"Our Little Angel: Absolute Magic"
Disclaimer: Hiro Mishima
Pairing: Natsu/Lucy
Summary: Seorang gadis kecil mendatangi Fairy Tail untuk menemui ayahnya. Orang-orang Fairy Tail terkejut mengetahui siapa ayah dan ibu sang gadis kecil tersebut. Dan dimulailah kisah Ayah-anak tersebut untuk mencari keberadaan sang ibu yang telah menghilang
.
.
Chapter 2: Luna Dragneel
"Nah, Luna, mulai sekarang kau akan tinggal bersama Ayah disini," kata Natsu sembari memamerkan senyum tiga jarinya.
Luna terdiam agak lama. Natsu heran dibuatnya. "Ayah, bukannya Ayah tinggal dengan Exceed bernama Happy? Kata Ibu, Ayah dan Happy tidak pernah bisa dipisahkan, tapi aku belum melihat Happy daritadi."
Natsu tersenyum lembut. "Lucy menceritakannya ya?" Luna mengangguk. "Saat ini Happy sedang mengunjungi Exceed yang lainnya bersama Charla dan Lily. Tenang saja, nanti kau juga akan bertemu dengannya."
Keduanya memasuki rumah Natsu dan Happy—oh, tentunya akan menjadi rumah Luna. Kalau mereka bisa menemukan Lucy, rumah itu akan menjadi rumah kecil keluarga Dragneel.
"Ngomong-ngomong, Luna, apakah kamu yakin untuk menjadi anggota Fairy Tail?" tanya Natsu sambil mencari teh di dapurnya.
"Tidak masalah, Ayah. Dengan aku menjadi anggota guild, bukankah akan lebih mudah untuk mencari Ibu? Semakin cepat kita menemukan Ibu, semakin cepat kita akan tinggal bersama lagi. Benarkan, Ayah?"
Natsu tertegun. Senyuman yang diperlihatkan oleh anaknya itu benar-benar mirip dengan senyuman istrinya—ups, sepertinya memang seharusnya dikatakan istrinya, karena sebelum Lucy menghilang, Natsu memang ingin melamarnya.
Natsu lalu menarik putri satu-satunya ke dalam pelukannya. Ia menangis saat memeluk Luna. Luna sendiri… well, dia bingung harus bagaimana.
"A-ayah?"
"Aku berharap kita akan berkumpul kembali. Kita akan kembali menjadi sebuah keluarga yang utuh." Natsu melepaskan pelukannya.
Luna terdiam, tapi tiba-tiba saja airmatanya menetes. Terharu mungkin? Lain dengan Natsu. Ia kelimpungan saat melihat Luna menangis. Ia tak tahu harus bagaimana saat ada anak kecil menangis. Yaah… jangan lupa kalau Natsu adalah orang yang bertindak dengan apinya.
"L-Luna… ada apa? Apakah kau tidak suka bila kita tinggal bersama? Kalau kau tidak suka, Ayah tidak akan memaksa."
Luna cepat-cepat menggeleng. "Bukan, Ayah… aku hanya terharu. Sudah lama aku menginginkan kita bertiga bersama-sama. Menikmati pagi bersama, bermain di pantai saat siang hari, atau bersantai di padang rumput di sore hari. Aku hanya… hanya…"
Natsu langsung saja berdiri sembari menggendong Luna dan menumpukannya di tangan kirinya, lalu tangan kanannya berada di punggung Luna, menjaganya agar tidak jatuh. Natsu tersenyum lembut saat iris kelamnya bertubrukan dengan iris kecoklatan Luna.
"Ayah akan pastikan itu bukan menjadi impianmu semata. Ayah akan menjadikan semuanya nyata. Jadi kalau Luna ingin sesuatu, jangan dipendam ya? Ayah akan berusaha mewujudkannya," ucap Natsu sambil tersenyum lima jari.
Luna mengangguk lalu tersenyum manis. Tapi tiba-tiba saja wajahnya jadi muram. "Ayaaaah, jangan gendong aku seperti ini! Aku sudah bukan anak keciiil!"
Natsu malah semakin memeluk Luna. "Bagi Ayah, Luna masih seperti anak kecil. Selamanya akan menjadi anak Ayah."
Luna menggembungkan pipinya kesal. "Kalau selamanya Luna seperti anak kecil, Luna nggak bisa menikah dong, Ayaaah."
"Kau pasti bisa menikah, Luna. Mana mungkin tak ada seorang laki-laki yang tertarik padamu. Luna kan sangat manis dan cantik. Mirip sekali dengan ibumu."
"Kalau begitu.. Kalau ada laki-laki yang menyukaiku, apa Ayah membolehkan Luna untuk menjalin hubungan—pacaran—dengan laki-laki itu?"
Terdiam sebentar. "Tetap tidak."
"Kenapaaa?!"
"Bagaimanapun juga, Ayah harus tahu seperti apa laki-laki itu. Kalau nantinya ia malah melukaimu, Ayah berjanji siapapun dia, Ayah akan menghajarnya."
Luna sweatdrop. Sepertinya Ayahnya baru saja terkena penyakit mematikan. Daughter Complex-_-
Seakan tersadar akan sesuatu, Natsu menyentil dahi Luna. Refleks Luna menutup matanya dan mengaduh kesakitan. Daaan, di dahi Luna jadi ada ruam kemerahan, bekas sentilan 'maut' Natsu.
"Ayaaah, kenapa menyentilku?"
"Kau ini baru berumur 8 tahun. Kenapa kita malah membicarakan hal seperti ini? Terlebih kau menanggapi obrolan ini dengan santai." Mata tajam Natsu menyipit. "Jangan bilang, Lucy selalu membicarakan hal seperti ini sedari kamu kecil?"
Luna semakin sweatdrop. Ayahnya...malah menyalahkan ibunya.
"Tidak mungkinlah. Ibu tidak pernah membicarakan hal seperti ini pada Luna. Luna sendiri sering baca cerita-cerita di perpustakaan."
"Ooh..."
Selesai? Tentu saja tidak.
.
Ayah-anak Dragneel itu akhirnya bersantai dengan memakan makanan api(?) dan juga menikmati teh sore. Sampai tiba-tiba pintu rumah terbuka dan seekor kucing berbulu biru muncul dari balik pintu.
"Natsuuuuu! Aku mendapatkan berita yang sangat gawaaaat!"
"Oh, Happy, selamat datang," sapa Natsu dengan mengangkat tangan kirinya.
"Ini benar-benar gawat, Natsu! Aku men—" Happy berhenti berkata dan melihat seseorang selain Natsu di rumah mereka. "Whoa! Lucy!"
Luna agak terkejut dengan suara keras—bila tidak ingin disebut teriakan—Happy saat melihat dirinya. Tapi akhirnya dia tahu siapa yang dimaksud ibunya sebagai Happy, Exceed yang juga patner ayahnya.
"Tunggu! Lucy berambut pirang! Dan tidak mungkin Lucy mengecil!" bantah happy pada dirinya sendiri.
"Hahaha, begitulah, Happy! Dia Luna, anakku dan Lucy!" Natsu mengatakannya dengan bangga dan juga sangat senang. Mungkin karena selama Lucy meninggalkannya, ia tidak pernah merasakan sebahagia ini.
Happy terdiam. Lalu entah mengapa ia menyeringai. "Jadi kalian berhasil membuat telur saat itu ya?"
"Haha! Begitulah, Happy! Aku senang kami bisa membuat telur!" sahut Natsu senang.
Luna hanya sweatdrop mendengar percakapan sang Ayah dengan Exceed itu. Tapi ia hanya diam saja. Tidak menyalahkan atau membenarkan.
"Salam kenal, Luna!"
Luna mengangguk dan memberikan senyumannya. "Mohon bantuannya, Happy."
"Whoaa! Senyumannya mirip sekali dengan Lucy!"
"Kan!"
Seakan baru ingat sesuatu, Natsu bertanya, "Ngomong-ngomong, kau tadi ingin memberitahuku apa?"
"Ahyaaa! Natsuuu! Ini gawaaat!" seru Happy, membuat Luna terlonjak kaget. "Aku mendengar banyak hal tentang Lucy saat aku, Charla, dan Lily mengunjungi Exceed yang lain."
"Lucy?"
"Mama?"
"Jadi..."
Flashback (Happy POV)
"Menurut kalian apakah para Exceed pernah melihat Lucy?" tanyaku pada Exceed berbulu putih dan juga Exceed berbulu hitam di sampingku.
"Mungkin saja. Exceed yang datang ke Earthland kan bukan hanya satu. Ada banyak sekali," sahut Charla, Exceed berbulu putih.
"Hm. Aku setuju dengan Charla. Mungkin juga Queen Shagot pernah melihat sesuatu," balas Lily, Exceed berbulu hitam.
"Kalian masih mencari Lucy ya?" tanya Charla sambil melipat tangannya.
"Tentu saja! Selama ini Natsu selalu murung dan sering sekali mengambil misi-misi berbahaya sendirian. Aku takut kalau Natsu akan memaksakan dirinya sendiri," jelasku dengan raut sedih. Charla dan Lily juga ikut memasang wajah sedih. Mungkin karena mereka sering melihat kesedihan Natsu selama 8 tahun ini.
.
Kami baru saja masuk hutan tempat para Exceed tinggal. Tentu saja melewati jalur udara. Siapa juga (Exceed) yang mau jalan kaki sejauh 10 km! Memikirkannya saja membuatku lapar(?)
Kami langsung mencari Exceed yang mengetahui sesuatu tentang Lucy sesaat setelah kami masuk ke tempat para Exceed tinggal. Saat ditanya, banyak sekali Exceed yang tidak mengetahui apapun. Bahkan banyak juga yang tidak tahu siapa itu Lucy. Yang mereka tahu adalah Wendy, yang dulunya pernah dibawa Charla ke Extalia.
Aku hampir putus asa untuk mencari keberadaan Lucy. Sudah hampir 3 jam kami mencari seseorang (Exceed) yang mengetahui sesuatu tentang keberadaan Lucy. Hingga akhirnya...
"Lucy? Gadis berambut pirang juga celestial mage dan dulu pernah ke Edolas?" tanya Exceed berbulu coklat pada kami. "Aah, sekarang aku mengingatnya!"
Aku yang sebelumnya lesu langsung saja bangkit dari kelesuan(?) dan memandang si Exceed coklat itu penuh minat.
"Sekitar setahun yang lalu, saat aku pergi ke daerah Shaldi, sebelah selatan Lotta, kerajaan tetangga di sebelah Timur, aku melihat seorang perempuan berambut pirang agak panjang memasuki hutan barat Shaldi. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku melihat ada beberapa orang mengikuti perempuan pirang itu. Setelah mereka masuk agak dalam, aku mendengar suara perempuan berteriak keras. Kupikir ada sesuatu yang terjadi, karena itulah aku mengecek keadaan. Tapi tidak ada siapapun di sana. Baik si perempuan pirang itu juga beberapa orang berbaju hitam," jelasnya lengkap.
Setelah mendengar cerita Exceed berbulu coklat itu, aku jadi semakin mengkhawatirkan keadaan Lucy. Kalau sampai Lucy terluka, mungkin saja Natsu akan membakar orang-orang itu. Aku yakin sekali.
Kami melanjutkan pencarian kami. Banyak sekali yang menjawab 'tidak tahu' juga menggelengkan kepala mereka. Sampai akhirnya kami bertanya pada Queen Shagot.
"Lucy? Mage Fairy Tail berambut pirang itu bukan?" Kami mengangguk. "Aa. Sebenarnya aku melihat sesuatu 8 tahun yang lalu. Aku melihat kelahiran seorang anak perempuan dengan kemampuan yang sangat luar biasa. Kemampuan yang sangat hebat dan juga menakutkan. Aku melihat perempuan berambut pirang memeluk erat anak berambut pink dan menangis. Lalu sekitar 5 tahun yang lalu, aku mendapat penglihatan dengan objek yang sama lagi. Perempuan berambut pirang itu terlihat seperti... berteriak dan juga menangis. Di depannya ada beberapa orang yang berusaha memisahkan anak-ibu itu. Lalu 2 minggu yang lalu..."
Queen Shagot berhenti sejenak. Beliau memandang kami dengan agak ragu.
"Aku melihat hal mengerikan."
Aku menelan ludah gugup. Hal mengerikan apa yang Queen Shagot lihat?
"Apa itu?"
"Aku tidak tahu apakah aku harus mengatakan ini atau tidak, tapi... Yang aku lihat adalah... Fire dragon slayer terluka parah, celestial mage menangis lagi, dan juga tatapan mengerikan dari anak berambut merah muda. Lalu... Kehancuran sebuah tower."
"Kehancuran sebuah tower? Tower apa?"
Queen Shagot menggeleng. Kami hanya berpandangan.
"Kalau begitu, terimakasih, Queen Shagot."
End of Flashback (Happy POV end)
"Kehancuran tower?" tanya Natsu pada partnernya. "Juga, bukankah anak yang dimaksud adalah Luna? Dia anakku dan juga Lucy. Seorang dragon slayer juga celestial mage. Luna mewarisi rambut merah mudaku."
Luna mengangguk. Sepertinya setuju dengan yang dikatakan oleh ayahnya. "Sepertinya begitu, Ayah. Itu... Masa depan kami yang dilihat Queen Shagot." Luna terdiam sebentar. "Aku harap Ayah tidak melakukan sesuatu yang berbahaya nantinya. Karena aku takut kehilangan Ayah..."
Natsu memandang sedih putrinya. Kemudian ia memeluk Luna sambil tersenyum lembut. "Ayah berjanji Ayah tidak akan kalah ataupun mati. Ayah akan terus bersama Luna. Kalau Lucy ada disini, Ayah akan melindungi kalian berdua."
Kedua ayah-anak itu malah saling berpelukan dan sibuk dengan dunia mereka sendiri. Hal ini tentu saja membuat Happy seperti obat nyamuk(?). Membuatnya kesal karena dicuekin kali ya, hahaha...
"Anooo, aku masih di sini. Jangan hilangkan keberadaanku," ucap Happy dengan mata hanya segaris.
"Warui, warui, serasa dunia hanya milik kami, Happy." Natsu melepaskan pelukannya pada Luna menggaruk rambut gulalinya yang tidak gatal sama sekali.
Luna memandang Happy dan Natsu bergantian. Ia ingin tahu apa yang akan mereka bicarakan.
"Bagaimana Natsu? Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Happy dengan raut wajah serius.
Natsu menunjukkan seringai andalannya. "Tentu saja menyelamatkan Lucy! Aku akan membawanya kembali ke Fairy Tail dan kita akan bersama lagi!"
Happy tersenyum senang. "Aye sir!"
Mata hazelnut Luna berkaca-kaca. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena ia terlalu senang. Bayangan keluarganya berkumpul lagi membuatnya ingin menangis.
Natsu mengusap kepala Luna dan tersenyum lebar. "Kau mau membantuku kan, Luna Dragneel?"
Tangis Luna pecah. Ini mimpinya. Ia mendapatkan nama belakang, nama keluarganya, nama yang sama seperti ayahnya. Diantara tangisannya, Luna menjawab, "Ya, Ayah..."
.
To be continue
.
.
Note:
Warui: maksud Natsu disini adalah maaf. Padahal aslinya artinya salah atau buruk-_-
A/N:
Hai minnaa! Hisashiburidesunee!
Gomeen! Sebenarnya chapter kedua sudah selesai 2 minggu setelah Sherry post chapter pertama. Tapi, entah bagaimana, Word to Go di hape Sherry eror dan ceritanya menghilang hiks. Sherry agak badmood sejak kasus itu. Dan beberapa minggu yang lalu Sherry lomba, dan alhamdulillah, team kami juara, YEAAAH!
Ehem, balik ke masalah.
Kalo udah bete akut, Sherry nggak bakal nyelesain fict ini. Tapi liat review kalian, para reader yang tercinta, Sherry berusaha membuat chapter kedua di tengah-tengah kesibukan sekolah—karena seminggu nggak masuk sekolah. Chapter ketiga bakal Sherry kerjain segera setelah Sherry selesi ujian *minggu ini aku ujian T^T*
di chapter ini, Natsu terlalu sering memeluk Luna ya? ada yang penasaran seperti apa Luna? Sherry udah buat chara Luna. Dan, oh iya, Sherry sudah menyelesaikan jalan ceritanya. Total ada 8 chapter. Daaan, Sherry bakal buat sequelnya. Kayaknya ada 2 sequel. Yang satu... Aah, bahasnya kapan-kapan aja. Ntar bocor deeh.
Oke! Balik lagi ke masalah!
Karena banyaknya adegan pertarungan di setiap chapter, Sherry membutuhkan author yang jago membuat adegan pertarungan. Sherry jujur angkat tangan dalam hal ini.
So, siapa yang bisa bantu Sherry? T^T
Oh iya, review yang banyak yaaa! Biar Sherry makin semangat!
Sincerely,
Sherry Kurobara
