Do Re Mi Rintik Hujan

Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

Rated : T

Genre : Friendship, Romance , Hurt/Comfort

Warning : OOC, Typo(s)?, AU, GaJe, Abal

Kalo gak tertarik jangan baca. Ini fic cuma fic abal yang isinya gak sengaja nongkrong di otak Author.

dan seperti biasa, Author gak pernah memeriksa ulang fic ini!

Don't Like, Don't Read, so…

Enjoy it!

.

.

.

Chapter 2

.

.

.

Ini pertama kalinya aku mendengar suaramu yang sangat senang di tengah hujan lebat yang turun disekitar kita. Apakah itu artinya kau sudah mulai menyukai hujan?

"Ah… terima kasih sudah menemaniku malam ini, Rukia. Aku mengantuk, sekarang juga sudah malam. Jadi, aku tidur dulu, Oyasumi, mata ashita!" sahutnya dan sambungan pun terputus. Aku masih terpaku, mengingat ucapan yang tadi ia katakan. Hei… itu sudah kedua kalinya ia mengatakan hal itu. Kukira dia hanya bercanda.

"Kuchiki…-san!" panggil Inoue menyadarkanku. Aku tersentak dan menatapnya dengan wajah memerah. Lagi-lagi ada rasa senang di hatiku.

"Apa?" tanyaku polos. Wajahku mungkin masih memerah.

"Tadi… kau ditembak?" tanya Senna. Aku menggeleng pelan.

"Mana mungkin tidak, tadi saja dia bilang dia menyukaimu," celoteh Senna. Aku hanya diam mematung.

"Jadi, kalian ke sini hanya ingin main dan malah kehujanan?" sahutku. Aku kembali menyeruput cokelat panasku dan duduk di tepi ranjang. Inoue dan Senna hanya duduk di atas karpet di lantai.

"Hehe… iya," jawab Inoue cengengesan.

"Jadi… apakah kau menyukai Ichigo?" tanya Senna. Wajahku memerah. Kuletakkan cangkir yang kupegang di atas pahaku, cukup untuk menghangatkan kaki yang terus saja menggigil kedinginan itu. Aku menghela nafas kuat. "Haaah…"

"Aku… tak tahu apakah aku menyukainya atau tidak. Selama ini, aku hanya menganggapnya teman dekatku, aku sama sekali tak pernah berpikir untuk menyukainya," sahutku lemah. Kuletakkan cangkir yang kupegang di atas meja belajarku dan mendekap kedua kakiku.

"Rukia, aku tanya, apa perasaanmu ketika Ichigo mengatakan hal itu padamu?" tanya Senna. Aku terdiam dan menenggelamkan kepalaku di lututku.

"Aku… tak… tahu," jawabku sekenanya. Entah mengapa wajahku memerah, tapi aku menyembunyikannya.

"Rasa suka terkadang datang tanpa kita sadari. Kita bisa merasakan rasa suka kepada siapapun, tanpa terkecuali. Bisa jadi orang yang kau sukai itu adalah orang yang kau sayangi, orang yang kau anggap teman atau sahabat, bahkan bisa jadi orang yang kau sukai itu adalah orang yang kau benci," kata Senna. Aku menatapnya.

"Kalau kalian mengatakan itu, berarti kalian juga pernah merasakannya 'kan?" tanyaku. Senna dan Inoue hanya tersenyum.

"Itu sudah jelas. Kau tahu aku menyukai Shuuhei, dan Orihime menyukai Ishida. Kami tak akan memberikan nasihat padamu jika kami tak pernah merasakannya," kata Senna lagi. Aku tersenyum pada mereka.

"Hihi… aku senang punya teman seperti kalian," gumamku diiringi tawa kecil dari mulut mereka.

"Cobalah pahami perasaanmu sendiri, Rukia," kata Senna.

#*#

Astaga! Sejak kapan aku jadi risih terhadap hujan? Apa aku juga mulai merasakan apa yang Ichigo rasakan? Sebuah perasaan yang membuatku muak, rasa kehilangan!

"Kalian menginap saja ya, sepertinya akan bahaya jika kalian pulang," kataku pada Inoue dan Senna yang sedang menyeruput cokelat panas mereka.

"Tak merepotkankah? Bagaimana dengan Kuchiki-sama?" tanya Inoue. Aku tersenyum.

"Tak apa. Nii-sama malam ini tak pulang. Rumahku sepi, jadi temani aku ya?"kataku.

"Baiklah. Maafkan kami jika kami merepotkan," kata Senna. Aku bersorak senang, lalu berjalan menuju lemari pakaian kamarku, membuka pintu yang paling bawah dan mengambil 3 buah futon, untungah aku menyimpan 3 futon ini, dulu sempat ingin kubuang karena memenuhi lemari pakaianku saja.

"Kita pesta piyama saja, Oke?" sahutku sambil tersenyum. Mereka membalas senyumku dan membantuku membentangkan futon. Setelah itu mereka menelpon orang tua mereka untuk menginap di rumahku.

Sungguh, ini adalah hal yang sangat menyenangkan. Mendengarkan alunan melodi kasar yang dimainkan alam sambil bercanda dengan sahabat-sahabatku. Sayangnya, mereka tak begitu menikmati malam ini karena hujan terus saja turun dengan lebat. Hah… kesenanganku sedikit berkurang. Kenapa mereka tak menyukai hujan? Bukankah hujan itu menyenangkan.

….

Kulirik Senna dan Inoue yang sudah terlelap di sebelahku. Aku tak bisa tidur, entahlah… mungkin karena aku masih ingin menikmati permainan alam ini.

Aku menatap ke arah beranda, ada sedikit celah yang membuatku bisa melihat keluar. Hujan begitu deras, sangat! Membuatku mengingat kejadian 9 tahun lalu, kejadian saat orang yang dia sayangi meninggal.

*FLASHBACK

.

.

"Kaa-san, kenapa Rukia harus ikut?" rengek Ichigo. Aku menatapnya dan menjulurkan lidahku.

"Bwee…. Itu karena Baa-chan lebih sayang padaku," balasku.

"Hei… hei… kalian tak boleh berkelahi, sayang!" lerai Baa-chan sambil mengelus kepalaku dan Ichigo. Aku hanya melenguh dan mengeratkan genggaman tanganku pada ujung rok baa-chan.

"Hehe…," Ichigo hanya tersenyum sambil terkekeh kecil saat Baa-chan mengelus lembut kepalanya.

"Kaa-san lebih sayang padaku, kok!" katanya tak mau kalah. Ia menjulurkan lidahnya dan mengeratkan pegangan tangannya pada tangan kanan baa-chan.

"Bagaimana dengan Nee-chanmu, Rukia-chan?" tanya baa-chan padaku. Aku menunduk lemah.

"Nee-chan katanya baik-baik saja, tapi kadang-kadang Nee-chan sering menangis. Rukia bingung sebenarnya nee-chan baik-baik saja atau tidak," jawabku. Ichigo menatapku, ada tatapan sedih di matanya. Hei…

Tiba-tiba baa-chan duduk dan menyamakan tingginya denganku.

"Sayang, Nee-chanmu pasti baik-baik saja," Baa-chan menenangku. Tapi, aku tahu kalau sebenarnya itu bohong. Nee-chan sakit keras. Aku tahu itu. Tapi, semuanya menutupi hal itu. Aku sempat mencuri dengar pembicaraan Nii-sama dengan dokter yang menangani penyakit Nee-chan, katanya penyakit Nee-chan adalah penyakit berbahaya. Aku takut mendengar hal itu, apalagi aku sering melihat Nee-chan muntah darah.

Baa-chan mulai berdiri dan melanjutkan perjalanan. Kami ingin ke toko bunga, katanya Baa-chan ingin membeli bunga untuk di rumah, juga bunga untuk menjenguk Nee-chan.

Tak lama setelah itu, kami sampai di toko bunga. Sayangnya, ketika kami memasuki toko bunga itu, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Sebuah senyuman muncul di bibirku.

"Baa-chan. Boleh aku main?" tanyaku.

"Kaa-san, jangan turuti keinginan Rukia. Nanti Kaa-san pasti diceramahi Byakuya!" sahut Ichigo.

"Panggil Nii-sama dengan panggilan Byakuya-sama, jangan memanggilnya hanya dengan nama kecilnya," kesalku. Ichigo hanya mencibir dan mejulurkan lidahnya.

"Sudah… sudah," lerai Baa-chan. "Jangan berkelahi. Nanti dimarahi pemilik tokonya," lanjut Baa-chan sambil melirik sang pemilik toko. Kurasa pemilik toko ini bukanlah orang yang pemarah, lihat saja, dia malah terkekeh melihat tingkahku dan Ichigo. "Dan juga, jangan bermain di tengah hujan. Nanti kalian sakit."

"Tidak apa-apa, Masaki-san," kata sang pemilik toko. Ternyata dia menghampiri kami dan sekarang ia sedang mengelus kepalaku.

"Kau Rukia-chan 'kan? Wah… lucunya," katanya.

"Haha…. Rangiku-san, ini pertama kalinya aku mengajaknya ke sini. Jadi, sekarang kau sudah tahu 'kan, siapa Rukia-chan yang sering dibicarakan Ichigo," goda Baa-chan sambil melirik Ichigo, aku terdiam dan menatap Ichigo.

"Ka… Kaa-san, aku tak pernah membicarakan Rukia!" teriak Ichigo tertahan. Wajahnya memerah…. Wah… ternyata Ichigo punya sisi lucu juga ya.

"Ya…ya," sahut baa-chan sambil tersenyum. "Oh iya, Rangiku-san, bisa minta bunga lili putih? Juga… bunga lavender," sahut Baa-chan. Lavender? Itu bunga kesukaan Nee-chan, karena Nee-chan suka aku juga suka bunga itu.

"Baa-chan, aku juga mau lavender," rengekku.

"Memangnya kau bawa uang?" potong Ichigo. Aku menggeram ke arahnya dan dia hanya menjulurkan lidahnya.

"Wah… Rukia-chan suka lavender?" tanya baa-chan. Aku mengagguk kuat.

"Baiklah… Rangiku-san, Rukia-chan mau bunga lavender. Bisakah kau memberikannya lavender?" Tanya baa-chan. Aku tersenyum senang.

"Ah… Rukia-chan, ini…," kata pemilik toko bernama Rangiku itu sambil memberikanku sebuah pot kecil berisi bunga lavender yang tingginya kira-kira 20 cm. senyuman lebar menghiasi wajahku. Langsung saja aku menerima pot itu.

"Be… berapa harganya?" tanyaku polos sambil menatap wajah Rangiku-san.

"Karena Rukia-chan tamu istimewa, jadi… bunga itu aku hadiahkan untukmu," kata Rangiku-san sambil mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku tersipu, wah… Rangiku-san cantik sekali. Pantas saja toko bunga ini ramai.

"A… Arigatou," balasku sambil tersenyum. Rangiku-san membalas senyumku, lalu perlahan menjauh. Apa yang mau ia lakukan? Ah… ternyata mengambil bunga lili dan bunga lavender pesanan Baa-chan.

Sementara aku masih mengagumi bunga lavender pemberian Rangiku-san, Baa-chan masih sibuk bercengkrama dengan Rangiku-san. Entahlah… aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Sedangkan Ichigo, apa yang dia lakukan? Apa sih yang dia lihat?

Aku mengikuti arah padangannya. Ternyata ia sedang melihat anak kucing yang… hei… ada anak kucing terlindas mobil. Jalanan sepi, hanya beberapa orang yang lalu lalang sambil memegang payung mereka sebagai pelindung dari hujan dan tak ada yang berniat memungut kucing kecil yang kebasahan itu.

"Aku harus nenyelamatkannya sebelum kucing itu mati," gumam Ichigo sambil berjalan keluar. Aku meletakkan pot bunga yang kupegang di lantai, lalu berlari kecil menyusul Ichigo.

"Ichigo… apa yang mau kau lakukan?" tanyaku sambil menarik bajunya. Ichigo terus berjalan keluar, ikut menarik tubuhku untuk mengikutinya. Merasa risih karena menghalangi langkahnya Ichigo menghentikan langkahnya.

"Lepaskan aku, Rukia!" tegas Ichigo sambil menepis tanganku. Aku melepaskan tanganku, menatap wajah Ichigo yang mulai basah oleh air hujan, ada kerutan di dahinya, membuatku merasa takut untuk melihat wajahnya.

"Tapi, bahaya Ichigo!" sahutku.

"Apanya yang bahaya, jalanan sepi. Sudahlah… jangan menghalangiku!" kata Ichigo kuat. Ia lalu mulai berlari menuju kucing kecil itu. Saat itulah, aku melihat sebuah mobil melaju kencang. Perlahan aku mengikuti langkah cepat Ichigo sambil meneriaki namanya. Aneh, kenapa mobil itu sama sekali tak mau menurunkan kecepatannya?

"Ichi….," teriakanku terhenti ketika aku merasakan tubuhku terhempas ke tanah. Apa? Siapa yang mendorongku? Aku tercengang saat mengetahui Baa-chanlah yang mendorongku dan berusaha menjangkau Ichigo. Raut wajahnya mengerikan, dahinya berkerut, hampir menutupi wajah cantiknya itu.

"ICHIGO!" teriak baa-chan dan semunya berlalu begitu saja.

Air mataku tumpah begitu saja saat melihat tubuh baa-chan terkulai lemas dengan cairan merah menghiasi tubuhnya. Ia memeluk tubuh kecil Ichigo.

Dengan segera Rangiku-san menghampiri baa-chan. Aku masih menangis, kakiku lemas. Aku tak bisa menggerakkannya dan saat itu juga aku terduduk. Menangis sekera-keras yang kubisa.

"Kaa-san…," panggil Ichigo lemah.

"MASAKI! MASAKI! SADARLAH!" kulihat Rangiku-san ikut menangis dan berteriak histeris.

"KAA-SAN!" Ichigo ikut berteriak ketika ia merasa baa-chan tak juga menyahut panggilan Rangiku-san. Perlahan, Rangiku-san menyandarkan kepala baa-chan pada pahanya.

"MASAKI!" Rangiku-san masih terus berteriak. Aku dan Ichigo pun ikut menangis. Ichigo menangis ketika melihat tubuhnya pun dipenuhi oleh cairan merah yang juga menghiasi tubuh baa-chan. Beberapa orang mulai riuh melihat kejadian ini. Tak ada satu pun dari mereka yang berusaha membantu.

"Apa yang kalian lakukan? Apa kalian hanya ingin menonton? CEPAT PANGGILKAN AMBULANS!" teriak Rangiku-san kesal. Suaranya serak karena diselingi tangisan. Setelah teriakan dari Rangiku-san, barulah ada beberapa orang yang mulai menelpon rumah sakit.

"Kaa-san. Sadarlah. Maafkan aku! Aku tak akan mengulanginya lagi. Aku tahu aku salah, tapi sadarlah Kaa-san. Jangan tidur di sini!" jerit Ichigo panik.

Aku masih terpaku di tempat. Menatap wajah sedih Rangiku-san dan wajah Ichigo yang terus saja menangis memanggil baa-chan. Tidak, aku tak suka menatap wajah sedih. Sudah cukup aku menatap wajah Nii-sama dan Nee-chan yang selalu saja bersedih di belakangku.

Baa-chan masih bergeming. Sama sekali tak menghiraukan teriakan Rangiku-san dan Ichigo. Aku ingin ikut membangunkan baa-chan yang matanya terus terpejam. Aku ingin sekali memeluk tubuh ringkih baa-chan dan berteriak memanggil namanya.

Namun, apa yang kualami sekarang justru sama rapuhnya. Aku tak bisa bergerak. Tubuhku kaku menerima perasaan shock ini. Suaraku tercekat di tenggerokanku, membuatku hanya bisa menangis dan meraung-raung tak jelas.

"Baa… chan," lirihku setengah mati. Sakit! Dadaku. Tenggorokanku. Kepalaku. Mataku. Semuanya sakit. Kenapa semuanya terasa panas? Kenapa aku menjadi sulit sekali bernafas.

Telingaku masih setia menangkap jerit tangis dari mulut Rangiku-san dan Ichigo.

"Baa… chan," lirihku untuk kedua kalinya. Perasaan takut menghantuiku.

"BAA-CHAN!" teriakku keras dan semuanya terlihat hitam seketika. Gelap!


.::Do Re Mi Rintik Hujan::.


17 Juni, Kurosaki Masaki…. Meninggal!

Aku benar-benar tidak percaya. Baa-chan yang kemarin kulihat bersemangat. Baa-chan yang kemarin kulihat masih tersenyum manis padaku. Baa-chan yang kemarin menenangkan perasaanku. Sekarang sudah terbaring di dalam peti.

Suara tangis tak habis-habisnya keluar dari mulut Jii-san dan Ichigo. Rangiku-san bahkan pingsang mengetahui kabar itu. Sedangkan Yuzu dan Karin yang masih balita, hanya bisa diam melihat apa yang sedang terjadi. Mereka tidak tahu apa-apa, sesekali mereka ikut menangis karena tak ada satupun yang mau meladeni mereka.

Lalu, bagaimana denganku? Apa aku ikut menangis seperti mereka? Apa aku ikut meraung-raung seperti mereka? Apakah aku harus melawan raungan langit yang bahkan lebih besar dari raungan orang-orang di rumah duka ini? Tidak. Aku sudah tak sanggup lagi menangis.

Air mataku serasa sudah habis. Mataku membengkak. Selama acara pemakaman aku hanya diam. Menatap peti yang merupakan tempat tidur terakhir baa-chan. Semua emosiku serasa hanyut entah kemana ketika hujan turun dengan derasnya.

Aneh. Padahal ketika hujan mulai turun, Ichigo menangis dan meraung-raung tak keruan, sedangkan aku hanya bisa diam. Jujur, sebenarnya aku sangat menyukai hujan. Tapi, kenapa hujan malah mendatangkan kesialan pada kehidupanku.

Nii-sama dan nee-chan pun ikut menahan tangis. Ini pertama kalinya aku melihat wajah sedih nii-sama dan nee-chan secara langsung. Biasanya aku hanya mengintip dari balik pintu kamar rumah sakit.

"Aku… tidak akan menangis!" sahut Ichigo. Aku menoleh ke arahnya. Susah payah ia menghapus air matanya yang terus mengalir. Aku terkekeh pelan, mataku masih terus menangkap bayangan wajah Ichigo.

#*#

Hujan masih setia turun di kota Karakura. Aku senang, perasaanku perlahan berubah. Kemarin hatiku masih diselimuti asap tebal, dan sekarang hujan perlahan menghapusnya.

Ichigo hebat. Baru satu hari ia kehilangan orang yang ia sayangi lebih dari siapapun itu, sekarang ia sudah dengan semangat masuk ke sekolah. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa kerutan di dahinya itu terbentuk saat ia menatap ke arah jendela yang dipenuhi tetesan air hujan.

"Hujan," lirihku. Entah apa maksudku mengucapkan kata-kata itu.

#*#

Waktu cepat berlalu. Sudah hampir 1 bulan baa-chan pergi. Ichigo masih sering menyalahkan dirinya atas meninggalnya baa-chan, dan aku hanya bisa diam melihatnya menangis sambil memukul tangannya ke dinding.

Sungguh, melihatnya seperti itu justru membuatku semakin ingin menangis. Tapi, entah mengapa air mataku tak pernah keluar. Yang keluar dari wajahku, justru wajah menyedihkan yang lebih parah dari sekedar ingin menangis.

"Naa… Ichigo," panggilku pada Ichigo di tengah perjalanan pulang.

"Ada apa?" tanya Ichigo sambil menoleh ke arahku. Sempat aku melihat genggamannya pada payungnya itu semakin menguat.

"Tidak jadi," sahutku.

#*#

Aku memasuki ruangan nee-chan. Kulihat nee-chan sedang mengupas apel.

"Tadaima!" sahutku riang. Sepulangnya dari rumah, nii-sama langsung mengantarku ke rumah sakit untuk menjenguk nee-chan.

"Ah… Okaeri, Rukia," balas nee-chan sambil menghentikan gerakan tangannya. Nee-chan tersenyum padaku dan langsung saja kubalas. Aku mencari sebuah kursi dan meletakkannya di sebelah ranjang nee-chan, lalu meringkuk naik dengan susah payah.

"Bagaimana sekolahmu?" tanya nee-chan lembut. Aku mengacungkan jempolku dan tersenyum mantap.

"Wah… ada kejadian apa?" nii-sama ikut menimpali pembicaraanku dan nee-chan.

"Saat ulangan matematika, aku mendapat nilai tertinggi!" jawabku bangga. Aku mengeluarkan sebuah kertas dari saku celanaku dan menunjukkannya pada nee-chan.

"Wah… Rukia makin pintar, ya!" puji nee-chan. Aku terkekeh pelan saat Nii-sama mulai mengelus kepalaku.

"Ah… Hisana, aku masih ada kerjaan, nanti malam aku akan menjemput Rukia," kata nii-sama tiba-tiba. Nii-sama mengecup sekilas dahi nee-chan dan dahiku, lalu perlahan menjauh dari ruangan ini.

"Nee-chan!" panggilku dan nee-chan hanya membalasnya dengan deheman pelan.

"Kira-kira… hadiah apa yang cocok untuk ulang tahun Ichigo?" tanyaku malu-malu pada Ichigo. Nee-chan menatapku sambil tersenyum nakal.

"Wah… apa Rukia ingin merayakan ulang tahun Ichigo? Apa Rukia suka Ichigo?" goda nee-chan. Senyuman nakal masih bertengger di bibirnya, membuat wajahku memerah menahan malu.

"Nee-chan! Besok lusa tanggal 15 Juli, Ichigo ulang tahun. Aku ingin memberikannya hadiah, supaya….," aku menggantungkan kalimatku dan menundukkan kepalaku. "Supaya Ichigo tidak sedih lagi," lanjutku dengan suara rendah. Nee-chan menghilangkan tatapan nakalnya. Lalu, perlahan menganggkat daguku hingga kami saling bertatapan.

"Mau tahu hadiah apa yang bisa membuat Ichigo tidak bersedih lagi?" tanya nee-chan. Kali ini senyum yang ia berikan bukanlah senyuman nakal, melainkan senyuman lembut yang perlahan mengundang senyumku.

"Apa?" gumamku.

"Hadiah yang bisa menghilangkan rasa sedih Ichigo adalah… senyuman Rukia," kata nee-chan. Aku tercengang. Apa maksudnya?

"Nee-chan!" ambekku.

"Nee-chan serius!" kata nee-chan sambil terkekeh.

"Hadiah yang kumaksud itu hadiah yang bisa dibungkus," jawabku polos.

"Hm… ternyata Rukia memang suka Ichigo, yah!" kembali nee-chan menggodaku. Dan ketika aku hendak membantah omongan itu, nee-chan langsung menyumpal mulutku dengan sepotong apel. "Apa yang nee-chan ucapkan tadi adalah hadiah yang paling bagus. Tapi, jika kau ingin hadiah yang bisa dibungkus… nee-chan sarankan untuk memberikan boneka teru-teru," kata nee-chan. Aku mengernyit bingung. Boneka teru-teru? Untuk apa?

Seakan mengerti isi hatiku, nee-chan melanjutkan perkataannya. "Karena boneka teru-teru adalah boneka pengangkal hujan, berikan Ichigo boneka itu… supaya tak ada lagi hujan di wajahnya." Aku semakin mengernyitkan dahi. Apa sebenarnya maksud dari perkataan nee-chan?

"Aduh… dasar lelet. Berikan boneka teru-teru itu supaya Ichigo tak lagi menangis. Hujan di wajah Ichigo adalah saat Ichigo bersedih dan meneteskan air matanya!" jengkel nee-chan sambil menarik pipiku. Dan aku hanya bisa terdiam mendengar penjelasan itu.


.::Do Re Mi Rintik Hujan::.


Aku sudah meminta pada kakak-kakak suster untuk memberikanku kain putih bekas dan meminjam alat gambar dari ruang anak-anak. Untunglah kakak-kakak suster itu mau mengabulkan permintaanku.

"Arigatou gozaimasu," kataku sopan sambil membungkuk. Seorang kakak suster berkulit gelap menatapku dengan senyum sumringah. Wajahnya cantik, dengan mata cokelat-caramel dan warna rambut ungu. Ah… kenapa orang-orang di sekelilingku selalu berwajah cantik? Nee-chan, Rangiku-san, kakak suster ini dan…. Baa-chan.

"Wah… Rukia-chan mau ngapain?" sahutnya sambil tersenyum padaku. Kakak suster itu lalu mengelus kepalaku pelan. Aku balik tersenyum dan menatap wajahnya, ah… jika diperhatikan dengan saksama, wajah kakak suster ini seperti kucing.

"Aku mau buat boneka teru-teru," balasku.

"Apa karena selalu hujan akhir-akhir ini? Apa di sekolah Rukia-chan ada kegiatan dan Rukia-chan tidak ingin hujan turun?" tanya kakak suster. Kakak suster menyamakan tinggi tubuhnya denganku.

"Ahahaha… kau tahu, Yoruichi-san? Dia ingin membuatkan boneka teru-teru untuk pacarnya," sahut nee-chan. Langsung saja aku menoleh ke arah nee-chan dan mengerutkan dahiku. Bibirku kukerucutkan sambil menyipitkan mataku. Kakak suster yang bernama Yoruichi ini terkekeh pelan.

"Wah… apakah pacar Rukia-chan tampan?" canda Yoruichi-nee.

"Ichigo bukan pacarku," sergahku cepat. Wajahku memanas dan kurasa sudah memerah.

"Ups… apakah tadi nee-chan mengatakan nama Ichigo?" lagi-lagi nee-chan menggodaku.

"Ugh…," ambekku diiringi kekehan kecil dari mulut nee-chan dan Yoruichi-nee.

"Sudah jadi!" sahutku girang. Tak lama setelah itu aku menguap lebar. Ah… kenapa hanya dengan membuat boneka kecil ini aku jadi ingin sekali tidur?

"Wah… wah… boneka teru-terunya lucu. Kenapa pakai tali warna orange?" tanya Yoruichi-nee sambil mengusap kepalaku. Aku mengucek mataku, lalu menatap Yoruichi-nee.

"Karena warna rambut Ichigo warnanya orange," balasku sekenanya. Dan saat itu juga aku langsung tertidur di pangkuan Yoruichi-nee.

#*#

15 Juli…. Kurosaki Ichigo, Ulang Tahun…

Sekarang aku dan Ichigo berada di rumah sakit. Hadiah yang sudah dibungkus nee-chan untuk Ichigo masih bersembunyi dibalik jaketku. Haha… sekarang musim panas, kenapa aku menggunakan jaket ya?

"Ehem…," aku berdehem pelan saat berjalan bersama Ichigo di koridor rumah sakit.

"Kenapa?" tanya Ichigo dingin. Ah… kenapa sikapnya tiba-tiba berubah? Ichigo menatapku, begitu juga denganku. Melihat kerutan di dahinya, aku jadi merasa takut. Aku menggeleng lemah, lalu mempercepat langkahku. Diikuti oleh langkah Ichigo yang ikut menyamai langkahku.

Namun, aku tersentak ketika berada di depan ruangan nee-chan. Yang kudengar dari dalam bukanlah suara tawa ria dari mulut nee-chan dan nii-sama. Kali ini aku mendengar suara tangis. Aku dan Ichigo mengintip. Kulihat nii-sama memeluk erat tubuh nee-chan. Seorang dokter berambut merah jambu dengan kacamata anehnya sedang menjelaskan sesuatu dengan wajah yang terkesan penuh penyesalan.

Nee-chan masih menangis di pelukan nii-sama hingga tiba-tiba nee-chan berteriak kesakitan sambil meremas baju di bagian dadanya. Aku dan Ichigo tersentak. Ada apa dengan nee-chan? Kulihat sang dokter mulai sibuk dengan sebuah mesin di sebelah ranjang nee-chan. Entahlah, aku tak tahu mesin apa itu. Selama ini yang kutahu mesin itu mempunyai layar yang selalu menunjukkan garis-garis tak beraturan.

Melihat nee-chan yang mulai terbatuk, sontak aku membanting pintu dan memasuki ruangan itu.

"Nee-chan!" teriakku.

"Maaf… Kuchiki-san, bisakah Anda keluar? Saya harus menangani pasien dengan cepat, jika tidak… saya tak tahu apa yang akan terjadi," kata dokter itu. Dengan cepat nii-sama menangkapku dan menggendongku. Aku masih berteriak memanggil nee-chan dan nii-sama mulai berjalan keluar ruangan. Sempat kulihat wajah nee-chan yang dipenuhi keringat. Ia tersenyum padaku. Tidak, aku… tidak ingin melihat senyum itu.

Nii-sama masih diam. Ia terus memangku tubuhku dan memeluk tubuh kecilku erat. Takut-takut aku meronta lagi dan mengganggu aktivitas rumah sakit.

Ichigo pun sama. Hanya diam, tak berkomentar. Sudah lama sekali kami menunggu di depan ruangan nee-chan.

"Apa masih lama, Nii-sama? Nee-chan kenapa? Apa nee-chan baik-baik saja?" tanyaku panik. Nii-sama menatapku dan tersenyum. Senyuman yang kubenci, sebuah senyuman paksaan.

"Nee-chan pasti baik-baik saja," lirih nii-sama, tapi aku tahu hal itu pasti bohong. "Nah… daripada menunggu nee-chan tidur, lebih baik kau main dengan Ichigo di taman rumah sakit, ya!" lanjut nii-sama dengan suara yang dibuat-buat. Aku hanya menatap wajah nii-sama. Wajahnya terlihat lelah sekali.

Melihat wajahnya itu, aku jadi tak tega untuk merepotkan nii-sama. Perlahan, aku turun dari pangkuan nii-sama. Aku membalas senyum nii-sama, lalu berlari menjauh sambil menarik tangan Ichigo.

#*#

"Woi… Rukia. Kau kenapa sih?" teriak Ichigo ketika kami tiba di taman rumah sakit.

Aku mengatur nafasku, lalu melepaskan pengangan tanganku pada lengannya. Aku terkekeh pelan ketika aku tak bisa mengatur nafasku, membuat dadaku yang awalnya terasa sesak, semakin sesak.

"hahaha…," aku kembali terkekeh. Ichigo semakin mengerutkan dahinya.

"Rukia… kau kenapa?" tanya Ichigo panik. Lagi-lagi wajah panik yang kulihat. Kenapa semua orang yang bersamaku selalu berwajah panik?

"Tanjoubi Omedetou… Ichigo," sahutku sambil menunjukkan kotak kado yang kusembunyikan di hadapan Ichigo. Ichigo terdiam, matanya menatap kotak kado yang kusodorkan. Tiba-tiba, semburat merah keluar dari wajahnya, hal yang sama terjadi padaku.

"A… Arigatou," sahut Ichigo sambil menyambut hadiah itu. Ichigo lalu mengajakku untuk duduk di satu bangku taman.

"Boleh kubuka?" tanyanya pelan. Aku mengangguk sambil melempar senyum padanya.

Dengan antusias Ichigo membuka kotak kado itu. Namun, ekspresi yang ia berikan justru membuatku mengerutkan dahi. Apa dia tak suka dengan hadiahku?

"Boneka teru-teru?" tanya Ichigo dengan nada sedikit tinggi. Aku semakin mengembangkan senyumku dan mengangguk kuat. "Untuk apa?" tanya Ichigo lagi.

"Supaya… hujan di wajah Ichigo tak lagi turun," kataku lembut sambil memegang wajah Ichigo dengan kedua tanganku. Wajahku dan wajah Ichigo sungguh dekat. Aku tersenyum lembut padanya, dan ia membalasnya, diikuti semburat merah menghiasi wajahnya.

"Arigatou!" balasnya pelan. "Hehe… aku jadi makin suka pada Rukia," lanjutnya sambil terkekeh. Aku ikut-ikutan terkekeh. Sejujurnya, aku sama sekali tak mengerti arti dari kata suka yang dikatakan oleh Ichigo. Dalam pikiranku, arti kata suka adalah 'menyenangkan untuk diajak bermain'. Hahaha… jika begitu, aku juga menyukai Ichigo.

"Hehe… aku juga suka Ichigo," sahutku polos dan hanya diiringi semburat merah di wajah Ichigo.

#*#

.

.

.

TBC

Pohahahahahahahahahahahahaha …. Kali ini isinya flashback. Maaf…. Karena di chapter 1 Ichi bilang ada sebuah kejutan. Sekali lagi Ichi mintaa maaf karena kejutannya dibatalkan –-" mungkin… mungkin…. Kejadiannya akan ditunjukkan di chapter selanjutnya.

Gimana isinya? Gajekah? Hahaha…. Gomen ne! chapter selanjutnya akan tetap menceritakan flashback, tapi gak lama kok!

Terima kasih sudah membaca. Saya punya sebuah permintaan

R P

E L

V E

I A

E S

W E

Tolong tunggu chapter selanjutnya yah… ^^/