"Our Little Angel: Absolute Magic"

Disclaimer: Hiro Mishima

Pairing: Natsu/Lucy

Summary: Seorang gadis kecil mendatangi Fairy Tail untuk menemui ayahnya. Orang-orang Fairy Tail terkejut mengetahui siapa ayah dan ibu sang gadis kecil tersebut. Dan dimulailah kisah Ayah-anak tersebut untuk mencari keberadaan sang ibu yang telah menghilang

.

.

Chapter 3: Something bad

Suasana ramai menyambut Luna, Natsu, dan juga Happy yang baru saja masuk ke dalam bangunan guild. Baru saja masuk, Natsu langsung bergabung dalam keributan. Ia mengajak Gray bertarung. Tentu saja Gray menyanggupinya—setelah 8 tahun mereka tidak bertarung. Happy, entah bagaimana, sudah terbang meninggalkan Luna—yang masih saja di pintu masuk guild. Happy terbang mendekati Gildarts yang entah sejak kapan kembali dari misinya.

"Yo, Happy!" sapa Gildarts yang duduk di sebelah anaknya, Cana.

"Aye, Gildarts!"

"Kudengar Natsu memiliki anak. Anaknya dan juga perempuan pirang yang dulu partner Cana saat S-class Exam itu?"

Cana yang baru saja menenggak birnya mengangguk membenarkan. "Siapa yang menyangka si bodoh Natsu itu akan memiliki anak bersama Lucy. Lihat saja tingkahnya. Sekarang ia malah bertarung dengan Gray lagi." Cana menenggak bir lagi.

"Hahaha! Dia itu... Sudah punya anak, tapi kelakuannya kekanakan!" Gildarts tertawa kencang.

Luna yang melihat itu hanya ber-sweatdrop ria. Tiba-tiba saja Ernando menghampirinya dan menarik Luna untuk ikut dengannya.

"Kenapa kau tidak masuk saja? Kemarilah, kita bisa saling mengakrabkan diri," kata Ernando dengan senyuman gantengnya.

Luna mengangguk dan mengikuti Ernando untuk duduk di kursi yang jauh dari pertarungan. Mereka berdua bercerita seru dan terlihat semakin... Akrab?

"Rasanya benar-benar aneh melihat keturunan Gray dan Natsu bisa seakrab itu," kata Lissana yang duduk di sebelah Cana, lalu diikuti oleh tawa khas Gildarts.

.

"Ayah, kita jadi kan ke Shaldi?" Pertanyaan Luna sontak membuat Natsu menghentikan perangnya dengan Gray dan menuju ke puterinya tercinta.

"Tentu. Sebentar ya, Luna, aku akan mengatakan ini pada Mira." Natsu berjalan mendekati meja bar. "Yo, Mira! Sepertinya hari ini aku dan Luna akan pergi ke desa Shaldi. Tak apa kan?"

Mira tersenyum. "Tentu. Memangnya ada apa?"

"Kami akan mencoba mencari keberadaan Lucy dari desa tempat mereka tinggal selama ini, Mira." Natsu mengarahkan tatapannya pada Happy. "Kau mau ikut, Happy?"

"Aye!"

"Ara ara, kalau begitu, hati-hati, Natsu, Happy, Luna. Pastikan kalian akan kembali kemari," ucap Mira dengan senyuman manisnya.

"Aa."

Dan kemudian ketiga orang (dua orang plus satu Exceed) berjalan keluar dari guild. Suasana jadi sepi, mengingat biang ributnya sudah pergi.

"Dasar... Natsu itu..." gumam Gray sambil meneteskan airmata dari mata hitamnya.

"Juvia senang, Natsu-san bisa kembali seperti semula," sahut Juvia dengan mata berair.

"Kuharap mereka bisa menemukan Lucy. Aku tidak ingin melihat Natsu yang seperti mayat hidup," kata Erza, mendoakan keberhasilan ketiganya.

.

Sementara itu... Di tempat Natsu dkk...

"Upph!" Natsu menggembungkan pipinya, siap mengeluarkan isi perutnya kapan saja. "A-a-aku t-tidak ak-uuphh-an pernah n-naik k-ken-daraan lagi..."

Luna yang duduk di depan Natsu hanya bisa memandang kasihan ayahnya itu. Mereka memang sedang naik kereta—yeah, KERETA—karena jarak Magnolia hingga Shaldi terbilang SANGAT jauh. Mau jalan kaki? Kalau kau rela kakimu penuh luka, silahkan.

"Jadi ini yang dikatakan ibu tentang motion sickness para dragon slayer?" tanya Luna entah pada siapa.

"Aye!" Happy menyahuti. "Ngomong-ngomong, Luna, kau kan juga dragon slayer. Apa kau tidak merasa seperti halnya Natsu?"

Luna mengernyitkan alisnya. Ia tampak berfikir sebentar, lalu menggeleng. "Aku tidak pernah merasa seperti Ayah."

"Maji?!"

Luna mengangguk lagi.

"Kenapa bisa?"

Luna terdiam sebentar. Ia membuka mulutnya tapi ia langsung tutup mulutnya. Dan akhirnya ia berkata lagi.

"Mungkin karena aku juga seorang celestial mage? Siapa tahu itu juga berpengaruh aku tidak mengalami motion sickness."

Happy hanya terdiam lalu sibuk makan ikan yang didapatkannya entah darimana.

Enam jam kemudian...

"Neraka... Tadi itu neraka..." gumam Natsu masih dengan wajah pucatnya. Pundaknya turun dan tubuh tegaknya membungkuk. Luna dan Happy berjalan (oh, hanya Luna, karena Happy menggunakan sayapnya) di samping Natsu, khawatir kalau-kalau Natsu menghilang.

"Ayah, apa Ayah baik-baik saja?" tanya Luna khawatir.

"Ayah tidak baik-baik saja, Luna..." balas Natsu dengan wajah yang sangat pucat.

Luna berfikir sejenak. "Lebih baik kita beristirahat di dekat sini dulu. Ayah terlihat sangat mengenaskan kalau seperti ini." Luna menggendeng tangan Natsu. "Ayo, Ayah, di dekat sini ada taman yang biasanya sepi. Kita beristirahat dulu disana ya?"

Natsu yang sudah diambang batas sadar dan tidak sadar hanya mengangguk dan mengikuti Luna.

Memang benar apa yang dikatakan Luna. Tidak sampai 10 menit berjalan, mereka sudah sampai di taman yang sangat sepi. Padahal taman itu sangat terawat. Natsu langsung menidurkan diri di bangku taman dan menutupi matanya dengan lengan kanannya. Sedangkan lengan kirinya ia letakkan di perutnya. Luna dan Happy duduk di bangku taman yang lain, dekat dengan bangku taman yang dipakai Natsu untuk tidur. Mereka bercerita banyak hal seperti tentang masa kecil Natsu, pertemuannya dengan Lucy, juga misi-misi paling seru yang pernah mereka—Natsu, Happy, dan Lucy—lakukan.

"Luna, mark Fairy Tail milikmu ada dimana?" tanya Happy tiba-tiba.

"Mm? Memangnya ada apa, Happy?"

"Kau tahu kan kalau tanda Fairy tail Lucy ada di punggung tangan kanannya. Lalu Natsu di lengan atas kanannya. Kalau aku di punggung. Aku hanya bertanya saja sih..."

Luna terdiam sebentar. "Benarkah?" Happy mengangguk. "Kalau aku... Di perut. Perut sebelah kanan."

"Kenapa kau memintanya di bagian itu?" Happy tidak bisa menyembunyikan keingintahuannya, atau kita sebut kekepoannya.

Luna awalnya terdiam. Cukup lama hingga membuat Happy mendesaknya memberitahukan alasannya. Pada akhirnya ia menjawabnya.

"Aku tidak bisa menceritakan keseluruhannya, tapi secara garis besar, karena aku sudah berjanji pada Ibu saat aku berumur 6 tahun," jawab Luna dengan senyuman khas Lucy.

Happy hanya menggumam tidak jelas karena ia mendengarkan sambil makan ikan kesukaannya.

.

Saat Happy dan Lucy bercanda ria—hingga mereka tidak sadar akan sesuatu—Natsu terbangun dengan mata tajamnya menyorot pada salah satu sisi taman. Lalu ia mengendus bau-yang mungkin hanya Natsu yang bisa mencium. Bau manusia yang tidak ia kenali.

"Luna, Happy, berhati-hatilah! Aku mencium bau yang tidak mengenakan!" seru Natsu dengan tetap memicingkan matanya yang tajam pada sisi yang sama.

Luna langsung memfokuskan diri dan memicingkan mata hazelnut nya pada arah yang sama dengan Natsu. Tapi ia tidak merasakan apapun. Ia merasa orang asing itu berada di...

"Ayah! Belakangmu!"

Natsu langsung berbalik dan ia melihat seseorang berjubah hitam dan wajah yang ditutupi oleh tudung hitam di hadapannya.

"Itu adalah memorimu tentang bauku 3 menit yang lalu. Dan sampai sekarang mungkin kau masih mencium baunya. Benar?"

Natsu semakin memicingkan matanya. 'Orang ini sangat mencurigakan.'

"Siapa kau?"

"Cloud. Salam kenal, Natsu Dragneel." Cloud membuka tudungnya, menampilkan iris merah dan surai dark blue miliknya. "Misiku adalah membawa Luna, anak dari Natsu Dragneel dan Lucy Heartfilia, pada Master."

Natsu menggertakan giginya dan menggeram marah. "Tidak akan pernah terjadi!"

Luna hanya terdiam. Ia memikirkan tentang guild yang mencari dirinya, si pemilik Absolute Magic, kekuatan mutlak yang tidak akan bisa dihentikan siapapun. Orang bernama Cloud ini pasti juga salah satu anggota guild itu.

Karena terlalu serius berfikir, Luna sampai tidak menyadari pergerakan Cloud. Saat Luna menyadari keberadaan Cloud menghilang dari tempat awalnya. Ia mencoba mencari Cloud dengan bantuan seluruh inderanya yang tajam. Ia menyadari keberadaan Cloud. Tapi terlambat. Cloud sudah berada di belakangnya.

Dengan refleksnya yang sangat hebat, tangan kanannya ia tebaskan ke arah Cloud. Cloud menangkap lengan kanannya dan menahannya agar Luna tidak bisa melepaskan diri.

"Menakutkan seperti apapun, kekuatan seperti apapun, tidak ada yang bisa melawan diriku. Walaupun itu seorang Absolute Magic," kata Cloud dengan nada datar.

Luna tersenyum sinis. "Kau pikir kekuatan Absolute Magic hanya seperti ini?" Cloud terdiam. "Kurasa kau tidak memikirkannya."

"Kau hanya gadis kecil yang lemah."

Luna tertawa. "Kurasa itu memang benar, kalau saja aku tidak punya kekuatan Absolute Magic, Cloud."

Cloud menaikkan sebelah alisnya. "Benarkah?"

Dan dalam sekejap api mengelilingi Cloud. Luna menarik kembali tangannya. Ia tahu kalau ayahnya akan menyelamatkannya. Mm, membakar habis orang yang mengganggu keluarganya, temannya, orang-orang terpenting dalam hidupnya.

"Fire Dragon Roar!"

Dengan teriakan itu, semburan api keluar dari mulut Natsu. Mengarah langsung pada Cloud. Tapi... Ada yang salah. Cloud tidak menghindar sama sekali. Ia menerima semburan api Natsu dan tidak terlihat kepanasan.

Iris kecoklatan Luna membesar saat ia melihat Cloud tersenyum—menyeringai. Lalu ia melihat Cloud mengangkat kedua tangannya di depan wajahnya lalu menepukkan kedua telapak tangannya. Yang membuat Natsu dan Luna terkejut setengah mati adalah...

Api Natsu, api dari naga api, hilang tanpa bekas.

Natsu bersumpah ia pertama kalinya ia melihat apinya dapat dipadamkan hanya dengan satu kali tepukan.

Luna memicingkan matanya. Ia merasa ia tahu kekuatan—sihir dari Cloud.

"Sudah kukatakan bukan, semua kekuatan sihir tidak akan berpengaruh padaku," katanya sambil menepuk bajunya dari debu.

Luna bersiaga. Begitu pula Natsu. Happy? Ooh! Dia masih duduk nyaman sambil memakan ikannya.

"Kurasa sudah saatnya aku bertarung serius. Master menginginkan Absolute Magic. Sepertinya tidak akan lama lagi," kata Cloud sambil menyeringai tipis.

Luna tersenyum, "kurasa tidak akan, Cloud."

Luna merogoh tas kecilnya dan mengambil satu dari beberapa—oh yeah, beberapa itu 12 kunci emas dan 6 kunci perak—kunci gerbang. Ia lalu memanggil roh bintangnya.

"Open gate of the Maiden. Virgo!"

Virgo muncul dengan seragam maid seperti biasanya. Ia menundukkan badannya di depan Luna, menghormati Luna. "Saatnya hukuman, Ohime-sama?"

Luna mengernyit. "Aku sudah mengatakan jangan memanggilku Ohime-sama, Virgo."

"Leo-sama dan Capricon-sama yang menyuruh, Ohime-sama," jawab Virgo dengan nada datarnya seperti biasanya.

Luna menghela napas. "Terserah kalian." Ia menampilkan tatapan tajamnya. "Aku berharap padamu, Virgo."

"Hai, Ohime-sama."

Seketika itu juga, Virgo melesat ke arah Cloud dan menggunakan kekuatan fisiknya yang luar biasa. Walau dia roh bintang bergender perempuan, tapi kekuatan tangan dan kakinya tidak bisa dianggap remeh.

Tapi, Cloud tidak terluka sama sekali. Lebih tepatnya, tidak mengenainya.

Natsu syok. Ia tidak mengerti mengapa pukulan dan tendangan Virgo tidak mengenainya sama sekali. Sedangkan Luna, ia hanya terdiam memperhatikan pertarungan keduanya. Ia berfikir tentang sesuatu. Lalu ia tersenyum.

Virgo melompat kembali pada Luna dan berkata, "aku tidak bisa melukainya sama sekali. Sudah saatnya hukuman?"

Luna mengernyit lagi. 'Apakah Ibu selalu mengalami ini setiap bersama Virgo?'

"Kau boleh kembali, Virgo," ucap Luna. Virgo membungkukkan badannya sebelum ia kembali ke dunia roh.

Luna menatap tajam Cloud. Ia sudah mengerti segala hal tentang Cloud. Tentang sihirnya, kemampuannya, guild yang mengincarnya, juga master yang memerintahkan anak buahnya untuk menangkap dirinya.

"Ada apa, Absolute Magic? Apakah kau sudah tidak yakin lagi dengan kemampuanmu? Dengan kekuatan Absolute Magic milikmu?" tanya Cloud dengan nada sinis.

Luna tersenyum mengejek. "Aku sudah tahu apa sihirmu, Cloud. Sihir yang sangat berguna."

Cloud menaikkan alisnya. 'Dia sudah tahu, huh.'

"Apa itu, Luna?" tanya Natsu penasaran.

"Sihir imajinasi. Aku benar bukan?"

Cloud hanya terdiam.

"Kurasa aku bisa mengartikannya sebagai iya."

Cloud menyeringai. "Walau kau tahu kekuatanku, kau tidak akan bisa mengalahku, Absolute Magic."

"Aku akan membuatmu mengerti seperti apa Absolute Magic itu, Cloud Magdelyn."

Natsu hanya terdiam. Ia tidak mengetahui apapun selama ini. Yang pasti, bila Luna dalam keadaan bahaya, ia akan menghajar Cloud.

Luna mengeluarkan kunci emasnya lagi. "Open gate of the Goat. Caprico!"

Seorang (atau seekor?) Roh bintang dengan wujud kambing muncul. Ia menundukkan kepalanya. "Luna-sama."

"Aku mohon bantuanmu, Caprico!"

"Meh tidak bisa menolaknya." Caprico mengangkat kepalanya dan langsung melesat ke arah Cloud dan menyerang sisi kiri Cloud. Tapi pukulan Caprico tidak mengenainya.

"Hm? Kambing?" Suara yang berada di belakang Caprico membuatnya terkejut. Caprico berbalik dan menemukan Cloud dengan tangan terlipat di depan dadanya. "Walau begitu, sepertinya kau tetap termakan sihirku."

"Berikutnya, Meh tidak akan terkena sihir imajinasi itu lagi."

"Kita lihat saja," balas Cloud dengan senyuman meremehkan.

Caprico menoleh menghadap Masternya. "Luna-sama..." Baru saja ia akan mengatakan apa keinginannya, tapi Luna sudah mengangguk mengiyakan.

"Aku mengijinkanmu, Caprico. Aku akan mentransfer energi sihir." Dan dalam sekejap tubuh Caprico bersinar kemerahan. "Berjuanglah, Caprico."

Caprico tersenyum dan mengangguk. Lalu ia menatap tajam lawannya dari balik kacamata hitamnya. Dalam sekejap, Caprico sudah berada di depan Cloud dan melancarkan serangan tanpa memberi Cloud waktu untuk membalas. Cloud yang sedang 'dihajar' oleh Caprico hanya tersenyum meremehkan. Kemudian dengan cepat, Caprico menebas sisi kanannya dengan lengannya. Lalu diikuti dengan suara erangan.

"Kau—! Bagaimana bisa—"

"Sudah kukatakan, Meh tidak akan terjebak lagi dengan sihir imajinasi itu. Kau tidak akan bisa mengelabuhi Meh lagi."

Sesaat Cloud terdiam, lalu ia menoleh ke arah Luna dan menatap tajam Luna. "Karena Absolute Magic, bukan? Ia memberimu kekuatan yang bisa melihat sihirku!" Cloud mengarahkan tangan kanannya ke arah Luna dan merapalkan mantra. Lalu beberapa sosok gelap muncul dan langsung menyerbu Luna.

Natsu yang melihat itu, tanpa sadar ia melesat dan melindungi Luna dengan cara membakar sosok-sosok itu. Oh, tentu saja dengan Lightening Fire Dragon Roar. Setelah sosok-sosok itu menghilang, Natsu menyerbu Cloud dengan Fire Dragon Fist.

"Hah! Percuma, Natsu Dragneel! Kau tidak akan mengena—ugh!"

Pukulan Natsu tepat mengenai perut Cloud. Cloud terdorong ke belakang.

"Bagaimana mungkin! Sihirku...!"

"Sihirmu tidak bekerja," ucap Luna dengan seringai, "absolute magic adalah kekuatan yang bisa melakukan semua sihir. Seperti saat ini, aku meniadakan sihir imajinasi dan aku mengkosongkan energi sihirmu."

"Kau!"

"Ah, tenang saja, sihirmu aku sisakan sebagian, jadi kau tidak akan pingsan duluan."

'Bagaimana bisa? Ia tidak menyentuhku sama seka—'

"Aku bukannya tidak menyentuhmu sama sekali, Cloud."

Cloud membelalakan matanya. "Lewat roh bintangmu itu..."

"Benar~ dan kurasa, cukup sampai disini." Luna maju dan menyeringai. Lalu ia memarik napas panjang daan...

"Fire dragon roar!"

Dengan teriakan itu, api menyembur dari mulut Luna. Api yang disemburkan Luna tidak seperti api milik ayahnya, Natsu. Api milik Luna berwarna merah gelap, hampir terlihat hitam. Caprico, yang sudah pernah melihat api Luna sebelumnya, hanya bisa tersenyum. Sedangkan Natsu yang baru pertama kali ini melihat api Luna, tidak bisa menutup mulutnya yang terbuka lebar. Terperangah.

Oh? Bagaimana dengan nasib Cloud? Tentu saja terpanggang. Tentu saja Cloud tidak mati. Luna tidak mengerahkan seluruh tenaganya.

"Jangan pernah meremehkan kekuatan Absolute Magic, Cloud Magdelyn."

Luna berbalik, kemudian ia tersenyum pada Natsu dan Caprico.

"Masalah sudah selesai, ayo, Ayah, kita lanjutkan perjalanan," ucap Luna dengan nada manis. Ia menoleh pada Caprico, "kau boleh kembali, Caprico, terimakasih telah membantu."

Caprico tersenyum lagi, "Ini sudah kewajiban Meh untuk melindungi Anda, Luna-sama." Lalu Caprico menghilang.

"Nah, Ayah, bisakah kita melanjutkan perjalanan? Jaraknya masih cukup jauh."

Natsu hanya mengangguk dan berjalan di samping Luna.

.

"Kita sampai, Ayah,"ucap Luna saat mereka bertiga sampai di depan rumah yang sangat sederhana di dalam hutan.

Natsu mengangguk dan mengikuti Luna yang langsung memasuki rumah lamanya. Begitu Natsu sampai di dalam, ia bisa mencium aroma khas Lucy.

"Lucy..."

Tiba-tiba saja Luna kembali dengan membawa sebuah kotak usang. Natsu bertanya-tanya sejak kapan Luna meninggalkannya di ruang tengah?

"Ibu berpesan padaku, kalau aku sudah bertemu dengan Ayah, aku diijinkan untuk membuka kotak ini," kata Luna sembari membuka kotak tersebut.

Natsu mengangguk mengerti. Ia lalu mengambil salah satu surat tersebut dan membacanya. Tiba-tiba saja wajah Natsu menjadi serius.

"Luna, lebih baik kita kembali ke Magnolia dan membicarakan ini dengan Jii-chan."

"Apa yang tertulis di surat itu, Natsu?" tanya Happy bingung.

"Sesuatu yang buruk."

Apa yang sebemarnya tertulis di surat yang dibaca Natsu?

.

To Be Continued

.

.

Note:

Maji: benarkah/serius. Maksudna menyatakan ketidakpercayaan

A/N:

Hai minnaa! Hisashiburidesunee!

Gomeen! Sebenarnya chapter ketiga sudah selesai pas aku kejurnas di bulan November kemarin. Tapi gara-gara nggak ada wi-fi pas aku balik ke rumah, nggak bisa ngepost. Jadilah chap ini terlantar.

Aku minta maaf karena keterlambatan update dan juga adegan battle yang sangat tidak bagus. Aku nggak bisa bikin adegan battle yang bagus. Hiks..

Aku nggak mau banyak bacot, jadi, review yang banyak yaa~

Sincerely,

Sherry Kurobara