Chapter 11 – Dirasuki?

Wajah Baekhyun-oppa benar-benar kelihatan terkejut sekarang. Dia kelihatan tidak percaya dengan apa yang aku katakan barusan. Tentu saja, karena aku mengatakan sesuatu yang kedengarannya kasar, juga aku tidak mengatakannya. Semua terjadi dengan sendirinya, tubuhku bergerak bukan berdasarkan kemauaku. Aku hanya bisa bertanya-tanya kepada diriku sendiri.

"H-hayi, ada apa denganmu? Apa kamu benar-benar baik-baik saja?" tanya Baekhyun-oppa yang kelihatannya sangat terkejut dan mendekat ke arahku.

Iya, aku baik-baik saja, Baekhyun-oppa. Namun, aku tidak bisa mengatakan apa-apa, tubuhku ini bergerak dengan sendirinya. Aku tidak mungkin mengatakan hal seperti itu. Ini bukanlah diriku, semuanya seakan-akan seseorang berada dalam tubuhku sekarang.

Mulutku terus melanjutkan kata-kata yang kedengaran kasar, "Aku baik-baik saja. Tidak ada yang salah kepadaku, yang salah ada pada dirimu,"

Wait, what?! Aku tidak boleh mengatakan hal seperti itu, itu terdengar kasar. Apakah mungkin aku sedang dirasuki oleh jiwa lain selain diriku? Mungkingkah? Eh, tunggu, Chanyeol-oppa tidak ada di sekitar sini, seharusnya dia melayang-layang di sekitar kami dan memberikan komenter. Seperti yang biasanya dia lakukan jika ada suatu hal yang sedang terjadi. Namun, itu terdengar tidak mungkin untuk terjadi di kehidupan ini. Huh? Aku? Dirasuki? No, no, it can't be. Mungkin ini semua hanya khayalanku semata.

Iya, benar sekali, mungkin saja tadi aku sedang pingsan dan mengalami sebuah mimpi yang aneh. Itu mungkin saja, karena tadi aku terjatuh dan merasakan sesuatu terjadi kepada diriku. Jadi, aku harus membuka mataku supaya bisa bangun dari mimpi ini dan dapat melihat kembali Chanyeol-oppa. Yap, aku membuka mataku perlahan-lahan dan berharap aku sudah berada dalam diriku sendiri.

Aku membuka mataku perlahan-lahan dan melihat aku yang berada di depan TV bersama dengan Sooyoung-unni. Ah, sepertinya aku sudah bangun dari mimpiku sendiri. Sebaiknya aku berdiri dan mencuci mataku sebentar. Tapi, sayangnya aku tidak bisa mengontrol tubuhku. Aku mulai bergerak sendiri, berdiri dari tempat aku duduk. Jadi, ini semua bukanlah mimpi, aku benar-benar tidak bisa menggerakannya. Ah, aku hanya bisa menghela napas yang panjang dengan hal ini. Aku hanya bisa menunggu sampai aku kembali menjadi diriku.

Tidak beberapa lama kemudian, Baekhyun-oppa dan Sooyoung-unni memutuskan untuk pergi dari rumah. Aku yang sekarang ini terlihat ceria di depan Sooyoung-unni, tapi terlihat dingin di depan Baekhyun-oppa. Entah kenapa, aku semakin terlihat seperti Chanyeol-oppa. Apakah dia yang sebenarnya berada di dalam diriku?

Kemudian, Sooyoung-unni berjalan menuju ke depan pintu sambil tersenyum, "Ah, saatnya kita untuk pergi, Hayi, terima kasih sudah mau menyambut kami,"

Aku sepertinya tersenyum dengan lebar kepada Sooyoung-unni, "Hehe, sama-sama, unni. Jangan sungkan untuk datang lagi, aku pasti akan selalu menyambut,"

Sooyoung-unni mengambil langkah pergi, tapi Baekhyun-oppa masih tetap berada di depanku dengan wajah yang kelihata serius, "Hayi, aku benar-benar minta maaf untuk hal tadi. Aku berjanji untuk tidak mengatakannya lagi,"

Eh, kenapa dia sekarang minta maaf kepadaku? Kamu tidak melakukan kesalahan apa-apa Baekhyun-oppa. Aku sebenarnya ingin mengatakan tersebut, tapi kenapa diriku malah mengatakan hal yang kasar lagi, "Hmph, whatever," kemudian aku menutup pintu rumah perlahan-lahan, meninggalkan wajah Baekhyun-oppa yang masih terlihat terkejut. Sekarang, aku menjadi sendirian saja di dalam rumah.

Tiba-tiba, aku merasakan sesuatu mulai keluar dari tubuhku. Aku dapat merasakan tubuhku tiba-tiba terasa melayang, dan tubuhku mulai bercahaya. Aku kembali sadar, dan akhirnya aku bisa menggerakan tubuhku sendiri. Sekarang, aku dapat menggerakan tubuhku sesuai dengan keinginanku. Lalu, aku menoleh dan melihat Chanyeol-oppa yang sudah terbang ke arahku.
"C-chanyeol-oppa! J-jadi..." kataku yang kelihatan luar biasa terkejut dengan semua ini.

Dia hanya terdiam di depanku sambil menganggukkan kepalanya, seakan-akan aku sudah menanyakannya sesuatu. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku hanya bisa melihatnya dengan pandanga terkejut. Aku tidak percaya ternyata dugaanku yang sebelumnya memang benar. Dia telah merasuki tubuhku dan mengambil kontrol darinya. Argh, aku benar-benar kesal dengan dia sekarang, bagaimana dia tiba-tiba melakukan hal seperti itu, huh?

Aku melihatnya dengan wajah yang luar biasa kesal, "Oppa! Bagaimana bisa melakukan hal seperti itu, huh? Kamu bahkan mengatakan sesuatu yang kasar kepada Baekhyun-oppa!"

Chanyeol-oppa terlihat terkejut, dan berusaha untuk meminta maaf kepadaku, "Maafkan aku, Hayi. Aku hanya ingin melindungimu, supaya dia tidak mencurigaimu,"

Huh? yang benar saja, melindungiku? Kamu malah membuatku semakin terpojok Chanyeol-oppa. Aku kemudian berteriak dengan keras kepadanya, "Kenapa kamu harus selalu melakukan hal bodoh, huh?!" Aku kemudian berlari dengan cepat menuju kamarku. Aku tidak peduli lagi dengannya, dia telah membuatku malu di depan teman baiknya sendiri.

Aku membuka pintu kamarku dan masuk ke dalam. Dari luar aku dapat mendengar dia yang memanggilku, "Hayi! Hayi! Tolong dengarkan aku, Hayi!"

Aku berusaha mengunci pintu rumahku. Namun, sepertinya aku salah, dia adalah hantu, dia bisa melewati tembok rumah ini, dan dia melakukannya. Dia masuk ke dalam kamarku dengan menunjukkan wajah bodohnya. Ah, bahkan aku lebih terlihat bodoh dengan mengunci kamarku dari sebuah hantu yang bergentayangan. Aku tidak ingin melihatnya saat ini, karena aku benar-benar kesal. Jadi, aku langsung membaringkan tubuhku ke atas tempat tidur dengan wajahku menghadap bantal.

Dia datang mendekat dengan suara yang pelan, "Hayi, tolong, tolong dengarkan penjelasanku untuk sebentar,"

Aku tidak mengangkat wajahku, aku hanya membalas kata-katanya dengan nada kesal, "Tidak bisakah kau tidak menganggu sebentar, huh?! Kamu bahkan sudah menghancurkan imageku! Aku capek, oppa. Aku capek!"

"Baiklah, kalau kamu memang ingin sendirian, Hayi. Aku akan pergi," dia kemudian pergi meninggalkanku sendiri di kamarku.

Akhirnya, tidak ada yang mengangguku lagi, aku hanya berteriak terhadap bantalku sendiri sambil mengatakan, "Oppa, pabo!"

Aku masih merasa kesal dengan apa yang terjadi kemaren, tapi dia malah tidak merasa bersalah sama sekali. Dia masih bisa tersenyum dengan penuh kebahagiaan di pagi hari. Bagaimana dia bisa bersemangat setelah melakukan hal itu? Aku sendiri bahkan tidak berani untuk pergi ke sekolah, karena aku akan menemui Baekhyun-oppa di sana. Hari ini aku akan tidak memperdulikan Chanyeol-oppa, supaya dia belajar dari apa yang telah dia lakukan.

Aku sudah memakai seragam sekolahku dan berjalan menuju dapur. Dia juga sudah berada di sebelahku sambil terus berisik, "Hayi, selamat pagi. Apa kamu masih marah kepadaku?"

Apa dia bodoh, huh? Aku tentu saja masih marah dengan kejadian kemaren. Aku tetap tidak memperdulikannya dan langsung duduk di meja makan. Namun, sepertinya dia tidak menyerah untuk terus meminta maaf kepadaku. Rasanya seperti ada orang yang bernyanyi tepat di telingamu seharian, dia benar-benar berisik. Ah, aku jadi tidak bisa menikmati sarapanku di pagi hari.

"Hayi, oppa benar-benar minta maaf. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Jadi, jangan mengacangi aku terus, Hayi-ah," dia terus memelas di sebelahku.

Ok, cukup, aku sudah tidak bisa menikmati makanan yang sebenarnya enak ini. Jadi, aku langsung menghentakkan sendokku dan membuat Chanyeol-oppa terkejut. Aku langsung berdiri dari tempat aku duduk, dan meminum segelas air. Aku mengambil tasku dan segera berjalan keluar dari dapur. Aku melihat ibuku yang berada di luar, dia terkejut melihatku yang sudah selesai.

"Mama, aku pergi dulu," kataku yang berjalan menuju ke depan.

"Oh, baiklah," kata mamaku. Dia kemudian melihat ke arah dapur sebentar, dan melihat makanank yang belum habis. Jadi, dia langsung memanggilku lagi, "Hayi, kamu belum menyelesaikan makananmu,"

Dari jauh aku berteriak, "Tidak apa-apa, aku sedang tidak ingin makan banyak,"

Aku kemudian memakai sepatu dan berdiri dari tempat aku duduk. Aku dapat melihat Chanyeol-oppa yang berada di depan pintu dengan wajah memelas. Aku sedikit kesal melihat dia yang seperti itu, dan aku langsung melewati tubuhnya. Aku terus memberikan tatapan yang mengerikan kepadanya saat ini. Aku berjalan menuju sekolah bersama dengan dia yang berada di sebelahku seperti biasanya.

Ah, kenapa aku harus berangkat ke sekolah bersama orang ini dengan keadaan seperti ini? Benar-benar menyebalkan.

Aku berharap seharian ini aku tidak bertemu dengan Baekhyun-oppa, karena dia pasti akan melihatku dengan aneh. Namun, tetap saja aku ingin sekali minta maaf dengan kejadian kemaren, karena aku mengatakan sesuatu yang sedikit kasar kepadanya.

"Hayi-ah... Hayi-ah. Maafkanlah oppa," dia sekarang bernyanyi dengan suaranya yang luar biasa rendah.

"Argh, oppa. Stop it, can't you?!" kataku yang sekarang berhenti berjalan. Ok, aku sudah cukup untuk medengar dia minta maaf. Aku tidak ingin dia terus mengatakannya sampai aku di sekolah nant. Lagipula, di tempat ini tidak terlalu banyak orang, jadi aku bisa sedikit bebas untuk berbicara dengan orang bodoh ini sekarang.

"Akhirnya, Hayi mau berbicara denganku, terima kasih, Hayi," kata Chanyeol-oppa dengan wajah yang terlihat penuh kebahagiaan. Aku tidak percaya dia masih bisa tersenyum dengan bahagia walau aku masih marah kepadanya.

"Jeez, whatever. Aku sudah capek mendengar suaramu. Kamu sebaiknya berhenti atau aku tidak akan pernah memaafkanmu lagi," kataku sambil menunjuknya dengan penuh kesal.

Dia kelihatan terkejut, "Jangan begitu, Hayi. Oppa akan berhenti, supaya Hayi bisa memaafkanku,"

"Aaah.. Finally," kataku yang sekarang berjalan menuju sekolah lagi.

Dia kemudian mengejarku, "Jadi, Hayi, apa yang akan kamu lakukan tentang Baekhyun nanti?"

"Tidak tau, pokoknya semua ini adalah salahmu, oppa. Kamu harus bertanggung jawab," kataku yang tidak ingin melihat wajahnya.

"Tapi, Hayi, oppa tidak bisa melakukan apa-apa. Hmm, bagaimana kalau aku masuk ke dalammu lagi dan membantumu untuk minta maaf?" kata Chanyeol-oppa yang memberikan ide yang benar-benar bodoh.

Aku langsung berhenti dan melihatnya lagi, "Jangan kau berani-berani melakukannya lagi, Chanyeol-oppa! Cukup sekali saja!"

Dia langsung kelihatan takut mendengar kata-kataku dan berusaha meminta maaf, "Tidak, tidak, aku tidak akan melakukannya lagi, Hayi. Jadi jangan marah,"

"Jeez, kenapa kita bisa berangkat ke sekolah seperti biasa, huh?" kataku sambil menggerutu sendiri.

"Kalau kau memaafkanku lebih dulu, kita tidak perlu melalui ini, Hayi, benarkan?" dia mengatakannya dengan percaya diri.

What? Yang benar saja, oppa, kalau kamu tidak merasuki lebih dulu, maka kita tidak perlu melewati pagi yang seperti ini, kau tahu itu? Ah, sepertinya kehidupanku dengan dia tidak akan pernah tenang, pasti ada saja yang akan dia lakukan terhadapku. Memang susah untuk mempunyai kakak seperti Chanyeol-oppa, dia benar-benar terlalu aktif dimana saja.

Aku kembali menjalani aktifitasku seperti biasa sebagai seorang murid, dan juga anggota OSIS. Waktunya untuk istirahat, semua murid sekarang sedang berlari menuju kantin. Aku juga sekarang pergi ke kantin bersama Minzy, dan tentu saja Chanyeol-oppa juga sedang bersamaku dengan wajahnya yang bahagia. Aku dapat melihat antrian yang panjang dari para murid.

"Wah, sepertinya kita harus mengantri, Minzy," kataku sambil menghela napasku.

"Bukankah kita selalu melakukannya setiap hari, Hayi-ah?" kata Minzy sambil menggelengkan kepalanya kepadaku.

"Yap, kamu benar, hampir setiap hari," kataku yang kemudian berjalan menuju antrian makanan yang berada di kantin.

Aku dan Minzy kemudian berjalan menuju antrian. Aku dapat melihat setiap orang hendak membeli makanan untuk mereka sendiri. Sementara dari jauh, aku dapat melihat Sooyoung-unni yang berjalan mendekat. Dia sepertinya sedang mencari seseorang di sini. Dan, dugaanku benar, Sooyoung-unni kemudian berjalan mendekat ke arahku.

"Sooyoung-unni, ada apa?" tanyaku kepadanya yang terlihat membawa sesuatu di tangannya.

"Aku sedang mencari orang untuk membantuku, aku memiliki tugas lain untuk dilakukan, tapi aku juga harus melakukan sesuatu di OSIS," kata Sooyoung-unni sambil menjelaskannya kepadaku.

"Mungkin aku bisa membantumu, Sooyoung-unni," kataku sambil tersenyum.

"Tapi, kamu-,"

"Tidak apa-apa, unni, Minzy bisa membantuku mengantri sekarang," kataku sambil melihat ke arah Minzy yang berada di sampingku.

"Baiklah, aku minta tolong ya, Hayi. Aku benar-benar harus melakukan hal lain sekarang. Jadi, bisakah kamu membawa semua ini ke ruang OSIS?" kata Sooyoung-unni sambil memberikan tas yang berisi kertas kepadaku.

"Baiklah," aku kemudian mengambil tas itu dari tangannya.

"Terima kasih banyak, Hayi. Aku harus pergi sekarang, see you," Sooyoung-unni kemudian langsung berlari menuju suatu tempat. Dia sepertinya kelihatan terburu-buru sekali.

Minzy kemudian bertanya kepadaku, "Jadi, kamu akan pergi ke ruang OSIS sekarang, Hayi?"

"Iya, karena aku harus langsung memberikan dokumen ini. Jadi, apa kamu bisa membelikan bagianku juga, Minzy?" tanyaku kepadanya.

"Ok,"

"Baiklah, aku pergi dulu," aku kemudian berjalan pergi dari Minzy. Aku sekarang berjalan menuju ruang OSIS, bersama dengan Chanyeol-oppa yang juga ikut berjalan bersamaku.

"Adikku memang baik sekali," kata Chanyeol-oppa dengan bangga di sebelahku.

Ah, memang dia akan selalu menjadi pemberi komentar bagi setiap kegiatanku. Aku tidak membalasnya untuk saat ini, karena dia pasti akan semakin aktif berbicara denganku. Jadi, aku berjalan dengan tas yang sedang kubawa menuju ruang OSIS. Sesampainya di depan ruang OSIS, aku langsung membuka pintunya dan terkejut dengan apa yang aku lihat saat ini. Aku dapat melihat Baekhyun-oppa yang sedang melakukan sesuatu.

Dia langsung mengangkat wajahnya ketika aku membuka pintu ini, aku terkejut dan langsung salah tingkah, "Ah, Sooyoung..." dia terdiam sejenak ketika menyadari bahwa yang dia lihat adalah aku, "Ah, aku kira tadi Sooyoung, ternyata kamu, Hayi. Jadi, apa ada yang bisa aku bantu?"

Dengan suara yang terdengar ragu aku mengatakan sesuatu sambil menunjukkan tas yang berada di tanganku, "Err, Sooyoung-unni menitipkan ini kepadaku. Dia menyuruhku membawanya kemari karena dia sedang terburu-buru,"

"Oh, ok, bawalah kemari," kata Baekhyun-oppa sambil menyuruhku mendekatinya.

Aku sedikit ragu untuk berjalan mendekatinya, karena aku masih merasa malu dengan kejadian kemaren. Aku berjalan mendekat, dan memberikan tas itu kepadanya. Aku terus melihat ke bawa setelah dia mengambilnya. Sementara dia langsung mengambil beberapa kertas dari tas itu. Aku sedikit ragu untuk mengatakan sesuatu, dan hanya terpaku di sampingnya.

Chanyeol-oppa langsung mengatakan sesuatu, "Ini adalah waktu yang tepat, Hayi. Kamu bisa meminta maaf dengannya sekarang,"

Ah, sebenarnya aku juga ingin minta maaf, tapi yang telah membuat masalah ini adalah kamu, Chanyeol-oppa. Harusnya kamu yang meminta maaf kepadanya, kenapa kamu malah menyuruhku meminta maaf atas kesalahanmu sendiri? Ah, biarlah, aku juga tidak ingin menyimpan perasaan tidak enak ini terus dalam hatiku.

Dengan sedikit menarik napas aku mengatakan sesuatu perlahan-lahan, "Eh, Baekhyun-oppa, aku ingin minta maaf kepadamu tentang kejadian kemaren,"

Ketika aku mengatakan itu, Baekhyun-oppa langsung berhenti melakukan apa yang dia lakukan dan melihat ke arahku, "Tidak apa-apa, Hayi. Aku juga salah telah menuduhmu,"

Aku memberanikan diriku untuk melihat ke atas dan aku dapat melihatnya yang tersenyum kepadaku, "Terima kasih, Baekhyun-oppa,"

Chanyeol-oppa juga sekarang berada di sebelahku dan melihatku dengan wajah yang yakin. Setidaknya sekarang aku bisa bernapas lega, Baekhyun-oppa tidak membenciku karena kejadian kemaren. Namun, tetap saja, Chanyeol-oppa sudah melakukan hal yang salah. Dia selalu membuatku melakukan yang tidak pernah kulakukan sebelumnya. Mungkin, bisa dibilang, Chanyeol-oppa perlahan-lahan mengenalkanku dengan dunianya yang cerah.

*Author's POV

Hayi sekarang sedang tertidur dengan lelap. Sementara Chanyeol masih bangun dan terus berada di sekitar Hayi. Dia masih ragu untuk melakukan sesuatu. Dia terus mondar-mandir sejak dari tadi, karena dia masih tidak berani untuk melakukannya. Namun, dia harus melakukannya karena temannya sudah curiga dengan Hayi. Jadi, sambil melihat jam yang terus berjalan, Chanyeol memutuskan untuk melakukannya.

"Maafkan oppa, Hayi. Hanya hari ini saja," Dia kemudian masuk ke dalam tubuh Hayi yang sedang tertidur.

Tentu saja Hayi tidak sadar sama sekali, jadi Chanyeol bisa dengan mudahnya merasuki tubuh Hayi. Sekarang mata Hayi terbuka perlahan-lahan dengan Chanyeol yang berada di dalamnya. Semoga saja Hayi tidak terbangun dan menyadari hal ini, karena Chanyeol pasti akan sangat dimarahi oleh Hayi.

"Yosh, aku sudah berhasil masuk ke dalam tubuhnya, sekarang saatnya berjalan keluar dari rumah," kata Chanyeol yang berada dalam tubuh Hayi.

Chanyeol mengambil jaket yang berada di atas kursi dan memakainya. Dia membawa tubuh Hayi perlahan-lahan melewati pintu belakang rumah, dan dia tidak lupa untuk mengunci pintu kamarnya terlebih dahulu. Tentu saja dia berhasil keluar dari rumah tanpa diketahui oleh orang tuanya.

"Ayah, ibu, maafkan aku, aku akan membawa Hayi jalan-jalan," kata Chanyeol sambil melihat rumahnya dari jauh.

Chanyeol kemudian berjalan menuju taman yang tidak jauh dari rumahnya. Dia tau sekali seseorang pasti akan sering pergi ke taman itu, orang tersebut tidak lain adalah teman dekatnya, Baekhyun. Mereka berdua dulu sering sekali bertemu di taman itu, sambil mengobrol. Chanyeol kemudian berjalan mendekat dengan tubuh Hayi, dan melihat Baekhyun yang berada di atas ayunan. Bahkan, Baekhyun langsung menoleh dan terkejut melihat Hayi yang sedang berjalan ke arahnya.

Dengan wajah yang terkejut Baekhyun mengatakan sesuatu, "H-Hayi...?"

Chanyeol yang berada di dalam tubuh Hayi menggelengkan kepalanya, "Bukan, ini aku, Baekhyun,"

"Chanyeol.."