"Our Little Angel: Absolute Magic"

Disclaimer: Hiro Mishima

Pairing: Natsu/Lucy

Summary: Seorang gadis kecil mendatangi Fairy Tail untuk menemui ayahnya. Orang-orang Fairy Tail terkejut mengetahui siapa ayah dan ibu sang gadis kecil tersebut. Dan dimulailah kisah Ayah-anak tersebut untuk mencari keberadaan sang ibu yang telah menghilang

.

.

Chapter 5: Chatting

"Jadi, begitulah, Gray. Aku menitipkan Luna padamu selagi aku melakukan misi," kata seorang pria berambut merah muda spiky itu.

Pria berambut dark blue di depannya tidak sanggup untuk tidak melongo. Apakah yang di depannya ini benar-benar Natsu Dragneel yang itu!? Sesuatu yang sulit dibayangkan!

"Ayah! Aku bisa menjaga diriku sendiri! Tidak perlu sampai menitipkanku pada paman Gray!" seru Luna tidak setuju.

"Luna, kau ini anak perempuan. Walau kamu kuat, setidaknya Ayah bisa tenang karena menitipkanmu pada Gray dan Juvia. Apalagi kamu bisa mengenal Ernando lebih jauh," ucap Natsu sembari mengelus puncak kepala Luna.

'Karena disana ada Ernando itulah yang membuatku tidak ingin, Ayah,' batin Luna. ia masih ingat apa yang terjadi kemarin. Sebuah pertarungan akan dirinya antara Ernando dan Jane.

Wajah cemberut Luna akhirnya tergantikan dengan wajah penuh dengan senyuman. Sepertinya ia merencanakan sesuatu.

"Baiklah, Ayah, aku setuju," putus Luna dengan senyuman innocent.

"Bagus! Ayah senang mendengarnya!" seru Natsu dengan cengirannya. Ia mengecup kening Luna lama sebelum akhirnya ia menatap serius Gray. "Tolong jaga Luna, Gray." Setelah itu Natsu pergi.

"Oii! Aku bahkan belum mengatakan kalau aku setuju atau tidak," keluhnya sambil menggaruk belakang lehernya. "Oi, Luna, ayo!"

.

"LUNA!" seru Ernando dengan senyuman bahagianya saat melihat Luna masuk ke dalam rumah bersama ayahnya. "Jadi kau akan tinggal disini?"

"Untuk sementara sih. Selama Ayah menjalani misi," jawabnya singkat.

"Kalau begitu, ayo ikut aku! Aku akan menunjukkan banyak hal padamu!"

Ah, sepertinya Ernando tidak mendengar apa yang diucapkan Luna. Ia hanya terlalu excited karena Luna berada di rumahnya. Luna sendiri hanya menghela napas lelah.

.

Paginya, Luna yang baru saja bangun tidur langsung berjalan ke arah cermin. Ia melihat wajahnya—terlebih matanya—yang terlihat sangat kelelahan.

"Aku tidak menyangka kalau aku benar-benar baru bisa tidur jam tiga pagi." Luna ingat Ernando mengajaknya mengobrol hingga pagi. Ah, bukan mengobrol tepatnya. Hanya Ernando yang berbicara banyak.

Luna menepuk kedua pipinya sekali. Ia lalu masuk ke dalam kamar mandi, bersiap-siap untuk berangkat ke Fairy Tail.

.

"Ah, Luna, selamat pagi, bagaimana tidurmu?" sapa sang water mage, Juvia Fullbuster, sembari menata piring di atas meja makan.

"Selamat pagi juga, Bibi Juvia. Kurang tidur," jawab Luna singkat.

Juvia berhenti menata piring. Ia menatap Luna dengan khawatir. "Kenapa? Apakah kasurnya kurang nyaman?"

Luna langsung tersenyum terpaksa. "Bukan itu, Bibi Juvia. Kasurnya sangat nyaman."

Seolah-olah tersetrum listrik, Juvia akhirnya mengerti. "Mungkinkah... Ernando memaksamu untuk menemaninya?" Luna hanya menghela napas. "Sepertinya memang begitu. Aku minta maaf atas kelakuan Ernando. Biasanya ia tidak sampai seperti itu."

"Tidak perlu meminta maaf, Bibi, aku tidak mempermasalahkannya. Lagipula, Ernando adalah teman pertama Luna." Luna mengatakan kalimat terakhir dengan senyuman. Merasa diperhatikan, Luna memutar kepalanya untuk mencari siapa yang memperhatikannya.

Tepat di belaang Luna, Ernando berdiri kaku, setelah mendengar pernyataan Luna. Di otaknya terngiang-ngiang kalimat Luna. 'Teman pertama Luna... Teman pertama... Teman...' pikirnya. 'Jadi, aku hanya teman...' Ernando menjadi murung dengan aura gelap di sekitarnya. Juvia bersumpah ia melihat kata di atas kepala Ernando. Kata itu adalah... FRIENDZONED seperti di manga dan anime (A/N: Author ngakak pas nulis ini).

Juvia mengedipkan kedua matanya beberapa kali. Dan ia tidak melihat tulisan itu lagi. Hanya aura gelap di sekitar Ernando. Luna yang melihat 'teman pertamanya' mengeluarkan aura-aura gelap itu langsung saja mendekati Ernando, membuat Juvia bingung. Luna tersenyum sangan manis begitu berada di depan Ernando.

"Ohayou, Ernando."

"Ohayou, Luna. Maaf ya semalam aku terlalu senang kamu di sini jadi aku malah bikin kamu tidur kemalaman," ucap Ernando dengan nada menyesal.

"Daijoubu yo, Luna nggak marah kok." Luna lalu menarik tangan Ernando. "Ayo sarapan dulu, terus kita ke guild."

Merasa Luna tidak marah padanya, Ernando menatap wajah tersenyum Luna dengan tatapan lembut. Lalu ia menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Luna. Sementara itu Juvia yang melihat kelakuan keduanya hanya tersenyum lembut. Ia sangat yakin anak tunggalnya itu jatuh cinta pada Luna. Ah, mungkin jatuh cinta pada pandangan pertama.

.

Saat Luna membantu Juvia mencuci piring yang telah digunakan, tiba-tiba saja ada ketukan pintu. Karena Juvia sedang sibuk, Ernando dan Gray sedang bersiap-siap untuk pergi, Luna-lah yang membukakan pintu. Betapa terkejutnya ia saat mengetahui sang tamu-tak-diundang-di-pagi-hari-ini adalah siapa lagi kalau bukan Jane Fernandes.

Dengan senyum charming-nya, ia berkata pada Luna, "Ohayou, Luna-hime." Jane mengambil tangan kiri Luna dan mencium punggung tangan Luna. "Hari ini ayo kita berangkat bersama."

Ernando yang baru saja selesai bersiap dan mencari Luna, melihat Jane mencium punggung tangan Luna tentu saja hampir meledak. Dengan sangat cepat ia berada di belakang Luna dan menarik Luna ke dalam pelukannya, membuat pegangan tangan antara Jane dan Luna terlepas. Luna hanya terkejut—ralat, sangat terkejut. Terlebih saat ia bisa merasakan hangatnya pelukan Ernando dari punggungnya. Well, Luna hampir saja tertawa. Bagaimana bisa seorang Ice-mage memiliki tubuh sehangat ini.

"Jangan sentuh Luna. Luna milikku," kata Ernando pada Jane dengan mata tajamnya.

Jane berdiri tegak. Ia kini menatap remeh Ernando. "Kata siapa? Luna tentu saja milikku." Jane menarik Luna ke dalam pelukannya, membuat pipi Luna berada di dada Jane. "Milikku selamanya."

Dan tebak apa yang terjadi, Luna sekarang diperebutkan (lagi) oleh kedua fans Luna. Tangan kanan Luna ditarik oleh Ernando, tangan kirinya ditarik Jane. Luna yang sudah kesal tanpa kata-kata mengambil dua pedang dari dimensinya dan dengan kekuatan phsycokinetic-nya ia mengarahkan kedua bilah pedang itu ke arah dua mage kurang ajar ini.

"Jadi, Jane, Ernando, bisakah kalian melepaskan kedua tanganku? Atau kalian ingin merasakan rasanya ditusuk bertubi-tubi dengan pedang yang baru saja aku asah, hm?"

Tentu saja kedua calon pendamping Luna ini langsung saja melepaskan Luna. Mereka takut Luna benar-benar menusuk mereka dan akhirnya mereka mati tanpa bisa menikahi Luna.

"Bagus! Aku sangat senang kalian berdua bisa mengerti." Luna tersenyum senang. Ia lalu menghilangkan kedua pedangnya. "Nah bagaimana kalau kita ke guild sekarang? Kalian berdua sudah siap bukan?" Keduanya mengangguk sangat cepat. Takut kalau Luna marah lagi. "Kalau begitu kalian tunggu disini. Aku akan memanggilkan Bibi Juvia dan Paman Gray." Dan dengan itu Luna menghilang. Ia masuk kembali ke dalam rumah keluarga Fullbuster.

Satu catatan bagi kedua calon pendamping Luna ini: Jangan pernah membuat Luna marah karena Luna sangat menyeramkan bila marah.

.

Keluarga Fullbuster plus Jane dan Luna berjalan memasuki guild yang dalam keadaan sepi. Kebanyakan dari mage Fairy Tail sedang berada dalam misi. Yang terlihat di dalam aula guild hanya Erza dan Aria—yang jelas saja keduanya sedang memakan strawberry cake, Mira—yang sedang menyiapkan dan merapikan gelas dan piring, Wendy dan Levy—yang sedang bergosip ria. Mereka berlima berada di meja bar. Beberapa anggota guild lainnya hanya duduk-duduk di kursi yang ada di aula guild itu. Luna langsung saja bergabung bersama kelima female mage—yang berada di meja bar—tersebut dengan wajah tertekuk.

Gray dan Juvia tentu saja mengambil sebuah meja di pojok untuk berduaan. Jane dan Ernando yang ditinggalkan saling menatap tajam satu sama lain dengan aura permusuhan yang kuat. Mereka tidak akan mungkin bisa bersahabat jika salah satu dari mereka tidak mengalah untuk mendapatkan Luna. Dan tiba-tiba saja—entah siapa yang memulai terlebih dahulu—keduanya saling menyerang, bertarung tak peduli mereka berada di aula guild.

Sedangkan di tempat Luna dan kawan-kawan...

"Hai, Luna. Kulihat kau datang bersama Jane dan Ernan tadi." Luna menghela napas lelah. "Biar kutebak, mereka tiba-tiba berada di depan rumahmu dan saling memperebutkanmu?" tebak Aria saat Luna mengambil tempat tepat di samping Aria.

"Bukan di depan rumahku sih. Sementara ini aku memang tinggal di rumah keluarga Fullbuster. Tapi kalau begini ceritanya, mungkin besok aku akan tinggal di rumahku sendiri," keluh Luna dengan helaan napas.

Bagaimana dengan dua lelaki tanggung itu? Ooh, mereka bertarung dengan kepalan tangan mereka dan barang-barang di sekitar mereka. Berdoa saja barang-barang itu tidak terlempar ke arah sang ratu peri dan putri sang ratu peri.

"Jadi Luna, selama satu tahun ini kamu kemana saja?" tanya sang barmaid tiba-tiba. Dari nada suaranya, Mira terdengar sangat penasaran.

"Maksudnya? Setelah Ibu menghilang?" tanya Luna balik dengan innocent face-nya. Mira langsung saja mengangguk. "Umm, aku berkeliling hampir ke seluruh negeri. Tentu saja ditemani oleh para roh bintang. Ah, saat itu tujuanku adalah mencari Ibuku. Tapi karena terkadang aku diserang, tentu saja karena Absolute Magic, Loke menyuruhku untuk meminta bantuan Ayah dan juga Fairy Tail. Walaupun sempat ada adu mulut, akhirnya aku kesini. Begitulah."

"Adu mulut soal apa?" tanya Wendy yang tiba-tiba bergabung.

"Eeh... umm, tentang meminta bantuan pada Ayah dan Fairy Tail untuk mencari ibuku. Aku tidak ingin merepotkan Ayah dan kalian semua. Saat itu aku tetap ingin mencari Ibu walau tetap diserang atau mungkin lebih tepatnya mereka mencoba menculikku. Tapi para roh bintang, khususnya Loke dan Caprico tidak setuju. Uuh, sebenarnya ini memalukan."

"Tapi mereka memang benar, Luna. Sejak awal kamu adalah bagian dari keluarga ini. Bagian dari Fairy Tail. Sudah pasti kami akan membantumu untuk mencari Lucy, karena Lucy juga keluarga kami," kata Mira dengan senyuman terukir di bibirnya.

Luna mengangguk. "Sepertinya keputusanku untuk datang kemari adalah keputusan yang benar." Wendy dan Mira mengangguk senang. Aria hanya tersenyum tipis. "Aku senang bisa mengenal banyak mage yang begiu hebat. Bisa mengenal Ayah dan juga teman-temannya. Sekarang aku juga tahu kalau kalian selama ini berusaha mencari ibuku. Selama 8 tahun ini."

"Tentu saja! Salah satu keluarga kami menghilang, kami pasti mencarinya walau memakan bertahun-tahun. Terlebih, jika itu bisa membuat senyuman dan keberisikan ayahmu kembali, tentu saja kami akan melakukannya."

"Eh? Ayah?" tanya Luna kebingungan.

"Aah, saat Lucy, ibumu menghilang, Natsu hampir saja lepas kendali dan hampir mengacak-acak kota. Untung saja Master Makarov menghentikannya. Memang pada hari itu Natsu berhasil dihentikan, tapi besoknya Natsu menghilang. Ia baru kembali dua minggu setelahnya. Saat kami tanya kemana ia selama ini, ia jawab pergi mengelilingi dunia mencari Lucy. Karena pencarian pertamanya ia tak menemukan informasi sedikitpun, ia murung. Lebih gloomy. Ia mulai mengambil misi-misi sulit seperti mengalahkan monster dan sebagainya hanya untuk mencari informasi. Sampai akhirnya kamu datang ke Fairy Tail."

"Oooh, jadi begitu..."

"Ngomong-ngomong, dimana Natsu?"tanya Erza Fernandes. Ah, tentu saja masih memakan strawberry cake miliknya.

"Benar juga, dimana Natsu? Tumben sekali sampai jam segini ia belum datang." Anggota Guild yang lain mulai kebingungan dengan ketidakhadiran Natsu.

"Ayah pergi dengan misi. Bersama Happy," ucap Luna dengan nada sebal.

"Kenapa kau terlihat sangat kesal begitu, Luna?" tanya Aria sembari memakan strawberry cake kesukaannya—dan sang ibu.

"Bagaimana tidak kesal kalau kamu ditinggal sendirian di rumah—well, Ayah tidak membiarkanku di rumah sendirian sih. Aku ingin ikut membantu misi Ayah, tapi Ayah melarangku. Katanya karena itu misi S-class." Luna mengerucutkan bibirnya, pertanda ia kesal. "Happy boleh, aku tidak."

"Maa, itu karena Natsu tidak bisa naik kendaraan, jadi ia harus bersama Happy. Dan lagi, walaupun kamu sangat kuat, Luna, kamu bukan S-class mage. Berusahalah untuk menjadi S-class mage tahun depan, Luna," kata Mira.

"Ayah seorang S-class mage? Ibu tidak pernah menceritakannya," gumam Luna yang masih bisa didengar oleh Aria, Erza, Mira, Levy, dan Wendy.

"Aa, tentang itu..." Wendy membuka suaranya, "Lucy-san menghilang sebelum Natsu-san menjadi S-class mage."

"Benar juga. Kalau tidak salah Natsu menjadi S-class mage setahun setelah Lucy menghilang." Erza yang sudah selesai memakan strawberry cake nya membalas.

"Saat aku dan Jane berumur tiga tahun bukan? Saat itu benar-benar heboh hingga sampai sekarang aku masih ingat," kata Aria yang juga sudah selesai memakan strawberry cake.

"Seingatku saat itu Natsu tidak ingin mengikuti S-class exam karena masih ingin mencari Lucy. Master tidak mengijinkan kecuali Natsu menjadi S-class mage. Karena saat itu pesertanya sedikit. Gray dan Juvia tidak bisa ikut karena saat itu Juvia mendekati masa melahirkan. Gajeel dan Levy baru saja menikah dan pergi bulan madu," kata Mira dengan pose berfikir.

"Eh? Tante Levy dan paman Gajeel sudah menikah? Ibu tidak tahu itu! Ibu pasti akan sangat terkejut nantinya!" seru Luna terkejut.

"Miraa!" jerit Levy dengan pipi yang merona.

"Doushite, Levy? Tak perlu malu seperti itu," ucap Mira dengan senyuman innocent nya.

Erza, Wendy, Aria, Mira, dan Luna tertawa kecil melihat pipi Levy yang sudah memerah seperti kepiting rebus. Namun, tiba-tiba saja ada kursi melayang ke arah Luna. Luna yang tanpa persiapan apapun tentu saja langsung terjatuh karena kursi melayang tersebut.

"Luna!" seru kelima female mage itu.

"Daijoubu desuka?" tanya Wendy khawatir dengan Luna.

Luna dengan aura suramnya bangkit dari posisi jatuhnya. Ia menatap tajam kedua mage kurang ajar yang seenaknya melempar kursi ke arahnya. Tanpa aba-aba lagi ia mengambil pedang panjang dan besar untuk menghajar siapa lagi kalau bukan Jane dan Ernando.

"Kalian berdua…" Luna menyeret pedangnya. "HENTIKAN PERTARUNGAN TIDAK BERGUNA INI!"

Dan kemudian… Luna menghajar Jane dan Ernando yang tidak bisa berbuat apapun. Member guild yang melihat cara Luna menghajar kedua pemuda itu hanya bisa meringis dan takut.

'Benar-benar seperti Erza, menakutkan.'

.

Sementara itu di Café Nourriture Délicieuse sekelompok orang duduk di meja melingkar dengan memakai pakaian seperti penjaga. Mereka memakan pesanan mereka dengan mengobrol.

"Kalian tahu tower yang berada jauh di dalam hutan liar itu kan?" tanya seorang penjaga dengan rambut cepak berwarna coklat. Teman-temannya menganggukkan kepala mereka. "Kudengar ada seorang wanita yang disekap di tower itu."

"Bukankah tower itu adalah dulunya base guild? Yang sepertinya mereka dibubarkan karena mereka membunuh beberapa orang yang tak bersalah," sahut salah satu temannya.

"Aku dengar mereka tetap menjalankan guild mereka seperti biasa," kata temannya yang lain dengan nada berbisik. "Mereka menjadi dark guild."

"Apa tujuan mereka menyekap seorang wanita?"

"Aku pernah mendapat laporan dari salah satu anak buahku, ia mendengar suara dari dalam tower itu saat berjalan melintasi tower itu dengan jarak yang agak jauh. Tapi saat ia mendekat, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana."

Cukup mendengarkan perkataan sekelompok orang itu, lelaki berjubah hitam dengan surai berwarna merah muda mendekati mereka. Di sampingnya ada seekor kucing biru yang bisa terbang.

"Maaf, bisa tolong beritahu dimana letak tower itu?"

.

.

.

To Be Continued

.

.

A/N

Konnichiwa minna-san! Ogenki desuka?

Di sini Sherry mau minta maaf, Sherry sudah menelantarkan semua fiction Sherry selama… well ada yang satu tahun ada yang nyaris dua tahun. Sherry bukan tanpa alasan meninggalkan FFN selama satu tahun. Pertama: karena virus Writer Block yang sudah menyebar selama satu setengah tahun ini. Kedua: karena Sherry sangat—benar-benar—sibuk dengan sekolah Sherry. Ketiga: baru saja sekitar dua minggu yang lalu Sherry menyelesaikan UN Sherry.

Sherry mau mengucapkan SELAMAT BUAT READER-TACHI YANG SUDAH MELAKSANAKAN UN (termasuk Sherry)

Sherry juga mau minta doa buat Sherry niih hehehe… Doakan Sherry bisa keterima di PTN yang Sherry inginkan yaa… kalau bisa sih SNMPTN sudah keterima. Amiinn

Adakah diantara Reader-tachi yang mengecek biography Sherry? Beberapa hari yang lalu Sherry menuliskan note untuk reader-tachi yang sudah menunggu fiction Sherry.

Soo, this is the OLA AM chapter 5. Chapter 6 is on progress. So, what do you want me to update after this chapter? OLA AM chapter 6 or other fiction?

Thanks for the follows, favorites, and reviews.

And please don't forget to review this chapter as well. Thankyou.

With Love,

Sherry Kurobara