Yak... ketemu lagi dengan author ngejengkelin dan ngebosenin. Maaf banget jika semua ficku itu membosankan. Itu aja yang mau kubilangi sebelum masuk ke cerita ini.

.

.

Do Re Mi Rintik Hujan

Disclaimer :

*Bleach © Tite Kubo*

*Do Re Mi Rintik Hujan © Toyama Ichiru*

Rated : T

Genre : Friendship, Romance, Hurt/Comfort, Family

Warning : OOC, Typo bertebaran, AU, GaJe stadium akhir, Abal tingkat akut

Fic yang berisi ide-ide gak jelas yang sempet nongkrong di otak author. Kejelekan isinya bukanlah salah author! Merasa gak nyaman juga bukan salah author! Pokoknya…. Semua hal yang terjadi pada readers bukanlah salah author! Karena yang memilih untuk membaca fic ini adalah readers sendiri dan author sudah kasih warning

Attention : Fic ini hanyalah fiksi belaka. Apabila terdapat kesamaan atau kemiripan situasi atau tokoh atau apapun itu dengan cerita lain dalam bentuk apapun itu, adalah tidak disengaja.Jika ada, saya benar-benar minta maaf karena fic ini seluruh isinya asli buatan saya. Sama sekali tak ada campurtangan orang lain.

*Maaf karena fic sebelumnya aja belum selesai udah bikin fic baru*


Balasan review buat yang gak login

Aeni Hibiki : thx for RnR. Ini lanjutannya ^^/ makasih atas dukungannya

Seo Shin Young : Haha... sepertinya banyak sekali pertanyaan yang nongol dikepalamu. Makasih udah mau nunggu. Udah kuupdate. Makasih untuk RnR dan dukungannya :)

Bleachmegafan01 : terima kasih atas dukungannya -,-p Terima kasih juga udah RnR.


Don't Like, Don't Read, so…

Enjoy it!

.

.

.

Chapter 5

.

.

.

Kenapa ini terjadi? Kukira dia membenci orang itu, tak disangka orang itulah yang sekarang membuatnya begitu terlihat gila di mataku.

...

"Kau kenapa, Rukia?" tanya Ichigo di tengah perjalanan pulang kami. Aku menggeleng pelan. Tatapan mataku kosong. Langkahku gontai dan sekarang rohku seakan-akan ingin keluar dari tubuhku.

"Oi..." panggil Ichigo. Aku hanya menoleh lemas, lalu kembali menatap jalanan di depanku. "Kau kenapa, sih?" tanya ichigo sambil meletakkan punggung tangannya di dahiku. Sontak aku menghindar dan meniju perutnya. Ichigo mengerang pelan, lalu mengelus perutnya yang sudah menerima bogem mentahku.

"Bete banget, sih? Kau kenapa?" tanya Ichigo jengkel untuk kesekian kalinya. Dan lagi-lagi hanya kubalas dengan tatapan mata kosong.

"Kalau mau mati, bilang!" Aku tahu itu hanyalah candaan, tapi karena keadaan yang tidak menyenangkan aku jadi mengenggapnya permbicaraan normal.

"Terima kasih atas sarannya," jawabku ngawur dan Ichigo hanya bisa sweatdrop melihat perubahan tingkahku yang drastis.

"Oi... kau kenapa, sih?" kesal Ichigo sambil menghentikan langkahku. Tiba-tiba saja jantungku langsung berdetak lebih cepat saat Ichigo memegang tanganku. Aku menunduk, berusaha menyembunyikan wajahku yang kuyakin sudah memerah.

"A... Aku tidak apa-apa, le... lepaskan!" jawabku terbata sambil berusaha melepaskan pegangan tangannya, tapi Ichigo begitu kuat mencengkram tanganku. "I... Ichigo," rintihku saat merasakan cengkraman Ichigo menguat. Ichigo hanya diam, membuatku semakin kesal.

Aku mengangkat wajahku dan menatap wajah Ichigo. Aku memelototinya, berusaha membuatnya melepaskan tanganku. Ia hanya bergeming dan menatapku dengan tatapan kosong.

"Kubilang, AKU TAK APA-APA, BERHENTILAH MENGKHAWATIRKANKU DAN LEPASKAN TANGANMU!" teriakku kesal. Ichigo masih menatapku, sama sekali tak terpengaruh teriakan penuh emosiku. Ah, aku lemah jika ditatap terus menerus seperti itu. Aku menunduk dan dengan lemas melepaskan cengkramannya, untunglah Ichigo mengerti bahwa kali ini aku mengalah dan melemaskan cengkramannya.

"Sekarang ceritakan, apa yang membuatmu seperti ini?" tanya Ichigo sambil melanjutkan perjalanannya. Aku mengikuti langkahnya sambil terus menunduk.

"Tak ada, aku hanya... sedang memikirkan sesuatu," jawabku lemas.

"Memikirkan apa?" tanya Ichigo sambil menatapku. Aku masih menunduk, berusaha mengelak dari tatapannya.

"Pentingkah bagimu?" tanyaku berusaha ketus. Ichigo berdehem pelan, lalu memajukan bibir bagian bawahnya.

"Penting jika itu berhubungan dengan orang yang kusukai," jawab Ichigo polos yang sukses membuatku menghentikan langkahku. Jantungku kembali berdetak tak karuan saat Ichigo mengatakan hal itu. Oh... ayolah, kenapa jadi seperti ini? Kenapa saat bersama Ichigo, jantungku seakan-akan ingin mencelos keluar dari tempatnya.

"Haha... bercanda, jadi... apa yang kau pikirkan?" sahut Ichigo dengan sebuah tawa. Apa? Tadi dia bilang apa? 'Bercanda'? Oh, Kami-sama kenapa sekarang tubuhku menjadi lemas seakan-akan ditimpa oleh batu seberat 1 ton. Oh, oke... sebenarnya aku tak tahu seberat apa batu 1 ton itu.

"Rukia?" Ichigo memanggilku. Ia membalikkan tubuhnya dan berjalan mendekatiku. Seluruh darah di tubuhku seakan-akan berlomba menuju kepalaku.

"TAWAKE!" teriakku berang sambil berlari meninggalkannya.

#*#

Gemuruh hatiku tak bisa menyamakan gemuruh langit. Kenapa? Padahal kurasa jantungku sudah ingin keluar dan mengamuk.

...

Dengan malas aku mengambil sumpit, lalu menjepit gulungan telur yang ada di atas piring di depanku. Perlahan, tanganku bergerak dan memasukkan telur itu ke dalam mulutku.

"Ru...kia-nee," panggil Karin. Aku mengangkat wajahku lemas, menatap wajah Karin yang kaget melihatku. Aku mengunyah makanan di mulutku dengan pelan, lalu menelannya.

"Kenapa?" tanyaku lemas. Karin menurunkan alisnya dan tersenyum konyol.

"I... Ie... Betsuni," jawab Karin sambil melanjutkan makannya.

"Rukia-chan kenapa?" tanya Yuzu, sepertinya gadis kecil ini ingin mewakili Karin bertanya. Kembali, dengan malas aku mengangkat wajahku dan menatap wajah Yuzu. Ekspresi yang dikeluarkan Yuzu saat melihat wajahku pun tak jauh bedanya dengan Karin.

"Aku sedang..." aku hendak menjawab pertanyaan itu, sayangnya, lagi-lagi jantungku mulai berdetak tak karuan. Membuat dadaku serasa sakit dan.. begitu sesak. Aku benar-benar sulit bernapas. "Terima kasih makanannya," kataku cepat sambil meletakkan sumpitku. Dengan malas aku berdiri dan membawa mangkukku menuju wastafel, lalu mencucinya.

"Sebenarnya Rukia-nee kenapa?" bisik Karin. Aku masih bisa mendengarnya. Lagi-lagi aku teringat perkataan Ichigo siang tadi. Haha... Bercanda.Sial, kenapa hanya dengan 1 kata itu aku jadi seperti ini? Kenapa hanya gara-gara 1 kata aku jadi lemas?

Aku menghentakkan mangkuk yang telah kucuci di rak piring. Dapat kulihat Karin dan Yuzu tersentak kaget, dan melanjutkan makanannya.

"Kau kenapa, sih? Lagi PMS?" sahut Ichigo. Dengan kesal aku melempar sapu tanganku ke wajahnya. Wajahku memerah menahan marah. Lagi-lagi dadaku sesak. Semakin sesak saat mendengar ucapan Ichigo yang secara tak langsung mengatakan bahwa dia tak tahu penyebab kegalauanku sekarang.

"BAKA... BAKA... BAKA..." jeritku frustasi. Langsung saja aku melenggang lari keluar rumah.

"O...Oi... Rukia!" teriak Ichigo. Ia berusaha menyusulku.

Aku menghentikan langkahku saat merasakan sesuatu yang dingin membasahi kepala dan bahuku. Langsung saja Ichigo mencengkram lenganku dan membalikkan tubuhku. Menatap wajahku yang kini telah basah oleh air... hujan?

Aku menengadahkan kepalaku, tetesan air hujan langsung membanting diri ke wajahku. Perlahan, bibirku mengeluarkan seulas senyuman. Hujan. Hujan turun. Walaupun langit terus bergemuruh, gemuruh di dadaku perlahan mereda.

"Oi... Kau kenapa? Ayo masuk, sekarang hujan!" teriak Ichigo. Dengan cepat aku menepis tangannya dan menatapnya sinis.

"Aku suka hujan, kenapa kau cerewet sekali saat hujan. Sudahlah, tinggalkan aku!" sinisku sambil berjalan menjauhinya.

Aku berjalan menuju rumahku. Sangat pelan. Langkahku benar-benar pelan, aku masih ingin menikmati hujan. Aku masih ingin menerima guyuran hujan yang mendinginkan kulitku. Aku masih ingin mendengar gemuruh langit yang menggelitik telingaku. Aku masih ingin menatap kilatan petir yang menghiburku. Aku... masih ingin menikmati semua ini.

"Cih... terserah padamu." Ichigo berdecih pelan, lalu berjalan ke arah yang berlawanan denganku.

Aku menghentikan langkahku saat sudah berada di depan pagar rumahku. Tanganku terangkat dan mulai menyentuh pintu itu, namun aku langsung mengepalkan tanganku dan meletakkannya kembali di sebelah pahaku.

Aku berbalik dan menyandarkan tubuhku yang sudah basah di pintu pagar. Perlahan mataku menutup, tubuhku mulai merosot dan akhirnya terduduk di tanah. Kembali kubuka mataku dan melirik ke arah rumah Ichigo. Sepertinya Ichigo sudah masuk ke dalam rumahnya.

Kusandarkan kepalaku di pintu, lalu kembali menutup mataku. Aku masih menikmati hujan malam ini. Langit malam begitu kelam, namun hatiku kembali cerah oleh hujan. Aku menarik napas pelan, mencoba menyesapi aroma hujan yang selalu memabukkanku. Aku selalu terhipnotis oleh permainan alam ini. Hingga membuatku tak lagi memedulikan sekitarku.

"Hujan," lirihku. Senyuman di bibirku mengembang. Perasaanku kembali tenang. Aku merasa tubuhku seakan-akan melayang saat hujan turun. Masalahku benar-benar terasa hanyut saat hujan turun.

"Hujan!" kataku lagi.

"HUJAN!" teriakku.

#*#

Terima kasih, hujan. Terima kasih karena telah menenangkanku!

...

"...Kia... Rukia... Rukia!" Aku merasa tubuhku diguncang oleh seseorang. Perlahan, aku membuka mataku yang terasa begitu berat.

"Ichi..." suaraku begitu parau. Tenggorokanku sakit. Dengan tatapan sayu aku mencoba meneliti wajah Ichigo. Kenapa wajahnya begitu panik?

Suara tetesan hujan seakan memekakkan telingaku. Ingin rasanya aku menyumbat telingaku dengan sesuatu, sayangnya, tanganku terlalu lemas untuk diangkat. Mataku juga semakin berat untuk dibuka. "I... Ichi..." lirihku parau.

"Diam! Jangan berbicara!" bentak Ichigo. Aku terdiam, suara Ichigo bahkan lebih memekakkan dari suara hujan. Tunggu, sekarang hujan? Dengan susah payah aku menoleh dan melihat ratusan tetes hujan yang berjatuhan. Disaat yang bersamaan aku merasa tubuhku terangkat ke udara.

"Ichigo..." lirihku parau untuk kesekian kalinya.

"Diamlah Rukia. Lihatlah dirimu. Menyedihkan sekali," geram Ichigo. Sejujurnya aku merasa terhina dengan kalimat itu, tapi mendengar nada bicaranya yang terkesan khawatir membuatku menyesal, entah mengapa.

Ichigo mulai melangkahkan kakinya. Aku tak tahu sekarang aku ada dimana, seingatku, tadi aku masih terduduk di depan pagar rumahku. Sekarang, Ichigo malah membopongku ke suatu tempat.

"Ichi... aku di... mana?" tanyaku. Suaraku begitu parau dan serak, pita suaraku seakan-akan mau putus.

"Kubilang diam!" bentaknya. Aku tertunduk dan menurut. Kurasakan cengkraman Ichigo di lengan dan pahaku mengerat. Ah sejujurnya, aku sama sekali tak merasakanya. Tubuhku benar-benar sudah mati rasa.

Aku menatap wajah khawatir Ichigo. Langit malam dan air hujan cukup untuk membuat mataku sulit melihat. Ditambah lagi dengan mataku yang benar-benar berat dan terasa sulit untuk membuka.

"Cih... aku tidak menyuruhmu untuk tidur di luar Rukia," kesal Ichigo. Aku kembali menatap wajah Ichigo dengan susah payah. Dia bilang apa? Sejak kapan aku tertidur di luar? Aku tidak merasa aku tidur di luar.

"Ichigo, aku tidak..." aku belum sempat memprotes, namun Ichigo langsung memotongnya.

"HARUS BERAPA KALI KUBILANG DIAM!" bentaknya. Mataku langsung melotot mendapatkan bentakan yang menusuk itu. Ichigo menghentikan langkahnya. Kami saling bertatapan. Sial, aku mengaku kalah. Tatapan matanya benar-benar menunjukkan kekhawatirannya.

"A... da... apa?" tanyaku terbata. Itu bukanlah karena gugup mendapatkan tatapan matanya, aku berbicara terbata karena tenggorokanku yang benar-benar sudah terasa sakit.

"Kau merasakannya sendiri, kan? Kau merasakan tenggorokanmu sakit bukan?" tanya Ichigo. Ichigo mengeratkan pelukannya, hingga membuat punggungnya melengkung dan wajahnya tertempel di bahuku. Aku semakin bingung, rambutnya mulai menyusahkanku.

Dengan sekuat tenaga aku mengangkat tanganku dan mendorong kepala Ichigo. Ichigo menurut dan menjauhkan kepalanya dari bahuku. Kami kembali bertatapan, dapat dengan jelas aku melihat kerutan di dahinya bertambah, membuat dahiku ikut berkerut.

"Kau kenapa?" tanyaku memaksakan diri. Guyuran hujan sudah tak kuhiraukan lagi.

"Kau tertidur, Rukia. kau tertidur di depan rumahmu. Kalau saja aku tak menyadari bahwa lampu kamarmu terus padam, kau mungkin akan mati kedinginan di luar," lirih ichigo. Kakinya kebali melangkah.

"Kita... mau... kemana?" tanyaku lagi. Sungguh, aku benar-benar merasa bodoh mengetahui hal itu. Bagaimana bisa aku tertidur di luar? Dan sekarang aku harus melihat wajah sedih Ichigo. Oh, sedih? Apakah Ichigo sedih?

"Ke rumahku. Sudahlah, kau diam saja!" kesal Ichigo. Tubuhku menggigil seketika saat mendengar pintu rumah Ichigo di buka dan Ichigo membawaku masuk ke dalam ruangan yang sebenarnya terasa hangat. Namun, entah mengapa aku jadi merasa menggigil dan benar-benar merasa tubuhku membeku saat masuk ke dalam ruangan ini.

Aku merapatkan tubuhku. "Ichi... hhah... dhi... nginh..." lirihku pelan.

"Ichi-nii ada... Rukia-nee!" aku mendengar suara melengking Karin dan derap langkahnya.

"Karin-chan, ada apa dengan Rukia-chan?" suara Yuzu yang terdengar panik mulai memekakkan telingaku.

"Yuzu, cepat ambilkan air dan handuk! Karin, kau ambilkan obat di kotak P3K di dapur!" teriakan Ichigo justru terdengar lebih panik. Tubuhku serasa terguncang saat kusadari kaki Ichigo mulai melangkah cepat dan tubuhku terasa mulai melawan gravitasi, juga langkah Ichigo yang terkesan sedikit lambat dari sebelumnya. Sepertinya kami sedang naik tangga.

Kepalaku tiba-tiba sakit saat aku berusaha membuka kembali mataku. Napasku menderu, sesak! Tubuhku dingin, mataku berat, dan dadaku sesak. Sebenarnya aku kenapa?

"Sabarlah, Rukia!" sahut Ichigo.

Sekali lagi, aku mendengar suara pintu di buka. Tubuhku terhempas pelan di atas sesuatu yang empuk. Kasur? Tunggu, ini ada di lantai 2. Satu-satunya kamar yang memiliki kasur di lantai 2 adalah kamar ji-san dan Ichigo. Sangat tidak mungkin jika ini kamar ji-san, berarti...

Aku berusaha mengangkat tubuhku, namun, lagi-lagi Ichigo membentakku.

"Tak bisakah kau diam sebentar, Rukia!?" bentaknya sambil mendorong tubuhku hingga kembali berbaring. Tangan Ichigo menahan punggungku, lalu meletakkan sebuah bantal di kepalaku sebagai sandaran. Perlahan, kurasakan sebuah kehangatan menyelimutiku. Ichigo mennutupi tubuhku dengan selimut. Tangannya lalu menyentuh dahiku.

"Panas," katanya.

Brak! Aku mendengar suara pintu dibanting dan derap langkah yang semakin mendekat.

"Ichi-nii, ini kotak P3K-nya!" sahut Karin panik. Sekarang suaranya pun ikut-ikutan panik karena terbawa suasana.

"Aku membawakan air dan handuknya, onii-chan," suara Yuzu tak kalah paniknya. Mataku masih terpejam, tapi aku masih bisa mendengar semua pembicaraan mereka.

"Terima kasih. Ah... sudahlah... kalian tidur saja, sekarang sudah pukul 12 malam. Kalian masih harus sekolah besok," kata Ichigo cepat. Sesuatu yang lembut mulai menyentuh leherku, begitu hangat dan perlahan bergerak berirama. Sebuah handuk, Ichigo berusaha mengeringkan tubuhku.

"Tapi... onii-chan, bagaimana dengan..." Yuzu hendak protes, sayangnya Ichigo langsung memotong.

"Aku akan merawatnya. Sudahlah... kalian tidur saja," kata Ichigo lembut. Tak ada respon dari Karin dan Yuzu, yang ada hanyalah suara langkah yang terdengar menjauh. Mendengar langkah berirama itu membuatku terserang kantuk.

"Baiklah, aku akan merawatmu, Rukia!" suara tegas itu kini benar-benar membawaku ke alam mimpi.

#*#

Ini aneh sekali. Kenapa saat hujan turun aku... merasa hampa!

...

Aku menggeliat dalam tidurku. Sakit di kepalaku sudah berkurang banyak, tapi tenggorokanku masih terasa sangat sakit. Tubuhku terasa hangat. Ah... tak kusangka selimut Ichigo benar-benar sehangat ini. Aku mengeratkan pelukanku pada bantal besar di hadapanku. Namun, aku mulai merasa aneh saat ada sesuatu yang bergerak di punggungku.

"Jangan menggeliat, Rukia!" suara baritone yang terkesan malas itu membuatku terkesiap. Langsung saja aku melepas pelukanku pada bantal itu. Aku tertegun dan menelan ludahku dengan susah payah saat mataku menangkap dada bidang seorang laki-laki. Perlahan, wajahku terangkat dan melihat siapa pemilik dada bidang ini.

"I...chi.." suaraku tercekat di tenggorokanku. Langsung saja aku memegangi kulit leherku. Tenggorokanku sangat sakit. Aku berusaha melepaskan pelukan Ichigo dan mengubah posisi tidurku menjadi duduk.

"Rukia, kau sudah bangun?" Mataku langsung menukik ke arah Ichigo ketika ia bangun sambil menguap lebar. Ichigo ikut mengubah posisi tubuhnya, ia bersandar pada sandaran ranjang.

"A... pha... yangh... khau... lhakhukhan... pha... dakuh...!? (A... pa... yang... kau... lakukan... pa... daku...!?)" kataku setengah mati. Sayangnya, suaraku itu malah terdengar seperti dengungan lalat.

"Apa? Tadi kau bilang apa?" tanyanya kikuk. Sebelah alisnya terangkat. Tanpa pikir panjang aku langsung melayangkan tinjuku di wajahnya, membuatnya akhirnya tersadar dari ketidak-warasannya tadi.

"I... nhih... (I... ni...)" jeritku tertahan sambil menunjuk tenggorokanku.

"Suaramu hilang? Salahmu!" kesalnya. Ichigo lalu kembali menenggelamkan dirinya ke dalam selimut. Dengan sekuat tenaga aku menarik tangannya, hingga akhirnya ia kembali keluar dari selimut itu.

"Ada apa sih... eh?" Aku langsung memalingkan wajahku ketika Ichigo hendak membentakku. Tidak... aku malu. Tunggu dulu... keadaan apa ini? Aku dan ichigo berada di atas ranjang, Ichigo hanya mengenakan boxer dan aku... hei... sejak kapan aku mengenakan pakaian tidur?

Aku memelototi Ichigo dan menunjuk tubuhnya. Wajahku mulai memerah saat pikiran-pikiran aneh sempat singgah di otakku.

"Wajahmu memerah, kau kenapa? Oh... apakah kau memikirkan yang aneh-aneh?" goda Ichigo. Ichigo menarik daguku hingga dagu kami bersentuhan. Wajahku semakin memerah dan langsung saja aku menepis tangannya.

Aku menggeleng kuat. Dan sialnya, Ichigo malah terkekeh. Sekuat tenaga aku memelototinya.

"Ahahaha... bercanda. Baiklah... akankuugh..." saat Ichigo mulai ingin menjelaskan, aku menonjok perutnya kuat. Tanpa menunggu ia mencela, aku kembali memukul kepalanya, menendang perutnya dan melalukan penyiksaan seperti biasanya pada Ichigo.

...

"Jadi... sekarang aku sudah mengenakan pakaianku, kau bisa tenang mendengarkan penjelasanku... NONA KUCHIKI!?" kata Ichigo. Aku dan Ichigo sudah duduk bersimpuh di atas ranjang, dan sekarang aku hanya bisa diam sambil menahan tawa melihat wajah jengkelnya yang dipenuhi lebam kecil.

"Semalam, kau tertidur di depan rumahmu! Sepertinya kau tertidur lebih dari 3 jam! Aku membawamu pulang dan merawatmu! Yang mengganti bajumu itu Yuzu dan Karin! Piyama yang kau kenakan itu milik Yuzu! Semalam aku hanya beniat menungguimu, tapi sayangnya aku mengantuk dan tanpa sadar membuka baju, lalu tidur di ranjang yang sama denganmu! Kau puas!?" katanya jengkel. Sial, sekarang aku justru lebih jengkel.

Aku menuliskan sesuatu di kertas memo yang sempat Ichigo berikan padaku. Setelah menuliskan beberapa huruf, aku menunjukkannya pada Ichigo.

"Kenapa kita bisa berpelukan?" tanya Ichigo sambil menatapku. Aku mengangguk kuat.

"Kau yang memelukku!" katanya malas. Dengan kesal aku menuliskan sesuatu lagi di kertas yang sama.

"Lalu... kenapa kau memelukku balik?" Ichigo membaca tulisan itu dan kembali kubalas dengan anggukan. Sejujurnya aku tak bisa menahan rona merah muda di pipiku, dan rona merah muda itu berganti merah padam saat melihat wajah Ichigo yang ikut-ikutan memerah.

"I... Itu... itu karena tubuhmu dingin, aku... mencoba menghangat.. kan...nya," jawab ichigo gelapapan sambil memalingkan wajahnya. Cesh... kepalaku benar-benar terasa panas sekarang. Cepat-cepat aku menuliskan sesuatu untuk mengalihkan topik.

Aku menyodorkan kertas memo itu di depan wajah ichigo. Dengan wajah yang masih memerah, Ichigo melirik.

"Tentu saja kau demam. Suaramu bahkan sampai hilang seperti itu. Aku merawatmu dengan susah payah. Kau seharusnya berterima kasih karena aku mau merawatmu yang tak bisa diam itu," jengkelnya. Wajahku kembali memanas, ingatanku mengenai semalam sepintas keluar.

Aku menunduk lemah, lalu kembali menuliskan sesuatu.

A... ri... ga... tou... Itulah tulisan yang kutulis.

Dengan malu-malu aku menunjukkan kertas memo itu.

Cesh... secara bersamaan wajahku dan wajah Ichigo memerah. Kami membuang muka. Aku malu...

"A...Ah... Do... Douita," kata Ichigo malu-malu.


.::Do Re Mi Rintik Hujan::.


Aku turun dari lantai 2 kediaman Kurosaki dengan masih mengenakan pakaian tidur. Setelah menjernihkan pikiranku, aku memutuskan untuk mencari makanan. Well, sebenarnya aku juga sering numpang sarapan di sini jika nii-sama sibuk dengan kerjaannya hingga berhari-hari tak pulang.

Wajahku memerah saat mengingat kejadian di kamar tadi. Oh... bagaimana bisa aku dan Ichigo tertidur bersama dalam keadaan berpelukan. Aduh... aku malu sekali. Dan lagi, bagaimana bisa semalam aku tertidur di bawah guyuran hujan? Itu tak masuk akal.

Aku menggeleng pelan. Kepalaku masih terasa sedikit berdenyut, tapi tak membuatku sulit berjalan. Aku melirik ruang keluarga dan melihat jam dinding. Pukul 7.15, batinku. Sekolahku masuk pukul 08.00, masih lama. Pantas saja Ichigo masih bersikap santai. Tapi, sepertinya Karin dan Yuzu sudah berangkat sekolah.

Sempat aku menghela napas kecewa saat teringat ji-san dan ba-chan. Oh... biasanya ba-chan akan menyambutku dengan roti panggang dengan selai strawberry kalau aku menginap di sini dan bangun pagi-pagi sekali. Atau setidaknya, nee-san dan ba-chan akan menemuiku di kamar tidur tamu dan membangunkanku dengan cara menggelitikiku. Sekarang, semua itu tinggal kenangan.

Ji-san dan nii-sama sudah 4 hari tak pulang dari kerja. Sepertinya mereka benar-benar sibuk. Ah... sudahlah, tak perlu merasa kesepian, Rukia! Kau... masih... mempunyai keluarga Kurosaki sebagai pelarian... sakit... hatimu? AKu berdecih pelan. Sakit hati, ya?

Tiba-tiba aku teringat kejadian kemarin. Dengan lemas aku menghentikan langkahku. Lagi-lagi dadaku terasa sakit dan sesak. Perkataan Ichigo kemarin benar-benar membuat jantungku ingin keluar dari tempatnya.

'Haha... Bercanda!'

'Aku juga menyukai perempuan yang menyerupai ibuku'

Oh... menyedihkan sekali mengingat semua itu. aku memegangi dadaku. Kenapa semakin bergemuruh. Tanpa sadar, dahiku berkerut kecewa. Ah.. untunglah Ichigo masih ada di atas, sedang mandi.

"Ruki... wah... waha... huwaa..." cepat-cepat aku berlari menuju tangga saat mendengar namaku dipanggil oleh Ichigo diiringi suara berisik yang memekakkan telingaku.

"Hagh...!" jeritku tertahan saat melihat Ichigo ternyata terjatuh dan... bruk... menimpaku.

Tubuh Ichigo begitu berat, dengan susah payah aku menahannya. Tapi, tunggu... ada yang aneh... kenapa aku merasa aneh. Kenapa bibirku terasa menyentuh sesuatu yang lembut dan... basah?

Aku mengerjapkan mataku dan langsung terbelalak saat menyadari apa yang terjadi. Langsung saja aku mendorong tubuh Ichigo hingga akhirnya ia mengangkat tubuh polosnya yang kini hanya mengenakan celana panjang. Dan... euh... tubuhnya masih basah oleh air.

Aku memegangi bibirku, tapi sialnya –dan entah mengapa– bibirku terasa perih. Wajahku perlahan memerah. Tadi... aku dan Ichigo... kami... Aku melirik ke arah ichigo, ia sedang memegangi pinggangnya sambil mengaduh kesakitan.

"Aduh... Rukia... kau tak apa-apa?" tanya Ichigo pelan. Mataku terbelalak saat melihat sudut bibir sebelah kanan Ichigo berdarah. Dengan hati-hati aku menekan sudut bibir bagian kiriku dan... ouh... sial, begitu perih.

"Rukia... bibirmu kenapa!?" sahut Ichigo panik sambil menarik daguku mendekati wajahnya. Aku hanya diam dengan wajah memerah total. Pandangan mata Ichigo begitu khawatir. Kenapa anak ini tak bisa membaca situasi? Kenapa ia tak menyadarinya? Bibirnya juga berdarah dan seharusnya ia juga merasa sakit.

ICHIGO, TADI KITA BERCIUMAN! jeritku dalam hati.

#*#

.

.

.

TBC

Maaf, lagi-lagi Ichi berdusta mengenai chapter ini yang akan menceritakan tentang Kurosakis' dan Kuchikis' yang akan melayat. Tapi, gak apa kan? Ini juga ada adegan aneh. Hehe... gomenasai. Aku benar-benar minta maaf buat yang tidak menikmati fic-fic buatanku.

Dan lagi, aku cuma mau menginformasikan. Fic-ficku yang lain mungkin akan lama diupdate karena sekarang aku sedang sakit. Dan ini cuma mau publish aja dan (lagi) maaf chapter ini pendek banget. Hehe...

Saran dan kritikan saya tunggu

Bagi yang berkenan silahkan

R P

E L

V E

I A

E S

W E

Tolong tunggu chapter selanjutnya yah… ^^/