Ok, sekarang keadaanku benar-benar sangat mengerikan. Beberapa cewek berusaha untuk memojokkanku, tapi kemudian seseorang berusaha menyelamatkanku. Juga, orang ini sangat keren bahkan dia kelihatan tinggi dan cantik. Dia cocok untuk menjadi teman kakakku, karena dia juga mempunyai sinar seperti mereka.
"Apa maumu, huh?" kata seorang cewek dengan muka kesal.
"Tidak bisakah, kalian tenang?" kata cewek itu yang kemudian melepaskan tangannya.
Kemudian salah satu anggota dari para cewek itu kelihatan ketakutan, mereka langsung menarik teman mereka, dan membisikkan seseuatu, "Kita lebih baik tidak berurusan dengan dia, karena dia adalah Jiyoung, murid yang hebat soal kendo. Lebih baik kita urungkan niat kita,"
Aku dapat mendengarnya dengan jelas, terutama Chanyeol-oppa juga mendengarnya, dia juga mengatakan kepadaku dengan mata yang bersinar, "Wow, keren! Dia jago kendo, Hayi! Kamu sangat beruntung bisa di tolong oleh orang seperti dia,"
Ya, sempat sekali Chanyeol-oppa mengatakan hal seperti di situasi seperti ini. Namun, yang dia katakan tidak salah, aku juga memang beruntung. Sepertinya, nasibku selalu dikelilingi oleh orang-orang yang selalu bersinar. Apa mungkin karena aku ini adik Chanyeol-oppa? Haa, tidak mungkin.
Kemudian, para cewek itu satu persatu menjauh dari dia, dan mereka melihatku dengan pandangan mengerikan. Aku tidak bisa mengerti kenapa mereka melakukan itu semua. Aku tidak melakukan apa-apa. Apa salah aku menjadi adiknya? Kenapa semua harus karena dia? Aku teringat kembali masa-masaku di SMP, mereka juga sering mempersalahkanku karena aku ini adiknya. Namun, Chanyeol-oppa selalu membantuku dan membelaku. Walau semua hal itu terjadi, aku tidak pernah membenci Chanyeol-oppa.
Jiyoung, dia adalah orang yang menyelamatkanku. Dia melihatku dengan pandangan yang dingin, kemudian dia bertanya, "Apakah kamu tidak apa-apa?"
Dengan perasaan sedikit takut aku mengatakan, "Tidak apa-apa, terima kasih,"
"Sudahlah, aku hanya ingin ketenangan di tempat ini, jadi tidak perlu terlalu memikirkannya," katanya yang kemudian berjalan menjauh.
Tentu saja aku langsung mengikutinya, dia yang telah menyelamatkanku. Aku sangat berterima kasih kepadanya, "Tapi tetap saja, terima kasih. Eh, aku Hayi,"
Dia menoleh dan melihatku, "Aku sudah tau, semua orang sudah mengenalmu, terutama karena kamu adiknya Chanyeol,"
Hah? Jadi, sudah banyak orang yang tau aku ini adiknya Chanyeol-oppa, tapi kenapa?
"Kamu seharusnya bangga menjadi adikku, Hayi," kata Chanyeol-oppa dengan senyum bodohnya.
Bagaimana dia dengan mudahnya mengatakan hal seperti itu, malah karena kamu aku kena masalah ini, oppa. Dia malah sangat girang karena aku sekarang sepertinya dikenal oleh setiap orang. Hal seperti itu benar-benar merepotkanku nantinya. Aku tidak pernah ingin menjadi bahan pembicaraan orang-orang.
"Dan, namamu?" tanyaku kepadanya.
"Oh, Aku Jiyoung, aku juga satu angkatan dengan kamu," kata Jiyoung yang berjalan menuju tempatnya.
Aku mengikutinya, "Eh, jadi, Jiyoung, senang bertemu denganmu,"
"Hmm," dia hanya duduk di tempatnya, dan membuka bukunya.
Aku tidak dapat berkata-kata lagi. Eh, jadi sekarang situasinya terlihat canggung. Namun, karena dia adalah penyelamatku setidaknya aku harus memberikan rasa terima kasihku kepadanya. Jadi, aku memutuskan untuk duduk di sebelahnya saat ini, walau tak ada bahan pembicaraan untuk dibicarakan. Namun, Chanyeol-oppa sekarang berada di sebelahku sedang mengatakan sesuatu. Mungkin aku bisa mengobrol dengannya sedikit tanpa terdengar oleh Jiyoung.
"Psst, oppa, aku tidak tau mau mengatakan apa-apa lagi," kataku dengan nada berbisik, karena sekarang Jiyoung tidak terlalu dekat denganku.
"Kenapa tidak bertanya tentang alasan dia di sini aja? Aku juga penasaran dengan dia," kata Chanyeol-oppa yang kemudian terbang ke depan Jiyoung yang sedang membaca buku.
Aku memberanikan diriku untuk mendekat ke arahnya, karena aku juga ingin mengobrol dengan dia, "Eh, permisi, bolehkan aku bertanya sesuatu?"
"Hmm, boleh," kata Jiyoung yang masih membaca bukunya sendiri.
"Err, kenapa kamu ikut pelatihan ini?" tanyaku dengan sedikit ragu.
"Mungkin alasannya sama denganmu. Aku juga ingin menjadi anggota OSIS," kata Jiyoung.
"Oh, begitu,"
"Dan kamu, kenapa kamu ingin ikut? Hmm, biar kutebak, pasti karena kakakmu memintamu?" kata Jiyoung yang kemudian menutup bukanya.
Aku terkejut dengan kata-katanya, dia melihatku dengan wajah yang sangat serius. Membuatku menelan ludahku sesaat, "Eh, bagaimana kamu tau?"
"Itu terlihat, kamu bukan tipe anak yang ingin melakukan hal seperti ini," katanya dengan nada dingin.
"Tapi-,"
"Jika kamu hanya ingin menuruti kehendak kakakmu, kamu tidak pantas menjadi anggota OSIS," dia kemudian berdiri dari tempatnya sambil membawa bukunya.
Aku terkejut melihat dia yang langsung berdiri. Aku melihatnya dengan wajah bingung, "Kenapa kamu mengatakan hal itu?"
"Kamu tidak serius untuk mengikuti OSIS, kan? Kenapa kamu harus repot-repot berjuang? Lebih baik kamu mengundurkan diri," Dia kemudian berjalan pergi dan meninggalkanku.
Aku berusaha untuk menahannya dengan berteriak, "Tunggu dulu, tapi aku di sini juga punya alasan lain, bukan berarti kakakku menyuruhku,"
Dia kemudian berhenti sesaat, tapi dia tidak membalikkan wajah, "Hmph, sebentar lagi kita harus kumpul, kamu sebaiknya bersiap-siap," dan kemudian dia pergi meninggalkanku sendirian di ruangan ini.
Aku hanya bisa membisu mendengar kata-katanya. Aku kemudian melihat Chanyeol-oppa dengan wajah sedih. Aku sedikit kesal dengan dia dan diriku sendiri. Aku tidak ingin dia menjadi alasanku untuk menjadi anggota OSIS. Aku tau karena aku disuruh olehnya, tapi tetap saja aku di sini sekarang karena aku juga ingin.
"Oppa, seharusnya aku tidak mengikuti pelatihan ini," Aku kemudian melipatkan kakiku dan meletakkan wajahku terhadapnya.
"Hayi.."
"Baiklah semuanya sudah lengkap, kan?"
"Sudah!"
Sekarang kami semua sedang berkumpul di lapangan untuk melakukan kegiatan kami yang pertama di hari ini. Walau hari masih pagi, kami sudah siap melakukan banyak kegiatan. Tentu saja untuk menjadi anggota OSIS akan tidak mudah. Jadi kamu semua sekarang sedang berbaris menunggu tugas kami yang pertama. Sekarang, yang memimpin adalah Sooyoung-unni, dia berada di depan untuk memberi tahu tentang tugas kami.
Aku sedikit terkejut ketika dia mengatakan sesuatu kepada kami. Tugas kami yang pertama adalah mengenalkan diri kami masing-masing. Huh? yang benar saja, bukankah mereka sudah mempunyai data kami? Kenapa harus memperkenalkan diri kami sendiri? Aku terus bertanya kepada diriku sendiri, dan kemudian Chanyeol-oppa menjawab semua pertanyaanku.
"Karena mereka ingin melihat ketulusan oleh setiap orang," kata Chanyeol-oppa yang berada di sebelahku.
"Huh? Kenapa?" tanyaku dengan bingung.
"Semua bisa dengan mudah ditulis, tapi ketika menyatakannya kita pasti ragu. Namun, jika kita memang serius dan tulus menulisnya, kita pasti bisa mengungkapkan," kata Chanyeol-oppa.
"Tapi, oppa, aku.."
"Tenang saja, Hayi pasti bisa," kata Chanyeol-oppa sambil tersenyum.
Walau dia mengatakan hal tersebut, aku masih merasa ragu untuk yakin. Aku juga masih bingung dengan alasanku berada di sini saat ini. Namun, aku merasa yakin bisa menemukannya sendiri. Aku juga ingin membuktikannya kepada Jiyoung dan yang lainnya, bahwa aku di sini bukan sekedar disuruh oleh kakakku. Aku juga mempunyai alasan untuk berada di sini saat ini.
Satu persatu, setiap orang maju kedepan dan menceritakan tentang diri mereka, juga mereka mengatakan alasan mereka berada di sini sekarang. Alasan kenapa mereka ingin menjadi anggota OSIS. Juga, setiap orang di sana, mempunyai alasan yang berbeda-beda. Semakin aku mendengarnya, aku menyadari suatu hal, mereka ingin melakukannya demi seseorang. Demi seseorang yang mereka hormati. Aku, aku juga berada di sini karena seseorang yang kusayangi, dan tidak ada yang salah dengan itu.
"Selamat pagi semuanya, nama saya adalah Kang Jiyoung,"
Sekarang adalah giliran Jiyoung untuk memperkenalkan dirinya. Dia kelihatan sangat percaya diri. Aku dapat melihat matanya yang penuh dengan keyakinan. Dia benar-benar tipe orang yang sangat sempurna. Aku hanya bisa kagum melihat dirinya. Mungkin dia benar, aku ini hanya datang karena disuruh.
"Saya berada disini, karena saya ingin menjadi anggota OSIS. Saya ingin menjadi seseorang yang berguna bagi orang lain, bukan berarti hanya keinginan ku sendiri. Saya berada di sini juga untuk mengubah banyak hal. Mengubahnya menjadi lebih baik lagi,"
Jiyoung mengatakannya dengan penuh percaya diri dalam dirinya. Aku memberikan tepuk tangan bersama dengan orang-orang yang berada di sini. Apa yang dia katakan memberikan kami semua sebuah pencahayaan. Dia benar-benar sangat percaya pada dirinya. Itu semua memberikan dia kharisma yang lebih dari semuanya.
"Selanjutnya, Park Hayi-ssi," kata Sooyoung-unni.
Aku terkejut karena saat ini aku masih terpaku melihat Jiyoung yang berjalan menuju tempatnya. Aku yang terlihat kikuk langsung berjalan menuju ke depan. Semua mata melihatku dan memberikanku sebuah bisikan, "Chanyeol's sister". Namun, aku tidak peduli, aku terus berjalan ke depan bersama dengan Chanyeol-oppa yang berada di sebelahku saat ini. Saat aku sampai di sana, Sooyoung-unni tersenyum kepada diriku, "Fighting,". Kemudian dia memberikan aku mic untuk berbicara ke depan. Aku menghela napasku dan melihat Chanyeol-oppa yang berada di sebelahku.
"Err, selamat pagi semua, nama saya adalah Park Hayi," kataku yang kelihatan ragu.
Aku merasa sedikit takut saat ini, karena setiap orang mulai berbisik kepada teman mereka. Aku merasa ragu untuk mengatakan sesuatu. Aku hanya bisa terdiam. Apa yang harus kulakukan?
"Bicaralah, Hayi,"
"Oppa?"
"Kamu pasti bisa, Hayi," dia kemudian tersenyum kepadaku. Aku kemudian mengangguk kepadanya dengan wajah yakin. Aku mendapatkan sebuah keberanian dari dirinya. Aku pasti bisa mengatakannya saat ini.
"Jadi, seperti yang kalian tau, aku adalah adik Park Chanyeol, mantan wakil ketua osis kita," kataku yang mulai mengatakan sesuatu.
"Lanjutkan, Hayi," kata Chanyeol-oppa sambil memberikan senyumannya.
"Baiklah, mungkin akan terasa aneh jika adiknya tiba-tiba menjadi anggota OSIS. Apalagi kakakku adalah wakil ketua OSIS. Aku tau aku berbeda dengan dirinya. Aku selalu dibandingkan dengan dirinya. Namun, aku berbeda dengan dirinya, aku adalah Park Hayi," kataku dengan wajah yang yakin.
"Bagus, Hayi," kata Chanyeol-oppa lagi.
"Pertama, aku ingin menjadi anggota OSIS karena disuruh oleh kakakku. Namun, seiring berjalannya waktu, aku menyadari suatu hal. Aku melihat kakakku yang selalu berjuang. Aku melihat dia yang selalu tersenyum kepada setiap orang. Itu adalah alasan dia untuk menjadi anggota OSIS. Dia ingin melihat senyuman setiap orang karena dirinya. Dia ingin orang tersenyum bersamanya dan saling menghargai satu sama lain,"
"Hayi..."
"Aku menyadari hal itu sekarang. Walau aku jauh berbeda dengan dia, aku ingin melanjutkan perjuangan Chanyeol-oppa di sekolah ini, bahkan dimanapun itu. Karena aku.. aku sangat menyayanginya dan menghormatinya. Dia adalah kakakku yang sangat berharga. Walau dia tidak berada disini, tapi aku dapat merasaka kehadirannya selalu. Jadi, semuanya, aku memang masih sangat kurang dalam segalanya. Namun, aku pasti akan berjuang melakukan yang terbaik,"
Aku menghapus air mataku sebelum mengatakan sesuatu. Aku juga melihat Chanyeol-oppa yang berada di depanku, "Oppa, lihat aku. Aku pasti bisa," kemudian aku melihat ke setiap orang yang berada di depanku, aku menunduk kepada mereka semua, "Mohon bantuannya semuanya,"
Kemudian suasana tempat itu menjadi sedikit sunyi sesaat. Aku pikir aku telah mengatakan hal yang salah, tapi tiba-tiba aku mendengar suara tepuk tangan. Satu persatu setiap orang memberiku tepuk tangan. Dan aku memberanikan diriku untuk melihat kedepan, aku tidak dapat menahan tangisanku saat ini, aku benar-benar sangat bersyukur. Aku bahkan melihat Jiyoung yang ikut memberika tepuk tangan kepadaku.
Ketika aku menoleh kebelakang, aku melihat Baekhyun-oppa dan Sooyoung-unni memberikan tepuk tangan kepadaku. Aku tersenyum kepada mereka semua saat ini. Bahkan Chanyeol-oppa yang berada di sampingku juga ikut memberikan tepuk tangannya kepadaku. Oppa, terima kasih.
"Semuanya, terima kasih," untuk terakhir kali aku menunduk kepada mereka semua sebelum kembali ke tempatku.
Aku kemudian kembali lagi, dan setiap orang masih memberikanku tepuk tangan kepadaku. Mereka satu persatu datang mendekat kepadaku, "Pidatomu sangat bagus, Hayi,", "Fighting, Hayi, kamu pasti bisa,", "Itu tadi benar-benar hebat,"
Kemudian aku semakin terkejut melihat Jiyoung yang datang mendekat, dia tersenyum kepadaku, "Aku mengakuinya sekarang. Kamu mempunyai alasanmu sendiri untuk berada di sini,"
"Terima kasih, Jiyoung," aku membalas senyumannya.
Kemudian semua suara tepuk tangan itu terhenti, ketika Sooyoung-unni mengatakan sesuatu, "Baiklah, semuanya terima kasih atas perkenalan kalian. Selanjutnya, kita akan melakukan istirahat makan siang. Para peserta bisa langsung ke kantin untuk makan siang,"
"Kamu tadi keren sekali, Hayi,"
"Eh, terima kasih,"
Sekarang semua orang berkumpul mengeliliku di makan siang, mereka langsung duduk bersamaku. Aku terkejut dengan apa yang terjadi sekarang. Namun, aku merasa senang mereka semua datang untuk menyemangatiku. Aku bisa disini sekarang, semua karena Chanyeol-oppa.
"Sepertinya kamu belum mengenal kami. Dimulai dari aku, aku adalah Heeyoon, dia adalah Namyoung, dan Jinan,"
"Oh, salam kenal semuanya, aku Hayi,"
"Tentu saja, kami sudah tau kamu, Hayi," kata Namyoung sambil tersenyum kepadaku.
Aku senang bisa mengenal mereka semua di sini. Bahkan Jiyoung juga berada disini makan bersama dengan mereka semua. Sepertinya dia juga sangat dekat dengan mereka. Pasti terutama dia juga cantik dan kuat. Haa, sangat jauh bila dibandingkan denganku. Aku memulai makan siangku dan Chanyeol-oppa sekarang sedang mengoceh dengan diriku.
"Ah, makanan tahun ini kelihatannya enak, tidak seperti tahun lalu ketika oppa menjadi peserta," kata Chanyeol-oppa sambil terbang.
Ya, seperti biasanya dia akan mengatakan sesuatu yang tidak penting kepadaku. Aku merasa terbiasa dengan dia yang selalu seperti itu. Bahkan dia sekarang terbang di sekelilingku, dan dengan reflek aku mengikuti kemana dia terbang saat ini. Dia mengatakan sesuatu, "Akhirnya, Hayi bisa menjadi lebih bercahaya,"
Dia kemudian berhenti tepat di depanku. Bercahaya? Apa maksudnya aku ini juga bercahaya seperti oppa dan teman-teman oppa yang lain? Namun, itu kedengaran tidak mungkin bagiku yang seperti ini.
"Itu pasti mungkin, Hayi, akan selalu mungkin," dia kemudian tersenyum kepadaku.
Kau benar, oppa.
Setelah itu, Jiyoung yang sudah selesai makan mengatakan sesuatu, "Apa kalian sudah tau? Bahwa malam ini kita juga akan melakukan uji nyali?"
"Hah? Benarkah? Kedengarannya menarik!" kata Jinan dengan semangat.
"Tapi aku takut melihat hantu," kata Heeyoon.
Uji nyali? Sepertinya itu bukan hal yang menakutkan bagiku saat ini, karena aku juga sudah setiap hari melihat hantu. Ya, benar sekali, Chanyeol-oppa adalah hantu yang bergentayangan. Apa aku perlu takut untuk uji nyali yang seperti itu? Sepertinya tidak.
"Bagaimana menurutmu, Hayi? Apakah kamu takut dengan hantu?" tanya Namyoung.
"Hehehe, iya, sedikit," kataku yang kedengarannya ragu.
"Kalau begitu, kita sama!" kata Heeyoon dengan cerianya.
Kemudian aku melihat Chanyeol-oppa dengan wajahnya yang paling kelihatan tidak mengerikan. Dia ingin berusaha mengerikan tapi tidak bisa, mungkin itulah dia. Karena wajahnya terlalu baik, dia jadi tidak bisa menjadi jahat. Dengan wajah malaikatnya dia mengatakan sesuatu yang mengerikan.
"Tahun ini, kira-kira tantangan apa yang akan mereka lakukan? Hehehe, kedengarannya menarik,"
