Do Re Mi Rintik Hujan
Disclaimer :
Demi botaknya kepala Kubo-sensei, *Bleach* bukanlah milik saya!
Demi tumbuhnya rambut di atas jilbab author, *Do Re Mi Rintik Hujan* ini bukanlah milik Kubo-sensei dan sepenuhnya milik si author sedeng
Rated : T
Genre : Friendship, Romance, Hurt/Comfort, Family
Warning : OOC, Typo bertebaran, AU, GaJe stadium akhir, Abal tingkat akut
Balasan review buat yang anonymous reviewer
Aeni Hibiki : thx for RnR. Ini lanjutannya ^^/ makasih atas dukungan dan doanya. Maaf, kali ini updatenya lebih lama dari biasanya.
Rinko Kurochiki : wah... makasih dah RnR kakak :3 hehe... ini udah kubuat sebaik2 yg kubisa kak -w- sisanya tinggal menunggu pendapat kakak aja XD
Makasih juga buat, 'Kuchiki Kazuhei' ' ' 'reiji m' 'candy loly bery' 'Keiko Eni Naomi' 'Naruzhea AiChi' KitoUsagiBianca' Hepta Py' ' ' 'Hikary Cresenti Ravenia' 'Aurora Borealix'dan ' .98' yang sudah memberi dukungan lewat review, juga para silent readers yang mau membaca fic ini :) para readers yang memfollow bahkan sampai mem-fave fic ini... saya sangat berterima kasih... :)
Don't Like, Don't Read, so…
Enjoy it!
.
.
.
Chapter 6
.
.
.
Hujan... apa itu hujan? Apakah hujan itu tetesan air yang jatuh dari langit? Apakah hujan itu sesuatu yang meguntungkan? Aku tak bisa menjawabnya. Jawablah... kumohon. Jawab pertanyaan itu. agar aku benar-benar bisa mengerti apa alasan sebenarnya aku menyukai hujan.
...
Mataku terbelalak kaget saat sadar apa yang baru saja terjadi. Dengan cepat aku mendorong tubuh polos Ichigo –yang hanya mengenakan celana panjang– itu agar menjauh dariku. Sejujurnya, tubuhnya itu selain membuatku risih dan malu, ia juga memiliki berat badan yang sanggup meremukkan tulang-tulangku.
Aku memegangi bibirku yang sekarang sedikit basah. Namun, entah apa yang membuatnya begitu perih ketika kusentuh. Wajahku terasa memanas dan kuyakin wajahku telah memerah sekarang. Ah... apa yang kami lakukan tadi!? Tidak... Kami... kami... kami...
Mataku dengan jahil melirik ke arah Ichigo. Tangan kirinya berada di pinggangnya sedangkan yang lainnya mulai mengurut kepala. Keluhan sakit meluncur dari bibirnya.
"Aduh... Rukia... kau tak apa-apa?" tanya Ichigo pelan. Pandangan mataku terfokus pada bibir Ichigo yang baru saja berucap. Dan saat itu juga melihat sudut bibir sebelah kanan Ichigo sedikit berdarah.
Masih dalam keadaan kaget dan mata membulat, aku langsung menyentuh kembali bibirku. Namun, kali ini pada tempat yang lebih spesifik. Sudut bibir sebelah kiriku! Dan... bagus! Ternyata rasa perih yang sempat kurasakan berasal dari sudut bibirku itu.
"Rukia... bibirmu kenapa!?" sahut Ichigo panik sambil menarik daguku mendekati wajahnya. Aku hanya terdiam dengan wajah yang mulai menyamai warna kepiting rebus.
Kuperhatikan manik hazel Ichigo tertuju pada bibirku, dan pandangan itu menyiratkan sebuah kekhawatiran. Aku menelan ludah dengan susah payah. Dasar bocah idiot. Dasar jeruk bodoh! Apakah dia tak bisa membaca situasi? Bibirnya terluka, kan? Itu pasti sakit –atau setidaknya perih. Ia seharusnya tahu apa yang terjadi!
ICHIGO, TADI KITA BERCIUMAN! jeritku dalam hati.
Ichigo mengalihkan pandangannya dari bibirku ke mataku. Amethyst dan hazel bertemu. Ungu kelabu dan coklat itu warna yang kontras, tapi kenapa aku merasa begitu nyaman? Aku merasa warna itu begitu pas di otakku. Dan aku rasanya ingin terus memperhatikannya.
Aku –dengan enggan– membuang muka dan cepat-cepat memukul wajah Ichigo. Ia mengumpat, lalu mulai menatapku tajam. Aku ingin memarahinya, tapi tidak bisa karena tenggorokan bodohku ini yang tak bisa menyimpul dengan baik pita suaraku.
Tubuhku mulai bergerak gelisah –tak nyaman dengan situasi sekarang. Ichigo mulai berceloteh tak jelas, tapi karena kepalaku yang mulai dilanda pusing, aku jadi tak bisa mencerna semua kalimat yang ia ucapkan. Ah... tak usah dipedulikan, pastilah ocehan tak jelas yang ia keluarkan. d
Aku melipat kedua tanganku dengan masih membuang muka. Aku masih malu dengan insiden kecil yang terjadi di antara kami tadi, selain itu aku juga malu untuk melihat tubuh polos seorang Kurosaki Ichigo –yang sebenarnya sudah puluhan kali kulihat.
Dadaku terasa sedikit aneh. Entah mengapa aku merasa sesuatu di dalamnya sedang berdesakan. Begitu sesak dan merisihkanku. Tunggu dulu!... Tangan kiriku perlahan menyentuh dadaku, dan benar saja, jantungku berdetak cepat dengan hentakan berirama. Hei... apakah ini yang sering orang-orang sebut dengan... berdebar?
Tiba-tiba –saat aku sedang mempelajari kata 'berdebar' itu– aku merasa tubuhku sesaat melawan gravitasi. Seseorang mengangkat tubuhku dan itu sudah jelas Ichigo. JELAS! Aku merasa tidak nyaman dengan semua ini. Langsung saja aku menggeliat dalam bopongannya.
"Diamlah, Rukia!" tegas Ichigo. Dengan jengkel aku menjambak rambut Ichigo.
"Tu... runkan.. hakkhu..." kataku setengah mati. Ichigo menatapku jengkel, lalu tiba-tiba menyundul kepalaku dengan kepalanya, membuatku langsung berhenti menggeliat dan mulai mengelus dahiku. Sial, tak kusangka dahinya sekeras itu. Kepalaku mulai pusing.
"Kubilang diam, luka di bibirmu itu harus diobati!" jengkelnya. Aku terdiam menatap wajahnya yang begitu serius. Kepalaku perlahan tertunduk. Wajahku kembali memanas, aku menempelkan sisi kanan kepalaku pada dada bidangnya.
"Tawake wa!" lirihku dengan suara serak.
#*#
Langit bergemuruh. Dadaku juga terasa begitu. Oh langit... apakah alasanmu bergemuruh sama dengan alasan dadaku bergemuruh?
...
Ichigo mendudukiku di atas sofa ruang keluarga. Dengan jengkel ia menunjukku sambil berkata, "Diam di sini!" Dan kalimat itu sukses membuatku terkikik. Lucu sekali melihat wajahnya yang memancarkan aura jengkel dan khawatir itu.
Kaki Ichigo membawanya pergi menuju dapur, mungkin dia mau mengambil kotak P3K. Saat mataku tak dapat lagi melihat tubuh Ichigo, tanganku perlahan terangkat dan kembali menyentuh dadaku. Masih bergemuruh dan sekarang sudah sedikit mereda.
Bibirku tersenyum tipis. Entah mengapa perasaan senang memenuhi hatiku. Kenapa? Aku merasa senang berada dekat dengan Ichigo. Seperti ada yang menghangatkan hatiku dan memberikan kenyamanan padaku.
Kepalaku terangkat dan pandanganku menyapu ruangan keluarga ini. Aku tersentak pelan saat tak sengaja melihat foto ba-chan yang ada di atas altar di sudut ruangan. Wajah ba-chan mengingatkanku pada Inoue.
"Inoue..." mulutku berucap lirih.
Perasaan hangat di dadaku lenyap seketika. Dadaku terasa sakit. Sangat sakit. Jemariku mulai meremas bagian dada piyamaku. Terasa semakin sakit saat aku mengingat ucapan Ichigo kemarin.
'Haha... Bercanda!'
'Aku juga menyukai perempuan yang menyerupai ibuku'
Hanya dua kalimat. Dan ia menyebut kalimat itu dengan tawa dan senyum yang selama ini kusuka darinya. Aku suka melihatnya tersenyum dan tertawa saat otaknya tidak memikirkan kesedihannya saat ba-chan meninggal dulu. Tapi aku benci saat ia tersenyum dan tertawa saat dia mengingat ba-chan dan menggunakan senyuman itu sebagai pelampiasan rasa sedihnya. Dan kali ini dia tersenyum tanpa beban pada saat ia memikirkan ba-chan. Itu terlihat sedikit... aneh! Dan juga menyebalkan.
Ichigo datang dengan kotak P3K di tangan kanannya dan segelas air di tangan kirinya. Mataku menatapnya sendu. Ia masih sibuk dengan barang-barang di tangannya. Ichigo menyukai Inoue. Itulah kenyataan yang kuketahui sekarang, tapi entah mengapa aku merasa tidak rela dengan itu.
"Masih sakit?" tanya Ichigo. Aku mengernyit dan memberikan senyum simpul saat Ichigo terduduk di lantai di depanku.
"Sedi.. khit..." lirihku. Ichigo terdiam, lalu mulai mengambil sesuatu dari dalam kotak P3K, sedikit kapas. Ia lalu mencelupkan setengah bagian dari kapas itu dalam air pada gelas yang tadi ia bawa.
"Tahan sebentar, akan sedikit perih," sahutnya sambil menarik leherku mendekati wajahnya. Lagi-lagi perasaan berdebar itu menyerangku. Dadaku kembali berdetak dengan berirama dan perasaan hangat perlahan menyelimutiku. Saat itu juga pikiran-pikiran aneh yang sempat bergelayut di otakku pergi. Yang sekarang memenuhi otakku hanyalah... Ichigo.
"Ssssttt..." aku mendesis pelan dan sontak memundurkan kepalaku saat kapas basah di tangan Ichigo menyentuh bibirku.
"Sakit?" lirih Ichigo. kepalaku menggeleng pelan. Ichigo kembali mendekatkan kapas itu pada bibirku dan dengan susah payah aku menahan rasa perih yang luar biasa itu.
Mataku dengan nakal memperhatikan hazel miliknya. Seulas senyum muncul di bibirku. Menyenangkan sekali memperhatikannya diam-diam seperti ini.
"Kenapa tersenyum?" sahut Ichigo tiba-tiba. Tangan Ichigo menjauh dari belakang leherku, dan kini bergerak dalam kotak P3K di sebelahnya. Lagi-lagi hanya gelengan yang kubalas, namun senyumanku masih tak mau menghilang. Oh... ternyata yang Ichigo ambil itu sebuah plester.
"Mendekatlah!" perintah Ichigo pelan. Mendengar kalimat itu tiba-tiba wajahku memanas dan aku hanya bisa terdiam.
"Ck..." Ichigo berdecak kesal lalu dengan paksa menarik wajahku mendekat.
Plek!
Sebuah plester tertempel rapi di sudut bibirku.
"Hei... kau kenapa? Wajahmu memerah dan panas, apa kau masih sakit?" tanya Ichigo sambil meletakkkan tangan kekarnya di dahiku. Wajahku semakin memanas dan langsung saja aku menggelengkan kepalaku kuat.
"Ck... sudahlah, tak usah memaksakan diri, tak usah sekolah saja hari in...-ugh..." tanpa basa-basi aku melayangkan tinjuku ke wajahnya setelah tahu kalimatnya itu. Sial, perasaan hangat yang tadi menyelimutiku kini berubah menjadi api yang membakar emosiku.
Aku menatap Ichigo tajam, memberikan isyarat mata yang seakan-akan mengatakan, Jangan mengatakan hal yang aneh seperti itu!
"Kau masih sakit bodoh!" Ichigo menyentil dahiku, sontak saja aku memukul perutnya kuat. Sejujurnya, saat kepalaku terdorong ke belakang oleh sentilan itu, aku merasa dunia seakan berputar dan aku sulit untuk melihat. Oh ya, sepertinya aku memang masih sakit, tapi aku tetap mau sekolah.
"Baiklah... baiklah... kau tetap keras kepala seperti biasanya, dan aku sulit untuk memecahkan kepalamu itu," Ichigo berkomentar sambil mengelus perutnya. Aku tersenyum geli.
"Tapi, kau harus selalu di dekatku," lanjutnya. Aku terdiam sejenak, berusaha mencerna kalimatnya.
Blush...
Mulutku terbuka dan berusaha mengucapkan sesuatu, tapi tetap saja aku tak bisa bersuara. Wajahku kembali memanas dan aku yakin sekarang sudah semerah tomat. Apa maksud Ichigo mengatakan tadi? Kalimat itu terkesan seakan-akan dia ingin terus bersamaku dan ingin menjagaku. Apalagi dia memberikan penekanan berbeda pada kata 'selalu'.
"Lagi-lagi wajahmu memerah," sahutnya jengkel. Aku menatapnya kikuk dan tanpa sengaja amethyst-ku melihat bibirnya. Luka itu masih ada dan melihat luka itu membuat wajahku semakin memanas –seakan-akan ingin meledak.
"Be...rhisik," sahutku parau.
Tanganku menjangkau kotak P3K dan gelas berisi air yang ada di sebelah , tanganku sedikit bergetar karena gugup, namun itu tak mengganggu kegiatan yang ingin kulakukan sekarang.
"Mau aph..." Langsung saja aku meletakkan jari telunjuk tangan kananku pada bibir Ichigo saat ia hendak protes. Setelah itu, kucelupkan secuil kapas yang tadi kuambil dari kotak P3K pada air dalam gelas.
Tangan kiriku menarik tengkuk Ichigo pelan, lalu tangan kananku yang memegang kapas mendekat pada bibirnya. Perlahan, aku menghapus bekas darah yang ada di bawah bibirnya, lalu mulai menekan-nekan sumber darahnya –bekas luka.
"A... aw... sakit," rintih Ichigo. Ia menjauhkan wajahnya hingga tanganku yang ada di tengkuknya terlepas.
"Maaf," lirihku pelan. Tanganku lalu mengambil sebuah plester di dalam kotak P3K dan dengan hati-hati aku menempelkan plester itu di sudut bibirnya. Sekilas, aku melihat rona merah di wajah Ichigo.
"Dasar!" ia berujar tegas, membuatku mengernyit bingung saat aku sedang menekan plester itu agar menempel. "Jika kau lembut seperti ini kau akan terlihat lebih cantik," lanjutnya hampir berbisik. Aku tersentak dan dengan cepat aku menarik tanganku dari wajahnya.
Kami saling membuang muka. Keadaan ini benar-benar membuatku kesal. Entah mengapa akhir-akhir ini sikapku yang biasanya –kasar– jarang keluar.
Diam. Sunyi. Hening. Silent. Shizuka. Hal itulah yang sekarang melanda kami. Aku benar-benar merasa aneh dan canggung untuk sekadar memarahinya sekarang. Padahal, memarahi dan memaki Ichigo sudah menjadi kegiatan rutinku tiap hari.
"Oh iya... Rukia," aku melirik ke arah Ichigo saat ia memanggil namaku –dengan malu-malu. Akhirnya ia berani membuat buah percakapan.
"Kenapa bibir kita terluka?" Sebuah pertanyaan konyol terlontar dari bibirnya. Pertanyaan yang ia lontarkan dengan wajah polos tanpa beban yang membuatku ingin sekali menggantungnya di Menara Tokyo.
#*#
Aku begitu menyukai warna rambutnya yang menyala itu. Begitu menyejukkan. Warna cerah yang ikut mencerahkan hatiku. Entah mengapa, sesaat aku berpikir agar langit terus memantulkan warna matahari. Warna matahari yang sama dengan rambutnya. Tapi, bukankah aku membenci hari yang cerah?
...
Aku sudah selesai mandi dan memakai bajuku. Sedari tadi aku terus memegangi dadaku dan sesekali meremas seragamku. Lagi-lagi aku teringat perkataan Ichigo kemarin.
Oh... Ichigo seorang mother complex, yang artinya dia terobesi pada ibunya. Kemarin saja ia mangatakan bahwa ia menyukai Inoue karena secara fisik, Inoue mirip dengan ba-chan. Rambutnya, postur tubuhnya, sifatnya, bahkan senyumnya, Inoue begitu sempurna, sangat mirip denga ba-chan.
Aku menghela napas lelah, lalu pandangan mataku beralih pada lantai rumah. Sekali lagi aku menghela napas lelah, kemudian menatap bayangan tubuhku pada cermin di depanku. Kami-sama, benarkah itu aku? Begitu pendek dengan wajah pas-pasan, dada rata, rambut hitam pendek. Sama sekali tak ada yang menarik dari diriku. Aku mungil, entah cocok atau tidak jika aku dikatakan sebagai murid SMA. Berbeda sekali dengan Inoue. Aku kalah... ya kalah... TUNGGU! Apa maksudku mengatakan hal itu? Aku kalah? Kalah dari apa?
Aku menampar pipiku keras dan menggeleng. Tidak, tidak mungkin. Kenapa tadi, aku sekilas berpikir bahwa aku... menyukai si baka orenji itu? Tidak... itu tidak mungkin!
"Rukia!" Aku tersentak kaget dan sontak memutar tubuhku ketika ada seserorang yang memanggil namaku.
"Ichigo?" sahutku parau.
"Apa yang kau lakukan? Cepatlah, aku tunggu di bawah," sahut Ichigo malas. Aku hanya diam dan mengangguk, lalu Ichigo beranjak pergi.
Setelah yakin Ichigo pergi, aku kembali menatap wajahku di depan cermin. Oh... menyedihkan sekali.
..::Do Re Mi Rintik Hujan::..
Aku sudah siap dengan semua pakaianku, setelah ini aku akan berterima kasih pada Ichigo karena sudah merawatku dan tadi repot-repot mengambil pakaianku di rumah.
Namun, setelah turun dari tangga dan mengintip ruang keluarga, aku justru hanya bisa bergeming menatapnya. Ia duduk bersimpuh di depan altar ba-chan menatap foto itu dengan tatapan kosong tanpa perasaan.
Tangan Ichigo bergerak, menancapkan beberapa dupa yang telah ia bakar pada altar itu. Tangannya bergerak, lalu bertemu. Perlahan, matanya terpejam dan kepalanya tertunduk. Sedang berdoa.
Tak lama, matanya terbuka dan tangannya terjatuh di atas pahanya. Tatapannya terisi, bukan lagi tatapan kosong, tapi justru terisi oleh tatapan sendu yang sulit untuk dijelaskan. Dia seakan-akan... mengasihani sesuatu, entah kasihan akan apa. Yang jelas, tatapan itu... adalah tatapan yang paling kubenci. Tatapan yang menunjukkan betapa lemahnya Ichigo, tatapan yang selalu ia sembunyikan dariku, tatapan yang berada dibalik senyuman paksa yang ia keluarkan.
Tiba-tiba kerutan di dahi Ichigo bertambah, namun bibirnya malah melengkung ke atas. Aku berdecih disaat dahiku ikut bertaut, dia memaksakan senyumannya di depan ba-chan. Dan foto ba-chan itu hanya bisa tersenyum bisu, tak bisa memprotes senyuman palsu yang dikeluarkan Ichigo. Aku yakin, jika ada ba-chan di sini, beliau tak akan senang dengan sikap Ichigo.
"Kaa-san, hari ini pun, aku minta doanya," katanya riang. Kugigit bibir bawahku, meredam gejolak amarah yang ingin keluar dari hatiku. Aku tidak senang melihatnya seperti itu, terlihat seperti orang bodoh yang minta dikasihani. Dan lagi, eugh... seharusnya yang harus didoakan itu ba-chan, bukan dia. Dasar idiot!
Namun, setelah itu, tatapannya kembali sendu. "Ichi... akh..." Langsung saja aku memegang leherku ketika kurasakan rasa panas menjalar di tenggorokanku.
"Rukia!" Ichigo berteriak histeris dan langsung menemuiku, memegang bahuku dan bertanya akan keadaanku. "Kau baik-baik saja?" tanyanya. Aku menggeleng kuat, sakit dan panas. Kurasa suaraku benar-benar akan hilang untuk sementara.
"Mana yang sakit?" tanyanya, dengan kesal aku menatapnya dan menunjuk leherku. Mikan no baka! Sudah jelas tenggorokanku.
Ichigo terdiam sejenak, lalu dia pergi meninggalkanku. Apa yang mau dia lakukan? Sial, ini menyakitkan. Aku bahkan tak bisa menyebut huruf A.
Aku merasakan sesuatu menepuk-nepuk bahuku. Segera aku membalikkan tubuhku. Namun, tiba-tiba sesuatu telah menyentuh bibirku, membuatku tanpa pikir panjang membuka sedikit bibirku itu. Dan.. hap! Sebuah benda dengan rasa asam manis telah memenuhi lidahku dan disaat yang bersamaan, aku merasakan sebuah helaan napas telah berhembus di wajahku. Mataku terbelalak kaget saat melihat wajah Ichigo begitu dekat denganku, membuat wajahku memanas seketika.
Mulutku terbuka hendak menyebut namanya, namun itu justru membuat tenggorokanku semakin sakit.
"Jangan berbicara, makan saja permen itu!" sahutnya pelan. Ini permen? "Itu permen pelega tenggorokan," lanjutnya. Setelah itu dia berjalan melewatiku untuk mengambil tasnya.
Wajahku memerah, segera aku berbalik dan menahan tangannya. Ichigo hendak berbalik, namun langsung kutahan agar ia tak membalikkan tubuhnya. Ichigo hanya memprotes bingung, namun tak kuhiraukan.
Tangan kiriku masih memegang pergelangan tangannya, sedang tangan kananku perlahan terangkat. Sialnya, kenapa tanganku gemetar?
"Kau kenapa, sih?" kesal Ichigo. Kupukul keras punggungnya dan menatap wajahnya. Ia sedikit memutar kepalanya untuk melihatku. Kuletakkan telunjukku di bibirku agar dia tak segera memprotes dan dia mengangguk tanda menurut.
Tatapanku kembali tertuju pada punggung besarnya. Tanganku masih bergetar, namun segera kuatur napasku. Jari telunjukku menyentuh punggung kekarnya, entah mengapa tiba-tiba perasaan lega menyeruak dari tubuhku. Tanganku bergerak perlahan, terus bergerak membentuk sebuah kata yang kutujukan padanya.
Setelah selesai, tanganku terjatuh dan segera menjuntai di sebelah pahaku. Kepalaku tertunduk menahan malu dan wajahku memerah.
Telingaku menangkap kekehan kecil dari mulut Ichigo. Laki-laki itu melepas genggaman tanganku, lalu membalikkan tubuhnya dan kembali menggenggam tanganku. Ia tersenyum, sebuah senyuman tulus yang membuatku terpesona. Tangan kirinya terangkat dan perlahan mengelus kepalaku, membuatku hanya bisa melenguh nyaman dengan tindakannya itu.
"Ah... Douitamashita," jawabnya mantap dan disaat itu juga, aku merasa suhu tubuhku memuncak saking senangnya.
...
Tunggu dulu...
Senang?
#*#
Aku tak pernah berharap hujan akan berhenti. Tak akan, aku sangat menyukai hujan. Kau tahu itu. Tapi, aku ingin hujan di wajahmu kembali turun. Tak ingin. Aku berharap awan hitam yang terus berkeliaran di wajahmu segera pergi, karena aku hanya akan senang melihat matahari yang ada di wajahmu.
#*#
Aku dan Ichigo hanya diam selama perjalanan ke sekolah. Bukan tak punya bahan pembicaraan, hanya tak punya suara untuk dikeluarkan. Tenggorokanku terasa terbakar.
Akhirnya, setelah beberapa lama berjalan, kami sudah berada di daerah sekolah kami, SMA Karakura. Sedikit merisihkan karena anak-anak yang terus saja berceolteh bersama teman-teman mereka. Oh... Risih? Aku mungkin tidak risih, hanya iri. Haha... mereka bisa bercanda tawa sedangkan aku hanya bisa diam. Tapi, bisa bicara pun sekarang percuma, tak ada yang bisa kubicarakan dengan baka orenji di sebelahku.
"Yo!" Sebuah suara sukses mengagetkanku setelah ia menepuk keras bahuku. Aku dan ichigo terdiam, lalu berbalik dan menatap orang yang berani mengagetkan kami itu.
Senna, batinku jengkel. Aku melihat orang yang berada di belakangnya. Namun, setelah melihat orang itu, aku justru mengutuk diriku sendiri. Kenapa aku harus bertemu dengannya? Oh Inoue... jangan tersenyum seperti itu!
"Ohayou... Kuchiki-san, Kurosaki-kun," sapa Inoue tenang. Aku hanya tersenyum simpul dan melambaikan tanganku lemas, sedang mataku perlahan melirik Ichigo. Dia tersipu... dia tersipu. Ichigo sialan.
"Ah.. Ohayou, Inoue, Senna," balas Ichigo.
"Ohayou," sahut Senna sambil tersenyum. Aku tetap membalasnya dengan senyuman simpul, bingung ingin memberi reaksi apa dengan pita suaraku yang sudah sekarat ini.
Sebelah alisku naik melihat tingkah Senna yang menatap wajahku dan wajah Ichigo secara bergantian. Dan bulu romaku seakan-akan tercabut paksa saat melihat senyuman di wajahnya. Sebuah senyuman mengerikan yang benar-benar membuatku takut.
"Hei..." Aku tersentak kaget saat ia menyebutkan kata itu, membuatku cepat-cepat memegang lengan jas Ichigo, berusaha bersembunyi di balik tubuh Ichigo, menghindari tatapannya itu.
Ichigo hanya menatapku bingung, dan aku tetap diam. Tawa Senna terdengar, membuat tubuhku mulai bergidik ngeri.
"Hei... Kalian berdua," panggil Senna. Aku dan Ichigo sontak menoleh padanya.
"Ada apa?" tanya Ichigo santai.
"Bibir kalian kenapa?" tanya Senna dengan nada menggoda, perlahan ia melangkahkan kakinya mendekatiku.
Ichigo meraba bibirnya, lalu berkata, "Aku juga tidak tahu kenapa bibir kami terluka." Jawaban konyol yang langsung membuatku menendang kakinya. Ia mengaduh kesakitan sambil menatapku tajam. Aku balik menatapnya tajam, kesal akan jawaban tanpa dosanya itu.
"Kalian berciuman, ya?" Pertanyaan yang dikeluarkan Senna benar-benar hampir mencabut bulu romaku. Dengan takut-takut aku menatapnya yang masih tersenyum bangga.
"Hah? Kau bilang apa tadi, Senna?" tanya Ichigo.
"Kalian tadi hmmphh..." Langsung kubekap mulut Senna sebelum bibir gadis itu mengucapkan kalimat yang mengerikan bagiku.
Senna menatapku jengkel. Aku menautkan alisku dan menggeleng kuat, sesekali membuka mulutku, mencoba bersuara walau tak bisa. Dengan paksa Senna melepas tanganku. Sebelah alisnya naik dan jari telunjuk tangan kanannya menunjuk padaku, sedang kepalanya menatap Ichigo."Ada apa dengan Rukia?" tanyanya.
"Suaranya hilang, semalam kehujanan," jawab Ichigo malas. Ia melanjutkan perjalanannya, aku dan Senna mengikuti dari belakang. Dan entah perasaan jengkel ini datang darimana ketika aku melihat Inoue berjalan bersebelahan dengan Ichigo dan mereka saling melempar senyum.
"Rukia, jangan bilang bahwa kau semalam tertidur di luar dan saat itu sedang hujan?" Senna mengintrogasiku dengan penekanan di setiap kata yang dia ucapkan.
Aku tersenyum konyol, lalu menggaruk kepalaku. Dan saat itu juga aku mendengar helaan napas bosan dari Senna. "Kapan kebiasaanmu itu bisa hilang, Rukia? Sejak dulu kau suka sekali bermain di luar rumah sampai lupa waktu dan terus saja tertidur," jengkel Senna. Aku tetap mempertahankan senyum konyolku, tak bisa membantah omongannya. Itu memang benar, ini bukanlah kasus pertama aku tertidur di luar disaat hujan. Oh, mungkin itulah yang membuatku tak cepat sakit saat hujan. Tubuhku mungkin sudah terbiasa dengan hawa dingin hujan.
"Lalu..." Nada yang kembali menggodaku itu terdengar. Dengan takut, kutolehkan wajahku padanya dan dia sedang memandangku dengan tatapan menuntut jawaban.
"Kalian benar-benar ciuman?" bisik Senna. Kajet dengan pertanyaan itu, tanganku refleks mendorongnya mundur, namun hal itu justru membuatku tersandung kaki seseorang dan terjungkal ke belakang.
Bruk... Tubuhku menabrak seseorang. Untungnya, orang itu mau menahan tubuhku agar tak terperosot jatuh. Ia menahan tanganku, lalu membantuku untuk berdiri tegak.
Tangannya besar dan kuat, sepertinya seorang lelaki. Dengan malu-malu, aku mengangkat kepalaku –bermaksud berterima kasih padanya. Namun, saat melihat wajah orang itu, mataku terbelalak kaget.
Tunggu dulu, ini tidak mungkin. Wajah orang ini... Ichigo, batinku kaget. Tapi, tidak! Rambut Ichigo itu aneh, orang ini normal, sama denganku.
"Berhati-hatilah saat berjalan, kau bisa terjatuh," sahutnya sambil tersenyum. Pipiku merona saat melihat senyumannya. Kenapa aku... terpesona?
"Kau mendengarkanku?" tanyanya lagi. Kepalaku perlahan mengangguk, namun mataku masih tertuju pada wajah mengagumkannya. Wajah ini, kenapa begitu mirip dengan Ichigo? Dan... kenapa aku... terpesona?
"Rukia!" Kudengar suara Ichigo menyahut, namun aku masih bergeming. Tetap menatap wajah orang di depanku. Siapa dia?
"Hei... tersenyumlah, kau akan terlihat lebih cantik jika tersenyum..." Ia memegang sedikit rambut di daerah telingaku dan mendekatkan wajahnya. Rona merah di pipiku bertambah saat sadar dia mencium rambutku dan tepat di depan wajahku dia berbisik, "Ku-chi-ki."
Blush! Perkataan itu sukses membuat wajahku memerah. Ia menjauhkan wajahnya dariku dan kembali menatapku dengan sebuah senyuman. Mataku mengerjap kaget. Dadaku sedikit bergemuruh, aneh, kenapa aku... merasa senang?
Tunggu dulu, dia tahu namaku? Aku menengadahkan kepalaku dan menatapnya yang masih terus tersenyum, namun disaat itu juga aku merasa tubuhku terangkat ke udara.
"Jangan ganggu, Rukia..." Itu kalimat yang dikeluarkan Ichigo saat ia beradu punggu dengan orang itu. Hei... aku kenal orang itu.. dia... Shiba-senpai.
Dalam bopongan Ichigo, aku sedikit menoleh ke belakang, hendak melihat Shiba-senpai yang tadi dengan sengaja ditabrak Ichigo.
"Wah... kau punya pelindung yang bagus, Kuchiki!" Shiba-senpai berteriak sambil melambaikan tangannya. Aku terdiam, mencoba mencerna perkataannya.
"Jangan dengarkan omongan orang itu!" jengkel Ichigo. Ia menekan setiap katanya dan tangannya yang berada di lengan dan pahaku mengerat, membuatku sedikit kesakitan untuk sesaat.
"Hm..." aku hanya berdehem pelan –dengan susah payah.
...
Aku meronta saat sadar aku berada di atas bopongan Ichigo dan orang-orang di sekitar kami melirik dan berbisik. Kami jadi pusat perhatian. Tidak... itu tidak bagus!
Terus kupukul kepalanya dan menatapnya tajam agar ia menurunkanku, tapi ia tetap berjalan tanpa beban dan menghiraukan semua pukulanku.
"DIAM!" tekannya kuat dan aku hanya bisa diam menurut sambil menahan malu.
...
Aku dan Ichigo disambut dengan siulan, tepuk tangan dan teriakan mengejek di kelas. Ini menjengkelkan.
Ichigo menurunkanku, lalu berjalan menuju tempat duduknya tanpa ekspresi dan bantahan.
Baka orenji! Dia punya suara dan sama sekali tak mau membantah. Tapi, aku pun mungkin aka melakukan hal sama, karena marah-marah sama sekali tak membawa keuntungan. Jadi, yang kulakukan sekarang adalah menuruti tindakan Ichigo, diam dan mengabaikan semua ejekan. Duduk di kursi dan berpura-pura sibuk dengan urusan sendiri.
Beberapa anak perempuan mendekat padaku, dan anak laki-laki mengerumuni Ichigo.
"Hei hei... Kuchiki, kalian berdua memang sudah pacaran, ya?" sebuah pertanyaan terlontar, entah siapa yang mengucapkan hal itu, tapi yang jelas kalimat itu telah membuat wajahku memanas dan membuat 4 persimpangan muncul di dahiku.
Dengan perasaan jengkel, aku membuka tasku, mengambil sebuah buku dan pensil. Menuliskan sebuah kata dengan huruf yang sangat besar.
'NO!'
Mereka menatapku bingung. "Kau kenapa?" tanya mereka, alis mereka terangkat, menuntut jawaban dariku. Kembali aku mengambil pensilku dan menulis sebuah kalimat.
"Suaraku hilang karena kehujanan, jadi tolong jangan ajak aku bicara. Aku janji jika suaraku sudah muncul akan kuceritakan semuanya." Itu kalimatnya. Mereka mengangguk sambil tersenyum. Namun, senyuman itu bukan senyuman biasa, itu... senyuman menggoda.
"Tak perlu diceritakan, luka di bibir kalian sudah menceritakannya," celetuk seseorang, membuatku terdiam dan perlahan rona merah muncul di wajahku, terasa seperti memanggang karena sekarang wajahku terasa begitu panas.
"Hah... rupanya benar." Lagi-lagi mereka menggodaku. Aku hanya diam dan membuang muka, dan entah ini karena kesialanku atau apa, wajahku justru menatap Ichigo yang sedang berbincang dengan teman-temannya. Dia tampak berdebat sesaat, terlihat jelas dari tatapan bosan dan kerutan permanennya yang bertambah.
Kulihat, temanku, Grimmjow berujar sambil tersenyum menggoda. Mata Ichigo membulat, membuatku mengernyit kaget. Namun, tindakannya setelah itulah yang benar-benar membuatku kaget. Ichigo menggebrak meja kuat dan berkata, "Sudah kukatakan Inoue, Grimmjow... jangan membuatku harus terus mengulangnya!"
Sepertinya aku dapat menangkap pertanyaan itu. Kau memilih Inoue atau Kuchiki? Kepalaku tertunduk, sebuah senyuman miris keluar di bibirku. Dan yang bisa kulakukan hanyalah mendengus malas dan menahan gejolak aneh yang terus mendesak dadaku.
#*#
Bisakah aku membujukmu untuk menyukai hujan? Atau justru kau yang akan menarikku agar menyukai mentari?
...
Bel istirahat berbunyi nyaring. Aku hanya bisa menghela napas lega karena akhirnya Aizen-sensei bisa membebaskan kami dari pelajaran sejarah yang mengerikan itu.
Kepalaku menoleh setelah tangan-tanganku berhasil meletakkan buku sejarahku di dalam laci mejaku. Menoleh ke arah jendela dimana ratusan tetes hujan terus berjatuhan, memberikan sebuah tontonan yang kutunggu-tunggu pada mataku.
Hujan turun. Aku tersenyum nyaman. Segera menopang kepalaku dengan tangan kiri agar aku benar-benar dapat menikmatinya, menyesap wangi hujan dan mendengar gemuruh guntur. Itu benar-benar menenangkanku.
"Hujan benar-benar merepotkan." Mataku melebar saat mendengar kalimat itu. kepalaku menoleh, mencari siapa yang berani menjelek-jelekkan hujan. Dan ternyata, hanya beberapa gadis aneh dan heboh di kelasku.
Aku berdiri dari dudukku, lalu perlahan berjalan menuju jendela kelasku. Hawa dingin terasa saat aku meletakkan kedua tanganku di bingkai jendela. Pemandangan di luar tak begitu indah, hanya lapangan kosong yang mulai terbanting oleh tetesan air hujan dan beberapa burung yang berteduh di ranting pohon sakura.
Bibirku masih melengkung senang, menatap kegiatan hewan-hewan kecil di tanah. Cacing-cacing kecil yang menggeliat tersiram air hujan. Kumbang yang menaiki dahan pohon hingga sampai ke puncaknya agar selamat dari kebasahan. Siput-siput yang berjalan pelan di atas daun, menerima guyuran hujan yang membasahi cangkangnya. Juga beberapa katak yang memberikan nyanyian indah berirama. Ini semua menyenangkan.
Hewan-hewan kecil itu memberikan hiburan tersendiri padaku. Untunglah mataku masih cukup awas untuk memperhatikan mereka yang bisa dibilang adalah hewan-hewan makro itu dari lantai 2 ini.
"Hei... bagaimana kalau kita menggantungkan boneka teru-teru?" Aku menoleh kuat, kembali mencari asal suara yang menyebutkan hal itu.
"Ide bagus." Yang lain menimpali, membuat dahiku terus bertaut tak nyaman.
"Hei.. Ichigo, benda apa di saku celanamu itu?" Aku menoleh saat mendengar nama Ichigo disebut oleh Grimmjow. Dan kulihat, Grimmjow sedang mengambil sebuah... boneka teru-teru di saku Ichigo? Tunggu dulu, itu... boneka teru-teru buatanku.
"Wah.. boneka teru-teru," ejek Grimmjow diiringi tawa ejekan anak-anak yang lain.
"Kembalikan benda itu, Grimmjow!" Ichigo menekan kata-katanya, pandangannya menatap tajam pada Grimmjow.
"Oh.. lucu sekali... tak kusangka kau masih suka membuat boneka ini," ledek Grimmjow lagi, mengundang tawa anak-anak kelasku. Wajah Ichigo semakin menyeramkan, membuat dahiku berkerut takut.
"Sudah kubilang kembalikan!" Suara itu semakin kecil dan ditekan. Benar-benar menunjukkan betapa marahnya Ichigo. Ia perlahan mendekati Grimmjow dan berusaha merebut boneka teru-teru itu. Namun, dengan mudahnya Grimmjow mengelak.
"Hei.. gadis-gadis, tadi kalian ingin membuat boneka teru-teru, kan? Ini.. kuberikan!" Grimmjow melempar boneka itu pada segerombolan gadis dan boneka itu ditangkap oleh salah satu dari mereka.
"Ah... tidak jadi. Boneka ini kotor... lusuh sekali. Kukembalikan!" sahut gadis itu sambil melemparnya kembali boneka teru-teru di tangannya pada Grimmjow. Grimmjow dengan sigap menangkapnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Ah... benar... sudah lusuh," kata Grimmjow santai, kembali mengundang tawa ejekan dari anak-anak kelasku.
"Kembalikan Grimmjow!" kesal Ichigo kuat. Ia berusaha menjangkau tangan Grimmjow, namun saat itu juga Grimmjow melepaskan boneka itu, hingga perlahan jatuh ke lantai. Mataku dan mata Ichigo membelalak kaget, namun perasaan yang ada di hatiku saat ini adalah perasaan sakit dan terhina. Marah!
Perlahan, aku melangkahkan kakiku mendekati Grimmjow. Ingin memakinya karena menjatuhkan boneka itu, namun tindakannya selanjutnyalah yang membuatku menghentikan langkahku. Aku kaget, napasku tercekat, dan tubuhku lemas untuk bergerak. Dengan kasar Grimmjow menginjak boneka teru-teru itu, dan dengan tenangnya orang-orang disekitar menertawakan hal itu.
"Ah maaf... tak sengaja ku inj... gfftt..." Tindakan Ichigo kali ini benar-benar membuatku kaget. Dengan sekuat tenaga kulihat Ichigo meninju wajah Grimmjow. Kuat... sangat kuat. Aku yakin itu. Tak mungkin Ichigo meninju wajah itu pelan jika ada darah yang keluar dari bibir Grimmjow.
Gadis-gadis di sekitarku menjerit takut. Dan beberapa laki-laki sudah menahan tangan Ichigo. Ichigo menatap Grimmjow ganas, sedangkan Grimmjow hanya diam dan menyeka luka di bibirnya.
Grimmjow berjalan mendekati Ichigo dan tanpa basa-basi meninju balik wajah itu. kembali gadis-gadis menjerit, dan aku hanya bisa menutup mulutku kaget. Sebagian dari laki-laki yang menahan Ichigo ikut menahan Grimmjow. Berusaha sebisa mungkin agar perkelahian ini tak berlanjut.
"Kuat juga kau, brengsek!" sinis Grimmjow.
"Heh... Aku tak pernah mengatakan padamu, ya?" Ichigo tak kalah sinis.
"Apa istimewa dari boneka lusuh itu, heh? Sampai kau rela mencari luka diwajahmu!" Grimmjow berusaha melepas tahanan di kedua tangannya, begitu juga Ichigo. Mereka tersulut api amarah lawan, dan itu membuatku takut.
"Itu benda berharga bagiku! Kau yang seenaknya menyentuhnya. Dan sekarang..." Ichigo berhasil melepas tahanannya, berjalan lunglai ke arah Grimmjow dan menendang perut laki-laki itu, membuat anak-anak di kelasku heboh dan dipenuhi jeritan ketakutan. . "Kau menginjaknya."
Grimmjow berdiri saat melihat Ichigo memungut boneka teru-teru itu. "Benda berharga? Kau bercanda!" ejek Grimmjow. Kembali tubuh mereka ditahan saat mereka saling pandang dan bersiap-siap untuk meninju lawan. Tubuhku bergetar takut melihat tatapan Ichigo. tatapannya benar-benar mengerikan, tak pernah sekalipun aku melihat wajahnya seperti itu.
Mataku terbelalak saat melihat Grimmjow meludah dan melepas paksa tangan-tangan yang menahannya, lalu mengambil ancang-ancang untuk memukul Ichigo.
Entah apa yang membuatku bertindak gila, tubuhku bergerak cepat, menerobos kerumunan murid yang mengelilingi Grimmjow dan Ichigo. Berdiri tepat di depan tubuh Ichigo, melebarkan tanganku seakan-akan ingin melindungi sesuatu.
Saat itulah aku merasakan sebuah rasa nyeri yang amat sangat menyakitkan di wajahku. Tubuhku terpelanting ke belakang dan telingaku mendengarkan teriakan histeris gadis-gadis yang menyebut namaku, disusul suara baritone si bodoh itu.
Tubuhku tak membentur lantai, aku tahu dari rasa lembut yang terasa di punggungku. Seseorang telah menyangga tubuhku yang tadi hampir terpelanting oleh hantaman tinju Grimmjow.
Kurasakan ada air mengalir dari hidungku. Pandanganku buyar, sulit untuk melihat. Air disekitar hidungku itu dapat kucicipi. Rasanya berat seperti logam. Darah! Itu sudah pasti.
"Rukia.. Rukia... kau tak apa?" Aku mendengar suara Ichigo berteriak memanggilku dan sebuah gunjangan di kedua bahuku. Kupaksakan sebuah senyuman, lalu menggeleng pelan.
Bibirku bergerak tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Bodoh! Panggil guru kesehatan!" kesal Ichigo dan itulah kalimat terakhir yang kudengar sebelum kegelapan merenggut semua duniaku.
#*#
Kau tahu? Mungkin aku tak sepenuhnya menyukai pelangi. Ehm... sebelumnya aku mengatakan padamu bahwa aku menyukai pelangi bukan? Tapi, setelah kusadari... ternyata aku memang tak sepenuhnya menyukai pelangi. Karena, saat pelangi muncul.. itu pertanda hujan telah berhenti.
...
Pusing menderaku saat aku berusaha mendorong kelopak mataku untuk terbuka.
"Rukia..." Aku kenal suara ini, suara Ichigo. kepalaku menoleh, mencari asal suara itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ichigo panik. Kurasakan sebuah kehangatan di tanganku, sepertinya dia menggenggamnya. Sangat erat!
Mulutku terbuka perlahan, "Ya!" Kami-sama, terima kasih telah mengembalikan suaraku.
Ichigo tertunduk. "Maafkan aku," lirihnya. Aku mengernyit bingung. "Gara-gara aku..."
"Terima kasih... karena menjadikan boneka itu sebagai benda berharga," potongku cepat. Aku tersenyum saat dia menghentakkan kepalanya untuk menatapku.
Ichigo terkekeh pelan, membuatku tersentak kaget dan spontan mengembungkan pipiku.
Pfftt... Ichigo menekan pipiku, hingga angin yang mengembungkan pipiku itu keluar. Ia lalu tertawa puas.
"Hei..." kesalku.
"Haha... yah... sama-sama. Dan terima kasih karena telah memberiku benda berharga ini," sahutnya. Aku terdiam dan perlahan warna merah menghiasi wajahku. Dia...tersenyum? Dan sekali lagi senyuman itu membuat sesuatu di dadaku terus bergejolak. Aku.. berdebar.
"Ru.. Rukia... aku.. ingin mengatakan sesuatu," sahut Ichigo memecahkan suasana. Ia menggenggam tanganku lebih erat. Wajahku semakin memerah, dan dadaku semakin berdebar tak karuan.
"A... Apa?" tanyaku gelagapan, perasaan senang menyeruak dari tubuhku saat melihat rona merah muda menghiasi wajah Ichigo, entah apa yang membuatku merasa senang.
"Aku... Aku..." Mataku melebar menunggu kalimatnya.
"Hya... DAIJOBUKA, KUCHIKI?" Aku dan Ichigo tersentak kaget saat mendengar suara itu. Kami menoleh ke arah pintu UKS sekolah dan...
"Shiba-senpai?" lirihku pelan.
"Apa yang kau lakukan di sini?" sinis Ichigo. Aku menatap mereka bergantian.
"Ah... apa yang kulakukan?" Suara Shiba-senpai merendah, ia lalu menatapku. "Menjenguk Kuchiki, tentu saja," lanjutnya sedikit tajam, membuatku bergidik ngeri dengan sikapnya itu.
"Sudah kukatakan untuk tidak mengganggunya," sinis Ichigo tajam.
Shiba-senpai mendekat padaku, meraih tanganku yang tak digenggam Ichigo. "Itu mustahil karena perempuan ini sudah memikat hatiku," lirihnya sambil mencium punggung tanganku. Pipiku merona mendapat pujian itu.
Ichigo dan Shiba-senpai saling melempar pandangan. Dan aku hanya bisa diam sambil sesekali melihat kedua tanganku yang mereka genggam.
.
.
TBC
.
.
(A/N)
Gimana? Apa pembaca puas? :D *digiles* hedeh... makasih buat yang membaca yah :D
Buat para readers baru, bagaimana? Apakah cerita ini aneh? Saya minta maaf jika aneh.. tapi, jika kalian menikmatinya... saya sangat bersyukur :3 dan berterima kasih XD
Okelah.. ini ada org ketiga, agak ragu buat masukin dy ato nggak. Tapi, yah.. sudahlah... biar ada persaingan gitu... :p
Sekali lagi, terima kasih telah membaca (v_v)
Sampai jumpa di chapter depan (0)/
