DISCLAIMER: All characters in this fic based on Harry Potter which ALWAYS belongs to J. K. Rowling.

HAPPY READING POTTERHEAD ! :D


CHAPTER 2

Aku tidak bisa tidur semalaman. Benar-benar cemas memikirkan apa yang akan dilakukan Morfin kepada Tom. Oh dan tentunya mencemaskan bahwa ia juga akan memberitahu Ayah tentang perasaanku. Tidak tahu mana yang lebih menakutkan. Aku berharap pagi ini tidak usah datang.

Namun bumi ini tetap berotasi. Sang fajar tetap muncul di ufuk timur memancarkan sinarnya untuk makhluk-makhluk di bumi dan planet-planet lainnya. Tidak peduli bahwa ada seorang gadis yang sedang terbaring di sebuah kasur lapuk membayangkan nasibnya yang sekarang berada ditangan kakak laki-laki yang tidak memiliki perasaan.

Oke mungkin sekarang bukan waktunya memikirkan nasib burukku—yang sebenarnya memang sudah buruk sejak lahir. Karena aku yakin jika aku tidak segera bangun untuk menyiapkan sarapan, nasibku akan benar-benar berakhir ditangan Ayah hari ini juga.

Aku segera bangkit dari kasur, duduk sebentar sambil menarik napas beberapa kali—menenangkan diri. Setelah menghembuskan napas keras-keras—dan menanamkan pikiran bahwa mungkin hari ini bukanlah akhir hidupku—aku beranjak ke luar kamar menuju dapur. Rumah kami atau mungkin lebih tepat disebut gubuk kami, hanya terdiri dari tiga ruangan kecil. Ruang utama yang berfungsi sebagai dapur sekaligus ruang duduk. Diruang utama terdapat perapian kecil dengan kursi berlengan kotor disebelahnya. Dua ruangan tersisa adalah kamarku dan kamar Ayah. Sedangkan kamar Morfin, dia tidur di sofa ruang duduk atau dimanapun sesuka hatinya.

Saat aku sedang merebus kentang, aku bisa melihat dari sudut mataku Morfin sedang berjalan menuju dapur.

"Pagi yang indah ya, Merope?" aku hanya terdiam tidak membalas sapaannya. Aku tahu ia ingin mengingatkan percakapan kecil kami tadi malam.

"Tenang Merope, aku masih belum memutuskan kutukan apa yang akan ku gunakan kepada Muggle tampanmu itu?" suaranya benar-benar penuh kelicikan.

Aku langsung berbalik memutar tubuhku ke arahnya. "Morfin, ku mohon jangan lakukan apapun kepadanya." pintaku dengan suara gemetar. Dia malah tertawa terbahak-bahak.

"Merope… Merope… kau pikir aku akan melewatkan kesenangan untuk mengutuk Muggle itu hanya karena kau memohon didepanku. Sampai kau menangis darah pun, aku tetap akan memberinya pelajaran." Merlin kenapa aku harus memiliki saudara seperti dia.

"Lagipula seharusnya kau tidak perlu mencemaskan Muggle kotor itu. Dirimu sendirilah yang harus kau cemaskan. Bersiaplah menghadapi reaksi Ayah setelah mendengar kisah cinta terpendammu dengan makhluk rendahan itu." ia mengatakan kisah cinta dan makhuk rendahan dengan sama sinisnya.

Belum sempat aku bereaksi, suara Ayah mengagetkanku dan menginterupsi "percakapan menyenangkan" kami ini. "Apa yang kau lakukan didapur, Morfin?"

Morfin tersenyum keji kepadaku sebelum membalikan tubuhnya menghadap Ayah. "Oh tidak Ayah. Aku hanya sedang megucapkan selamat pagi kepada Merope." Ia melirikku dan tidak berusaha menutupi nada geli dalam suaranya.

Ku lihat Ayah menyipitkan mata curiga. "Sejak kapan kau suka mengucapkan selamat pagi kepada adikmu?" Morfin hanya tertawa sebagai jawaban atas pertanyaan Ayah. Detik berikutnya Ayah juga ikut tertawa. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang lucu dari situasi ini. Tapi berhubung Ayah memang memiliki tingkat kewarasan dan selera humor yang sama dengan Morfin, aku tidak heran. Lagipula aku lega sepertinya hidupku masih akan tetap berlangsung setidaknya sampai dipenghujung hari ini. Semoga.

Kami makan dalam diam. Oh bukan. Bukan karena kami sedang menjalankan adab makan keluarga nigrat seperti keluarga penyihir berdarah murni lainnya: Dilarang Berbicara Ketika Kau Sedang Berada di Meja Makan. Tentu saja bukan. Apakah kalian mengharapkan orang seperti Ayahku masih memiliki sisa peradaban Penyihir Darah Murni dengan segala tetek-bengeknya tentang tradisi dan adat istiadat? Yah kecuali tradisi bahwa kau—sebagai penyihir berdarah murni—"diharamkan" menikah dengan Darah Lumpur, Darah Pengkhianat, Penyihir Berdarah Campuran (apapun jenis percampuran darahmu; manusia, veela, troll, raksasa, goblin, manusia duyung, dan makhluk-makhluk sihir lainnya) apalagi dengan seorang Muggle.

Padahal sekarang kami tidak lebih dari keluarga gelandangan baik di dunia Muggle maupun di dunia sihir. Karena ya, kami miskin. Dulu keluarga Gaunt memang kaya raya, tentu saja. Kami keluarga darah murni, ingat? Tapi karena kebiasaan menikah dengan para sepupu dekat—dengan harapan agar tidak mencemarkan kemurnian darah dan harta tetap dinikmati keluarga—serta kegemaran mabuk-mabukan dan menghambur-hamburkan Galleon, jangan salahkan jika sekarang keluarga Gaunt tidak lebih dari sekedar sampah bagi komunitas sihir, terutama komunitas darah murni.

Oh lupakan tentang omong kosong darah murni ini. Jadi mengapa kami makan dalam diam? Tentu saja karena tidak ada yang perlu diperbincangkan. Tidak mungkin kami akan bertukar cerita satu sama lain dan saling memberikan semangat untuk menjalani hari. Oh yang benar saja! Kalau itu sampai terjadi, mungkin Merlin bahkan Salazar Slytherin sendiri—leluhur kami—akan bangkit dari kubur dan menangis terharu.

Ketika sedang makan Morfin tidak berhenti menatapku tiap satu menit sekali sambil tentunya tidak lupa menambahkan senyum sinis di bibirnya. Aku tahu ia sedang menyusun rencana-rencana di otak kecilnya itu. Entah rencana mana yang lebih dulu akan ia laksanakan. Meberitahu Ayah atau memberi "pelajaran" kepada Tom. Yang pasti keduanya tetap tidak menyenangkan untukku.

Aku berusaha keras untuk menelan kentang tumbuk yang terasa seperti kerikil di tenggorokanku. Sambil terus berdoa semoga kepala Morfin terhantam benda apapun dan membuat dia lupa ingatan sehingga melupakan rencana busuknya itu. Tapi tentunya harapanku itu sama seperti Ayah yang tiba-tiba terpilih menjadi Menteri Sihir. Mustahil.

Tidak banyak yang bisa aku kerjakan di rumah. Karena aku satu-satunya wanita disini tentu saja semua pekerjaan rumah tangga ini secara langsung menjadi tanggung jawabku. Ayah bekerja mencari kepingan-kepingan Sickle dan Knut sebagai penjaga toko bahan-bahan ramuan di Knockturn Alley. Tidak bisa berharap lebih tentu saja. Tadinya Ayah tidak mau bekerja sebagai pegawai rendahan seperti itu, tapi mengingat bahwa kami tidak memiliki emas bahkan satu keping Knut pun untuk hidup, mau tidak mau Ayah harus bekerja.

Sedangkan Morfin hanya menganggur di rumah. Aku rasa Morfin adalah cerminan Ayah selagi muda. Ia hanya disibukan dengan berburu hewan-hewan di hutan, duduk di sofa di depan perapian atau di atas pohon di depan rumah sambil berbicara dengan ular peliharaannya sepanjang hari. Kalau ular peliharaannya sudah membuatnya kesal, ia akan membunuh lalu mengulitinya seperti yang ia lakukan pada ular yang sekarang sudah dipaku di depan pintu rumah ini. Jika bosan tentu saja Morfin akan mencari kesenangan lain dengan mengerjai para Muggle di desa.

Ketika Ayah sudah berangkat kerja, aku memberanikan diri berbicara dengan Morfin untuk memohonnya agar ia tidak memberitahu Ayah dan tidak memantrai Tom. Aku tahu mungkin itu akan sia-sia, tapi bukan berarti tidak patut dicoba, kan?

Aku menghampiri Morfin yang sedang duduk di depan perapian sambil memainkan ular peliharaannya, "Morfin, a… aku ingin berbicara." Ia hanya melirik sekilas dari kesibukannya.

"Kalau kau ingin berbicara padaku agar tidak memberitahu Ayah atau mengurungkan niat untuk mengutuk Muggle kotor itu, kau jelas sudah tahu jawabannya Merope." Yah tentu saja aku sudah tahu kalau dia akan menolaknya mentah-mentah. Tapi aku tidak menyerah bergitu saja.

Aku berlutut didepannya, "Morfin aku mohon. Jangan lakukan apapun kepada To—Muggle itu. Dia tidak bersalah. Jika kau ingin menghukum, aku yang pantas menerimanya. Dia tidak tahu apa-apa." Aku memintanya sambil menahan isakku.

Morfin mengernyit dan menyipitkan matanya, "Kau tahu Merope, kau membuatku semakin jijik. Kau lebih memilih memohon keselamatan Muggle kotor itu dari pada keselamatanmu sendiri." Morfin tidak memberiku kesempatan untuk bicara,

"Tentu saja kau akan menerima hukuman karena telah jatuh cinta dengan seorang Muggle. Tapi bukan aku yang akan menghukummu. Ayah lebih tahu apa yang pantas diberikan untuk Darah Pengkhianat sepertimu."

"Morfin tolong… jangan beritahu Ayah. Kau tahu bahwa Ayah mungkin akan membunuhku jika ia mengetahui semua ini." sekarang aku tidak bisa lagi menahan air mata yang sudah jatuh membasahi pipiku.

"Kalau kau tahu ayah akan membunuhmu, seharusnya kau berpikir ulang sebelum memutuskan menyukai Muggle keparat itu." Lalu ia bangkit dari kursi dan berjalan keluar rumah sambil membanting pintu di belakangnya.

Jangan tanya padaku bagaimana aku bisa menjalani sisa hari ini. Aku merasa seperti inferi. Tidak ada makanan yang masuk ke dalam perutku lagi sejak pagi tadi. Yang aku lakukan hanya duduk di pinggir jendela dan tidak pernah melepas pandanganku dari jalan masuk pondok.

Tidak tahu pasti apa yang aku harapkan sebenarnya. Morfin tidak kunjung pulang. Entah ia sedang berada dimana sekarang. Tapi dimana pun itu, semoga ia tidak sedang mencari Tom dan mengutuknya langsung dengan mantra pertama yang terlintas dipikirannya.

Aku belum tahu apa yang akan kulakukan jika Morfin benar-benar mengutuk Tom. Aku tidak yakin bisa melawannya. Sejak dulu sihirnya memang lebih hebat dariku. Ia mengetahui kutukan-kutukan berbahaya lebih banyak dari pada yang diketahui oleh setengah penghuni asrama Slytherin. Terima kasih untuk Ayah yang sudah mengajarkan Morfin sejak ia bisa mengeluarkan kata pertama dari mulutnya. Jangan tanya apakah Ayah juga mengajariku hal yang sama. Tentu saja jawabannya tidak. Lagipula sejak dulu aku terlalu takut kepada Ayah, mungkin tekanan itu yang menyebabkan kemampuan sihirku tidak berkembang dengan baik sekalipun aku telah belajar di Hogwarts.

Badanku sudah sangat kaku ketika senja tiba. Aku memutuskan masuk ke dalam untuk minum sebentar—yang baru kusadari ternyata tenggorokanku sangat kering sejak tadi. Baru saja bangkit berdiri, aku mendengar langkah kaki kuda mendekat. Sial itu pasti Tom. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku menghampiri dan memperingatkannya?

Oh ya benar Merope katakan padanya, "Tom, sebaiknya kau cepat pergi sekarang karena jika kakakku datang, ia akan membuat hidungmu menghilang detik ini juga."

Atau, "Tom, kakakku yang setengah waras itu akan membuat wajah tampanmu dipenuhi tentakel-tentakel kecil hanya karena ia tahu aku mencintaimu."

Atau mungkin, "Tom, aku dan keluargaku adalah penyihir. Jadi pergilah dari Little Hangleton, ke luar negeri kalau perlu ke mana saja asal jauh-jauh dari kami karena kakakku akan melakukan sesuatu yang buruk padamu, belum lagi jika Ayahku juga tahu."

Bisa dipastikan ia akan langsung memacu kudanya—bahkan sebelum aku sempat mengatakan apapun—hanya karena melihatku muncul secara tiba-tiba.

Dan saat itulah semua terjadi secara cepat tanpa peringatan. Gemerisik semak sesaat sebelum suara ledakan kecil, ringkikan kuda dan suara derap kaki kuda yang berlari menjauh, diikuti suara 'buk' keras seperti sesuatu jatuh ke tanah, erangan suara pria bersamaan tawa membahana pria lainnya.

Aku langsung berlari ke luar rumah. Menutup pintu dengan keras, tidak mengacuhkan apakah pintu itu akan rubuh atau ular yang berayun menyedihkan itu akan jatuh.

Dan pemandangan yang aku dapati di jalan ini sangat kontras dengan pemandangan yang disajikan alam—matahari yang hampir tenggelam di ufuk barat sehingga membuat langit musim panas dipenuhi semburat warna merah yang memukau. Teriakanku menyatu dengan rintihan Tom dan tawa Morfin, memecah kesunyian senja di bagian terluar desa Little Hangleton.

To Be Continued


A/N

Saya ingin menjelaskan beberapa hal di chapter ini:

- About Gaunt's house : Di buku ke-6 dijelaskan seperti yang saya tuliskan di atas, tapi tidak dijelaskan siapa yang menempati kamarnya, jadi yup saya ngarang hehe

- About Marvolo's job : Ini juga ngarang bebas. Saya gak bisa menemukan di sumber manapun apa pekerjaan Marvolo. Sengaja saya bikin dia kerja karena… yah penyihir juga butuh uang, kan? Sihir gak bisa memunculkan makanan dari ketiadaan sih :/

- Tentang percakapan yang pake italic itu maksudnya mereka ngomong pake Parseltongue (Ada di Harry Potter Wiki kalau mereka berkomunikasi pake Parseltongue).

Saya juga ingin membuat koreksi di Chapter 1.

- Chap 1 saya edit ulang karena—Thank you so much for Rise Star sudah memberitahu—salah memberikan nama orangtua Tom (sebelumnya saya ngarang soalnya gak ngecek dulu sebelum ngasih nama ._.v)

- Untuk setting waktu sebelumnya saya tulis 'Musim Panas 1926' saya ubah (setelah baca Harry Potter Wiki) jadi 'Musim Panas 1925'. Ini penting soalnya berhubungan sama kelahiran Tom Riddle Jr. nantinya.

- Dan kesalahan fatal yang saya buat lagi adalah… ternyata baik Merope, Morfin, maupun Marvolo gak ada yang pergi ke Hogwarts (source: Harry Potter Wiki). Saya baru tahu ketika proses nulis chapter 2. Kalau saya ganti Merope nya gak jadi sekolah di Hogwarts, saya bakal mengubah setengah dari chapter 1. Jadi saya memutuskan untuk membiarkannya seperti itu. Maaf yaaaa T_T Karena ini fanfiction, marilah kita terima dengan lapang dada (?)


Maaf banget updatenya sampe dua setengah bulan gini ._.v I won't make excuses, it's because I am a worst procrastinator ever. *sigh*

So this is it… saya tahu ini cuma beda beberapa ratus kata dari chapter 1, hiks. Sepertinya saya memang gak bisa nulis sampe diatas 3000 kata apalagi puluhan ribu seperti author-author handal itu :'( Jadi sebelum kalian semua meminta saya menulis lebih panjang lagi, saya tidak bisa menjanjikan apapun. Hanya Tuhan yang tahu apakah chapter selanjutnya akan sampai 2000 kata lebih :"

Balasan review buat yang gak pake akun ff:

Virginia: makasih Niaaa :D dilanjutin nih walaupun lagi kuliah :'D *curcol*

Caca: makasih caca :) udah lanjut nih "ff mertua lo" nya :p

Novel: makasih peleee udah review :)) gara-gara kata-kata lo gw jadi kepo dan nyari fic pairing Tom-Merope versi Indonesia dan ternyata… you're right, belum ada. Jadi merasa agak khawatir kalo fic ini gak akan "wow" :| But I will try! At least berusaha gak mengecewakan deh :'

GoodKeepWriting: makasih udah review. Iya nih dilanjutin… :)

Thanks a lot for all of you, buat yang bersedia baca, review, follow, apalagi favorite :')

Again, if you don't mind would you review this chap? Because I really want to know what you thought :)