Terimakasih untuk yang sudah membaca, mereview, memfollow, memfavorite fanfiction ini. Sherry sangat terharu. Maaf kalau update nya lama. Ini dikarenakan UAS yang berlangsung 2 minggu. Dan kalau ada typo(s) di chapter ini, mohon maaf sebesar-besarnya.
Sherry own neither Naruto nor Sword Art Online.
.
.
Chapter 3: Kazuto in Shinobi world!
"Kalian ini siapa?" tanya Kirito—Kirigaya Kazuto—dengan heran. Seharusnya ia bersama Asuna dan yang lain, tapi kenapa ia malah berada disini?
"Kau siapa!? Mata-mata!?" seru shinobi yang ada disana sambil menunjukkan kunai mereka. Kalau Kazuto adalah seorang mata-mata, maka mereka akan bersiap untuk membunuhnya.
"A-apa ini?" tanya Kazuto dengan takut-takut. "Mata-mata? Apa maksudnya? Dan ini sekarang dimana?"
Seorang perempuan berambut hitam menghadangi para shinobi dan berkata, "Orang ini bukan mata-mata. Ia tidak memiliki chakra seperti kita!"
"Hinata benar. Laki-laki itu tak memiliki chakra seperti kita," kata Kakashi sambil membuka mata sharingannya. Ia tak bisa melihat chakra di dalam tubuh laki-laki hitam itu.
"Kalau Nona Hinata dan Kakashi mengatakan itu, aku yakin memang benar." Shinobi yang lain langsung setuju.
Sakura tidak mempedulikan apapun yang diteriakan Hinata dan yang lainnya saat ia memukul laki-laki berjubah hitam itu. Laki-laki itu sampai terpental sejauh sepuluh meter dan menabrak batu besar dan… batu itu… HANCUR!
"Sakura!" pekik Hinata saat melihat sosok laki-laki hitam itu menabrak batu besar. Hinata langsung berlari ke arah laki-laki tersebut dan memastikan bahwa laki-laki tersebut masih hidup.
"Aduh-duh-duh… baru saja jatuh dari langit, sekarang aku kena tonjok seorang PEREMPUAN!?" seru Kazuto dengan gusar.
"Daijobu no desuka?" tanya Hinata dengan mengulurkan tangan kanannya. Kazuto memperhatikan perempuan berambut indigo itu dengan seksama dan ia menolak untuk dibantu seorang wanita.
"Hn." Lah? Kenapa jadi kayak Sasuke?
Kazuto berdiri dan melihat seorang perempuan berambut pink sedang menghampiri mereka—lebih tepatnya menghampiri Kazuto—dengan wajah yang sangat marah. Kazuto dengan sangat sigap untuk menerima dan membalas serangan itu. Saat Sakura sudah siap untuk memukul—menonjok—Kazuto, sebuah suara mengalihkannya.
"Sakura! Sudah cukup!" seru seorang lelaki berambut hitam dan memakai baju putih dengan dada bidangnya yang terbuka.
"Sasuke-kun…"
Lelaki, yang dipanggil Sasuke, itu mendatangi perempuan berambut pink itu dan menarik lengannya dengan lembut. Ia melakukan itu karena ia sangat yakin kalau tangan perempuan yang sangat ia rindukan itu akan menonjok laki-laki berbaju hitam itu dan akan membuatnya masuk ke rumah sakit. Ia tahu kalau laki-laki itu tidak memiliki chakra seperti semua orang yang ada disini.
"Apa yang sebenarnya terjadi disini, Sakura? Dimana Naruto-baka itu?"
"Naruto menghilang, Sasuke-kun…" kata Sakura setelah jeda yang sangat lama. "Dan orang ini datang setelah Naruto menghilang."
"APA?!"
Walau Sasuke sangat tidak menyukai Naruto yang sangat berisik itu, tapi ia sangat peduli pada sahabatnya itu yang keras kepala ingin membawanya pulang. Dan sekarang ia telah membawanya pulang. Ia tahu kalau Naruto baru saja melawan dua Uchiha terkuat sepanjang masa—dan sebenarnya Sasuke benci mengatakan hal itu—dan membawa kemenangan. Ia sangat tahu kalau tubuh Naruto penuh luka, ia menyadari itu karena mencium bau darah Naruto—What!? Sasuke emangnya vampire?—dan luka-luka itu sudah terbayarkan dengan kemenangannya.
Sasuke memperhatikan Kazuto yang berdiri di samping Hinata. Ia menyadari bahwa di belakang punggung Kazuto, ada dua pedang. Pedang?
"Jadi kau pemakai pedang, heh?" tanya Sasuke dengan wajahnya yang… apalagi kalo bukan stoic?
Kazuto menatap Sasuke dengan pandangan bertanya-tanya. 'Pedang? Oh, oh… aku tau apa yang ia maksud. Mungkin tentang pedang besar panjang di belakangku'. Kau salah, Kazuto, yang ada di belakangmu itu dua pedang berukuran biasa dengan berat yang luar biasa.
"Kau membawa pedang, apakah aku boleh mencoba kekuatanmu, hn?" kata Sasuke. Tanpa menunggu jawaban Kazuto, Sasuke mengambil pedang kusanaginya dan menyerang Kazuto.
Kazuto langsung menarik pedangnya dan ia baru menyadari bahwa pedang yang ia ambil bukanlah pedang Kirito dalam ALO. Itu adalah Elucidator miliknya di dalam SAO. Ya. Pedang hitam itu yang telah menemaninya untuk menyelesaikan SAO.
Dengan mata yang sangat cekatan, ia melihat pakaian yang dipakainya. Jubah hitam seperti yang ia gunakan saat pertarungan terakhirnya. Ia merasa kalau pedangnya yang satunya ada di belakangnya—karena ia merasa punggungnya masih memiliki beban berat. Dan ternyata benar! Pedang yang dibuat Lisbeth, Dark Repulser itu ada! Ia segera menarik pedangnya itu dan memblok serangan Sasuke.
"Hn. Bagus juga daya tahannya." Sasuke langsung mundur dan mengalirkan chidori-nya ke pedangnya.
'Apa itu?' tanya Kazuto dalam hati. 'Pedangnya dikelilingi… listrik?'
"Sasuke-kun! Kau serius untuk melakukannya!? Kau bisa membunuhnya!" seru Sakura berusaha menghentikan orang yang ia sukai ini. Walau Sakura juga sangat tidak suka dengan lelaki berjubah hitam itu—karena… sahabatnya itu menghilang. Yah… sebenarnya, Sakura… jangan salahkan Kazuto. Kazuto bahkan tak tau dia terlempar ke masa lalu.
Sasuke tidak menggubris perkataan Sakura dan mulai menyerang Kazuto. Kazuto menerka-nerka apakah ia masih bisa menggunakan skill Dual Blades miliknya itu. Ia mencoba konsentrasi dan akan memulai serangan 50-hit, Star Burst Stream.
"STAR BURST STREAM!"
Semua tebasan yang dilakukan Kazuto mengenai Sasuke. 45 lagi… 30 lagi… 15… 8… 4… 2…1… Tebasan terakhir mengakhiri serangan Kazuto dan walau ada 20 tebasan yang bisa dihindari Sasuke, ia masih tidak bisa menghindari 30 tebasan. Tak pelak lagi kalau tubuhnya kini penuh luka dan darah mengucur. Padahal Sasuke masih belum mendaratkan pedangnya ke Kazuto, tapi dia sudah kalah. Lihat! Dia ini kan seorang Uchiha dengan keangkuhannya. Ia kalah oleh seorang lelaki misterius di DEPAN SHINOBI KONOHA!
Tanpa banyak cincong, Sakura langsung menghambur ke arah Sasuke yang sekarang sudah jatuh terlentang. Darahnya mengalir kemana-mana. Kalau Sakura membiarkannya, bahkan kalau itupun Cuma 1 menit, Sasuke akan kehilangan nyawanya.
"Sa-Sasuke-kun…" Sakura terisak karena ia membayangkan kalau cowok yang dicintainya ini akan pergi lagi. bahkan untuk selamanya. Ia langsung mengalirkan chakra penyembuhnya. Cahaya berwarna hijau yang menutupi beberapa bagian tubuh Sasuke mulai beraksi. Sedikit demi sedikit, luka di tubuh Sasuke menghilang.
"Sakura, hentikan sekarang juga. Aku tidak butuh. Aku ini punya ular putih Orochimaru. Aku tidak akan mati hanya karena luka ini." Memang benar apa yang dikatakan Sasuke. Ia punya ular putih Orochimaru yang bisa megobati luka-luka apapun, kecuali luka hati #hajar Author yang galau ini.
"Tapi, Sasuke-kun… Kalau tidak segera diobati, kau tidak akan sembuh. Kumohon biarkan aku merawatmu terlebih dahulu." Sakura tetap berkeras kepala untuk menyembuhkan Sasuke. Dan Sasuke membiarkan gadis pink itu merawatnya.
Sementara itu, para shinobi terkejut melihat pertarungan tadi dan berbisik-bisik. "Uchiha Sasuke dikalahkan?! Oleh lelaki berpedang dua?!"
"A-a-a-a-ano…" suara lembut seorang perempuan di belakangnya membuat Kazuto menoleh dan mendapati seorang perempuan berambut hitam panjang dengan mata berwarna… perak?
"Bisakah kau memberitahuku siapa namamu? Karena a-aku akan kesusahan u-untuk memangilmu."
Kazuto terdiam. Ia harus menggunakan nama yang mana? ID player-nya atau nama asli?
"Kirigaya. Kirigaya Kazuto," ucap Kazuto. Ia sudah memutuskan menggunakan nama aslinya.
"K-Kirigaya-kun… Bisakah kau memberitahuku kenapa kau berada disini?" Kazuto memiringkan kepalanya. Ia tak tau apapun yang terjadi dan bahkan ia tak tau siapa perempuan ini. "Na-namaku Hyuuga Hinata."
"Mm… Hyuuga-san, aku tau kalau kau bingung, tapi aku sendiri tidak mengerti kenapa aku disini. Dan ngomong-ngomong ini dimana?"
Sebelum Hinata sempat menjawab, sebuah suara menjawab, "Konohagakure."
Refleks Kazuto mengalihkan pandangannya dan menemukan seorang perempuan cantik berambut pirang yang dikuncir dua dengan dada yang… ehm… luar biasa besar.
"Konohagakure? Apa itu?" Kazuto berusaha untuk tidak menatap dada besar itu dan berusaha untuk memfokuskan diri ke masalah utama. "Apakah ini sebuah game terbaru?"
"Bukan, Papa," suara anak kecil yang sangat familiar di telinga Kazuto menjawab, "Ini adalah dunia nyata, Papa. Lebih tepatnya seribu dua ratus tahun yang lalu."
Sebuah benda berukuran kecil melayang-layang di depan Kazuto. Ya, itu adalah Yui, navigation pixie Kazuto di dalam ALO. Semua mata berusaha melihat seperti apa benda kecil yang bbisa berbicara itu. Lalu semuanya terkejut karena mereka melihat sosok yang sangat kecil. Berambut hitam dengan sayap dibelakang.
"Yui… Apa maksudnya? Lalu kenapa aku berpakaian seperti saat SAO?" Kazuto berusaha bersikap tenang seperti biasanya.
"Dengan kata lain, Papa, kita kembali ke masa lalu."
Dengan kalimat itu, Yui sukses membuat Papanya itu berteriak sekencang-kencangnya sampai Author yakin kalau seluruh dunia shinobi itu mendengar.
"Ta-tapi Yui… kenapa kau bisa ada disini? Bukankah kau bilang ini masa lalu? Jadi ini dunia nyata?"
"Hai, Papa. Yui yakin kalau Yui ikut kembali ke masa lalu karena saat Papa di-teleport, Yui ada di saku Papa. Emm… Apakah Papa ingin Yui kembali ke sosok semula?"
"Ya. Lebih baik kau kembali ke wujudmu, Yui…"
Yui langsung mengembalikan tubuhnya ke tubuh aslinya. Seorang anak kecil berambut hitam panjang dengan dress putihnya muncul dihadapan para shinobi itu dan membuat semua orang terkejut.
"Siapa kalian ini sebenarnya?" tanya wanita berdada besar itu.
Yui tersenyum dan berkata, "Namaku Yui. Dan orang ini adalah Papa Yui, Kirigaya Kazuto. Kami berasal dari masa depan. Tahun 2026."
"MASA DEPAN!?"
"Dimana Naruto kalau begitu?!" tanya Sakura tidak sabaran. Ia sudah selesai meawat Sasuke sih jadi dia ingat tujuan awal ia memukul Kazuto.
"Naruto? Ah… kalau yang kamu maksud adalah lelaki berbaju oranye-hitam berambut kuning itu, dia ada di masa depan."
"APAA!?" teriak semuanya. Bahkan Kazuto juga ikut teriak.
"Kami bisa datang ke masa lalu karena Naruto-san. Ia tidak sengaja men-teleport dirinya ke masa depan, tapi ada seseorang yang membuat Yui dan Papa terlempar ke masa lalu. Begitulah…" Yui tersenyum kembali saat melihat semua orang melongo.
"Sekarang Na-Naruto-kun bersama siapa!?" seru Hinata. Ia sepertinya agak takut untuk kehilangan cowok yang ia sukai selama bertahun-tahun itu.
"Yui yakin sekarang Naruto-san sedang bersama Mama dan yang lainnya."
"Yui, apakah kau bisa menghubungi Asuna dan yang lain? Aku yakin sekarang mereka sedang mencari kita," pinta Kazuto.
"Maaf, Papa… Yui tidak bisa."
"Kenapa?"
"ID Player Mama dan yang lainnya… tidak sedang digunakan. ALO mengalami System Maintenance selama satu minggu. Dan itu juga karena perbuatan Kyuubi-san."
"Kyuubi? Kau bisa tau?" tanya perempuan berdada besar.
"Maaf, Anda ini siapa?"
"Namaku Senju Tsunade. Aku Hokage kelima desa ini. Aku ingin tau kenapa kau bisa mengetahui Kyuubi."
"Kyuubi-san memberitahuku sebagian besar kejadian yang ada di masa depan. Ia bilang, dalam waktu satu minggu, Naruto-san akan mengembalikan kami ke masa depan dan ia akan kembali ke masa lalu," jawab Yui dengan polosnya.
"SATU MINGGU!? Apakah itu tidak terlalu lama!?" seru Tsunade. Ia sangat tidak senang mendengar berita ini. Apalagi ia sudah mempersiapkan pengangkatan Naruto sebagai Hokage keenam.
"Kyuubi-san juga mengatakan kalau mereka baru saja bertemu dengan seseorang yang dia panggil Yondaime. Siapa itu, Tsunade-san?"
"Yondaime!? Kau yakin!?" seru Tsunade. Yui mengangguk. "Dia... Hokage keempat dan ayah dari Naruto."
"Siapa namanya, Senju-san?" tanya Kazuto tiba-tiba.
"Namikaze… Minato…"
"Namikaze Minato!? Jangan bilang yang kau maksud adalah pria berambut kuning dengan mata berwarna biru itu!?"
"Kau mengenalnya?"
"Ya. Aku pernah bertemu dengannya sekali. Ia adalah sahabat dari ayah Asuna. Ah, yang aku maksud Asuna adalah pacarku." Kazuto agak merona saat mengatakan Asuna adalah pacarnya.
Hening. Mereka semua sedang berfikir. Hokage mereka yang telah mengorbankan dirinya untuk keselamatan desa itu sekarang sudah ber-reinkarnasi menjadi Namikaze Minato di masa depan. Dan ia bertemu dengan anaknya di masa depan!
"Baiklah, Kirigaya-san. Besok aku akan mendengarkan cerita lengkapnya. Kau akan tinggal di desa kami sementara waktu. Sampai Naruto bisa mengembalikanmu, kami akan bertanggung jawab atas semuanya yang ada disini." Tsunade menoleh ke arah salah satu shinobi yang ada disana. Ia berkata pada seorang pria berambut hitam dengan mata amethyst, "Hiashi, aku berharap kau tidak keberatan bila Kirigaya-san untuk sementara waktu tinggal di kediaman Hyuuga. Apakah kau menyetujuinya?"
"Aku tidak bisa mengatakan tidak, Hokage-sama." Hyuuga Hiashi menjawab dengan penuh pengabdian. Selama ini clan Hyuuga sangat patuh dan mengabdi pada Negara Hi ini.
"Hm. Kalau begitu, karena kita sudah memenangkan perang ini, seharusnya kita akan berpesta merayakan keberhasilan ini, tapi karena Naruto, yang menjabat sebagai Hokage ke enam tidak ada, kita akan merayakan keberhasilannya seminggu lagi. dan pada saat itu juga, aku, Senju Tsunade, sebagai Hokage ke lima, akan menyerahkan jabatanku pada Uzumaki Naruto," ucap Tsunade dengan sangat lantang. Para shinobi langsung bersorak. "Sekarang, BUBAR!"
Sekejap itu juga, shinobi-shinobi itu menghilang. Termasuk Tsunade.
Hyuuga Hiashi langsung menatap wajah anaknya. "Hinata, bisakah kau mengantarkan Kirigaya-san ke rumah? Ayah harus ke kantor Hokage. Ada rapat yang harus kuhadiri bersama Hokage-sama."
Hinata mengangguk tanda ia setuju. Ia ingin sekali bertanya banyak hal pada laki-laki masa depan ini dan anak kecil berambut hitam itu. Seketika itu juga, Ayahnya menghilang.
Hinata langsung berbalik dan mata amethyst nya menemukan Kazuto sedang emm… apa ya istilahnya? Seperti menuliskan sesuatu di udara.
"Ada apa, Kirigaya-kun?" tanya Hinata dengan raut kebingungan.
"Papa sedang membuka menu bar. Mencoba untuk menghubungi Mama dan yang lainnya," jawab Yui. Ia tau kalau Ayahnya itu sedang kalut. Ia tak ingin orang-orang yang baru saja mereka temui merasakan amarah ayahnya itu.
"Menu bar? Apa itu?" tanya Hinata penasaran.
"Emm… susah untuk menjelaskannya. Tapi kata Kyuubi-san, mungkin hampir mirip dengan gulungan kertas yang kalian gunakan untuk mengambil barang-barang atau apalah itu namanya. Kata Kyuubi-san, saat ia sedang melihat ingatan Naruto-san, itu sama saja seperti gulungan kertas yang digunakan Tenten-san." Hinata mengangguk-angguk mengerti. Walau agak susah untuk mencerna perkataan dari masa depan, ia lumayan mengerti. "Hinata-san, bolehkah Yui bertanya?" Hinata mengangguk. "Tenten-san itu siapa?"
GUBRAK!
Yui sudah mengatakan macam-macam tentang yang dikatakan Kyuubi, tapi ia tidak tau siapa yang dimaksud.
"Kau akan tau besok, Yui-san…"
Yui menganggukan kepalanya. Ia lalu berjalan mendekati Kazuto. Kazuto terlihat sangat putus asa. "Apakah tidak berhasil, Papa?"
"Sudah kucoba untuk menggunakan ID Player Heathclif, Game Master SAO, tapi tidak ada yang berubah. Menu bar ini bahkan bisa keluar. Tapi disini adalah tubuh asliku. Sepertinya antara tubuh virtual dengan tubuh asliku jadi menyatu."
"Jadi… Mama tidak bisa dihubungi?"
Kazuto menghela napas panjang yang putus asa. "Seperti yang kamu bilang, Yui. ALO mengalami system maintenance dan akan selesai dalam waktu satu minggu. Sepertinya kerusakan ini diperbuat oleh seseorang yang bernama Uzumaki Naruto."
"Bisakah kau menjelaskan tentang masa depan?" tanya Sakura. Ternyata Sakura dan Sasuke tidak pergi juga. Eh? Kenapa Author serasa mau mengusir SasuSaku?
Kazuto hanya terdiam. Ia sangat tidak menyukai berbicara panjang lebar. Jadi, karena Yui adalah anak yang perhatian terhadap orangtuanya(?), ia berkata, "Yui tau Papa tidak mau menjelaskan panjang. Biarkan Yui yang menjelaskannya."
Kazuto tersenyum pada anaknya di SAO dan ALO. Senyuman pertamanya sejak ia datang ke dunia shinobi. "Arigatou, Yui."
"Douitashimashita, Papa…" Yui tersenyum kepada Kazuto. Lalu wajahnya itu digantikan dengan wajah serius. "Seperti yang sudah Yui katakan sebelumnya. Kami berasal dari masa depan. Lebih tepatnya tahun 2026. Di sana sudah tidak ada yang namanya perang. Dan tak ada yang namanya kekuatan. Di sana hanya ada manusia biasa dengan otak mereka yang akan mengembangkan masa depan. Disana juga sudah tidak ada yang namanya Konohagakure ataupun desa lainnya. Yang ada adalah Negara Jepang. Dugaan, dulunya Jepang asalnya dari desa-desa di masa lalu yang berubah menjadi Negara besar."
"Lalu kau ini siapa, Yui-chan? Kenapa kau sangat tahu?" tanya Sakura. Ia tidak bisa membayangkan anak usia delapan tahun itu sangat mengeri banyak hal.
"Yui hanya sebuah program yang diciptakan oleh Kayaba Akihiko. Dengan kata lain Yui adalah AI," jawab Yui dengan tenang.
"Program? Diciptakan? Aku belum pernah mendengar ada yang bisa menciptakan manusia," ucap Hinata. Sakura hanya menganggukan kepalanya tanda ia setuju dengan Hinata. Sedangkan Sasuke? Jelas saja dia hanya mendengarkan dengan wajah datar.
"Hinata-san, Sakura-san, di masa depan, tidak ada yang memiliki kemampuan seperti kalian. Jadi mustahil kalau ada yang bisa menciptakan manusia. Yui adalah sebuah program. Dengan kata lain, Yui bukanlah manusia, melainkan semacam data," jelas Yui.
"Data?"
"Benar. Yui hanyalah sebuah program yang berisikan data. Semuanya yang kalian lihat adalah palsu. Baik tubuh ini, maupun suara ini."
Saat wajah Yui sudah hampir seperti mau menangis, Kazuto membalutkan tangan Yui dengan tangannya lalu berkata, "kau ada disini. Kau bersama dengan Papa. Kau nyata, Yui. Jangan mengatakan hal itu. Aku yakin Asuna akan sedih kalau kau mengatakannya. Bagaimanapun juga, kau adalah anak pertama kami."
"Hai, Papa. Arigatou gozaimasu."
"Apakah kau sudah lelah, Yui? Kalau kau sudah lelah, kau boleh berubah menjadi pixie kembali dan duduk saja di pundakku."
"Bila Papa mengijinkan, Yui akan melakukannya." Seketika itu juga, cahaya putih menyelimuti tubuh Yui dan tubuhnya mengecil. Muncul sayap kecil di punggungnya. Ia terbang ke arah pundak Kazuto dan duduk disana.
"KAU MENJADI KECIL!" pekik Hinata dan Sakura bersamaan.
"Hai. Inilah sebabnya Yui bukanlah seorang manusia. Dan… oh, Papa, Yui baru ingat," ucap Yui pada Kazuto. Kazuto langsung memfokuskan diri pada apa yang akan dikatakan Yui. "Tubuh Papa adalah setengah dari virtual, dan setengah dari nyata. Yui harap Papa tidak melakukan apapun yang bisa mempengaruhi tubuh asli Papa. Dan… ah, hampir saja Yui lupa. Semua skill Papa di dalam SAO juga ikut di transfer. Jadi, Papa bisa menggunakan Dual Blades atau One-handed sword. Kemampuan Papa di dalam ALO dan GGO juga ikut terbawa. Jadi dengan kata lain, Papa memiliki semua skill dalam game yang berbeda-beda."
"Jadi aku bisa menggunakan Illusion Magic?" tanya Kazuto. Ah, ah… dia benar-benar sudah menjadi cheater, bukan beater lagi.
"Tentu, Papa."
Kazuto sudah bersiap untuk merafal mantra, tapi ia memandangi ke tiga shinobi itu. Dengan tatapan yang—agak—tidak suka, ia berkata, "Kalian! Jangan bunuh aku apapun yang kalian lihat. Apapun yang aku perbuat. Karena yang kalian lihat nanti, itu adalah aku juga."
Setelah mereka—minus Sasuke—itu mengangguk, Kazuto mulai merafal mantra. Setelah mantranya selesai, tubuhnya dikelilingi kabut.
"Papa!" panggil Yui.
Kabut yang menyelimuti Kazuto mulai menipis dan memperlihatkan hal yang—Author yakin—membuat ketiga shinobi itu menganga, cengo secengo-cengonya. Mereka melihat… SETAAAAN! *brak* Oke, Author yakin Author sedang labil karena mengingat UAS yang baru selesai dan Author yakin bahwa Author akan menghadapi remedial test dan semester pendek. Oke, itu sangat tidak penting.
Kita lanjutkan ceritanya ya…/Readers: CEPETAN!/Author: IYAAAA!
Yang mereka lihat adalah sosok monster. Ya. Monster. Monster dengan mata yang sangat tajam, tubuhnya yang besar dan tinggi, kuku yang sangat tajam, memiliki ekor yang sangat panjang, dan… tubuhnya berwarnya merah!
"A-a-a-a-a-a-a-apa i-i-itu?" tanya Hinata ketakutan. Ia menjadi terbata-bata lagi karena memang… monster itu menakutkan. Sekali lagi, menakutkan.
"Papa, desu," jawab Yui dengan senyuman cerianya. Mendengar jawaban anak perempuan itu, membuat ketiganya menatap ke arah monster tersebut dengan tidak percaya. Yui tidak mempedulikan tatapan ketiga orang tersebut dan langsung berteriak, "Papa! Kau berhasil! Itu artinya Papa bisa menggunakan magic yang lainnya!"
Kabut mulai menyelimuti Kazuto kembali dan setelah kabut itu menghilang, terlihatlah seorang lelaki berjubah hitam dengan rambut spike hitamnya.
"S-siapa kau?" tanya Hinata sambil mengerjap-ngejapkan matanya.
"Papa, wujudmu berubah!" seru Yui yang langsung terbang ke arah ayahnya itu. "Sekarang Papa adalah Kirito ALO!"
Seakan tersihir bergitu mendengar perkataan Yui, Kazuto memperhatikan bajunya. Baju hitam dengan jubah hitam dan sedikit warna putih. Ia meraba-raba wajahnya dan rambutnya. Ia sangat merasa kalau rambutnya menjadi spike. Ia menoleh ke belakang tubuhnya dan mendapati sepasang sayap hitam berada di punggungnya.
"WHAT THE—"
"Papa berhasil!" seru Yui sambil memeluk pipi—err, hanya memegang pipi—dengan tangan mungilnya.
"Yui… Kenapa a—" Ucap Kazuto terpotong oleh sebuah bentakkan.
"SIAPA KAU!?" Ini yang berteriak adalah Sakura. Sudah jelas kan? Mana ada orang yang bisa berteriak sekeras dan semarah itu selain Sakura diantara mereka bertiga?
"Sakura-san… tolong jangan pukul Papa," pinta Yui saat ia melihat Sakura menyiapkan tangannya.
"Papa?" tanya Hinata. "Jadi orang itu adalah…"
"Hn. Aku adalah Kirigaya Kazuto. Ini adalah wujud lainku."
"Masa depan benar-benar aneh," komentar Sasuke. See? Sasuke, bro, sis! SASUKE YANG ITU! *di-chidori sama Sasuke*
Mata Sakura langsung terbelalak. Astaga! Apakah ia salaah dengar? Sasuke—yang itu—mengatakan atau lebih tepatnya mengomentari menggunakan kalimat berisi lima kata! BACA DENGAN TELITI! LIMA KATA! Biasanya kan Sasuke selalu bergumam "Hn" dan selesai. Ini beda, bro,sis, dia mengetakan dengan mulutnya sendiri lima kata!
Oke, sepertinya Author sama Sakura masih tidak percaya. Mana ada yang bisa percaya dengan apa yang baru kami dengar saat Sasuke mengatakan itu?
"Apakah di masa depan memiliki banyak wujud itu hal yang biasa, Kirigaya-kun?" tanya HInata penasaran.
"Tidak," jawab Kazuto singkat. "Ini bukan tubuh asliku. Tubuh yang kalian lihat ini adalah tubuh virtual. Anggap saja seperti tubuh Yui. Tubuh ini palsu."
Hening.
Ya, suasana berubah menjadi hening.
"Kau benar-benar mirip Sasuke-kun, Kirigaya-san," ucap Sakura dengan tawa geli yang memecahkan keheningan.
"He? Jadi kau adalah Uchiha Sasuke? Hmm… Harus kuakui, kau benar-benar mirip dengannya," ucap Kazuto membayangkan adik kelasnya.
"Kau mengenalku?" tanya Sasuke. Oke, disini Author seperti memutuskan untuk Sasuke biarkan dia OOC.
"Ya. Di masa depan," jawabnya ringan.
"MASA DEPAN!? Ciyus? Miapah? Jadi Sasuke-kun ada di masa depan juga!?" pekik Sakura. Eeekh! Kenapa Sakura jadi alay gini?
"Dan kau pasti Haruno Sakura."
"Kau juga mengetahui namaku?"
"Tentu. Kau selalu bersama Uchiha."
"Apa hubunganmu dengan kami?" tanya Sasuke. Tidak mempedulikan Sakura yang sedang menjelajah ke luar angkasa otaknya.
"Aku ini senpai-mu, dasar bodoh!"
Hening.
Kedua shinobi itu seakan-akan tidak mempercayai apa yang barusan mereka dengar. Sakura dan Sasuke langsung melongo sejadi-jadinya.
"Jadi, Kirigaya-kun… ano… eto…" Hinata mulai membuka mulutnya. Kazuto hanya memandanginya karena Hinata belum menyatakan apapun. "A-apakah, eto… Ki-Kirigaya-kun me-mengenalku di masa depan?"
"Sebenarnya tidak terlalu. Yang aku tau, namamu adalah Hyuuga Hinata, tunangan dari Namikaze Naruto," jawab Kazuto dengan mode santainya.
Sedetik…
Dua detik…
Tiga detik…
Hinata langsung tepar. Pingsan dengan keadaan kaku.
"HINATA!" pekik Sakura saat tau heiress Hyuuga terjungkal kebelakang. Ia melihat wajah Hinata yang benar-benar seperti kepiting rebus yang kelewat kerebusnya.
Yui, yang daritadi hanya terdiam, membuka mulutnya. "Huwaa… Hinata-san pingsan hanya karena Papa mengatakan bahwa ia—yang masa depan—bertunangan dengan Naruto-san! Hinata-san benar-benar mencintai Naruto-san!"
Hinata yang tadinya sempat bangun, dan mendengar perkataan Yui, langsung pingsan di tempat lagi.
"Lebih baik kita antarkan Hinata pulang dulu, ya, Sasuke-kun?"
"Hn."
"Tentunya kau harus ikut, Kirigaya-san, Yui-chan."
TSUDZUKU….
SEE YOU NEXT CHAP :3
