ACCIDENTELY EXCHANGED

Author: Sherry Kurobara

Sherry own neither Naruto nor Sword Art Online.

Rated: T

Genre: Fantasy, Romance, Humor, Adventure, Sci-Fi

Pairing: NaruHina, KiriSuna, SasuSaku, etc

.

.

Chapter 6: I Love You, Hinata

"Aku dimana?"

Gadis itu mengedarkan pandangannya dan menemukan sosok gadis berambut indigo dan bermata amethyst yang sedang menatapnya ketakutan. Naru yang melihat gadis yang baru saja datang itu membelalak tak percaya.

"Hi-Hinata-chan?"

Kedua gadis itu menoleh ke sumber suara. Gadis yang baru saja datang itu langsung memanggil, "Na-Naruto-kun…"

Kedua insane itu saling menatap. Sampai akhirnya Hinata—masa lalu—membuka suara. "Kenapa Naruto-kun terlihat lebih muda?"

Mata Kushina berbinar-binar mengetahui kenyataan yang sangat menakjubkan ini. "Kau pasti Hinata dari dunia shinobi."

Hinata menoleh dan menatap wanita berambut merah itu. Matanya juga menangkap sosok pria berambut blonde yang sangat mirip Naruto. Wajah sang heiress Hyuuga itu sangat bingung.

"Kalau kau mencari anak bodoh yang kau cintai, dia ada di sana," ucap Kushina sambil menunjuk kasur.

"KAA-SAN! Tega sekali mengatakan itu padaku!" gerutu Naru. Hei, Naru, yang Kushina maksud adalah Naruto. Yah… meski kalian berdua sama-sama Naruto.

Hinata tidak mempedulikan Naru dan menoleh ke arah yang dimaksud Kushina. Dan betapa terkejutnya melihat sosok blonde yang sangat dicintainya tergeletak di atas kasur king size itu.

"NARUTO-KUN!" pekik Hinata.

Maaf di cut dulu. Author akan mempergampang penamaan disini. Seperti Naruto dan Naru, Hinata—keduanya—akan Author pergampang penamaan. Hinata yang dari masa lalu akan Author sebut Hinata. Sedangkan Hinata masa depan akan Author sebut Hina. Cukup mudah bukan? Dan semua chara yang di masa depan atau masa lalu ada dua, Author akan membuat seperti itu. Jangan kaget, pemirsa sekalian.

"Apa yang terjadi dengan Naruto-kun?" Hinata langsung menggunakan byakugannya.

Hina yang melihat byakugan Hinata langsung bergumam… "Itu… mata warisan clan Hyuuga di masa lalu…"

Ahm. Kenapa Hina bilang mata warisan di masa lalu. Gampang. Di masa depan—seperti yang sudah Author dan semua chara bilang—tidak ada kemampuan. Tidak ada chakra. Yang ada hanya manusia biasa. Oke? Sip. Kita lanjuut!

"Kenapa…" Hinata menatap orang-orang tersebut dengan panic. "Kenapa… chakra Naruto-kun… tidak seperti biasanya?"

"Seperti apa, Hinata?" tanya Minato. Begini-begini, Minato kan son complex. Maksudnya, Minato kan sayang banget sama anak tunggalnya di masa lalu. Ya iyalah. Kan setelah Naruto lahir, dia meninggal. Poor Minato and Kushina.

"Biasanya Naruto-kun chakranya sangat besar dan… berjalan dengan sangat cepat. Ini… chakranya… terlalu sedikit dan lemah. Sebenarnya… a-apa yang sedang terjadi?" tanya Hinata takut-takut.

"Sepertinya penggunaan chakra di masa depan memang tidak baik," ucap Kushina. "Akan lebih baik kalau Naruto beristirahat terlebih dahulu. Mungkin besok dia sudah seperti semula. Berisik. Sama seperti Naruto masa depan."

"KAA-SAAN!" Naru tidak terima dihina oleh ibunya sendiri. Oh… ayolah… siapa yang mau dihina oleh keluargamu? Tidak ada.

"Eh? Kaa-san?" tanya Hinata bingung dengan ucapan Naru. Otak Hinata yang cepat tanggap itu tau kalau Naruto yang ada dihadapannya ini bukan Naruto. Karena ia di masa depan, ia menganggap kalau Naru adalah reinkarnasi Naruto. Ah, Hinata… itu memang bukan anggapanmu kok. banyak yang menganggap begitu.

Kushina nyengir. Ia tahu kalau Hinata tidak tau kalau dia adalah ibunya pemuda yang dia cintai. "Salam kenal, Hinata. Namaku Uzu—bukan, Namikaze Kushina. Aku ibunya Naruto, ttebane!"

"Ibunya Naruto-kun?"

"Yap! Di masa lalu dan di masa depan, ttebane! Ah, untuk catatan. Sebelum aku menikah, margaku Uzumaki."

Hinata melongo. Jadi… Naruto bukannya menggunakan marga ayahnya tapi marga ibunya?

Kushina menarik suaminya dan menyuruhnya untuk memperkenalkan diri pada calon menantu mereka. Ya. Menantu mereka di masa lalu. Kalau reinkarnasinya sih… memang bakal jadi menantu mereka.

"Namaku Namikaze Minato. Ayah Naruto yang masa lalu, Naruto yang masa depan, dan Kyuubi. Kalau perlu tambahan, aku mantan Yondaime Hokage."

Hinata langsung bersikap hormat dan menundukan kepalanya. Ia benar-benar terkejut dengan kenyataan yang dihadapinya. Naruto adalah putra dari Yondaime Hokage? Oh, benar-benar mengejutkan.

"Tidak usah bersikap seperti itu, Hinata. Seperti yang aku bilang, aku hanya reinkarnasi diriku di masa lalu. Itu berarti aku bukan Yondaime Hokage. Karena itulah aku mengatakan aku mantan Yondaime."

"Tapi Anda adalah Yondaime-sama. Kenyataan itu tidak bisa diubah."

"Hinata… Kau sudah aku anggap sebagai bagian dari keluarga kami karena… aku tau kalau kalian berdua akan menikah nantinya."

Satu detik… Hina wajahnya merona.

Dua detik… Naru protes dengan wajah meraahnya.

Tiga detik… Kyuubi menggoda adiknya dan tunangan adiknya.

Empat detik… Kushina tersenyum dan tertawa melihat keluarganya.

Lima de—

"APAAAA!?" jerit Hinata dengan wajah memerah seperti kepiting rebus. Hinata menjerit di detikan yang ke lima, hm.

Kushina tersenyum. Benar-benar deh, reaksi yang sama. Reaksi Naruto dan Hinata benar-benar sama. Sama-sama terkejut dan sama-sama merona.

"Kalian, perkenalkan diri kalian sendiri," perintah Kushina pada ketiga anak muda.

Kyuubi memulai duluan. "Namaku Namikaze Kyuubi. Aku kakaknya Naruto-baka yang itu," ucap Kyuubi sembari menunjuk Naru.

Naru tidak terima. Ya iyalah. "KYUU-NIII!" jerit Naru. Oh.. menderitanya dirimu, Naru… poor you… "Namaku Namikaze Naruto. Seperti yang kau lihat, aku reinkarnasi diriku yang sedang tidur itu. Salam kenal, ttebayo!"

'ttebayo? Benar-benar khas Naruto-kun,' batin Hinata.

"Mm… Na-namaku Hyuuga Hinata. Seperti yang kau lihat, aku… reinkarnasimu, mungkin. Aku… tu-tunangan Na-Naruto-kun… kyaa!" Hina langsung menutupi wajahnya yang merona hebat.

Yang lain hanya memandangi Hina yang sedang menutupi wajahnya dengan pandangan yang orang lainpun pasti tau. Mereka membatin dalam hati.

'KAWAIII'

Itulah yang dipikirkan keluarga Namikaze yang sedang berada di ruangan itu.

"Tu-tunangan?"

"Ah, tunangan itu… seperti perjanjian untuk menikahkan kedua orang di masa depannya. Jadi dengan kata lain, Naru dan Hina akan menikah nantinya," jelas Kushina dengan senyuman dan mata yang berbinar-binar. Ia menoleh pada Minato, "bagaimana kalau Naru dan Hina menikah lima atau enam tahun lagi?"

"Lima atau enam tahun lagi? hm… sepertinya itu adalah ide yang sangat bagus. Aku yakin Hiashi akan setuju," jawab Minato dan membuat mata istrinya bling bling gitu.

"Aaah… aku benar-benar tidak sabar mempunyai cucu…" ucap Kushina yang ditanggapi dengan anggukan Minato.

"KAA-SAAAN! TOU-SAAAN!" jerit Naru yang sudah benar-benar merah padam. Hina malah sudah hampir pingsan kalau dia tidak menahan rasa ingin pingsannya.

"Kalau begitu, kenapa kalian tidak menikahkan mereka sekarang saja?" tanya Kyuubi dengan ide gilanya.

Hening untuk beberapa saat. Lalu raut senang terlukiskan kembali di wajah Kushina. "Kau benar, Kyuu! Seharusnya sekarang mereka menikah!"

"Kushina… kau serius menyetujui ide asal-asalanku?" tanya Kyuubi dengan tatapan horror. Untuuung saja dia belum mendapatkan pacar—dulunya pernah, tapi udah putus. Kalau dia dapet pacar lagi, yakin deh, Kushina bakal nyuruh mereka langsung menikah. Hei! Kyuubi kan baru saja masuk ke kepala dua. Maksudnya, dia baru saja berumur 20 tahun beberapa bulan. Gila aja kalau dia tau-tau nikah cuma karena orang tuanya ngebet pengen punya cucu.

"Tentu aku serius, ttebane!"

"KAA-SAAAN!" jerit Naru saat dia melihat tunangannya tercinta pingsan dengan wajah memerah. "Kan ada peraturan tentang pernikahan. Minimal 20 tahun!"

"Cih! Kalau begitu, tinggal ubah saja peraturannya bukan," kata Kushina dengan seringai liciknya.

"Kushina… kau mengerikan…" gumam Kyuubi memandang horror ibunya.

"PANGGIL AKU KAA-SAN, ANAK BODOOOH!" seru Kushina dan dibarengi oleh suara pukulan di kepala Kyuubi.

"Ittai!"

"LEBIH BAIK KAU CEPAT-CEPAT CARI PACAR DAN SEGERA MENIKAH, NAMIKAZE KYUUBI!"

Dan… kita tinggalkan pertengkaran ibu-anak yang sama sama memiliki sifat keras kepala.

Naru menggendong Hina untuk keluar dari ruangan yang sedang berisik karena kakak dan ibunya yang adu mulut. Dia sebagai tunangan yang baik, harus menjaga Hina . Naru mau membawa hina ke kamarnya karena selama liburan musim semi ini, Hina dititipkan ke keluarga Namikaze karena Hina sendiri yang mau. Hina kan ingin selalu di dekat Naru. Aah… masa muda yang menyenangkan. (Lho? Author ngomong kayak udah nggak muda lagi. maaf, Author sebenarnya malah lebih muda dari kedua pair masa depan itu.)

Hinata yang melihat betapa perhatiannya Naru pada Hina jadi merona. Bagaimanapun mereka berdua adalah dirinya dan Naruto. Jadi… jangan salahkan siapapun kalau Hinata sekarang merona dan membayangkan kalau itu adalah dirinya dan Naruto. Oh, sebenarnya mereka juga mereka. (Aduuh… kenapa narasinya bingungin?)

Sepertinya pertengkaran ibu-anak itu sudah selesai. Karena sang Namikaze sulung keluar dari ruangan dengan wajah jutek. Mukanya udah kayak pecel yang kucel(?). kushina yang habis memarahi anak sulungnya itu langsung memijit keningnya.

"Haaah… kenapa sih anak itu keras kepala?" keluh Kushina masih dengan memijit pelipisnya.

"sifat keras kepalanya itu benar-benar mirip dengamu, Kushina. Jadi merasa melihat duplikatmu. Terlebih rambutnya ia panjangkan," komentar Minato.

Kushina langsung memberikan Minato deathglare gratis. Minato langsung menutup mulutnya dan tidak mengatakan apapun. Jujur saja, dia benar-benar sangat takut dengan istrinya yang sedang marah. Oh, Minato… kau selain penderita son complex, sekarang kau juga penderita suami takut istri? Poor you

"Haaah… kenapa masalah selalu saja muncul?" keluh Kushina lagi.

"Ma-maafkan aku…" pinta Hinata.

"Bukan kamu yang aku maksud, Hinata. Jujur, aku sangat senang saat kau datang. Aku ingin melihat orang yang dicintai oleh anakku itu."

"Hah? Dicintai?"

"Tentu saja itu kamu, Hinata… Naruto itu sangat mencintaimu~"

Wajah Hinata kembali merona. "E-Eh?"

Kushina mulai ingin menggoda Hinata. Minato hanya menghela napas pasrah. Ini sudah jadi rutinitas keluarga Namikaze. Kenapa? Karena Kushina selaluuuu saja menggoda anaknya dan tunangannya. Kalau dengan Kyuubi sih… jangan diragukan kalau mereka akan bertengkar.

"Hinataa~~ Setelah kalian kembali ke masa lalu, menikahlah dengan Naruto ya? Ya ya ya?" pinta atau goda Kushina (?).

Hinata semakin memerah dan menundukan kepalanya. Tidak berani menatap mata calon mertuanya. Eh? Calon mertua? Hinata-chaan… kau sudah menganggap Kushina seperti itu yaa?

"Atau kau ingin menikah dengannya sekarang? Aku sih sangat senang karena aku ingin segera mendapatkan cucu."

Seketika itu juga Hinata pingsan. Di goda sampai habis-habisan seperti itu, siapa sih yang kuat? Terlebih membicarakan pernihakan, anak, cucu, dan berbagai macam hal yang berhubungan dengan dirimu dan orang yang kau cintai.

"Yaaah… Hinata pingsaan… nggak Hina nggak Hinata, sama-sama pingsan kalau berhubungan dengan Naruto. Bagaimana ini, Minato?" tanya Kushina sok innocent dan baik.

"Kan itu karena kamu sendiri. Yaudah, baringkan saja Hinata dan tunggu sampai dia siuman," balas Minato sedikit—ingat! SEDIKIT—menyalahkan istrinya.

Kushina membiarkan Minato untuk menyalahkannya, karena nyatanya memang dia yang salah kan?

Tiba tiba Kushina tersenyum cerah namun juga tersenyum licik. Di otaknya baru saja diterangi oleh lampu Phillips yang nggak akan mati sebelum dia melaksanakan 'misi' atau kita sebut rencana jahat.

"Apa yang kau lakukan, Kushina?" tanya Minato saat melihat istrinya 'menggeret' Hinata ke kasur Naruto.

"Aku hanya ingin mengerjai mereka. Hihihi," jawab Kushina. Ia terkikik sendiri saat membayangkan seperti apa reaksi mereka saat bangun.

"Kau bisa membuat mereka berdua salah paham!" protes Minato.

"Itulah yang ingin aku hasilkan. Dengan begitu… semoga saja mereka akan langsung menikah," ucap Kushina santai, lalu melanjutkan misinya.

Minato hanya menghela napas. Pasrah. Semoga saja istrinya tidak sampai berbuat hal yang aneh-aneh. Yah… semoga saja. Dan semoga kediaman Namikaze ini tidak terlalu heboh dan rusuh karena perbuatan sang nyonya rumah. Yah… itu doa dari Minato. Entah Tuhan akan mengabulkannya atau malah membuat kejutan yang lebih parah dari perbuatan Kushina, Minato hanya ingin kediaman Namikaze tetap tenang.

Kushina yang masih tersenyum licik menidurkan Hinata di samping Naruto. Ia langsung menarik selimut dan menutupi tubuh keduanya. Lalu dia keluar dari kamar. Tak lupa menarik Minato keluar dari kamar karena dia tidak ingin Minato menghancurkan rencana nista(?)nya. Dan mereka kembali ke ruang tamu dimana anggota keluarga Uchiha sedang menunggu mereka.

"Omatasee~" Kushina memamerkan senyuman manis tapi sangat… ehm, menakutkan.

"Hentikan senyuman mengerikanmu itu, Kushina," ucap Fugaku dingin.

"Apa yang terjadi pada Naruto, Kushina?" tanya Mikoto mengacuhkan dan mencoba mengalihkan sahabatnya dari suaminya itu.

"Dia pingsan. Sepertinya penggunaan chakra di masa depan agak membuatnya lelah," jawab Kushina enteng.

"Daripada itu… apa kalian berdua mengingat masa lalu?" tanya Minato serius.

"Tidak. Aku tidak mengingat apapun di kehidupan sebelumnya, kalau itu yang kau tanyakan, Minato," jawab Mikoto.

"Hn." Pasti tahu ini siapa? Jelas saja Fugaku.

"Minato-ojisan, apakah ada orang yang masa lalu yang datang ke masa ini lagi?" tanya Itachi datar.

"Bagaimana kau bisa tahu, Itachi?" tanya Kushina kaget.

"Aku merasakan ada chakra yang tiba-tiba datang," jawab Itachi tetap datar.

"Benar. Yang datang adalah Hyuuga Hinata," ujar Minato.

Hening.

"Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan?" ajak Kushina dengan seringainya. Dia ingin membiarkan kedua orang masa lalu itu lebih terkejut.

"Kushina… rencana apa lagi yang akan kau lakukan?" tanya Minato bergidik ngeri. Istrinya ini lebih mengerikan daripada Kyuubi yang menyerang Konoha dulu.

"Aku hanya ingin membiarkan dua orang itu di rumah," jawab Kushina santai tapi tetap menyunggingkan seringainya. Mengingat rencana liciknya dan apa yang akan terjadi di kedepannya membuatnya sangaaat bersemangat. Oh akhirnya aku akan memiliki cucu! pekik Kushina senang. Oi! Kushina! Kenapa kau begitu kejam padahal itu anakmu sendiri? Dan kenapa kau ngebet pengen punya cucu? Dan… kenapa kau pede sekali? Kenapa kau—aaah sudahlah!

"Mikoto-chaaan~ kita berbelanja yuk!" ajak Kushina dengan senyuman riangnya. Berbelanja yang dimaksud dengan Kushina adalah… menghabiskan uang bulanan dari suami mereka. Atau menghabiskan tabungan mereka yang diisi oleh suami mereka. Dengan kata lain… menghabiskan uang SUAMI mereka.

"Ayuuuk!" Mikoto menyetujuinya. Gimana nggak setuju cobak? Kalau suamimu adalah CEO perusahaan TERBESAR di JEPANG dan segala fasilitas dan keuangan tidak kau gunakan? Eman-eman banget! Siapa yang mau membuang-buang kesempatan itu?

Jangan lupakan kalau Minato juga seorang presdir. CEO. Tentunya keluarga Namikaze semakin kaya raya.

"Ah, kalian juga harus ikut," kata Kushina mengeluarkan aura yang sangat mengerikan. Tanpa sadar, kedua presdir itu langsung menganggukan kepalanya. Fugaku juga ikutan? Dia sebenarnya tidak takut pada Kushina—bahkan dia lebih suka mengacangi dan mengacuhkan Kushina. Tapi karena istrinya juga mengeluarkan aura yang sama seperti Kushina. Sejak kapan istrinya tercinta, Mikoto, bisa mengeluarkan aura mengerikan itu? Dengan senyuman yang mengerikan pula?

"Baka Aniki, apakah kita juga harus ikut?" tanya Sasuke, tak lupa dengan ejekan dalam memanggil kakak tersayangnya.

"Tentu saja, Baka Otouto. Kau tidak lihat aura mengerikan Kushina-obasan dan Okaa-san?" sindir Itachi dengan wajah datarnya. Huh! Dasar Uchiha! Selalu saja memakai topeng datar dan stoic andalan mereka meski sudah ketakutan sampai relung hati(?).

"Kalian berdua ikut bukan, Itachi, Sasuke?" tanya Kushina dengan aura super duper ekstra ultra kilo mega giga tera mengerikan. Waw. Bisa kebayang betapa mengerikannya?

Sasuke yang ketakutan setengah mati setengah hidup langsung menganggukkan kepalanya. Gimana nggak takut? Coba kalian yang menggantikan peran Sas sekarang. Pasti langsung melambaikan tangan ke arah kamera dan berkata 'Tolong! Aku menyerah!'(kenapa jadi melenceng jauh?).

Itachi hanya bergumam a la trademark Uchiha. Dia lebih tenang karena dia tahu walaupun pasangan Namikaze itu kembali mendapatkan chakra mereka dan kemampuan mereka, tapi dia tahu kalau keduanya akan menyembunyikan fakta ini. Tentunya Itachi tahu hal itu. Karena kemarin tau-tau saja dia mengingat masa lalunya dan matanya berubah menjadi masa sharingan yang di masa ini seharusnya sudah tidak ada lagi.

"Aku akan mengajak Naru, Hina, dan Kyuu. Semoga saja Hina sudah bangun dari pingsannya," ucap Kushina sembari meninggalkan ruang tamu dan bergegas menuju ke lantai dua dimana kamar Namikaze sulung, Namikaze bungsu, dan Hyuuga sulung itu.

Yang ada di ruang tamu itu sedang mengheningkan cipta. Eh! Maksud Author adalah tidak mengeluarkan suara apapun. Bahkan kentut saja tidak(?). serasa kayak di kuburan. Tenang sekali.

Ya. Tenang….

Tenang…

Te—

"NAMIKAZE KYUUBIIIII!"

Begini dibilang tenang?

Minato menghela napas pelan saat ia mendengar teriakan-teriakan istrinya dan anak sulungnya. Berapa kali kedua orang itu sudah adu mulut hari ini?

Kushina adalah orang yang langsung dengan cepat bertindak. Gampang emosian. Keras kepala. Dan terlalu bersemangat. Kadang ide-ide aneh selalu mampir di otaknya itu. Rasanya seperti ada bohlam lampu dari jaman es(?) yang selalu menyala di otaknya. Sedangkan Kyuubi adalah orang yang benar-benar gampang terbawa emosi. Keras kepala pula. Tapi dia sangat jenius. Sifatnya benar-benar seperti Kushina, tapi otaknya… benar-benar seperti Minato. Benar-benar pencampuran kan?

Fisik Kyuubi—yang Author tekankan, DIA ADALAH LAKI-LAKI—tinggi seperti Minato dengan rambut berwarna orange kemerahan. Benar-benar pencampuran antara Minato dan Kushina bukan? Minato berambut kuning. Kushina berambut merah. Jadilah Kyuubi yang berambut orange. Tapi bukan orange yang benar-benar orange. Tapi orange kemerahan.

Kalau Naruto sih… secara fisik benar-benar seperti Minato. Seperti duplikat Minato malah. Jadi merasa melihat chibi Minato. Sayangnya sifatnya itu benar-benar mirip Kushina. Sifat bodohnya, emosian, de el el deh pokoknya.

Beberapa saat kemudian… Kushina turun diikuti oleh ketiga anak manusia (iyalah, lu kira anak apaan?). ketiga orang itu wajahnya ada yang kesal, dongkol, masam. Ada juga yang merah padam. Ada juga yang merona dan tersenyum nggak jelas.

Hina sebenarnya sudah sadar saat Naru membawanya ke kamar, tapi… di kamar malah mereka sibuk sekali dengan mereka sendiri. Dengan kata lain, mereka… berciuman… memeluk… dan sebagainya. Tapi tidak sampai ke tahap yang berikutnya. Dan… saat mereka berciuman entah yang keberapa, mereka kepergok Kushina yang membuka pintu kamar mereka. Mereka menghentikan kegiatan mereka dan wajah mereka merah padam. Sedangkan Kushina? Dia hanya menyeringai senang,

Kyuubi turun dengan wajah masam. Semasam apel yang masih sangat muda. Kenapa bisa begitu? Karena saat dia sedang browsing, ibunya itu masuk dan mengajak untuk keluar rumah. Kyuubi yang pada dasarnya tidak suka keramaian dan sedang malas, mengajukan keberatannya dan ditentang oleh sang ibu. Mereka adu mulut lagi dan… berakhir dengan jitakan di kepala Kyuubi. Oh, kushina… kau sangat senang menjitak kepala anak-anakmu? Bagaimana kalau mereka semua jadi bodoh?

Sepertinya Minato harus bersiap-siap karena keluarga Namikaze yang terkenal jenius, akan menjadi bodoh karena ulah istrinya yang sering menjitak anak-anak mereka. Generasi Namikaze muda.

"Kyuu-nii, kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Naru bingung melihat kakaknya yang menekuk-nekuk wajahnya.

"Tanya sendiri sama Kushi—ah! Kaa-san," jawab Kyuubi masih jengkel, tapi dia usahakan tidak menyulut adu mulut lagi dengan kaa-sannya itu.

Naru sepertinya tidak terlalu bodoh(Naru:WOOOI) untuk mengerti tentang keadaan. Kakaknya itu pasti tadi sedang bertengkar hebat dengan ibunya. Dia tahu perubahan ekspresi kakaknya itu. Kalau biasanya sih… dia selalu usil, jahil, tapi tetep datar. Kalau ekspresinya datar… jadi merasa Kyuubi itu bukan Namikaze lagi, tapi Uchiha. Kalau Kyuubi habis bertengkar dengan ibunya… pasti deh wajahnya bersungut-sungut. Malas berbicara apapun pada siapapun.

"Naah… ayo kita berangkaaat!" seru Kushina semangat yang dibalas dengan seruan semangat Mikoto. Sepertinya hanya dua orang itu yang semangat 45.

"Kushina-obasan… Mmm… Aku dan Naruto-kun masa lalu… tidak ikut?" tanya Hinata masih dengan malu-malunya. Iyalah. Siapa yang nggak malu kalau calon mertuamu memergoki kamu dan anaknya sedang bercumbu?

"Naruto kan butuh istirahat… dan Hinata pingsan. Jadi… biarkan saja mereka berdua di rumah," jawab Kushina dengan seringainya.

"Kaa-san… apa yang mau Kaa-san lalukan padaku dan Hinata-chan masa lalu?" tanya Naru bergidik ngeri. Ngeri membayangkan Kushina melakukan sesuatu yang… mengerikan.

"Hanya ingin menyadarkan mereka berdua untuk segera menikah," jawab Kushina dengan senyuman manis (baca: MENGERIKAN). Yang lain hanya bergidik ngeri. "Seorang Hokage harus memiliki pendamping, bukan begitu, Mi-na-to?"

Melihat ekspresi Kushina yang begitu manis (baca lagi: MENGERIKAN), Minato dengan otaknya yang sangat jenius berusaha untuk tidak menyulut perang dunia ke tiga di masa ini. Dia hanya mengangguk menyetujuinya. Padahal dia tidak setuju. Siapa yang tidak setuju kalau anaknya menikah di usia yang sangat muda? Dia tahu kalau Naruto akan menjadi Hokage, tapi mendapatkan pendamping di usia muda (PERINGATAN: Naruto umurnya 18) itu sangat sangat dan sangaaaat tidak bagus.

"Ta-tapi Kaa-san… bukankah pernikahan itu minimal du—"

"Di masa itu, pernikahan di umur apapun di perbolehkan. Bahkan kalau mereka mau, menikah sekarang dan langsung memiliki anak saja boleh," potong Kushina.

Yang lainnya hanya sweatdrop. Sepertinya Kushina benar-benar ingin mendapatkan cucu. Naru-Hina langsung pucat pasi. Kushina serius. Mereka hanya berdoa semoga mereka yang masa lalu tidak membuat 'kesalahan' dan berakhir dengan menikah muda. Ngeri membayangkan mereka harus nikah muda.

"Nah… ayo kita pergi!"

Dan mereka meninggalkan kediaman Namikaze serta kedua anak muda dari masa lalu itu. Para pelayan pun di suruh untuk keluar dari mansion utama. Dasar Kushina…

Skip time (~`o`)~ Skip time (~^v^)~

Walaupun sang rembulan sudah menampakan dirinya, tapi sepertinya kedua anak manusia itu masih belum bangun. Fuuuh… sepertinya Author harus skip lagi.

Paginyaaa~

Saat fajar baru saja tiba, saat semua penghuni rumah masih melungker di atas kasur, di bawah selimut… dua suara membangunkan seisi rumah dengan teriakan.

"GYAAAAA/KYAAAAA!"

GRUDUK GRUDUK GRUDUK.

BRAK.

"ADA APA!?"

Pintu terbuka dan menampakan sosok-sosok manusia. Mereka semua bertanya pada dua orang yang berteriak. Daaan… tanpa dijawab mereka tau apa yang terjadi. Kedua manusia itu—Naruto dan Hinata—sama-sama menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. WTF?! Menutupi tubuh mereka!?

"Ka-kalian berdua… jangan-jangan…" duga Kyuubi dengan wajah pucat. Tidak menyangka kalau adiknya di masa lalu berbuat… 'ehm ehm' pada tunangan adiknya masa lalu.

"Kushina… kau melakukan apa lagi!?" geram Minato. Rasanya istrinya itu udah kelewatan untuk sekedar mengerjai mereka.

"EH!? Serius! Aku tidak melakukan apapun pada mereka, Minato!" bantah Kushina.

"Kami-sama… apa yang diriku masa lalu lakukan… diriku sudah mengotori Hinata-chan…" –ini jelas saja yang ngomong Naru.

Kedua orang yang berada di atas ranjang itu langsung terkejut. Keluarganya pasti mikir yang aneh-aneh!

"Ka-kalau sudah seperti ini, se-se-sepertinya t-tidak ada jalan lain selain… me-menikah," ucap Hina terbata-bata.

Kedua orang itu langsung merah padam. Malu, senang, marah, dan sebagainya bercampur jadi satu. Hina yang polos saja sudah berfikiran seperti itu, apalagi yang lainnya!

"HEEEI!" jerit Naruto merah padam. Dia sudah nggak tahan dengan kelakuan keluarganya ini. "Kalian pasti mikir yang tidak-tidak!"

"Kau sendiri yang melakukannya! Bagaimanapun juga, kalian berdua harus MENIKAH. TITIK!" seru Kushina marah, tapi senang. Marah karena anaknya sudah melakukan 'ehem ehem' pada menantunya yang sangat polos, senang karena akhirnya mereka akan menikah dan punya anak. WHAAAT!? Kushi-chaaan… kau mikirnya jauh bangeeeet.

"Si-SIAPA YANG MELAKUKAN!?" jerit Naruto lagi. wajahnya semakin memerah. Keluarga Namikaze plus Hina terdiam. Menajamkan telinga mereka masing-masing. "Ka-kami tidak melakukan apapun. Sungguh! Benar kan, Hinata-chan?"

"I-iya," jawab Hinata gugup.

"Lalu, kenapa kalian menutupi tubuh kalian?" interogasi Kushina DIMULAI!

Naruto mengerti apa yang dipikirkan ibunya. Begini-begini dia pernah membaca novel ero sannin, Jiraiya. Itu lhooo! Novel yang sering di baca Kakashi! Yang judulnnya Icha Icha Paradise. Nar… ternyata lu ero juga. Naruto: SHUT UUUUP!

Naruto menyibakkan selimutnya—selimut yang menyelimuti dia dan Hinata. Daaan… taraaa! Mereka berdua masih menggunakan baju mereka. LENGKAP!

Mereka yang melihatnya hanya sweatdrop. Ternyata mereka semua mikirnya kejauhan. Udah mikirnya kejauhan, pake nuduh-nuduh orang segala!

"Lalu… kenapa kalian… ehem… berteriak?" tanya Kyuubi mulai mengintrogasi dua orang masa lalu itu dengan wajah geram. Siapa yang nggak marah kalau kau sedang bermimpi indah—yang ngomong-ngomong Kyuubi tadi bermimpi di kebun apel dan sedang memakan apel—dan harus membuatmu terjaga karena ada dua orang yang berteriak?

Yang lainnya menoleh mencari-cari jam dinding. Dan setelah menemukannya, mereka terkejut. Jam setengah lima pagi… SIALAAAN, rutuk Naru dan Kyuubi.

"Ma-maafkan aku… ta-tadi aku… saat bangun… a-a-aku terkejut sa-saat melihhat Na-Naruto-kun di sebelahku," ucap Hinata dengan rona di pipinya dan ia semakin menunduk ke bawah. Mencoba menyembunyikan wajahnya.

"A-aku juga…" ucap Naruto ikut-ikutan tergagap.

"Oh, kalau begitu, oyasumi. Aku mau tidur lagi. jangan ganggu," ucap Kyuubi dingin dan ia langsung melenggang pergi meninggalkan keluarganya.

"Aku juga ngantuk. Bye," ucap Naru dan ia melenggang pergi seperti kakaknya.

Hina menundukkan kepalanya memberi hormat pada calon mertuanya dan dirinya bersama Naruto. Lalu dia mengikuti Naru untuk kembali lagi ke kamarnya.

Hening.

Tidak ada tanda-tanda pasangan suami-istri Namikaze akan meninggalkan ruanngan. Minato menatap anaknya.

"Naruto, aku berharap kau tidak menggunakan chakramu di masa ini," ucapnya.

"Kenapa, Tou-san?"

"Penggunaan chakra di masa ini sangat menguras chakramu. Terlebih kau kan harus mengirim kembali dirimu, Hinata, dan Kirigaya-san. Dan oh iya, satu lagi. Asuna-san sepertinya terkirim ke masa lalu."

"Haa? Kenapa bisa?"

"Kemarin sore kami bertemu dengan teman-teman Asuna. Mereka bilang Asuna menghilang. Dan karena Hinata ada di sini, itu berarti hanya ada satu yang mungkin. Asuna, sebagai pengganti Hinata, terkirim ke masa lalu," jelas Kushina.

"La-lalu… bagaimana na-nasib Asuna-san?" tanya Hinata was-was.

"Tenang saja, Hinata. Di sana, ada Kirigaya-san bukan?" tanya Minato. Hinata mengangguk. "Kirigaya-san pasti akan menjaga Asuna-san. Bagaimanapun juga Asuna-san adalah tunangannya."

"Kalau begitu, kami akan kembali ke kamar kami. Dah, Naruto, Hinata," ucap Kushina sembari menarik suaminya keluar dari ruangan.

"Ingat, Naruto, JANGAN MELAKUKAN APAPUN PADA HINATA," ingat Minato dengan penuh penekanan. Naruto hanya meringis melihat ayahnya ditarik pergi.

BLAM

Pintu ditutup. Pasangan suami-istri Namikaze sudah meninggalkan ruangan. Calon pasangan Uzumaki itu hanya memandang pintu dengan wajah merah padam. Minato saja sampai harus mengatakan hal seperti itu. Ini… GILAAA!

Keduanya jadi benar-benar canggung. Canggung untuk mengatakan barang satu kata. Tidak. Satu konsonan saja mereka tidak mampu.

"Mmm… H-Hinata-chan… s-s-sebaiknya ka-kau tidur lagi saja. A-aku akan tidur d-di sofa saja," ucap Naruto gugup. Sepertinya Hinata telah menularkan rasa gugupnya dan kebiasaan tergagap pada sang Rokudaime Hokage itu.

"Na-Naruto-kun…"

"Ha-habis… kalau nanti mereka melihat kita seperti itu lagi, mereka pasti berfikir yang tidak-tidak," kilah Naruto.

"Naruto-kun di sini saja," ucap Hinata.

Naruto yang sudah turun dari ranjang dan berjalan ke sofa langsung membeku. Apa? Hinata mengatakan apa tadi?

"Ma-maksudku, kita kan bisa tidur saling memunggungi," tambah Hinata cepat. Hinata tahu kalau Naruto bingung pada ucapannya sebelumnya. Tapi… tidak bisa dipungkiri lagi kalau wajaah Hinata merona dan ia semakin menundukan kepalanya.

"Uh… baiklah…" ucap Naruto dan segera naik kembali ke atas ranjang king size itu.

Mereka berdua benar-benar melakukannya! Maksud Author, tidur dengan posisi memunggungi. Ah, sebenarnya mereka tidak tidur, hanya berbaring. Kenapa? Kalau orang yang kau suka tidur di sampingmu, apakah kau bisa tidur? Tentu saja tidak! Nah… itulah yang terjadi pada pair kita ini, NaruHina. Mereka bedua berdebar-debar hingga tidak bisa memejamkan mata barang satu menit saja.

Perasaan khawatir dan ketakutan mulai merayapi hati Hinata. Bagaimanapun juga ia khawatir dengan ayahnya dan adiknya. Tinggal mereka berdualah keluarganya. Neji telah pergi meninggalkan mereka selamanya. Hinata takut kalau ada sesuatu yang terjadi pada keluarganya. Ia tak ingin kehilangan siapapun lagi.

Hinata berbalik. Ia menghadap ke punggung besar Naruto. Ingin rasanya ia memeluk punggung besar dan aman itu. Tapi ia tahu, ia masih tidak pantas untuk melakukan hal seperti itu pada pemuda blonde itu. Paling tidak…

"Naruto-kun," panggil Hinata. Tubuh Naruto berbalik dan menghadap Hinata. "Bolehkah aku menggenggam tanganmu?"

Permintaan dadakan dari sang heiress Hyuuga itu, tentu saja, membuat sang Rokudaime Hokage terkejut. Ia terkejut, tapi juga senang. Naruto ragu. Ia tahu kalau Hinata menyukainya, tapi apakah ia pantas untuk berada di sampingnya? Ia sudah mengambil nyawa Neji. Neji mati karena melindunginya. Seharusnya… ia tak pantas untuk menerima kebaikan Hinata.

Mata amethyst Hinata menyiratkan ketakutan dan kekhawatiran yang sangat mendalam. Mata sapphire itu tentu saja bisa melihat betapa dalamnya ketakutan itu.

"Ada apa, Hinata-chan?" tanya Naruto khawatir.

Bola mata Amethyst itu memandang sapphire Naruto. "Aku takut, Naruto-kun… Aku takut bila sesuatu terjadi pada keluargaku…"

"Tenang saja, Hinata-chan, aku yakin mereka akan baik-baik saja. Ayahmu adalah seorang Hyuuga yang kuat. Pasti adikmu akan dilindungi oleh Ayahmu. Tenang saja, Hinata-chan…" ujar Naruto menenangkan gadis indigo itu.

Karena Hinata masih saja menyiratkan ketakutan, Naruto langsung menggenggam tangan putih Hinata. Naruto berusaha keras untuk tidak melakukan apapun pada gadisnya (GADISNYA!) dan tetap menggenggam tangan itu.

Hinata tersenyum. Matanya tidak menyiratkan ketakutan lagi. Rona di pipinya masih tetap setia.

"Tangan Naruto-kun… sangat hangat dan membuatku merasa aman. Aku sangat menyukainya," kata Hinata dengan mempererat genggamannya.

Ucapan Hinata membuat Naruto blushing. Ia hanya tertawa hambar untuk menghilangkan blushingnya. Tapi seketika ia tersenyum lembut..

"Tanganmu sangat lembut dan hangat, Hinata-chan… Kau membuatku lebih berani."

Wajah hinata semakin merah padam. Naruto sangatlah hangat dan baik. Inilah yang menyebabkan dia jatuh cinta.

Hening.

Keduanya tidak mengatakan apapun. Wajah mereka yang semakin memerah dan dengan tangan yang menggenggam satu sama lain, mereka saling menatap. Tatapan yang lembut… hangat… penuh dengan rasa cinta dan sayang… itulah arti tatapan keduanya.

Dalam otaknya, Naruto berfikir apakah ia harus mengatakan seperti apa perasaannya pada sang pewaris Hyuuga itu? Apakah ia pantas untuk mendapatkannya? Apakah ia akan membahagiakan Hinata atau malah menyakiti Hinata?

Tapi… gadis ini menunggunya. Menunggu untuk jawaban Naruto. Gadis ini sudah menyatakan perasaannya sebulan yang lalu (tapi seribu dua ratus tahun satu bulan yang lalu). Naruto akhirnya menetapkan bahwa ia akan mengatakannya. Dan harus sekarang juga.

"Hinata-chan," panggil Naruto.

Hinata menatapnya. Gadis yang sangat cantik, kuat, dan sangat manis. Ia memang kuat, tapi sangatlah rapuh. Ia sangat manis, tapi ia melalui hidupnya yang pahit.

"Aku ingin membalas pernyataanmu sebulan yang lalu," ucapnya tenang, tapi jantungnya udah… uuuh… nggak tenang lagi.

"E-Eh?"

"Pernyataanmu sebulan yang lalu. Saat… uh… saat kau menyelamatkanku dari Pain."

Seketika itu wajah Hinata merona kembali dan… kalau ini anime-anime, mungkin ada asap yang keluar dari kepalanya.

"I-itu… Naruto-kun tidak perlu menjawabnya. A-aku hanya m-mengatakan itu. Ja-jadi…"

"Kau tidak ingin mendengar jawabanku?" tanya Naruto dengan raut sedihnya.

"Bu-bukan begitu… Na-Naruto-kun kan menyukai S-Sakura-san, ja-jadi…"

"Itu dulu, Hinata-chan… sekarang aku menyukaimu. Suki dayo, Hinata-chanAishiteiru…"

Hinata membelalak tak percaya. Apa? Naruto-kun mengatakan apa? Dia menyukaiku? Kami-sama… apakah ini hanya mimpiku? batinnya. Tapi seketika itu juga air mata membasahi mata amethystnya. Hinata menangis!

"Eh? Eh? H-Hinata-chan? Ada apa? Kenapa menangis? Kau tidak ingin jawaban itu? Mm… baiklah, aku tidak akan menga—"

"Bukan begitu, Naruto-kun… aku… aku sangat senang. Aku menangis karena terharu. Aku sangat senang, Naruto-kun…"

Naruto menggenggam kedua tangan Hinata dan ia tersenyum. Senyumannya bukan senyuman lebar yang menandakan ia cengengesan, tapi dia tersenyum lembut.

"jadi Hinata-chan… apakah kau mau menjadi kekasihku?" tanya Naruto masih dengan senyum lembutnya.

Hinata menitikkan air matanya lagi. "Hai, Naruto-kun…"

Naruto memeluk tubuh kecil Hinata. Ia sangat senang. Akhirnya ia bisa mendapatkan gadis yang sejak sebulan yang lalu mengisi hatinya. Gadis yang memperhatikannya dari jauh. Gadis yang mencintainya sejak mereka masih kecil. Gadis yang berusaha untuk menolongnya. Gadis yang membuat ia buta saat gadis itu tergeletak tak berdaya. Gadis yang telah menyadarkannya akan kesalahannya. Gadis yang rela mempertaruhkan nyawanya untuk melindunginya.

"Hinata-chan?"

"Mm? Ada apa Naruto-kun?"

"Terimakasih kau mau menerimaku."

"Tidak apa-apa, Naruto-kun… Justru akulah yang harus berterimakasih padamu karena Naruto-kun mau menerimaku."

Sepertinya kebiasaan Hinata yang merona dan tergagap sudah bisa di hentikan. Buktinya, sejak tadi Hinata tidak tergagap saat mengatakan apapun.

"Hinata-chan…"

"Ya, Naruto-kun?"

"Tidurlah. Kau pasti masih sangat lelah."

"tapi… dengan posisi seperti ini?"

"Ya. Aku ingin tidur sambil memelukmu, Hinata-chan…"

"Tapi… kalau ada yang melihat… mereka akan salah paham, Naruto-kun…"

"Siapa yang salah paham? Apa yang mereka salah pahamkan? Kita memang seperti ini apa adanya kan?"

"Tapi kalau orangtuamu melihatnya—"

"Tidak apa, Hinata-chan…" Naruto melepas pelukannya dan menatap iris lavender itu lembut. "Kau sudah tahu bukan kalau Tou-san dan Kaa-san sangat ingin kita menikah? Reinkarnasi kita saja selalu bersama." Naruto membawa Hinata kembali ke dalam dekapannya.

Hinata tersenyum dan semburat merah kecil muncul di pipinya. Ia memposisikan dirinya untuk mencari posisi yang nyaman. Di dekapan pemuda blonde ini, dia sangat merasa tenang, hangat, dan nyaman. Perlahan-lahan kesadarannya mulai menjauh. Ia mengatupkan matanya beberapa kali agar ia terjaga, tapi sepertinya di dalam pelukan Naruto, Hinata merasa sangat mengantuk.

"Hinata-chan?" panggil Naruto kembali. Ia memastikan Hinata sudah tertidur atau belum.

"Mmm?" gumam Hinata dengan kesadaran yang sangat tipis.

"Aishiteiru." Naruto membelai rambut indigo gadisnya. "Oyasumi, Hinata-chan…"

Dengan kata-kata itu dan perlakuan Naruto padanya, Hinata dengan cepat terbang ke alam mimpi. Naruto tersenyum lembut. Lalu ia menyusul Hinata ke alam mimpi.

Skip time (~`o`)~ Skip time (~^v^)~

Pemuda blonde keluar dari kamarnya yang di lantai dua sambil menguap. Sepertinya dia baru saja bangun tidur. Ia menuruni tangga dan langsung menuju ke ruang makan. Mata sapphire-nya mendapati keluarganya plus tunangannya sudah duduk di kursi masing-masing dengan elitnya(?).

"Mm. Ohayou, Tou-san, Kaa-san, Kyuu-nii, Hinata-chan…" sapa pemuda itu—a.k.a Naru.

"Ohayou, Naruto-kun," balas Hina dengan tersenyum.

"Dasar kebo. Kau pikir ini sudah jam berapa?" sindir Kyuubi.

Naru menoleh mencari-cari jam dinding. WTH!? Jam setengah sembilan!?

"Cepat duduk, Naruto. Kita akan sarapan. Kau membuat kami menunggu terlalu lama," perintah Minato.

"He he, Tou-san… maaf. Sepertinya aku benar-benar ngantuk," ucapnya lalu mengambil tempat di samping Hinata. Cengiran lebar jelas terpampang di wajah tampannya.

Kushina tetap terdiam karena dia sedang menatap handphone miliknya dan ia selalu tertawa kecil. Yang melihat dan mendengarnya hanya bisa merinding. Ada apa dengan Kushina?

"Kushina, kita sedang sarapan, jangan bermain HP," ingat Minato.

"fu fu fu…" Kushina tetap tidak menggubris perkataan suaminya.

Karena heran, Minato memutuskan untuk bertanya, "Ada apa sih?"

Kushina menyerahkan handphone miliknya pada Minato. Mata Minato langsung membulat tatkala melihat sesuatu di handphone istrinya itu. Mulutnya menganga dan ia tidak bisa mengatakan apapun. Setelah beberapa lama, akhirnya Minato mulai bereaksi. Ia menoleh pada istrinya dengan gerakan robot(?).

"K-Kushina… ini…"

"Yap! Sepertinya mereka baru saja membuat satu langkah besar," jawab Kushina dengan senyuman puasnya.

"Ka-kapan kau mendapatkan ini?"

Flashback~

Kushina yang baru saja bangun keluar dari kamar utama. Ia melirik jam dinding. Lalu ia menghela napas panjang. Masih jam tujuh. Keluarganya belum ada yang menunjukan tanda-tanda sudah bangun. Tapi para pelayan sudah mulai mengerjakan tugas mereka masing-masing. Menyapu, membereskan rumah, mengepel, menyiapkan sarapan, dan sebagainya.

Kushina baru saja berfikir jadwal apa saja yang harus ia lakukan hari ini. Tiba-tiba saja matanya terbelalak. Ia langsung menoleh ke jam dinding.

"Jam tujuh!?"

Kushina lalu berlari ke kamarnya kembali. Lalu membangunkan suaminya.

"Minato! Ini sudah jam tujuh! Kau ada rapat jam sebelas bukan? Bangun, Minato!" ucap Kushina sambil menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.

"Kushinaa… lima menit lagi…" rengek Minato lalu tertidur lagi.

"CEPAT BANGUN, MINATOOO!"

Begitu mendengar seruan istrinya yang terdengar marah dan jengkel, Minato langsung terbangun dan mata sapphirenya mendapati seorang wanita berambut merah sedang marah.

"Ohayou, Kushi-chan…" sapa Minato. Minato selalu memanggil Kushina dengan panggilan Kushi-chan kalau Kushina sedang ngamuk. Dan kalau cuma ada berdua. Gengisi banget sih, Minato itu.

"Ohayou gundulmu! Sekarang liat jam! Kau hari ini ada rapat jam sebelas!" cerca Kushina.

"Iya. Aku ingat, istriku tercinta…"

Dipanggil seperti itu, Kushina langsung merona. Tapi ia tak ingin Minato mengetahuinya. Sayang sekali, Minato jauh lebih cepat untuk mengetahuinya.

"Cepat mandi! Kau harus bersiap-siap! Terus kita sarapan bersama!" titah Kushina setelah dia membalikkan tubuhnya memunggungi suaminya.

"Hai hai."

Minato beranjak dari kasurnya dan bukannya masuk ke dalam kamar mandi, Minato malah memeluk tubuh istrinya dan mengecup lembut bibir Kushina. Lalu ia masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Kushina yang masih terbengong-bengong. Terlihat sekali roh Kushia sedang melayang-layang.

Setelah roh Kushina masuk kembali ke dalam tubuhnya, seketika itu juga Kushina berteriak dengan wajah merah padam.

"MINATOO!"

Minato yang berada di dalam kamar mandi hanya tertawa kecil. Sangat menyenangkan untuk mengerjai istrinya yang memiliki julukan Habanero.

Kushina keluar kamar dan menyuruh beberapa pelayan untuk membangunkan Naru, Kyuu, Hina. Sedangkan dirinya akan membangunkan Naruto dan Hinata. Sebenarnya ia sangat penasaran dengan hubungan mereka setelah dikerjain olehnya. Tanpa mengetuk pintu, Kushina langsung menerobos pintu kamar Naruto-Hinata. Betapa terkejutnya saat melihat posisi tidur NaruHina. Mereka tidur saling berpelukkan! Kushina menyadari kalau (mungkin) hubungan NaruHina bukanlah sebagai teman biasa.

Kushina dengan seringai jahilnya segera mengambil handphone miliknya yang tadi sempat ia ambil sebelum keluar kamar. Ia men-turn off kan suara dan men-silent handphonenya. Lalu ia membuka aplikasi kamera dan memotret pose tidur NaruHina. Ia ingin mengabadikan pemandangan itu dan akan menunjukkan pada Minato.

Setelah menapatkan banyak foto dan puas, Kushina keluar kamar dan tidak berencana untuk membangunkan kedua orang itu. Kushina dengan santai dan dengan hati yang berbunga-bunga, masuk ke dalam kamar mandi—yang sudah ditinggalkan oleh Minato. Ia mandi sambil bersenandung kecil. Aah… bahagianya aku…

Flashback end~

Minato melongo. Benar-benar deh… istrinya itu mau dimanapun, kapanpun, tetaaap saja bersikap jahil pada siapapun. Termasuk anaknya sendiri.

"Memangnya ada apa, Kaa-san?" tanya Naru antusias dan penasaran.

Ih Naru KEPOOO! Wkwkwk.

BUAK.

Mangkuk yang tadi ada di depan Naru sudah terbang mengenai Author. Author dilarikan ke rumah sakit karena mengalami gegar otak. Dan karena Author masuk ke rumah sakit, cerita tidak bisa dilanjutkan. Untungnya ada dewa yang mau berbaik hati mengobati Author. Dan akhirnyaa…

Author ini akan melanjutkan ceritanya. Nyahaha!

"Naru, taruh kembali pisau itu! Jangan lempar ke Author!" perintah Kushina saat melihat anaknya menggenggam pisau dan sudah bersiap untuk melemparkannya. Author sendiri cuma bisa sweatdrop.

Naru hanya bisa mematuhi Kushina. Ia menaruh kembali pisau itu di samping piringnya. Naru duduk kembali di kursinya dengan bersungut-sungut.

"Sudahlah, Naruto-kun… kalau tadi Naruto-kun melempar pisau itu ke Author, nanti Author bisa mati. Kalau Author mati, cerita ini tidak bisa dilanjutkan," bujuk Hinata.

Loh? Kenapa OOT banget?! Aaarghh! Balik ke ceritaaa!

"Jadi, Kushi—Kaa-san, apa yang sedang dilihat Mi—Tou-san sampai Tou-san menganga gitu?" tanya Kyuubi yang tidak menggubris ke OOT-an scene tadi.

"Kau akan segera tahu. Hihihi," jawab Kushina dengan tawa kuntinya(?).

Tiba-tiba saja dua remaja masuk ke ruang makan. Kedatangan kedua remaja ini membuat keluarga Namikaze terdiam.

"Ohayou!" sapa Naruto dengan cengiran kudanya.

"Ohayou gozaimasu," sapa Hinata ramah.

"Ohayou. Akhirnya kalian datang juga! Duduklah," ucap Kushina masih menyunggingkan senyuman manis(baca: MENGERIKAN).

NaruHina duduk di samping pak kusir—maaf, salah lagi. Duduk di samping Kyuubi. Dan berhadapan dengan KushiNaruHina.

"Biar kutebak," kata Kushina sembari memandangi Naruto. "Kau pasti ingin makan ramen."

"Kaa-san hebat!" puji Naruto.

"Aku juga, Kaa-san!" tambah Naru.

Daaan… sarapan keluarga Namikaze dimulaaai~

Keluarga Namikaze itu terkenal dengan ketampanan dan kejeniusan mereka. Menyaingi Uchiha. Tapi… di generasi ini… saat digabungkan dengan Uzumaki… TARAAA! Hasilnya adalah… ketampanan (untuk Naru dan Kyuu), kejeniusan (untuk Kyuu), dan kehebohan(untuk Naru). Sangat-sangat-sangatlah menarik bukan?

Jadi… jangan heran kalau di kehidupan sehari-hari keluarga Namikaze itu selalu heboh. Daaaan… lihat saja ritual sarapan yang seharusnya berjalan dengan khidmat(?) berakhr dengan ricuh(?). maksudnya… berakhir dengan heboh. Bukan pas terakhirnyaaa! Tapi saat pertengahannya. Hal itu dikarenakan…

"Jadi, Naruto, Hinata, sampai mana hubungan kalian?" tanya Kushina dengan nada menyelidik. Waw, Kushina sekarang berubah jadi Sherlock Holmes!

"Eh? Ma-maksud Kaa-san?" tanya Naruto grogi. Dia mengambil air minum dan meminumnya untuk menghilangkan rasa groginya. Tapi belum sempat air itu melewati tenggorokannya…

"Kau tidur berpelukan dengan Hinata kan?" tanya Kushina frontal.

Ia langsung menyemburkan air minumnya. Tidak. Elit. Sama. Sekali. Untuuung saja semburannya tidak mengenai Naru. Bisa dipastikan keduanya akan perang dunia kalau mengenainya. Perang dunia ketiga kah? Perang saudara. Eh? Mereka kan sebenernya satu. Kenapa perang saudara? Saa… biarkan Author ini semakin bingung.

Hinata langsung mengambil serbet makan untuk mengelap semburan air kekasihnya dan mengambil sapu tangan untuk membereskan semburan air di wajah kekasihnya. Waw, Hin, lu romantiiis bangeeetz!

Yang lainnya—minus Kyuubi, karena Kyuubi lebih mementingkan apel dan pai apelnya—hanya terdiam. Sejak kapan mereka bisa lebih romantis dari Romeo-Juliet? Apakah gelar pasangan ter-romantis akan diberikan pada pasangan NaruHina masa lalu?

"Kaa-san! Apa maksudnya?!" tanya—lebih dikatakan seperti membantah—Naruto.

Kushina dengan cepat mengambil handphonenya dan segera mengutak-atik isinya. Setelah ia mem-view sebuah foto, ia mengajukannya pada anak-anaknya. Betapa terkejutnya mereka melihat foto itu. Foto NaruHina tidur berpelukan! Naru dan Hina langsung memerah. Bagaimanapun juga, secara fisik mereka dengan diri mereka dari dunia shinobi kan sama. Jadi… foto itu terlihat seperti merekalah yang melakukannya.

Sedangkan pelaku utamanya, sibuk menahan diri. Untuk Hinata, sibuk menahan diri untuk tidak pingsan. Untuk Naruto, sibuk menahan diri untuk tidak menghancurkan benda kotak itu dengan rasengannya(?).

"Kalian berdua tidak perlu seperti itu," ujar Kushina sembari menarik kembali handphonenya, tapi di rampas oleh Kyuubi. Begono-begono, Kyuubi juga penasaran kale. Kushina hanya membiarkannya.

Setelah melihat tampang Kyuubi yang tekejut, Kushina melanjutkan, "Aku malah sangat senang melihat kalian sudah membuat satu langkah perubahan besar."

Yang mendengarnya hanya bisa tertegun. Ucapan tulus seorang mantan Uzumaki itu patut dimasukkan ke dalam rekor dunia. Kalau Fugaku sampai mendengarnya, harap pasang mata, softlens, dan kacamata, Fugaku pasti akan menertawainya! Sangat tidak cocok dengan pribadi Kushina yang berandal.

Dan seperti yang kita ketahui bersama, keluarga Namikaze semakin heboh dengan pernyataan Naruto atas Hinata. Bukan hanya itu. Mereka tetap heboh meski topiknya bukan NaruHina lagi. Oh. Jangan lupa dengan acara harian KushiKyuu. Acara adu mulut maksudnya.

Acara sarapan beres. Para pelayan sibuk membereskan meja makan dan segala perlengkapannya. MinaKushi masuk ke dalam kamar mereka. Minato bersiap-siap untuk kerja, sedangkan Kushina membantu Minato. Begini-begini Kushina adalah seorang istri dan ibu yang baik. Eh? Siapa yang bilang baik? Adakah ibu baik yang tega menjitak kepala anak-anaknya terus?

NaruHinaNaruHina (repot banget Thor!) duduk di ruang tengah. Menonton TV. Sedangkan Kyuubi? Tadi setelah mengambil satu karung(?) apel, dia langsung masuk ke tempat persembunyiannya. Kamar maksudnya.

Setelah mengantarkan Minato pergi, Kushina masuk dan menyeringai saat di otaknya baru diterangi lampu Phillips kembali. Ia dengan segera muncul di hadapan anak-anaknya plus kekasih-kekasihnya. Dengan kata lain, Kushina tau-tau aja menghadangi TV yang sedang ditonton oleh keempat anak manusia itu,

"Hinata, bagaimana kalau kita berbelanja?" usul Kushina.

WTH?! Kushina… kau baru saja berbelanja kemarin. Dari sore sampai malem. Itu juga masih kurang? Kau mau menghabiskan uang suamimu berapa?

"Aku ingin membelikan baju-baju untuk kalian," sambung Kushina.

"Tapi Kushina-obasan… baru saja kemarin Kushina-obasan membelikanku—" sanggah Hina.

"Tenang saja. Aku akan membelikan baju untuk kalian berdua!" potong Kushina.

"Ta-tapi… Naruto-kun…" ucap Hinata.

"Ah! Mereka berdua tetap di rumah."

"Kalau orang lain lihat kami bagaimana? Bagaimanapun walau umur kami berbeda, tapi tubuh kami sama," kata Hina lagi.

"Tenang saja. Semua orang pasti mengira kalian anak kembar."

"Kalau kami bertemu dengan teman-temanku?"

"Bilang saja Hinata adalah kembaranmu. Selesai kan?"

Merasa tidak bisa menang dari Kushina, Hina dan Hinata menuruti saja. Mereka bersiap-siap untuk berbelanja dengan Kushina. Hina memakai dress selutut warna putih dan Hinata—dipinjami oleh Hina—memakai dress selutut warna lavender. Mereka benar-benar sangat cantik. Bahkan mereka membuat kekasih mereka jawsdrop berjamaah. Wow. Mereka baru saja melihat malaikat turun!

Setelah NaruNaru merelakan kekasih mereka pergi, Kushina, Hina, Hinata langsung meluncur bebas(?) ke distrik perbelanjaan.

Saat berbelanja, Hinata merasakan chakra yang sangat dikenalinya. Hinata langsung menoleh ke segala arah. Berusaha untuk tidak menggunakan byakugannya. Tapi Hinata tidak menemukan siapapun. Dan baru saja ia kembali ke acara belanjanya, seseorang memanggilnya. Dan betapa terkejutnya Hinata.

Siapakah orang itu?

TSUZUKU~T.B.C.

.

.

.

Fuuh, akhirnya chapter ini selesai juga. Sebenernya ini chap udah selesai semalem pas malam tahun baruan, sayangnya pas jam dua belas, Sherry malah ketiduran (ALIBIIII).

Chap ini lebih ke romance-nya. Jadi kalau kalian yang sedang menunggu romance fanfict ini… chap ini sudah memenuhinya. Oh iya, di chap depan sepertinya juga lebih ke romancenya. Untuk lengkapnya… yaah… kalian akan tahu saat membaca chap 7. Fu fu fu…

Chap ini juga lebih menyorot ke NaruHina. Mana suaranya NHL!?

Disini Sherry tidak menampilkan tokoh-tokoh SAO. Kenapa? Karena seperti yang Sherry bilang, NaruHina disini lebih mendominasi.

Oh iya, JANGAN PERNAH BERHARAP FANFICT INI RATE NYA SHERRY GANTI JADI M! pada dasarnya Fanfict ini adalah fanfict untuk T. tidak akan tergantikan oleh M. ah, bingung ya? Yaudah, nggak usah aja.

Sepertinya chap ini lebih sedikit dari chap 5. Iya. Maafkan Sherry. Chap ini Cuma 6.749 kata (TT^TT)"

Yaudah… kita mulai acara Balas membalas Reviuw~

.

Tsukiyomi Aori Hotori: Thanks for loved this fanfict :3

Disini sudah ada NaruHina. Daaan lebih ke romance~ mereka akhirnya pacaran! KYAAAAA!

Oke, Sherry sendiri tidak bisa menghentikan kesenangan Sherry. Padahal Sherry yang buat ini fanfict =_="

Ini sudah apdet. Tepat seminggu deh.

AN Nara: Sasuke lebih lemah dari Kazuto? Sebenernya Sas jauh lebih kuat dari Kazuto. (Sas: Trus kenapa gue lo jadiin lemah?) Sabar, Sas… Sas emang kuaaat banget kalau dibandingin dengan tubuh asli Kazuto. Yaeyalah! Kazuto kan nggak punya chakra.

Oke. Kenapa Sherry buat lebih lemah? Jawabannya gampang. Kazuto kan tubuh virtualnya memakai segala kemampuan teknologi dan computer. Jadi… dengan dibantu sistem computer, Kazu lebih hebat. Terlebih dia kan Blackswordman Kirito. Oh, mengikuti cerita aslinya, Kazu disini Sherry buat sudah mengikuti kendo lagi dan sudah memenangkan berbagai kompetisi kendo.

Gyuururu-kun: Duh Gyuururu-kun… Sherry nggak tega untuk membantai Sas. Bisa-bisa Saku bantai Sherry lagi *sweatdrop*

Sherry juga nggak tega bunuh Kirito/Kazu. Nanti Sherry lagi yang dibunuh sama Asuna. Tadi pas syuting aja Sherry udah kena mangkok gratis dari Naru. Udah gitu mau dilempar pake pisau lagi (TT-TT)

Dengan kata lain, selama di fanfict ini, Sherry tidak berhak untuk membunuh atau membantai chara—yang pada awalnya—memang bukan milik Sherry.

Loh? Om Kishi dibenci ya? Karena apa? Neji? Waw.

Iya hehe. Habisnya Sherry pas menulis chap 5 sedang gila-gilanya. Gomennasai kalau mengganggu. Di chap ini Sherry sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak membuat iklan di tengah cerita.

Bai bai juga~

Kunoichi. Syavira: ARIGATOOOUUUUU!

Ini udah update. Rekor bisa ngerjain Cuma seminggu.

Rencananya sih Sherry nggak terlalu tahu wujudnya Kazu di Alicization Beginning. Juga kurang ngerti. Coba Sherry baca LN SAO lagi. Mungkin Sherry akan menggunakannya. Masih mungkin lhoooo!

Moku-chan: ARIGATOOOUUU! Udah mau baca aja Sherry terharu. Bentar lagi Sherry pasti nangis darah. Lebay. Emang.

UPDATED^~

Chalice07: IYAA! AKHIRNYA CHAP 6 SHERRY SELESAI JUGAAA! Oke, sherry juga lebay tingkat dewa.

Awalnya Sherry mau buat Asuna nggak dateng, tapi… kasihan juga Yui kalau disuruh ngurus Kazu. Jadilah Sherry mengirim Asuna ke Kazu. Lagipula Sherrry kan pengen ada NaruHina. Walau di masa depan ada NaruHina, tapi yang Sherry mau adalah NaruHina dunia shinobi.

Ditunggu ya chap 7 nyaaa~ NaruHina udah ketemu~ bahkan udah pacaran. KYAAAAAAA! *nosebleed*

Kirito kan memang sangat sayang sama Yui. Karena Yui adalah anaknya dengan Asuna. Bukan anak biologis sih. Yasudahlah. Yang pasti Kirito memang menyayangi keluarganya.

UPDATEEEDDD~

Sherry juga minta maaf kalau Sherry dalam mengerjakan dan menulis balasan banyak kata yang menusuk mungkin atau mengganggu. *bow*

.

.

.

Fuuh… akhirnya kerjaan selesai.

Oh iya, Sherry mau tanyak. Para readers maunya KiriSuna bakal ketemu diri mereka masa lalu atau enggak? Kalau iya, Sherry udah tau bakal kayak gimana, kalau enggak, yah… tinggal melanjutkan cerita ini. Jadi… Sherry akan melakukan voting KiriSuna masa lalu ada atau tidak. Kasih tau Sherry lewat review-an atau PM saja.

Okee~

Karena ini tanggal 1 Januari, Sherry akan mengucapkan AKEMASHITE OMEDETOOUUUU pake toa dan membawa baliho ukuran super gede bertuliskan明けましておめでとう. Oh, tak lupa bawa baliho satu lagi yang bertuliskan OTANJOUBI OMEDETOU, HINATA-CHAAAN~

Telat banget ngasih selamat ke Hinata. Maafkan aku Hinata-chaan~

Fuuh… Yaudah, Sherry akhiri pertemuan(?) ini. SAYONARAAA~

Oh iya, tidak lupa dengan ucapan:

REVIEW PLEAASEE~ :3 :D