Disclaimer :

Naruto : Masashi Kishimoto

Selamat membaca semuanya





Hari ini cuaca di luar terlihat cerah, matahari pun bersinar dengan indah tak ada tanda-tanda akan turun hujan atau awan mendung datang menyapa.
Juga tidak ada hal aneh atau istimewa terjadi menurut semuanya terlihat sama seperti hari-hari biasanya.

Namun hari ini sedikit berbeda karena Hinata Hyuga, sang karakter utama perempuan dalam kisah ini, berencana pergi ke museum sejarah di pusat kota untuk berjalan-jalan sekaligus menambah ilmu pengetahuan mengenai sejarah terlebih gratis karena kebetulan kemarin dia mendapatkan tiket masuk museum sejarah dari teman sekelasnya, Yamanaka Ino.

Susana di dalam bus mulai ramai bahkan kini beberapa anak perempuan berwajah cantik serta berpenampilan manis layaknya remaja pada umumnya duduk di sebelah Hinata setelah beberapa menit lalu duduk sendirian di kursi bagian belakang.

"Lihatlah, kemarin aku di belikan cincin oleh Kazuki-kun," pamer gadis manis yang duduk tepat di samping Hinata memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manis.

"Wah!" Seru gadis cantik bersurai cokelat panjang menatap kagum sekaligus iri cincin tersebut.

"Pasti ini cincin berlian," timpal salah satu teman dari gerombolan gadis tersebut menambah perasaan bangga gadis yang memamerkan cincinya.

"Tentu saja, karena Kazuki-kun anak orang kaya, jadi membelikan aku sebuah cincin berlian bukanlah masalah besar," sahutnya penuh bangga menceritakan background keluarga sang kekasih pada teman-temannya.

"Enaknya punya pacar kaya! Kami jadi iri padamu, Momoko!" Seru keduanya bersaman dipenuhi rasa iri.

Ketiga gadis remaja ini sibuk membicarakan cincin milik Momoko, gadis yang duduk di sebelah Hinata. Dimana ketiganya begitu berisik sekaligus mengganggu waktu membaca buku Hinata namun apa daya disini tempat umum membuat Hanya tak bisa berbuat apapun selain menutup kedua kupingnya dengan headset, mendengarkan lagu daripada ocehan para gadis tersebut yang sebenarnya membuat kuping serta hati panas.

Jujur saja selain merasa terganggu sebenarnya Hinata iri sekaligus cemburu ingin juga memiliki seorang kekasih dan mengalami kisah cinta sepeti teman-temannya yang lain. Tapi sepertinya Tuhan belum menemukan seseorang yang baik serta cocok untuknya jadi tetap membiarkan dia sendiri di usia yang sudah menginjak kepala dua ini.

Butuh waktu satu jam menaiki bus agar sampai ke museum sejarah di pusat kota. Ketika tiba di sana suasana museum cukup ramai di penuhi para murid sekolah karena memang tempat ini salah satu sarana edukasi untuk para pelajar mengenal sejarah dunia khususnya sejarah Bangsa sendiri.

Ini bukan pertama kalinya Hinata datang ke museum namun tetap saja dia merasa senang sekaligus bersemangat untuk mengelilingi seluruh museum walau sendirian menghabiskan waktu liburnya disini.

Ditempat ini banyak terdapat benda-benda bersejarah dari berbagai belahan dunia, satu persatu Hinata melihat benda-benda tersebut dan membaca setiap keterangan yang tertulis guna mengetahui sejarah dari benda tersebut.

Sampai langkah kakinya tiba di sebuah lukisan besar nan indah.

King of Darkness, itulah yang tertulis di bawah lukisan besar seorang pria tampan bersurai hitam legam dengan kedua sayap di punggung berwarna hitam pekat sepekat malam dengan mata terpejam erat menyembunyikan netra indahnya.

Lukisan kuno ini sudah berusia ribuan tahun hasil karya seorang Pendeta terkenal di masanya. Belum ada sebulan lukisan ini berada di museum namun sudah mencuri banyak perhatian orang-orang khususnya para pecinta sejarah sebab nilai lukisan ini sungguh fantastis jika dijual.

Mata Hinata memandang intens lukisan tersebut seolah dia mengenali sosok dalam lukisan tersebut hingga tanpa sadar kakinya berjalan mendekat, melewati pagar pembatas yang terpasang karena terdapat tulisan yang di cetak tebal 'Dilarang menyentuh lukisan!' tapi sepertinya Hinata tanpa sadar melanggar larangan tersebut seolah dirinya tersihir sesuatu.

Tangan Hinata langsung menyentuh lembut wajah pria dalam lukisan, ketika menyentuhnya ada perasaan aneh bergejolak di hati.

Lalu saat tangan Hinata tepat berada digambar bibir tiba-tiba jarinya tergores sesuatu hingga mengeluarkan setetes darah dari ujung jari telunjuk.

"Akh!" Rintihnya sakit.

Reflek Hinata langsung memasukkan jarinya ke dalam mulut dan segera beranjak pergi karena tersadar sudah berada di depan lukisan, padahal seingatnya tadi dia hanya berniat melihat saja. Beruntung tidak ada orang yang lewat maupun petugas museum membuat aksi Hinata tidak ketahui sama sekali oleh orang lain dimana hal itu bisa membuatnya terlibat dalam masalah.

Walau hari masih sore tapi Hinata buru-buru menyudahi acara keliling museum dan pergi ke tempat lain karena merasa ada sesuatu hal aneh sekaligus mengerikan jika terus berlama-lama disini.

Benar saja dugaan Hinata karena tanpa di sadari oleh siapapun termasuk Hinata sendiri kalau setetes darah menempel tepat pada gambar dibibir pria tersebut. Perlahan-lahan mata pria dalam lukisan yang terpejam terbuka menampilkan kedua iris semerah darah dengan tiga tomoe di tengahnya, seolah sosoknya hidup.

Bersambung