Maaf Sherry lama updatenya~ (baru kemarin ding)

Dan setelah chap ini, Sherry akan menghilang selama seminggu karena ujian yang menanti Sherry.

WARNING! Kemungkinan di dalam chap ini akan banyak typo nya. Karena Sherry mengerjakan chap ini ngebut~

Happy RnR~

"Mmmm… jadi biar aku simpulkan," kata Lyfa dengan telunjuk di depan keningnya dan sedang menutuk-nutuk keningnya itu. "Namamu adalah Uzumaki Naruto, seorang ninja dari desa yang bernama Konohagakure dan kau adalah jinchuuriki dari Kyuubi."

"Mm…" Naruto bergumam sambil melihat ke arah orang-orang bersayap seperti peri itu.

"Dan setelah kau mengalahkan Uchiha Madara dan Uchiha Obito yang berarti mengakhiri perang dunia shinobi keempat, kau tau-tau saja berpindah ke sini?" lanjut Lyfa. Naruto mengangguk kembali. "USOOO!"

"Aku tidak berbohong, Lyfa-san… Aku tidak mengerti mengapa aku bisa berada disini. Sebelumnya, aku sedang terbujur lemas dan Hinata-chan menangisiku dan Sakura datang lalu mengobatiku!" ucap Naruto dengan sedikit memelas.

"Lalu dimana Nii—eh, Kirito-kun?" tanya Lyfa lagi.

"Aku tidak tau."

"…"

"…"

"Tunggu! Kalau kau ada disini, jangan bilang kalau Kirito-kun ter-teleportasi ke duniamu, Uzumaki-kun?" tanya Asuna dengan wajah agak tenang.

Naruto tidak bisa menjawab apapun. Ia sendiri tidak mengerti akar permasalahannya.

'Bocah, biarkan aku memakai tubuhmu dulu' Terdengar suara yang sangat besar dalam diri Naruto.

'Kurama? Untuk apa?'

'Aku akan menjelaskan semua yang terjadi pada mereka. Aku sebenarnya sangat malas meladeni mereka, tapi aku lama-lama sebal melihat muka mereka.'

Naruto membiarkan Kurama—Kyuubi—untuk mengambil alih tubuhnya.

Asuna dan yang lainnya terdiam dengan perasaan khawatir juga penasaran. Penasaran karena lelaki berambut kuning ini—ngomong-ngomong—tidak memiliki sayap. Wait! Kenapa mereka baru menyadari kenyataan bahwa Naruto tidak memiliki sayap padahal ini di dalam ALO? Jangan katakan kalau Naruto adalah program system seperti Yui saat di SAO. Tapi ia bilang kalau ia adalah seorang ninja. Eh? Ninja?

Tanpa mereka sadari, Naruto—yang sejak tadi menutup mata—kini telah membuka matanya dan mengejutkan orang-orang di sekitarnya. Mata biru sapphire itu berubah menjadi warna merah terang.

"Hei bocah! Dengarkan aku! Aku adalah Kyuubi, bijuu yang mendiami tubuh bocah ini, Naruto. Aku akan menjelaskan pada kalian tentang situasi ini." Naruto—Kurama yang benar—dengan angkuh dan santainya mengatakan, "Perang shinobi keempat telah selesai dan bocah ini kelebihan muatan chakra yang dimilikinya. Karena kelebihan muatan itulah ia men-teleport dirinya ke masa depan. Tanpa kami sadari, ada yang ikut campur tangan dan menyebabkan, Naruto ke dunia ini, dan seorang lagi dari dunia ini ke dunia shinobi."

"Entah mengapa aku jadi mengingat Asas Black," kata Sinon tiba-tiba. Woi, kenapa malah inget sama pelajaran Fisika?

"Q lepas sama dengan Q terima. Benar juga!" kata Lizbeth menyetujui pendapat Sinon. Lhoh? Masih mau mengingat pelajaran Fisika? Author lagi sebel sama Fisika nih! Jangan lanjutkan!

"Jadi maksudmu Kirito-kun terjebak di dunia-shinobi-yang-kau-maksud itu?" tanya Asuna mengkonfirmasi lagi. Ia berharap ini semua mimpi.

"Benar. Dan aku mengharapkan kalau kalian bekerja sama dengan kami."

"Kerjasama?"

"Aku akan men-teleport Naruto ke dunia nyata. Aku tau kalau ini bukan dunia nyata. Selama di dunia kalian, aku berharap kalian akan membantu bocah ini kembali ke dunia shinobi. Dan aku sangat mengharapkan pengembalian secepatnya."

"Kenapa cepat-cepat?" tanya Silica dengan tampang tidak berdosanya.

"Aku sudah memberitahukanmu kan, bocah, perang dunia shinobi keempat baru saja usai. Bocah ini, Naruto Uzumaki, yang mengalahkan dua musuh terkuat sehingga bila bocah ini menghilang, maka akan menyebabkan kerusuhan dimana-mana. Terlebih bocah ini akan segera diangkat menjadi Hokage."

"APA!?" jerit Naruto—yang asli—saat mendengar ucapan Kurama. "Kau tidak pernah mengatakan apapun padaku, Kurama!"

'Che! Kau mendengar semuanya!' ucap Kurama di pikiran Naruto.

"Aku selalu mendengarnyaa!" seru Naruto dengan marah, kesal, dongkol, dan perasaan lainnya.

Asuna dan yang lainnya melongo sejadi-jadinya. Keperibadian Naruto berubah. Awalnya ceria dan lembut, lalu menjadi angkuh, sombong, dan suka memerintah, lalu menjadi marah-marah dan penuh semangat.

"Kalau begitu, aku akan men-teleport diriku kembali!" seru Naruto dengan terburu-buru.

'Dasar bocah! Kalau kau lakukan itu, aku yakin tubuhmu akan hancur'

"HEH!? Kenapa!?"

'Tubuhmu sudah terlalu lelah, bocah! Berapa banyak chakra yang telah kau keluarkan heh? Pokoknya, dengan bantuan chakraku, aku akan mengirimmu ke dunia nyata mereka.'

Mata Naruto berubah menadi mata merah. "Aku akan men-teleport bocah berisik ini ke dunia kalian. Tolong kalian secepatnya kembali ke dunia kalian, karena sepertinya aku akan membuat kerusuhan di dunia maya ini."

Naruto—atau bisa dibilang Kurama—menyeringai dengan mengerikan. Mereka sadar kalau yang dikatakan Kyuubi itu bukan bercanda. Dan tiba-tiba saja aura Naruto berwarna oranye dan menyelimuti tubuhnya. Sedetik kemudian Naruto menghilang.

Saat semuanya masih melongo ria, tiba-tiba terdengar system announcement.

"Pada seluruh player, systemerror terdeteksi. Systemmaintenance akan segera diaktifkan. Seluruh player harap segera logout dalam waktu 10 menit. Sekali lagi, pada seluruh player, systemerror terdeteksi. Systemmaintenance akan segera diaktifkan. Seluruh player harap segera logout dalam waktu 10 menit."

Hening…

"WHAAAAT!?" seru Klein saat system announcement selesai.

"Sepertinya yang dikatakan Uzumaki-san ada benarnya. Ia telah membuat eror ALO," ucap Silica dengan memeluk Pina.

"Ayo kita log out di penginapan," kata Asuna. "Kita harus cepat. Menurut Kyuubi-san katakan, Uzumaki-kun akan di-teleport ke dunia nyata, dunia kita. Menurut firasatku, ia akan ada di samping kita. Di Dicey Café."

Mereka terbang dan menggunakan crystal berwarna biru untuk teleport ke lantai 50 dan langsung log out bersamaan. Saat mereka berhasil log out dan kesadaran mereka telah kembali ke dunia nyata, mereka melihat wajah Agil—pria berbadan besar dan berkepala botak itu—sedang pucat-pucatnya. Mereka menyadari apa yang membuat pria bertubuh besar itu pucat pasi. Di hadapan mereka, ada seorang lelaki berambut kuning, berbaju oranye-hitam, memakai bandana berwarna hitam dengan suatu lambing diatasnya yang ada di dahinya sedang… WHAT!? Berdiri di langit-langit!?

"A, a, a, a, a, a, a, apa yang k, kau lakukan diatas sana!?" tanya Asuna pucat pasi juga.

"Kalian lama! Aku menunggu kalian sambil sedikit bermain-main." Naruto 'turun' dari langit-langit dan memandangi orang-orang yang baru ditemuinya itu dengan senyuman khas dirinya.

"A, Asuna… kau mengenal orang ini?" tanya Agil masih berwajah pucat.

"Sedikit."

Setelah kejiwaan(?) Agil bisa terselamatkan, ia mulai bercerita.

"Tadi pas café sedang sepi-sepinya, tau-tau saja Kiri, eh bukan, tubuh Kazuto bersinar dan ia menghilang." Rahang Asuna mengeras. "Lalu kupikir ada masalah apa, aku buru-buru mengambil AmuSphere dan saat mau log in, aku melihat ada sinar dan cowok itu duduk di kursi Kazuto. Saat itu aku masih tidak mempercayai pengelihatanku dan aku tetap terdiam. Lalu beberapa saat setelahnya, ia naik ke dinding dan berdiri di langit-langit. Itu benar-benar membuatku jantungan."

"Hahaha… maaf karena membuatmu terkejut!" ucap Naruto seperti tidak menyadarinya sebelumnya. "Kenapa kalian bisa terkejut seperti itu hanya karena melihatku berdiri di langit-langit?"

"Tentu saja, BAKA! Mana ada orang yang bisa berdiri di dinding, apalagi di langit-langit!" seru Lyfa—a.k.a Kirigaya Suguha—dengan wajah memerah karena marah.

"Ada, Suguha-chan," kata Lisbeth—a.k.a Shinozaki Rika—dengan wajah serius. "Kakakmu itu bisa berlari di dinding."

"What!?" seru Suguha tidak mempercayai apa yang di dengarnya.

"Waktu itu aku dan Kirito terjebak di dalam trap atau dungeon dan tidak bisa keluar. Saat itu Kirito dengan ide gilanya—berlari di dinding—berhasil mencapai setengah jalan dan akhirnya jatuh."

"Itu kan di Sword Art Online, Rika-san…" kata Silica ikut menimbrung.

Naruto tertawa melihat kawan-kawan barunya itu. Setelah selesai, ia menghadap ke arah Agil dan mengatakan, "Namaku Uzumaki Naruto. Salam kenal-dattebayo!"

"Ah… namaku Andrew Gilbert Mills. Salam kenal juga, Uzumaki-san…" kata Agil—a.k.a Andrew. Perjanjian, karena Author sangat malas menggunakan nama yang ribet seperti milik Agil, aku akan memanggilnya Agil saja. Toh juga namanya Andrew Gilbert.

"An… dureu?" Naruto mencoba untuk mengeja nama Agil.

"Panggil saja Agil kalau kau mau. Mereka selalu memanggilku itu."

"Agil-san. Baiklah…"

"Kalau begitu, bisakah aku bertanya lebih lanjut, Uzumaki-kun?" tanya Asuna seperti mau menginterogasi seseorang.

"Panggil saja Naruto, emm…"

"Asuna. Yuuki Asuna."

"Panggil saja Naruto, Asuna," kata Naruto dengan senyuman cerianya.

Cowok ini sangat mudah beradaptasi dan berteman dengan siapapun.

"Baiklah, Naruto-kun, aku ingin bertanya, kapan, err, maksudku tahun berapa kau berasal?"

"Tahun? Emm… tahun XXX," jawabnya dengan ringan, membuat melongo. Tiga digit angka untuk tahun Naruto berasal (Author nggak tau Naruto itu berasal dari tahun kapan. Asal nulis aja. Jadi mohon dimaklumi. Karena takut salah, Author gila imajinasi ini menggunakan variable X). Naruto berasal dari tahun yang hanya tiga digit angka itu? Sekarang ini tahunnya sudah empat digit angka dan ini sudah mau mencapai abad 21 setengah!

"Kau serius? Ini tahun 2026 lho!" kata Sinon—Asada Shino—dengan tidak percaya.

"Aku sangat yakin kalau yang kusebutkan itu tahun aku berasal."

Hening…

"Emm… sudahlah. Aku akan bertanya lagi, Naruto-kun," kata Asuna menyudahi keheningan panjang itu. Naruto mengangguk. "Sekarang kau berumur berapa?"

"Delapan belas tahun."

"Umurmu delapan belas!? Kau terlalu tinggi untuk dikatakan delapan belas! Beda seperti delapan belas kita!" ucap Shino dengan sedikit menyindir Asuna dan Rika.

"Maaf karena diriku masih terlalu muda untuk dikatakan delapan belas," ucap Asuna dengan sedikit jengkel.

"Kau berasal dari Konohagakure kan? Seperti apa itu?" tanya Rika tanpa memperdulikan sahabatnya yang sedang jengkel.

"Desa yang ramai. Dikelilingi oleh tebing dan hutan," jawab Naruto singkat.

"Kau tadi menyebutkan tentang Hokage. Apa itu Hokage, Naruto-san?" tanya Silica—Ayano Keiko—dengan polosnya.

"Hokage itu kepala desa Konohagakure. Emm… bisa dibilang orang yang berada di puncak. Kekuatannya sangat luar biasa hebat dan sangat dikagumi oleh banyak orang. Aku sangat bercita-cita menjadi Hokage!" kata Naruto dengan semangatnya.

"Jadi Naruto-san akan menjadi seorang Hokage? Itu sangat luar biasa! Selamat ya!"

"He he… sayangnya aku malah terjebak di masa depan."

Hening…

"AAARGH! Aku ingat! Aku terjebak disini karena pria tua itu!" seru Naruto dengan amat sangat marah.

'Kau akhirnya mengingatnya, bocah!'

"Kau sudah tau, tapi tidak memberitahukanku, Kurama!"

'Khe he… aku hanya ingin mengetahui berapa lama kau bisa mengingatnya kembali'

"Naruto-san, siapa yang kau sebut dengan pria tua itu?" tanya Keiko.

Saat itu juga pintu café terbuka dan terdengar suara bahwa ada pelanggan. Naruto begitu melihat orang yang masuk, langsung terkejut, senang, dan berbagai ekspresi yang tidak bisa digambarkan.

"Ya… Lama tidak bertemu, Naruto…" kata lelaki berambut kuning itu.

"Ya, benar-benar lama. Lama bagimu, Tou-san…" kata Naruto.

HEEEEH!?

Tanpa banyak basa-basi, Naruto langsung mendekati ayahnya itu dan berkata, "Apa yang kau lakukan padaku, Tou-san? Mengirimku ke masa depan!?"

Lelaki itu—Namikaze Minato—tersenyum dengan cara yang anaknya sering lakukan.

"Bukan aku, Naruto. Aku hanya berada disana sesaat sebelum kau datang ke masa depan. Dan ngomong-ngomong, aku bukan Tou-san-mu lagi."

"Eh?"

"Aku ini reinkarnasi ayahmu. Seharusnya aku tidak bisa mengingat apapun dari kejadian masa lalu, tapi karena ada seseorang yang men-teleport dirimu ke masa depan, aku mengingatnya dan aku muncul waktu itu."

"Jadi… bukan Tou-san yang men-teleport aku?"

Minato mengangguk. Naruto menghembuskan napas panjang-panjang.

"Namikaze-san?"

Minato langsung menoleh ke sumber suara—wait? Kenapa jadi gaje beneran?—dan mendapati seorang anak perempuan berambut coklat panjang.

"Oh, Yuuki Asuna, benar bukan?" tanya Minato mengkonfirmasi.

"Benar."

"Wah… benar-benar mengejutkan bisa bertemu denganmu, Asuna-san…"

"Eh? Asuna, kau mengenalnya?" tanya Rika dengan kebingungan. Naruto pun juga sama bingungnya.

"Emm… biar kukenalkan. Dia ini sahabat ayahku, Namikaze Minato-san. Namikaze-san telah membantu banyak pada ayahku selama ini," kata Asuna.

"HEEEE!? Tou-san!"

"Sudahlah… ini sudah tidak penting lagi. Ceritakan padaku, seperti apa kondisinya saat ini," ucap Minato pada Naruto.

Lalu Naruto menceritakan segalanya pada ayahnya itu. Mulai dari kemenangannya—yang ngomong-ngomong itu lagi nggak penting—hingga ia datang ke dunia virtual.

"Jadi begitu…"

"Saat Uzumaki-kun datang, teman kami, Kirigaya Kazuto menghilang. Kata Kyuubi-san, Kazu—Kirigaya-san terlempar ke dunia shinobi," ucap Asuna dengan tangan bergetar.

Minato berfikir agak lama. Ini membuat suasana mencekam diantara mereka.

"Apakah…" Asuna dan yang lain langsung memperhatikan Minato. "ada yang spesial dari Kirigaya Kazuto?"

Semuanya terdiam. Spesial? Dalam apa?

"Tunggu, sepertinya aku pernah mendengar nama Kirigaya Kazuto. Dimana?" kata Minato sambil mengingat-ingat. "AA! Aku ingat! Kirigaya Kazuto yang kau katakan itu jangan bilang Kirito, Yuusha dari death game Sword Art Online?"

Untung Kazuto tidak ada di sini. Begitu ia tau kalau ada orang yang memanggilnya Yuusha, ia pasti bad mood.

"Benar." Asuna bingung, kenapa Minato bisa mengetahui itu.

"Ayahmu pernah bercerita padaku—" ucap Minato seolah-olah bisa membaca pikiran Asuna mengatakan, "—kalau anaknya berhasil selamat dua kali berkat bantuan Kirigaya Kazuto. Dan ia pernah bilang kalau kau akan ditunangkan dengan Kirigaya Kazuto."

Tentu hal ini membuat Asuna tercengang. Ayahnya tidak pernah mengatakan apapun padanya tentang hal ini. Apalagi Suguha. Ia lebih tidak mempercayai apa yang barusan di dengarnya.

"Aku yakin karena dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, ia terlempar ke masa lalu yang kita katakana dunia shinobi."

"Lalu bagaimana cara agar aku bisa pulang, Tou-san?" tanya Naruto.

"Aku tidak tau. Kyuubi, kau bisa mendengarkanku kan? Aku ingin bicara padamu!"

'Che! Yondaime selalu saja seperti itu. Bocah! Biarkan aku memakai tubuhmu!'

Tanpa banyak cincong(?) Kurama mengambil tubuh Naruto. Mata biru sapphire Naruto berubah menjadi merah ruby(?).

"Lama tidak bertemu, Kyuubi no Kitsune." Minato memasang wajah serius bila berhadapan dengan Kurama.

"He? Tidak terlalu lama juga aku bertemu denganmu, Yondaime."

"Sekarang beritahu alasanmu mengapa Kirigaya Kazuto bisa terlempar ke dunia shinobi!"

"Kau ini tidak bisa berbasa-basi, he, Yondaime?" kata Naruto—Kurama—dengan sedikit mengejek. "Aku tidak tau apa persisnya, tapi bocah hitam itu memiliki kemampuan bertarung yang sangat bagus. Bocah itu memang bukan ninja yang memiliki chakra luar biasa, tapi kemampuannya itu yang menyebabkan seseorang membawanya datang ke dunia shinobi."

"Kau tidak bisa men-teleport Naruto dan Kirigaya-san?" tanya Minato.

"Tidak bisa. Chakra ku sudah dipakai bocah ini untuk menghadapi Madara dan Obito Uchiha. Bocah ini sudah kelelahan dan tidak memiliki chakra yang tersisa. Tubuhnya juga penuh luka. Untungnya ninja medis sudah mengobati luka-luka nya. Kalau tidak, aku yakin saat bocah ini di teleportasi, ia akan hancur."

"Cara lainnya?"

Asuna dan yang lainnya berdebar-debar menunggu jawaban Kurama.

"Tidak ada."

Asuna dan yang lain langsung lemas. Tidak pernah membayangkan kalau pemain terkuat dan orang yang dicintainya terjebak di dunia yang siapapun tidak bisa mencapainya.

"Tapi… dalam seminggu, aku yakin bocah ini sudah berhasil mengumpulkan chakranya lagi. Jadi bocah ini bisa kembali dan bocah hitam itu bisa kembali juga."

"SEMINGGU!?" seru Asuna. Ia tak pernah menyangka kalau ia akan berpisah dari Kazuto, orang yang sangat ia cintai itu selama seminggu.

"Kau bercanda, Kyuubi. Naruto adalah ninja yang memiliki chakra besar. Dalam waktu dua hari ia akan mengumpulkan chakranya kembali," ucap Minato. Ia tau kalau Asuna pasti akan menangis karena mengetahui ia tak bisa bersama orang yang dicintainya selama seminggu.

"Kau sudah lupa, heh, Yondaime? Chakra Naruto itu asalnya dari aku. Aku sudah kehilangan banyak chakra hanya karena menghadapi Madara dan Obito Uchiha."

Setelah berdebat sedikit dengan Kurama, Yellow Flash itu menyerah. Ia tahu batasan chakra semua ninja. Ia juga tahu batasan chakra jinchuuriki.

"Baiklah, aku akan mengembalikan kesadaran bocah ini." Mata merah itu berubah menjadi mata biru sapphire. "Bagaimana? Apa ada caranya?"

"Kau harus menunggu seminggu, Naruto."

"APAAA!?"

"Kalau begitu aku akan pulang. Sampai jumpa lagi, Naruto," kata Minato sambil menarik pintu café itu.

"Tou-san! Apakah…" Minato melihat ke arah Naruto. "Apakah Kaa-san ada di dunia ini?"

Minato tersenyum. "Tentu saja! Apa kau akan tinggal bersama kami? Kau bisa bermain dengan 'Naruto' kami."

"Hehe, jadi aku seperti kakaknya?"

"Bisa dikatakan, kau itu dia."

"EH? Maksud Tou-san Naruto itu reinkarnasiku? EEH? Aku kan belum mati!"

"BERCANDA!" seru Minato sambil tertawa. "Jadi kau mau menginap di rumah kami?"

Naruto terdiam sejenak. Ia memang sangat merindukan ibunya itu, tapi ia tak mau menjadi pengganggu di keluarga baru mereka. Ia bukan seseorang dari dunia ini.

"Tidak, Tou-san. Kapan-kapan saja aku akan main kesana."

Minato mengangguk lalu matanya menatap mata chestnut Asuna, "Asuna-san, aku mohon bantuanmu untuk menjaga Naruto selama seminggu. Ia tak tau apapun tentang dunia ini."

"Baik, Namikaze-san." Asuna tersenyum. Ia mengerti kekhawatiran Minato. Sama seperti ia mengkhawatirkan Kazuto yang ada di dunia shinobi.

"Tou-san! Aku ini sudah delapan belas tahun!"

Minato tertawa dan meninggalkan Dicey Café. Suasanapun jadi sepi.

"Mmm… jadi Uzumaki-kun akan tinggal dimana?" tanya Suguha pada Asuna.

"Namikaze-san memintaku untuk menjaganya, jadi Naruto-kun akan tinggal di rumahku," jawab Asuna dengan santainya.

"Apakah… orangtuamu tidak masalah?" tanya Naruto. Benar-benar mengejutkan kan? "Karena yang akan menginap di rumahmu itu seorang laki-laki lho."

"Keluargaku sudah mengenal Namikaze-san sejak dulu. Aku rasa mereka pasti memperbolehkan kalau tau Namikaze-san butuh bantuan mereka."

"Asuna! Aku akan menginap di rumahmu kalau begitu!" seru Rika dengan semangat. "

"Aku juga, Asuna-san," kata Keiko. "Habisnya aku penasaran dengan dunia shinobi yang Naruto-san katakan."

"Aku… maafkan aku, aku tidak bisa," kata Suguha dengan nada menyesal.

"Ada apa, Suguha-chan?" tanya Asuna dengan khawatir.

"Aku akan menjelaskan pada Okaa-san tentang Nii-chan. Aku tidak yakin kalau Okaa-san akan tenang saja. Aku takut kalau Okaa-san akan bersedih bila mengetahui Nii-chan pergi lagi, seperti empat tahun yang lalu…"

Hening…

Mereka tau kalau hal ini akan menyebabkan kesedihan. Mereka tahu betapa perihnya hal itu. Tapi mereka akan berusaha untuk membawa pulang Kazuto.

"Suguha-chan… aku akan menenangkan Okaa-sama."

"Asuna-san… Terimakasih telah membantuku… Asuna-neechan…" Suguha menggoda Asuna. Dan saat itu pula Asuna wajahnya memerah. Lucu sekali bukan?

TSUZUKU~