Hari ini, seperti biasa aku pergi ke sekolah, tapi kali ini ada yang berbeda dari biasanya. Aku akhirnya menjadi seorang anggota OSIS. Setelah dua hari perjuanganku selama masa latihan, aku berhasil menjadi anggota OSIS. Chanyeol-oppa juga yang membantuku menjadi anggota OSIS. Walau awalnya aku kelihatan tidak berniat melakukan ini semua, tapi sekarang aku dapat menemukan alasanku berada di OSIS. Aku akan membantu setiap orang.

"Hayi~~~!" aku dapat mendengar suara Minzy dari jauh. Tentu saja dia akan memanggilku, karena saat ini aku baru sampai di sekolah dan Minzy melihatku dari jauh. Sepertinya dia terlihat sangat senang melihatku di pagi hari. Tapi aku tidak terlalu, karena sepertinya aku harus menceritakan seluruhnya kepada Minzy.

"Selamat pagi, Minzy," kataku yang berjalan ke arahnya.

Dia semakin mendekat dan tersenyum kepadaku, "Selamat, kamu akhirnya menjadi anggota OSIS,"

"Hehehe, terima kasih, Minzy," kataku kepadanya.

Mungkin kalian tau, bahwa sekarang Chanyeol-oppa juga sedang terbang dengan sangat bersemangat di sebelahku. Dia kelihatan sangat bersemangat sejak dari rumah, juga seperti biasa dia akan mengatakan segala satu kepadaku. Namun, aku mengingat kejadian kemaren, dia sedikit membisu ketika kami pulang dari acara pelatihan. Mungkin, karena dia sangat khawatir terhadap keadaanku saat itu. Tapi, dalam beberapa jam dia langsung berubah sangat ceria. Dia memang sangat mudah merubah perasaannya.

Aku dan Minzy kemudian berjalan menuju ke kelas, karena dia berada di sampingku, aku tidak bisa berbicara dengan Chanyeol-oppa. Tapi, aku juga tidak merasa terganggu untuk tidak berbicara dengannya. Biarkan saja dia berbicara sampai puas dengan dirinya untuk saat ini.

"Hmm, jadi Hayi, kamu harus menceritakan seluruh cerita tentang kamu di pelatihan itu," kata Minzy dengan sangat bersemangat ketika kita berdua sampai di depan pintu kelas.

"Haa, ok, tapi lebih baik kita membicarakannya nanti ketika istirahat. Sekarang pelajaran akan dimulai," kataku sambil menarik napas sesaat dan melihat dia.

Minzy kemudian melihatku dengan sangat bersemangat, "Ok, jangan lupa janjimu, Hayi," dia berjalan masuk ke dalam kelas, kemudian ke tempat duduknya.

Aku juga melakukan hal yang sama, karena bel juga berbunyi di saat aku hendak masuk. Maka dari itu juga, aku memulai pembicaraanku bersama dengan Chanyeol-oppa sambil berjalan menuju tempat dudukku, "Oppa,"

Chanyeol-oppa kelihatan bersemangat ketika aku memanggilnya, "Ada apa, Hayi-ah?"

Aku yang sudah duduk di tempat dudukku langsung melihat ke arahnya, "Apa yang akan aku lakukan sebagai anggota OSIS, nanti?"

"Waah, untung Hayi menanyakannya. Tentu saja sebagai anggota OSIS, kamu akan melakukan banyak hal. Terutama kalian akan sering berkumpul, melakukan tugas dalam mengurus sekolah," dia melanjutkan kata-katanya dengan sangat bersemangat.

Aku hanya bisa melihat dia yang kelihatan bersemangat mengatakan semua hal itu. Bahkan dia berbicara terlalu cepat, sampai membuatku tidak bisa menangkap kata-katanya lagi. Ok, Oppa, kamu seharusnya sedikit relax, aku hanya menanyakan satu pertanyaan. Jadi, aku melihatnya, tapi aku memikirkan hal yang dari kata-katanya. Hanya satu hal yang kudengar, bahwa kita akan sering berkumpul. Untuk hal itu, kedengarannya tidak buruk.

"Begitulah hal-hal yang dilakukan oleh anggota OSIS, Hayi. Jadi, bagaimana menurutmu?" kata Chanyeol-oppa dengan mata yang kelihatan penuh dengan harapan bahwa aku akan mengatakan sesuatu seperti aku kagum kepadanya.

Tapi, bersamaan dengan selesai kata-kata darinya, guru masuk ke dalam kelas, "Hmm, tidak tau. Guru sudah datang, oppa, sebaiknya kita melanjutkannya nanti,"

"Apa? Hayi jahat," sekarang Chanyeol-oppa menunjukkan wajah yang cemberut kepadaku. Entah kenapa, aku merasa dia kelihatan imut dengan wajah seperti. Eh, tunggu sebentar, imut? Kenapa aku berpikir seperti itu, sekarang? Jeez, Hayi, sadarlah, Chanyeol-oppa pasti akan selalu gagal dalam membuat wajah yang imut.

"Kita bisa melanjutkan pembicaraan kita nanti, oppa," kataku sambil tersenyum kepadanya.

"Hmm, terserah," kata Chanyeol-oppa yang kelihatan kesal. Dia kemudian berjalan menjauh dari diriku dan terbang.

Mungkin harus kuakui, Chanyeol-oppa akan selalu kelihatan imut jika dia kesal seperti itu. Tapi, aku juga yakin, dalam beberapa menit, moodnya akan berubah. Dia akan kembali mengejar-ngejarku seperti biasa, karena itulah Chanyeol-oppa.


"Jadi begitulah, itu semua terjadi di saat pelatihan kemaren," kataku sambil menjelaskan semuanya kepada Minzy.

Sekarang kami sedang berada di kantin, menikmati makan kami. Dari sejak kami dikelas, aku sudah menceritakan semuanya kepada Minzy, dia juga kelihatan sedikit terkejut mendengar ceritaku. Terutama bagian aku jatuh dan tentu saja bagian dimana Baekhyun-oppa yang menolongku. Wajah Minzy kelihatan sangat bersemangat mendengar semua hal itu.

Juga, Chanyeol-oppa duduk di sebelahku sambil mendengar pembicaraan kami. Dia juga mendengarnya dengan seksama, terutama dia menambahkan beberapa cerita dari sisinya. Mungkin, aku bisa menceritakan semuanya dengan lengkap karena dia. Lucu juga kalau dia bisa melihat semua, ketika aku sedang tidak sadarkan diri.

"Jadi, Baekhyun-oppa benar-benar menolongmu?!" kata Minzy yang kelihatan terkejut.

Chanyeol-oppa malah membalasnya juga, "Iya! Baekhyun yang menolongnya," tapi oppa, dia tidak mungkin mendengarmu, apalagi melihatmu.

"Ssst, kamu tidak perlu terlalu keras, Minzy. Tapi, memang begitulah cerita yang aku dengar," kataku sambil mengambil sendok pertama dari makananku.

"Tapi, bukankah itu hal yang bagus, Hayi? Baekhyun adalah orang yang ganteng dan juga terkenal di sekolah. Kamu sangat beruntung," kata Minzy yang melihatku dengan wajah yang kelihatan senang.

Chanyeol-oppa kelihatan terkejut mendengar kata-katanya. Dia memberikan wajah yang sangat shock kepadaku. Kemudian dia kelihatan memelas dan mengatakan sesuatu dengan pelan, "Baekhyun memang ganteng, tapi kalau sama Hayi, aku..," ketika dia hendak melanjutkan kata-katanya, aku menoleh dan memberikannya tatapan mematikan. Aku juga menggerakan mulutku kepadanya tanpa ada suara, "Aku tidak ada perasaan apa-apa padanya," kemudian aku menoleh lagi melihat Minzy. Sepertinya Chanyeol-oppa sekarang lega tapi bercampur dengan perasaan takut.

"Sudahlah, Minzy," kataku yang juga tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Kemudian aku melanjutkan makanku bersama dengan dia. Aku sedikit melihat suasana kantin sesaat dan ketika aku menoleh. Aku melihat Jiyoung dari jauh, juga bersama teman-temannya yang lain sedang berjalan bersama dengan makanan mereka. Sepertinya salah satu dari mereka melihatku, mereka langsung berteriak.

"Hayi-ssi!"

Aku melihat mereka melambaikan tangan dengan bersemangat. Aku juga ikut melambaikan tanganku kepada mereka semua. Salah satu dari mereka, yaitu Heeyoon, berjalan mendekat ke arah kami dengan bersemangat. Dia langsung duduk di sebelahku, diikuti dengan teman yang lain.

"Hayi-ssi, kita bertemu lagi," kata Heeyoon sambil memberikan senyuman kepadaku.

Kemudian Namyoung melanjutkan kata-katanya, "Iya, terutama kamu sekarang menjadi anggota OSIS,"

"Iya,"

Secara bersama mereka kemudian menoleh dan melihat Minzy yang berada di depanku. Mereka semua kelihatan terkejut melihat Minzy berada di sana. Bahkan wajah mereka kelihatan sangat bersinar untuk melihat Minzy. Tentu saja, aku sedikit terkejut melihat mereka yang tiba-tiba seperti. Sekarang aku penasaran dengan apa yang terjadi sekarang ini. Jinan kemudian berdiri dari tempat dia duduk dan menunjuk Minzy.

"Kamu! Kamu adalah Minzy, kan?!" kata Jinan sambil menunjuk Minzy.

Minzy kelihatan terkejut melihatnya yang tiba-tiba menunjuknya, tapi dia hanya bisa membalas dengan perlahan, "Err, iya,"

Yap, mereka semua langsung terlihat sangat senang dengan Minzy. Dengan gerakan cepat mereka langsung berdiri dari tempat duduk mereka dan berjalan ke tempat Minzy. Mungkin, pemandangan ini terlihat sangat lucu bagiku sekarang, karena mata mereka sangat berbinar-binar melihat Minzy.

"Kamu.. kamu adalah sang dancing machine terkenal!" kata Namyoung dengan bersemangat.

"I-iya! Kami sangat tau tentangmu sejak SMP, Minzy," kata Heeyoon menambahkan.

Minzy kelihatan kebingungan melihat mereka semua, tapi dia berusaha untuk membalas kata-kata mereka satu persatu sambil tersenyum, "Haha, terima kasih. Aku tidak menyangka bahwa ada yang mengenalku sejak dulu," Minzy ternyata populer juga.

"Kami juga tidak menyangka bisa satu sekolah denganmu, Minzy," kata Jinan yang kelihatan sangat senang.

Mereka kemudian melanjutkan obrolan mereka, sementara aku hanya melihat pemandangan ini dengan wajah tertawa. Sekarang aku melihat ke arah Chanyeol-oppa yang sedang duduk di sebelah kiriku. Dia juga melihat pemandangan ini bersamaku.

"Kamu juga mempunyai teman yang populer, Hayi," Dia kemudian tersenyum setelah mengatakannya.

"Hehe, kamu benar, oppa. Aku juga mempunyai teman yang populer," Aku membalas kata-kata dengan suara yang sedikit pelan supaya tidak ada orang yang mendengarku.

Tiba-tiba Jiyoung langsung duduk di sebelah kananku dengan makanan yang berada di tangannya. Dia langsung mengambil roti, kemudian mengambil gigitan pertama. Sambil melakukan hal itu dia juga mengatakan, "Ternyata kamu punya teman seperti dia, Hayi," seperti biasanya Jiyoung selalu kelihatan cool dengan apa yang dia lakukan.

"Tentu saja," kataku sambil tersenyum.

Dia kemudian melanjutkan kata-katanya, "Aku senang kamu bisa memaafkan mereka, Hayi,"

Aku sedikit terkejut mendengar kata-katanya, kemudian aku menoleh ke arahnya dengan wajah bingung, "Eh, tentu saja aku pasti memaafkan, mereka, Jiyoung. Ada apa dengan hal itu?"

"Tidak, hanya saja walau mereka sudah sampai keterlaluan seperti itu, kamu masih bisa memaafkan mereka," kata Jiyoung yang melihat mereka semua sedang mengobrol dengan sangat senang.

"Mungkin, karena aku juga mengerti perasaan mereka, menyukai seseorang bisa membuat kita melakukan kesalahan besar," kataku. Entah kenapa aku dapat merasakan Chanyeol-oppa kelihatan sedih dengan kata-kataku. Aku juga ikut sedih dengan apa yang kukatakan, karena aku membuat dia yang sangat kusukai pergi. Tapi, hal itu tidak menjadi masalah sekarang, karena aku masih bersama dengan dia.

"Kau benar. Mereka selalu menyukai orang-orang tampan dan akhirnya melukai orang yang dekat dengan orang yang mereka puja. Walau sebenarnya mereka juga tidak jahat," kata Jiyoung yang kemudian mengambil minuman yang berada di sebelahnya.

"Sepertinya kamu sangat mengetahui mereka, Jiyoung. Bahkan mereka juga selalu bersama denganmu," kataku yang melihat ke arahnya.

Dia sedikit tertawa mendengar kata-kataku, dia mengatakan, "Hmph, mungkin kau benar," saat ini aku tidak mengerti maksud dari kata-katanya. Aku masih belum ada petunjuk untuk maksud dari apa yang dia katakan. Sepertinya, aku akan mendapatkan jawabannya nanti.

Heeyoon tiba-tiba berjalan ke arah kami dengan sangat ceria, dia mengatakan sesuatu, "Hayi, Jiyoung, kalian tau, Minzy berjanji kepada kami untuk memperlihatkan tariannya kepada kami semua,"

Aku langsung melihat Minzy dan mengatakan, "Benarkah itu, Minzy?"

Minzy melihatku dengan pandangan yang terlihat lelah, "Yap, karena mereka terlihat sangat tertarik untuk melihat diriku,"

"Juga, Minzy akan menari dengan sang dance machine yang terkenal!" kata Namyoung menambahkan.

Aku terkejut mendengarnya, "Siapa?"

"Kai," kata Minzy yang membalas kata-kata mereka.

"Kamu mengenalnya, Minzy?" tanyaku dengan bingung.

"Tidak, tapi aku pernah mendengar namanya sebelumnya," kata Minzy yang kelihatan ragu.

"Maka dari itu, kami semua akan membantu Minzy untuk bertemu dengan Kai," kata Jinan sambil tersenyum.

Well, Minzy akhirnya bisa bertemu dengan seseorang yang hampir sama hebatnya dengan dia dalam hal menari. Entah siapakah orang itu, aku sangatlah penasaran untuk mengetahuinya. Bersama dengan itu, suara bel terdengar, juga Jiyoung selesai memakan rotinya. Dia berdiri dan melihatku.

"Pulang sekolah, para anggota OSIS akan berkumpul di ruang OSIS. Jangan lupa, Hayi," kata Jiyoung yang kemudian berjalan.

"Tentu saja,"

Kemudian mereka berempat memutuskan untuk pergi lebih dulu. Walau kelihatannya tiga orang itu tidak ingin pergi dari Minzy. Setelah mereka pergi, aku dan Minzy memutuskan untuk kembali ke kelas, karena sepertinya kita akan telat. Tentunya kami tidak ingin dihukum oleh guru. Bersama dengan kami, Chanyeol-oppa juga ikut terbang di sampingku menuju ke kelas.

Sekarang kami mendapatkan penjelasan anggota OSIS. Baekhyun-oppa memberikan segala intruksi untuk kami semua. Juga, dia menjelaskan bagaimana cara kerja OSIS untuk selanjutnya. Tentu saja aku mendengarnya dengan seksama. Chanyeol-oppa yang berada di sebelahku membantu menjelaskan semua hal dari Baekhyun-oppa kepadaku. Aku merasa senang dia berada di sini menjelaskan semuanya kepadaku.

"Ok, begitulah cara kerja kalian semua menjadi anggota OSIS. Selanjutnya, kami akan memberikan buku untuk kalian masing-masing," kata Baekhyun-oppa sambil menyuruh beberapa orang memberikan setiap anggota baru buku. Dia melanjutkan penjelasannya, "Buku itu adalah buku panduan dan laporan bagi kalian masing-masing. Jadi catatan penting bisa kalian tuliskan di situ,"

Setelah menerima buku itu, aku membuka beberapa halaman. Semua benar-benar di tulis dengan baik dan rapi. Mungkin, inilah rasanya menjadi anggota OSIS. Kami akan disiplin dalam segala hal yang ada.

"Oh, ya. Pengumuman akan selalu diumumkan di papan depan ruang OSIS. Kalian bisa mengeceknya untuk pengumuman dari kami. Mungkin itu saja yang bisa kami jelaskan. Ada pertanyaan?" kata Baekhyun-oppa sambil melihat setiap orang. Tidak ada yang mengangkat tangan, mereka semua hanya mengangguk, sepertinya semua sudah mengerti dengan penjelasan dari Baekhyun-oppa.

Setelah selesai dengan penjelasan, seseorang maju ke depan sambil mengatakan, "Jika tidak ada pertanyaan, kalian bisa pergi, karena kami akan melakukan rapat,"

Kemudian satu persatu setiap orang pergi dari ruang OSIS. Ketika aku hendak pergi dari ruangan seseorang menahanku. Orang tersebut adalah Sooyoung-unni. Dia mengatakan sesuatu kepadaku, "Tunggu, Hayi, kamu tidak bisa pulang sendiri. Biar Baekhyun yang mengantarmu pulang,"

Aku sedikit terkejut mendengar kata-katanya, "Eh? Tapi, unni?"

Baekhyun kemudian mendekat, "Tidak apa-apa, Hayi. Kamu bisa menunggu di luar sebentar, aku akan datang sebentar lagi,"

"Eh, baiklah," aku tidak bisa menolak tawaran mereka sekarang. Niat mereka sebenarnya baik, jadi aku tidak perlu merasa aneh sekarang. Tapi, aku dan Chanyeol-oppa sama-sama kelihatan bingung dengan keadaan ini. Aneh! Kenapa Chanyeol-oppa juga ikut bingung? Bukankah dia biasanya senang temannya ingin mengantarku?

Jadi ketika kami sudah berada di luar, aku berbicara dengannya, "Ada apa, Chanyeol-oppa?"

"Eh! Tidak ada apa-apa, hanya saja.." dia kembali terdiam seperti anak perempuan yang ingin menyatakan cinta, dia benar-benar kelihatan ragu.

Aku jadi ingin menggoda dia yang seperti itu, "Kenapa? Apa kamu tidak senang aku pulang bersama Baekhyun-oppa?" aku kemudian melihat Chanyeol-oppa dengan wajah yang tersenyum.

Chanyeol-oppa kelihatan kaget mendengar kata-kataku, dia kelihatan malu juga, "Eh, tidak, tentu saja aku senang, Hayi, tapi.."

"Tapi, oppa cemburu kan?" kataku menggodanya.

"Ah, tidak sama sekali, oppa sangat senang kamu bisa pulang bersama dengan sahabat, oppa," dia kemudian mengambil langkah cepat dari hadapanku. Aku hanya bisa tertawa melihatnya. Aku berusaha berlari mengejarnya sekarang.

"Hahaha, Chanyeol-oppa, pabo,"

Tanpa aku sadari, Baekhyun-oppa ternyata sudah berada di belakangku. Aku mendengar suaranya dari belakang. Sungguh, kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah hal yang sangat takut untuk kudengar saat ini, "Kamu berbicara dengan siapa, Hayi?" Aku langsung menoleh dan melihat dia yang tepat berada di hadapanku sekarang. Sepertinya dia sudah melihatku sejak dari tadi. Aku tidak bisa berbicara apa-apa lagi, aku hanya menunjukkan wajah yang terkejut kepadanya.

"Tadi kamu bilang 'Chanyeol-oppa'?"

Chanyeol-oppa yang tiba-tiba berada di sebelahku mengatakan sesuatu, "Bagaimana ini, Hayi? Apa yang harus kamu lakukan?"

Ha, benar sekali, oppa. Apa yang harus kulakukan sekarang? Kata-katamu benar-benar sangat tidak membantuku, oppa. Aku kemudian menarik napas yang sangat panjang.