"Our Little Angel: Absolute Magic"
Disclaimer: Hiro Mishima
Pairing: Natsu/Lucy
Rated: T
Summary: Seorang gadis kecil mendatangi Fairy Tail untuk menemui ayahnya. Orang-orang Fairy Tail terkejut mengetahui siapa ayah dan ibu sang gadis kecil tersebut. Dan dimulailah kisah Ayah-anak tersebut untuk mencari keberadaan sang ibu yang telah menghilang
.
.
.
Chapter 4: Jane vs Luna
Seperti biasa, guild yang katanya terkuat di Fiore ini sangat ramai. Luna duduk di samping Ernando dan di depannya ada strawberry juice. Ernando bercerita banyak hal dan Luna hanya menanggapi sedikit. Luna, yang memang hanya menunggu ayahnya—yang sedang berbicara pada master Fairy Tail, Makarov—tidak terlalu tertarik dengan cerita Ernando.
Tiba-tiba saja pintu guild terbuka dan menampilkan dua anak berusia 10 tahun. Yang satu perempuan berambut brunette panjang dan membawa pedang di pinggangnya. Yang satunya laki-laki berambut merah spike. Bocah laki-laki itu tidak membawa senjata sama sekali.
"Okaeri, Jane, Aria," sapa Mira dari balik meja bar.
"hm, tadaima, Mira-san," balas yang perempuan dingin. "Dimana Ibu, Mira-san?"
"Erza sedang pergi. Sepertinya menemui Jellal. Bagaimana dengan misi kalian berdua?"
"Misi berhasil, Mira-obasan. Misinya ternyata sangat mudah," balas laki-laki itu dengan senyum tipis. "Ngomong-ngomong, apakah kita mendapatkan anggota baru?"
Mira tersenyum pada anak lelaki Erza dan Jellal ini. "Ya. Kau menyadarinya, Jane?"
"Anak perempuan yang di sebelah Ernando, bukan?" tebak anak laki-laki itu yang bernama Jane. Jane tersenyum misterius.
"Jane, jangan melakukan apa yang ada di kepalamu. Aku merasa anak itu bukan lawan yang sebanding denganmu. Dia jauh lebih kuat darimu," kata saudari kembarnya, Aria.
Jane hanya menyeringai. "Kita lihat saja. Tidak ada yang bisa mengalahkanku."
Jane berjalan mendekati Luna dan Ernando. Luna yang merasakan tekanan sihir yang cukup kuat, menolehkan kepalanya. Onyxnya menangkap sosok Jane yang tersenyum mengerikan. Luna merasakan hawa berbahaya dari Jane. Ia lalu mendorong Ernando untuk menjauhi mereka.
Tiba-tiba saja pedang perak muncul di depan lehernya. Onyx Luna menajam.
Jane yang menodongkan pedang peraknya pada Luna hanya tersenyum. "Namaku Jane Fernandes. Aku menantangmu untuk duel denganku."
Tanpa disangka-sangka, Luna tersenyum. "Namaku Luna Dragneel. Dan aku..." dalam sekejap Luna menghilang dari pandangannya, dan muncul lagi di belakangnya. "Menerima tantanganmu."
.
Entah mengapa, seluruh anggota guild pindah ke ruang battle, sebuah ruangan yang khusus digunakan bila ada pertarungan sesama anggota guild, alias duel. Dan entah mengapa, Cana membuka pertaruhan. Dan… 60% mempertaruhkan kalau Jane yang akan menang, karena mereka tahu Jane tidak pernah sungkan untuk melukai lawannya. 30% bertaruh untuk Luna, karena Luna sangat misterius dan mereka yakin Luna akan memenangkan duel ini. 10% netral dan masih menunggu kelanjutannya.
"Luna!" seru Natsu dengan nada tidak suka.
"Oh, hai, Ayah!"
"Kenapa kau malah bertarung?"
"Tenang saja, Ayah, aku tidak akan terluka," kata Luna dengan senyuman polosnya. Sebelum Natsu bisa membuka mulutnya untuk protes, Luna berkata, "Ayah ingat bukan kalau aku seorang Fire Dragon Slayer dan juga seorang Celestial Mage?"
"Baiklah, menangkan duel ini, Luna!" Natsu memberi semangat dengan seringai khas miliknya. Dan dibalas dengan senyuman penuh tekad khas Lucy.
Master Makarov maju dan memberi aba-aba. "Mulai!"
Luna mengambil salah satu kunci emasnya. "Open gate of the Lion. Leo!"
Sosok berambut orange spike muncul. Sosok itu menundukkan kepala hormat dan mencium punggung tangan kanan Luna.
"Luna-sama," sapa Loke dengan senyum charmingnya.
Luna memasang tampang horor karena—seperti biasa—Loke muncul dengan mengejutkan.
"Kubilang, jangan panggil aku dengan embel-embel sama, Loke. Dan tolong katakan hal itu pada semuanya."
"Apapun perintahmu, Luna," kata Loke dengan senyuman menggodanya.
Jane yang sudah bosan menunggu, menjadi sangat kesal. "Sudah selesai dramanya? Kalau begitu, bagaimana kalau kita mulai sekarang?"
Jane melesat ke arah keduanya dan mengarahkan pedangnya pada Luna. Loke langsung saja menepis pedang perak Jane. Dan dia melakukan itu tanpa terluka.
"Tak akan kubiarkan siapapun melukai Luna," ucap Loke penuh tekad.
"Kurasa aku akan menggagalkan tekadmu. Karena mungkin aku akan melukainya."
Jane terus menebas pedangnya ke arah Loke. Loke dengan gesit menghindari serangan Jane. Jane kesal karena serangannya tidak mengenai Loke, langsung saja mengganti pedangnya. Dia mengeluarkan sepuluh pedang berwarna hitam. Tanpa menyentuh salah satu pedangnya, Jane mengarahkan kesepuluh pedangnya ke arah Loke.
"Telekinesis!" Seru Luna pada Loke. "Hati-hati, Loke!"
"Kekuatan yang sama seperti Erza," guman Loke. "Kau anaknya Erza bukan?"
Jane hanya tersenyum. Senyuman yang punya makna 'ya'.
Jane langsung menghilang dari hadapan Loke. Loke meningkatkan konsentrasinya. Ia menyadari keberadaan Jane, tapi terlambat. Jane sudah menebaskan pedangnya tepat di punggung Loke. Loke mundur beberapa langkah.
"Loke, kau baik-baik saja?" Tanya Luna khawatir.
"Aku baik-baik saja, Luna." Loke menajamkan matanya. 'Cepat dan kuat. Benar-benar kombinasi mengerikan dari Erza dan Jellal,' batin Loke.
Luna memejamkan matanya. Ia mengarahkan tangan kanannya ke arah Loke. Cahaya kehijauan muncul di sekitar tubuh Loke. Lalu luka di punggung Loke lenyap.
"Healing magic?" Seru Lisana terkejut.
"Sihir yang sama sepertiku?" Tentu saja Sky Dragon Slayer, Wendy terkejut. Bukan hanya Wendy dan Lissana saja yang terkejut. Semua anggota guild pun terkejut.
"Luna?" Loke menatap Luna tak percaya. Luka yang baru saja diberikan oleh Jane bukanlah luka yang serius, tapi Luna tetap menyembuhkannya.
"Aku tidak ingin berdiam diri dan dilindungi begitu saja. Aku, Luna Dragneel, akan melindungi temanku juga!"
Loke terkejut, tapi ia lalu tersenyum. 'Ibu dan anak sama saja. Menganggap kami, para roh bintang, sebagai teman.'
"Loke, kau masih sanggup bertarung?"
"Tentu saja, Luna-sama."
"Kalau begitu..." Sebuah pedang muncul di tangan kanan Luna. "Aku akan bertarung dengan style yang sama sepertinya."
"Requip!?"
Jane menyeringai. Pedang melawan pedang? Tentu saja ia yang akan menang. Karena Jane selalu menggunakan pedang dalam gaya bertarungnya. Ia memiliki pengalaman.
Jane dan Luna maju dan saling menyerang. Pedang beradu dengan pedang. Jane mendorong mundur Luna. Jane lalu menyeringai.
"Kau ingin melawanku dengan pedang? Maaf saja, tapi duel ini akulah yang menang," kata Jane. Jane lalu menebaskan pedang di tangan kirinya ke arah Luna.
Luna mundur sejenak. Darah mengalir dari keningnya. Tebasan Jane mengenai kening bagian kanannya.
"Luna!" Loke mendekati Luna. "Kau baik-baik saja?"
Luna mengangguk. "Aku baik-baik saja. Tenang saja. Luka seperti ini tidak akan menjadi masalah." Tiba-tiba saja luka di kening Luna menghilang dan Luna tersenyum. "Lihat kan?"
"Healing magic, eh?" tebak Jane. "Kurasa itu bukan sihir Wendy-san."
Luna menyeringai. "Biar kuperkenalkan diriku sendiri lagi. Namaku Luna Dragneel. Sihirku Absolute Magic. Yorosiku nee, Jane Fernandes."
"Absolute Magic?"
"Open gate of the Scorpion. Scorpio!"
"We are! Butuh bantuan, Luna-sama?" tanya roh bintang dengan bentuk kalajengking itu.
"Ya. Seperti biasa, Scorpio, Loke."
"Yokai."
"Sand buster!" Scorpio menyerang Jane dari arah depan.
Jane menghindar dengan cara melompat. "Hmph! Kurasa serangan seperti itu sia-sia saja. Sangat mu—"
"Watch your back, Jane," ucap Luna dengan seringai khas Natsu.
Jane yang merasakan sesuatu di belakangnya langsung menoleh ke belakangnya. Matanya menangkap Loke yang siap memukulnya. Jane menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya untuk melindungi dirinya. Loke memukul Jane dan Jane terdorong mundur.
"Jane dipukul mundur!?" Seluruh anggota Fairy Tail tentu saja terkejut.
Jane mendecih kesal. Ia lalu menyerang Loke dengan kedua pedang di tangannya.
"Dual blade, ya... menarik," gumam Luna yang sedaritadi hanya menonton.
Loke menghindari serangan Jane dengan melompat kecil. "Kau tak akan bisa mengenaiku, Jane Fernandes."
"Benarkah?" Jane menyeringai. Ia mundur beberapa langkah. "Kena kau, Loke."
Loke baru menyadari kalau dia sudah terperangkap. Ia dikelilingi oleh pedang-pedang berwarna perak.
"Game over." Jane menggerakkan kedua tangannya dan pedang-pedang di sekeliling Loke bergerak menyerang Loke.
"Jangan lupa kalau aku ada, Jane." Luna tersenyum manis. "Ice make: barrier!"
Pedang-pedang Jane beradu dengan barier es milik Luna.
"Ice make!?" Gray berteriak terkejut. "Hoy, hoy, yang benar saja!"
"Loke!"
"O Regulus, grant me your strength! Regulus Gatling!"
Loke memukul Jane beberapa kali hingga Jane mundur terlalu jauh dan terbatuk-batuk. Menyadari Jane berada di jarak serangan Luna dan Scorpio, Luna langsung saja berteriak.
"Scorpio, sekali lagi!"
"Sand buster!"
"Fire dragon roar!"
Pasir milik Scorpio dan api milik Luna bergabung.
"Unison raid!?"
Jane langsung menutup matanya sebelum serangan Scorpio-Luna mengenainya. Dia tahu kalau ia tak akan sempat menangkis maupun menghindar serangan dadakan itu. Tapi ia tak merasakan serangan itu mengenainya. Ia membuka matanya dan tepat pada saat itulah dinding di belakangnya meledak. Jane menyadari satu hal. Serangannya meleset.
'Tidak. Bukan meleset, tapi Luna membuatnya meleset!' Batin Jane.
Luna hanya tersenyum. "Loke, Scorpio, kalian boleh kembali. Terimakasih sudah membantu."
Kedua roh bintang itu mengangguk lalu menghilang.
"Nah, kurasa kita bisa hentikan duel ini," kata Luna. Ia melihat kondisi ruang battle Fairy Tail. "Ruangan ini bisa-bisa hancur kalau diteruskan."
Master Makarov yang mendengar ucapan Luna, langsung saja jawdrop melihat ruangan battle yang baru saja dibangun. "Ruangan battle yang baru dibangun... hancur..."
"Tenang saja, Master, aku akan memperbaikinya seperti semula." Luna mengangkat kedua tangannya ke depan. Sedikit demi sedikit kerusakan pada ruangan battle menghilang dan kembali seperti semula.
"Lost magic!?"
"Sihir yang sama dengan Ultear!" Gray membelalakkan matanya.
"Sebenarnya, kau ini siapa, Luna?" Tanya Levy.
Luna memasang wajah serius. "Maaf selama ini aku menyembunyikan hal ini pada kalian semua. Namaku Luna, putri dari Natsu Dragneel dan Lucy Heartfilia. Sejak lahir, aku sudah memiliki sihir ini, sihir yang dinamakan Absolute Magic. Ibu bilang kalau aku anak istimewa. Biasanya seorang penyihir hanya melakukan satu sihir, tapi aku bisa melakukan semua sihir."
"Eh?"
"Maji!?"
Luna mengangguk. "Sihir dragon slayer hanya bisa dipelajari langsung dengan naganya. Tapi aku sudah memiliki sihir dragon slayer tanpa mempelajarinya. Tanpa bertemu dengan naga. Bukan hanya fire dragon slayer, aku juga bisa melakukan semua elemen dragon slayer. Saat berumur lima tahun, aku membuka gerbang Loke tanpa kunci gerbangnya. Saat berumur enam tahun, aku melalukan salah satu sihir yang hilang (lost magic), Time Ark. Seiring berjalannya waktu, sihir yang bisa kulakukan semakin banyak.
"Tapi, karena itu, aku diincar oleh banyak orang dan juga Dark Guild. Mereka menginginkan Absolute Magic ini. Dan karena sihir inilah, Ibu menghilang dan aku yakin Ibu disekap oleh seseorang yang mengincarku."
Suasana guild menjadi hening. Semuanya tampak berfikir. Luna jadi merasa bersalah. Ia tahu, kalau ia menjadi anggota Fairy Tail, guild yang mengincarnya akan datang ke Fairy Tail dan menghancurkan semuanya.
"Gomennasai, minna. Memang seharusnya aku tidak datang kemari. Aku hanya membuat kalian berada dalam bahaya." Luna menundukkan wajahnya. Natsu bahkan tidak mampu mengatakan apapun.
Ernando mendekati Luna dan langsung memeluk Luna, membuat semua anggota Guild terkejut. Terlebih lagi Natsu dan Gray. Mereka bwedua menatap horor kedua anak yang saling berpelukan itu.
"Sejak awal, kamu adalah bagian dari Fairy Tail. Kamu adalah salah satu mage Fairy Tail dan juga temanku. Bila kau mendapat kesulitan, jangan ragu untuk meminta pertolongan teman-temanmu, Luna." Ernando melepas pelukannya dan tersenyum ke arah Luna.
Luna hanya bisa memandangi Ernando yang sedang tersenyum. Tanpa sadar setetes air mata menetes dari onyxnya. Luna langsung saja menerjang Ernando dan memeluknya erat. Tentunya sambil terisak. Membuat anggota guild meneteskan airmata, terharu dengan tontonan yang mereka anggap tidak akan pernah terjadi—seharusnya.
Ooops, tentu saja tidak bagi ayah sang Absolute Magic user. Dia bahkan terlihat ingin memanggang anak lelaki sahabat—err, rival—abadinya. Tentu ia tahan, karena bisa saja ia akan dimarahi puteri kesayangannya.
'Ini demi Luna, demi Luna,' gumamnya dalam hati.
.
.
To Be Continued
.
.
Omake
Sejak kekalahan Jane melawan Luna, Luna sekarang dijuluki The Most Powerful Female Mage. Tentunya mereka tahunya setelah Erza dan Mira. Luna sendiri hanya tersenyum mendengar julukan barunya. Karena ia sendiri tahu seperti apa kekuatannya.
Ooh, sejak kekalahan pertamanya, Jane...
"Luna, bagaimana kalau kita menikah sekarang?" tanya Jane dengan senyumam manisnya.
... jadi menyukai Luna dan bertekad untuk menjadikan Luna sebagai istrinya.
Luna mengernyit. Ia sendiri tidak mengerti mengapa Jane malah berbalik menyukainya. Setahunya—well, ia mengetahuinya dari Happy, si Exceed kawan ayahnya—Jane tidak pernah mau mengakui kekalahannya.
Aria yang duduk di sebelah Luna memakan strawberry cake nya. "Dulu dia pernah berkata kalau dia akan menikahi perempuan yang jauh lebih kuat darinya. Yang setara dengan Ibu."
Luna sweatdrop. Ia tak pernah menyangka Jane membuat janji pada dirinya sendiri untuk menikah dengan wanita terkuat yang sebanding dengan Erza. Hell, Erza itu sangat kuat. Kalau dirinya tidak memiliki kekuatan Absolute Magic, pasti Luna juga sudah kalah melawan Jane. Ia sendiri mengakui kalau kekuatan Jane sangatlah hebat. Penguasaan terhadap pedang-pedangnya sangat hebat. Kekuatan yang sama mengerikannya seperti Erza.
"Ngomong-ngomong, aku belum mengetahui apa sihirmu, Aria. Aku penasaran sekali," kata Luna pada Aria,
"Kau ingin tahu?" Luna mengangguk. "Sihirku sama seperti Ayah. Karena Ayah sendiri yang mengajariku. Ah, aku juga bisa melakukan sihir Ibu. Menggunakan armor juga, tapi jarang aku gunakan."
Luna mengangguk mengerti. Aria dan Luna mulai 'berbincang'—dengan tanda petik, karena apa yang bisa diharapkan dengan kata berbincang kalau ini melibatkan The Most Powerful Female Mage generasi ini dan juga putri The Most Powerful Female Mage generasi sebelumnya? Mereka membicarakan tentang sihir-sihir yang bersifat… uh… destruction?
Tiba-tiba saja tangan kanannya ditarik dan digenggam erat oleh seseorang. Luna menoleh ke arah pelaku dan menemukan Jane lah yang menggenggam tangannya. Luna hanya bisa mengernyit dalam.
"Luna, kalau kau masih belum mau menikah, jadilah kekasihku," ucap Jane dengan senyuman charmingnya. Luna sendiri hanya blushing.
Melihat drama yang diperankan oleh Jane-Luna, tentu saja membuat seluruh anggota Guild yang ada di dalam guild berteriak kaget. Mira yang terkejut hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Kalau mereka benar-benar menikah dan memiliki anak, pasti anak mereka akan menjadi penyihir terkuat," ucap Mira dengan bayangan-bayangan gilanya. Membayangkan anak-anak berambut merah dan pink berkeliaran di dalam guild dan membuat kerusuhan. Dengan sangat cepat, Mira menangis. Entahlah… hanya Mira, Author, dan Kami-sama yang tahu.
Tiba-tiba saja (lagi) tangan Luna ditarik. Tapi kali ini tangan kirinya. Luna menoleh ke arah pelaku penarikan dan onyxnya menangkap sosok Ernando.
"Aku tidak akan pernah menyerahkan Luna padamu. Luna hanya milikku," ucapnya penuh dengan keposesifan.
Dan dengan itulah, kedua laki-laki yang memperebutkan Luna sepakat tanpa adanya bukti tertulis bahwa mereka adalah saingan dan mereka akan memperebutkan Luna. Mungkin… dengan nyawa mereka?
.
.
.
END of OMAKE
.
.
.
A/N:
Hello Guys!
Longtime no see ya! Um… walau akunya yang jarang bisa update cepet *dikeroyok masa*
Well… sedikit curhat boleh? Tentu saja boleh dong! *maksa*
Alasan kenapa chapter ini aku simpan di tabku adalah… karena nggak yakin sama adegan battlenya. Mohon maaf kalau battle scenenya jelek banget. Harap dimaklumi 'cause I'm not a perfect girl who can't b—ehem! I mean, 'cause I'm not an author who like battle scene. Kalau bukan tuntutan plot, aku gak bakal bikin scene aneh ini *make muka datar*
Anyways… aku terlambat lagi ya? I'm sorry, hontouni gomennasai, maaaaaaaafff! Sherry khilaf dan mungkin akan terus terlambat *eh?
Sebenarnya…. Sebenar-benarnya…. Chapter ini terlalu lama mendekam di dalam storage tabku. Kalau aku gak buka review dari kalian semua, mungkin sampai saat ini aku masih menelantarkan fic ini.
Umm… untuk yang bertanya-tanya*ceilah* kapan fic lain diupdate, gomenne, aku gak bakal update fic lain sampai fic ini selesai *mungkin*. Aku udah pernah nyoba bikin 3 fic berbarengan, alhasil idenya gak tertuang karena masih mikir fic satunya. Karena itu Sherry mau focus.
By the way, apa ini memang cuma aku atau reader-tachi juga mengalami? Ffn gak bisa dibuka lewat ponsel, tab, dll. Biasanya aku bakal update lewat tabku, tapi karena gak bisa diakses, yaudah nunggu sampai aku bernafsu(?) untuk mengupdate chap ini.
Well, banyak bacot aja gue kali ini.
Sekarang ada pairing baru! YEEEEYYYY! ErnanLunaJane! Cinta segitiga yang pelik kah!?
So, see ya in the next chapter!
.
Chapter 5 on progreesv
.
With Love,
Sherry Kurobara
