Do Re Mi Rintik Hujan

BLEACH © KUBO TITE

Warning : OOC, Typo sudah saya usahakan untuk terbang jauh, AU,

Balasan review buat yang anonymous dan no-login reviewer

Anemone Jie: Hola kak Jie ^^ makasih dah RnR :) wah... rupanya selama ini jadi silent readers.. senengnya rupanya ada yg baca fic ini ^^ kesel sama Ichi dan Ruki yah... hehe... gomen kalo bikin kesel. Dan aku juga sikap Kaien yg dateng2 langsung blg suka XD entah emg orgnya gentle ato sok gentle *plak! Waduh.. kyaknya ini update lama yah.. gomen tapi ini udah update kok... sekali lagi, makasih dah RnR yah.. hihi...

: Hola Azu... makasih dah RnR ^^ Ichi labil yah.. haha... katakanlah begitu, kali ini sikap Ichi aku bikin nyebelin, jadi maklum aja deh. Dan... ai ai... apakah kemaren Ichi mau nembak Rukia? aduh... saya bingung *digiles Azu* haha... ada org ketiga.. orang ketiga... *masang baliho* dilempar massa.. haha... ini udah update.. selamat menikmati ^^

aeni hibiki: Hola kak Hibiki ^^ makasih dah RnR yah.. saya udah update lagi... silahkan dibaca.. gomen kalau nggak memuaskan.. hihi... dan saya juga suka dgn adegan Ichi cemburu liet Kaien.. huahahahahah *ketawa laknat* *disumpel Nejibana* D: dan oh... pada nanya apakah sebenernya Ichi suka sama Ruki ato nggak nih... -_-" saya jadi merasa bersalah karena belum menjawabnya sampai sekarang.. tunggu aja updateannya yah :9 dan makasih dukungannya

Don't Like? Don't Read! so…

Enjoy it!

.

.

.

Chapter 7

.

.

.

Hujan dan guntur. Sebuah perpaduan mengagumkan yang memeriahkan panggung kehidupan. Panggung kehidupan yang begitu kelam oleh gelapnya malam, dan begitu bersinar oleh cahaya mentari. Aku menyukai dunia yang bersinar, tapi aku menyukai hujan yang selalu membawa kegelapan dan menutupi sang pencerah panggung.

...

Aku menatap wajah Shiba-senpai dan Ichigo secara bergantian. Tatapan mereka begitu tajam, seakan-akan ingin merobek wajah di depan mereka.

Lama mereka saling menatap sinis. Namun, ekspresi yang mereka keluarkan sungguh berbeda. Shiba-senpai tersenyum manis, tapi aku yakin ekspresi di hatinya sama. Pasti ada binatang buas yang siap menerkam. Berbeda dengan Ichigo yang terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Shiba-senpai. Tapi, apa alasannya?

Pandanganku beralih pada kedua tanganku yang masing-masing digenggam oleh mereka. Aku sedikit takut dengan mereka. Pelan-pelan, kutarik tanganku agar terlepas dari genggaman mereka, tapi itu justru membuatku kaget dengan tindakan mereka yang mengeratkan genggaman ditanganku itu.

Aku mulai gelisah. Tanganku benar-benar tak dapat ditarik dan mereka hanya diam sambil melempar tatapan tajam. Semakin aku mendiami mereka, tatapan mereka semakin tajam dan yang lebih parah adalah kekuatan genggaman mereka yang semakin kuat.

"Apa yang kau lakukan di sini?" desis Ichigo tajam. Aku meliriknya dan kerutan mengerikan di dahinya itu terus saja timbul. Bolehkah aku berkata jujur bahwa ini pertama kalinya aku takut melihat wajahnya?

"Menemui Kuchiki, tentu saja. Apa lagi yang mau kulakukan di sini selain menemui gadis yang telah mengisi hatiku," jawan Shiba-senpai tenang dengan senyumannya. Aku mengernyit bingung, tak nyaman dengan jawaban yang ia keluarkan. Itu aneh. Ya, sangat aneh. Bagaimana bisa ia menyukaiku yang merupakan gadis paling mengerikan di sekolah? Aku bahkan baru pertama kalinya berkomunikasi dengannya.

"Jangan mengatakan hal konyol, bodoh!" kesal Ichigo, ia menekan kata bodoh dan terus mengeluarkan aura mengerikan yang menandakan ketidak-sukaannya terhadap Shiba-senpai.

"Ya, itu konyol. Konyol karena aku bisa langsung terpikat oleh gadis ini."

"Ikh..." Aku meringis saat merasakan genggaman tangan Ichigo mengerat. Langsung saja kedua laki-laki itu melepaskan tangan mereka dan serentak menanyakan keadaanku.

"Kau baik-baik saja?" sahut mereka panik. Aku tersenyum simpul, tapi dapat kurasakan urat leher dan dahiku berusaha timbul menahan perasaan jengkelku. Ini buruk dan mengesalkan. Aku tak suka tindakan kedua orang ini. Silahkan saja jika mereka ingin berdebat, tapi jangan di dekatku dan jangan menjadikanku sasaran perdebatan.

"Iya, aku akan baik-baik saja jika kalian segera keluar dari tempatku beristirahat," kataku tajam sambil tersenyum manis (jangan salahkan aku jika aura kesal terus saja keluar dari tubuhku).

Kedua laki-laki itu tersenyum kikuk, lalu cepat-cepat menggosok punggung leher mereka. "Ah... Maaf," sahut mereka kikuk. "Kalau begitu aku pergi dulu," lanjut mereka bersamaan. Perasaan lega menyeruak dalam diriku saat mereka mengatakan itu dengan tulus.

"Isti–"

"Istirahat yang cukup." Aku hanya bisa terdiam saat Shiba-senpai dengan cepat memotong kata-kata Ichigo. Sesaat setelah mengucapkan hal itu, Shiba-senpai segera menjauh dari tempatku dan sempat tersenyum ke arahku. Sekali lagi, aku terpesona akan senyumnya. Dan decihan sebal dari Ichigo menyadarkanku.

Segera kulirik Ichigo. Laki-laki itu terlihat kesal dan dengan cepat menyusul Shiba-senpai. Tanpa melirikku sama sekali. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dan entah mengapa hal itu membuatku merasa... sedih?

Kutundukkan kepalaku, menatap sendu pada kain putih yang menjadi selimutku. Putih? Ah... Aku penasaran dengan teru-teru bozu itu. Apakah masih di tangan Ichigo? Atau jangan-jangan sudah berada di tong sampah?

#*#

Bolehkah kukatakan bahwa aku sedih? Ya, sedih saat kau tak mengeluarkan sepatah kata pun akhir-akhir ini. Sikapmu menunjukkan sebuah emosi. Sebuah kemarahan. Seperti kilat di ujung awan yang menyambar tanpa terdengar suara apapun.

...

Dadaku terasa sesak. Apakah ini efek samping dari tinju Grimmjow yang membekas di pipiku? Atau mungkin ini karena tahu Ichigo sudah pulang lebih dulu dariku?

Kudongakkan kepalaku, menatap awan mendung yang mulai bergemuruh. Mulutku mendesah pelan. Lagi-lagi aku merasa aneh. Ada perasaan kalut bersembunyi di hatiku dan sekali lagi aku tak tahu apa penyebabnya.

Angin membelai wajahku pelan, terasa dingin –sangat dingin. Ah... pada akhirnya kalimat Ichigo pagi tadi hanyalah basa-basi belaka. Pada akhirnya ia meninggalkanku sendiri di ruang UKS. Pada akhirnya ia tak mau menjagaku. Pada akhir ia... tak mau berada di sampingku. Oh... mungkinkah itu karena perasaan jengkelnya karena aku mengusirnya tadi? Bisa jadi.

Kurasakan setetes dingin singgah di hidungku, lalu berganti menjadi belasan, puluhan dan akhirnya ratusan tetes hujan yang menghujamku dengan perasaan dingin yang menusuk. Harus kuakui semua perasaan dingin itu sama sekali tak menggangguku. Sudah kukatakan aku menyukai hujan, dan hujan kali ini turun disaat yang tepat. Hujan yang turun hari ini sangat menyejukkanku.

Perasaan kalut yang menyelimuti hatiku mulai luntur. Membawa hatiku pada perasaan senang tak terbendung. Senang dengan semua beban yang telah bebas menggerayangi kepalaku. Senang dengan sensasi dingin yang menetralisir panasnya kepalaku.

Hidungku menyesap aroma hujan yang khas. Menikmati semua suasana hujan yang sangat kusuka.

"Kau bisa sakit lagi, midget!" Mataku terbelalak kaget mendengar suara itu. Pandanganku yang awalnya berada pada kaki basahku, kini terangkat pada tubuh tegap seseorang.

"I– chi–" sahutku kikuk dan belum selesai aku menyebut nama orang itu, sebuah kain telah bertengger di kepalaku dan hujan telah sepenuhnya berhenti di atas kepalaku.

"Jangan menutupiku dengan payung," jengkelku sambil menarik kain –yang ternyata adalah cardigan-nya – dari kepalaku. Aku meremasnya pelan, membiarkannya bertengger pada genggaman tanganku.

"Kau baru saja sembuh, jadi jangan bertingkah," jengkel Ichigo sambil menarik tanganku untuk berjalan sejajar dengannya. "Dan lepaskan cardigan basahmu, ganti dengan punyaku!" lanjutnya sambil menunjuk pakaianku. Aku berdecih jengkel, lalu menurutinya.

"Punyamu kebesaran," kali ini akulah yang berujar jengkel.

"Silahkan kau bandingkan sendiri ukuran tubuhmu dengan tubuhku," sahutnya santai. Aku memilih untuk tak membalas ucapannya, membalas ucapannya tak ada ada ujungnya. Tapi, aku juga malas melihat wajahnya. Ekspresi yang akan retinaku tanggap adalah sama dengan biasanya, pandangan mata kosong dengan senyuman yang menutupi semua kebenciannya terhadap hujan.

"Aw..." lirihku sambil menempel pada Ichigo saat tanpa sengaja kakiku menginjak genangan air. Dan disaat yang bersamaan, kurasakan sesuatu yang hangat telah menyentuh bahuku, membuatku langsung menempel pada tubuh Ichigo.

"Lepaskan tanganmu," sahutku cepat. Aku menatap wajahnya dan memberikan tatapan tak nyaman padanya.

"Menempel saja, kau bisa kedinginan dan bahumu bisa basah nantinya," balasnya tenang.

"Tapi bajuku memang sudah basah," protesku.

"Sedikit," ia tetap membalas santai. Dan kali ini kubalas dengan menurut dalam diam. Tangannya benar menghangatkanku, walaupun itu sedikit membuatku susah berjalan, tapi perasaan ingin melindungi dapat kutangkap dari reaksinya. Entah sejak kapan bibirku tersungging senang, apalagi saat menyadari bahwa Ichigo ternyata tidak meninggalkanku.

Tanpa sadar, kusanderkan kepalaku pada bahunya. Sekarang yang kulihat adalah jutaan tetes hujan yang membanting bumi. Kali ini aku tak merasakannya, hanya kakiku yang menginjak bagian dari mereka. Hanya mataku yang memperhatikan mereka. Hanya telingaku yang menangkap suara gemericik mereka. Hanya hidungku yang menyesap aroma khas mereka. Dan kulitku hanya merasakan terpaan angin hujan yang begitu dingin.

Namun, disaat aku sedang menikmati semua hal itu dari balik perlindungan payung ini. Saat aku sedang bersantai dengan semua keindahan hujan bersama Ichigo. Suara itu terdengar lagi. Telingaku kembali mendengar senandungan lagu yang kubenci. Rain.

"Rain... rain... go away, come again another day... All the world is waiting for the sun."

(...)

(...)

Aku hanya bisa meringkuk dalam perlindungan selimutku di kamar, menyeduh secangkir cokelat panas sambil mendengar Ichigo berceloteh panjang lebar. Kali ini topik pembicaraannya adalah mengenai Yuzu dan Karin. Entahlah, aku tak tahu dengan pasti apa yang ia ceritakan. Tentu saja, sedari tadi aku hanya menahan rasa dingin di tubuhku dan menatap kosong pada dinding kamarku.

"Tadaima," suara itu sangat kecil, namun dapat tertangkap oleh gendang telingaku. Senyumanku mengembang, cepat-cepat aku meletakkan cangkir di tanganku di atas meja. Lalu berlari kecil keluar kamar untuk menyambut orang yang baru saja pulang.

"Okaeri," balasku riang. Kulihat nii-sama sedang membuka sepatunya. Kakiku semakin bergerak cepat mendekat. Selimut di tadinya melingkari tubuhku perlahan melorot, dan sialnya membuatku tersandung hingga hampir saja aku terjatuh. Untunglah nii-sama dengan sigap menangkap tubuhku.

"Berhati-hatilah, Rukia," sahut nii-sama datar. Aku segera menegakkan tubuhku, lalu tersenyum manis pada nii-sama. Aku tahu, walaupun nada bicaranya yang datar dan terkesan dingin itu, ia sebenarnya sangat menyayangiku.

"Kubawakan tasnya," kata sambil menarik tas di tangannya. Tenang dan tanpa protes, ia memberikan tas itu padaku. Sempat aku melenguh pelan saat ia membelai rambutku. Ah... sudah lama sekali aku tak bertemu nii-sama, sudah lama sekali sejak ia tak membelai rambutku lembut.

"Kenapa wajahmu berlebam?" sahut nii-sama panik sambil menaikkan daguku, wajahku bersemu merah.

"Terjatuh di perpustakaan," jawabku sambil tersenyum konyol. Dahi nii-sama bertaut.

"Kau harus lebih hati-hati, Rukia," katanya khawatir. Aku hanya tersenyum simpul sambil mengangguk, berusaha untuk menutupi kenyataan bahwa itu adalah bekas tinju seseorang.

"Kenapa hari ini pulang cepat?" tanyaku antusias, berusaha mengalihkan pikiran nii-sama.

"Pekerjaanku sudah banyak selesai, mungkin sisanya akan kukerjakan malam ini," jawab nii-sama. Ia memasuki kamarnya dan segera aku menyusul untuk meletakkan tasnya.

"Besok masih harus pergi?" tanyaku lagi, kali ini dengan nada rendah yang sedikit menunjukkan kekecewaanku.

"Yah, harus." Dahiku berkerut tak nyaman. "Kau sudah makan?" tanya nii-sama. Aku meliriknya yang sedang membuka dasinya.

"Belum," jawabku singkat.

"Kita masih punya persediaan di kulkas?" tanyanya lagi. Aku mengangguk. "Aku akan memasak setelah mandi," lanjutnya.

"Ah? Tadi masih ada sisa air panasnya, nii-sama sudah bisa mandi," sahutku senang.

"Baiklah, terima kasih," kata nii-sama dengan sebuah senyuman di wajahnya. Pipiku merona tipis, merasa senang dengan respon yang begitu kurindukan itu. Dengan semangat aku berjalan keluar kamar dan membiarkan nii-sama berganti pakaian untuk mandi.

Namun, siapa sangka saat aku keluar kamar dan menutup pintu tubuhku malah membanting sebuah badan kekar pemilik kepala jeruk itu.

"Ichigo?" tanyaku kikuk.

"Terima kasih telah meninggalkanku sendirian di kamarmu," sahutnya jengkel. Tautan alis dan nada bicaranya terdengar seperti seorang anak kecil yang ngambek bagiku. Oh Tuhan, kenapa aku tak bisa menghentikan kekehanku saat menatap wajahnya.

"Hei... Kau menyindirku?" jengkel Ichigo sambil bersedekap, ia memajukan tubuhnya hingga wajahnya dan wajahku hanya terpisah jarak beberapa senti saja. Sayangnya, aku justru semakin terkekeh melihat tingkahnya.

Aku terus terkekeh, mengabaikan suara derit pintu di belakangku yang aku yakin sudah dibuka nii-sama. Dan apa yang menghentikan kekehanku? Wajah tegang Ichigo yang seketika itu juga menghilangkan semua emosi yang ia keluarkan. Wajahnya masih berada tepat di depanku, tapi pandangannya tertuju pada sesuatu di belakangku.

Kikuk dan bingung, aku menolehkan kepalaku ke belakang dan melihat nii-sama yang sedang mengeluarkan aura tak nyaman pada Ichigo. Saat itu juga dapat kulihat tangan nii-sama mencengkeram kepala Ichigo kuat. Tubuhku bergidik ngeri.

"Apa yang kau lakukan pada Rukia?" tanya nii-sama dingin dan tetap dengan kedatarannya.

"Tak ada," jawab Ichigo singkat.

"Kenapa kau ada di rumahku?"

"I-ingin menemani Rukia."

"Di kamarnya?"

"I-iya."

"Apa yang kalu lakukan pada Rukia?"

"Sudah kubilang tidak ada!" Ichigo menekankan kata-kata terakhirnya dan entah apa yang membuat wajahnya memerah seperti itu. Aku menarik tangan nii-sama pelan, berusaha membuatnya melepaskan cengkeramannya pada kepala Ichigo.

"Nii-sama sebaiknya cepat mandi, nanti air panasnya mendingin," kataku melerai. Pandangan nii-sama beralih padaku, lalu dengan kasar dan tenang ia melepaskan tangannya. Kakinya berjalan menjauh, menuju kamar mandi di sebelah dapur. Aku hanya bisa tersenyum simpul melihatnya.

"Byakuya tetap tak berubah," kata Ichigo saat nii-sama tak lagi dalam jarak pandang kami.

"Harus berapa kali kukatakan padamu untuk tidak memanggilnya tanpa –sama?" jengkelku sambil menendang tulang keringnya kuat –dan membiarkannya berteriak mengaduh kesakitan.

#*#

Bolehkah aku merasakan ketenangan diantara hujan? Ah... untuk apa aku meminta izin? Bukan aku yang mengatur turunnya hujan. Ada Tuhan yang mengaturnya. Walaupun hujan yang kusukai turun, saat aku telah berada di dalam rumah, duduk diam di depan televisi untuk menatap layar kaca bercahaya itu, suara hujan di luar pun tak akan sampai di otakku. Pada akhirnya aku pun akan mengabaikan hal yang sangat kusukai.

...

Berada di dapur untuk menatap nii-sama memasak adalah hal yang sangat menyenangkan bagiku. Sudah lama aku tak mencicipi masakannya. Mungkin 2 minggu sejak terakhir kali ia pulang ke rumah. Selama itu dia memutuskan untuk tetap tinggal di apartemen di dekat kantornya, katanya supaya tidak membuang-buang waktu. Yah, bukan Kuchiki Byakuya namanya jika ia tak konsisten.

"Kenapa kau tersenyum?" Lamunanku akan nii-sama buyar seketika saat suara baritone milik si kepala jeruk menyahut. Kukirim pandangan kekesalanku padanya, bermaksud mengatakan padanya bahwa aku tak senang dengan kehadirannya sekarang.

"Apa urusanmu, tawake?" kesalku. Ia mencibir, berusaha mengejekku. Kali ini saja aku akan menahan emosiku. Yah, kali ini, di depan nii-sama.

"Senyumanmu itu menjijikkan," sahutnya.

"He? Kenapa? Kau cemburu?" kataku menggodanya, memberikan tatapan agar ia benar-benar mengeluarkan reaksi yang kuharapkan –malu-malu.

"Iya, aku cemburu!" tegasnya sambil menatapku intens. Aku tersentak kaget, jawaban yang ia keluarkan benar-benar membuatku bergeming. Tatapan matanya yang dipenuhi keseriusan dan kekesalan. Benarkah ia... cemburu?

"He? Kau cemburu padaku? Jangan-jangan kau menyukai nii-sama!? TIDAK!" bantahku cepat. Tidak, entah kenapa mendengar kalimatnya yang sebelumnya membuat wajahku memanas dan malu. Lalu, kenapa aku harus salah tingkah dan memberi jawaban seperti itu.

"Dasar bodoh!" desis Ichigo.

(...)

(...)

Hari sudah pagi dan aku sudah selesai berbenah diri. Tinggal memakai sepatu dan berlari menuju sekolah, tentu saja aku akan menjemput Ichigo terlebih dahulu. Segera aku mengambil ponsel flipku, mengecek apakah ada e-mail yang masuk. Dan saat aku mengeceknya, aku tanpa sengaja melihat riwayat telepon.

"Lho?" sahutku kikuk. Kenapa? Kenapa ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari... Grimmjow? Cepat-cepat aku menekan tombol untuk menelpon laki-laki itu.

"Moshi-moshi," sahut suara diseberang.

"Ah... Grimmjow, maaf semalam aku tak mengangkat teleponmu. Ada apa?" tanyaku cepat. Tunggu, kenapa aku tak mengangkatnya? Dan kapan Grimmjow menelponku? Aku bahkan tak ingat mendengar bunyi ponselku.

"Eh? Bukankah semalam Ichigo yang memegang teleponmu?" jawab Grimmjow kikuk. Aku terdiam sejenak, mencerna maksud kalimatnya..

"Ah, maaf, Ichigo memakai ponselku saat aku mandi semalam. Memangnya Ichigo bilang apa semalam?" tanyaku pelan.

"Dia bilang kau marah padaku karena tak sengaja meninju wajahmu, semalam aku menelponmu ingin minta maaf. Tapi, begitulah... Ichigo mengatakan hal itu," jawab Grimmjow bersalah.

"Te–Tentu saja aku memaafkanmu, aku hanya tak senang kalian berkelahi. Maaf, sepertinya semalam Ichigo masih marah padamu," sahutku meminta maaf. Entahlah, aku bahkan mulai menunduk tak jelas karena malu dengan tindakan Ichigo.

"Tidak, memang aku yang salah. Maafkan aku, tolong sampaikan juga pada Ichigo, aku takut ia tak mau menerimanya jika aku sendiri yang mengatakannya." Sebuah senyuman tipis muncul di bibirku.

(...)

(...)

Tak pernah kurasakan ketekerjutan seperti ini sebelumnya. Begitu kagetnya aku saat menemui Karin dan Yuzu. Kedua gadis itu dengan semangatnya mengajakku untuk membelikan sebuah hadiah kepada... Ichigo?

Ichigo tadi di sekolah terlihat jengkel melihatku, jadi mungkin hari ini aku akan mudah untuk menyingkir darinya. Satu hal yang sedikit aneh menurutku, sikap Ichigo yang menurut saja saat kubilang untuk memaafkan Grimmjow. Ah, sudahlah, bukankah itu bagus?

"Karin-chan, Rukia-chan sudah menunggu. Cepatlah!" sahut Yuzu cepat dan keras. Aku terkekeh pelan, gadis ini justru akan semakin imut jika dia terlihat marah dan ngambek. Ah, ngomong-ngomong, sekarang aku, Yuzu dan Karin sedang bersiap untuk pergi membelikan Ichigo hadiah, sayangnya aku masih bingung ingin membelikannya apa.

Tak lama setelah itu, Karin turun dengan dandanan casual-nya. Sebuah senyumanku muncul di wajahku, senangnya akhirnya aku bisa pergi jalan-jalan bersama dua gadis ini.

"Kalian mau ke mana?" tanya Ichigo tiba-tiba saat kami hendak keluar rumah. Aku bertingkah sedikit panik, begitu juga dengan Yuzu, untunglah Karin dapat bersikap sedikit dewasa di antara kami.

"Memangnya kenapa? Kami ini perempuan, wajar jika ingin jalan-jalan bersama," jawab Karin sewot.

"Jarang sekali kau ingin jalan-jalan," sinis Ichigo. Karin menatap kakaknya itu tak kalah sinis.

"Kenapa? Kau cemburu karena Rukia-nee tidak mau mengajakmu jalan-jalan bersama?" goda Karin. Aku hanya terkekeh geli mendengar nada bicaranya, tapi detik berikutnya aku tak bisa mengartikan rasa senang di hatiku saat melihat respon Ichigo dengan kalimat yang Karin lontarkan itu. Entahlah, aku hanya melihat wajah Ichigo yang bersemu merah dan perasaan aneh memenuhi hatiku.

(...)

Kehebohan menyapaku saat Yuzu menjerit senang memasuki toko boneka. Aku sedikit tak setuju dengan idenya membelikan Ichigo boneka, karena aku tahu Ichigo bukanlah tipe orang yang mau dengan barang-barang lucu.

"Kau tahu Ichi-nii tak suka dengan barang-barang seperti ini, kan, Yuzu?" celetuk Karin sambil bersedekap. Aku hanya terkekeh melihat kedua gadis itu. Aku masih sedikit berpikir tentang kesukaan Ichigo, hadiah apa yang cocok kuberikan padanya? Tahun lalu aku sama sekali tak memberikan hadiah, hanya ikut hadir dalam meramaikan ulang tahunnya. Ah... kenapa disaat seperti ini aku jadi teringat tentang teru teru bozu itu? Oh, haruskah kuberikan benda itu lagi. Cepat-cepat kutampar wajahku saat mengingat itu. Tidak. Aku tak boleh memberikan benda itu lagi padanya.

"Rukia-nee, kau kenapa?" Cepat aku tersadar saat Karin dan Yuzu menggoyangkan tanganku pelan dan menatapku khawatir. Sebuah senyuman kukeluarkan, menghilangkan kerutan khawatir di wajah mereka.

"Tidak. Hm... Bagaimana? Sudah selesai membeli hadiahnya?" tanyaku pada Yuzu. Gadis itu tersenyum bangga, lalu menunjukkan sebuah kotak kadu ukuran sedang di depan wajahku.

"Sudah. Sekarang kita mau kemana?" gadis itu berujar semangat. Kulihat ia susah payah memasukkan kotak itu ke dalam tasnya.

"Temani aku ke toko olahraga, hadiahku ada di sana." Karin menarik tanganku dan tangan Yuzu semangat. Senyuman di wajahnya turut membuat bibirku melengkung manis.

Toko olahraga tak seburuk kelihatannya. Sedikit kesenangan kudapat di sini. Entah karena orang-orangnya yang ramah, atau karena benda-benda penyegar tubuh itu yang menarik perhatianku. Ada bola sepak, ada bola basket, ada bola kasti, ada bola ping pong, juga bola voli. Berbagai jenis pakaian berwarna memenuhi ruangan besar ini. Beberapa poster olahragawan terkenal juga terpampang di dinding.

"Rukia-nee, aku sudah selesai." Aku tersentak pelan ketika suara itu menyenggol gendang telingaku. Kutatap gadis berkuncir yang sekarang sedang tersenyum manis padaku.

"Cepat sekali," sindirku sambil tersenyum mengejek.

"Lebih cepat lebih baik, kan?" katanya semangat. Aku mengacak rambutnya gemas, dan menuntun mereka untuk mencari hadiahku. Kepalaku celingukan hanya untuk mencari toko yang menarik perhatianku, tapi tak ada. Hingga tiba-tiba langkah kakiku terhenti di depan sebuah toko antik. Kakiku lemas tuk melangkah tatkala kudengar sebuah musik pelan yang mengingatkanku akan suara bodoh laki-laki itu.

"Rain," lirihku.

#*#

Hanya untuk saat ini aku akan melupakan hal yang kusukai. Melupakan tetes indah yang berjatuhan dari atas langit itu. Bukannya aku ingin melupakannya, hanya aku ingin memberimu hadiah istimewa tanpa sebuah kebebanan menggerayangi tubuhku.

...

Senyuman tak lepas dari wajahku. Aku begitu senang, sangat senang ketika kudapati hadiah yang paling pas untuknya. Tapi, ketika kupandangi kotak kado itu, aku merasa sedikit aneh. Seperti ada sesuatu yang menyesakkan dadaku, seperti ada duri yang menyangkut di ujung tenggorakanku, begitu menyakitkan tapi sulit tuk kunetralisir.

"Rukia-nee." Aku menoleh pada Karin yang menyadarkanku, gadis itu menatapku khawatir, aku tahu itu, tak mungkin alisnya bertaut tanpa maksud.

"Aku baik-baik saja. Ada apa, Karin-chan?" tanyaku sambil tersenyum. Aku sadar ia tak senang dengan senyuman yang kukeluarkan. Sebuah senyuman paksaan yang begitu kontras dengan alisku yang menukik.

"Nanti, jangan lupa untuk membawa Ichi-nii pulang pukul 4 sore. Harus pukul 4!" Nada bicaranya benar-benar terkesan khawatir, membuatku sedikit merasa bersalah akan hal itu. entahlah, perasaanku sekarang semakin bercampur aduk.

"Baiklah," lirihku pelan sambil mengacak rambutnya sekilas. Aku membalikkan tubuhku, lalu mulai berjalan keluar rumah, menemui Ichigo yang sedang menunggu dengan roti panggang di mulutnya.

Tak kuketahui angin apa yang membawa pergi semangatku hari ini. Ichigo hanya tersenyum senang dengan cerahnya hari ini, tak memedulikan kemurungan yang mengelilingiku. Ah, kenapa bisa seperti ini? Bagaimana bisa aku murung di hari... spesial ini? Ya, tak ada alasan bagiku mengatakan hari ini hari biasa karena sebenarnya hari ini Ichigo genap berusia tujuh belas tahun.

(...)

Di sekolah seperti yang kuduga, mereka semua saling menjerit mengucapkan selamat ulang tahun pada Ichigo. Yah, Ichigo memasuki dunianya sendiri ketika puluhan kotak kado menggerayangi meja belajarnya. Bagaimana denganku? Tak ada yang spesial, hanya mengekori Ichigo dengan wajah tanpa semangat.

Laki-laki itu sepertinya menikmatinya, sepulangnya dari sekolah ia justu mengantongi sekotak besar hadiah. Tugasku sekarang dimulai. Tak banyak yang dapat kulakukan. Mengajaknya makan es krim dekat stasiun bersama itu sudah cukup memakan waktu, bukan?

"Kenapa kau mengajakku makan eskrim?" tanya Ichigo sambil menopang dagunya. Ia menatapku jengkel dan aku hanya diam memandangi bibirnya. Oh sial, kenapa aku justru teringat akan ciuman itu?

"Mengasah kepekaanmu," jawabku santai. Ia mengangkat sebelah alisnya bingung dan semakin mengoceh jengkel. "Kau jadi pusat perhatian dengan kantong hadiah itu, bodoh!" desisku.

(...)

"Otanjoubi omendetou, Ichigo!" Jeritan senang dan letusan terdengar jelas saat Ichigo membuka pintu rumah. Ichigo membuka mulutnya kaget, sedikit rasa senang tapi juga rasa kecewa. Senang dengan kejutan yang ia dapat, kecewa karena ia sebenarnya telah dapat menduga hal ini, setidaknya begitulah menurutku.

Dengan sebuah senyuman, Ichigo masuk ke dalam rumah, memulai canda tawa bersama keluarganya dan sahabat-sahabatnya yang membawakannya sebuah kue cokelat dengan lilin berangka 17 di atasnya. Perintah untuk bernyanyi keluar dari mulut Inoue, yang entah mengapa sedikit membuatku merasa iri.

Miris, sambil mempertahankan senyuman palsuku yang menyembunyikan kerutan di dahiku, aku memasuki rumah Ichigo. Dengan menenteng kantong hadiah yang tadi Ichigo letakkan begitu saja di depan pintu rumah.

Aku mengabaikan semua teriakan itu, menulikan pendengaranku karena perasaan aneh di dadaku yang terus bergejolak. Takut dan sedih. Kurasakan keduanya disaat yang seharusnya menjadi salah satu momen paling menyenangkan dalam hidupku. Mataku memanas, entah kenapa kurasa ingin sekali aku menangis tanpa alasan yang jelas.

Setelah melepas sepatu dan meletakkan kantong hadiah milik Ichigo, kuputuskan untuk meringkuk di ujung sofa ruang keluarga yang dijadikan tempat pesta kejutan ini. Aku hanya diam melongo sambil mendekap kedua kakiku erat, pandangan mataku kosong tertuju pada Ichigo yang terus tersenyum dengan semua kesenangan yang membuainya. Apakah salah satu alasannya begitu senang hari ini adalah karena tak adanya hujan? Atau sebenarnya pertanyaan yang tepat adalah 'Rukia, apakah alasanmu begitu murung hari ini adalah karena tak adanya hujan?'.

Aku mengerang pelan, lalu menenggelamkan kepalaku di atas lututku. Menggigit bibir bagian bawahku tuk meredam sedikit rasa kesal yang kian memuncak dalam hatiku. Aku melirik Ichigo, ia terus tertawa bersama yang lainnya. Saling menyuapi kue, memotongnya, mencolek pipi mereka hingga dipenuhi krim, membuka kado dan saling menertawakan hadiah yang didapat.

Sementara itu, jemariku bergerak, meraih sebuah kotak kado dalam tas yang kupegang. Sebuah kotak kecil dengan bungkusan kado berwarna orange dan pita hitam. Pikiranku buyar seketika, pandanganku mulai menyendu menatap kado itu. Sedikit rasa senang muncul saat tahu hadiah yang akan kuberikan ini pasti akan menyenangkan hatinya, tapi perasaan tidak rela juga muncul dihatiku karena apa yang akan kuberikan ini merupakan salah satu hal yang paling kubenci.

Aku tersentak pelan ketika kurasakan seseorang menghempaskan tubuhnya disebelahku. Dengan kaget kuangkat kepalaku dan meliriknya. "Ichigo?" lirihku.

"Yo!" sapanya dengan mempertahankan senyumannya. Aku tak mengubah ekspresiku, tetap datar tanpa emosi. Sekali dua kali kukedipkan mataku saat melihatnya tersenyum. Sesaat setelah itu, aku mengalihkan pandanganku pada jemari kakiku yang sedikit terasa dingin (padahal sekarang sangat panas).

"Ada apa?" tanya Ichigo pelan sambil mendekat. Aku hanya diam, kembali berusaha menulikan pendengaranku ketika kusadari Renji dan Grimmjow sekarang tengah memutar musik kuat dan mulai berdansa hebat.

"Otanjoubi... omedetou," lirihku pelan sambil menyodorkan kotak kadoku padanya. Wajahku perlahan memerah, entah kenapa terasa canggung bagiku hanya untuk sekedar memberikan kado itu.

Aku melirik Ichigo, dari balik helaian rambutku yang menutupi sebagian besar kepalaku. Kulihat wajah Ichigo sedikit merona dan tangannya dengan sedikit bergetar mengambil kotak kado yang yang kuberikan. Laki-laki itu menatap kotak kado itu dengan mata sedikit membulat takut, ia menelan ludah, lalu perlahan menarik pitanya. Kembali ia menelan ludah sebelum tangannya sepenuhnya membuka bungkusan kotak kado itu. Dan ketika bungkusannya total terbuka, bibirku reflek menyunggingkan sebuah senyuman.

"Kotak... musik?" tanya Ichigo pelan. Aku mengangguk pelan tanpa menghilangkan senyumanku, sekejap perasaan aneh yang menggerayangi hatiku tadi menghilang.

"Dengarkan saja," sahutku sambil membuka kotak musik itu. Dan ketika kubuka, sebuah alunan pelan yang sebelumnya membuatku risih muncul, sebuah 'Rain' yang membuat senyuman ikut merekah di wajah Ichigo.

"Rain!" sahut Ichigo sambil mendekatkan kotak musik itu pada telinganya. Tiba-tiba aku merasa kembali risih, merasakan sedikit gejolak tak rela di dadaku. Aku menenggelamkan wajahku di lututku dan membiarkan telingaku terus mendengarkan nada-nada dari kotak musik itu teralun merdu, walaupun aku tahu sebenarnya aku tak mau mendengarkannya.

Puk!

Seakan tersambar listrik bertekanan rendah, kurasakan sebuah sentuhan hangat menyentuh bahuku, diiringi terpaan lembut napas seseorang di telingaku. Ichigo, laki-laki itu menyandarkan kepalanya di bahuku, bernapas tepat di depan telingaku hingga aku merasakan sebuah perasaan menggelitik yang sedikit menyenangkan.

"Arigatou," lirihnya. Aku menelan ludah kaget, membiarkan suaranya kini menelusup masuk melewati indera pendengaranku. Kurapatkan pandanganku, membiarkan wajahku perlahan memanas dengan rona merah akan rasa senang.

Aku tersenyum tipis, lalu menyandarkan kepalaku pada kepalanya. "Douita," balasku pelan.

"Kenapa kau diam saja dari tadi?" tanya Ichigo, kali ini dengan nada pelan, menyiratkan rasa khawatirnya yang begitu kentara.

"Entahlah," jawabku sekenanya.

"Ini hari ulang tahunku, seharusnya kau juga ikut bergembira." Aku bergeming menanggapinya, menarik napasku pelan untuk menenangkan hatiku.

"Maaf," jawabku dan ia membalasnya dengan kekehan. "Kalau boleh tahu, hadiah dariku selama ini yang kuberikan padamu, yang mana yang paling kusukai?" tanyaku pelan.

"Teru teru bozu!"

...

...

Aku menatap ke luar jendela. Kosong dan hampa, merasakan sebuah kehambaran akan cerahnya hari ini. Lamat-lamat, kugerakkan tanganku untuk membereskan tumpukan buku yang ada di atas mejaku. Helaan napas meluncur dari bibir tipisku, lalu detik berikutnya wajahku telah mendapatkan sebuah sapuan keras dari tiupan seseorang.

"Shiba-senpai?" tanyaku kikuk. Orang itu, Shiba-senpai yang entah sudah berapa hari menghilang dari pandanganku sekarang kembali muncul dengan sebuah senyuman di wajahnya. Pipiku merona merah, entah kenapa aku selalu merasakan sebuah kelegaan saat bersama laki-laki ini.

"Mau pulang?" tanyanya riang. Aku menelan ludah sejenak, lalu menggeleng singkat. "He? Memangnya kau mau kemana?" tanyanya lagi.

Mataku sedikit melebar dengan napas yang tercekat, mulutku mulai tergagap tanpa suara.

"Melayat." Aku tersentak kaget mendengar suara dan jawaban itu. Menelan ludah pun rasanya sulit kala kulihat Ichigo menatap Shiba-senpai dengan tatapan jengkel dan perlahan mulai menarik lenganku agar menjauh dari Shiba-senpai.

Ichigo semakin mempercepat langkah kakinya, menarikku keluar dari kelas dan jangkauan pandang Shiba-senpai. Detik berikutnya, dahiku bertaut, merasakan sedikit rasa sesak yang perlahan membuncah dalam hatiku. Kutatap wajah kesal Ichigo yang terus menarikku, hingga tiba-tiba ia menghempaskan punggungku pada dinding.

Aku meringis pelan, diam tanpa berkomentar karena perasaaan yang kurasakan. Aku kembali terkejut ketika kusadari Ichigo baru saja menghempaskan kedua telapak tangannya di sebelah telingaku, mengurung tubuhku dalam tubuh besarnya. Sebuah ringisan keluar dari bibirku saat kulihat Ichigo menghentakkan kepalanya jatuh tepat di depan wajahku.

"Ada apa, Ichigo?" tanyaku pelan. Ichigo mengangkat kepalanya, lalu menatap wajahku dalam.

"Kau jangan mendekati laki-laki itu lagi," desisnya dengan kerutan yang kian berkerut. Aku mengernyit bingung, tak mengerti maksud dari kalimatnya. "Pokoknya jauhi dia." Belum sempat aku membalas ucapannya, tiba-tiba ia memotongnya dan justru meletakkan kepalanya di bahu kiriku. "Kumohon," lanjutnya dengan nada memelas.

#*#

Aku ingin hujan turun. Kali ini bukan karena kesukaanku terhadap hujan. Kali ini bukan karena beban pikiranku yang terus menumpuk. Melainkan karena ia yang begitu semangat untuk membenci hujan.

(...)

Aku tersenyum tipis, menahan rasa sakit yang kian menjalar di tubuhku. Perlahan, jemariku meraba nisan milik nee-san, mengatur napasku pelan agar tak terlihat menyedihkan di depan nee-san. "Terima kasih dan maaf, nee-san," lirihku pelan sambil meletakkan bunga lili di depan dupa yang kuhidupkan tadi.

"Bunga lili, cinta yang diselimuti duka." Tubuhku tersentak kala suara itu berbisik di telingaku, diiringi hembusan angin yang menggelitik telingaku. Kutatap wajah orang itu, wajah seseorang yang begitu kukenal.

"Diamlah, Ichigo," lirihku sambil tertunduk. Kakiku bergerak kecil, berjalan menjauhi Ichigo menuju arah utara pemakaman yang berlawanan dengan makam nee-san. Aku tahu Ichigo menyusulku, terdengar dari derap langkahnya yang kian mendekat.

"Kau mau ke mana?" tanyanya. Aku hanya diam, memfokuskan langkahku pada jalanan yang kulewati. Pandanganku begitu kosong, tapi sekelebat pikiran terus meneumpuk di kepalaku.

Aku masih tetap mendiami Ichigo, hingga pada akhirnya kakiku terhenti di depan sebuah makam. Senyumku mengembang ketika mataku menangkap tulisan 'Kurosaki Masaki' terukir indah di batu nisan. "Konnichiwa," lirihku pelan. Lututku tertekuk hingga akhirnya aku berlutut di depan makam ba-chan. Ya, setelah berdoa pada nee-san, kini saatnya aku berdoa pada ba-chan.

Segera kuhidupkan dupa dan menancapkannya pada altar ba-chan, lalu mulai berdoa dengan merapatkan kedua tanganku. "Hari ini bukan hari kematian kaa-san, Rukia," sahut Ichigo dingin. Aku tak tahu ekspresi macam apa yang sekarang ia keluarkan, tapi yang jelas aku dapat mendengar suara napasnya yang menderu diantara desiran angin sore yang ternyata membawa datang awan abu di atas sana.

Setelah aku berdoa, kubuka mataku perlahan dan tetap mempertahankan senyumku. Kembali jemariku mengelus batu nisan yang kasar-sedikit-halus. Aku mengabaikan pernyataan Ichigo dan justru mulai bercerita di depan altar ba-chan, seperti tindakanku di altar nee-san tadi.

"Konnichiwa, ba-chan. Ogenki desuka? Haha... Aku harap ba-chan baik-baik saja. Hm, tak disangka sudah bertahun-tahun nee-san dan ba-chan meninggal. Entah kenapa rasanya ada yang kosong saat kalian pergi." Aku tertawa tipis, lalu melanjutkan kata-kataku. "Tahun ini kuharap ba-chan dan nee-san akan tetap terjaga, hehe... walaupun itu sebenarnya cuma basa-basi, sih. Maaf, ba-chan, aku tak bisa lama-lama di sini, hujan sebentar lagi akan turun, jadi sekarang aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kehidupan kita masing-masing. Jaa, sayonara." Aku segera menjauh tanpa memedulikan Ichigo.

Dadaku sedikit tertekan ketika kaki mungilku melangkah menjauh dari pemakaman. Aku pulang bersama nii-sama dan keluarga Kurosaki. Sulit bagiku tuk membuka pembicaraan di sini, begitu berat hingga rasanya menarik napas pun terasa begitu sulit. Pun keluarga Kurosaki tak berani mengajakku bicara, karena mereka tahu –sangat tahu– bahwa orang yang merasakan kesedihan yang terulang kali ini adalah aku dan nii-sama.

Langit mendung sepertinya ingin menghiburku dari keterpurukanku kali ini. Tapi aku juga merasakan sebuah tekanan tak rela kala rintik hujan menyambut bumi –saling bertemu ketika kami telah memasuki rumah keluarga Kurosaki untuk makan malam bersama. Tekanan yang begitu aneh, terasa menyesakkan dan menyesatkan. Rela dan tak rela. Aku merasakan hatiku saling bertentangan antara senang dan sedih akan hujan yang datang.

"Hah..." Desahan singkat meluncur dari bibirku, mengundang pandangan heran dari setiap penghuni ruang makan.

"Ada apa, Rukia?" tanya nii-sama pelan. Aku tersenyum tipis dan menggelengkan kepalaku singkat.

"Tidak apa-apa," jawabku singkat, mengabaikan pandangan Ichigo yang terus tertuju padaku. Tak ada niatan dalam hatinya tuk fokus pada makan malamnya. Dia hanya diam, walaupun tangannya bergerak lincah menyuapi mulutnya.

Pengabaianku terus berlanjut, hingga akhirnya aku merasa terganggu dengannya. Namun, ketika wajahku terangkat untuk menatapnya, kurasakan sebuah getaran pelan di saku rokku. Ichigo kembali kuabaikan, kali ini aku memfokuskan diriku pada ponselku yang baru saja menerima sebuah e-mail.

"E-mail dari siapa?" tanya Ichigo penasaran.

Aku diam sejenak, membuka isi e-mail itu lalu berujar lirih, "Shiba-senpai."

.

.

TBC

Thanks for reading. Hope you enjoy it. Please wait for the next chapter.