Do Re Mi Rintik Hujan

Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

Rated : T

Genre : Friendship, Romance, Hurt/Comfort, Family

Warning : OOC, Typo(s)?, AU, GaJe, Abal

Ini fic gak pernah saya baca ulang. Jadi, kalau ada kesalahan kata, nama tertukar, dan lain-lainnya harap dimaklumi atau marahi author lewat review. Dan saya camkan sekali lagi, fic ini adalah fic request, isinya hanyalah cerita abal yang sempet nongkrong di otak author

*Maaf seperti review dari Ray-san, baa-chan itu artinya nenek, bukan bibi. Saya benar-benar minta maaf karena membuat isinya jadi aneh binti ajaib. Oke… lanjutkan!


Balasan review buat yang gak login

Guest : thx for RnR. Ini lanjutannya ^^/

Bleachmegafan01 : as your wish, master. Ini dia cerita mengenai kepergiaan nee-chan. Nee-channya itu Hisana


Don't Like, Don't Read, so…

Enjoy it!

.

.

.

Chapter 3

.

.

.

Perasaanku kembali tenang ketika Ichigo dengan senangnya mengatakan bahwa dia menyukaiku. Haha… aku juga suka bermain dengannya, jadi kukatakan saja aku juga menyukainya. Tapi, kenapa wajahnya memerah? Ah… lupakan! Itu tak penting. Yang terpenting adalah sekarang aku kembali bisa melihat senyum Ichigo dan tatapan yang dia keluarkan bukanlah tatapan sedih melainkan tatapan lembut.

Sekarang aku dan Ichigo sedang berjalan menuju ruangan nee-chan, siapa tahu nee-chan sudah bisa ditemui. Namun, mengenang kondisi terakhir nee-chan malah membuatku murung.

Kurasakan genggaman tangan Ichigo menguat. Aku menatapnya, dan dia tersenyum lembut padaku. Langsung saja kubalas senyumannya. Sejujurnya, senyuman yang kubalas adalah senyuman paksaan.

"Tenang saja… nee-san pasti baik-baik saja," hibur Ichigo. Sekarang aku benar-benar tersenyum tulus mendengar hiburan Ichigo, walaupun aku tidak sepenuhnya yakin dengan ucapan itu.

"Nah… Ojou-sama, sebaiknya Anda hilangkan kerutan di dahi Anda itu," hibur Ichigo lagi sambil menyentil keningku. Sontak membuatku terkaget dan langsung saja menonjok perutnya.

"A… aduh… I.. Itaibaka!" lirihnya sambil mengelus perutnya. Aku tertawa renyah melihat ekspresi yang ia keluarkan.

"Siapa yang salah? Kenapa kau malah menyentil kepalaku?" ambekku padanya. Aku balik menggenggam tangan kiri Ichigo. Selama kami berdebat, kami sama sekali tak melepaskan genggaman ini. Genggaman tangannya begitu hangat.

"Ya… ya… aku salah. Baiklah, ayo kita ke ruangan nee-san!" ajak Ichigo sambil menarik tanganku. Langsung saja aku menyamakan langkahku dengan larinya. Kami saling melempar tawa, merasakan kehangatan dari tangan masing-masing.

#*#

Aku melihat Nii-sama masih terduduk di depan pintu ruangan nee-chan. Kekehan kecil keluar dari mulutku melihat nii-sama ternyata tertidur, namun hal itu langsung hilang melihat wajah nii-sama yang ternyata pucat dan mengeluarkan banyak keringat.

Pelan-pelan aku melepaskan genggaman tangan Ichigo. Untunglah ia mau melepaskannya setelah melihat wajah khawatirku.

Perlahan aku mendekati nii-sama, wajahnya terlihat sangat lelah. Kerutan muncul di pelipisnya. Keringat juga memenuhi wajahnya. Hal ini membuatku sedikit takut hanya untuk melihat wajah nii-sama.

Sreet… kulap keringat di dahi nii-sama dengan lengan jaketku. Saat itu juga nii-sama mulai bergerak tak nyaman. Dan kulihat mata nii-sama mulai membuka perlahan. Kujauhkan segera lenganku dari kening nii-sama.

"Ru… Rukia," nii-sama tersentak saat melihatku di depannya. Kerutan di dahinya semakin banyak, membuatku semakin ketakutan melihat wajahnya.

"Nii-sama kenapa? Bagaimana dengan nee-chan?" tanyaku takut. Nii-sama mengernyit sebentar, lalu menunjukkan senyuman palsunya. Senyuman terpaksa.

"Nii-sama tidak apa-apa kok. Nee-chan juga sekarang sedang tidur," kata Nii-sama. Aku percaya saja mendengar penuturan itu. Karena aku sudah tidak lagi mendengar suara riuh dari dalam ruangan nee-chan.

"Bolehkah aku melihat nee-chan?" tanyaku.

"Maaf, Rukia-chan. Nee-chanmu sedang tidur," kata seseorang di belakangku. Langsung saja aku menoleh menatap siapa yang ada di belakangku. Hal yang sama dilakukan nii-sama dan Ichigo.

"Yo… Yoruichi-nee!" sahutku. Seulas senyuman muncul di bibirku saat menatap Yoruichi-nee, sayangnya senyuman itu hilang ketika aku memperhatikan tatapan dan senyuman yang dikeluarkan Yoruichi-nee hanyalah senyuman paksaan. Jangan meremehkan aku, walaupun aku hanyalah seorang anak berumur 8 tahun, bukan berarti aku tidak bisa membaca emosi seseorang lewat ekspresi mereka.

"Bohong!" lirihku sambil menunduk. "Kalian bohong!" teriakku. Yoruichi-nee, nii-sama, dan Ichigo tersentak melihat ekspresi wajahku yang terkesan marah.

"Ru… Rukia-chan," Yoruichi-nee mulai menenangkanku. Aku masih menatapnya penuh amarah.

"Kalian bohong!" sahutku lagi. "Bohong… kalian bohong!" teriakku sambil meronta ketika Yoruichi-nee mulai memegang pundakku. "Jangan membohongiku!" jeritku kuat.

"RUKIA!" aku tersentak ketika tiba-tiba Nii-sama membentakku. Aku menelan ludah, rasa marah nii-sama sangat kentara di wajahnya. Aku menahan sesenggukan dan air mataku, keringat dingin sedikit keluar dari pelipisku. Kurasa wajahku sudah memucat.

"Ma… maafkan aku," sesalku sambil menunduk. Aku masih menahan tangisku. Tidak… aku tidak mau menangis. Ba-chan dan nee-chan sangat tidak suka melihat tangisku.

Kuremas jari-jari tanganku dan kugigit bibir bagian bawahku. Menahan tangis dan emosiku. Tidakkah kalian merasa aneh? Anak kecil berumur 8 tahun sudah sok mengerti arti kata emosi.

Perlahan kerasakan sebuah pelukan hangat. Kubuka mataku dan melihat siapa yang memelukku. Aku tercengang, melihat nii-sama memelukku erat. Samar-samar kudengar suara sesenggukan dari mulut nii-sama.

"Maafkan aku," lirihnya. Suaranya bergetar, membuat air mataku hampir saja menjebol bendungannya. Kulihat, Yoruichi-nee ikut sesenggukan. Ichigo hanya menatapku sendu. Situasi apa ini? Aku tak suka situasi ini. Padahal tadi aku masih tersenyum dan tertawa bersama Ichigo. Tapi, kenapa sekarang suasananya berubah suram?

"Hue….," tangisku meledak dan langsung saja aku memeluk erat nii-sama.

#*#

Nii-sama menyeka air mata di pipiku. Matanya sendu menatap wajahku.

"Rukia. Nee-chan tidak apa-apa. Dia baik-baik saja, jangan khawatir," hibur nii-sama. Aku mengangguk kuat diiringi suara sesenggukanku. Kupaksakan senyumanku, agar kekhawatiran nii-sama berkurang.

"Anak pintar," sahut nii-sama sambil mengelus kepalaku.

"Jadi… apa sekarang aku bisa melihat nee-chan?" tanyaku antusias. Di saat yang bersamaan, dokter yang tadi menangani nee-chan keluar dari ruangan nee-chan. Ia melepas kacamatanya dan memijit pangkal hidungnya. Aku sedikit ketakutan saat melihat kerutan di dahinya.

"Ah… Szayel-sensei," panggil Yoruichi-nee sambil mendekati dokter itu. Langsung saja nii-sama melepaskan pelukannya dan mendekati dokter itu.

Perlahan, Ichigo mendekatiku. Ia kembali menggenggam tanganku yang terus saja gemetaran. Kulihat ia tersenyum sendu padaku, kurasakan tangannya juga gemetaran.

"Tenang saja, nee-san akan baik-baik saja," sahutnya pelan. Aku tersenyum mendengar perkataan itu.

Aku dan Ichigo mengalihkan pandangan kami pada 3 orang dewasa yang sedang berbincang itu. Wajah ketiganya seakan-akan menunjukkan bahwa keadaan sekarang bukanlah keadaan yang baik. Kembali aku menggigit bibir bawahku, berusaha menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang sempat terlintas di otakku.

"Ini buruk… penyakitnya semakin parah," kudengar dokter itu berbicara sambil menggelengkan kepalanya.

"Lalu… a… apa yang harus dilakukan, dokter?" tanya nii-sama panik. Dokter itu terdiam, melirikku dan Ichigo yang sedang mencuri dengar pembicaraan mereka.

"Maaf.. Kuchiki-san, lebih baik kita membicarakan hal ini di ruangan saya. Ah… Yoruichi-kun, tolong minta sampel *sputum 2 anak itu, kulihat mereka sering sekali mengunjungi nyonya Kuchiki, jadi ada baiknya mereka diperiksa," kata dokter itu. Yoruichi-nee menunduk, tanda mengerti. "Anda juga, Kuchiki-san."

Nii-sama menurut apa yang dikatakan oleh dokter itu, dan perlahan menjauh dari pintu ruangan nee-chan. Melihat hal itu, langsung saja aku melangkahkan kakiku mengikuti mereka. Namun, langkahku terhenti saat Yoruichi-nee menunduk di depanku.

"Nah… Rukia-chan, Ichigo-kun… ayo ikut nee-chan," kata Yoruichi-nee sambil tersenyum. Lagi-lagi senyuman palsu.

"Kita mau kemana? Apa yang nii-sama lakukan dengan orang itu?" tanyaku. Aku menatap wajah Yoruichi-nee panik.

"Mereka sedang membicarakan sesuatu. Dan itu adalah rahasia orang dewasa… ayo, ikut nee-chan," kata Yoruichi-nee sambil kembali memberiku senyum palsu. Aku menguatkan genggaman tanganku pada Ichigo.

"Tenanglah, Rukia! Ayo.. kita ikuti Yoruichi-nee," sahut Ichigo sambil menuntunku mengikuti langkah Yoruichi-nee. Dengan terpaksa aku mengikuti langkah Yoruichi-nee. Sekelebat perasaan takut menghantuiku. Kami-sama kuharap aka da hal menyedihkan lagi dalam lembaran hidupku.


.::Do Re Mi Rintik Hujan::.


Yoruichi-nee menyuruhku dan Ichigo duduk. Aku hanya celingak-celinguk menatap isi ruangan ini. Baunya aneh, isinya aneh, foto-foto yang terpajang di dinding pun membuatku sedikit bergidik. Ichigo melepaskan genggaman tangannya padaku ketika kami akhirnya berada di depan kursi.

"Apa yang mau kita lakukan, nee-chan?" tanyaku sambil meringkuk naik ke atas kursi yang lumayan tinggi itu. Ichigo melakukan hal yang sama denganku.

"Hehe… nee-chan ingin memeriksa kalian," kata nee-chan sambil mengobrak-abrik isi dari lemari kaca di sebelah tempatku duduk. Namun, yang diambil Yoruichi-nee hanyalah sebuah papan dan kertas.

"Aku tak mau disuntik," ambekku. Menerka apa yang akan dilakukan Yoruichi-nee adalah menyuntikku. Tidak, aku tak suka disuntik. Itu menyakitkan.

"Memangnya nee-san mau menyuntik pakai papan?" sindir Ichigo. Aku memicingkan mataku padanya, dan hanya kekehan yang keluar dari mulutnya.

"Baiklah… sekarang nee-chan tanya, apa kalian sering batuk?" tanya Yoruichi-nee sambil berdiri di depanku dan Ichigo. Aku dan Ichigo menggeleng pelan. Nee-chan lalu menuliskan sesuatu di kertas yang ia aka da menggunakan papan.

"Apakah gigi kalian ada yang berlubang?" tanya Yoruichi-nee lagi, dan kali ini tetap gelengan yang aku dan Ichigo balas.

Merasa bahwa omongan kami hanyalah sebuah kebohongan, Yoruichi-nee mendekatkan tangannya ke rahangku dan menginstruksikanku untuk membuka mulutku. Aku menurut dan membuka mulutku lebar-lebar.

"Hati-hati… nee-san, nanti nee-san bisa pingsan mencium bau mulut Rukia," sindir Ichigo. Langsung saja aku menutup mulutku dan mendelik ke arahnya. Ichigo hanya tertawa mengejek.

Yoruichi-nee ikut terkekeh, lalu beralih pada mulut Ichigo. Saatnya balas dendam.

"Wah… Yoruichi-nee, hati-hati… biasanya makhluk hidup akan mati seketika kalau mencium bau mulut baka orenji itu," sindirku dan langsung saja Ichigo menutup mulutnya, membuat Yoruichi-nee tersentak. Ichigo menatapku kesal. Dan aku hanya tersenyum nakal. Cih… salah siapa juga?

"Sudah… sudah…," lerai Yoruichi-nee sambil kembali mencatat sesuatu di kertas yang ia pegang. Aku dan Ichigo masih saling melempar tatapan membunuh.

Tok… tok… tiba-tiba pintu ruangan ini diketuk. Aku dan Ichigo mengalihkan pandangan kami sejenak.

"Masuk," kata Yoruichi-nee dengan nada berwibawa. Dan pintu ruangan pun dibuka.

"Ada apa? Isane?" tanya Yoruichi-nee pada seorang perempuan berambut kelabu yang baru saja masuk ke ruangan ini.

"Ano… ada yang mengatakan ingin bertemu dengan Rukia-chan dan Ichigo-kun," kata Isane-nee pelan. Mendengar namaku disebutkan, aku hanya bisa mengernyit. Yoruichi-nee mengangguk pelan dan Isane-nee menunduk sebentar dan mempersilakan orang yang mencariku dan Ichigo masuk.

"Oyaji!" teriak Ichigo ketika melihat orang yang masuk ke ruangan itu adalah ji-san. Ji-san masuk dengan tenang. Aku sedikit terkekeh melihat tingkahnya kali ini yang terkesan sangat berwibawa, padahal biasanya dia akan berteriak seperti orang gila.

"Ah… kebetulan sekali, Kurosaki-san," sahut Yoruichi-nee. Ia meletakkan papan itu di atas meja lalu berjalan perlahan mendekati ji-san.

"Ada apa?" tanya ji-san dengan suara beratnya. Aku dan Ichigo hanya diam memperhatikan mereka. Aneh, seingatku tadi kami sedang berkelahi. Secara batin!

"Ehem… begini, Szayel-sensei meminta saya untuk memeriksa Rukia-chan dan Ichigo-kun, apakah mereka tertular penyakit nonya Kuchiki, eerrr… bisakah Anda menyampaikan hal ini pada tuan Kuchiki nanti?" tanya Yoruichi-nee ramah. Jii-san mengangguk lemah.

"Ah… hal ini juga ingin saya katakan pada Anda. Tolong… Anda berikan sampel dahak Ichigo-kun, Rukia-chan, dan tuan Kuchiki pada saya, selama 3 hari berturut-turut."

"Dahak? Mereka tidak sedang batuk, jadi bagaimana mengambilnya?" tanya Ji-san.

"Ah.. kalau masalah itu mudah. Pagi hari ketika mereka bangun tidur, Anda tinggal memberikan air dingin untuk mereka minum, nanti pasti tenggorokan mereka akan berlendir dan tinggal menyuruh mereka untuk mengeluarkan dahak itu," jelas Yoruichi-nee.

"Baiklah. Tapi, mungkin… kau harus mengatakan hal ini pada Byakuya langsung. Rukia dan Ichigo biar aku yang urus, kemungkinan besar Byakuya akan terus menginap di rumah sakit melihat keadaan Hisana yang semakin parah," lirih Ji-san. Ekspresi wajahku berubah. Lagi. Perasaan takut kembali menghantuiku. Ada apa dengan nee-chan? Apa penyakit nee-chan semakin parah? Seberapa parah? Aku tidak cukup mengerti untuk menangkap itu semua.

"Baiklah. Terima kasih banyak atas bantuannya," sahut Yoruichi-nee sambil tersenyum. Yoruichi-nee lalu mengambil sebuah tabung kecil berbentuk bulat dari dalam lemari kaca di sebelahku. Aku masih bergeming, melihat gerak-gerik Yoruichi-nee sambil mengatur nafasku yang mulai tak beraturan.

"Ini, gunakan tabung preparat ini sebagai wadahnya," kata Yoruichi-nee. Ia memberikan 2 buah tabung aneh itu pada ji-san, dan ji-san hanya mengangguk lemah. "Jika Anda sudah mendapatkannya, langsung berikan pada saya," tambah Yoruichi-nee dan kembali ji-san mengangguk lemah.

Aku dan Ichigo bergeming. Saling berusaha memahami pembicaraan memusingkan itu. Tabung preparat? Dahak? Kata-kata yang tak pernah kudengar itu benar-benar membuatku melupakan hal yang seharusnya kupikirkan, keadaan nee-chan.


.::Do Re Mi Rintik Hujan::.


Hujan turun ketika akhirnya aku, Ichigo, dan Ji-san tiba di rumah kediaman Kurosaki. Nii-sama mengatakan padaku untuk menginap saja di rumah Ji-san, karena itu permintaan nii-sama, jadi kuturuti.

"Apa yang kau lakukan, Ichigo?" tanyaku pada Ichigo saat melihatnya sedang bersusah payah meraih sesuatu di atas kaca beranda dengan sebuah kursi. Sekarang aku ada di kamar Ichigo, biasanya kami akan mengerjakan PR bersama.

"Menggantung boneka teru-teru," jawab Ichigo datar. Kulihat ia sedang menggantung boneka teru-teru pemberianku. Setelah ia mengikat tali itu di sudut kaca beranda, ia turun dari kursi.

"Kenapa menggantungnya di dalam?" tanyaku. Aku lalu duduk di tepi ranjang Ichigo.

"Sayang kan kalau basah," sahut Ichigo malu-malu, kulihat semburat merah keluar dari wajahnya yang (entah mengapa) membuatku sedikit merasa senang.

"Baiklah… nah… bagaimana kalau sekarang kita mengerjakan PR?" tawarku sambil melempar senyum pada Ichigo.

"Nanti saja ah…" kata Ichigo malas.

Aku terdiam menatapnya. Aku benar-benar takut sekarang untuk melihat wajah Ichigo. Entah sejak kapan kerutan itu mundul di dahinya. Terus muncul dan tak pernah menghilang.

#*#

Besoknya, ji-san menyuruhku dan Ichigo untuk meminum air dingin pagi-pagi. Hal itu sukses membuatku menggigil. Namun, anehnya aku merasa tenggorokanku berlendir.

"Ji-san," panggilku serak. Aku mengernyit menatap Ji-san yang sedang makan.

"Ada apa, Rukia-chan?"

"Tenggorokanku aneh," lirihku. Ji-san tersentak, lalu mengeluar sesuatu dari dalam kantong jasnya, 2 buah tabung pipih. Ia lalu meletakkan tabung itu di depanku dan Ichigo.

"Oyaji, ini untuk apa?" tanya Ichigo yang suaranya tak kalah seraknya denganku.

"Buang lendir dalam tenggorokan kalian di situ," jawab ji-san. Aku sempat melongo mendengar hal itu. Bagaimana tidak, aku disuruh mengeluarkan lendir di tenggorokanku ke dalam tabung aneh ini. Itu hal jorok.

"Kenapa, Rukia?" tanya Ichigo mengagetkanku. Aku melirik Ichigo. Ia sudah mengeluarkan lendir di tenggorokannya ke dalam tabung itu. Rasanya isi perutku sudah saling berdesakan ingin keluar.

"Sudahlah… tidak usah jijik begitu, Rukia!" sahut Ichigo. Lalu menelan ludah dengan susah payah. Perlahan aku memegang kulit leherku dan mulai mengeluarkan lendir itu.

3 hari, ji-san sudah melakukan hal itu selama 3 hari berturut-turut. Menyuruhku mengeluarkan lendir bernama dahak itu dari tenggerokanku. Membuatku selalu kehilangan nafsu makan dan hampir muntah setiap kali mengingat hal itu.

Tapi, ada hal lain yang sekarang membuatku risih. Sudah tiga hari aku tak melihat nii-sama dan tiga hari pula aku dilarang bertemu dengan nee-chan. Ditambah lagi, ternyata boneka teru-teru yang kuberikan pada Ichigo itu sangat manjur. Hujan sama sekali tak turun. Menyebalkan.

"Ji-san. Bolehkah hari ini aku menemui nee-chan?" tanyaku pada ji-san. Sekarang ji-san baru saja menjemputku dan Ichigo.

"Cengeng banget sih… baru 3 hari gak ketemu udah begini. Gimana kalau seandainya nee-san sudah nggak ada," sahut Ichigo. Aku terdiam, langahku terhenti, tiba-tiba saja jantungku mulai berpacu lebih cepat dari biasanya. Perasaan takut mulai menghantuiku. Tanpa kusadari air mataku jatuh. Tidak… perkataan Ichigo tidak benar. Aku tahu maksudnya. Aku tahu maksud dari kata 'nggak ada' yang diucapkan Ichigo adalah 'mati'.

Tubuhku bergetar. Kugigit bibir bawahku sambil menunduk, berharap ji-san dan Ichigo tak melihatnya. Aku bisa mendengar dengan jelas panggilan panik dari mulut ji-san dan Ichigo.

"Ru… Rukia… maafkan aku. Aku tidak bermaksud…" kalimatnya terdengar penuh penyesalan. Aku bergeming, sama sekali tak menghiraukan kata-kata itu. Aku masih terus diam menahan tangis. Pikiran-pikiran aneh mulai terbayang di kepalaku.

Aku meremas kepalaku, terus menggeleng, berharap pikiran-pikiran aneh itu menghilang. Hingga tiba-tiba tangisku berhenti saat aku merasakan sebuah pelukan hangat ditubuhku. Kuberanikan diri untuk membuka mataku dan melihat siapa yang baru saja memelukku.

"Ichi… go?" kataku pelan. Ichigo memelukku erat.

"Maaf… maafkan aku. Aku tak akan mengatakan hal seperti itu lagi, jadi… jangan menangis," sahutnya dengan suara sedikit bergetar. Entah mengapa mendengar perkataan Ichigo membuatku merasa nyaman. Pikiran-pikiran aneh yang sempat melayang di otakku perlahan pergi.

Aku tersenyum lembut, lalu dengan iseng mencubit perut Ichigo.

"Jangan cengeng!" sindirku padanya. Dan langsung saja ia menatapku jengkel. Ia melepas pelukannya dan mulai menarik pipiku.

"Sudah baik dihibur," jengkelnya. Aku berusaha melepas jari-jarinya yang masih menarik pipiku.

Ichigo menjauhkan tangannya saat melihat ji-san mengelus lembut kepalaku. Aku dan Ichigo menatap wajah ji-san. Ia tersenyum lembut padaku.

"Tenang saja. Sekarang kita akan menemui nee-chanmu. Jangan menangis, ya," hibur ji-san. Senyuman langsung mengembang di bibirku.

"Benarkah?" tanyaku antusias. Kembali ji-san tersenyum lembut dan mengangguk pelan. Aku bersorak, akhirnya bisa pergi menjenguk nee-chan.


.::Do Re Mi Rintik Hujan::.


Sebelum menemui nee-chan, ji-san mengajakku dan Ichigo untuk menemui Yoruichi-nee.

"Konnichiwa, Kurosaki-san, Rukia-chan, Ichigo-kun," sahut Yoruichi-nee. Ia tersenyum lembut pada kami ketika kami memasuki ruangannya.

"Bagaimana?" tanya ji-san langsung. Aku terdiam, apa maksud pertanyaan ji-san? Dan lagi, kenapa wajah ji-san terlihat seperti ketakutan?

"Tenang saja Kurosaki-san, setelah diperiksa… mereka negative," kata Yoruichi-nee dengan senyum khasnya. Ji-san mengelus dadanya dan menghela nafas lega. Aduh… sebenarnya apa maksud dari semua ini?

"Baguslah. Kalau begitu," kata ji-san. "Otsukaresamadeshita," lanjutnya.

"Otsukaresamadeshita," balas Yoruichi-nee.

"Kalau begitu aku ingin menjenguk Hisana, bolehkah sekarang ia dijenguk?" tanya ji-san.

"Ah… Nyonya Kuchiki sekarang sedang ada di taman bersama tuan Kuchiki," kata Yoruichi-nee lembut. Aku, ji-san, dan Ichigo menunduk pelan untuk pamit, kemudian keluar ruangan untuk menemui nee-chan di taman. Akhirnya… akhirnya… akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan nee-chan.

Aku terdiam. Menatap nee-chan yang sedang menangis di pelukan nii-sama. Lagi-lagi aku mendapati nee-chan meneteskan air matanya.

Aku mengernyit, menatap nii-sama yang sekarang mulai ikut menangis.

"Rukia… apa yang kau lakukan? Ayo… nee-san sudah menunggumu!" teriak Ichigo sambil menarik tanganku. Dengan berat hati aku mengikuti langkah Ichigo.

Saat aku, Ichigo, dan ji-san mendekat nee-chan langsung menyeka air matanya dan tersenyum padaku. Lagi-lagi senyuman yang sama, senyuman paksaan.

"Wah… ada Ichigo-kun dan Rukia," kata nee-chan. Perlahan, aku memeluk tubuh nee-chan yang sedang duduk di kursi roda. Kueratkan pelukanku, merasakan kehangatan dari tubuh nee-chan. Terus memeluknya seakan-akan ini hari terakhirku memeluknya.

Lagi, air mataku tak dapat dibendung lagi. Mengingat perkataan Ichigo tadi membuatku ingin terus menangis.

"Lho… Rukia kenapa?" tanya nee-chan panik. Aku masih menahan sesenggukanku, mengeratkan pelukanku pada nee-chan dengan tangan bergetar.

"Nee.. nee-chan tak akan pergi kan? Nee-chan tak akan pergi seperti ba-chan kan?" rengekku. Nee-chan tersentak pelan. Kulihat dahinya berkerut. Perlahan ia mengusap air mata yang membasahi pipiku, tersenyum lembut padaku.

"Tidak…. Nee-chan tidak akan pergi. Tapi, dengan 1 syarat," kata nee-chan. Dapat kulihat air mata sudah membendung di pelupuk matanya. Sambil menahan sesenggukan, aku bertanya, "Apa?"

"Berjanjilah… berjanjilah… Rukia tak akan menangis lagi. Nee-chan benci melihat hujan di wajah Rukia, tapi nee-chan tidak ingin Rukia membenci hujan di langit, karena hujan di langit selalu membawa hal-hal baru untuk dunia kita," kata nee-chan, air matanya mengalir. Dengan tangan bergetar, aku menyekanya.

"Nee-chan… itu sudah lebih dari 1 syarat," ambekku. Nee-chan tertawa getir, lalu balik memelukku, sesekali ia menggelitikiku, membuatku tak henti-hentinya terkikik.

"Hai… hai… nah… apakah Rukia mau membantu nee-chan?" tanya nee-chan sambil tersenyum.

"Apa?" tanyaku balik.

"Bisakah Rukia dan nii-sama mengambil jaket nee-chan di ruangan nee-chan?" kata nee-chan. Aku mengangguk semangat , lalu menarik tangan nii-sama. Sejujurnya, aku sedikit tersentak saat merasakan tangan nii-sama bergetar dan wajahnya yang terus mengeluarkan kerutan di dahinya. Ada apa? Apa nii-sama marah padaku?

"Nii-sama," panggilku.

"Ada apa?" tanya nii-sama dan saat itulah aku melihat air mata mengalir dari pelupuk matanya.

"Kenapa nii-sama menangis?" tanyaku.

"A… Ah… nii-sama tidak menangis, hanya kemasukan debu. Ah… Rukia pergi menemui nee-chan saja, biar nii-sama yang mengambil jaket nee-chan," kata nii-sama sambil tersenyum. Senyum ini lagi!

"Benarkah?" tanyaku pelan. Nii-sama mengangguk. Langsung saja aku melepaskan genggaman tangan nii-sama dan berlari menuju taman rumah sakit.

Aku sedikit mengurangi kecepatan lariku saat merasakan hujan turun.

"Nee…." Baru saja aku ingin berteriak memanggil nee-chan saat melihat nee-chan memeluk tubuh Ichigo. Air mata terus mengalir di matanya.

Disinilah aku, diam, menatap nee-chan yang terus menangis. Tak memedulikan air hujan yang membasahi tubuhku. Setidaknya aku bersyukur, karena dengan adanya hujan, air mata nee-chan sedikit tersamar.

"Maukah kau berjanji pada nee-san, Ichigo-kun?" tanya nee-chan.

"Apa itu, nee-san?"

"Maukah kau berjanji untuk tidak membuat Rukia menangis lagi? Maukah kau berjanji untuk membuat Rukia tersenyum? Maukah kau berjanji untuk terus berada di sampingnya dan mencegah hujan di wajahnya turun?" nee-chan mulai berkata dengan keras. Apa maksudnya nee-chan mengatakan itu?

"Tapi… nee-san…" Ichigo baru saja ingin berargumen, ji-san langsung memotong.

"Maukah kau mengabulkan permintaan nee-sanmu itu, Ichigo?" sela ji-san dengan suara beratnya. Ichigo terdiam sejenak, lalu mengangguk mantap.

"Baiklah…" jawabnya mantap. Kulihat nee-chan tersenyum lembut dan… tubuhnya perlahan tumbang.

"NEE-CHAN!" teriakku sambil berlari menemui nee-chan.

"Nee-san… nee-san kenapa?" sahut Ichigo panik. Perasaan takut kembali menghantuiku, perasaan ini sama seperti perasaan hari itu. Perasaan takut saat ba-chan… meninggal.

"HISANA!" kulihat nii-sama berlari menyusulku, lalu menggendong tubuh nee-chan. Tanpa memedulikanku dan yang lainnya, nii-sama langsung berlari membawa nee-chan ke dalam rumah sakit. Tak peduli dengan aku yang terjatuh karena tak sengaja tersenggol.

"Rukia… kau baik-baik saja?" tanya Ichigo sambil membantuku berdiri. Lagi-lagi aku menangis, langsung saja aku memeluk Ichigo.

"Nee-chan kenapa?" tanyaku takut. Aku mengeratkan pelukanku, berusaha mengurangi ketakutanku. Tubuhku bergetar menahan rasa takut.

"Aku tidak tahu… jangan menangis, Rukia. Sudahlah.. ayo kita susul Oyaji dan Byakuya," kata Ichigo. Aku bisa merasakan nada takut dan khawatir dari kata-katanya. Kami-sama, apakah aku harus menerima kenyataan pahit lainnya?


.::Do Re Mi Rintik Hujan::.


Nii-sama terus mondar-mandir di depan ruangan ini. Entah ruangan apa ini, ruangan ini bukanlah ruangan nee-chan yang biasanya.

"Nii-sama… nee-chan kenapa?" tanyaku tuk kesekian kalinya sambil menarik-narik baju nii-sama. Nii-sama tersentak lalu menatapku, wajahnya begitu pucat, matanya pun bengkak.

"Tidak apa-apa… nee-chan baik-baik saja," hibur nii-sama. Aku tahu itu bohong. Mana mungkin nee-chan masih baik-baik saja kalau nii-sama saja sudah panik seperti ini.

Aku tak mau membuat nii-sama merasakan ketakutan yang kualami. Kupeluk kaki nii-sama kuat.

"Kalau begitu nii-sama jangan menangis," rengekku. Perlahan nii-sama melepaskan pelukanku, lalu menggendongku di tangannya.

"Iya…. Nii-sama… tidak akan menangis," sahutnya sambil menenggelamkan kepalanya di bahuku. Kueratkan pelukanku.

"Kita hanya perlu menunggu," kata ji-san lembut.

"Terima kasih… Isshin. Tak apa, kau bisa pulang… bagaimana dengan 2 anak perempuanmu itu? Mereka pasti kesepian," sahut nii-sama.

"Aku akan tetap di sini. Tenang saja, Yuzu dan Karin sudah kutitipkan pada Rangiku," jawab ji-san lembut.

Hujan semakin lebat. Hatiku bergemuruh.

Langit mengamuk. Terus meraung menemaniku.

Burung berkicau. Berharap hujan berhenti.

Aku bergeming. Mendoakan hal yang sama.

Hujan berhentilah! Biarkan aku merasakan kenyamanan dunia.

Kenyamanan dunia tanpa awan hitam di dalamnya.

#*#

Sudah cukup lama sejak nee-chan masuk ke dalam ruangan itu. Aku masih berada dalam gendongan nii-sama, terus berdoa agar rasa ketakutan yang kurasakan hanyalah hayalanku saja.

Cklek!

Pintu ruangan itu terbuka. Nii-sama langsung menurunkanku. Membiarkanku dan Ichigo terpaku mendengarkan pembicaraan mereka.

Ji-san dan nii-sama masih diam. Menunggu sebuah kata terlontar dari mulut sang dokter.

Sang dokter memijit pangkal hidungnya. Kemudian melepas masker yang menutupi mulutnya.

"Maafkan saya… Kuchiki-san," lirihnya.

"TIDAK! HISANA…. HISANA… JANGAN BERCANDA DOKTER!" teriak nii-sama histeris. Ji-san memalingkan wajahnya. Nii-sama berusaha menerobos masuk ke dalam ruangan itu.

"Maafkan saya… Kurosaki-san, saya sudah berusaha sebisa mungkin," lirih dokter itu pada ji-san. Ji-san menepuk bahu dokter itu pelan.

"Terima kasih," sahut ji-san.

Aku masih bergeming. Berusaha menarik pikiranku ke realita. Berusaha mencerna setiap perkataan yang terlontar dari mulut orang-orang dewasa itu.

Perlahan, kakiku menarikku untuk memasuki ruangan itu. Berkali-kali aku menepis tangan Ichigo yang berusaha menahanku.

Mataku membulat melihat apa yang ada di depanku.

Tubuh nee-chan terkulai lemas di atas ranjang. Nii-sama terus memeluk tubuh ringkih itu. Tubuh ringkih itu sama sekali tak merspon pelukan nii-sama. Sama sekali berbeda dengan biasanya. Biasanya tubuh ringkih itu akan langsung membalas pelukan nii-sama.

"Nee…chan," lirihku. Sekarang aku sadar, nee-chan sudah pergi. Untuk kedua kalinya aku harus menerima kenyataan pahit bahwa orang yang kusayangi telah pergi.

tak ada lagi senyuman di bibir nee-chan. Bibir itu hanya tertutup rapat. Bibir pucat yang sudah membiru itu sama sekali tak mau membuka sekalipun nii-sama berteriak keras.

Air mataku tak keluar. Terus menahan diri agar tak lagi membasahi pipiku.

Perlahan aku berjalan mendekati nii-sama dan nee-chan. Menggenggam tangan nee-chan yang perlahan mendingin. mendengar jeritan histeris dari mulut nii-sama. Melihat wajah nee-chan yang memucat. Mencium harum tubuh nee-chan untuk yang terakhir kalinya. Meraba kulit nee-chan untuk selalu kuingat.

Kulihat Ichigo ikut murung melihat nee-chan. "Nee-san wa baka," lirihnya.

Aku tersenyum lemah sambil mencium punggung tangan nee-chan.

"Selamat jalan… nee-chan," lirihku.

#*#

.

.

.

TBC

*sputum : nama biologis buat dahak

EH…. Btw, udah tahu kan penyakit apa yang diderita Hisana. Jikakakak. *plak! Abaikan!

Aduh… aduh… aduh… lagi-lagi author ngelindur dengan bilang di chapter ini bakalan ada kejutan. Mangap… maaf… sorryHontoni gomenasai. Lagi-lagi aku berdusta *plak!

Hehe… chapter ini lebih mirip kayak Filler, karena sebenernya dari awal yang diceritain itu si Masaki. Tapi, karena nanti ada suatu kejadian… chapter ini kuisi dengan kejadian meninggalnya Hisana.

Gimana? Jelek? Maaf…. Di chapter pertama aku bilang tidak menerima flame, tapi sekarang aku akan bilang bahwa aku akan menerima flame dengan lapang dada.

Bagi yang berkenan silahkan

R P

E L

V E

I A

E S

W E

Tolong tunggu chapter selanjutnya yah… ^^/