ACCIDENTELY EXCHANGED
Author: Sherry Kurobara
Sherry own neither Naruto nor Sword Art Online.
Rated: T
Genre: Fantasy, Romance (main), Humor, Adventure, Sci-Fi
Pairing: NaruHina, KiriAsuna, SasuSaku, etc
.
.
Chapter 5: Duel: Black Swordman vs The Last Uchiha
"Kau bisa berlari kan, Kirigaya-san?" tanya Sakura pada pemuda masa depan itu.
"Bisa. Tapi aku malas. Aku akan menggunakan sayapku saja," jawab Kazuto sambil bersiap mengepakkan sayapnya.
"Sejak kapan Papa selalu bermalas-malasan?" tanya Yui polos.
"Entahlah…"
"Sakura, cepatlah. Aku sudah sangat lelah," ucap Sasuke pada gadis pink itu. Sasuke saat ini sedang menggendong gadis Hyuuga itu di punggungnya yang sedang pingsan. Kalau Shikamaru pasti akan berkata 'Mendokusai'.
"Hai, hai…"
Dan mereka mulai melompati dari satu pohon ke pohon yang lainnya. Tentu saja inilah definisi berlari yang dimaksud Sakura. Mereka kan ninja.
Hanya beberapa detik Kazuto melongo, tapi detik berikutnya ia sudah terbang dengan kecepatan yang menyamai kecepatan SasuSaku.
"Wow… sepertinya memiliki sayap itu menyenangkan," komentar Sakura.
"Siapa bilang? Cukup merepotkan, kau tau? Karena aku hanya bisa memakai sayap ini selama sepuluh menit. Demi Tuhan… sepuluh menit!" keluh Kazuto.
"Aa, Papa, Yui baru ingat," ucap Yui memunculkan kepalanya dari dalam kantung baju Kazuto. "Sayap Papa bisa digunakan kapanpun tanpa batas waktu."
"MAJI?!"
"Hai, Papa!"
"Kok bisa sih?"
"Entahlah… yui juga tidak tau…"
"Kita sampai," ucap Sakura sambil memandang sedih pemandangan di depannya.
Kazuto mencoba untuk memandangi pemandangan yang bisa membuat kunoichi pink itu sedih. Ia sangat terkejut. Pemandangan yang ada di depannya itu bisa membuat semua orang sedih tentu saja. Dia memang melihat seperti sebuah desa yang rata dengan tanah. Serius!
"Hn. Madara dan Obito benar-benar hebat bisa meratakan desa ini," komentar Sasuke saat melihat desanya—ralat, desa yang pernah ditinggalinya—rata dengan tanah.
Dan mereka melihat penduduk desa sedang membangun desa mereka kembali. Memang, membangun desa mereka itu tidak mudah. Terlebih desa itu sudah merata dengan tanah. Sakura menemukan orang yang dia cari.
"Yamato-kaicho!"
Lelaki bernama Yamato itu menoleh. Sepertinya dia masih memiliki banyak luka akibat perang.
"Kaicho terlalu lelah dan banyak mendapat luka. Aku akan mengobati kaicho terlebih dahulu," ucap Sakura sembari mengulurkan tangannya untuk mengobati Yamato dengan jutsu nya.
"Sakura, jangan perlakukan aku seperti pasien yang benar-benar menderita. Aku harus membangun beberapa rumah lagi," tolak Yamato.
"Karena itulah! Aku harus mengobati kaicho terlebih dahulu!"
"Tidak, Sakura, Tidak. Masih banyak orang yang membutuhkan medic-nin sepertimu. Kau harus segera ke tenda yang memuat shinobi-shinobi yang terluka, Sakura."
Tampaknya Sakura masih menimbang-nimbang. Keselamatan banyak orang memang beraada pada medic-nin seperti dirinya. Ia tau kalau medic-nin di Konoha sangat sedikit. Ia juga tau kalau Tsunade, shishounya sudah tidak bisa menyembuhkan lagi karena chakranya benar-benar menipis.
"Baiklah. Aku akan bertanya, apakah kaicho membuatkan rumah keluarga Hyuuga?"
"Sudah. Bahkan seperti dulu. Kau mau mengantar Hinata-san?"
"Iya. Kaicho harus segera istirahat. Membuat rumah keluarga Hyuuga yang besar itu tidak memakai chakra yang sedikit. Aku akan segera mengobati kaicho setelah mengobati beberapa orang di tenda itu."
Yamato hanya mengangguk pasrah. Ia tau kalau anak didik Kakashi dan dirinya yang satu ini memang sangat susah untuk dilawan. Keras kepala, ck.
Yamato menoleh dan mendapati Sasuke yang masih menggendong Hinata dan seorang pemuda berambut hitam spike, berjubah hitam, dan bersayap hitam. What? Bersayap?
"Aku senang bisa melihatmu kembali ke desa Konoha, Uchiha Sasuke." Sasuke hanya membalas gumaman 'hn' miliknya. "Lalu siapa pemuda itu?"
"Kirigaya Kazuto. Salam kenal dan mohon bantuannya," ucap Kazuto.
"Kau berasal dari desa mana?"
Sosok pixie muncul dan terbang ke arah Yamato. "Kami bukan berasal dari dunia ini. Kami berasal dari masa depan. Tepatnya tahun 2026."
"HA?! Lalu dimana Naruto?" sepertinya Yamato baru mengingat anak didik blondenya itu.
"Di masa depan," jawab Kazuto singkat.
"HAH?! Kok bisa?"
"Ceritanya panjang. Besok dia akan menceritakan lengkapnya di kantor Hokage. Kami akan mengantar Hinata dulu, Yamato-kaicho. Jaa…" ucap Sakura lalu berjalan menjauh diikuti 2 laki-laki itu.
Sesampainya di kediaman Hyuuga—yang Sakura pastikan bahwa shinobi pemilik elemen kayu itu akan berakhir di rumah sakit karena rumah keluarga Hyuuga itu benar-benar sama seperti sebelumnya—mereka langsung masuk dan membaringkan tubuh Hinata di sebuah kamar.
"Kalau begitu aku akan membantu menyembuhkan para shinobi," kata Sakura sesaat sebelum ia meninggalkan kediaman Hyuuga.
"Tunggu sebentar, Haruno-san," cegah Kazuto. "Yui, apakah sihirku bekerja?"
"Ya, Papa. Kau sudah mengetahuinya saat memakai illusion magic," jawab pixie itu sambil menunjukan batang hidungnya.
"Kalau begitu apakah sihir penyembuh juga bisa berpengaruh dengan tubuh manusia?"
"Seperinya bisa, Papa."
"Bagus. Haruno-san, aku harap kau diam saja disitu sampai aku selesai mengobatimu."
"Hah?"
"Papa akan menggunakan sihirnya, Sakura-san…" jelas Yui dengan singkat. "Ayo lakukan Papa! Aku ingin melihatnya!"
Kazuto hanya mendengus mendengar permintaan anaknya itu. Lalu ia mengangkat tangannya dan mengucapkan mantra. Setelah selesai, cahaya berwarna hijau langsung menyelimuti tubuh Sakura. Sakura langsung melongo mendapati semua lukanya hilang tak berbekas dan chakranya telah kembali. Seluruhnya.
Sasuke jelas saja melihat semuanya. Terlebih saat ia merasakan chakra Sakura yang sebenarnya menipis itu menjadi seperti semula setelah diberi mantra oleh Kazuto.
"Kau ini sebenarnya siapa, Kirigaya Kazuto? Kenapa kau bisa mengembalikan chakra dan menyembuhkan? Bukankah kau tidak memiliki chakra?" tanya Sasuke bertubi-tubi. Hah? OOC sekali kau, tuan Uchiha!
"Bukankah kau sangat jenius, heh, Uchiha Sasuke?" sindir Kazuto, "Aku sudah mengatakannya, tubuhku ini bukan tubuh asliku. Tubuh ini adalah tubuh palsu. Tubuh yang memiliki segudang kemampuan. Aku bisa menggunakannya sesuka hatiku karena akulah pemilik tubuh ini. Kau mengerti, Tuan Muda Uchiha?"
Sepertinya memang Kazuto memiliki hubungan yang terbilang buruk dengan Sasuke di masa depan. Buktinya mereka kini saling melemparkan sindiran. Rasanya sangat aneh karena mereka berdua memiliki sifat yang hampir mirip. Lihat saja. Mereka sama-sama pelit dalam hal kata (sebenarnya Kazuto tidak seperti itu. Kalau kalian para readers membaca dan menonton SAO, pasti akan tau), keras kepala, dan memiliki mulut yang pedas begitu buka mulut. Walau begitu mereka memiliki sifat lembut. Tunggu! Sejak kapan Sasuke memiliki sifat lembut? Kalian lihat bagaimana ia mengkhawatirkan sahabat blondenya itu yang dulunya ingin dibunuhnya.
Oh… Author… sepertinya kau sendiri tidak pernah merasakan yang namanya kelembutan yang sebenarnya.
Aiiisssh! Hentikan semua yang OOT! Author selalu OOT!
Oke, sebaiknya hiraukan saja inner dan outer Author. Kita balik lagi ke lap—eh, ke FANFICT!
Saat kedua pemuda berambut hitam itu saling menyindir, Sakura tertawa geli. Hal itu tentunya membuat kedua pemuda itu menoleh ke arahnya.
"Kalian benar-benar lucu. Rasanya aku seperti melihat dua orang yang sama disini."
"KAMI TIDAK SAMA!" bentak keduanya tidak terima.
"JANGAN MENIRUKU, UCHIHAAA!"
"SEHARUSNYA ITU YANG KUKATAKAN!"
"Tuh kan… kalian kompak sekali…"
"KAMI TIDAK KOMPAK!" seru keduanya lagi. dan mereka mulai perdebatan mereka lagi…
"Huaa… ini pertama kalinya aku melihat Papa yang menggunakan emosinya selain saat Mama nyaris mati dan saat menyelamatkan Mama," ucap Yui yang terbang dari kantung jubah Kazuto karena tidak tahan dengan bentakan-bentakan kedua orang itu.
"Haa? Nyaris mati?"
"Hai, desu. Itu terjadi dua tahun yang lalu. Saat itu Papa dan Mama terjebak di dalam sebuah game bernama Sword Art Online selama dua tahun. Mereka berdua dan seluruh pemain berusaha menyelesaikan game itu. Dan saat itu, Mama melindungi Papa saat Papa akan ditebas dan mati. Mama menggantikan Papa untuk mati. Sayangnya dengan itu juga Papa tidak pernah berniat untuk membunuh game master, Kayaba Akihiko, karena telah kehilangan Mama. Papa juga tertusuk dan nsesaat sebelum mati, Papa menusuk game master dan Papa menghilang. Dan dengan kematian game master, pemain SAO bisa keluar dengan selamat."
"Lalu… kenapa mereka berdua masih hidup?" tanya Sakura masih penasaran.
"Entahlah… mungkin saja game master tidak benar-benar ingin membunuh Papa. Yang pasti, Yui senang kalau Papa dan Mama masih terus hidup sampai saat ini," jawab Yui dengan senyumannya. "Sakura-san tidak pergi mengobati para shinobi yang terluka?"
Seakan baru teringat dengan kenyataan, Sakura langsung menepuk jidatnya yang lebar *di shannaro sama Sakura*. "Astaga! Aku lupa!" ia langsung menarik kerah jubah Kazuto. "Kau ikut denganku. Kau harus menyembuhkan beberapa shinobi. Tidak ada kata penolakan. TITIK!"
"Baik baik! Aku akan membantu. Tapi tolong jangan tarik-tarik aku!" pinta… err, lebih tepatnya perintah Kazuto. Sakura melepaskan tarikannya. "Yui, apakah sihirku ini terbatas? Maksudku seperti ada batasan penggunaan sihir."
"Tidak, Papa. Sama seperti sayap Papa. Tidak ada batasan untuk memakainya. Tapi Yui harap Papa tidak menggunakannya terus menerus karena akan membuat tubuh Papa cepat lelah. Yui sarankan untuk menggunakan sihir penyembuh yang mencakup banyak orang sekaligus. Memang sangat lelah, tapi Yui rasa tidak akan membuang banyak waktu."
Kazuto yang mendengarnya langsung tersenyum dan mengelus puncak kepala Yui. "Arigato, Yui… Kau memang anak Papa dan Mama yang baik."
Yui tersenyum dan tertawa kecil. "Dou itashimashita, Papa…"
Sakura takjub melihat pemandangan kasih sayang di depannya. Kazuto yang sedari datang di dunia shinobi memiliki temperamen keraas kepala, hemat bicara, dan tidak pernah tersenyum kalau bersama dengan Yui, semuanya jadi berkebalikan.
Sasuke yang melihat itu hanya mendecih dan memalingkan kepala. Ia masih tidak bisa menerima kasih sayang. Terlebih saat kakak satu-satunya yang dimiliki itu mati di tangannya. Mati karena sayang padanya.
"Sakura-san?" panggil Hinata yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarnya.
"Hinata… ada apa?" tanya Sakura.
"Aku akan p-pergi membantu."
"Tidak. Kau pasti kelelahan, Hinata…"
Hinata menundukan kepalanya. "Tapi aku ju-juga Shi-shinobi Konoha."
"Aaaah… Kalian ini… bisakah tidak membuat mood ku menjadi lebih buruk?" geram Kazuto. "Aku akan menyembuhkan Hyuuga-san terlebih dahulu. Oke?"
Tanpa pengiyaan dari kedua kunoichi itu, Kazuto merapalkan mantra kembali. Lalu mwengarahkannya ke Hinata. Tubuh Hinata diselimuti oleh cahaya hijau dan luka-lukanya menutup.
"Ke-kenapa bisa? Chakra ku kembali?"
"Aku menggunakan sihir penyembuh. Kalau saja aku adalah Undine, aku yakin aku bisa menyembuhkan secara total," ucap Kazuto dengan sedikit rasa sesal.
"Tapi Papa memang lebih baik menjadi Spriggan!"
"Yui… kata-katamu jadi serasa menghinaku…"
"Eh? Maafkan Yui, Papa…"
"Ya. Aku tidak mempermasalahkannya sih." Kazuto menoleh pada ketiga shinobi itu. "Bisakah kita pergi sekarang? Aku ingin melakukan hal yang aku bisa disini. Aku benci untuk duduk-duduk saja tanpa melakukan apapun."
"Kita berlari," ucap Sasuke.
"Terserah. Aku hanya menggunakan sayapku," ucap Kazuto agak ketus.
Lalu mereka berlari. Berlari dalam hal yang semua manusia lakukan. Sebenarnya kalau mau cepat sampai, mereka cukup melompati satu rumah ke rumah lainnya, tapi sekarang ini kan desa sedang rata dengan tanah. Apa yang mau dijadikan untuk pijakan selain tanah? Rumah yang baru saja dibangun? Author merasa kalau pembangun rumah-rumah itu akan sangat marah.
Kazuto dan Yui sih tidak mempermasalahkan apapun. Karena mereka memiliki sayap. Tidak perlu susah-susah untuk melompati satu rumah ke rumah lainnya, sebenarnya sih Kazuto sudah pernah mencobanya. Saaat di dalam SAO tentunya.
"Kita sampai," ucap Sakura.
Kazuto melihat keadaan sekitarnya. Hatinya miris melihat keadaan itu. Banyak sekali yang terluka.
"Sakura-san, baguslah kalau kau sudah datang. Lho? Lukamu sembuh semua?" tanya salah satu medic-nin.
"Aku yang akan menyembuhkan mereka, Haruno-san," ucap Kazuto.
"yang terluka harap berkumpul di satu tempat. Orang ini akan menyembuhkan semuanya," perintah Sakura.
"Ha? Menyembuhkan semuanya seorang diri? Itu mustahil!"
"Sudah! Cepat lakukan saja!" ucap Kazuto sedikit gusar. Seperinya moodnya benar-benar memburuk sejak dia datang ke dunia ini.
Sakura melihat perubahan wajah Kazuto langsung berkata, "lakukan saja."
Setelah orang orang yang terluka dikumpulkan menjadi satu, Kazuto berkata pada semuanya. "Jangan ganggu aku saat masih merapalkan mantra. Mantra ini sangat panjang dan butuh konsentrasi. Kalian mengerti?"
Mereka semua langsung mengangguk. Takut dengan ekspresi Kazuto yang bad mood.
Kazuto lalu merapalkan mantra. Memang benar. Mantra yang ini memiliki 23 kata. Sangat panjang bukan?
Setelah selesai merapal mantra, tubuh-tubuh shinobi yang terluka itu diselimuti oleh cahaya dan perlahan luka-luka mereka menutup. Setelah cahaya itu memudar, beberapa dari mereka membuka matanya dan terkejut.
"Lukaku sembuh dan chakra ku kembali?!" seru mereka tidak percaya.
"Bagaimana caramu melakukannya?" tanya beberapa medic-nin.
"Itu sebuah sihir," jawab Yui—yang sedang memakai wujud aslinya. "Sihir seharusnya digunakan untuk sesuatu yang baik seperti ini, sayang sekali banyak yang menyalah gunakannya."
Yui menatap wajah Kazuto. Kazuto memang sedikit lelah. Sihir itu sihir kelas atas. Sihir yang sebenarnya adalah milik para ras Undine.
"Papa, lebih baik Papa istirahat. Tubuh virtual ALO Papa sudah mencapai batasnya. Papa seharusnya mengerti," saran Yui.
"Aku mengerti. Aku akan menggunakan tubuh SAO. Tidak apa kan?"
"Tubuh SAO Papa juga sudah lelah. Karena… err… berkali-kali jatuh dan dipukul."
Sakura langsung mendelik. Kazuto mengabaikannya. "Jadi maksudmu aku harus menggunakan tubuh GGO?"
"Hai, Papa."
"Sial! Kenapa aku harus menggunakan tubuh yang itu?!"
"Tidak ada yang lain, Papa. Karena tidak mungkin menggunakan tubuh asli Papa soalnnya tubuh asli Papa tercampur dengan tubuh virtual."
"Uuh… baiklah. Ini karena aku terpaksa." Kazuto mengutak-atik menu bar miliknya dan menggantinya menjadi tubuhnya di GGO. Tubuhnya diselimuti cahaya putih dan tubuhnya mulai berganti.
Tentu saja para shinobi itu langsung melongo. Yang mereka lihat adalah sosok yang mirip perempuan berambuh hitam panjang, berbaju hitam dengan armor di dadanya, bukan sosok laki-laki berambut hitam spike dengan sayapnya.
"Uh sial! Aku tidak suka menggunakan tubuh ini!" keluh Kazuto. Kenapa ia tidak menyukai tubuh virtualnya di GGO? Mudah. Karena banyak orang salah paham antara gendernya. Contohnya saja Sinon. Masih ingin bertanya lebih lanjut? Author sarankan untuk membaca light novel SAO volume 5 dan 6. Maaf untuk promosi di tengah-tengah cerita.
"K-Kirigaya…kun?"
"Ya, Hyuuga-san?"
"Ke-kenapa wujudmu s-seperti perempuan?"
TWITCH!
Oh, Hinata… kau telah membuat kesabaran Kazuto habis.
"Dengar ya! Ini adalah satu dari sekian banyak tubuh virtualku! Walau terlihat seperti perempuan, tubuh ini adalah tubuh laki-laki! Aku tidak suka dikira perempuan saat memakai tubuh ini!"
Hening...
Tidak ada yang berani buka suara karena tampang Kazuto sedang menyeramkan.
Tiba-tiba saja Sasuke tertawa. Tertawa terbahak-bahak. Baca dengan teliti kalimat sebelumnya! Whaaat? Sasuke? Tertawa? Itu adalah dua hal yang susah dijadikan satu bukan? Tapi serius! Demi Dewa Jashin, SASUKE TERTAWA!
"HAHAHAHAHAHAHA! Tak kusangka kau menjadi sangat cantik, Kirigaya Ka-zu-to," ejek Sasuke. Sasuke bukan memujinya, tapi menghinanya.
Kazuto merasa sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak menebas dan menarik pelatuk FN Five-Seven miliknya. Ia mengambil FN Five-Seven dan menarik pelatuknya. Peluru itu langsung menuju ke arah Sasuke. Tentu saja sasuke bisa menghindarinya, tapi ia melupakan kenyataan bahwa Kazuto memiliki pedang di punggungnya. Kazuto sudah berlari dan sekarang berada di belakangnya dengan Light Sabernya ditodongkan pada leher pemuda berambut raven itu.
"Walau kau adalah adik kelasku, walau kau adalah adik kesayangan Itachi, walau kau adalah seorang Uchiha, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu sekarang, UCHIHA SASUKE!" geram Kazuto dengan aura hitam pekatnya.
"Papa!" Yui yang sedari tadi berlari langsung memeluk tubuh Kazuto. "Kumohon, Papa… jangan membunuh siapapun…"
Kazuto mendengus dan segera menarik Light Saber miliknya. "Kalau bukan karena Yui, aku yakin kau sudah merasakan rasanya tercabik-cabik," ucapnya dingin.
"Papa!"
"Baik, Yui."
"Tersenyum, Papa. Wajah Papa yang sekarang sedikit menakutkan. Nee… tersenyumlah…" bujuk Yui dengan senyumannya.
Kazuto langsung tersenyum. Yang bisa mengubah moodnya hanya Yui dan Asuna. Kazuto tersenyum dengan kondisinya yang memakai tubuh mirip… err… perempuan itu tentu saja membuat banyak shinobi bergender laki-laki itu langsung terpesona. Bahkan ada yang nosebleed. Uh… Kazuto, senyumanmu benar-benar mematikan. Mereka mungkin jadi ingin memakannya. Tapi ingat! Author menuliskan fanfict yang NO-YAOI! Dan tentunya kalau mereka mengingat sadisnya kelakuan malaikat sesaat mereka itu, tentunya mereka mengurungkan niat mereka. Siapa juga yang mau masuk ke rumah sakit lagi?
"Sakura-san! Ada yang terluka lagi!"
"Ck! Kenapa tidak daritadi! Sihirku sudah habis!" decak Kazuto pelan.
Sakura hanya tertawa hambar. Walau pelan, tapi gadis itu masih bisa mendengarnya. "Kau tenang saja, Kirigaya-san, aku akan menanganinya. Terimakasih pada sihirmu, chakraku sudah kembali. Kau boleh beristirahat."
Sakura langsung berlari ke arah pasiennya dan mulai mengobati. Kazuto hanya menghela napas lega sekaligus khawatir. Para shinobi yang telah disembuhkan langsung ikut turun ke lapangan untuk membangun desa kembali. Kazuto duduk di pohon terdekat. Yui mengikutinya. Duduk-duduk saja dan menikmati angin musim semi eh?
"Papa… apa rencana Papa untuk beberapa hari ke depannya di dunia ini? Seminggu itu sangat lama Papa… aku merindukan Mama…" ucap Yui.
Kazuto memeluk Yui yang ada di sampingnya dengan menggunakan sebelah tangan. "Papa juga sangat merindukan Mamamu. Aku tidak tau apa yang akan kulakukan. Mungkin aku akan mencoba untuk bertarung dengan para shinobi itu. Terlebih Uchiha. Aku ingin tau sejauh mana kemampuan bocah itu di masa lalu."
Hening…
Mereka berdua larut dalam pikiran mereka sendiri.
"Yui, kita pulang saja, ya?" ajak Kazuto.
"Pulang kemana, Papa?" tanya Yui polos.
"Ke kediaman Hyuuga. Kita sementara waktu tinggal disitu."
"Baik Papa."
Dan mereka berdua pergi meninggalkan tenda tersebut dan segera menuju kediaman Hyuuga.
Esoknya…
Kazuto sedang bersantai di ruang yang sementara menjadi kamarnya dan Yui. Sebenarnya Yui tidak memperlukan acara tidur. Tapi sebuah program yang dijalankan terus menerus hanya akan membuat program itu eror, kan? Karena itulah Yui juga mematikan sistemnya dan layaknya orang yang sedang tertidur. Lagipula Yui memang ingin mempelajari tentang kehidupan manusia.
Tiba-tiba saja pintu kamar diketuk. Begitu mendapatkan ijin dari empunya kamar (?), pintu terbuka dan menampilkan sosok perempuan berambut indigo. Hinata.
"Ada apa, Hinata-san?" tanya Yui ramah. Yui memang ramah sih.
"Bu-bukankah K-Kirigaya-kun disuruh u-untuk ke kantor hokage ha-hari ini?" tanya Hinata tergagap. Ternyata Hinata masih sangat pemalu, hihi.
"Hyuuga-san, tolong berbicaralah dengan jelas. Anggap saja aku ini sahabatmu, atau temanmu. Tapi jangan sekali-sekali menganggapku seorang perempuan. Itu melukai harga diriku sebagai seorang laki-laki," pinta Kazuto dengan senyum ramahnya namun terasa kalau ada nada sserius di dalam kalimatnya.
"Baik, Kirigaya-kun."
"Oh, panggil saja nama kecilku. Rasanya tidak enak mendengar seseorang yang sudah aku anggap teman memanggil nama keluargaku padaku."
"Mm… K-Kazuto…-kun?"
"Nah, begini kan lebih enak. Bisakah kau mengantarku, Hinata-san?"
Waw, sepertinya sifat Kazuto yang ramah dan baik membuat Hinata terpesona. Tapi tentu saja hari Hinata sudah terisi dengan Naruto. Sebenarnya… Kazuto masih menggunakan tubuh GGO. Jadi yang terlihat adalah seorang laki-laki yang mirip sepert perempuan. Terlebih dengan moodnya yang sedang sangat baik itu membuat laki-laki manapun akan memuja dewi err… dewa kecantikan(?) mereka.
"Mm… Ikut aku, Kazuto-kun, Yui-san…"
Daaaan… mereka pun menuju ke kantor hokage. Sesampainya disana, Hinata mengetuk pintu sebuah ruangan. pintu terbuka dan memperlihatkan sosok Senju Tsunade, sang Godaime Hokage, yang sedang berkutat pada beberapa dokumen-dokumen penting dan asisten sang Hokage, Shizune, yang sedang membantu sang Hokage.
"Hokage-sama, saya mengantar Kirigaya Kazuto-kun dan Yui-san," lapor Hinata.
"Hm. Baiklah. Terimakasih, Hinata. Kau boleh pergi," ujar… emm… lebih tepatnya perintah Tsunade.
Hinatapun keluar dari ruangan. Tsunade begitu mau membuka suara, ia memandang tamu di depannya dengan bingung. Bukankah orang yang bernama Kirigaya Kazuto itu seorang laki-laki? Kenapa di depannya ini ada dua perempuan? Kalau yang satunya sih aku tahu. Yui. Nama gadis kecil itu, bukan? Lalu siapa gadis yang satunya?
"Mm… maaf, Hokage-sama, kenapa Anda memandangi saya?" tanya Kazuto bingung.
SUARA LAKI-LAKI!
"Maaf, Kirigaya-san, kenapa, mm… penampilanmu berbeda dengan yang kemarin?" tanya Tsunade.
"Ah iya. Maaf, ini adalah salah satu wujud saya di dunia virtual. Apakah Anda tidak merasa nyaman dengan tubuh ini? Saya akan berganti wujud kalau begitu."
Tsunade hanya terdiam. Shizune juga. Mereka berfikir seperti apa masa depan yang bisa membuat banyak wujud seperti itu. Bukankah di masa depan tidak ada yang memiliki chakra? Maksudnya, bukankah yang ada di masa depan hanya orang-orang biasa?
Kazuto mulai membuka menu bar miliknya dan segera mengganti wujudnya dengan wujud Kirito dalam SAO. Atau Author katakan dengan wajah aslinya. Kalau readers baca atau menonton Sword Art Online, pasti tahu alasan kenapa Author ini mengatakan kalau tubuh virtual SAO sama saja dengan tubuh asli. Ingin tau? Wah… Author harus ijin sama Kawahara-sensei. Berhubung Author nggak punya nomor hapenya, Author merekomendasikan untuk menonton dan membaca SAO saja. *Gebuk rame-rame* Uuh… Ini nggak mau dilanjutin nih cerita? Readers: DILANJUTIN! CEPETAAAAN! Author: Uh uh… Author di-bully… *pundung di pojokan*
Oke, sudah cukup pembullyan di dunia ini. Author sangat tidak suka. Dimana-mana selaluuuuuu saja ada pembullyan, tau nggak sih kalau orang-orang yang dibully itu doa-doanya selalu di dengar oleh Tuhan? Karena itulaah… mmmmfhttt! Readers: *nyumpelin silver queen ke mulut Author* Lanjutin fanfict aja Thoooor! Nggak usah pake pidatoooooo!
Un… yaudah deh… Author malang ini harus kembali ke belakang panggung. Bye byee!
Kazuto sudah membuat tubuhnya menjadi tubuhh virtual SAO miliknya. Sepasang pedang sudah terpasang di punggungnya. Jubah hitamnya yang menjadi trademark Kirito, The Black Swordman, Beater. Mata hitamnya yang indah namun menampakan ketegasan. Um? Author tadi bilang mata hitamnya yang indah? Mm… nggak apa deh… lanjuuut!
"Bisakah kau menceritakan sesuatu tentang… masa depan?" pinta Tsunade dengan nada memerintah.
"Tentang apanya? Yang ingin Anda ketahui adalah dunia seperti apa itu, atau mungkin tentang orang-orang di masa lalu yang aku kenal di masa depan?" tanya Kazuto menebak.
Mata Tsunade langsung menyipit. Orang-orang masa lalu yang Kazuto kenal di masa depan?
"Dua-duanya."
"Baiklah. Saya akan menjelaskan seperti apa dunia itu. Di masa depan, tidak ada yang namanya peperangan. Oke, harus saya akui kalau dulu pernah ada. Yah… menurut sejarah dunia, hanya ada perang dunia pertama dan perang dunia kedua, tapi kalau ditelusuri per Negara, dulu dangat banyak peperangan. Saya tidak akan menyinggung tentang peperangan jaman dulu. Di masa depan, tidak ada yang memiliki kemampuan seperti yang saya lihat di masa ini. Chakra? Tidak ada di masa depan. Di masa depan hanya ada otak dan teknologi. Otak untuk mengembangkan dunia dan teknologi yang membantu manusia untuk mengembangkan dunia mereka. Salah satu teknologi itu adalah dimunculkannya game VRMMORPG. Game VRMMORPG itu membawa seluruh kesadaran masuk ke dalam dunia permainan tersebut. VRMMORPG pertama di masa itu dibuat oleh seseorang yang sangat jenius, tapi membuat pemain sebanyak empat ribu orang mati. Dari sepuluh ribu pemain, yang bisa keluar hanya enam ribu. Dan permainan itu membutuhkan dua tahun untuk diselesaikan."
Wajah Tsunade telihat terkejut, tapi ia langsung mengubah raut wajahnya menjadi datar kembali.
"Saya adalah salah satu dari enam ribu pemain itu," aku Kazuto.
Mata Tsunade dan Shizune kontan membesar. "APA?!"
"Begitulah… karena itulah, sosok yang Anda lihat ini adalah wujud saya dalam permainan itu. Game yang telah membunuh orang-orang tak berdosa. Empat ribu nyawa…"
Hening…
"Bisakah saya melanjutkan?" tanya Kazuto meminta persetujuan. Tsunade mengangguk. "Di masa depan, perjalanan dilakukan dengan kendaraan. Dengan mobil, bus, kereta api, pesawat, kapal, motor, dan yang lainnya. Sangat berbeda dengan yang disini bukan? Disini menggunakan kaki." Tsunade kembali mengangguk. Membayangkan di masa depan ada kendaraan dan bentuknya seperti apa. "Di sana ada juga alat komunikasi seperti handphone, telepon, e-mail, dan yang lainnya. Kalau di masa ini menggunakan apa?"
"Surat. Pengantarnya menggunakan hewan atau dengan orang suruhan," jwab Tsunade.
"Hm… begitulah secara garis besar masa depan."
"Hmm… baiklah, aku bisa membayangkan sedikit tentang masa depan. Lalu, bagaimana dengan orang-orang masa lalu yang kau kenal di masa depan?"
"Anda begitu penasaran? Baiklah… Aku sudah mengenal beberapa orang di masa depan yang rupanya dari masa lalu. Contohnya saja, Uchiha Sasuke, anak dari Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto. Memiliki kakak bernama Uchiha Itachi. Terbilang sangat jenius, irit bicara, dan—kata banyak anak perempuan—keren. Sahabat dari Namikaze Naruto, Nara Shikamaru, Hyuuga Neji, dan Sabaku Gaara. Pacar dari Haruno Sakura, teman masa kecilnya. Ah, nama-nama yang tadi saya sebutkan, kemungkinan di masa ini ada. Benar bukan?"
"Ya. Kau benar. Semua nama yang kau sebutkan memang ada di masa ini," jawab Tsunade dengan wajah tak percaya. Tunggu! Rasanya ada yang mengganjal! "Tadi kau mengatakan Sasuke pacar dari siapa?"
"Haruno Sakura. Gadis yang menonjokku kemarin," jawab Kazuto santai. Tidak menyadari perubahan ekspresi sang Godaime Hokage.
"USOO!" jerit Tsunade histeris. Anak didiknya… berpacaran dengan Uchiha Sasuke di masa depan…
Tsunade memijit pelan dahinya. Rasanya berita yang dibawa sang time traveler black swordman Kirito (julukannya jadi tambah panjang di fict ini) membuat kepalanya pening. Gimana nggak pusing coba? Murid kesayangannya yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri di masa depan akan berpacaran dengan The Last Uchiha itu!
"TUNGGU! Kemarin kau bilang kau mengenal Namikaze Minato, bukan?"
"Saya tidak mengenal Namikaze-san sebenarnya, hanya pernah bertemu dengannya."
"Kalau begitu… apakah kau mengenal Uzumaki Kushina?"
"Uzumaki Kushina? Tidak. Yang saya tahu adalah Namikaze Kushina, istri dari Namikaze Minato dan ibu dari Namikaze Kyuubi dan Namikaze Naruto."
"Jadi… itu berarti di masa depan… yang mati di dunia ini… masih tetap hidup?"
"Ha? Apa maksud Anda?"
"Di masa ini, Namikaze Minato dan istrinya telah meninggal. Delapan belas tahun yang lalu. Saat Naruto dilahirkan," jelas Shizune menggantikan Tsunade yang masih syok.
"Apakah itu berarti keluarga Uchiha… semuanya hidup?" tanya Tsunade.
"Saya hanya mengenal keluarga kecil dari Uchiha Sasuke. Dan… yang saya sebutkan siapa saja keluarga Uchiha Sasuke, memang masih hidup. Memangnya ada apa?"
"Keluarga Uchiha… sudah meninggal semua. Yang tersisa adalah Uchiha Sasuke seorang," jawab Shizune mengambil alih lagi karena Tsunade sedang tercengang.
"Kalau begitu… apakah kau mengenal, bukan, pernah bertemu dengan Jiraiya?" tanya Tsunade agak takut.
"Jiraiya? Maksud Anda Jiraiya-sensei? Tentu saja. Beliau adalah salah satu dari guru di sekolah saya," jawab Kazuto dengan tanda tanya besar di kepalanya. "Jangan katakan di dunia ini Jiraiya-sensei sudah meninggal."
Tsunade mengangguk. "Haah… Takdir di masa lalu dan di masa depan sangat berbeda…"
"Ya… begitulah… Maaf, saya ingin bertanya, apakah… saya di masa ini… ada?" tanya Kazuto ragu.
"Namamu adalah Kirigaya Kazuto bukan? Tidak ada yang bernama itu di Konohagakure. Lebih tepatnya, aku tidak pernah mendengar adanya clan Kirigaya," jawab Tsunade ringan.
Kazuto termenung. Dirinya tidak ada dimasa lalu? Tunggu! Bukankah ada yang mengatakan reinkarnasi itu terjadi seribu tahun sekali sejak orang tersebut lahir? (Kalau readers bertanya dari siapa, Author katakan, dari Author sendiri. Ini hanya fanfict. Hanya rekayasa belaka). Itu berarti dirinya berada di dua ratus tahun kedepan dari masa ini?
Seorang ANBU masuk ke dalam ruangan, atau bisa dibilang, tiba-tiba datang.
"Maaf, Hokage-sama, ada sesuatu yang penting."
"Apa itu?"
"Hyuuga Hinata… menghilang…"
"APAAA?!"
"Tiba-tiba saja saat Hyuuga-san sedang membantu pencarian, tubuhnya bersinar dan ia menghilang," lapor ninja itu.
Kazuto mengerutkan dahi. Tubuh bersinar? Sama seperti dirinya kemarin. Tunggu! Sama seperti dirinya? Jangan katakan…
"Papa!" panggil Yui. Kazuto menoleh. "Yui merasakan sesuatu. Ini… ID player Mama!"
"Asuna? Tunjukan jalannya, Yui!" pinta Kazuto.
Kazuto langsung membuka pintu dan sesaat ia akan berlari, Tsunade berseru, "Ada apa, Kirigaya-san?! Apakah kau mengetahui sesuatu?!"
"Ada kemungkinan Hinata-san… berada di masa depan. Yui… merasakan Mama di masa ini," jawab Yui karena Kazuto sudah berlari meninggalkan kantor hokage.
Tsunade tetap meneriakan sesuatu, tapi Kazuto dan yui sudah meninggalkan kantor Hokage. Yui sudah mengubah wujudnya menjadi pixie agar ia bisa mengejar Kazuto. Kazuto benar-benar merindukan Asuna. Jadi… Kazuto berlari sekencang yang dia bisa.
"Papa, lurus ke sebelah sana! Yui merasakan Mama ada disana!" seru Yui dengan menunjukkan jarinya ke arah yang ia maksud.
Kazuto terus berlari sampai matanya menangkap beberapa sosok disana yang sedang sibuk menanyai sosok gadis berambut chestnut itu. Mata Kazuto langsung terbuka lebar. Itu… pacarnya tercinta… kekasihnya tersayang…
"ASUNA!"
Asuna menoleh dan mata chestnut itu menemukan sosok yang sangat ia cintai. Chestnut bertemu dengan onyx. Putih bertemu dengan hitam. Rapier bertemu dengan dual blades.
"KAZUTO-KUUN!"
Dan mereka berdua berlari ke arah satu sama lain. Dengan gerakan yang Author buat slow motion, jadi terasa kayak film-film melankolis. Dengan kata lain… adegan itu… menyebalkan, menjijikan, uuuh banget deh pokoknya.
Asuna: *berhenti dan menoleh ke kamera* Authooor, tolong jangan berkomentar dan mengganggu syuting. Oke? *senyum iblis:on*
Author: Asuna! Tidak ada yang bisa memerintah Author ini! Hohoho!
Kazuto: *menoleh pada Author* Sherry-san, apa kau mau syuting berhenti disini dan kami tidak akan ikut syuting lagi? *smirk*
Author: TIDAAAAAAK! Jangan! Nanti para readers bakal gebukin Author malang iniiiiii! *lebay*
Kazuto&Asuna: Kalau gitu, diem aja lu! *deathglare*
Author: Un… *ciut*
Asuna dan Kazuto kembali melanjutkan pelukan mereka. Peluk… melepas rindu… mengucapkan kata-kata cinta… bercium—
"MAMAAAA!" jerit Yui saat keduanya nyaris berciuman. Yui telah menggunakan tubuh aslinya dan menyerang—eh, maaf—memeluk tubuh mamanya tercinta.
"Yui-chan…" Asuna mengeratkan pelukannya pada anak semata wayangnya. Maaf, anak yang tidak memiliki hubungan darah dan mungkin bukan anak tunggalnya. Asuna kan pasti akan 'membuat' anak kedepannya. Bersama Kazuto tentunya. Sekarang Author akan bertanya, siapa yang tidak ingin membuat keturunan? Tidak ada kan? Pasti mau semua. Kalau anda tidak mau, itu tandanya anda adalah seorang gay atau lesbi. Kalo bukan YAOI, yaaa… YURI. Maaf, bukannya mau menyinggung Anda.
"Mama… Yui merindukan Mama…" kata Yui berulang-ulang.
"Mama juga, Yui-chan…"
Acara temu itu—antara ibu dan anak—membuat semua orang yang ada disitu terharu. Oh… siapa yang narus bawang merah disini? Author jadi nangis!
Kazuto ikut larut dalam suasana itu dan akhirnya memeluk dua orang yang sangat ia cintai itu. Anaknya dan kekasihnya—atau harus dikatakan calon istrinya? Apapun sebutan bagi sang pengguna rapier itu, Kazuto tidak peduli. Asuna adalah kekasihnya. Miliknya. Tidak ada kata lain yang bisa mengubah itu. Dengan kata lain… pernyataan itu adalah MUTLAK. Oh, kita tidak akan belajar tentang nilai mutlak dan nilai absolut. Kita akan mempelajari tentang cinta *ciee*.
Tiba-tiba saja terdengar suara burung han—salah! Terdengar suara langkah kaki. Menuju ke arah mereka. Ternyata yang datang adalah Sakura, Sasuke (yang tau-tau aja ditarik sama Sakura), Tsunade, dan Shizune. Asuna melihat ke arah orang-orang yang baru saja datang dan matanya tertuju pada gadis bersurai pink. Seketika itu juga raut wajahnya terlihat sangat senang.
Asuna melepaskan pelukannya pada keluarganya—ralat, keluarganya di dunia virtual—dan langsung berhambur ke Sakura. "Sakura-chan!"
Tentu saja Sakura langsung cengo di pelukan gadis chestnut itu. Ia kan tidak mengenalnya. Tapi Asuna sudah mengenalnya di masa depan. Oke? Di. Masa. Depan.
Asuna melepaskan pelukannya dan menatap emerald Sakura. "Sudah lama kita tidak bertemu. Dua bulan kan? Hm… bagaimana hubunganmu dengan Sa—" Asuna melihat Sasuke di samping Sakura. "Oh, halo, Sasuke-kun. Lama tidak bertemu. Ah… sebenarnya tadi nyaris bertemu sih…"
Sasuke masih dengan wajah stoic andalan keluarganya. "Hn."
"Seperti biasa wajah dingin itu. Benar-benar mirip Itachi-kun. Fufu…"
Topeng stoic Sasuke langsung lepas. Apa? Gadis chestnut itu tau tentang Itachi?
"Kau… mengenal Itachi?"
"Tentu saja. Dia kan kakakmu sendiri. Astaga, Sasuke-kun, apakah kau ini sedang amnesia?" sindir Asuna bercanda.
Baru saja Sasuke akan membuka mulutnya, Kazuto sudah menyela. "Asuna… kita di masa lalu. Kita bukan di masa kita. Oke?"
Asuna tertawa kecil menngingat hal itu. "Hehe… maaf, aku lupa. Kebiasaan kalau bertemu dengan mereka sih…"
Kazuto menghela napas berat. Kazuto tau kalau Asuna sedang membohonginya. Ia tau kalau Asuna sedang bermasalah dengan ibunya. Karena setiap Asuna punya masalah dengan keluarganya, ia pasti akan bertingkah seperti ini. Apalagi kalau sedang bertemu dengan Kazuto.
"Ehem!" sebuah deheman mengintrupsi pasangan muda itu. "Bisakah kau memberitahuku sesuatu, Kirigaya-san? Apa yang sedang terjadi? Dan… siapa gadis ini?" tanya Tsunade.
"Baik. Sepertinya… Hinata-san terlempar ke masa depan. Dan sebagai gantinya… dia yang datang ke masa ini. Ah, saya lupa memperkenalkan. Gadis ini bernama Yuuki Asuna. Asuna dan saya sama-sama berasal dari masa yang sama."
"Yuuki-san…" panggil Sakura ramah karena Asuna sudah mengenalnya di masa depan. Sakura merasa kalau mereka bisa berteman baik di masa ini juga.
"Panggil aku Asuna saja, Sakura-chan. Kita sudah sangat dekat. Yah… di masa depan sih. Tapi aku merasa kalau kita pasti bisa berteman baik di masa ini juga," ujar Asuna riang. Hm… beda dikit sama dirinya di masa depan. Sisi yang tidak akan pernah ia perlihatkan pada keluarganya.
"Mm… Asuna…-san?"
"Ada apa?"
"Kau kekasih Kirigaya-san bukan?"
Kedip…
Kedip…
Kedip…
Ke—
BLUSH
Wajah cantik Asuna memerah sempurna.
"E-eto… mm… ano.. Aku…"
"Dia bukan kekasihku," jawab Kazuto ringan. "Tapi istriku."
Dengan pernyataan itu, Kazuto mendapatkan sebuah pukulan keras dari Asuna, sang keka—maksud Author, sang istri. Wajah Asuna makin memerah. Memerah karena malu, marah, dan… senang?
Yang lain hanya cengo di tempat. Memandang pertengkaran suami-istri itu dengan raut yang… penasaran.
"Sejak kapan kita jadi suami-istri? Ki-kita bahkan belum resmi me-menikah!" bantah Asuna dengan rona di wajahnya.
Kazuto sangat ingin menggoda Asuna jadi ia mendekati sang pujaan hati dan berkata dengan nada menggoda. "Hoo… jadi kau sangat berharap untuk menikah denganku? Maafkan aku, Asuna… kita masih belum bisa. Tapi dua tahun lagi, aku akan menikahimu."
BLUSH
"Berapa banyak anak yang kau inginkan, Asuna? Aku akan mengabulkannya."
Asuna yang tingkat rasa malunya sudah mencapai batas maksimal, langsung melayangkan bogem mentah ke wajah tampan calon suaminya itu. Tenaga yang diberikan Asuna tidak main-main. Anggap saja seperti tenaga monster Sakura *di-shannaro sama Sakura*. Kazuto bahkan 'terbang' dan menubruk sebuah baru besar.
"Ittai yo, Asuna!" keluh Kazuto setelah berhasil selamat dari pukulan maut calon istrinya. "Ini kedua kalinya kau memukulku. Tepat di wajahku. Dan menggunakan tubuh ini."
Ada yang tidak mengerti minna-san? Author kasih bocoran. Dulu saat di SAO, Kazuto juga pernah dipukul Asuna tepat di wajah. Alasannya? Gampang. Kazuto tidak sengaja memegang dada Asuna. Tidak sengaja dan tidak sadar sampai ia dipukul. Masih kurang jelas? Silahkan tonton SAO episode 8. Disana minna-san akan menemukan penjelasannya. Oh, Author lupa memberitahu sesuaatu. Asuna sekarang sedang memakai tubuh virtual SAO-nya. Tentu saja bagi keduanya jadi terasa dejavu.
"KIRITO-KUN NO BAKAAA!" jerit Asuna layaknya seorang gadis yang baru diputus oleh pacar tercinta.
"Asunaa… aku kan hanya menggodamu. Kenapa kau sampai semarah ini?"
"Humph!" Asuna memalingkan wajahnya. "Aku tidak akan meminta maaf atas hal ini."
"Hai, desu! Papa yang salah karena terus-terusan menggoda Mama!" ujar Yui membenarkan ucapan Asuna.
Kazuto meminta maaf pada Asuna dan dibalas dengan dengusan Asuna. Asuna sudah memaafkannya. Asuna menoleh pada kerumunan massa(?) maksud Author, kerumunan shinobi yang tadi menonton drama siang LIVE dari masa depan. Uuh… Maksud Author tontonan gratis dari dua—bukan, tiga orang yang berasal dari masa depan.
"Senju-sensei," panggil Asuna pada sang Godaime Hokage. Yang dipanggil malah terkejut.
"Kau mengenalku di masa depan?"
"Tentu. Sensei adalah dosen saya di masa depan," jawab Asuna santai.
"Dosen? Apa itu?"
Asuna menepuk keningnya. Ia lupa kalau ini di masa lalu. Mungkin istilah dosen di masa ini belum ada.
"Dosen itu… semacam guru. Uuh… guru di kuliahan."
"Kuliahan?"
Asuna kembali menepuk keningnya dan merutuki kebodohannya.
"Uuh… bagaimana menjelaskannya ya? Dengan kata lain, kuliah itu tingkatan belajar paling tinggi. Uh…"
"Bisa dibilang setingkat dengan jounin," tambah Kazuto.
"Sou sou. Setingkat dengan—APA!?" Asuna baru saja menyadari tambahan Kazuto yang semakin tidak dimengerti Asuna.
"Oh begitu… tapi kenapa jounin harus memiliki guru?" tanya—err, lebih tepatnya interogasi Tsunade.
"Berbeda dengan masa ini, masa depan setiap tingkatannya memiliki guru. Dan gurunya pun bukan hanya satu orang, tapi per mata pelajaran. Kalau di masa ini hanya sampai tingkat chunnin bukan? Dan itupun tiga orang dengan satu guru. Di masa depan, banyak orang—mungkin sekitar tiga puluh anak dengan banyak guru. Sistem pendidikan di masa depan itu pertama sekolah dasar. Murid yang mengikuti pendidikan dasar itu berumur 6-12 tahun. Lalu…"
Aah, kita tinggalkan kuliah singkat dari Kazuto-sensei mengenai pendidikan. Sebenarnya Author yang malas menuliskan kuliah atau pidato Kazuto.
Kazuto: Salah sendiri bikin script yang ada kuliahannya! Gara-gara Author, mulutku jadi berbusa untuk memberikan kuliahan (-_-")
Author: Ya maaf toh yaa… kan Author ini membuatnya dengan spontanitas.
Asuna: Kazuto-kuuun… scene berikutnya akan dimulai. Ayo siap-siaaap~
Dan mereka berdua melenggang pergi meninggalkan Author yang masih berkutat pada lappie miliknya. Berkutat untuk melanjutkan cerita sampai Author bisa bilang TBC.
Hm! Anda penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya? Mari kita lihat di TKP!
"Hm… masa depan yang menarik," kata Tsunade terkesan memuji. Hah? Memuji apaan?
Kazuto sedang ngos-ngosan dengan tidak elitnya. Ia menoleh mendapati sang calon istri sedang berbincang ria dengan Sakura. Mata onyx miliknya berpaling dari pemandangan sang calon istri dan sahabatnya ke calon pacar sahabat calon istrinya. Loh? Membingungkan ya? Dengan kata lain, Kazuto sedang memandang Sasuke yang sedang menyeringai iblis.
Onyx bertemu onyx.
Hitam bertemu hitam.
Kusanagi bertemu dual blades.
Ayam bertemu dengan—mmmmfffttt!
Oh, Author malang. Sebelum sempat mengucapkan narasi yang terakhir, mulutnya sudah dibekap dan disumpelin sama donatnya (Lho?).
"Sifatmu berubah sejak kekasih tercintamu datang, heh, Kirigaya Kazuto?" sindir Sasuke dengan seringaiannya.
Asuna langsung menoleh dan merasakan bahwa ada percikan listrik di antara kedua laki-laki tampan itu. Percikan listrik itu bukan chidori, guys! Itu percikan listrik diantara kedua pasang iris onyx!
"Kazuto-kun…" panggil Asuna merasakan aura berbahaya kekasihnya. Eh? Sebenarnya Asuna dan Kazuto itu kekasih, tunangan, atau suami-istri? Terserah Author mau pake yang mana aja saat menulis di bagian-bagian tertentu.
Kazuto tidak menggubris panggilan kekasih tercintanya itu dan menatap sepasang onyx tajam.
"Kita duel, Uchiha!" seru Kazuto sembari menarik kedua bilah pedangnya.
"Hn. Ide yang menarik. Aku tidak akan mengalah seperti sebelumnya, Kirigaya," sahut Sasuke ditambah dengan gumaman favoritnya.
Tanpa banyak omong, mereka berdua sudah melesat dan menyerang satu sama lain. Tsunade dan shinobi yang lainnya hanya diam menikmati pertarungan di depan mereka. Dan oh! Jangan tinggalkan bahwa kerumunan massa itu semakin banyak dan mereka bahkan sampai membuat taruhan! Astaga! Mereka benar-benar gilaaa!
Sedangkan Asuna dan Sakura? Mereka hanya meneriaki kekasih mereka dan menyuruh mereka berhenti. Eh? Author tadi bilang Asuna dan Sakura? Kekasih? Apakah maksudnya Sakura dan Sasuke sudah berpacaran?
Masalah itu akan dibahas di chapter berikut berikutnya.
Kita kembali ke pertarungan panas kedua pemuda tampan itu.
Kazuto dan Sasuke menabrakkan pedang mereka satu sama lain. Sasuke mengalirkan listrik ke pedangnya membuat Kazuto harus mundur.
"Kau serius untuk menggunakan seluruh kemampuanmu, hm, Uchiha?"
"Hn."
"Baiklah. Aku tidak akan bermain-main lagi."
Kazuto mulai merapal mantra. Tubuh Kazuto mulai diselimuti oleh cahaya berwarna hijau. Asuna menyadari itu dan ia tau mantra apa yang digunakan Kazuto.
"Kazuto-kun benar-benar serius untuk melawannya," gumam Asuna lirih.
Sakura mendengar lirihan Asuna. Ia menoleh pada sahabat barunya itu. "Itu tadi mantra apa?"
"Itu… itu mantra pertahanan mutlak," jawab Asuna pelan. "Mantra yang akan memberikan pertahanan tanpa harus memblok serangan lawan. Dengan kata lain, seluruh kemampuannya akan digunakan dalam penyerangan, tanpa pertahanan."
"Eh? Itu kan sangat berbahaya! Sasuke-kun itu adalah orang yang tidak pernah setengah-setengah," ucap Sakura.
"Sakura-chan… aku malah lebih mengkhawatirkan Sasuke-kun."
"Memangnya kenapa?"
"kazuto-kun bukan orang yang setengah-setengah juga. Ia pasti akan menyelesaikan apa yang telah ia mulai." Sakura masih menunjukan raut tidak mengerti. "Kazuto-kun memiliki pertahanan mutlak. Dan dia akan menggunakan semua tenaganya untuk menyerang. Dengan kata lain, Sasuke-kun MUSTAHIL untuk melukainya."
Dan kedua gadis cantik itu mulai mengkhawatirkan kekasih mereka.
Kazuto yang telah menyelesaikan mantranya langsung melesat bak peluru yang baru saja dilepaskan dari pistol.
Sasuke langsung membuat segel. "Katon: Gōkakyū no Jutsu!"
Seketika itu juga bola api raksasa muncul dari hembusan napas Sasuke. Mengarah ke Kazuto. Kazuto tidak berpindah sama sekali dan dengan raut wajahnya yang terlihat santai namun tegas, ia membiarkan bola api itu mengenainya dan terus berjalan. Tubuh Kazuto terbalut dengan api Sasuke. Tapi Kazuto masih tidak bergeming.
"KIRIGAYA-SAN!" pekik Sakura saat melihat Kazuto terbungkus api. Sasuke yang mendengarnya jadi merasa gerah dan panas. Gadis itu malah mengkhawatirkan pemuda lain. Sasuke mendecih pelan.
"Daijoubu, Sakura-chan, Kazuto-kun akan baik-baik saja," ujar Asuna menenangkan sahabat pinknya. kumpulan api itu mulai tebelah dan memerlihatkan sosok pemuda berambut hitam dengan jubah hitamnya dan dua pedang di kedua tangannya. "Benar kan?"
Semua yang menonton langsung kaget. Api raksasa itu tidak membuat Kazuto luka sedikitpun. Sasuke menatap Kazuto tajam. Ia memakai sharingannya. Tapi tetap saja ia tidak bisa melihat chakra maupun yang lainnya. Cih! Lawan yang tidak bisa ditebak, batin Sasuke.
Kazuto tersenyum mengejek. "Apakah hanya seperti itu, hm?"
Sasuke menatap Kazuto dengan sangat marah. Sharingannya tidak berguna untuk melawan Kazuto. Benar-benar akan merepotkan. Sasuke membentuk segel dan berseru, "Katon: Gōryūka no jutsu!"
Api naga raksasa mulai menuju ke Kazuto. Kazuto tersenyum. Ia dengan cepat mengganti tubuhnya dengan tubuh virtual ALO dan langsung menggunakan sayapnya untuk terbang. Sasuke mengeluarkan api naga itu lagi ke arah Kazuto. Tentu saja Kazuto menghindarinya dengan sangat mudah.
"Apakah kau lupa…" Kazuto langsung terbang ke belakang Sasuke. "Kalau lawanmu ini memiliki banyak tubuh?"
Sasuke menarik kusanaginya dan menebaskannya ke perut Kazuto. Kazuto terbang—menghindar—mundur.
"Apa kau lupa kalau lawanmu ini memiliki sayap, hm, Uchiha Sasuke?"
Sasuke benar-benar sudah emosi. Siapa sih yang nggak emosi kalau terus menerus dihina? Sasuke benar-benar ingin membunuhnya. Dia langsung memakai Eternal Mangekyō Sharingan miliknya dan mata kirinya mengeluarkan darah.
"SASUKE-KUN!" pekik Sakura. Ia tau apa yang akan dilakukan Sasuke pada Kazuto. Sasuke akan menggunakan Amaterasu.
"Ada apa, Sakura-chan?" tanya Asuna.
"Sasuke-kun… dia benar-benar akan membunuh Kirigaya-san… dia akan menggunakan Amaterasu," jawab Sakura.
"Amaterasu?" Asuna menangkapnya sebagai Amaterasu sang dewa.
Melihat wajah khawatir Sakura, Asuna jadi merasakan bahwa yang akan terjadi bukan sesuatu yang baik. "Kazuto-kun… jangan mati…"
Ikatan batin (?) antara Asuna dan Kazuto sangat kuat. Kazuto tersenyum saat mendengar permintaan Asuna. Cinta memang tidak bisa di logika, hm.
Api hitam muncul dan langsung membungkus tubuh Kazuto. Kazuto masih tersenyum dan tidak menunjukan kalau dia terbakar. Saat apinya mulain menghilang—karena Sasuke menghentikan serangannya dan menutup matanya—semua orang langsung terkejut. Sosok pemuda spike hitam terlihat dengan tanpa luka SEDIKITPUN!
"Bagaimana bisa…?" gumam Sasuke masih tetap menutup mata kirinya.
Kazuto tersenyum. "Apakah itu serangan terbaikmu?"
"Bagaimana mungkin… Amaterasu tidak berpengaruh padanya?" tanya shinobi-shinobi lain penasaran.
Kazuto mendengarnya dan ia berkata, "Serangan seperti apapun tidak akan berpengaruh padaku. Aku memiliki pertahanan mutlak. Tidak ada serangan yang bisa melukaiku selama aku memiliki pertahanan ini."
Was wes wos. Para shinobi itu mulai bergosip—eh, maksudnya mulai membicarakan itu. Bukan bergosip ria!
"Susanoo?" gumam Sasuke. Mustahil! Dia bukanlah anggota clan Uchiha! Tidak mungkin dia bisa memakai sharingan, apalagi Susanoo!
Saat Sasuke sedang perang batin, Kazuto melesat dan sudah berada di belakang Sasuke. Saat ia melesat tadi, dia sudah mengganti tubuhnya menjadi tubuh GGO. Dia mengeluarkan Light Saber dan FN-Five Sevennya dan mengarahkan keduanya ke tubuh Sasuke.
Kazuto tersenyum dingin. "Goodbye, Sasuke Uchiha."
Sasuke baru menyadarinya dan tidak sempat menghindar karena saat itu juga Light Saber sudah terayun dan pelatuk FN-Five Seven sudah ditarik.
DOR!
Peluru melesat dan menggores pipi Sasuke. Sedangkan Light Sabernya tidak menebas apapun karena Asuna menghadang dengan rappiernya. Darah mengalir dari pipi kiri Sasuke yang tergores.
"Asuna…"
"Sudah cukup, Kazuto-kun, kau benar-benar akan membunuhnya kalau kau melanjutkan ini," ucap Asuna.
Kazuto tersenyum dan ia menarik proton sword miliknya kembali. "Kau benar. Cukup tiga orang yang mati di tangan Kirito."
Sakura langsung meluncur, eh, maksudnya langsung bergegas dan menyembuhkan luka di pipi Sasuke. Walaupun hanya tergores, tapi itu tergoresnya bukan tergores biasa. Darah yang keluar pun banyak.
Sasuke tidak bergeming saat Sakura mulai menyembuhkan lukanya. Setelah selesai, ia menatap Kazuto tajam.
"Kenapa kau tidak membunuhku?"
"Kenapa? Bukankah kau sudah lihat kalau Asuna menghadangku," jawab Kazuto santai.
"Tapi kau tidak berniat untuk membunuhku! Dengan pertahanan mutlak seperti itu, seharusnya kau dengan mudah membunuhku!"
Kazuto terdiam.
"Kau tidak berniat melawanku, heh?"
"Apa kau tau perasaan membunuh seseorang?"
Sasuke terdiam. Ia memang pernah membunuh. Membunuh banyak orang. Bahkan kakaknya sendiri juga ia bunuh.
"Kau pasti tau. Di masa depan, pembunuhan tidak boleh dilakukan. Tapi, dengan tangan ini, dalam dua tahun aku membunuh tiga orang."
Raut wajah Kazuto mulai berubah. Menjadi sangat sedih dan menyesal.
"Mama! Kondisi Papa… tidak stabil!" seru Yui.
"Kazuto-kun!" panggil Asuna. Asuna mendekati Kazuto yang masih terdiam.
Kazuto mendongak dan menatap raut khawatir Asuna. "A… suna…" Kazuto terjatuh dalam dekapan Asuna. Pingsan.
"Kazuto-kun! KAZUTO-KUN!"
Apa yang terjadi pada Kazuto? Akan dikupas di chapter 7.
TSUZUKU~T.B.C
.
.
.
Huweee…. Maafkan Sherry yang apdet telaaat!
Sebenarnya udah selesai 3 hari yang lalu, tapi wi-fi di rumah Sherry disita. Lappie Sherry kebanting. Terus Sherry dari dua minggu yang lalu latian cheers terus huhuuu…
#ngumpet di kolong kasur.
Disini Sherry akan memberikan BEHIND THE SCENE a la Sherry. Itu hadiah untuk para readers tercinta dan sebenarnya untuk permintaan maaf un.
BEHIND THE SCENE….
Author: CUUUUT!
All stars: Akhirnyaaaa…
Author: Terimakasih semuaa. Otsuuuu!
Sasuke: Gila! Wajah tampanku tergoreees! *ngadep cermin, nyentuh bayangan di cermin* Oh… wajahku yang tampan… malang sekalli nasibmu…
All: *sweatdrop*
Author: *nepuk-nepuk pundak Sas* Sudahlah, Sas, Saku kan sudah mengobati lukamu.
Sasuke: *deathglare* APA KAU BILAANG?! Memang udah diobati, tapi bekasnyaaaaa! Oh… malang sekali wajahku yang rupawan ini…
All: *sweatdrop akut*
Sakura: Sudahlah, Sas… wajah tampanmu tergores satu atau dua, aku tetap mencintaimu~
Sasuke: Beneran?
Sakura: Iya, Sas…
Author: Aduh… di tempat syuting ada yang lovey dovey. Bikin envy beraat! *mengalihkan pandangan* OMAIGAAT! Disana juga ada yang lovey doveeey!
Di tempat asuna dan kazuto.
Kazuto: Asuna, syuting sudah selesai, kenapa kamu masih meluk aku sih?
Asuna: Habiiiis, Kazuto-kun imut banget kalau memakai tubuh ini! Sangat cantiiik!
Kazuto: *sweatdrop* Asuna… jangan-jangan kamu… lesbi?
Asuna: Kazuto-kun, aku mencintai wujudmu yang ini! Kyaa… aku malu!
Kazuto: *mulut berbusa* Pacarku… lesbi… *pingsan beneran*
Author: TIM MEDIIIS!
Tim medis: SIAP BOS! *narik Kazuto mundur dari Asuna*
Naruto: Itu… beneeran Asuna? (Naruto dkk kan sedang nunggu giliran syuting, otomatis mereka ada)
Rika: *nutup muka* Kami-sama…. Asuna udan menunjukan sifat aslinya… apakah ini akan kiamat?
Hinata: *menatap Naruto* Naruto-kun nggak apa lihat Sakura-san sama Sasuke-kun?
Naruto: Nggak apa, Hinata-chan, kan aku mencintaimu~ *meluk Hinata*
Hinata: Aku juga mencintaimu, Naruto-kun…
Author: Sejak kapan syuting fil—syuting fanfict ini jadi ajang mencari jodoh? Kenapa pairing utama fanfict ini juga pairing di kenyataan? KENAPAAA?! *meratapi nasib*
.
Uh… biarkan Author meratapi nasib dunia.
Nah… mari kita lanjut ke acara berikutnyaa~
.
BALASAN REVIEW~
: iya hehe
semoga wi-fi Sherry nggak disita lagi. amin.
Oh, makasih yaaaw :3
Tsukiyomi Aori Hotori: Wah, maaf kalau Sherry salah nama, Hotori-san. Rencananya Sherry mau bikin Namikaze lebih kocak lagi, tapi Sherry kan lebih menjurus ke Romance (TT^TT)/
: makasih :D
ini udah chapter 5~~~
Gyuururu-kun: Konnichiwa~
Nggak apa kok hehe…
Alert Sherry juga nggak berfungsi. Jadi kadang kadang Sherry yang nyari ceritanya yang sudah Sherry favo dan follow.
Sherry juga seorang NHL~~
Kyuubi manusia~ Sherry suka banget~ bayangin sendiri seperti apa dia~
Hm hm… ini Sherry sudah membuat pertarungan. Walau mungkin belum terasa pertarungannya. Karena Sherry kan lebih merajai Romance, fuuh ( )~~
Chalice07: Naru ada dua~ Sas juga ada dua~ sayangnya Sas nggak bisa ketemu dengan dirinya di masa depan. Tapi Hina ada dua~~ HOREE! *loh?*
Disini Sherry sepertinya tidak menampilkan Asuna dan Kazuto masa lalu. Kenapa? Hm… chapter 7 Sherry akan membahasnya.
*ngeluarin baliho* "CHAPTER 5 UPDATEEED!"
Nggak apa kok. malah Sherry sendiri heboh wakakakaka.
Silahkan favo~
AN Narra: ARIGATOOO :D
Benar sekali~~ Yang datang Hinata. Sherry membocorkannya karena di chap ini sudah jelas siapa yang menghilang dari masa lalu~
LANJUTKAAN!
Kosuke Uchiha: Banyak kok crossovernya Naru-SAO
Hm… terimakasih *bow*
Ini baru update~
.
.
Acara Syuting, Behind the scene, dan Balasan Review sudah selesai. Sherry undur diri dari acara ini.
Sekali lagi, maafkan Sherry kalau ada miss-TYPO(s) karena ketidakjelian Sherry.
Oh, Sherry baru ingat. Tanggal ini, 26 Desember 2012, Sherry mempersembahkan fanfict ini untuk sahabat SD Sherry tercinta, Adhita. Karena dia adalah penggemar berat Naruto~ Kemungkinan sahabat Sherry tidak membaca ini, tapi tetap mempersembahkannya.
JAA~~
REVIEW PLEEAAAASEEEEEEEE~~~~~
