"Hayi, ada apa?" kata kedua orang tuaku yang tiba-tiba datang. Mereka mendengar teriakanku yang keras. Wajah mereka benar-benar terkejut, walau sebenarnya wajahku lebih terkejut dari mereka semua. Aku hanya bisa terdiam menatap seseorang yang berada di depanku, yaitu Chanyeol-oppa.

"M-mama, P-papa.. Chanyeol-oppa, d-dia, dia ada di sini," aku terus menunjuk bayangan itu. Wajahku benar-benar kelihatan sangat terkejut.

Sementara orang tuaku melihatku dengan pandangan bingung. Seakan-akan aku ini sudah gila. Seakan-akan aku ini terlalu sedih sampai menghayal hal yang tidak-tidak. Kedua orang tuaku semakin mendekat ke arahku. Mereka mulai menangis melihatku yang seperti ini. Tapi mama, papa, aku benar-benar melihatnya. Aku benar-benar melihat wajah bodohnya itu, aku melihatnya.

"Tenang, Hayi. *sobs* Tenang, semuanya akan baik-baik saja," kata ibu sambil memelukku. Dia terus menangis.

"Tapi ibu, dia ada di sini, dia ada di depan kita," kataku yang masih terpaku.

"Hayi! Jangan mengatakan hal seperti itu. Chanyeol, dia sudah pergi, pergi untuk selamanya," kata ibu. Bahkan aku juga melihat ayah yang tidak kuasa melihatku.

Ok, aku lelah, aku tidak akan mengatakannya lagi. Tak akan ada yang percaya kepadaku saat ini. Cuma aku yang bisa melihatnya saat ini, tapi kenapa? Bahkan sekarang dia terlihat senang bertemu dengan ayah dan ibu. Apa ini? Aku berusaha menyadarkan diriku sendiri. Aku melihat kedua orang tuaku lagi, memberikan senyuman yang terlihat lelah.

"Iya, ibu benar, aku.. mungkin, aku sedikit lelah," kataku.

Ibu kemudian melepaskan pelukannya dan melihatku, "Hayi, aku tau kita semua tidak sanggup menerima kenyataan ini. Tapi tetap saja, jangan membuat kami khawatir, kamu harus istirahat lagi sekarang,"

Kemudian mereka berdua pergi, masih terdengar suara tangisan ibu. Sepertinya dia benar-benar sangat sedih, terutama karena aku juga. Aku juga masih sedih dengan kepergiaan Chanyeol-oppa. Eh, tunggu dulu, Chanyeol-oppa? Aku melihat sekeliling lagi, memastikan lagi aku tidak bermimpi. Kali ini, aku berjanji untuk tidak berteriak. Dan, ya, aku tidak bermimpi. Aku melihat Chanyeol-oppa. Aku melihat dia yang dalam wujud arwah. Perlahan-lahan aku memberanikan diri untuk berbicara.

"B-benarkah kamu adalah Chanyeol-oppa?" kataku sambil menunjuknya.

"Iya, ini aku, Hayi. Walau aku masih dalam wujud arwah, hehehe," katanya.

Tunggu dulu, Hayi. Dia bisa berbicara saat ini. Tidak, itu tidak mungkin terjadi. Aku pasti sedang bermimpi. Aku mencubit pipiku, dan aku merasakan kesakitan dalam diriku. Namun, aku tetap tidak percaya. Kemudian aku turun dari tempat tidurku berusaha menjauh dari kenyataan ini. Aku berjalan-jalan dan berusaha menenangkan pikiranku.

"Tidak, ini pasti mimpi. Bagaimana orang yang sudah mati ada di sini? Bagaimana bisa arwahnya masih di sini? Tidak, ini tidak mungkin,"

Aku terus berjalan-jalan kesana kemari, sampai akhirnya Chanyeol-oppa tiba-tiba berada di depanku, membuatku benar-benar terkejut, "Ini nyata, Hayi. Oppa, ada di sini, walau aku tidak bisa menyentuhmu,"

"Hah? Bagaimana mungkin, oppa? Kamu, kamu seharusnya tidak ada di dunia ini," kataku sambil melihat dia.

"Tuhan mengijinkanku untuk bersama denganmu lebih lama lagi," kata Chanyeol-oppa sambil tersenyum.

"Bersama denganku?" kataku dengan terkejut.

"Iya, Hayi. Aku masih bisa bersamamu, aku masih bisa melihatmu setiap hari. Dan, kamu juga masih bisa terus melihatku," kata Chanyeol-oppa.

"Benarkah itu? Benarkah? Kamu tidak akan pergi ketika aku bangun di pagi hari. Kamu akan terus ada menyambutku seperti biasanya?" tanyaku lagi.

"Iya, Hayi. Iya, aku akan terus ada di sini, bersamamu," dia tersenyum dan senyumannya terasa sangat nyata.

Aku kemudian mulai menangis. Aku sangat bersyukur, aku masih bisa bersama dengannya. Aku senang, sangat senang. Terima kasih, Tuhan. Telah memberikan kesempatan ini kepadaku. Aku masih bisa mengatakan semuanya kepadanya. Aku masih bisa melihat senyum bodohnya. Aku masih bisa mendengar dia memanggilku seperti orang bodoh setiap hari. Semuanya masih bisa kulakukan bersama dengan dia.

Aku kemudian berjalan lagi ke tempat tidur. Aku masih bisa melihat dia yang datang mendekat. Aku tersenyum sedikit melihatnya.

"Oppa, janji, ok?" kataku yang mulai mengeluarkan air mata.

"Janji," Walau tak bisa menyetuhnya, dengan hanya melihatnya ada di sini dan tersenyum itu sudah cukup bagiku.

Terima kasih.

"Hayi, kamu yakin kamu bisa bersekolah?" tanya ibuku.

Aku memakai baju sekolahku. Baru saja kemaren aku pulang dari rumah sakit. Aku tidak ingin berlama-lama di tempat itu. Juga, aku harus terus melihat masa lalu dan tidak usah bersedih lagi. Hayi, hwaiting!

"Tidak apa-apa, ibu. Aku sudah sembuh," kata sambil tersenyum.

"Haa, jika memang kamu sudah sembuh, tak apa-apa bersekolah. Tapi tetap saja kamu harus menjaga dirimu baik-baik, ok?" kata ibu.

"Iya, ibu," aku kemudian berjalan menuju dapur dan menikmati sarapan. Dan di sampingku ada dia, Chanyeol-oppa. Dia tidak pernah berhenti berkata-kata sejak tadi pagi. Dia terus mengatakan sesuatu yang tidak penting.

"Waah, Hayi. Kamu cantik hari ini. Bagaimana kalau pakai pita juga?" katanya di sampingku.

Tentu saja aku tidak berusaha membalasnya, karena jika aku membalas kata-katanya, aku pasti terlihat berbicara sendiri seperti orang gila. Dia benar-benar seperto radio yang siap membacakan berita dari awal sampai akhir.

"Sarapan hari ini kelihatan enak, walau aku tidak bisa memakannya, hahaha," Dia kemudian terbang melayang-layang di udara. Betapa bahagianya dia menjadi seorang hantu. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku melihat kakakku sendiri. Dia terlihat luar biasa bahagia saat ini.

"Ibu, aku pergi dulu," kataku yang kemudian berjalan ke pintu depan. Memakai sepatuku, dan melihat Chanyeol-oppa yang sedang berdiri di depan kotak sepatu dengan bodohnya.

Dia mengatakan sesuatu lagi, "Siapa nanti yang akan memakai sepatuku?"

Seriously, oppa, begitu sempatnya kamu mengatakan hal seperti itu di pagi hari. Aku membalasnya dengan suara pelan, "Tidak ada seorangpun,"

"Ah, masa begitu, sih, Hayi," katanya.

Aku yang sudah berada di luar rumah membalasnya, "Karena sepatumu sangat besar, oppa,"

"Hayi, mungkin akan cocok memakainya, hehehe,"

"No way," Kemudian langkahku terhenti, karena aku melihat kedua teman oppa. Aku terkejut melihat mereka berdua berada di sini. Juga, mereka kelihatan sedih melihatku. Aku memberanikan diri untuk mendekat.

"Selamat pagi," kataku sambil menunduk kepada mereka berdua.

"Selamat pagi, Hayi," kata Baekhyun-oppa.

"Selamat pagi, Hayi. Bagaimana kabarmu?" tanya Sooyoung-unni.

"B-baik," kataku dengan nada terbata-bata.

Kemudian perlahan-lahan, wajah mereka mulai menjadi sedih. Namun, aku menjadi tidak bisa sedih karena Chanyeol-oppa berada di sini. Dia terus mengatakan sesuatu yang tidak penting.

"Sepertinya mereka sangat merindukanku, Hayi," Dia terus melanjutkannya, "Coba kamu liat wajah mereka berdua. Seandainya saja mereka bisa melihatku, pasti mereka akan sangat terkejut, ya kan, Hayi?"

Ya, benar sekali, mereka pasti akan terkejut. Terutama oppa dalam wujud hantu gentayangan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi mereka nanti, melihat Chanyeol-oppa yang berwujud hantu. Namun, sepertinya memang cuman aku yang bisa melihatnya.

"Jadi, Hayi, mulai hari ini aku dan Baekhyun akan berangkat ke sekolah bersamamu," kata Sooyoung-unni.

"Hah? Kenapa?" kataku bingung.

"Karena Chanyeol yang meminta kami, dia ingin kami melindungi adiknya yang dia sayangi," kata Baekhyun-oppa.

Kemudian dengan wajah terkejut aku mendengar kata-kata Chanyeol-oppa, "Ah, mereka benar-benar temanku yang paling baik. Seandainya aku bisa memeluk mereka,"

Dan ya, aku rasanya ingin melemparnya sepatu. Seriuously, apakah aku selalu menjadi anak umur 9 tahun bagimu, oppa? Haa, aku menyerah denganmu oppa.

"Jadi, Hayi, apa kamu mau berangkat bersama kami sekarang?" tanya Sooyoung-unni.

Well, ini bukanlah hal yang buruk. Pergi bersama kedua orang ganteng dan cantik ini, bukanlah hal buruk, melainkan hal yang menyenangkan.

"Baiklah,"

Kemudian aku berangkat bersama mereka berdua. Aku berusaha menjaga jarak sedikit dengan mereka, karena kau tau, mereka terlalu indah di mataku. Jadi aku membiarkan mereka berjalan lebih dulu di depanku. Aku berbicara dengan Chanyeol-oppa dengan suara pelan.

"Oppa," kataku sambil melihat Chanyeol-oppa yang sedang melayang-layang.

Dia langsung turun dan berjalan di sebelahku, "Ada apa, Hayi?"

"Oppa, punya teman yang sangat baik," kataku sambil melihat Baekhyun-oppa dan Sooyoung-unni yang sedang mengobrol dengan bahagianya.

"Hehehe, tentu saja, Hayi. Mereka adalah teman yang terbaik," kata Chanyeol-oppa.

"Tapi bagaimana mereka mau berteman denganmu yang sangat ribut ini?" kata sambil melihatnya.

"Bukankah karena oppa ini ganteng, Hayi?" katanya sambil sok keren di depanku.

Fiuuh, untung saja dia hantu, aku jadi tidak perlu repot-repot melempar wajahnya itu. Mau dalam wujud apapun dia tidak pernah berubah. Dia akan selalu menjadi Chanyeol-oppa yang sangat berisik.

Sesampainya aku di sekolah, aku melihat suasana sekolah terlihat sedih. Mereka pasti sangat sedih, terutama karena murid mereka yang paling hebat pergi untuk selamanya. Aku tau itu, aku juga sangat sedih.

"Hayi~~! Ayo pergi kelas, oppa, pengen liat kamu belajar, hehehe,"

Gak jadi, aku tidak terlalu sedih. Dia masih ada bersamaku saat ini. Aku tidak perlu bersedih. Ketika aku berjalan ke kelas, semua orang melihatku dengan wajah yang penuh simpatik. Kemudian, Minzy langsung datang dan memelukku.

"Hayi," kata Minzy sambil memelukku.

"Minzy, selamat pagi," kataku yang tersenyum.

Dia melepaskan pelukannya dan melihatku, "Pagi Hayi,"

Aku sangat mengerti maksud Minzy. Dia ingin aku tetap ceria. Tentu saja aku tetap ceria Minzy, aku bisa menghadapi semua ini. Karena Chanyeol-oppa ada di sini sekarang.

"Aww, Oppa juga ingin memeluk Hayi," Chanyeol-oppa kemudian berjalan mendekat melebarkan lengannya. Dan aku langsung mengelak dengan cepat. Aku tidak ingin di peluk olehnya. Walau dia juga tidak bisa kupeluk, karena wajahnya saat ini benar-benar jelek. Bahkan kamu akan mengurungkan niatmu untuk memeluknya.

"Apa aja yang sudah tertinggal selama beberapa hari ini, Minzy?" tanyaku yang berjalan ke tempat dudukku.

"Hmm, tidak terlalu banyak, kamu pasti masih bisa mengejarnya," katanya dengan tersenyum.

"Oh, ok," kataku yang kemudian mengeluarkan bukuku. Aku juga dapat melihat Chanyeol-oppa yang sedang melayang-layang di sekitarku.

Dia terus berkata-kata, "Jadi, Hayi duduk di sini ya. Ah, pasti menyenangkan bisa sekelas dengan Hayi," kemudian dia meletakkan wajahnya di atas meja sambil tersenyum. Ini senyum yang paling normal yang pernah aku lihat. Namun, tetap saja aku ingin melemparkannya bukuku.

Tiba-tiba Minzy mengatakan sesuatu dengan perlahan-lahan, "Hayi-ah,"

"Hmm," aku membuka bukuku.

"Kamu memang kuat, ya," kata Minzy dengan suara yang sangat pelan.

"Terima kasih, Minzy," kataku yang kemudian melihat ke arah Minzy.

"Hah? Kenapa?" kata Minzy dengan kaget.

"Karena sudah mengawatirkanku,"

"Itulah gunanya teman, Hayi," kata Minzy sambil tersenyum.

"Hahaha," aku membalasnya dengan tawa. Kemudian seluruh kelas mendengar tawa kami, mereka secara bersama-sama mendekat. Mereka menunjukkan wajah yang penuh simpati kepadaku. Aku sedikit terkejut melihat mereka. Salah satu dari mereka mendekat.

"Hayi, kami sudah mendengar tentang kakakmu,"

"Iya, Hayi tetap semangat, ya. Jangan terus bersedih,"

Aku bersyukur mereka mengatakan itu kepadaku, aku membalas mereka, "Terima kasih. Aku memang masih sedih tentang kepergian Chanyeol-oppa, tapi aku tetap percaya dia ada selalu menjagaku dari sana,"

"Tentu saja, Hayi. Dia pasti akan selalu menjagamu,"

Aku berusaha untuk terlihat cool di hadapan mereka semua. Aku berusaha terlihat seperti orang keren. Namun, semua itu langsung hancur ketika aku melihat Chanyeol-oppa, yang menangis dengan bodohnya. Juga, kamu tau, dia sampai mengeluarkan ingusnya. Oh Tuhan, Chanyeol-oppa kamu tidak perlu berlebihan begitu.

"Huaa, Hayi," Dia mendekat. Ya, aku harus menjauh karena dia kelihatan sangat lucu saat ini. Ok, aku berusaha untuk tidak tertawa. Jadi aku langsung menutupi wajahku terhadap meja. Supaya tidak ada yang melihatku ingin tertawa.

Dan, pastinya mereka semua menjadi salah paham. Mereka mengira aku sedang menangis saat ini. Tapi tidak, aku tidak menangis, aku sedang berusaha untuk tidak tertawa.

Haa.. apakah hari-hari seperti ini akan terus berlangsung?

Aku berharap aku akan menemukan orang yang cocok untuk menceritakan tentang Chanyeol-oppa yang masih ada di dunia ini.

Sekolah berakhir, semua murid berjalan pulang ke rumah mereka masing-masing. Dan, aku berjalan menuju ke depan sekolah. Aku melambaikan tangan kepada Minzy yang berjalan pulang. Sementara aku menunggu, seseorang untuk pergi bersamaku. Juga di sini aku menunggu sendiri, tapi tetap bersama Chanyeol-oppa.

"Oppa,"

"Iya?"

"Padahal, baru saja kemaren kita pulang berdua bersama," Aku mengatakannya sambil melihat suasana sekolahku. Orang-orang mulai pergi satu persatu, dan oppa berada di sebelahku. Dia tidak membalasku.

Aku terus melanjutkannya, "Kenapa semua berlalu begitu saja. Aku masih ingin pergi ke sekolah bersama, oppa," kataku.

Dia kemudian membalasnya, "Kau benar, tapi aku masih bisa di sini, bersamamu, itu adalah hal yang paling membahagiakanku Hayi,"

"Ya, tetap saja, oppa, masih menyebalkan seperti biasanya," kataku sambil melihatnya dengan wajah kesal.

Dia hanya tertawa, "Hehehe, karena oppa sangat sayang kepada, Hayi,"

Aku juga, oppa. Aku juga sangat sayang kepada oppa. Tidak pernah ingin berpisah.

Kemudian dari kejauhan seseorang memanggil, "Hayi, maaf menunggu. Ayo pulang,"

"Ayo," aku melihat orang tersebut dengan tersenyum.

Sepertinya hari ini aku tidak sendirian. Aku pulang bersama seseorang untuk saat ini. Bersama dengan teman yang dia kasihi.

"Apa kamu sudah lama menunggu, Hayi?" tanya Sooyoung-unni.

"Tidak, aku baru saja datang," kataku sambil tersenyum.

"Tadi kamu berbicara dengan siapa? Kamu tadi terlihat tertawa," kata Baekhyun-oppa yang berada di sampingku.

"Hehehe, tidak ada, aku hanya berbicara kepada angin, untuk menyampaikan salamku kepadanya," kataku sambil tersenyum.

Aku tidak tahu bahwa kata-kata ini membuat mereka sedikit sedih. Namun, aku tidak bisa jujur kepada mereka, karena aku berbicara dengan Chanyeol-oppa. Cerita ini, akankah bisa kukatakan di kemudian hari. Hari ini saja, biarkan aku menikmati hari.

"Oh ya, kamu masih ingat ketika Chanyeol mendaftarkanmu menjadi anggota OSIS?" tanya Sooyoung.

"Tentu saja ingat, kenapa unni?" tanyaku.

"Kami mungkin akan mengadakan pemilihan lagi dalam beberapa hari ini," kata Sooyoung.

"Bagaimana menurutmu, Hayi?" tanya Baekhyun-oppa.

Ketika aku mendengar kata-kata mereka. Aku langsung memberhentikan langkahku, membiarkan mereka berjalan duluan. Namun, mereka juga ikut berhenti dan melihatku. Aku langsung membalikkan badanku. Aku langsung melihat Chanyeol-oppa dengan tatapan tajam.

Dengan suara pelan aku berbicara dengannya, "Oppa! Kamu membawaku kedalam masalah yang kamu buat sendiri,"

"Loh, bukannya sudah jelas, kalau kamu akan menjadi anggota OSIS?" kata Chanyeol-oppa.

"Tapi, oppa! Bagaimana bisa, huh? Aku, aku tidak punya pengalaman sama sekali!" kataku yang berusaha pelan.

Kemudian mereka menyadari ada yang aneh, dan langsung memanggilku, "Hayi, ada apa?"

Aku terkejut dan menoleh, "Eh, tidak ada," kemudian aku berbalik lagi melihat Chanyeol-oppa.

"Oppa pasti bisa membantumu, Hayi. Jadi, tidak ada salahnya untuk mengikutinya, Hayi," kata Chanyeol-oppa dengan wajah malaikatnya.

Kemudian mereka semakin mendekat dan bertanya, "Jadi, Hayi, apa kamu mau mengikutinya?"

Sebelum menoleh aku menarik napasku sesaat, "Ingat, Oppa, yang harus bertanggung jawab atas ini," kemudian aku menoleh kepada mereka.

"A-aku mau menjadi anggota OSIS,"

Dan mereka melihatku dengan wajah yang sangat senang. Begitu juga Chanyeol-oppa.

Jeez, masalahku bertambah lagi.