Disclaimer : Naruto punya tuan Masashi Kishimoto.

~oOo~

"Namamu Nawata?" kata Konan sambil melipat tangannya, melihat tubuh gadis kecil itu yang sedang memeluk tubuhnya sendiri. Nawata mengangguk lemah. Mukanya pucat. Ruangan bawah tanah yang menjadi tempat disekapnya sekarang, membuat nafasnya tersengal-sengal. Bibirnya putih yang melihatnya tidak tega. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Pein menyuruhnya untuk menyekap gadis kecil itu dan tidak mengizinkannya untuk bebas."Aku..lapar" kata Nawata dengan muka memelas. Konan hanya mendesah lalu kembali menutup pintu ruangan bawah tanah itu.

Meninggalkan anak itu lagi sendirian.

Nawata hanya menutupi mukanya dengan kedua tangan mungilnya itu, seraya menangis. Ia hanya bisa menangis. Karena ketakutan. Mulut kecilnya itu mengucapkan sesuatu.

"Ayah, Ibu, tolong jemput aku..."

~oOo~

"Jiraiya, bagaimana ini? Penculikan Nawata Kaze sudah memasuki hari kedua dan belum mendapat kepastian di mana Nawata berada" kata Kakashi sambil menatap ke arah Jiraiya yang sedang bekerja. Mengelap kunai-kunainya.

"Hhh..." ia menghembuskan nafasnya, hingga tisu-tisu yang berserakan di mejanya itu sedikit terangkat. "Polisi Konoha tidak becus menangani masalah ini. Ini bukan masalah biasa. Dan ini mungkin adalah semacam perangkap" tandasnya santai. Kakashi tak bergeming, menunggu kelanjutan kata-kata Jiraiya. Ia tahu, Jiraiya belum menyelesaikan omongannya.

"Dan," lanjut Jiraiya, sambil tetap mengelap kunainya hingga betul-betul bisa dijadikan kaca, berkata dengan sangat santai.

"Bisa jadi, orang yang menculik Nawata ini mempunyai maksud jahat di antara salah satu dari kawanan ninja kita. Mereka sengaja memperketat penjagaan agar polisi tak dapat menemukan titik dari permasalahan ini."

Kakashi sudah keringat dingin mendengar penuturan Jiraiya. Ia tahu orangnya. Ia tahu orang yang sebenarnya diincar dengan para penculik Nawata. "Jangan bilang..."

Jiraiya berbalik lalu menatap wajah Kakashi yang setengah mukanya ditutup oleh masker hitam.

"Tidak salah lagi, yang mereka incar itu..."

GLEK!

"...Naruto."

~oOo~

"RAMENNYA ENAK SEKALI!" Naruto berteriak, membuat seseorang yang tengah duduk di sampingnya menjitak dengan gemas kepalanya. "Ini tempat umum, Naruto. Kau itu tidak bisa tenang sedikit, ya?" kata wanita berambut merah jambu di sampingnya itu.n"Sudahlah, Sakura. Sepertinya kau tidak bisa mengelak juga bahwa ramen ini enak!"

Sakura menggerutu. Ia makin kesal bahwa Naruto menjawab pikirannya dengan tepat. Dasar kepala nanas dodol!

"Ehm, Naruto."

"Ya, Sakura?"

"Kau tahu Nawata kan? Anak kecil yang diculik dua hari yang lalu itu?"

Naruto mengangguk, sambil terus menghisap kuah ramennya. Sakura memainkan sendoknya di dalam mangkuknya yang masih banyak menggenang kuah ramennya itu.

"Aku heran, siapa yang menculiknya ya? Bukankah aku kira para gangster memang tidak pernah ada di Konoha?"

"Dari mana kau tahu soal gangster, Sakura? Kau kelihatannya sok tahu sekali."

Sakura memukul lengan Naruto keras. Matanya melotot, menatap wajah Naruto dengan geraman."Berisik kau!"

~oOo~

"Pein! Hentikan! Jangan bawa dia ke ruangan itu Pein! Bisa-bisa ia mati!" jerit Konan.

Pein memandang Konan dengan alis menyatu. "Apa maksudmu, Konan? Lebih baik dia mati daripada membongkar rahasia kita, kan?"

"Iya aku tahu. Tapi tidak adakah cara lain selain menaruhnya di ruangan isolasi? Sudah cukup ia menderita di ruang bawah tanah seperti itu!"

Pein menghela nafas. "Kau tahu, Konan? Alangkah baiknya jika kau tak mencampuri urusanku."

Konan mengatur nafasnya yang menderu. Tatapannya tajam, melihat Pein di depannya sambil menggendong Nawata yang sedang tidak siuman itu-gara-gara kekurangan oksigen.

"Kau-"

"Deidara!" teriak Pein, memotong pembicaraan Kanon. Deidara datang dengan senyum misterinya seperti biasa.

"Mau ditempatkan di mana dia, Pein?"

Pein hanya mengerutkan hidungnya sebentar lalu mulai berbicara.

"Di ruang isolasi."

Dengan satu anggukan mantap, Deidara mengambil Nawata lalu menggendongnya dan cepat membawanya ke ruangan yang diperintahkan Pein untuk menaruh anak itu.

"Kau kejam!"

Pein berbalik ke arah Konan yang marahnya makin menjadi-jadi.

"Kau bilang organisasi kita ini berarti 'Fajar'. Apanya? Apanya?" kata Konan.

"Ya, itulah kita. Akatsuki,"

Pein mendekati Konan lalu berbisik tepat di telinganya.

"Fajar pembawa kekelaman pada Konoha."

~oOo~

Sasuke memegang pedangnya. Matanya menyipit, melihat pedangnya sudah lama tak ia pakai.

Dengan segaris senyum kecil, ia mengelus pedangnya itu.

"Akatsuki. Heh, apa bagusnya? Sebentar lagi akan kuhancurkan kalian."

-to be continue-

A/N : Maaf kalau pendek ya? Saya gak bisa nulis yang panjaaaaaaaaaang banget. Hehe. Saya pusing banget soalnya ulangan minggu ini numpuk, dan baru sekarang bisa fokus. Itupun besok saya juga mau ulangan. TIDAK! *curcol dadakan. Dan maaf jika ada kesalahan nama karakter di sini. Harus saya akui bahwa saya tidak sering nonton Naruto! -boooo- Saya cuma share dengan sepupu saya dan teman-teman saya, kadang nonton juga walaupun hanya setengah per episode, dan juga kadang nyuri komik Naruto kakak sepupu saya bentaran. Haha. Dasar author gak modal!

Makasih ya udah nge-review prolognya. Makasih banyak atas perhatian kalian semua!

:)

Nagisa