"Oppa,"

"Hmm?"

"Apa kamu masih ingat ketika kita kecil?" sekarang aku berada di dalam jurang dan tidak bisa keluar. Aku juga sedang terkilir dan tidak dapat melakukan apa-apa. Jadi, sekarang aku memutuskan tetap di sini sampai seseorang menolongku. Walau sepertinya tidak akan mungkin, karena hari sudah semakin larut. Tapi untung saja, oppa sekarang berada di tempat ini menemaniku, setidaknya aku tidak merasa sendirian lagi.

"Tentu saja, Hayi," kata Chanyeol-oppa yang berada di sebelahku sekarang.

"Aku teringat kembali ketika kita tersesat bersama," kataku sambil melihat bintang-bintang yang sedang menyala terang.

"Hehehe, oppa juga masih mengingatnya," kata Chanyeol-oppa yang kelihatannya nyengir sedikit.

Tentu saja dia akan seperti itu, waktu itu kita tersesat karena dia. Dia mengajakku masuk ke dalam hutan untuk melihat-lihat, karena dia merasa penasaran. Terutama katanya di dalam hutan ada peri yang bisa mengabulkan permohonan. Benar-benar bodoh sekali dia dulu, bagaimana bisa dia percaya dengan hal itu? Bahkan aku juga sangat bodoh dengan mudahnya percaya kepadanya. Dan akhirnya, kami malah terjebak di tengah hutan seperti orang bodoh. Beruntung kita bisa menemukan jalan kembali.

"Waktu itu aku menangis, dan oppa mengatakan, 'jangan menangis, Hayi, oppa ada di sini,' kamu mengatakan itu kepadaku yang sedang menangis," kataku yang kemudian melihatnya sambil tersenyum.

"Hayi.."

"Saat itu, aku senang kamu bisa bersamaku dan tidak meninggalkanku," kataku yang kemudian melihat kebawah.

"Hehehe, sekarang oppa juga masih bersamamu, bukan?" katanya yang kemudian terbang kedepanku.

Aku mengangkat wajahku dan melihatnya sambil tersenyum, "Terima kasih, oppa,"

Ya, terima kasih banyak, oppa. Aku adalah adik yang paling beruntung di dunia untuk bertemu dengannya dan menjadi adiknya. Dia kemudian terbang lagi di sekitarku, sepertinya dia ingin sekali menghiburku supaya aku tetap tersenyum.

"Karena kita cuma berdua di sini, oppa akan memberikan sebuah pertunjukan kepadamu," katanya dengan sangat bangga.

"Pertunjukkan apa, oppa?" kataku sambil melihat ke atas.

"Hmm, oppa akan menyanyi," katanya dengan sangat bangga.

Aku kemudian tertawa mendengarnya. Menyanyi? Yang benar saja, "Pfft, oppa menyanyi? Tidak, itu tidak cocok," aku sangat tidak setuju jika dia nyanyi, karena eh bagaimana ya bilangnya. Suaranya itu sangat dalam jadi mungkin suaranya akan fales kalau nyanyi. Aku sarankan kalian semua tidak mendengarnya.

"Tapi, oppa selalu menyanyi untukmu di waktu kamu kecil," kata Chanyeol-oppa sambil memohon-mohon.

Benar sekali, sewaktu kecil dia selalu menyanyi untukku, supaya aku terlihat senang. Ya, bagaimana bisa aku dulu begitu senang mendengar dia nyanyi? Mungkin memang dulu aku sangatlah bodoh. "Iya itu waktu kecil, tapi sekarang tidak-," Kemudian angin mulai berhembus, angin malam semakin terasa dingin bagiku.

Chanyeol-oppa terlihat kaget melihatku yang tidak melanjutkan kata-kataku, "Hayi, ada apa?"

Aku hanya menggelengkan kepalaku supaya tidak membuatnya khawatir, "Tidak, tidak apa-apa, oppa,"

Tapi aku tidak bisa berbohong, karena sekarang tanganku mulai menutupi seluruh tubuhku. Aku mulai merasa sangat kedinginan saat ini. Aku merasa sangat lemas karena angin malam yang terus berhembus. Entah kenapa aku merasa tubuhku semakin lelah. Dan sekarang Chanyeol-oppa benar-benar terlihat panik melihatku yang seperti itu, dia mendekatiku.

"Hayi, kamu kelihatan kedinginan," kata Chanyeol-oppa yang terlihat ingin menangis.

"Tidak apa-apa, oppa, aku benar-benar tidak apa-apa," kataku yang berusaha berbohong.

"Tapi kamu kelihatan sangat kedinginan dan ... lemah," kata Chanyeol-oppa yang mulai menangis, "Tidak apa-apa, Hayi. Katakan saja kepada, oppa,"

"Haa, baiklah, aku memang kedinginan, tapi itu tidak apa-apa, aku masih bisa menahannya," kataku yang masih menutupi tubuhku.

Dan dia menangis di hadapanku, "Maafkan aku, Hayi. Oppa tidak bisa berbuat apa-apa,"

"Sudahlah, mungkin sebentar lagi seseorang akan menolongku," aku kemudian mulai merasa semakin lemah dengan keadaan ini.

"Hayi, kamu ingin ngapain?" tanya Chanyeol-oppa yang masih menangis.

"Aku merasa sangat lelah, oppa, mungkin aku ingin tidur sebentar," Aku sudah tidak tahan lagi. Cuaca ini benar-benar membuatku semakin lemah, aku tau aku seharusnya tidak boleh tertidur tapi bagaimana lagi, aku benar-benar lelah saat ini. Aku kemudian meletakkan tanganku di atas kepalaku supaya aku bisa berbaring, aku melakukannya sambil mengatakan, "Oppa, jangan pergi, ok?"

Kemudian aku mendengar oppa mengatakan, "Iya," dan aku menutup mataku.

Aku merasa sangat lelah sekarang. Juga, entah kenapa aku merasa tubuhku semakin dingin, aku tidak tahan. Tapi oppa sekarang berada di tempat ini, aku tidak boleh membuatnya khawatir. Aku terus menutup mataku berusaha menghilangkan rasa lelahku. Tiba-tiba aku mendengar sesuatu dari jauh. Aku mendengar seseorang memanggilku dengan sangat keras.

"Hayi!"

Karena aku sedang menutup mataku, aku mengira itu adalah oppa yang memanggilku saat ini. Jadi aku tidak berusaha membuka mataku. Aku berfikir bahwa sekarang aku sedang bermimpi. Namun, aku terus mendengar suara teriakan itu, dan aku menyadari bahwa itu bukan suara Chanyeol-oppa.

"Hayi!"

Aku kemudian membuka mataku dan melihat Chanyeol-oppa yang berada di sebelahku, "Oppa, apa kamu mendengar suara itu?"

"Hmm, suara apa?" kata Chanyeol-oppa dengan bingung.

"Hayi! Kamu ada dimana?!" kemudian suara itu terdengar lagi dari kejauhan.

"Itu!" kataku sambil melihat Chanyeol-oppa dengan pandangan yakin.

Dia kemudian mengangguk kepadaku, "Iya, aku juga mendengarnya, sepertinya itu suara Baekhyun,"

"Baekhyun-oppa?" kataku yang masih dalam keadaan berbaring.

"Iya, dia sepertinya datang mencarimu! Kamu harus bangkit dan berteriak, Hayi," kata Chanyeol-oppa yang juga ikut bangkit.

Aku juga sebenarnya ingin bangkit, tapi aku merasa tidak kuat. Jadi perlahan-lahan aku berusaha membangkitkan diriku. Dengan sisa tenaga yang aku punya aku berusaha bangkit dan mengeluarkan suaraku, "A-aku di sini!"

Chanyeol-oppa terus melihat ke atas dan juga terus mendukungku, "Lanjutkan, Hayi, teruslah berteriak!"

"Tolong aku, Aku disini!" Sekarang suaraku benar-benar sangat keras. Juga tenagaku sudah benar-benar habis, aku tidak bisa mengeluarkan suaraku lagi. Aku harap dia mendengar suaraku.

Harapanku terwujud ketika aku melihat sebuah cahaya mengarah kepadaku, aku mendengar suara Baekyun-oppa dari sana, "Hayi! Kamu tidak apa-apa?"

Mungkin ini sisa tenaga yang aku miliki sekarang. Aku sekarang hanya bisa tersenyum dan mengatakan, "Aku tidak apa-apa, terima kasih sudah datang,"

"Tunggu di sana! Aku akan segera menolongmu, Hayi!" kata Baekhyun-oppa sambil berteriak.

Kemudian Chanyeol-oppa melihatku lagi, "Kamu berhasil, Hayi. Dia akan segera menolongmu, kamu tidak akan apa-apa sekarang,"

"Iya," kemudian aku pingsan karena sangat lemas saat ini. Aku hanya bisa melihat wajah Chanyeol-oppa yang terkejut dan mendengar suara Baekhyun-oppa yang memanggilku dengan sangat keras.

"Hayi!"

Aku pingsan dan menutup mataku. Aku sangat lelah. Please, help me.


*Author's POV

Sekarang Baekhyun mencari sebuah jalan untuk bisa menggapai Hayi. Dia benar-benar terburu-buru karena dia melihat Hayi yang tiba-tiba pingsan. Untung saja dia menemukan sebuah jalan untuk menggapai Hayi. Dia berhasil menemukan Hayi. Dia langsung berlari mendekatinya, dia melihat Hayi yang terlihat sangat lemah. Ketika dia memegang keningnya dia dapat merasakan bahwa Hayi sangat panas.

Dia langsung terkejut. Kemudian dia langsung menggendong tubuh Hayi ke belakang punggungnya. Dia berusaha supaya Hayi bisa berada di punggungnya. Setelah berhasil dia mengambil senter yang berada di depannya. Dia memulai langkahnya dengan senter sebagai penunjuk jalannya. Dia berjalan kembali ke arah sekolah.

"Terima kasih," kata Hayi dengan perlahan di belakang Baekhyun.

Baekhyun terkejut mendengarnya, dia kemudian membalasnya, "Iya, Hayi. Kamu baik-baik saja sekarang. Jadi bertahan lah sebentar lagi,"

Baekhyun berjalan lagi, sambil mengarahkan senternya. Tiba-tiba terlihat dari jauh, beberapa orang berlari ke arahnya. Tapi dia terus berjalan, karena dia sekarang membawa seseorang yang penting baginya. Ternyata orang-orang itu adalah para anggota OSIS, mereka semakin mendekat ke tempat Baekhyun.

"Baekhyun, kamu sudah berhasil menemukannya," kata salah satu orang.

"Iya, kalian tidak perlu khawatir, dan kita harus kembali sekarang karena Hayi sedang dalam keadaan panas," kata Baekhyun yang kemudian melihat ke arah Hayi.

Kemudian salah orang lagi menyentuh kening Hayi, "Kau benar, kita harus segera membawanya,"

Mereka semua langsung berjalan dengan cepat menuju sekolah. Bahkan Baekhyun terlihat luar biasa khawatir sekarang. Mungkin ini pertama kalinya orang-orang itu melihatnya terlihat ketakutan dan penuh kekhawatiran yang sangat mendalam. Tentu saja, karena Hayi adalah adik dari sahabat yang sangat dia sayangi, dari sahabat yang sudah pergi untuk selamanya.

Sesampainya di sekolah, Baekhyun langsung berjalan menuju UKS, dia kemudian membaringkan tubuh Hayi secara perlahan ke tempat tidur. Sementara anggota yang lain mempersiapkan beberapa kain untuk Hayi. Mereka membasahi air itu dan kemudian berjalan ke tempat Hayi. Baekhyun melihat mereka yang melakukan hal itu.

"Biarkan aku yang meletakkannya kepadanya," kata Baekhyun sambil mengulurkan tangannya.

Orang itu kemudian memberikan kain itu kepada Baekhun, "Baiklah,"

Baekhyun kemudian meletakkan kain itu di atas kening Hayi, dia melakukannya sambil mengatakan, "Aku bersyukur kamu tidak apa-apa Hayi,"

Dia kemudian melihat seluruh tubuh Hayi dan menyadari sesuatu yang lain, begitu juga orang yang berada di sebelahnya. Mereka menyadari bahwa kaki Hayi sedang terluka dan berdarah. Orang tersebut langsung berlari mencari perban dan beberapa antiseptik. Sementara Baekhyun masih terlihat terkejut, dia tidak dapat mengatakan apa-apa.

Orang itu kemudian memegang pundak Baekhyun, "Kamu bisa menunggu di luar, Baekhyun. Aku yang akan mengurus hal ini,"

"Terima kasih, Fanny," kata Baekhyun yang kemudian berjalan keluar dari ruangan.

Dia menarik napasnya sebentar sambil membaringkan tubuhnya di depan pintu. Dia benar-benar khawatir dari tadi, entah kenapa rasanya Hayi hampir pergi dari hidupnya selamanya. Kemudian dia menoleh dan melihat orang-orang yang melukai Hayi. Juga dia melihat Sooyoung yang kelihatan khawatir. Orang-orang itu terlihat ketakutan ketika Baekhyun mendekat ke arah mereka.

Baekhyun kemudian semakin mendekat dan mulai mengepalkan tangannya sendiri, "Kalian!" dia berusaha memberikan pukulan kepada mereka. Namun, dia berhenti tepat di wajah Heeyoon. Membuat Heeyoon kelihatan hampir menangis. Baekhyun mengatakan sesuatu, "Aku tidak akan memaafkan kalian soal ini," kemudian dia pergi dari hadapan mereka semua.

Sooyoung melihatnya sambil mengatakan, "Apa dia baik-baik saja, Baekhyun?"

"Iya," Baekhyun kemudian berusaha pergi dari tempat itu.

"Kamu juga harus baik-baik saja, Baekhyun," kata Sooyoung yang terlihat khawatir kepadanya.

"Aku tidak apa-apa, Sooyoung," kemudian Baekhyun melangkah pergi. Dia berjalan menuju kamarnya.

Dia sudah berjalan cukup jauh dari mereka saat ini. Jadi dia berhenti sejenak di tengah lorong yang kelihatan sepi. Dia terjatuh dari tempat dia berdiri, dia juga menyandarkan tubuhnya di atas meja sambil mengatakan sesuatu, "Hampir saja, hampir saja aku kehilangan dia," dia kemudian mulai menangis lagi, "Chanyeol, aku sangat sedih kamu yang tiba-tiba pergi, tapi aku berhasil menyelamatkan adikmu. Aku berhasil, setidaknya dia akan terus mengingatkan aku padamu," dia terus menangis di pojok lorong itu, menangis dengan suara yang pelan.

Sementara itu, tanpa disadari oleh Baekhyun, karena dia juga tidak dapat melihatnya, Chanyeol berada di depannya saat ini. Dia melihat Baekhyun yang sedang menangis. Dia juga merasa sangat sedih melihat temannya yang seperti ini. Tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa, dia hanya bisa mengatakan sesuatu sambil berusaha memegang pundak Baekhyun, "Kamu memang berhasil, Baekhyun. Terima kasih banyak, teman baikku. Terima kasih..."


Aku merasa sedikit sakit di sekitar badanku saat ini, tapi aku merasa bisa bangun sekarang. Jadi aku berusaha membuka mataku sendiri sekarang. Sepertinya cahaya matahari masuk ke dalam tempat ini. Aku berusaha melihat keadaan sekitarku dan aku menyadari bahwa aku berada di UKS sekolah. Aku kemudian berusaha bangkit dari tempat aku tidur. Ketika aku bangkit, aku melihat Sooyoung-unni yang datang mendekat.

Wajahnya terlihat sangat lega, dia langsung datang mendekat ke arahku, "Syukurlah, kamu baik-baik saja, Hayi," dia kemudian memelukku dengan perlahan.

"Apa yang terjadi, unni? Kenapa aku bisa di sini?" kataku yang sekarang dipeluk olehnya.

"Kemaren kamu pingsan ketika hendak di selamatkan oleh Baekhyun. Jadi sekarang kamu berada di sini," kata Sooyoung-unni yang kemudian melepaskan pelukannya dan melihatku.

Aku teringat kembali dengan kejadian kemaren, aku mengingat Chanyeol-oppa berada di sebelahku ketika pingsan. Juga, Baekhyun-oppa yang meneriakkan namaku. Oh ya, Chanyeol-oppa pergi kemana? Dia seharusnya ada di sini menyambutku. Aku melihat sekelilingku berusaha mencari keberadaannya.

Tapi Sooyoung-unni mengira hal lain, "Ada apa, Hayi? Apa kamu lapar?"

"Eh, tidak," kataku yang berusaha menyangkalnya, tapi tiba-tiba perutku mengatakan hal lain.

"Hehe, ok deh, unni akan mengambil sarapan untukmu, karena saat ini setiap anggota sedang sarapan," kata Sooyoung-unni yang kemudian pergi.

"Ok, unni,"

Aku kemudian tetap berada di tempatku berbaring. Aku hanya bertanya-tanya kepada diriku sendiri tentang keberadaan Chanyeol-oppa. Aku mungkin sudah terlalu terbiasa dengan keberadaannya di pagi hari bersama denganku. Tapi, mungkin saja dia sedang melakukan hal lain. Kemudian Sooyoung-unni datang dengan semangkuk sarapan kepadaku, bersama dengan itu juga suara pintu terbuka terdengar.

"Ini makanannya, Hayi," kata Sooyoung-unni sambil memberikanku mangkok itu. Dia juga kemudian berjalan menuju pintu.

"Terima kasih, unni,"

Terlihat beberapa orang datang ke dalam ruangan itu. Aku dapat mengenal mereka semua. Hmm, mereka adalah Heeyoon, Namyoung, Jinan dan Jiyoung. Wajahku kembali berseri ketika melihat Chanyeol-oppa berada di sana melambaikan tangannya kepadaku. Mereka semua kemudian mendekat kepadaku dengan wajah yang sedikit sedih.

Jiyoung berusaha mendorong mereka ketika mereka semakin dekat denganku, "Cepat, minta maaf,"

Aku terkejut dengan kata-kata mereka, aku jadi tidak bisa melanjutkan makanku, "Ada apa?"

Mereka bertiga kemudian mendekat ke arahku dengan wajah penuh penyesalan. Dengan serentak mereka mengatakan, "Hayi! Kami benar-benar minta maaf! Kami sangat menyesal telah mendorongmu!" dan mereka bertiga langsung menundukkan wajah mereka kepadaku secara bersama-sama.

Entah kenapa aku merasa sedikit lucu melihat hal ini. Kemudian aku melihat Chanyeol-oppa yang hanya tersenyum kepadaku. Sepertinya aku tau aku harus melakukan apa kepada mereka semua. Jadi aku meletakkan mangkok di atas meja yang berada di sebelah tempat tidurku.

"Kalian bisa mengangkat wajah kalian," kataku sambil tersenyum.

Mereka kemudian mengangkat wajah mereka perlahan-lahan dan melihat ke arahku. Aku hanya bisa tersenyum kepada mereka semua, "Tentu saja, kalian semua aku maafkan. Aku juga tidak terlalu memikirkan kejadian itu. Setiap orang pasti bisa melakukan kesalahan. Hmm, jadi, kita berteman saja, ok? Mulai hari ini," aku kemudian mengulurkan tanganku kepada mereka semua.

Dengan serentak mereka bertiga langsung menangis dan memelukku. Yap, mereka memelukku dengan erat sambil mengatakan, "Huaaa, Hayi, terima kasih. Maafkan kami, Hayi! Kami juga ingin menjadi temanmu! Huaaa,"

Aku hanya bisa tersenyum kepada mereka, "Hehe, terima kasih juga,"

Kemudian aku menoleh dan melihat Chanyeol-oppa yang tersenyum kepadaku, dia juga memberikan kedua jempolnya kepadaku. Juga, aku melihat Sooyoung-unni yang mengepalkan tangannya sambil tersenyum. Juga Jiyoung yang terlihat menggelengkan kepalanya melihat kami semua.

Hari-hari yang penuh kebahagiaan ini akan selalu berlangsung dalam kehidupanku.