan melemparkannya sepatu karena begitu jelek, "Tetap tidak," Juga semua itu tidak mungkin mempan untuk diriku.

"Aahh, Bagaimana kalau oppa teraktir es krim saja, ok?"

"Hmm, bagaimana ya?"

"Es krim apa saja yang kamu mau,"

"Baiklah, aku mau yang paling gede, oppa," kataku dengan tersenyum.

Dia kelihatan senang dan kemudian menarik tanganku dengan semangat, "Ayo, Hayii~~! Kita beli es krim yang paling gede,"

Aku selalu tau dia sangat sayang padaku. Aku tau itu, dan karena itu aku jadi selalu berpikir bahwa kita akan selalu bersama selamanya. Aku tidak pernah berfikir akan berpisah dengannya. Aku tidak pernah berharap itu terjadi.