Do Re Mi Rintik Hujan
Disclaimer : Bleach © Tite Kubo
Rated : T
Genre : Friendship, Romance, Hurt/Comfort, Family
Warning : OOC, Typo bertebaran, AU, GaJe stadium akhir, Abal tingkat akut
Fic yang berisi ide-ide gak jelas yang sempet nongkrong di otak author. Kejelekan isinya bukanlah salah author! Merasa gak nyaman juga bukan salah author! Pokoknya…. Semua hal yang terjadi pada readers bukanlah salah author! Karena yang memilih untuk membaca fic ini adalah readers sendiri dan author sudah kasih warning
Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apabila terdapat kesamaan atau kemiripan situasi atau tokoh atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun itu, adalah tidak disengaja.Jika ada, saya benar-benar minta maaf karena fic ini seluruh isinya asli buatan saya. Sama sekali tak ada campurtangan orang lain.
*Maaf karena fic sebelumnya aja belum selesai udah bikin fic baru*
Don't Like, Don't Read, so…
Enjoy it!
.
.
.
Chapter 4
.
.
.
Hujan… kenapa hujan selalu turun? Nee-chan bilang selalu membawa hal-hal baru untuk dunia kita. Tidak, hujan sama sekali tidak membawa hal baru, hujan selalu membawa pergi semuanya.
Pertama ba-chan, sekarang nee-chan. Lalu, siapa lagi orang yang akan pergi dariku? Haruskah aku mengikat nii-sama, ji-san, Yuzu, Karin, dan Ichigo di dapur rumah agar mereka tidak pergi?
.::Do Re Mi Rintik Hujan::.
23 Juli, Kuchiki Hisana…. Meninggal
…
Hari ini hari pemakaman nee-chan. Hujan dari langit turun dengan lebatnya, namun seperti permintaan nee-chan. Aku tak akan membiarkan hujan di wajahku turun.
Jika pada pemakaman ba-chan, Rangiku-san pingsan. Kali ini Yoruichi-nee tidak. Aku tahu, Yoruichi-nee sudah lama mengetahui keadaan nee-chan yang tak akan bisa bertahan lama dan dia sudah menyiapkan mental takut-takut hari ini akan datang. Hanya saja, aku masih bisa melihat air mata mengalir di pipinya.
Hujan turun semakin lebat. Memanggil guntur dan petir untuk bersahut-sahutan. Kenapa di hari pemakaman nee-chan hujan turun? Apakah langit ikut menangis karena kepergiaan nee-chan?
Suasansa suram terus menyelimuti rumahku.
Berkali-kali Ichigo mengumpatkan kalimat, "Nee-san wa baka." Dan hanya kubalas dengan senyuman sendu.
…
Pemakaman nee-chan sudah selesai. Rumahku masih dipenuhi isak tangis keluarga Kuchiki, terutama nii-sama. Ginrei-jii dan ji-san sudah berkali-kali menenangkannya, tapi nii-sama terus saja menangis.
Aku merasa aneh. Kenapa air mataku sama sekali tak keluar? Disaat semua orang menangis pilu, kenapa aku hanya diam. Diam dan menampakkan wajah datar seakan-akan kejadian ini bukanlah hal besar. Apakah aku shock? Entahlah.
Aku berjalan keluar rumah. Hujan tidak lagi turun, kutolehkan wajahku dan melihat pagar rumah keluarga Kurosaki.
Pikiranku melayang. Lagi-lagi tubuhku bergerak diluar kendali. Perlahan, kakiku menarikku untuk pergi dari rumah.
Tatapanku kosong. Langkahku gontai. Tubuhku lemas. Tapi, kakiku terus saja menarikku. Hingga akhirnya aku sadar bahwa aku sudah berada di taman.
Aku terkesiap. Saat aku memasuki taman, hal pertama yang menyambutku adalah… pelangi. Indah sekali. Dan hal lainnya adalah… pelukan hangat dari seseorang.
Aku berusaha melepaskan pelukan orang itu dan melihatnya.
"Ichi… go?" lirihku.
"Jangan menangis," katanya pelan. Kerutan di dahinya bertambah.
Perlahan, senyuman muncul di bibirku. Entah bagaimana aku bisa senang dan nyaman mendengar suara Ichigo. Sekalipun suaranya itu dipenuhi ketakutan dan kekhawatiran.
"Aku tidak menangis," sahutku. Dengan jengkelnya Ichigo menarik pipiku, membuatku meringis dan tertawa. Tangannya kemudian beralih pada pinggangku dan ia mulai menggelitikiku.
Aku terus tertawa. Tertawa, hanya itu yang bisa kulakukan sekarang. Hingga kurasakan tangan Ichigo menjauh dari pinggangku dan aku… masih terus tertawa.
"Kau menangis," sahutnya. Aku terdiam. Aku sadar dahiku berkerut. Aku sadar pipiku basah oleh air mataku. Aku sadar sekarang aku benar-benar merasa kehilangan.
"A… aku…" aku berusaha mengelak dan menghapus air mataku. Namun, aku tersentak saat merasakan tangan hangat Ichigo di pipiku. Ichigo menangkup wajahku, lalu mengangkatnya sedikit agar kami bisa saling bertatapan. Kulihat, Ichigo tersenyum lembut.
"Jangan menangis. Kau… Terlihat aneh saat menangis," katanya. Kembali ia menyunggingkan sebuah senyuman yang sontak membuatku ikut tersenyum.
"Jangan menangis, nee-san tidak suka melihat Rukia menangis. Jangan menangis, Rukia terlihat jelek kalau menangis. Jangan menangis, aku… akan ikut sedih jika melihatmu menangis," katanya. Aku tersenyum mendengar hiburannya, lalu terkekeh pelan dan perlahan Ichigo melepaskan tangannya.
"Kau lihat itu, Rukia? Ada pelangi!" katanya lagi sambil menunjuk ke arah langit. Aku melihat ke arah yang dia tunjuk. Warna pelangi begitu indah menghiasi langit. Awan-awan hitam perlahan menjauh. Perasaanku kembali tenang.
"Kau tahu… itu adalah hadiah nee-san padamu." Aku menoleh ke arah Ichigo. Melihatnya yang juga menikmati keindahan alam ini.
"Begitukah? Terima kasih Ichigo," lirihku. Aku menarik tangan Ichigo dan menggenggamnya kuat. "Nee-chan… terima kasih. Indah sekali," sahutku pelan.
Perlahan semilir angin menerpa wajahku dan Ichigo. Kau tahu? Kurasa itu adalah balasan dari nee-chan. Balasan dari nee-chan yang mengatakan 'sama-sama' padaku.
Hujan! Aku akan menikmatinya dan menantikannya. Kehadiran hujan akan selalu mengingatkanku pada nee-chan dan pelangi ini. Mengingatkanku pada kalimat nee-chan bahwa hujan akan selalu membawa hal-hal baru ke dunia.
Aku… menyukai hujan.
#*#
Sudah cukup lama nee-chan pergi. Sifat nii-sama sedikit berubah. Tatapan matanya selalu datar, ia juga hemat bicara, dan nada bicaranya terdengar sedikit tajam dan arogan. Tapi, aku tahu nii-sama tetap menyayangiku.
Waktu semakin bergulir. Semua kejadian di musim panas itu tinggallah kenangan. Namun, aku tak akan melupakannya. Kepergian nee-chan dan ba-chan akan terus kuingat. Karena jika aku melupakan mereka, maka mereka benar-benar mati. Aku akan membiarkan nee-chan dan ba-chan hidup di hatiku.
Lambat-laun, panggilanku pada nee-chan pun berubah. Aku merasa panggilan itu sedikit kekanak-kanakan, dan sekarang aku memanggil nee-chan dengan panggilan nee-san, sebuah panggilan biasa.
Sikap Ichigo pun seperti biasa. Ia sering sekali heboh bersama dengan Keigo dan Tatsuki. Menyenangkan sekali melihat tawa mereka. Sayangnya, di saat hujan turun. Ia sering murung. Kenapa? Apakah dia membenci hujan?
.
.
.
*Flashback – end
.
.
Tanpa kusadari air mataku mengalir. Sudah lama sekali aku tak menangis sejak kejadian pelangi itu. Sejak Ichigo terus memintaku untuk tidak menangis, aku sudah bertekat untuk menghilangkan tangis di wajahku.
Ctar!
Aku tersentak saat mendengar sebuah kilatan petir mematikan listrik. Aku melirik ke arah Senna dan Inoue sambil berusaha membiasakan mataku dengan gelap. Setelah bisa, dapat kudengar dengkuran kecil dari mereka. Syukurlah, mereka masih tertidur.
Kali ini suara guntur mulai bergemuruh. Kembali aku tersentak dan segera aku beranjak dari futonku.
Lavenderku, batinku. Dengan cepat aku membuka pintu beranda kamarku. Aku melihat beberapa pot sudah terjatuh dan pecah.
Hujan langsung saja membanting tubuhku ketika aku berusaha memindahkan pot yang masih utuh ke dalam kamar. Petir dan guntur yang terus bersahut-sahutan membuatku sedikit kaget karena kilatan cahaya.
Pot terakhir, batinku takut-takut. Tidak… bunga lavender dan bunga lily adalah bunga kesukaanku. Aku tidak mau jika bunga-bunga ini mati…
"ICHIGO!" jeritku ketika melihat Ichigo di beranda kamarnya. Langsung saja aku masuk ke berandanya, tanpa peduli aku akan terpeleset atau tidak.
Aku menarik Ichigo yang hampir terjatuh dari berandanya. Tanganku bergetar, berusaha menarik tubuh berat Ichigo memasuki kamarnya. Ada apa ini? Kenapa Ichigo keluar tengah malam dan berniat terjun dari beranda.
Bruk…
Ketika aku berhasil memasukkan Ichigo ke dalam kamarnya. Ichigo malah tumbang di atas kasurnya dan sialnya, tubuhku ikut tumbang dan malah tertimpa oleh badan besarnya.
"I… Ichigo," kataku berat sambil berusaha mengangkat tubuh Ichigo. Namun, ketika aku mendorong tubuhnya, Ichigo malah memelukku. Tunggu tunggu… situasi apa ini? Aku dan Ichigo ada di atas ranjang, di kamar Ichigo, dan Ichigo memelukku. TIDAK! Kami-sama kuharap Ichigo tidak akan melakukan sesuatu yang aneh-aneh.
"Ichigo!" panggilku. Aku terus mendorong tubuh Ichigo agar ia melepaskan pelukannya. Namun, semakin aku mendorong tubuhnya, semakin ia mengeratkan pelukannya.
Sekarang aku sudah siap untuk menjitak kepalanya hingga….
"Kaa-san…," lirihnya. Aku tersentak, Ichigo… teringat ba-chan?
"Kaa-san… jangan pergi," lirihnya lagi dengan nada pilu. Ichigo menguatkan pelukannya, membuatku hampir saja berteriak kesakitan. Tulangku seakan-akan remuk.
"Kaa-san… jangan pergi. Aku janji… a… ku tak… akan… na… kal," lirih Ichigo dengan suara yang sedikit… parau? Kembali aku tersentak saat mengetahui Ichigo menangis. Aku terdiam, membiarkan tangan Ichigo memeluk tubuhku. Membiarkan tangannya meremukkan tulang-tulangku. Perlahan, aku mengelus kepalanya.
"Eh?" sahutku saat merasakan dahinya begitu panas. Langsung saja aku mendorong bahunya, untunglah kali ini aku bisa membuat Ichigo melepaskan pelukannya.
Ichigo membuka sedikit matanya. Kupegang lagi dahinya. Panas sekali.
"Ichigo… kau demam?" tanyaku. Ichigo tak menjawab, ia malah kembali memejamkan matanya dan tertidur di perutku.
Perlahan, aku melepaskan tangan Ichigo dan membenarkan posisi tidurnya. Sambil meraba-raba, aku mencari meja di sebelah ranjang Ichigo, berusaha membuka lacinya dan mencari senter –jika ada.
"Ada," gumamku pelan. Aku lalu kembali melihat Ichigo dan memegang kepalanya. Keringat mulai keluar dari pelipisnya. Sedari tadi ichigo terus mengigau dan memanggil ba-chan.
Dengan cepat aku keluar dari kamar Ichigo. Turun ke dapurnya, berusaha mencari kotak P3K. Setelah kubongkar, aku mengambil obat penurun panas dan thermometer.
Aku lalu mengambil baskom dan kuisi dengan air dingin di keran. Setelah itu, dengan terburu-buru dan hati-hati aku menaiki tangga untuk menemui Ichigo.
Aku mengobrak-abrik isi lemari Ichigo dan mencari handuk kecil. Setelah mendapatkannya, aku langsung mengompres kepala Ichigo. Dengan handuk kecil lainnya, aku mengelap tangan dan leher Ichigo yang terus berkeringat.
"Sial, aku lupa mengambil air minum," umpatku. Kembali aku turun dari kamar Ichigo dan berlari ke dapur untuk mengambil air putih.
…
"Ichigo… Ichigo…" sahutku membangunkan Ichigo. Terus kuguncang tubuhnya agar ia bangun.
Perlahan, Ichigo membuka matanya. Matanya begitu sendu dan merah.
"Ini… minum obat dulu," kataku sambil menyodorkan gelas air minum padanya. Ichigo menerima gelas itu, namun sayangnya gelas itu merosot dari tangannya. Langsung saja aku menangkapnya sebelum isinya benar-benar membasahi kasurnya.
"Gggrr…. Buka mulutmu," geramku pelan. Ichigo begitu penurut, ketika kusuruh membuka mulut ia langsung membukanya. Dan saat itu juga aku memasukkan obat penurun panas yang ada di tanganku ke dalam mulutnya. Pelan-pelan aku mendekatkan gelas berisi air minum di tanganku ke mulut Ichigo dan membantunya meneguk air itu.
Setelah meneguk habis air di gelas itu, Ichigo langsung ambruk di ranjangnya. Sebuah senyuman terukir di bibirnya. Pelan-pelan aku menyelipkan thermometer di bibirnya, menunggu beberapa saat hingga thermometer itu mengeluarkan bunyi bip pelan.
Kucabut thermometer itu dari bibir Ichigo. Layarnya menunjukkan angka 38,7o dan terus berkedip.
"Kau.. teringat masa lalu ya?" lirihku.
Baiklah, sekarang tengah malam dan Ichigo sedang sakit. Tidak mungkin aku membangunkan Yuzu dan Karin untuk merawat Ichigo. Dan tidak mungkin juga aku meninggalkan Ichigo sendirian. Jadi, apa tindakanku? Aku akan begadang di kamar Ichigo sambil merawat dan melihat keadaannya.
Aku mendesah pelan, bajuku masih basah. Jadi, kuputuskan untuk mengeringkannya dengan handuk. Aku kembali mendesah. Ini akan merepotkan!
.::Do Re Mi Rintik Hujan::.
Aku terkesiap. Langsung saja aku mengangkat kepalaku dan celingak-celinguk tak jelas. Aku di kamar siapa? Ah… kamar Ichigo.
Langsung saja aku melihat Ichigo. Kuambil handuk di dahinya dan memeriksa suhu tubuhnya. Seulas senyum muncul di bibirku. Suhu tubuhnya sudah normal. Baguslah.
Kali ini pandanganku beralih pada jam dinding di kamar Ichigo. Sekarang sudah pukul 5 pagi dan lampu sudah hidup.
Aku berdiri dan mulai membereskan kamar Ichigo. Handuk di kepala Ichigo kuletakkan dalam keranjang pakaian kotornya. Air di baskom akan kupakai untuk menyirami bunga-bunga di kamarku. Eh… ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Senna dan Inoue.
Pelan-pelan, aku keluar dari kamar Ichigo setelah membereskan kamarnya. Dengan hati-hati aku melangkah di berandanya yang masih basah oleh air hujan.
Grek!
Sangat pelan. Aku membuka pintu berandaku dan mendapati Senna dan Inoue masih terlelap di atas futon mereka.
Setelah menghela nafas pelan. Aku menyiram bunga-bungaku dengan air di baskom yang kubawa. Yah… walaupun aku sadar bahwa tanamanku ini sudah lebih dari cukup air.
"Eung…" lenguhan kecil kudapatkan dari mulut Inoue.
"Ohayou… Inoue," sahutku sambil melempar senyum padanya.
"Ohayou… Kuchiki-san. Sekarang jam berapa?" tanyanya sambil meregangkan otot-otot tangannya.
"Jam 5 pagi," jawabku lembut.
"Euh…. Senna-chan. Bangunlah," kata Inoue membangunkan Senna. Senna melenguh pelan lalu membuka matanya.
"5 menit lagi," gumamnya sambil menenggelamkan tubuhnya di dalam selimutnya.
"Senna-chan. Bangunlah, sekarang sudah pagi, kita harus pulang!" kata Inoue sambil mengguncang-guncang tubuh Senna.
"Lho… sudah mau pulang?" tanyaku.
"Tentu saja. Seragam kami ada di rumah," kata Inoue. Aku hanya ber'o' ria dan meletakkan baskom yang kupegang di sudut ruangan.
#*#
Aku tak akan membiarkan kenangan itu terlupakan. Kenangan itu akan selalu kuingat. Sampai kapanpun! Sampai ajal menjemputku. Karena itu, adalah kenangan berharga.
…
"Rukia!" panggil Ichigo di tengah perjalanan berangkat sekolah kami. Aku hanya membalas dengan deheman pelan.
"Kau tahu? Semalam aku merasa kaa-san sedang merawatku lalu memelukku erat," kata Ichigo pelan. Dan aku hanya membalasnya dengan deheman pelan –lagi. Sejujurnya aku sedikit merasa jengkel. Disaat aku susah payah melepas pelukannya, saat aku rela begadang merawatnya, ia malah mengigau dan mengatakan bahwa ba-chanlah yang merawatnya.
"Kau kenapa sih?" ambeknya.
"Nandemonai!" balasku ketus.
Keheningan melanda kami, sesekali aku melirik Ichigo yang terus saja tersenyum. Perlahan, kudengar senandungan dari bibirnya. Lagu apa yang dia senandungkan? Kemarin waktu di kamarku dia juga menyenandungkan lagu itu.
"Itu lagu apa?" tanyaku. Berusaha meghilangkan rasa penasaranku. Malu bertanya, sesat di jalan! Itulah kalimat yang selalu diajarkan nii-sama padaku.
"Hm? Lagu ini?" tanyanya sambil menolehkan kepalanya ke bawah, melihatku yang sangat kalah tinggi dengannya. Aku membalas pertanyaannya dengan sebuah deheman pelan dan anggukan kecil. "Hm!"
"Judulnya 'Rain'!" jawab Ichigo bersemangat. Langsung saja mataku melebar, lagu yang judulnya hujan? Perasaan senang tiba-tiba memenuhi hatiku. Tapi, tunggu dulu. Sejak kapan Ichigo menyukai hujan?
"Nanyikan liriknya!" kataku cepat.
"Hem? Baiklah... karena aku sedang senang, akan nyanyikan liriknya dengan suara indahku ini," katanya bangga yang hampir membuatku muntah di tempat.
Ichigo berdehem pelan, lalu mulai bernyanyi, "Rain... rain... go away,come again another day! All the world is waiting for the sun," nyanyiannya itu benar-benar membuatku tercengang. Apa? Itu lagu apa? Judulnya 'Rain' tapi, kenapa lagu itu mengharapkan hujan pergi.
"ENAK SAJA! AKU INGIN HUJAN TURUN, BUKANNYA PERGI! KATAKAN DENGAN JELAS LAGU APA ITU?" teriakku keras. Aku menarik kerah baju Ichigo, dan dengan sebuah senyum kemenangan Ichigo melepas cengkramanku.
"Lagu yang dinyanyikan Breaking Benjamin dengan judul Rain, liriknya berisi harapan agar hujan pergi. Kau puas, ojou-sama!" kata Ichigo puas. Aku menggeram, enak saja dia meminta hujan pergi sedangkan aku sangat berharap hujan turun. Sial, aku benar-benar kesal.
"Kenapa? Kau kesal? Ck... hujan tak perlu turun," katanya tenang. "Oh iya... kau tahu? Aku selalu membawa boneka teru-teru yang kau berikan dulu. Lihat! Terima kasih, boneka ini manjur sekali!" katanya sambil merogoh saku celananya dan menunjukkan padaku sebuah boneka teru-teru yang warna kainnya sudah sedikit menguning.
Sejujurnya, ada perasaan senang memenuhi hatiku ketika mengetahui bahwa ternyata Ichigo menyimpan boneka itu dengan baik. Yah... walaupun sedikit kotor. Tapi, tetap saja aku merasa kesal.
"Jangan-jangan... kau selalu menggantungkan boneka itu setiap hari?" tanyaku pelan.
"Tentu saja!" katanya bangga.
"BAKA!" teriakku keras. Aku mempecat langkahku dan mendahului Ichigo. Rasa senangku lagi-lagi hilang. Tidak... aku ingin hujan segera turun, aku tidak mau jika sepanjang hari selalu cerah.
"O...Oi... Rukia, tunggu aku!" kata Ichigo sambil menyamakan langkahnya dengan langkahku. Well, karena kakinya yang panjang, bukan hal sulit bagi Ichigo untuk menyamakan langkah kakinya denganku.
"Urusai!" kesalku.
#*#
Hujan, turunlah! Buang seluruh keluh kesahku! Buang seluruh beban pikiranku! Dan kumohon, buang perasaan menyebalkan ini. Buang perasaan menyebalkan yang selalu muncul ketika kau turun. Buanglah... rasa kehilangan ini!
...
"Rukia!" panggil seseorang. Aku menoleh ke sumber suara dan mendapati Senna dan Inoue sedang berlari menemuiku.
"Jika Unohana-sensei melihat kalian berlari di koridor, beliau pasti mencincang kalian," kataku datar. Oh... sungguh aku benar-benar kehilangan semangat gara-gara ucapan Ichigo pagi tadi.
"Hehe... Gomenasai," jawab Inoue polos sambil mengelus tengkuknya. Inoue hanya cengengesan menatapku dan hanya kubalas dengan tatapan datar.
"Dingin sekali. Ada apa denganmu?" tanya Senna. Kami lalu mulai melangkahkan kaki, berjalan tanpa arah. Yah, aku maunya ke kelas, mungkin mereka juga mau ke kelas mereka.
"Ie," jawabku datar.
"Lalu, bagaimana dengan pernyataannya semalam. Apa kau menerimanya?" tanya Inoue antusias. Wajahku seketika memanas. Perlahan, kutolehkan wajahku ke arah mereka. Menatap wajah mereka yang hanya memberiku sebuah senyuman menggoda.
"A... Apa?" delikku terbata. Sial, kenapa juga aku harus merasakan perasaan 'berdebar' disaat seperti ini.
"Ayo jawab, apa kau menerima perasaannya?" goda Senna. Wajahku kembali memanas. Well, kurasa wajahku sekarang sudah matang. Saking merahnya, wajahku pasti sulit untuk dibedakan dengan kepiting rebus.
"Ti.. Tidak. Cowok jelek dan bodoh seperti itu mana mungkin... aku... menyukainya," jawabku terbata. Aku gugup. Entah mengapa menjawab pertanyaan itu membuatku gugup. Apalagi saat mengingat kejadian saat Ichigo menyatakan perasaannya padaku dulu. Kya! Dan bodohnya aku membalasnya dengan kalimat yang sama, 'aku juga suka'.
"Wajahmu udah seperti kepiting rebus masih saja mengelak," sindir Senna. Aku mendelik.
"Apa maksudmu?" jeritku tertahan. Ugh... kenapa aku harus punya teman seperti dia sih?
"Kuchiki-san, wajahmu sudah memerah. Apa itu artinya sebenarnya kau menyukai Kurosaki-kun?" kali ini Inoue yang bertanya dengan nada lembutnya. Ah.. untunglah aku punya temah sepertinya. Setidaknya bisa menenangkanku yang selalu digoda Senna.
"A... Aku tidak menyukainya," elakku cepat sambil melipat kedua tanganku. Wajahku semakin panas, ada apa ini? Kenapa ketika mengingat Ichigo aku jadi berdebar? Kenapa ketika mengingat senyum Ichigo wajahku memanas? Kenapa ketika mengingat 'pernyataan' Ichigo perasaan hangat memenuhi hatiku? Kenapa ketika aku mengingat wajahnya AKU MERASA SENANG!?
"Kau menyukainya. Akui itu," kata Senna. Kembali aku mendelik dan menatapnya tajam. Namun, aku sempat tersentak saat melihat ekspresi yang dikeluarkan Senna, ekspresinya bukanlah ekspresi menggoda atau menyindir. Ekspresi yang ia keluarkan seakan-akan mengatakan bahwa aku harus percaya pada ucapannya.
"A... Aku tidak menyukainya. Aku membencinya," ambekku tuk kesekian kalinya. Senna dan Inoue terkekeh pelan.
"Kalau kau keras kepala nanti Ichigo bisa direbut, lho," kekeh Senna. Aku terdiam. Apa? Apa? Apa? Kenapa tiba-tiba aku jadi gelisah? Kenapa ketika mendengar pernyataan itu aku jadi gelisah? Ada apa denganku?!
"Tidak akan," jawabku mantap dan kali ini dibalas dengan tawa keras Senna.
"Huahahahahahahahaha..." tawanya yang sukses membuat kami menjadi pusat perhatian. Langsung saja Inoue membekap mulut Senna.
"Apaan, sih?" kesalku.
"Dasar perempuan bodoh. Aneh," sindir Senna yang membuatku hampir saja memelintir kepalanya.
"Aku tidak bodoh. Dan aku tidak aneh!" kesalku sambil membuang muka.
"Aneh! Suka tapi bilang benci. Bodoh! Digoda sedikit sudah takut seperti itu," kata Senna yang sukses membuat wajahku memerah –kembali- menahan malu. Aku mengepalkan tanganku, bersiap-siap siapa tahu dia akan melancarkan cemoohan memalukan lagi. Sedangkan Inoue hanya tersenyum konyol melihat tingkah kekanakkan kami.
"Yah... kalau kau tak bisa jujur pada dirimu sendiri, kau tinggal tanggung risikonya nanti."
Aku mengernyit bingung mendengar perkataan itu.
#*#
Nyanyian katak di pinggir sungai selalu membuatku merasa nyaman. Apa yang membuat nyanyian mereka begitu merdu? Aku ingin mencobanya. Mungkin kalau aku menyanyikan sebuah lagu di saat hujan, dia akan menyukainya.
...
Aku menghentikan langkahku di depan kelas saat mendengar tawa renyah dari dalam kelas. Oke, jika itu hanyalah tawa tak jelas yang dikeluarkan Keigo aku akan masuk dengan normal, tapi kali ini aku mendengar tawa Ichigo dan hal itu benar-benar membuatku merasa... berdebar?! Sial, kenapa jantung ini sama sekali tak mau menurut.
"Tenang... tenang, Rukia!" gumamku pelan sambil mengelus dadaku. Aku bersandar pada dinding di sebelah pintu masuk kelasku. Ah.. Inoue dan Senna sudah masuk ke kelas mereka, kelas 2-4 dan aku masih berdiri di depan kelas 2-3. Dengan jantung yang sedang melawan kehendakku.
"Jadi... aku tanya. Siapa perempuan yang menurutmu paling menarik di sekolah ini?" tanya Keigo. Aku terdiam sejenak. Kira-kira apa jawaban Ichigo?
"Kau bertanya pada siapa? Aku!?" tanya Ichigo kikuk.
"Tentu saja," jengkel Keigo. Aku masih diam. Namun, jantung sialan ini malah semakin bertingkah.
"Menurutku sih... Inoue," jawab Ichigo. Entah mengapa mendengar nama itu dari mulut Ichigo tiba-tiba membuat tubuhku lemas. Ada apa denganku? Kenapa tiba-tiba dadaku terasa sakit?
"Alasannya?"
"Hem... karena Inoue mirip dengan ibuku. Postur tubuhnya, sifat lembutnya, warna rambutnya, dan... yah... semuanya hampir mirip dengan ibuku," jawab Ichigo santai. Aku menelan ludah. Tunggu... apa maksudnya itu? Kenapa ia menyamakan Inoue dengan ba-chan?
"He... apakah kau menyukai Inoue? Lalu bagaimana dengan Kuchiki?" kali ini godaan Hisagi yang terdengar. Aku menelan ludah sekali lagi saat mendengar pertanyaan konyol itu. Oh tidak... jantungku rasanya sudah ingin mencelos keluar.
"Aku lebih menyukai Inoue," jawab Ichigo polos yang sukses membuatku terduduk di lantai. Ah... kakiku lemas sekali, untuk berdiri pun sulit bagiku. Aku membenturkan kepalaku ke dinding. Dadaku sakit. Kenapa saat mendengar Ichigo mengatakan hal itu tubuhku serasa lemas. Oh... rasa sedih dan kecewa memenuhi hatiku saat mengingat ucapan Ichigo semalam. Ucapannya yang mengatakan bahwa dia menyukaiku. Tapi, kenapa sekarang ia dengan polosnya mengatakan bahwa dia menyukai Inoue? Apakah dia hanya ingin mempermainkan hatiku?
"Wah... penilaianmu bagus. Kuchiki memang cantik, tapi Inoue lebih lembut," puji Hisagi yang membuatku sedikit merasa kesal. Argh... sempat-sempatnya aku merasa kesal disaat dadaku terasa sakit dan bergemuruh seperti ini.
"Tidak... aku memilih Inoue karena dia mirip dengan ibuku," kata Ichigo. Aku membelalakkan mataku. Tunggu... aku perlu waktu untuk mencerna kalimat itu.
"Apa? Kenapa dari tadi kau selalu menyinggung masalah ibumu?" pertanyaan panik dari mulut Keigo ikut membuatku panik.
"Tentu saja karena aku menyayangi ibuku. Makanya aku juga menyukai perempuan yang menyerupai ibuku," jawab Ichigo polos yang kini membuat mataku membulat sempurna. Aku sudah mencerna kalimat-kalimat itu. Tunggu... hal itu tidak sepenuhnya benar. Oh ayolah... tidak mungkin Ichigo seperti itu. Tapi... argh...
"Ichigo," panggil Mizuiro. Aku kembali memasang telinga, menguping pembicaraan mereka tanpa memedulikan orang-orang yang lalu lalang di depanku dan menatapku dengan tatapan jijik. Apa salahnya duduk di lantai?
"Apa kau sadar kalau kau itu... err... sepertinya..." Mizuiro bertanya dengan nada kikuk. Ayolah... tanyakan padanya. Lebih baik Mizuiro yang menanyakan hal itu daripada aku. Eugh... sial. Jantungku masih berdetak tak keruan.
"Aku sepertinya?" Ichigo bertanya dengan nada rendah. Bodoh... kau tidak menyadari maksud dari semua perkataanmu?
"Ichigo... apa kau... mother complex?" pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Mizuiro. Membuat seisi kelas terdiam dan aku semakin terpuruk di depan kelas. Oh.. Sungguh, hal itu benar-benar membuatku frustasi. Ichigo begitu menyukai ba-chan, sampai-sampai ia mengidap 'Mother Complex' dan menjadikan ba-chan sebagai kriteria perempuannya. Grr... adakah obat yang bisa mengobati Mother Complex?
Aku berdiri dari dudukku. Berusaha membangkitkan semangatku yang tadi benar-benar merosot. Perlahan, kaki kecilku membawaku ke dalam kelas, dan teriakan dari mulutku sudah memotong perkataan Ichigo.
"Ten..."
"YO...~ Minna!" teriakku sambil menyunggingkan sebuah senyuman konyol. Aku benar-benar bingung tindakan seperti apa yang harus kutunjukkan pada Ichigo. Kuharap tindakanku tadi tidak terlihat konyol. Dan... Yah... sepertinya begitu karena kuliaht anak-anak kelasku sudah mulai melanjutkan aktivitas mereka yang tadi sempat terhenti oleh pertanyaan 'aneh' dari Mizuiro.
Malu, marah, resah, jengkel, senang, sedih? Argh... semuanya bercampur dalam hatiku. Aku merasa senang dengan pernyataan Ichigo semalam, sekaligus malu. Aku marah mendengar Ichigo dengan santainya mengatakan bahwa dia menyukai Inoue. Aku jengkel karena Ichigo dengan polosnya menjawab semua pertanyaan dari Keigo, Mizuiro, dan Hisagi. Aku sedih mengetahui kenyataan bahwa Ichigo... hua... 'MOTHER COMPLEX'!
Kami-sama, apakah itu artinya Ichigo tak akan menyukaiku lagi?
Eh?
#*#
.
.
.
TBC
Yoyoi... akhirnya kejutannya muncul. Hehe... bukan kejutan juga sih. Di sini isinya juga gak penting. Si Rukia mulai merasakan gejala-gejala cinta dan langsung terpuruk mendengar perkataan Ichigo yang berhubungan dengan Kaa-sannya.
Gimana? Jelek? Kalo mau marah karena ceritanya jelek, EYD berantakan, typo atau yang lain-lain silakan marahi saya lewat review ato PM
Ghehehehe... Di chapter selanjutnya gak terlalu penting, Kuchikis' and Kurosakis' Family akan berziarah ke makam Hisana. tapi, tau kan kalo Hisana itu meninggal 1 minggu setelah Ichigo ultah, jadi pastinya bakalan ada sesuatu sebelum ziarah itu. Jikakakak... apakah sesuatu itu? Aku juga gak tau. belum mikir lanjutannya *plak! -,-
Bagi yang berkenan silahkan
R P
E L
V E
I A
E S
W E
Tolong tunggu chapter selanjutnya yah… ^^/
