"Ok semua, dia adalah calon anggota baru kita, namanya, Hayi," kata Baekhyun-oppa, kemudian dia melanjutkan dengan mengenalkan calon anggota yang lain.

Ya, sekarang aku berada di ruang OSIS. Di ruangan yang tidak pernah ingin kudatangi seumur hidupku. Dan aku di sini sekarang karena dia, Chanyeol-oppa. Dia adalah kakakku yang sudah meninggal, kemudian dia kembali dalam wujud hantu. Dia juga menghantui hidupku, walau sebenarnya dia tidak banyak mengganggu.

Sekarang aku bersama anggota baru yang lain akan melakukan test pemilihan menjadi anggota OSIS. Mereka semua kelihatan sangat bersemangat mengikutinya, tidak sepertiku yang tidak mempunyai semangat sama sekali. Sepertinya yang paling semangat sekarang adalah orang di sebelahku saat ini, Chanyeol-oppa. Begitu bodohnya dia sekarang.

"Uhuuy~~! Hayi, akhirnya mengikuti pelatihan calon anggota OSIS. Betapa, oppa, sangat menantikan masa-masa ini," Dia kemudian terbang kesana-kemar layaknya orang bodoh. Kenapa cuman aku yang bisa melihat orang ribut ini? Dia benar-benar kelihatan luar biasa bahagia sekarang. Sayang sekali aku tidak berani membalas kata-katanya, karena jika aku berbicara tanpa ada orang yang kuajak bicara sama sekali, aku pasti akan terlihat seperti orang gila. Dan aku tidak mau hal itu terjadi.

"Jadi, kalian semua di sini akan melakukan pelatihan sebelum menjadi anggota OSIS resmi. Dari antara kalian semua kami akan memilih siapa yang layak menjadi anggota. Jadi kalian harus siap!" kata Baekhyun-oppa.

Semua orang kelihatan sangat kagum melihat Baekhyun-oppa, tapi aku tidak sama sekali. Lebih parahnya lagi, kebanyakan perempuan yang mencalonkan diri menjadi anggota OSIS. Sepertinya tujuan mereka untuk menggaet orang-orang di OSIS, karena kalian tau, kebanyakan orang ganteng dan cantik di OSIS. Kenapa tempat Chanyeol-oppa berada selalu penuh dengan sinar? Aku seperti kegelapan di sisi lain.

Ya, inilah yang ditunggu-tunggu oleh para calon anggota di tempat ini, perkenalan diri dari para anggota OSIS, "Baiklah, sekarang saya akan memperkenalkan para anggota OSIS untuk tahun ini,"

Dengan itu juga, Chanyeol-oppa ikut mengenalkan mereka padaku.

"Pertama saya, Suho-sunbae, dia adalah ketua OSIS kami, dia adalah murid kelas 3 SMA," kata Baekhyun-oppa sambil menunjuk seseorang yang berada tidak jauh darinya.

Dengan cepat, semua cewek pada berteriak ketika melihat dirinya, aku terkejut dengan hal ini. Aku melihat Chanyeol-oppa yang berada di sebelahku, dia menunjukkan wajah yang aneh. tapi, bukankah wajahnya selalu aneh?

Dengan suara kecil aku mengatakan sesuatu kepadanya, "Ada apa, oppa?"

"Dia adalah sainganku," kata Chanyeol-oppa.

Aku terkejut mendengar kata-katanya. Kakakku yang selalu kelihatan sempurna ini ternyata mempunyai rival. Namun, wajahnya tidak terlihat kalah, dia malah kelihatan sangat bangga. Seakan-akan dia kali ini menang.

"Eh, saingan?" kataku yang kelihatannya tidak percaya.

"Iya,dia juga terkenal di sini, tapi tetap saja, Hayi, oppa tidak pernah terkalahkan. Bahkan dia juga masih kalah denganku saat ini," kata Chanyeol-oppa dengan bangganya.

"Seriuosly, oppa?" kataku.

"Tapi aku ingin mengingatkanmu satu hal tentang dia, Hayi," kata Chanyeol-oppa dengan nada serius.

"Apa?"

"Bagiku dia adalah orang yang sangat misterius," kata Chanyeol-oppa.

"Huh? Bagaimana bisa?" tanyaku dengan tidak yakin.

"Dia selalu melakukan sesuatu yang tidak bisa aku duga, jadi kamu harus berhati-hati," kata Chanyeol-oppa.

"Tentu saja, aku ini adek, oppa," kataku dengan senyuman yakin.

Kemudian Baekhyun-oppa melanjutkan pengenalannya lagi, "Seperti yang kalian tau, wakil ketua kita adalah Chanyeol, walau dia sudah meninggal beberapa hari yang lalu. Oh ya, adiknya, Park Hayi, akan ikut OSIS juga," Dia kemudian menunjukku. Aku merasakan hal yang tidak enak, karena semua mata tertuju kepadaku. Selalu, jika orang tau bahwa aku adalah adeknya Chanyeol-oppa, mereka pasti akan langsung membandingkanku. Namun, aku sekarang sudah cukup terbiasa dengan hal itu, jadi aku tidak terlalu memikirkannya.

Pengenalan kemudian dilanjutkan lagi. Terdapat berbagai macam orang di OSIS, dan oppa juga ikut mengenalkan mereka kepadaku ketika Baekhyun-oppa mengenalkan setiap orang. Aku senang dia berada di sini bersamaku, membantuku berjuang. Walau sebenarnya dia yang pertama membawaku ke dalam permasalahan ini.

"Ok, pelatihannya akan diadakan selama dua hari, pada hari sabtu dan minggu. Juga, kita akan mengadakan acara menginap di sekolah. Jadi persiapkan diri kalian masing-masing," kata Baekhyun-oppa.

"Baik,"

"Hah, banyak sekali sih penjelasannya, aku sangat lelah," kataku sambil membaringkan tubuhku di atas tempat tidur.

"Tapi, tetap saja, oppa senang kamu menjadi anggota, OSIS," kata Chanyeol-oppa sambil terbang di sekelilingku.

"Ah, kamu yang membawaku ke dalam masalah ini, oppa," aku langsung duduk dan melihatnya dengan pandangan mematikan.

Dia kemudian turun dan duduk di depanku, "Aku pasti akan membantumu, Hayi. Tenang saja, aku sangat berpengalaman soal ini,"

"Huh, tetap saja," kataku sambil membuang muka.

Aku kemudian berdiri dari tempat tidurku dan berjalan menuju lemari, dan dia mengikuti sambil mengatakan sesuatu, "Kamu mau ngapain, Hayi?"

"Tentu saja, mempersiakan barang-barang, oppa," aku membuka lemari pakaianku dan menundukkan badanku, mencari koperku. Aku menariknya keluar dari lemari dan kemudian membawanya ke atas tempat tidur. Aku langsung terdiam melihat koperku sendiri, "Ah, apa yang harus kubawa, huh?"

"Banyak," kata Chanyeol-oppa sambil tersenyum dengan senyuman bodohnya.

"Karena oppa sudah menarikku dalam permasalahan ini, aku ingin oppa membantuku," kataku sambil melipatkan tanganku dan melihatnya.

"Membantu Hayi? Tentu saja aku akan melakukannya. Ok, mari kita mulai," kata Chanyeol-oppa dengan semangat.

Aku kemudian menghela napasku sesaat, "Ok,"

"Tunggu, oppa!"

Hari ini adalah hari yang paling tidak aku tunggu di dunia ini. Karena aku harus menjalani pelatihan bodoh ini di sekolah. Rasanya aku akan menjalani semiggu penuh di sekolah. Dan sekarang aku sedang berangkat ke sekolah dengan koperku yang lumayan berat. Juga dia, dia hanya terbang melayang-layang seperti orang bodoh. Aku sekarang membawa koperku yang berat seorang sendiri. Betapa hidup ini tidak menyenangkan.

"Ayo cepat, Hayi. Kamu harus datang tepat waktu ke pelatihan ini," dia terbang melayang-layang di sampingku.

"Oppa, apa kamu tidak melihat koperku ini, huh? Bagaimana bisa aku berjalan lebih cepat, huh? Seharusnya kamu bisa melakukan sesuatu dengan semua ini," kataku yang terus berjuang membawanya.

Tentu saja koperku mempunyai roda, tapi jalanan yang kami lewati tidak semulus yang kami kira. Jadi, terkadang aku harus mengangkatnya supaya tidak rusak. Sungguh hal yang tidak menguntungkan untuk menjadi anggota OSIS. Bahkan aku harus mengalami hal-hal seperti ini.

Berat, berat, itulah yang kurasakan sekarang. Entah sudah berapa lama perjalanan yang sudah ketempuh. Sepertinya perjalanan menuju sekolahku lebih lama dari biasanya. Semakin lama, aku akhirnya bisa melihat sekolahku. Sepertinya, aku sudah semakin dekat. Fiuuh, akhirnya, ah, bahkan dia juga sudah sampai di sekolah lebih dulu daripadaku. Dan dia melambaikan tangannya dengan penuh kebahagiaan kepadaku. Jeez, cerita apalagi yang akan dia katakan kepadaku.

Ketika aku berjalan menuju pintu gerbang, aku dapat melihat Baekhyun-oppa dan Sooyoung-unni yang berada di sana. Mereka melambaikan tangan padaku. Jika dilihat ketiga sahabat itu berada di depan pintu sekolah. Seandainya ada yang bisa mengabadikan gambar ini. Aku kemudian berjalan perlahan-lahan, terutama karena koper yang kubawa masih terasa berat. Ketika aku hendak sampai seseorang menabrakku dan membuatku terjatuh.

Aku terkejut dan langsung menoleh ke arah orang yang menabrakku, aku melihatnya. Namun, dia langsung pergi begitu saja dengan cepat. Juga aku dapat melihat sekilas gerakan mulutnya. Sepertinya dia mengatakan bitch. Kenapa?

Aku terdiam di depan tempat aku jatuh. Aku terpaku melihat orang yang mendorongku itu. Juga dia sepertinya bersama teman-temannya yang lain. Sebuah senyuman mengerikan tertinggal di wajahnya. Aku bertanya-tanya dalam hatiku. Ada apa ini? Sebelum aku jatuh, aku juga melihat wajah Chanyeol-oppa yang terlihat penuh dengan ketakutan. Seakan-akan aku akan mati.

"Huaaaaaaaaaaa," Chanyeol-oppa menangis tepat di sampingku dengan sangat keras dan luar biasa ribut.

Dia tidak berhenti menangis sejak aku terjatuh. Padahal aku yang sedang terjatuh, tapi kenapa malah dia yang menangis, huh? Aku juga tidak merasakan sakit sama sekali. Entah kenapa aku menjadi merasakan sakit ini ketika melihat dia menangis.

"Udah, oppa, aku baik-baik saja," kataku sambil melihatnya.

"Abis, hiks, abisnya, kamu terluka, oppa jadi sedih. Oppa tidak ingin sesuatu terjadi kepadamu, Hayi," kenapa hantu ini bisa menangis, huh? bahkan dia mengeluarkan ingus seperti orang bodoh. Aku jadi ingin tertawa melihat dia.

"Oppa, pabo," kataku yang mulai tertawa.

Tiba-tiba seseorang datang ke ruang UKS, "Loh, ada apa ini? Sepertinya, Hayi terlihat senang," aku terkejut karena melihat Baekhyun-oppa yang tiba-tiba datang.

Glek, gawat, apa aku jadi terlihat masokis yang senang dirinya terluka? Aku harus mencari hal lain supaya tidak terlihat bodoh. Eh, apa ya? Apa?

"Karena perbannya imut," Itu bukan alasan yang bagus, Hayi. Ah, so stupid.

Entah kenapa, dia mulai tertawa mendengar kata-kataku, "Hahaha, ada-ada saja kamu,"

"Hehehe," aku menjadi sedikit malu karena Baekhyun-oppa. Suara tawanya terdengar indah di telingaku.

Dia kemudian datang mendekat ke arahku dan bertanya, "Jadi lukamu tidak apa-apa, Hayi?"

"Eh, tidak apa-apa. Aku hanya terjatuh, jadi tidak perlu khawatir," kataku dengan wajah yang sangat yakin.

Sementara itu Chanyeol-oppa yang berada di sebelahku mengatakan, "Mana ada hanya terjatuh, tadi kamu hampir terluka parah, Hayi, huaaa,"

"Sudah, oppa, cukup," kataku yang tanpa sadar membalasnya.

Aku dalam masalah, bagaimana bisa aku membalasnya ketika ada Baekhyun-oppa di sini? Gawat! Dia langsung menoleh, "Ada apa, Hayi?"

Aku langsung melihatnya dengan wajah panik, "Eh, tidak apa-apa,"

"Oh, ok, aku akan pergi ke ruang OSIS dulu. Jangan lupa ngumpul di aula dalam 1 jam," kata Baekhyun-oppa yang kemudian keluar dari ruangan.

Setelah dia pergi aku langsung menghela napas yang panjang. Hampir saja hal yang sangat fatal terjadi. Aku langsung menoleh ke arah Chanyeol-oppa, memberikan tatapan mematikan kepadanya, "Oppa! Tadi hampir saja!"

"Sudahlah, Hayi, lagipula dia tidak bisa melihatku, jadi untuk apa kamu takut seperti itu?" Sekarang dia sudah tidak menangis lagi. Begitu cepatnya mood-nya berubah.

"Tapi tetap saja, dia pasti akan curiga, oppa! Pokoknya, jangan pernah mengajakku berbicara ketika kita tidak hanya berdua, mengerti?!" kataku sambil memberikan tatapan mematikan kepadanya.

"Tapi.. tapi.. Hayi," dia berusaha memelas kepadaku. Maaf, oppa, semua itu tidak akan mempan bagi diriku saat ini.

"Atau aku akan cuekin kamu seharian penuh!" kataku dengan nada kesal.

Dalam sekejap dia langsung menjadi pucat, dia benar-benar tidak ingin aku cuekin sepertinya, "Ah, jangan, jangan begitu, Hayi,"

"Hmm, makanya janji untuk tidak mengajakku ngobrol ketika kita tidak hanya berdua," kataku sambil melihatnya.

"Aaah, baiklah," kata Chanyeol-oppa yang terlihat kecewa.

Kemudian aku membawa koperku lagi yang terletak di sebelah tempat tidur. Aku membawanya keluar dari ruangan. Bersama dengan Chanyeol-oppa aku pergi menuju ruanganku. Sepertinya kami akan tinggal di kelas, karena setiap nama sudah tertera di sana. Aku berharap aku bisa menghadapi semua ini, karena sepertinya banyak yang melihatku dengan mata yang mengerikan ketika aku pergi ke UKS bersama Baekhyun-oppa dan Sooyoung-unni.

"Oppa, apakah kamu melihat orang yang mendorongku sebelumnya?" tanyaku kepada Chanyeol-oppa yang berada di sebelahku.

"Iya, tapi aku hanya melihatnya sekilas," katanya.

"Kira-kira, oppa, tau mereka?" tanyaku lagi.

"Tidak, Hayi, karena kau tidak begitu ingat wajahnya," katanya yang kelihatan sedih.

"Oh, begitu, aku akan mencari tahunya nanti," kataku sambil berjalan lagi, sepertinya aku semakin dekat dengan ruanganku.

"Tapi, Hayi harus hati-hati," kata Chanyeol-oppa.

"Tentu saja, karena aku adek, oppa," kemudian aku berhenti di depan kelas, dimana namaku tertera di sana. Aku membaca nama itu satu persatu, sepertinya aku akan tinggal dengan enam orang di sini. Sudahlah, sekarang saatnya aku masuk, aku sudah cukup lelah membawa koperku yang sangat berat ini.

Aku masuk ke dalam ruangan itu, "Permisi," dan tidak ada yang membalasnya. Semua mata memandangku dengan sangat mengerikan. Ada apa ini? Aku merasa sedikit takut. Mereka semua melihatku dengan wajah yang tidak senang. Juga, mereka semakin mendekat ke arahku ketika aku meletakkan koperku di pojok ruangan.

"Ada apa dengan mereka, huh? Mereka sepertinya punya maksud jahat," kata Chanyeol-oppa.

Sepertinya memang benar, tapi aku tidak melakukan apa-apa. Jadi, aku memberanikan diriku untuk tidak melihat ke arah mereka. Namun, mereka malah semakin mendekat. Yap, caci maki akan dikeluarkan dari mulut mereka sekarang.

"Oh, jadi ini adek, Chanyeol-oppa," kata salah satu gadis. Aku tidak bisa melihat mereka saat ini, karena aku sedang membelakangi mereka.

"Yaa! Liat ke sini, bitch!" kata salah satu cewek lagi.

Aku tetap tidak mempedulikannya, tapi Chanyeol-oppa malah ribut di sebelahku, "Apa yang kamu katakan kepada adikku, huh?! Syuuh, syuuh! Adikku masih lebih baik dari kalian,"

Ya, aku senang kamu mengatakannya, oppa. Namun, kamu tidak terlihat oleh orang-orang ini, jadi percuma saja. Sepertinya aku harus membalikkan badanku walau aku masih takut-takut untuk melihat mereka. Jadi aku hanya bisa melihat 5 orang yang mengerumuniku dengan tangan mereka di kepal. Mereka memulai ocehan mereka.

"Kamu jangan sok! Mentang-mentang kakakmu adalah mantan anggota OSIS, bukan berarti kamu bisa dengan mudahnya menjadi OSIS,"

Apa? Aku juga tau hal itu. Jika, aku ingin masuk karena kakakku yang seperti itu, aku pasti langsung menjadi anggota tanpa pelatihan ini. Aku tidak terima dia mengatakan hal itu tentangku dan juga kakakku, "Tidak,"

"Huh? Jadi, kamu mau melawan, huh? Kamu juga menggoda Baekhyun-oppa, supaya bisa masuk anggota OSIS. Dasar bitch!"

"Hey! Kamu yang bicth duluan, huh? Hayi tidak pernah melakukan hal seperti! Adikku ini selalu berjuang melakukan segalanya," kata Chanyeol-oppa di depan mereka semua.

Walau dia juga tidak terlihat oleh mereka, aku merasa sangat senang dia ada di sini, aku mendapatkan sedikit keberanian, "Tapi aku tidak pernah melakukannya,"

Dan mereka sepertinya tidak menerima kata-kataku, jadi tangan mereka-pun melayang ke arah wajahku. Sepertinya mereka berusaha menamparku saat ini, tapi aku juga tidak bisa mengelak karena mereka sangat banyak. Mungkin, satu tamparan aku cukup menyadarkanku. Bahkan Chanyeol-oppa berusaha berdiri di depanku untuk melindungiku, tapi percuma saja, kamu kan tembus pandang.

"Jangan melukai adekku!"

Aneh, kenapa aku tidak merasakan sakit? Kemudian aku membuka mataku dan melihat seseorang menahannya untuk menamparku. Dia memegang tangan cewek itu sambil memberikan tatapan mengerikan.

"Kenapa kalian harus ribut ketika aku butuh ketenangan, huh?"

Mungkin ada satu kata yang cocok dengan dia. Keren!


Dari Author ~

Hai semua, gak terasa udah chapter keempat nih, karena hari ini, hari minggu, jadi aku bisa update double chapter~
Tapi, kok perasaan gak banyak yang review, padahal aku liat ada yang view ;A;/
Siapapun kalian terima kasih udah baca dan review...