ACCIDENTELY EXCHANGED
Author: Sherry Kurobara
Sherry own neither Naruto nor Sword Art Online.
Rated: T
Genre: Fantasy, Romance, Humor, Adventure, Sci-Fi
Pairing: NaruHina, KiriAsuna, SasuSaku, etc
.
.
Chapter 4: Reincarnation
"Ini rumahku, Naruto-kun," ucap gadis berambut chestnut menunjuk 'rumah'nya. Rumah yang dikatakan Asuna sebagai rumahnya itu terlalu LUAS untuk dikatakan sebagai rumah. Naruto hanya bisa melongo sejadi-jadinya.
"Ada apa, Naruto-san?" tanya gadis berambut coklat tua yang dikuncir dua—Keiko.
"Ah… entah bagaimana aku menjelaskannya, rumah-rumah di masa depan benar-benar berbeda dengan rumah-rumah yang ada di dunia-ku. Di masa ku."
Asuna hanya mendengus dan melenggang meninggalkan Naruto. Ia memasuki rumaahnya dengan segera.
"Selamat datang, Nona…" sambut para pelayan saat Asuna masuk ke dalam rumahnya."
"Aku pulang. Dimana Ayah?" tanya Asuna to the point.
"Tuan Besar masih berada di perusahaan, Nona. Tuan akan pulang saat makan malam. Sedangkan Nyonya…"
"Asuna. Kemana saja kau? Jam segini kau baru pulang?" tanya seorang wanita paruh baya berambut coklat. Asuna hanya mendengus. Ia sebenarnya tidak suka berdebat dengan ibunya.
"Ibu… sudah aku katakan, aku ini Sembilan belas tahun, Bu. Tidak bisakah Ibu tidak terus menerus menanyakan kemana aku pergi?"
"Asuna! Kau sudah mulai berani membentak ibumu ini!? Kau sudah bukan anak kecil lagi! kau sudah kuliah, Asuna! Berhentilah bermain game bodoh itu!" bentak Ibunya.
Kesabaran Asuna mulai menipis. "SUDAH CUKUP, IBU!" Wanita yang Asuna sebut Ibunya—maaf, Author lupa namanya—mengerjapkan matanya. Siapa sangka Asuna, anaknya yang manis dan tidak pernah membantahnya sekarang bisa membentaknya. Asuna menarik napas panjang. "Ibu, bisakah perdebatan ini selesai? Aku tidak ingin teman-temanku ketakutan. Dan… kita mendapatkan tamu."
Ibu Asuna memandangi teman-teman Asuna dan matanya terpaku pada sosok lelaki berambut kuning. Mengingatkannya pada… Namikaze Minato?
"Siapa namamu, Anak muda?" tanyanya sedikit ramah.
"Uzumaki Naruto." Naruto mengenalkan dirinya secara santai.
"Uzumaki? Kau memiliki hubungan keluarga dengan Kushina?" tanyanya terkejut.
Dalam hati, Naruto berkata, "Yang benar saja! Aku ini anaknya, tahu! Anaknya!"
"Ya. Aku… emm… keponakannya. To—bukan, Minato-san yang mengetahui bahwa aku berteman dengan anak Anda, berkata bahwa aku akan tinggal sementara waktu disini."
Ibu Asuna memperhatikan Naruto benar-benar. Menatap tajam mata Naruto. Dan ia memiliki kesimpulan bahwa Naruto tidak berbohong.
"Nana, tolong antarkan Uzumaki-san ke kamar tamu." Pelayan yang dipanggil Nana mengangguk dan menundukan kepalanya. Lalu menunjukan kamar tamu yang akan dipakai Naruto. Ibu Asuna berbalik. "Aku akan makan malam di luar bersama teman-teman lamaku. Tidak usah menungguku."
Setelah nyonya rumah itu menghilang di balik pintu rumah, dan para pelayan mengucapkan salam, Asuna menghembuskan napas panjang. Sekuat-kuatnya.
"Rika, Keiko, kita ke kamarku saja. Kalian menginap di kamarku saja tidak apa kan? Ada berbagai macam hal yang ingin aku katakan pada kalian berdua." Asuna mulai berjalan menaiki tangga setelah ia melihat kedua temannya itu mengangguk.
Rika dan Keiko mengikuti Asuna ke sebuah kamar. Asuna membuka pintu dan terlihatlah kamar yang sangat luas dengan kasurnya yang queen size. Asuna masuk dan diikuti oleh Rika dan Keiko. Asuna duduk di kursi kecil—serius? Kursi itu terbilang besar lhoo—dan Keiko-Rika duduk di sofa yang sangat empuk.
"Apakah kita akan memanggil Naruto-san?" tanya Keiko.
"Mm. sebaiknya begitu. Aku ingin menjelaskan kenapa aku selalu adu mulut dengan Ibuku," ucap Asuna. "aku saja yang memanggilnya."
Asuna keluar dari kamarnya meninggalkan Rika dan Keiko.
"Rika-san, apakah kau tau kalau Asuna-san dan Ibunya selalu seperti ini?" tanya Keiko.
"Aku hanya tau kalau hubungan kedua orang itu tidak bisa dibilang baik. Asuna sangat tidak suka diatur, sedangkan Ibunya selalu mengaturnya agar bisa menjadi seseorang yang menyandang nama Yuuki dengan baik," jawab Rika.
Pintu kamar Asuna terbuka dan menampilkan Asuna dan Naruto di belakangnya.
"Omatase… maaf lama menunggu," kata Asuna. Asuna berbalik lagi dan berkata pada seorang pelayan yang tadi sempat lewat, "Tolong buatkan minuman dan bawa snack-snack kesini."
Pelayan tersebut menundukkan kepalanya. "Baik, Nona."
Setelah itu, mereka berempat duduk berhadapan di sofa dan kursi yang ada.
"Kalian pasti bingung kenapa aku berdebat dengan Ibuku tadi," ucap Asuna membuka percakapan. "Aku tidak suka diatur oleh keluargaku. Aku ingin bebas. Ayahku sudah memperbolehkanku untuk hidup seperti yang kuinginkan, tapi Ibuku benar-benar tidak mau. Ibuku selalu mengaturku. Mulai dari pergaulanku hingga ke kuliahku.
"Aku rasa Ibuku semakin mengikatku karena kejadian empat tahun yang lalu. Game itu mengurung kita selama dua tahun. Dan aku nyaris saja mati. Walau para player SAO sudah ada yang bangun, aku masih tetap tidak terbangun. Dan kalian pasti tahu kenapa aku tidak terbangun. Itu dikarenakan Sugou-san yang mengurungku di game Alfheim Online. Andai saja Kazuto tidak mencariku dan menolongku, aku yakin sampai saat ini aku tidak pernah bisa bangun."
Naruto mengangkat tangannya. "Apa itu game?"
GUBRAK!
Astaga! Mereka melupakan kenyataan bahwa Naruto bukanlah dari masa mereka. Mereka tidak memperkirakan ini!
"Game itu permainan, Naruto-san…" ucap Keiko bersabar.
"Bisakah aku melajutkannya?" Asuna bertanya dengan wajah seriusnya. Ketiga orang itu mengangguk. "Sejak aku kembali dari ALO, Ibu selaluuuu saja mengaturku. Mulai dari jam belajar, jam istirahat dan yang lainnya. Ibu juga tidak terlalu suka aku berhubungan dengan Kazuto, tapi akhir-akhir ini Ibu tidak mempermasalahkannya. Mungkin karena Ayah membicarakan tentang pertunangan kami yang direncanakan oleh Ayah. Aku tidak menyukai sifat Ibuku yang selalu ingin mengaturku. Aku adalah aku. Aku tidak ingin seperti burung dalam sangkar. Aku tidak ingin menjadi diriku yang terkurung di sangkar burung dalam ALO."
Hening…
Tak ada yang bisa menanggapi. Ya. Tidak—Naruto langsung buka mulut.
"Ibumu sangat menyayangimu, Asuna," ucapnya dengan senyuman lembut. Author yakin kalau saja Naruto tidak pecicilan (?) dan lebih banyak senyum lembut seperti itu, pasti banyak cewek yang kelepek-kelepek. "Aku mungkin tidak mengerti perasaan memiliki orangtua. Aku akan memberitahumu. Di masaku, aku tidak memiliki orangtua. Tou-san dan Kaa-san meninggal saat aku lahir. Kejadian yang membuatku kehilangan kedua orangtuaku dan aku tidak bisa merasakan kasih sayang mereka."
"Tapi kau mengetahui orangtuamu!"
"Aku mengetahuinya saat aku masih belum bisa mengendalikan Kyuubi. Aku mengetahuinya sebulan yang lalu. Sebulan sebelum aku berpindah ke masa depan. Lebih tepatnya lagi, saat pertarunganku melawan Pain. Itupun aku baru bertemu dengan Tou-san. Aku bertemu dengan Kaa-san saat aku berlatih mengendalikan Kyuubi. Dan harus aku beritahu, aku bertemu dengan mereka jauh di dalam kesadaranku. Aku tidak pernah bertemu dengan orangtuaku secara langsung. Tapi aku tau kalau Tou-san dan Kaa-san sangat menyayangiku. Aku tahu karena Tou-san dan Kaa-san mengorbankan nyawa mereka hanya demi desa, demi aku juga.
"Kau tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya tidak memiliki orangtua, tidak memiliki saudara, tidak memiliki orang yang dekat. Kau juga pasti tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya dibenci oleh seluruh penduduk desa. Bahkan teman-temanmu sendiri meremehkanmu dan bahkan ikut membencimu. Apakah kalian tau, seberapa susah membuat semua orang mengakui dirimu?"
Hening…
Kata-kata Naruto terlalu dalam dan terlalu berat untuk dicerna. Memang tidak ada yang bisa benar-benar membayangkan dan merasakan menjadi seperti Naruto. Hidup tanpa kasih sayang orangtua, dibenci oleh seluruh penduduk desa, dan tidak memiliki teman dekat.
Mereka tetap hening hingga akhirnya pelayan datang membawakan minuman dan snack.
Skip ya.
Esoknya…
Setelah keluarga Yuuki sarapan dan bersiap-siap untuk melakukan kegiatan sehari-hari mereka, Naruto benar-benar bingung untuk melakukan kegiatan apa karena Naruto memang pada dasarnya sangat tidak menyukai bila dirinya tidak melakukan kegiatan apapun (pada dasarnya memang Naruto adalah bocah hyperactive).
Naruto saat itu sedang berada di living room bersama Asuna, Rika, Keiko. Ya. Mereka memang tidak sekolah maupun kuliah. Tepatnya tidak berangkat. Kenapa? Lihat tanggalan bro, sis! Ini tanggal merah plus sedang liburan musim semi. Itu artinya saat bunga sakura mulai bermekaran, mereka bertiga akan mulai masuk sekolah dan kuliah.
"Asuna, maaf kalau aku mengganggu," sela Naruto saat Asuna dkk sedang membicarakan sesuatu. Lah? Apa Author salah bikin scenario? Naruto? Meminta maaf? Biarlah… "Aku SANGAT bosan dan berharap kau mau mengantarkanku ke rumah Tou-san."
Asuna mengerti dan ia mengambil kunci mobilnya. Rika dan Keiko ikut karena mereka juga bosan. Naruto benar-benar ketinggalan jaman. Wait! Dia kan memang berasal dari masa lalu! Lagipula di dunia Shinobi, tidak ada alat untuk bertransportasi kecuali dengan kaki mereka sendiri. Mereka langsung menuju ke kediaman Namikaze.
Setelah memencet bel dan melewati penjaga pintu kediamaan Namikaze, mereka masuk dan mata mereka menemukan sosok gadis berambut indigo dengan mata amethyst nya.
"Hi-Hinata-chan?" panggil Naruto masih dengan kekagetannya.
Gadis itu menoleh dan matanya terbelalak. "Naruto-kun? Kenapa kau berbeda hari ini?"
Naruto tidak mengindahkan pertanyaan dan kebingungan Hinata dan lansgung berlari memeluknya. "Hinata-chan… aku merindukanmu…"
Hinata kontan langsung berblushing ria karena Naruto tiba-tiba memeluknya.
Tiba-tiba terdengar suara orang berlari dan berseru, "APA YANG KAU LAKUKAN PADA HINATA-CHAN!?"
Mereka semua—Asuna, Keiko, Rika, Hinata, dan Naruto—memandang ke sumber suara itu. Dan… mereka sangat terkejut dengan pemandangan di depan mereka. Err… sebenarnya bukan pemandangan yang tidak-tidak, tapi mereka melihat seseorang yang benar-benar mirip dengan…
"Eh? Naruto-kun?" panggil Hinata.
Kontan kedua Naruto itu menoleh pada Hinata.
"Eh? Kenapa a-ada dua Naruto-kun?" tanya Hinata agak ketakutan.
"Yare yare… sepertinya aku harus menjelaskan berbagai hal pada kalian berdua, Naruto, Hinata," ucap seorang pria berambut kuning yang tiba-tiba bergabung bersama mereka.
Kedua Naruto itu memandang Minato dengan tatapan… ugh… bermacam-macam.
"Tou-san!" ucap keduanya. Keduanya langsung memandangi satu sama lain.
Minato menahan tawanya. Memang sangat lucu untuk melihat kedua anaknya ini.
Minato menunjuk pada Naruto yang masa depan alias Naruto tahun 2026. "Dia Namikaze Naruto." Lalu Minato menunjuk pada Naruto masa lalu alias Naruto dari dunia Shinobi. "Sedangkan dia… Uzumaki Naruto. Ada pertanyaan?"
"Uzumaki!? Tou-san, maksudnya dia berasal dari keluarga Kaa-san?" tanya Naruto 2026.
Minato menghela napas. Kenapa sih anaknya itu terlalu bodoh? Di keluarga Uzumaki kan memiliki ciri-ciri rambut merah. Kalau namanya Uzumaki tapi ciri-ciri fisiknya benar-benar mirip Minato, mana mungkin dia berasal dari keluarga Uzumaki yang benar-benar murni.
"Naruto…" panggil Minato. Keduanya langsung menoleh. Bodohnya aku, aku benar-benar melupakan bahwa disini ada dua Naruto, pikirnya. "Dia…"—menunjuk ke arah Naruto dunia Shinobi—"adalah dirimu. Di. Masa. Lalu. Oke?"
Naruto 2026 tentu saja terkejut. Juga Hinata.
"Jadi," ucap Naruto—dunia shinobi—menghentikan keterkejutan dirinya di masa depan. "umurmu sekarang berapa?"
"Enam belas."
"Tanggal lahir?"
"Sepuluh Oktober."
"Hh… perbedaan hanya pada umur, he?"
"Memang umurmu berapa?"
"Delapan belas. Ada masalah?"
"Tidak."
Hening.
Tiba-tiba sebuah suara memecah keheningan.
"Naruto! Kau ini berisik sekali! Tidak bisakah kau tidak berteriak walau hanya sehari hah?!"
Terpampanglah seorang pemuda berambut jingga dengan mata berwarna merah. Wajahnya terlihat sangat lelah dan marah. Hal itu dikarenakan Naruto yang berteriak saat ia sudah sampai ke alam mimpi.
"Kyuu-nii!"
"Kyuu-nii? Apakah di dunia ini aku memiliki kakak?" tanya Naruto dari dunia shinobi pada Minato. Minato hanya tersenyum dan mengangguk. Pasti sangat lucu kalau Naruto tahu siapa kakaknya sebenarnya.
"Loh? Kenapa ada dua Naruto? Sejak kapan kau punya doppelganger, heh, Naruto?"
"Yang benar saja, baka Kyuu-nii! Sejak kapan kemampuan seperti itu ada di dunia ini hah?!"
"KALIAN BERDUA!" *DUK* kepala Naruto—masa depan dan pemuda berambut jingga mendapat pukulan dari seorang wanita berambut merah. "JANGAN BERKELAHI, DASAR BODOOH!"
Refleks Naruto dan pemuda itu memegangi kepala mereka.
"Kaa-san…" ucap Naruto—dunia shinobi pelan.
Kushina—nama wanita itu—menoleh dan mendapati anaknya di masa lalu. Ia tersenyum dan langsung memeluk anak tunggalnya di masa lalu.
"Sudah lama aku tidak bertemu denganmu, Naruto…" ucap wanita itu dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Kaa-san… Aku merindukanmu…" ucap Naruto—yang dari dunia shinobi.
Oke, karena sangat menyulitkan Author untuk menuliskan nama mereka berdua, Author akan membuat kesepakatan kalau Naruto yang asalnya dari dunia shinobi memakai nama Naruto. Oke? Sedangkan Naruto masa depan akan memakai nama Naru. Okay? Sip. Silahkan membaca lanjutannya.
Mereka semua tersentuh dengan pemandangan luar biasa itu. Cinta seorang ibu pada anaknya dan juga sebaliknya. Minato nyengir melihat anaknya dan istrinya yang sedang berpelukan itu. Ia juga merasa sangat senang bisa bertemu dengan anaknya yang di dunia shinobi ia tinggalkan karena ia meninggal. Memang pasti di saat-saat itu sangat berat bagi Naruto yang harus hidup seorang diri.
"TUNGGU! Kenapa doppelganger si bocah ini memanggil Kushina dengan sebutan Kaa-san?!" tanya pemuda berambut jingga itu mengintrupsi suasana mengharukan itu.
TWICTH.
Kushina sangat marah dan menjitak kepala pemuda itu. "PANGGIL AKU KAA-SAN, NAMIKAZE KYUUBI!"
Naruto langsung melongo sejadi-jadinya. Apa dia salah dengar? Kushina menyebut pemuda itu Kyuubi?
"Kyuu…bi…?"
Hening. Naruto tidak mengatakan apapun. Tapi otaknya kali ini bekerja dengan sangat cepat. Menyaingi otak milik Sasuke dan Shikamaru. Ia langsung tertawa terbahak-bahak.
"HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!"
Kontan semua mata tertuju padanya.
"Benar-benar lucu! Masa depan ini… tahun 2026 ini sangat lah menarik! HAHAHAHA!" Naruto tetap tertawa terbahak-bahak. Tidak mempedulikan tatapan aneh orang-orang disekitarnya.
"Naruto-san? Ada apa?" tanya Keiko dengan agak takut.
Tidak ada yang bisa menjawab Keiko. Mereka tidak mengerti alasan calon Rokudaime itu tertawa.
Setelah Naruto pulih dari tawanya(?), ia berkata, "Fuh… benar-benar deh… Kurama, kau bisa mendengarkanku?"
'Bocah! Kau tertawa karena diriku hah?!'
"Bagaimanapun kenyataan ini benar-benar lucu, Kurama."
'Sialan kau Bocah! Sudah! Biarkan aku mengambil alih tubuhmu! Aku ingin berbicara pada Kushina!'
Mata sapphire Naruto berubah menjadi mata merah ruby.
"Lama tidak bertemu, Kurama, atau harus kusebut Kyuubi no Kitsune?" ucap Kushina dengan senyumannya.
Tentu saja, Kyuubi dan Naru membelalakan mata mereka. Ibu mereka baru saja memanggil Naruto dengan sebutan Kurama dan Kyuubi no Kitsune.
"Kushina! Aku benar-benar akan membunuhmu!—itulah yang ingin aku katakan. Sayangnya kau sudah mati," ucap Naruto—Kurama dingin.
"Kenapa kau tidak mencoba untuk membunuhku yang ini, Kurama?" tanya Kushina dengan santainya.
"Heh? Membunuhmu di masa depan? Aku sih sangat senang, sayangnya aku akan menghancurkan masa depan juga. Cukup aku menghancurkan Konoha saat itu." Naruto—Kurama memandang pada dirinya yang menjadi manusia.
"Siapa kau?" tanya Kyuubi dengan nada menantang.
"Aku? Aku adalah Kyuubi. Mengerti? Kalau begitu aku akan tertidur sampai beberapa hari sebelum aku mengembalikan bocah ini ke dunia kami."
Mata ruby itu kembali menjadi mata sapphire. Menyisakan Kyuubi yang masih terbengong-bengong.
"Ku-Ku-Kushina… a-apa maksudnya?" tanya Kyuubi dengan takut.
"Mm… Sebaiknya kita duduk terlebih dahulu. Ayo masuk," ajak Kushina.
"Namikaze-san, sebaiknya kami pulang," ucap Asuna pada Minato.
"Asuna… ayo kalian masuk dulu. Paling tidak kami harus menjamu tamu kami terlebih dahulu," ucap Kushina mendahului Minato.
"Tidak usah. Kami hanya mengantar Naruto-kun ke sini. Sampai jumpa, Bibi…"
Asuna, Rika dan Keiko meninggalkan kediaman Namikaze. Mereka berada di dalam mobil Asuna.
"Aku benar-benar tidak percaya!" gumam Rika dengan nada tidak percaya. "Teori tentang reinkarnasi itu ternyata benar! Sungguh! Aku tidak bisa mempercayainya kalau aku tidak melihat ada dua Naruto!"
"Rika-san, kau pikir aku percaya? Aku sendiri tidak. Tapi melihat keluarga Namikaze…" ucap Keiko tidak melanjutkan perkataannya.
"Aku benar-benar penasaran dengan diriku di masa lalu. Aku ingin melihatnya!" kata Rika dengan semangatnya.
Asuna mendesah pelan. Reinkarnasi? Yang benar saja! Ia tidak pernah membayangkan dirinya di masa lalu. Apakah dia sama menderitanya dengan dirinya sekarang? Terkurung di dalam sangkar burung bernama kemewahan yang dibuat oleh Ibunya.
"Sekarang kita akan kemana? Apa kalian mau berbelanja?" tanya Asuna pada kedua temannya.
"Boleh."
Dan mobil merah Asuna melaju ke arah pusat perbelanjaan di Tokyo.
Sementara itu di kediaman Namikaze…
"APA?! Kushina! Kau serius?!" seru Kyuubi kaget.
"Tentu saja! Dan, PANGGIL AKU KAA-SAN, ANAK BODOH!" seru Kushina dengan jitakan di kepala Kyuubi.
"Itai!"
"Kalau begitu, aku akan memperkenalkan diri kembali. Namaku Uzumaki Naruto. Aku Naruto yang berasal dari seribu dua ratus tahun yang lalu. Itulah yang mereka katakan. Salam kenal, Kyuu-nii," ucap Naruto dengan senyumannya. Senyumannya terlihat seperti senyuman untuk menahan tawanya.
"Hm."
Naruto tidak tahan untuk tidak tertawa. Ia tertawa terbahak-bahak lagi.
"Hahahaha! Serius deh! Ini sangat lucu! Masa depan yang lucu! BWAHAHAHAHA! Kurama, sebaiknya kau bangun! HAHAHAHAHA!"
Kurama—Kyuubi tidak menjawab.
"Sepertinya Kurama benar-benar tertidur," ucap Naruto dengan tawa kecilnya.
Naru melihat dirinya—maksudnya dirinya di masa lalu—yang tertawa mengejek Kyuubi—Kurama maksudnya. Sepertinya puas sekali menertawakan Kurama.
Kyuubi sedikit tersinggung karena ia tau yang ditertawakan Naruto adalah dirinya. Dirinya yang dulu adalah seekor bijuu.
"Kyuu-nii? Ada apa?" tanya Naru sidikit takut dengan tampang Kyuubi.
"…bunuh…"
"Hah?"
"KUBUNUH KAU NARUTOOO!"
Tentu saja kedua Naruto terkejut. Tapi Kyuubi melayangkan pukulan ke Naruto. Tapi tentu saja Naruto bisa menghindarinya dengan mudahnya.
"Wow… pukulan yang luar biasa. Sayangnya aku sudah terlatih untuk menghindari pukulan seperti itu, ucap Naruto sedikit meremehkan. Ia memang sudah menduganya. Di masa depan ini tidak ada yang memiliki kekuatan. Chakra maksudnya. Hanya seperti manusia biasa. Bahkan dirinya di masa depan begitu lemah dan tidak berdaya. Naruto sangat benci melihat ketidakberdayaan dirinya.
Saat mereka berdua akan beradu tinjuan, sebuah pukulan melayang ke kepala mereka.
"KUBILANG JANGAN BERKELAHI!"
Kushina mengamuk(lagi) saat melihat anak-anaknya berkelahi. Haah… ini benar-benar sudah bisa dipastikan sebagai acara harian keluarga Namikaze. Minato menghela napasnya. Benar-benar keluarga yang ramai kan?
"Kushina Oba-san… Tolong tenanglah…" bujuk Hinata.
Kushina langsung tenang begitu mendengar nada lembut Hinata. Ia benar-benar menyukai Hinata dan menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Kushina memeluk Hinata dan berkata, "Hinata… kau sungguh anak yang baik. Rasanya sayang sekali kalau kau akan menikah dengan anak bodohku itu."
Naru tidak terima dan berseru, "Kaa-san!"
"HAH?! MENIKAH?!"—yang ini tentu saja Naruto.
Hinata tentu saja wajahnya memerah. Ia sangat menyukai pemuda blonde itu—a.k.a Naru. Dan mereka memang sudah ditunangkan sejak kecil. Naru juga sangat menyukai Hinata. Jadi? Apa salahnya kalau mereka akan menikah nantinya?
"Hinata, setelah kau menikah nanti, aku sangat berharap kau bisa mengubah tabiat buruk anak itu. Aku juga sangat berharap denganmu yang ada di masa lalu. Aku sangat ingin kedua anak bodoh itu bisa berubah. Aku benar-benar berharap padamu, Hinata~"
Wajah Naruto dan Hinata makin memerah. Naruto malu karena Kaa-sannya itu mengetahui tentang perasaannya pada gadis Hyuuga itu. Hinata memerah karena mendengar pernyataan calon ibu mertuanya.
"Oh, aku masih ingat saat kau kalap waktu melawan Pain," ucap Minato menimbrung dalam percakapan istrinya dan anak-anaknya plus calon menantunya. "Saat itu kau sangat marah dan membuka segel Kyuubi hingga delapan ekor. Lebih tepatnya nyaris menjadi Sembilan, huh?"
Semua yang ada di ruangan itu mendengarkan Minato berbicara. Mereka sangat ingin tahu apa yang terjadi.
"Tou-san, tolong jangan katakan apapun," pinta Naruto. Ia tidak ingin mengenang saat-saat itu, terlebih diketahui oleh keluarganya di masa depan. Rasanya ia ingin berteleportasi pulang ke dunia shinobi sekarang juga.
Minato seakan-akan tidak mendengarkan Naruto ia berkata lagi, "saat itu kalau tidak salah kau marah karena Hinata terluka. Benar kan?"
Mereka semua melongo kecuali Naruto dan Minato tentu saja. Naruto langsung ber-blushing ria karena ia ingat saat itu Hinata MENYATAKAN CINTA PADANYA!
"Saat itu Hinata berani mempertaruhkan nyawa demi dirimu melawan Pain kan? Benar-benar deh… tidak di masa lalu, tidak di masa depan, kalian berdua memang terikat oleh takdir."
Dengan ucapan Minato itu, Naruto, Naru, dan Hinata berhasil dibuatnya ber-blushing ria. Gimana enggak coba? Kata-kata Minato itu terlalu mendalam dan puitis(?).
Tiba-tiba saja telepon rumah berbunyi. Kushina berdiri dan mengangkat teleponnya. Seluruh mata tertuju pada Kushina yang menjawab si penelpon dengan nada senang.
"Mikoto-chan! Ada apa? Tidak biasanya kau menelpon kemari!... EH? Kemari!? Kenapa tidak bilang sebelumnya?... Kau bersama dengan Fugaku?... APA?! Sekeluarga?! Astaga Mikoto-chan… kenapa tidak bilang sebelumnya. Oke oke, sampai jumpa." Dan Kushina menaruh gagang telepon kembali.
Hng? Mikoto? Fugaku? Kenapa rasanya nama itu familiar? batin Naruto.
"Tebak! Siapa yang akan menuju kesini!"
"Fugaku, Mikoto, dan anak-anaknya kan?" tebak Minato. Kan tadi Kushina yang berbicara keras-keras menyebutkan nama mereka.
"Cih, pasti Sasuke-Teme datang!" kata Naru kesal.
Hah? Teme? Tadi dia bilang Sasuke? Serius?
"Pasti si Keriput itu juga ada," geram Kyuubi.
Keriput?
"Naruto, Kyuubi, jaga ucapan kalian! Jangan mengatakan hal-hal yang tidak terhormat seperti itu!" bentak Kushina.
JANGAN KATAKAN PADAKU….
Beberapa menit kemudian…
"Mikoto-chan!" seru Kushina sambil berlari ke arah wanita berambut hitam sepunggung.
"Hai hai, Kushina-chan… lama tidak mengunjungimu," ucap Mikoto.
"Tumben sekali kau ikut datang, Fugaku. Tidak biasanya kau begini. Apakah nanti malam akan terjadi badai?" tanya Kushina sakartis saat matanya menemukan seorang pria bertubuh jangkung dan besar berambut hitam dan bermata onyx.
"Apakah aku harus menjawabnya, Kushina? Pertanyaan bodoh," jawabnya tenang.
Tentu saja hal ini membuat percikan kemarahan ada diantara Kushina dan Fugaku. Mikoto hanya menghela napas. Benar-benar pemandangan umum.
"Sudah, sudah. Kalian berdua ini selalu saja seperti ini saat bertemu," lerai Minato.
"Hmph!" Kushina memang sebal pada suami sahabatnya itu, tapi tidak mungkin membencinya karena dia juga salah satu sahabatnya. "Oh iya, Mikoto-chan, Fugaku, aku akan memberitahukan kalian sesuatu yang mengejutkan."
"Apa itu, Kushina-chan?"
"Kalian duduklah terlebih dahulu. Aku akan memanggilkan mereka."
Dengan wajahnya yang masih penasaran, keluarga itu duduk di sofa ruang tamu.
"Naruto, Naru, Kyuubi, kemarilah!" pinta Kushina dengan seruannya.
Hah? Kenapa Kushina memanggil Naru dua kali? batin Mikoto dan Fugaku.
Ketiga orang yang dipanngil Kushina datang dan betapa terkejutnya mereka. Ada dua Naruto! DUA!
"Eh? Eh? Eh? Ku-Kushina-chan? Ke-kenapa ada du-dua Na-naruto?" tanya Miikoto terbata-bata.
"Namaku Uzumaki Naruto, Bibi," ucap Naruto dengan senyumannya.
"Eh? EEEEH?! Uzumaki!? Sejak kapan keluargamu punya anak yang seperti ini? Bukankah keluarga Uzumaki berambut merah? Dan kenapa wajahnya mirip sekali dengan Minato?!"
"Ck. Mikoto-chan, Naruto itu juga anak kami," ucap kushina membuat sahabatnya itu berfikir macam-macam.
"Ja-jangan katakan kalau Naruto memiliki kembaran dan terpisah selama ini, Kushina-chan."
"Bukan begitu, Bibi… Namaku Uzumaki Naruto, aku bukan kembaran dari Namikaze Naruto, tapi—"
"—dia adalah diriku di masa lalu, Bibi…" potong Naru.
"WHAAAT?!"
Tentu saja topeng wajah stoic andalan Fugaku terlepas.
"Sudah kuduga itu kau, Uzumaki Naruto…" ucap seorang pria berambut hitam panjang dikuncir menjadi dua belahan.
"He? Lama tidak bertemu, Uchiha Itachi," ucap Naruto agak dingin.
"Sepertinya kau berhasil memenangkan perang. Kuucapkan selamat," ucap Itachi dengan wajah datarnya.
"Terimakasih. Tidak kusangka kau bisa mengingat masa lalumu, hm, Itachi."
"Aniki?" panggil seorang pemuda berambut raven dengan model rambut pantat ayam. "Kau mengenalnya? Bukankah ia dari masa lalu?"
"Hee… ini pertama kalinya aku mendengar seorang Uchiha Sasuke bertanya bertubi-tubi. Benar-benar berbeda."
"Apa maksudmu, Dobe?"
CTAK!
Urat di kepala Naruto dan Naru langsung muncul saat panggilan itu keluar dari mulut Sasuke.
"TEME!" seru keduanya.
"Kalau kau bukan reinkarnasi sahabatku, aku yakin kau sudah menyatu menjadi tanah!" geram Naruto.
Jitakan keras berhasil membuat kedua Naruto itu terdiam. Ini sudah keberapa kalinya Naruto dijitak, dipukul, dan sebagainya oleh Kushina? Oh… Naruto merasa ngeri membayangkan dirinya yang masa depan sering mengalami kejadian ini. Dipukul oleh ibunya sendiri.
"JAGA UCAPANMU, ANAK BODOOH!"
Sambil mengelus-elus kepala mereka yang sakit, mereka mengangguk dengan perintah Kushina.
"Aku akan istirahat, Kaa-san, Tou-san. Sepertinya pemakaian chakra di masa depan ini membuatku sangat lelah," ucap Naruto seraya membalikkan tubuhnya. "Dan… aku baru ingat. Kalau kau, Hinata, dan Itachi ada di masa depan ini, itu berarti Sakura juga ada bukan?" Sasuke tidak mengerti tapi ia tetap mengangguk. "Aku akan mengatakannya sekali. Di masa depan ini. Jangan pernah kau membuat Sakura-chan menderita, atau kau akan merasakan bagaimana rasanya berlumuran darah dan menyatu dengan tanah, Sasuke."
Nada dingin Naruto mengantar Naruto menghilang di balik dinding. Naruto tidak pernah main-main dengan ucapannya. Sasuke tau hal itu. Entah berasal darimana keyakinan itu, tapi rasanya ia mengetahuinya.
"Apakah di masa lalu dia mengenalku dan Sakura?" tanya Sasuke pada orang-orang yang ada di situ.
"Tentu saja, baka Otouto. Kau bahkan pernah berniat untuk membunuh mereka. Padahal mereka berdua adalah sahabatmu sendiri," jawab Itachi dengan wajah datarnya. Hm… dasar Uchiha!
"Hn…" Sasuke tampak sedang berfikir sehingga hanya gumaman tidak jelasnya itu yang keluar dari mulutnya.
"Sebaiknya kau tidak melakukan apapun yang berlawanan dengan permintaannya atau lebih tepatnya perintahnya. Karena dia tidak pernah main-main dengan ucapannya. Aku memberitahukanmu karena aku pernah bertarung dengannya."
"Hee… ini pertama kalinya aku mendenegarmu mengatakan kalimat sepanjang itu, Keriput," ucap Kyuubi sakartis.
"Jaga ucapanmu, rubah," kata Itachi mengejek.
Keluarga Namikaze dan keluarga Uchiha hanya menghela napas dan mengelus dada. Selalu saja seperti ini saat berkumpul.
Kita lihat ke Naruto.
"Eh, Uzumaki-kun? Ada apa?" tanya Hinata khawatir melihat wajah Naruto yang sedikit pucat.
"Hinata-chan, panggil aku Naruto. Jangan seperti itu. Rasanya seperti kita tidak pernah mengenal. Aku tidak suka," ucap Naruto.
Pipi sang heires Hyuuga itu merona. "Ba-baik, Na-Naruto-kun…"
Naruto tersenyum dan tubuhnya limbung. Hinata langsung berlari dan memegangi tubuh Naruto agar tidak terbentur lantai. "A-ada apa, Naruto-kun?"
Naruto tetap tersenyum dan sebelum matanya terpejam, ia berbisik lirih, "Aishiteru… Hinata…"
Hinata tentu mendengarnya , tapi yang terpenting sekarang adalah…
"NARUTO-KUN! ADA APA?! Kushina Oba-san, Minato Oji-san!" panggil Hinata dengan sedikit histeris.
DRAP DRAP DRAP…
"Ada apa, Hinata?" tanya keluarga Namikaze serempak. Haduuh… kompak banget...
"Naruto-kun… hiks… pingsan…"
Mereka langsung melihat sosok blonde yang berada di pelukan gadis Hyuuga itu. Naru yang melihatnya langsung terbakar emosi. Duh… kau benar-benar mencintai Hinata, Naru…
Minato langsung membopong tubuh Naruto di punggungnya dan langsung membawanya ke sebuah kamar. Disana Minato langsung membaringkan tubuh anak tunggalnya di masa lalu dan berkata pada istrinya, "Kushina, apakah kau punya dugaan kenapa Naruto bisa pingsan?"
"Tidak. Tapi aku merasakan bahwa chakranya menipis. Apakah… hidup di masa ini membuatnya cepat menghabiskan chakra?"
"Aku juga tidak tahu…"
Tibaa-tiba saja cahaya putih terang menyinari satu bagian ruangan itu dan munculah sosok gadis berambut panjang.
"Aku dimana?"
TSUZUKU~~
.
.
Fu fu fu…
Sherry telah kembali!
Bagi yang merindukan Sherry(?), Sherry membawakan hadiah kalian… Sherry meng-UPDATE chapter ini bersama dengan balasan REVIEW 3
Maaf kalau Sherry terlalu lama untuk meng-update. Awal rencana adalah pada tanggal 12-12-2012, sayangnya pada hari itu Sherry latihan buat tampil dan pulang-pulang udah kayak sebongkah daging tak bernyawa(?). Itu saja baru setengah jalan ceritanya. Jadi rencana mau update esoknya, nggak jadi karena ternyata Sherry tertidur selama satu hari penuh. Terus besoknya, eh, Sherry lupa kalau tanggal 14 itu penerimaan rapor. Lupa deh sama cerita ini. Baru sekarang tanggal 15 Sherry sempat. Gomenne~~~
Yosh, kalau begitu lanjuut ke acara balas review~~
.
AkiraRaymundo : WAKAKAKAKAKA~~
Bagaimana? Bagus nggak? Fanfict ini idenya dari otak Sherry yang butek karena pelajaran tiada henti.
Lilyrn : Iya~ Sherry akan berusaha update kilat. Saat liburan nanti adalah saat-saat yang wajib ditunggu~
Silahkan fav~ Sherry sangat senang~
Bagian akhir? Oh oh… iya, Sherry sendiri ketawa pas nulis itu~~ HAHAHAHA…
Tsukiyomi Aori Hotori : Ini udah update tapi telat~
Tsukiyomi-san suka juga sama Kirito ya~~
Sherry akan berusaha untuk UPDATE kilaaat~
Gyuururu-kun : Sakura agak OOC. Sasuke juga. Mau apa dikata, Sherry pengen fanfict ini ada humor nya sedikit. Kan nggak lucu kalau serius terus.
Tenang aja Gyuururu-kun… Sherry sudah memiliki konflik yang menakjubkan untuk chapter berikutnya. *smirk* Harap ditunggu chapter 5~
.
Sekian~
REVIEW PLEASE~~~~~
