A/N: Ini adalah fanfiction pertama saya sekaligus tulisan pertama yang berhasil saya selesaikan (selama ini setiap nulis pasti ngga pernah dilanjutin) hahaha :P Jadi sebelum Anda semua membacanya, saya ingin minta maaf dengan segala ke-tijel-an, ke-rancu-an, ke-absurd-an, ataupun typo dalam fic ini.

Fic ini saya persembahkan untuk teman2 saya :D

Ani orang yg "ngeracunin" saya buat baca fanfic :P dan terus menagih saya bikin fic sendiri hahaha

Virginia, Novel, Sela temen2 baru saya, karena kesamaan kegilaan kita terhadap fanfic Harpot. Arigatou gozaimasu minna-san~ —dan Ani juga, udah terus meminta saya nulis fic tijel ini :)

I really hope you will enjoy it. And don't forget to REVIEW, so I can know what you think :)

HAPPY READING POTTERHEAD ! :D

DISCLAIMER: All characters in this fic based on Harry Potter which ALWAYS belongs to J. K. Rowling.


CHAPTER 1

Musim Panas 1925

Lagi. Aku hanya bisa memandanginya dari balik pagar tanaman ini ketika ia melintasi jalan setapak berbatu dekat rumah kami dengan menunggangi kuda kelabunya. Seperti biasa ia selalu pulang bekerja dari Great Hangleton menjelang senja tiba. Tak ada yang bisa ku lakukan tentu saja. Hanya bersembunyi sambil terus mengamatinya, hingga ia dan kudanya menghilang di tikungan yang mengarah ke sisi bukit yang berhadapan.

Aku menghela napas dan masuk kembali ke dalam rumah.

"Dari mana saja kau?" tanya Ayah, mengagetkanku.

"Ti… tidak. Hanya membersihkan halaman." jawabku berbohong. Semoga Ayah tidak menyadari nada gugup dalam suaraku. Morfin—kakak laki-laki ku— yang sedang duduk di kursi berlengan dekat perapian, mendengus. Ya, Morfin memang mengetahui kebiasaanku mengamati pria itu setiap sore. Tetapi untungnya Ayah tidak mendengar dengusannya barusan.

"Sekarang siapkan makan malam!" perintah Ayah. Aku segera menuju ke dapur dan menyiapkan makan malam.

Kami hanya tinggal bertiga di gubuk tua ini. Aku, Ayahku—Marvolo Gaunt, dan Morfin. Ibuku telah lama meninggal ketika aku berumur 10 tahun, tepat setahun sebelum aku bersekolah. Dan musim panas ini, aku sudah lulus dari Hogwarts. Nilai ku tidak terlalu bagus, tapi juga tidak buruk. Aku masih belum tahu ingin menjadi apa. Jadi disinilah aku, kembali ke rumah hanya untuk mengurus urusan rumah tangga. Lagi pula sepertinya memang ini yang diinginkan Ayah.

"Cepat sedikit Merope! Kau kan bisa menggunakan tongkat sihirmu!" bentak Ayah. Dengan tangan gemetar aku mengayunkan tongkat sihirku pada panci yang langsung terbang menuju meja makan. Walaupun kerap menerima perlakuan kasar dari Ayah, aku tetap tidak terbiasa.

Malam ini, aku kembali menggambar dirinya pada selembar perkamen. Entah sudah berapa banyak gulungan perkamen gambar yang ku buat sejak pertama kali aku melihatnya pada musim dingin tahun lalu. Ketika itu malam Natal, aku pulang sehabis berziarah ke makam ibu di Godric's Hollow.

Aku ber-Apparate sekitar dua puluh meter dari rumah. Berjalan menyusuri jalan kecil bersalju ini sambil memegang tongkat sihirku yang menyala. Sesekali menengok ke belakang, khawatir bertemu dengan Muggle. Walaupun ini sudah larut malam, tetap saja aku harus waspada.

Tak berapa lama, aku mendengar suara dari balik pepohonan. Aku berhenti berjalan dan mengeratkan pegangan ku pada tongkat sihir.

"Siapa disana?" tanyaku cukup keras. Kemudian dua sosok keluar dari balik pepohonan. Berjalan terhuyung ke arah ku. Sepertinya mereka mabuk. Setelah cukup dekat aku baru menyadari dua sosok itu adalah sepasang pria dan wanita. Dari pakaian mereka, aku bisa tahu bahwa mereka adalah Muggle. Sial. Aku segera mematikan cahaya dari tongkat sihirku dan menyembunyikannya ke dalam mantel. Semoga mereka cukup mabuk sehingga tidak menyadari bahwa barusan ada seorang gadis yang memegang sebuah tongkat yang bisa menyala.

"Siapa kau?" tanya si pria dengan suara dalam dan serak. Entah mengapa aku menyukai suaranya.

"Aku… errr apa yang kalian lakukan?" bodoh Merope. Mengapa aku bertanya apa yang mereka lakukan? Sudah jelas kan apa yang dilakukan pria dan wanita dewasa di tempat gelap pada larut malam seperti ini? Lagipula untuk apa aku bertanya? Itu jelas bukan urusanku.

Dan sepertinya si wanita juga menyadarinya karena kemudian ia berkata dengan agak kasar, "Bukan urusanmu."

"Ma.. maafkan aku." aku meminta maaf sambil menunduk

"Sudahlah Cecilia. Ayo kita pulang." si pria berkata sambil berjalan menggandeng tangan si wanita.

Dan saat itulah aku dapat melihat sosok mereka dengan jelas. Tepat ketika mereka berjalan melewatiku. Si wanita sangat cantik. Mata Hazel dengan bulu mata lentik, hidung mancung dan bibir yang mungil. Rambut pirangnya digulung dengan beberapa anak rambut yang sedikit keluar berantakan. Aku yakin beberapa jam yang lalu gulungan rambut itu masih tampak rapih. Sedangkan si pria, oh Merlin, aku belum pernah melihat pria setampan itu sebelumnya. Jangkung dan tegap, rambut hitam legam dengan wajah oval. Alis tebal yang menaungi sepasang mata yang berbentuk seperti mata elang dengan bulu mata lebat, hidung mancung dan bibir penuh yang luar biasa indah. Ia adalah presentasi dari kata sempurna.

Bahkan aku masih memandangi punggung keduanya, ketika mereka sudah berjalan menjauh. Terpana dengan pasangan Muggle tersebut.

Oh ya sejak saat itu aku menyukai pria tersebut. Yang keesokan harinya ku ketahui—dari pelayan bar di rumah minum The Hanged Man— bernama Tom Riddle. Ia tinggal di rumah megah di sisi lembah. Tom Riddle adalah putera semata wayang pasangan terhormat dan kaya raya di desa Little Hangleton, Thomas dan Mary Riddle. Aku juga tahu bahwa wanita yang malam itu bersamanya adalah tunangan Tom, Cecilia Wordswroth. Puteri Mr. dan Mrs. Wordsworth, rekan kerja Mr. Riddle yang juga terhormat dan kaya raya, dari desa Great Hangleton. Oh pasangan yang sangat serasi. Dan sebagai tambahan mereka akan menikah musim semi tahun depan.

Lalu mengapa hingga saat ini aku masih memikirkan Tom? Maksudku, lihat betapa sempurna hidupnya, dan sebentar lagi ia akan menikah dengan wanita yang tidak kalah sempurna darinya. Sedangkan aku? Bagi para Muggle, aku tidak lebih dari seorang gadis kumuh, anak si gembel Gaunt yang tinggal digubuk tua dengan kakak laki-laki yang dianggap gila oleh semua penduduk desa. Seharusnya aku menyadari siapa diriku. Memang di dunia sihir, Gaunt adalah salah satu keluarga darah murni kuno, yang menurut Ayah harus tetap dihormati, walaupun sekarang kami tidak memiliki apapun kecuali gubuk tua ini dan dua pusaka keluarga.

Tapi tidak peduli siapa dirimu, kau tidak bisa memilih dengan siapa kau jatuh cinta kan? Oh demi Merlin! Aku tidak bisa membayangkan reaksi Ayah jika tahu anak gadisnya jatuh cinta dengan seorang Muggle. Mungkin Ayah akan menggantungku, atau mencincang tubuhku ke dalam potongan-potongan kecil dan men-transfigurasinya menjadi tulang-belulang dan memberikannya kepada anjing, atau bisa juga ia akan langsung membunuhku dengan kutukan Avada Kedavra. Oh tidak. Tidak. Aku tidak berlebihan. Opsi-opsi itu memang memungkinkan. Mengingat bagaimana cara pandang Ayah yang sangat menganggungkan darah murni, dan menganggap Muggle adalah seonggok sampah.

"Masih menggambar Muggle tak berguna itu, Merope?" sebuah suara dalam Parseltongue mengagetkanku. Aku segera berbalik dan melihat Morfin sedang berdiri dengan pandangan menghina dan senyum sinis di bibirnya.

"A… Aku…"

"Dasar jalang! Mengapa kau menyukai Muggle brengsek itu? Karena dia tampan, huh?"

"Aku tidak…."

"Kau pikir aku tidak memperhatikan? Setiap sore kau selalu berada di halaman, menunggunya pulang melewati jalan setapak itu" suaranya menyiratkan kejijikan. Aku masih tidak bisa berkata-kata.

"Aku ingin tahu apa yang akan dilakukan Ayah jika ia tahu tentang semua ini?" kali ini ia mengatakannya dengan suara dan senyum keji. Aku langsung berubah pucat.

"Kumohon jangan beritahu Ayah." pintaku dengan suara gemetar.

"Oh tentu tidak, Merope. Belum. Aku akan bersenang-senang dulu dengan Muggle tampanmu ini." kemudian ia tertawa keji sambil pergi keluar dari kamarku. Meninggalkanku yang langsung lemas dan sepucat mayat.

Oh Merlin apa yang akan dilakukan Morfin kepada Tom. Morfin sama bencinya dengan Muggle seperti Ayah. Ia sudah sering menyerang Muggle hanya untuk bersenang-senang. Aku tidak tahu mana yang lebih menakutkan, reaksi Ayah yang mengetahui bahwa aku telah jatuh cinta dengan Muggle, atau Morfin yang akan mencelakai Tom.

To be Continued


Setelah saya baca ulang, ternyata emang kependekan. Hiks :' (Yes, you're right Ni)

But I will try to make longer in next chapter :))

Mind to review? ;)