Sudah seminggu lebih berlalu sejak aku berada di sekolah, dan dia masih saja berlebihan setiap harinya. Juga, dia sudah mendaftarkan namaku di OSIS. Aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi, aku membiarkan dia melakukan semuanya, karena aku sudah capek untuk meladeni dia.

Hari ini kami pergi keluar bersama. Tidak bisa bilang berkencan sih, karena kami sedang berbelanja keperluan kami. Terkadang aku pergi bersama, oppa, karena ibu juga sibuk dengan pekerjaannya. Juga ayah, terkadang beristirahat karena dia sangat lelah dengan pekerjaannya. Aku baik-baik saja dengan berbelanja di sini, tapi aku tidak baik-baik saja berbelanja dengan dirinya.

Dia sangat aktif dimanapun dia berada, walau sekarang kita berada di pasar. Dia menyapa hampir setiap orang di sini. Maka dari itu, setiap orang pasti sangat mengenalnya di sini. Dan aku hanya menjadi "adiknya" setiap ke sini. Kakakku selalu baik kepada setiap orang.

"Tante, kami ingin membeli beberapa sayur," Kami datang ke salah satu warung untuk membeli. Dia dengan senyumannya yang mematikan membuat tante pemilik toko terpanah dan meleleh. Bahkan sering sekali mereka memberikan diskon.

"Ah, Chanyeol, selamat datang, ingin membeli apa?" Ya, tante ini mulai lagi sok cantik dan menggoda Chanyeol-oppa. Bisa aku lihat bahwa dia sangat tertarik dengan Chanyeol-oppa, terutama karena dia sangat tampan. Aku hanya berada di belakang menunggu kakakku selesai dengan jurus melelehkan hati wanitanya.

"Saya, ingin membeli sayur untuk membuat kimchi, tante," kata Chanyeol-oppa dengan senyumannya.

"Hmm, berarti kol, mau berapa banyak, Chanyeol?" sekali lagi ahjumma ini berusaha tampil cantik, aku sangat jijik melihatnya.

"Oppa, hurry up, kita harus membeli yang lain lagi," kataku yang semakin kesal, dan melihat ahjumma itu dengan pandangan sinis.

"Oh, kamu benar. Kolnya dua saja tante," kata Chanyeol-oppa, yang kemudian memberikan uang.

Ahjumma itu terlihat kecewa, karena aku mengatakan hal itu, dia memberikan kol kepada oppa dengan wajah lesu, "Ini Chanyeol, terima kasih. Datang lagi, ya," Dan memberikan pandangan sinis kepadaku. Tentu saja aku tidak mau kalah, aku langsung mengalihkan wajahku.

"Jadi, Hayi, apa yang harus kita beli lagi?" tanyanya.

"Beberapa cabe," kataku sambil membaca daftar belanjaan.

"Baiklah," Ketika aku berbalik untuk melihat oppa, dia sudah berada di tepat toko cabe dengan senyumannya. Ya, dia beraksi lagi, aku hanya bisa menghela napas melihat dirinya yang seperti itu. Namun, terkadang itu juga sangat membantu.

"Hayi-ah!" Aku langsung menoleh ketika dia memanggilku. Dia melambaikan tangannya dari jauh kepadaku, dan dia berada di depan toko cabe. Aku datang ke tempatnya, karena dia sepertinya ingin aku ke sana. Jika dilihat dari wajahnya, sepertinya dia ingin memberikanku sesuatu. Dan itu selalu tergambar di wajahnya.

"Ada apa?" Aku berjalan mendekat kepadanya.

Dia tiba-tiba meletakkan sebuah bunga di telingaku. Tentu saja aku terkejut ketika dia melakukannya. Aku melihat bunga yang dia berikan, sebuah bunga melati yang cantik.

"Sangat cocok untukmu, Hayi, sangat cantik," Dia tersenyum lagi seperti biasanya. Dan, aku hanya bisa menghela napas melihat dirinya.

"Terima kasih, oppa," kataku sambil tersenyum.

"Sama-sama, Hayi, ayo kita pergi," Dia mengelus kepalaku dan kemudian berjalan pergi.

Ya, oppa selalu berusaha cool, padahal sebenarnya dia sangat senang dalam hati.

"Oppa, sepertinya sudah semua bahan kita beli," Aku membaca daftar belanjaan dan melihat semua sudah di centang.

"Ok, sekarang kita membeli yang lain," Dia kemudian menarik tanganku dengan semangatnya.

Sekarang apa lagi yang ingin di beli, aku sudah cukup dengan semua belanjaan yang berat ini.

Dia kemudian berhenti di depan supermarket dan dengan semangatnya dia melihatku, "Oppa, akan membeli es krim buat kita berdua, kamu mau apa, Hayi?"

"Hmm, aku mau yang rasa coklat, oppa," kataku dengan senang. Ya, setidaknya dia yang mentraktirku es krim.

"Baiklah, oppa akan membelikanmu, tunggu di sini, ya?" Kemudian oppa masuk ke dalam supermarket dengan senangnya.

Aku menunggu di depan untuk melihat keadaan tempat ini. Begitu banyak orang di sini, dan ada berbagai macam orang yang pergi dan datang. Kemudian aku melihat kakakku yang memilih es krim dengan semangatnya.

Kemudian angin berhembus, menerbangkan bunga yang masih berada di kepalaku.

"Bunganya," Aku kemudian mengejarnya, karena tiba-tiba begitu saja terbang. Entah kenapa, aku tidak ingin melepaskan bunga itu begitu saja. Karena itu pemberian Chanyeol-oppa, aku merasa harus mengambilnya. Aku mengejarnya tanpa mempedulikan kerumunan orang. Tanpa mempedulikan bahwa jalanku adalah menuju maut.

Dari jauh, aku dapat mendengar, oppa yang berteriak memanggilku. Tunggu oppa, aku hampir berhasil menangkapnya. Ya, aku menangkapnya, aku berhasil, aku menoleh dan melihat Chanyeol-oppa berlari dengan kencang dengan seluruh kekuatannya, bahkan dia langsung melemparkan es krim yang berada di tangannya. Dia kelihatan sangat ketakutan, dan dia semakin mendekat. Aku bingung dengan dirinya.

Kenapa?

Ada apa?

Tapi dia tidak menjawab, dia terus memanggilku, "Hayi!"

Dia meloncat.

Setelah itu, aku tidak tau apa yang sedang terjadi. Namun, aku mendengar semua orang terus berteriak histeris. Seakan-akan ada sebuah kecelakaan hebat saat ini. Aku yang masih dalam keadaan lemas, berusaha membuka mataku.

Aku melihatnya.

Aku melihat Chanyeol-oppa yang sedang berlumuran darah. Aku berusaha pergi ke sana, tapi aku tidak kuat. Aku tak bisa lagi membuka mataku.

Ada apa? Apa yang telah terjadi?

Oppa, kamu baik-baik saja kan?

"Aku baik-baik saja, Hayi," Aku terkejut mendengar suara itu, aku menoleh dan melihat Chanyeol-oppa yang tersenyum seperti biasa kepadaku.

Aku berlari ke arahnya dan memeluknya, "Oppa, aku kira kamu akan pergi selamanya,"

"Tidak mungkin, oppa, pasti selalu bersama, Hayi," Dia juga membalas pelukanku dengan erat.

Aku dapat merasakannya. Dia masih ada, aku bersyukur, oppa yang kucintai masih ada. Terima kasih, terima kasih, oppa, jangan pernah pergi, aku tidak mungkin hidup tanpamu. Aku mengeluarkan air mataku perlahan-lahan. Membayangkan oppa pergi untuk selamanya adalah hal yang paling mengerikan di dunia ini. Aku tidak mau itu terjadi. Tidak!

Dia melepaskan pelukannya dan melihatku, "Tenang saja, Hayi. Oppa, selalu berada di sini, jangan menangis. Bukankah adekku ini selalu ceria?"

"Iya, oppa, terima kasih," Aku berusaha menghentikan tangisanku saat ini. Aku harus tersenyum kepada, oppa, supaya dia tetap berada di sini.

Kemudian Chanyeol-oppa menjadi bercahaya, sangat terang dan menyala-nyala. Aku terkejut, bagaimana ini? Kenapa kelihatannya dia akan pergi selamanya dari dunia ini? Apa yang sedang terjadi sekarang? Seseorang jangan biarkan dia pergi dari hadapanku.

"Oppa! Oppa! Jangan pergi," Aku mulai menangis lagi, karena dia semakin lama menjadi transparan. Dan, aku menjadi semakin menangis lagi, ketika aku tidak bisa lagi menyentuhnya.

Chanyeol-oppa, hanya tersenyum, dan berusaha terlihat tertawa, "Haha, jangan khawatir, Hayi. Oppa, akan selalu bersamamu.. Jadi jangan menangis,"

"Apa yang selalu bersama, bodoh?! Oppa semakin menghilang! Bagaimana bisa kau bersama selamanya, huh?" Aku berteriak kepada dirinya yang masih terlihat bodoh. Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu? Aku takut, aku takut dia pergi dan meninggalkanku.

Dia semakin menghilang, "Hehehe, sepertinya oppa tidak pandai berpura-pura. Maafkan oppa, Hayi, Maafkan oppa. Hayi, harus tetap tersenyum, ok? Harus!"

"Jangan! Jangan pergi, oppa!" Aku terus menangis dan menangis, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku terus berusaha memegang bayangan Chanyeol-oppa yang semakin menghilang. Aku terus meneriakkan namanya.

Namun, dia kemudian menghilang begitu saja.

Hilang.

Apa? Oppa, kamu dimana?

Oppa, jangan tinggalkan aku

Chanyeol-oppa!

Meneriakkan namanya sudah sia-sia sekarang, sia-sia. Dia tidak ada lagi di hadapanku. Aku terus menangis. Berharap ini semua hanya mimpi dan aku terbangun dari semua ini. Aku ingin aku bangun dan melihat Chanyeol-oppa yang tersenyum kepadaku seperti biasanya.

Aku membuka mataku lagi.

Aku melihat suasana di sini sangat berbeda dengan kamarku. Kemudian aku melihat sekelilingku lagi, aku menyadari bahwa aku sekarang berada di rumah sakit. Aku sedang berbaring di rumah sakit saat ini. Namun, aku tidak melihat ada kehadiran seseorang di tempat ini. Aku berusaha bangkit dari tempat tidurku. Walau aku masih merasa sakit di seluruh badanku, aku berusaha berjalan. Dan, tanganku dalam keadaan diinfus. Jadi aku membawa gantungan infus bersamaku.

Aku berjalan keluar dari ruanganku. Aku melihat keadaan rumah sakit yang terlihat sepi saat ini. Namun, aku juga mendengar suara tangisan di suatu ruangan. Aku penasaran dan langsung berjalan menuju tempat itu. Aku juga melihat banyak sekali orang datang, terutama mereka semua memakai baju bewarna hitam. Siapa yang telah meninggal?

Aku semakin mendekat, dan satu persatu, aku mengenal setiap orang yang datang. Aku semakin merasa ketakutan dalam hatiku. Semoga yang menjadi dugaanku saat ini tidak akan terjadi. Aku takut, tapi aku tetap memberanikan diriku untuk mendekat. Sepertinya, aku harus menguatkan hatiku ketika masuk ke dalam.

Karena dari semua hal yang ada di dunia, hanya ini, hanya ini, yang tidak pernah ingin kulihat.

Aku melihat semua orang menangis dengan sangat keras. Dan aku yang masih dalam keadaan lemas, terus berjalan melihat siapa yang mereka tangisi. Dan aku melihat orang tuaku berada di sana. Aku berusaha mendekat lagi dan melihat..

Foto Chanyeol-oppa berada di sana. Fotonya yang tersenyum bahagia.

Kenapa?

Oppa, kamu kemana?!

Oppa, jawab aku!

Aku mulai meneteskan mataku. Aku tak dapat berkata-kata lagi. Kedua orang tuaku akhirnya menyadari keberadaanku. Mereka melihat aku yang masih kelihatan lemah dengan infus di tanganku. Aku terus berjalan mendekat ke sebuah peti mati.

"Oppa! Chanyeol-oppa!" Semua orang melihatku yang terus berteriak di depan peti mati.

Kedua orang tuaku berusaha memanggilku, "Hayi, hayi, kamu seharusnya istirahat," Aku dapat merasakan aura sedih dari kedua orang tuaku.

Tapi, aku tidak peduli, aku masih terus memeluk peti mati ini. Aku tidak percaya, tidak percaya.

TIDAAK!

"Oppa! Kamu seharusnya tertawa bersamaku sekarang, kita seharusnya berjalan-jalan lagi di tengah kota,"

"Oppa, katanya kamu akan selalu bersama denganku. Jangan berbohong kepadaku, oppa," Aku terus berteriak dan menangis di depan peti matinya.

Aku tau, aku tau dia tidak akan kembali.

Tapi, kenapa? Kenapa dia harus pergi begitu cepat?

Aku masih belum memberitahunya bahwa aku sangat sayang kepadanya.

Aku masih belum memberitahunya bahwa aku selalu berterima kasih kepadanya.

Aku masih belum memberitahunya bahwa aku bersyukur punya kakak sepertinya, bahwa aku sangat menjaga masa-masaku bersamanya.

"Oppa! Jangan pergi! Oppa!" Suara tangisanku terdengar di seluruh ruangan.

"Hayi, kamu harus istirahat, Hayi...," kedua orang tuaku terus memohon supaya aku berhenti menangis. Namun, aku tidak bisa, ayah, ibu, aku tidak bisa menerima kenyataan ini.

Dia pergi begitu saja.

"Kenapa? Huaaaa.. kenapa?"

Aku memeluk peti mati kakakku dengan sangat erat, walau masih ada tali infus berada di tanganku. Aku tetap berusaha memeluknya. Aku tidak ingin lepas darinya. Aku tidak peduli walau banyak orang melihatku yang seperti ini.

Aku, aku tidak ingin berpisah dengannya.

Kemudian, aku merasa sangat lelah, dan pingsan. Aku dapat melihat semua orang berusaha menangkapku. Sebelum aku menutup mataku, aku dapat melihat sekilas, Chanyeol-oppa, tersenyum kepadaku saat ini. Aku kemudian menutup mataku. Aku tertidur lagi karena aku sangat lelah.

Chanyeol-oppa, terima kasih atas segalanya.

Aku kembali bangun dari tidurku. Walau sebenarnya aku tidak ingin bangun, dan berharap semua ini adalah mimpi. Namun, aku tidak bisa, semua ini adalah kenyataan. Aku melihat ruanganku terlihat sepi. Sekarang, aku tidak berusaha untuk pergi, aku tetap di rumah sakit ini. Aku hanya ingin termenung di sini. Aku berusaha mengingat kembali. Aku bangkit dari tempat tidur dan melipatkan kakiku terhadap wajahku.

Sebelumnya, aku berada di pasar,berjalan-jalan bersama oppa. Dia memberikan aku bunga. Juga, dia ingin membelikan aku es krim. Kemudian aku menyadari lagi, ketika aku berusaha mengambil bunganya, kejadian itu terjadi. Ya, aku mengingatnya. Oppa, tertabrak truk ketika dia berusaha menyelamatkanku.

Aku..

Aku yang telah membunuhnya.

Karena aku dia tetabrak.

Kenapa aku yang selamat?

Aku yang telah membunuh, oppa.

AKU! AKU! Aku yang salah.

Akulah yang seharusnya mati.

Aku yang telah membunuhnya, semua ini adalah kesalahanku.

"Bukan kamu, Hayi,"

Hah, suara oppa?

Kenapa aku malah mendengar suaranya?

Apa aku berhalusinasi karena aku sangat sedih?

Oppa, aku, maafkan aku, aku yang salah

"Kamu tidak bersalah, Hayi, kamu tidak melakukan apa-apa,"

Kenapa aku terus mendengarnya?

Oppa, apa kamu masih ada dunia ini?

"Iya, aku masih ada di sini, Hayi,"

Sekali lagi, aku mendengar suara itu. Aku berusaha untuk tidak percaya. Berusaha untuk terus mendengar suara itu, sepertinya aku kembali bermimpi. Namun, itu tidak apa-apa, biarkan aku terus mendengarkan suaranya.

"Oppa, maafkan Hayi,"

"Kamu tidak perlu minta maaf , Hayi. Semua ini sudah menjadi telah menjadi takdirnya,"

"Tapi, oppa," Entah kenapa semakin lama, aku semakin merasakan bahwa suara ini sangat nyata. Kenapa? Kenapa rasanya dia ada di sini?

"Hayi, tidak apa-apa, oppa, akan terus bersamamu sekarang,"

Aku berusaha mengangkat wajahku dan melihat sekelilingku yang kelihatan sepi, "Ternyata aku hanya berhayal, oppa, mana mungkin ada di sini, dan tertawa seperti biasanya,"

"Tidak, kamu tidak berhayal, Hayi,"

Kemudian aku menoleh, dan melihat sesuatu yang seharusnya tidak bisa kulihat. Aku terkejut, luar biasa terkejut. Apa? Apa yang sedang terjadi sekarang di tempat ini?

A-aku..

A-aku tidak berhayal di siang hari kan? Aku tidak sedang minum obat kan? Aku tidak sedang bermimpi kan?

"O-oppa," Aku mengatakannya dengan terbata-bata ketika aku melihat oppa berada di sampingku. Terutama dia tersenyum dengan bahagianya. Senyuman yang selalu dia berikan kepadaku. Aku tidak bisa berkata-kata lagi, aku terus shock melihatnya.

Bahkan dia juga berbicara, "Hehehe, oppa sudah menepati janji untuk bersama denganmu. Sekarang, oppa berada di sini,"

Ya, yang dilakukan oleh orang yang melihat orang yang sudah mati pasti adalah berteriak.

Dan, aku berteriak dengan sangat keras, karena aku sangat ketakutan.

Sementara, oppa, masih tetap terlihat dengan senyuman bodohnya sambil mengatakan, "Sepertinya, aku terlalu terburu-buru untuk terlihat olehmu, hehehe,"