Malam ini kami semua akan melakukan kegiatan uji nyali. Aku sebenarnya tidak terlalu takut untuk hal ini, tapi tetap jika mereka berdandan menjadi hal yang mengerikan aku pasti akan takut. Namun, sepertinya aku tidak perlu takut karena Chanyeol-oppa akan selalu bersamaku.

"Baiklah, sekarang kita akan melakukan pembagian kelompoknya. Setiap kelompok terdiri diri dari 5 orang, dan setiap orang bisa memilih anggota kelompok mereka sendiri," kata Sooyoung-unni.

Setelah dia memberitahukan hal itu, teman-teman yang baru kukenal tadi siang, datang menghampiriku, mereka adalah Heeyoon, Namyoung, Jinan, dan Jiiyoung. Mereka mengajakku untuk menjadi anggota mereka. Setidaknya sekarang aku punya teman untuk diajak pergi bersama. Aku senang mereka datang menghampiriku saat ini.

"Ok, jika kalian sudah punya anggota masing-masing, mari kita mulai acara uji nyali-nya!" kata Sooyoung-unni dengan semangat.

Bahkan Chanyeol-oppa juga terlihat sangat bersemangat untuk hal ini, "Yay, ayo, Hayi, acaranya akan segera dimulai!"

"Hmm,"

Kemudian kami semua berkumpul di taman belakang sekolah untuk menunggu giliran kami. Sekarang sudah menjadi giliran kami untuk masuk ke dalam. Sejenak kami menelan ludah kami bersama-sama. Karena suasana di tempat ini terasa gelap, bahkan terdengar banyak suara yang mengerikan dari sana. Aku sedikit takut untuk masuk ke dalam sana. Semoga saja tidak terjadi hal yang mengerikan.

Kami berlima memulai langkah kami, sebagai kelompok terakhir dalam acara uji nyali ini. Kami pasti bisa melakukannya, walau kami semua terlihat ketakutan. Heeyoon sekarang memegang tangan Namyoung dengan sangat erat. Jinan juga memegang tangan Namyoung yang satu lagi, sepertinya mereka benar-benar takut. Sementara Jiyoung terlihat sangat santai berjalan di depan kami dengan senter yang berada di tangannya. Dia memimpin langkah kami.

Uji nyali dimulai.

"Hah!" teriak Heeyoon ketika melihat sebuah benda di depannya. Kami semua juga ikut kaget ketika dia berteriak. Namun, Jiyoung yang berada di depan kami langsung mengsenter benda tersebut. Dia menghela napas ketika melihatnya, "Tenang saja, Heeyoon. Itu hanya benda biasa, tidak ada yang perlu ditakutkan saat ini,"

Kemudian kami semua juga ikut menghela napas kami, dan Heeyoon mengatakan sesuatu, "Fiuuh, baguslah, aku kira hal buruk akan terjadi,"

Heeyoon memberanikan dirinya untuk berjalan lagi dengan senter yang berada di tangannya. Dia terus berjalan tanpa menyadari di depannya terdapat sesuatu yang mengerikan dari sana. Bahkan kami semua yang berada di belakangnya dapat melihatnya. Aku melihatnya dengan sangat jelas. Seseorang sedang menyamar menjadi hantu yang mengerikan. Dalam hitungan detik, Heeyoon langsung berteriak ketika dia melihat hantu itu. Bersama dengan dia di tempat ini, kami semua berteriak dengan sangat keras.

Kami semua berlari dengan sangat cepat dari tempat itu. Termasuk aku bersama dengan Chanyeol-oppa yang ikut mengerjarku. Sementara Jiyoung masih tinggal di tempat itu, sepertinya dia tidak takut sama sekali. Dia hanya berteriak memanggil kami. Namun, karena kami semua sangat ketakutan, kami memutuskan untuk berlari dengan sangat cepat. Kami berempat pergi meninggalkan Jiyoung sendiri di tempat itu.

Setelah cukup lama berlari, kami semua berhenti karena sudah sangat lelah. Aku dapat melihat mereka terlihat kecapean karena berlari. Chanyeol-oppa malah berada di depanku dan terlihat khawatir dengan keadaanku. Namun, aku baik-baik saja, hanya saja karena terlalu banyak berlari aku jadi merasa sangat lelah saat ini. Aku mendekat ke tempat mereka berdiri, "Kalian tidak apa-apa?"

"Ah, kami tidak apa-apa, Hayi," kata Namyoung yang berusaha mendapatkan napasnya kembali.

Jinan kemudian melihat keadaan di sekelilingnya, "Sepertinya kita berlari terlalu jauh dari tempat tadi,"

"Iya, kita harus kembali sekarang," kata Heeyoon yang kemudian mulai berjalan dengan senter di tangannya.

"Iya, ayo," kataku yang juga ikut mulai berjalan.

Kami semua memberanikan diri untuk berjalan di tempat yang terlihat gelap ini. Aku melihat sekelilingku yang terlihat gelap, entah kenapa aku merasa takut. Namun, tiba-tiba mereka berhenti sejenak ketika kita sudah berjalan cukup jauh. Mereka semua membalikkan tubuh mereka dan melihatku. Wajah mereka sangat mengerikan saat ini. Juga, aku dapat mendengar suara tawa dari mereka.

"Hmph, aku sudah capek bersandiwara, Heeyoon," kata Namyoung sambil melihatku.

"Iya, kau benar. Aku capek menjadi orang baik di depan cewek ini," kata Heeyoon dengan wajah yang mengerikan.

Aku merasa ketakutan dan mundur selangkah dari tempat aku berdiri saat ini, "A-apa maksud kalian?"

"Bukankah sudah jelas, Hayi. Kami sama sekali tidak ingin berteman denganmu. Kami hanya berpura-pura saat ini," kata Jinan yang kemudian mendorongku.

Aku melihat mereka dengan pandangan horror. Kenapa mereka tiba-tiba melakukan hal sepeti? Ketika aku berpikir bahwa aku mempunyai teman, itu semua hanya menjadi pikiran yang salah sekarang. Seharusnya, aku tidak pernah berharap untuk menjadi cahaya seperti oppa.

"Hayi, kamu harus kabur! Mereka sepertinya orang yang tadi mendorongmu!" kata Chanyeol-oppa yang berada di depanku.

Iya, oppa benar, aku harus kabur sekarang sebelum mereka melakukan sesuatu kepadaku. Namun, aku terlambat, sebelum aku hendak mengambil langkah. Mereka langsung mendorongku dan aku terjatuh. Aku tidak dapat menahan keseimbanganku, terutama di belakangku terdapat sebuah jurang yang kelihatan dalam. Mereka tertawa ketika melihatku terjatuh. Aku dapat mendengar kata-kata terakhir dari mereka, "Mati saja kau, bitch!" Juga mereka meninggalkan tawa mengerikan kepadaku.

Kenapa?

"Hayi!" Chanyeol-oppa juga ikut turun bersamaku. Dia berusaha untuk menggapai tanganku sendiri. Namun, itu sia-sia, oppa. Aku bahkan tidak bisa menyentuhmu saat ini. Aku hanya terus melihatnya yang mulai mengeluarkan air matanya ketika dia tidak bisa menyentuh tanganku sama sekali.

Maafkan aku, oppa.


"Hayi! Hayi! Bangunlah, Hayi,"

Aku mendengarnya, aku mendengar kakakku memanggiku dalam tidurku. Aku selalu mendengar suara itu. Aku senang masih bisa mendengar suara itu dalam diriku. Aku juga ingin selalu melihat wajah pemilik suara itu. Tolong, biarkan aku terbangun.

Aku berusaha membuka mataku. Aku melihat Chanyeol-oppa yang berada di atasku, dia sedang menangis. Aku mengangkat tanganku berusaha menyentuhnya, tapi aku tau aku takkan pernah bisa melakukannya. Namun, tidak apa-apa, aku hanya tidak ingin membuat oppa berhenti menangis untuk saat ini.

"Chanyeol-oppa," kataku yang berusaha bangkit.

Oppa langsung melihatku dengan wajahnya yang masih menangis, "Hayi! Kamu tidak apa-apa?"

"Iya, oppa, aku sepertinya bisa berdiri-," aku berusaha untuk bangkit, tapi rasa sakit di kakiku membuatku jadi tidak bisa melakukannya. Aku melihat luka di kakiku untuk sejenak, dan kelihatannya aku sedikit terkilir. Mungkin karena aku jatuh dari ketinggian. Aku melihat Chanyeol-oppa dengan wajah tersenyum berusaha untuk membuatnya tidak khawatir, "Sepertinya aku sedikit terkilir, oppa. Hehehe, tapi aku tidak apa-apa,"

"Apa yang tidak apa-apa, huh? Kamu baru saja terjatuh dari tempat tinggi! Kamu tidak tau bagaimana aku sangat takut! Bagaimana aku takut jika kamu mati di tempat ini! Bahkan aku juga tidak bisa menolongmu!" dia terus menangis dan berteriak di depanku saat ini.

"Maafkan aku, oppa. Maafkan aku, aku tidak tau kamu akan begini khawatir," kataku yang mulai menangis, "Maafkan aku,"

Dia juga melihatku dengan pandangan khawatir, "Tidak apa-apa, Hayi. Aku hanya takut kehilangan kamu lagi,"

"Huaaa, maafkan aku," kataku yang semakin berteriak.

Mungkin, aku memang tidak pantas mendapatkan cahaya. Memang aku tidak pantas mendapatkan kebaikan dari setiap orang. Aku tidak pantas mendapatkan apa-apa. Bahkan gara-gara kegoisanku aku sampai membuat Chanyeol-oppa pergi. Mungkin ini pantas terjadi dalam hidupku. Aku tidak berhak mendapatkan apa-apa.

Aku melihat sekelilingku yang terlihat sangat tinggi. Sepertinya memang benar aku terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam. Bahkan tempat ini terlihat gelap, tidak ada senter yang menerangi diriku saat ini. Namun, bulan memberikan cahaya supaya aku bisa melihat sekililingku dan melihat Chanyeol-oppa yang berada di sampingku. Aku juga tidak bisa melakukan apa-apa saat ini., karena kaki terkilir. Jadi aku memutuskan untuk duduk di sini, di tengah cuacanya yang terasa dingin.

"Oppa,"

"Ada apa, Hayi?" tanya Chanyeol-oppa yang kemudian pindah ke depanku.

"Sepertinya dari awal aku seharusnya tidak mengikuti ini," kataku sambil melihat kebawah.

"Huh? Jangan mengatakan hal seperti itu, Hayi!" dia kelihatan sangat marah. Namun, itu benar oppa, kamu tidak mengetahuinya sama sekali.

"Aku seharusnya tidak pernah masuk ke dalam lingkunganmu," aku mulai menangis. "Aku hanya selalu menjadi kegelapan di belakangmu. Aku selalu melihatmu penuh dengan cahaya bersama orang-orang. Tapi! Tapi kenapa kamu selalu datang kepadaku, oppa? Kenapa?"

"Hayi.."

"Kau selalu memberikan senyumanmu kepadaku. Aku terkadang bahagia karenanya. Namun, kau tidak tau bagaimana setiap orang memandangku. Kamu tidak pernah mengerti! Makanya sekarang aku berakhir seperti ini. Aku seharusnya tidak pernah masuk ke duniamu!" aku terus menangis dan menyalahkan dia.

Sebenarnya, akulah yang salah. Aku yang seenaknya masuk ke dunianya. Aku yang seenaknya hadir di dunianya. Tapi kenapa aku terus menyalahkan dirinya? Aku selalu lelah dengan semua hal di dunia ini. Terutama tentang aku yang selalu di bandingkan dengan dirinya. Namun, sepertinya karena aku mengatakan hal seperti ini, dia pasti akan membenciku. Aku tidak berani melihat wajahnya, jadi aku terus melihat kebawah.

"Maafkan aku, Hayi," kata Chanyeol-oppa.

"Kenapa? Kenapa kamu yang harus meminta maaf? Aku telah mengatakan hal yang salah. Aku juga menyalahkanmu. Seharusnya kamu marah kepadaku!" aku kemudian memberanikan diri untuk melihat wajahnya saat ini. Aku kira dia akan marah melihatku. Namun, dia malah tersenyum kepadaku. Dia memberikan senyumannya kepadaku. Membuatku tidak bisa mengatakan apa-apa.

"Karena kamu adikku yang paling kusayangi, Hayi. Aku tidak pernah bisa menyalahkanmu, karena aku sangat sayang kepadamu," dia tersenyum kepadaku.

Seketika itu juga, aku langsung menangis dengan sangat keras mendengar kata-katanya. Aku seharusnya tidak boleh menyalahkan Chanyeol-oppa. Dia selalu baik kepadaku. Oppa, tidak pernah melupakan tentang diriku sendiri. Namun, terkadang aku melihat dia dengan pandangan yang iri, dia selalu dikelilingi oleh setiap orang. Walau begitu, dia tetap datang menghampiriku yang gelap ini.

Dia selalu menyambutku dengan penuh kebahagiaan.


*Author's POV

"Ah, aku tidak mengira bisa dengan mudahnya mendorong anak itu," kata Heeyoon.

"Iya, dia sangat mudah untuk di jatuhkan. Bahkan dia sangat bodoh dengan mudahnya terpancing sandiwara kita," kata Namyoung.

"Orang seperti dia lebih pantas mati," kata Jinan.

"Iya, tepat sekali,"

Setelah mereka mendorong Hayi ke jurang. Mereka tidak merasa bersalah dan kembali ke kelas dengan perasaan puas. Mereka tidak merasa berdosa telah melakukan hal tersebut. Malah sebaliknya, mereka merasa mereka telah melakukan hal yang seharusnya mereka lakukan sejak pertama. Bahkan sebelum melihat pidato Hayi. Mereka sudah merencanakan hal tersebut dengan sangat matang.

Waktu telah menunjukkan pukul 11 malam lebih, para anggota OSIS mulai melakukan pemeriksaan terhadap setiap murid. Terutama murid yang belum datang ke kelas. Juga, setiap murid masih bisa memakai kamar mandi untuk membersihkan muka mereka. Ketiga orang itu juga berjalan menuju kamar mandi ketika para pengabsen mulai berkerja. Ketika mereka lewat di depan kelas Jiyoung, mereka dapat melihat Jiyoung terlihat mengobrol hal penting dengan sang petugas.

"Jadi, Hayi belum kembali dari sejak tadi?" tanya sang petugas.

"Iya, dari sejak uji nyali dia menghilang," kata Jiyoung.

Mereka bertiga merasa sedikit gugup ketika melewati tempat itu. Namun, mereka berusaha untuk terlihat cool dan tidak terlihat bersalah, karena mereka tidak ingin di tanyakan seoal Hayi. Jadi mereka berjalan layaknya orang hebat. Namun, mereka pikir mereka tidak akan apa-apa sekarang, tapi Jiyoung sepertinya tidak membiarkan mereka kabur begitu saja.

Jiyoung langsung mengatakan sesuatu untuk menghentikan langkah mereka, "Sepertinya mereka bertiga tau dimana Hayi berada,"

Sang petugas langsung menoleh dan melihat ketiga orang itu, "Hah? Mereka tau?"

"Iya, karena mereka yang bersama dengan Hayi terakhir kalinya," kata Jiyoung sambil melipat kedua tangannya.

Heeyoon melihat dia dengan pandangan sedikit takut, tapi dia berusaha untuk menyangkalnya, "Huh? Kami bersama Hayi? Itu tidak mungkin, ya kan?"

Namyoung ikut membelanya dengan wajah tidak bersalah, "Iya, benar sekali. Kami benar-benar tidak bersama dengannya,"

Jiyoung kelihatan kesal dengan kata-kata mereka. Dia tau sekali sifat mereka, karena mereka juga temannya, tapi dia tidak pernah ingin ikut ulah jahat dari mereka semua. Sementara sang petugas terlihat bingung dengan keadaan ini, "Jadi sebenarnya apa yang sedang terjadi sekarang ini?"

Jiyoung kemudian melihat ke arah Jinan dengan tatapan dingin, membuat Jinan kelihatan ketakutan, "Kamu sebaiknya memberitahuku sebelum aku melakukan sesuatu kepadamu,"

"Tidak!" Jinan langsung berteriak dan menutup kupingnya. Dia terlihat sangat pucat setelah Jiyoung mengatakan hal tersebut.

Juga, karena suara ribut mereka, beberapa anggota OSIS mendengarnya dan datang ke tempat mereka. Baekhyun dan Sooyoung datang mendekat ke tempat mereka. Baekhyun mendekat dan bertanya kepada salah satu dari mereka, "Apa yang sedang terjadi di sini?"

Jiyoung langsung menoleh dan melihat Baekhyun, "Sebaiknya kamu tanya sendiri kepada dia," kemudian Jiyoung melihat Jinan tepat dimatanya, membuat Jinan merasa ketakutan dan terjatuh dari tempat dia berdiri saat ini. Dia mulai mengeluarkan air mata.

Sooyoung terkejut melihat hal tersebut, dia langsung mendekat dan bertanya, "Kamu tidak apa-apa?"

Namun, Jinan tidak membalasnya, dia hanya berkata-kata sendiri, "Maafkan aku.. aku tidak sengaja mendorongnya. Dia terjatuh begitu saja dari jurang. Aku tidak mendorongnya!"

Semua orang terkejut mendengar kata-katanya, siapakah yang dia maksud saat ini. Semua orang di tempat itu terlihat bingung, sementara Heeyoon dan Namyoung terlihat ketakutan, sepertinya kejahatan mereka sudah terungkap sekarang. Mereka tidak bisa kabur sekarang.

"Apa maksudmu?" tanya Baekhyun yang mendekat ke tempat Jinan.

Jiyoung langsung membalasnya dengan tegas, "Hayi, yang dia maksud adalah Hayi," hanya dengan kata-kata itu, Baekhyun langsung menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Jiyoung, "H-hayi?!"

Sooyoung juga mendengar hal itu, dia langsung bertanya kepada Jinan, "Dimana? Dimana kamu mendorongnya!"

Baekhyun juga ikut duduk di depannya, dia melihat Jinan dengan wajah penuh khawatir, "Apa? Bagaimana bisa, huh? Cepat beritahu dimana kamu mendorongnya!"

Dengan perlahan-lahan Jinan membalas kata-katanya, "Di taman belakang sekolah. Tempat uji nyali tadi,"

Langsung, Baekhyun langsung berdiri dari tempat dia duduk, dia berlari meninggalkan Sooyoung di tempat itu. Sooyoung berusaha berteriak memanggilnya yang tiba-tiba pergi, "Baekhyun!"

Namun, dia tidak berhenti berlari dengan sangat cepat. Kelihatannya Baekhyun sangat khawatir, dan Sooyoung tau hal seperti itu akan terjadi. Jadi dia memutuskan untuk berdiri dari tempatnya, dia melihat ke arah sang petugas, "Kasih tau anggota yang lain, kita harus mencari Hayi. Juga, anak ini, jangan biarkan dia kabur. Juga orang yang telah membantunya. Jangan biarkan mereka menikmati hari mereka begitu saja,"

Mata ketiga orang itu langsung penuh dengan ketakutan. Sekarang perasaan takut mengalir diri mereka saat ini. Seakan-akan dunia akan berakhir di tempat mereka saat ini. Orang yang jahat pasti akan selalu mendapatkan ganjarannya sendiri.

Sooyoung kemudian menoleh dan melihat Jiyoung yang masih berdiri, "Kamu bisa ikut bersamaku untuk berbicara dengan ketiga orang ini,"

"Baiklah,"

Sementara itu, Baekhyun sekarang sedang berlari keluar dari sekolah menuju taman belakang sekolah. Dia juga membawa senter di tangannya. Jadi sekarang dia berusaha untuk mencari keberadaan Hayi di tempat itu. Dia sepertinya sangat khawatir dengan Hayi.

Dia hanya bisa berkata sendiri kepada dirinya, 'Aku sudah cukup kehilanganmu, Chanyeol. Sekarang aku tidak ingin kehilangan adikmu. Aku berharap kamu tidak apa-apa, Hayi. Tolong bertahan untukku sedikit lagi. Aku akan segera kesana,'