A/N di chapter ini terdapat potongan cerita dalam buku Harry Potter and The Half-Blood Prince dari halaman 256-268 menggunakan sudut pandang Merope.
DISCLAIMER: All characters in this fic based on Harry Potter which ALWAYS belongs to J. K. Rowling.
HAPPY READING POTTERHEAD ! :D
CHAPTER 3
Di sana terbaring di tanah sambil memegangi wajahnya dengan kedua tangan dan erangan yang terus keluar dari mulutnya. Tom. Aku segera berlutut disebelahnya. Terpekik ngeri melihat apa yang terjadi pada wajah, leher, juga tangannya. Seluruh tubuh Tom dipenuhi bintik-bintik merah.
"Apa yang telah kau lakukan padanya?" suaraku bergetar saat bertanya pada Morfin.
Ia masih tertawa terbahak-bahak, "Tenang Merope. Aku hanya menggunakan kutukan kecil. Bagaimana? Masih menyukai wajah tampannya itu, huh?"
Aku mengeluarkan tongkatku dan mengarahkannya pada Tom. Mencoba membalikkan mantra apapun yang digunakan Morfin padanya. "Finite Incantatem." cahaya hijau menyinari tubuhnya selama beberapa detik. Tapi tidak ada yang terjadi bahkan sampai cahayanya menghilang. Sial, ini pasti bukan kutukan kecil biasa seperti yang ia katakan. Pasti salah satu dari kutukan-kutukan ciptaannya.
"Kumohon lakukan sesuatu, Morfin." air mata sudah membasahi pipiku.
"Tidak akan!" lalu ia tertawa lebih keras lagi. Merasa sangat puas karena telah berhasil mengutuk Tom sekaligus membuatku menderita melihatnya.
"Apa yang kalian lakukan padaku?" aku berjengit mendengar bentakan Tom. Ia masih terlihat kesakitan tetapi matanya menatap penuh kebencian pada kami.
"Bu… bukan aku yang membuatmu seperti itu. Aku hanya ingin menolongmu." lalu aku menoleh pada Morfin, "Morfin kumohon…"
"Mengapa kau mendesis seperti ular? Siapa kalian sebenarnya?" kali ini ia menatap horor pada kami berdua.
"Kami ini penyihir, Muggle. Penyihir berdarah murni. Bukan makhluk rendahan sepertimu." Morfin menatap Tom dengan tatapan merendahkan. Kali ini ia sengaja menggunakan bahasa Inggris bukan Parseltongue seperti biasa.
"Peny… apa? Kau!" ia menunjuk wajah Morfin, "kau anak laki-laki si gelandangan tua Gaunt, kan? Kau gila! Kalian berdua gila!" lalu ia bangkit berdiri dan berlari dengan terpincang-pincang meninggalkan kami.
"Tom!" aku berteriak memanggil dan baru akan berlari menyusulnya ketika tangan Morfin menarik lenganku.
"Mau apa kau?"
"Aku ingin menolongnya." aku berkata sambil berusaha menarik lenganku yang dicengkeram olehnya.
"Tidak! Kau tidak akan menolongnya!" kuku-kukunya yang kotor menancap di kulitku.
Mengabaikan rasa perih pada lenganku, "Tapi Morfin… aku juga harus menghapus memorinya. Kau telah mengatakan padanya bahwa kita adalah penyihir. Bagaimana kalau dia memberitahu orangtuanya dan seluruh penduduk desa?"
"Tidak akan ada yang percaya padanya, kau idiot. Dia malah akan dianggap gila."
"Ta… tapi…"
Morfin tidak mengindahkanku lagi. Menyeretku masuk ke dalam rumah. Membanting pintu dengan suara memekakan telinga, lalu melemparkanku ke lantai.
"Hari ini kau masih beruntung, Merope. Aku belum berniat memberitahu ayah. Aku senang melihatmu menderita karena tertekan. Jadi adikku sayang, kau memiliki waktu semalam lagi untuk mengkhawatirkan nasibmu itu." Morfin tidak bersusah payah menyembunyikan nada keji dalam suaranya.
.
.
.
Morfin membuktikan ucapannya. Ia tidak memberitahu ayah di sisa hari kemarin. Semalaman yang ku pikirkan selain apa yang harus aku lakukan ketika Ayah telah mengetahui tentang perasaanku kepada Tom adalah apakah Tom baik-baik saja. Aku berharap semalam pegawai Kementerian Sihir segera datang untuk membalikkan mantra yang digunakan Morfin dan menghapus ingatannya tentang kejadian itu.
Aku sedang membersihkan panci dan belanga ketika terdengar suara keresekan dan suara Morfin seperti sedang berbicara dengan seseorang di luar. Tidak lama kemudian terdengar dentuman dan ayah bergegas keluar rumah sambil meneriakan nama Morfin dan membanting pintu di belakangnya. Sepertinya Morfin baru saja menyerang orang lagi. Ia selalu melakukannya jika ada Muggle atau siapapun yang sengaja maupun tidak berada di dalam area gubuk kami. Entah siapa orang bodohnya kali ini.
Terdengar samar-samar suara percakapan ayah dengan orang tersebut. Berarti ia seorang penyihir karena ayah tidak mungkin mau bercakap-cakap dengan Muggle tanpa mengutuknya terlebih dahulu. Aku agak penasaran siapa orangnya karena sepertinya ia terdengar kesal.
Aku melirik ketika pintu terbuka. Ternyata Morfin yang masuk ke dalam rumah. Ia langsung berjalan ke kursi berlengan di sebelah perapian dan duduk disana. Membelitkan ular peliharaannya di antara jari-jari dan bernyanyi dengan suara jeleknya, lagu yang ia ciptakan sendiri dan sudah sering ia nyanyikan,
"Desis, desis, ular kecil mendesis,
Menjalar-jalar di lantai batu,
Baik-baiklah kepada Morfin,
Kalau tak mau dipaku di pintu."
Aku tetap melanjutkan pekerjaanku. Kemudian terdengar suara pintu terbuka lagi. Kali ini yang masuk ayah diikuti oleh seorang laki-laki gemuk pendek yang memakai kacamata supertebal, membuat matanya tampak kecil seperti bintik tahi lalat. Ia mengenakan pakaian Muggle alih-alih jubah seperti penyihir. Tapi aku tahu ia pasti seorang penyihir. Karena yang sering ku lihat dari penduduk di desa, mereka tidak mungkin mengenakan kombinasi pakaian seperti itu. Sepertinya ia berusaha ingin tampil seperti Muggle, tetapi malah terlihat sangat aneh. Ia memakai jas berkancing dua baris dan penutup mata kaki di atas sesuatu yang tampak seperti potongan baju renang. Aku rasa jika ia bertemu dengan salah satu Muggle, ia bisa dianggap orang gila atau minimal dikira sebagai salah satu anggota sirkus.
Laki-laki itu memandang penuh tanya ke arah ku. Aku menundukan kepala, takut ia mengetahui bahwa aku telah mengamati penampilan ajaibnya sejak tadi.
"Anak perempuan saya, Merope," ayah berkata enggan. Sepertinya ia juga melihat pandangan penuh tanya laki-laki itu ke arah ku.
"Selamat pagi," laki-laki itu malah menyapaku. Aku tidak tahu harus menjawab sapaannya atau tidak. Tidak pernah ada orang asing yang menyapaku dengan ramah sebelumnya. Jangankan menyapa, memandangku saja mereka enggan. Jadi aku hanya memandang takut ke arah ayah dan berbalik memunggungi ruangan, meneruskan pekerjaanku membersihkan panci-panci di rak.
"Nah, Mr Gaunt," kudengar laki-laki itu berkata, "kita langsung ke pokok persoalan. Kami punya alasan untuk memercayai bahwa anak Anda, Morfin, melakukan sihir di depan seorang Muggle larut malam kemarin."
Saking kagetnya mendegar ucapan laki-laki ini, aku tidak sengaja menjatuhkan panci yang sedang ku pegang. Bunyi dentang memenuhi ruangan. Pasti laki-laki ini dari Kementerian. Ia berbicara tentang kejadian kemarin malam.
"Ambil!" ayah membentakku. Dengan tangan gemetar aku mengambil panci yang terjatuh. "Ya, terus saja menggerayang lantai seperti Muggle kotor. Buat apa tongkat sihirmu? Dasar kantong sampah tak berguna!" Sepertinya ayah sengaja tidak menggunakan Parseltongue agar laki-laki dari Kementerian itu mendegar ucapannya mempermalukanku. Mukaku sudah merah padam, campuran rasa takut dan malu.
"Mr Gaunt, mohon jangan memaki!" si pegawai Kementerian berkata, tampak shock.
Panci yang sudah ku pegang malah terlepas lagi karena tanganku yang terus gemetaran. Akhirnya aku mencabut tongkat sihirku dari saku, mengarahkannya ke panci dan buru-buru menggumamkan mantra. Bukannya mengarah padaku, panci itu malah menjauh, meluncur di lantai, menabrak dinding seberang, dan retak menjadi dua.
Morfin tertawa terbahak-bahak. Sangat menikmati kesalahan yang kubuat. Ayah berteriak kepadaku, "Betulkan, gumpalan lumpur bego, betulkan!"
Aku berjalan terhuyung ke seberang ruangan, namun sebelum aku sempat mengangkat tongkat sihir, ada suara tegas berkata, "Reparo." Laki-laki itu membantuku.
"Untung laki-laki baik dari Kementerian ini ada di sini, ya? Barangkali dia mau mengambilmu dari tanganku, barangkali dia tidak keberatan bergaul dengan Squib kotor…" ayah berkata mencemooh kepadaku.
Aku tidak berani memandang siapa pun dan tidak jadi berterima kasih kepada laki-laki itu karena telah menolongku. Bukan karena aku tidak tahu terima kasih, tapi aku sudah terlalu takut untuk berbicara. Jadi aku hanya mengambil panci yang sekarang sudah utuh kembali dan mengembalikannya ke rak. Kemudian berdiri diam bersandar ke dinding di antara jendela kotor dan tungku. Tidak ada yang ku inginkan lagi selain terbenam ke dalam dinding batu ini dan lenyap untuk selamanya.
"Mr Gaunt," si pegawai Kementerian memulai lagi pembicaraan yang tadi sempat terputus karena ulah bodohku, "seperti sudah saya katakana tadi: alasan kedatangan saya—"
"Saya sudah dengar tadi!" bentak ayah kepadanya. "Jadi, kenapa? Morfin memberi sedikit kejutan pada seorang Muggle—kenapa kalau begitu?"
"Morfin telah melanggar hukum sihir," ia berkata tegas.
"Morfin telah melanggar hukum sihir," ayah menirukan suara laki-laki itu, dengan nada angkuh dan datar. Morfin malah tertawa terbahak-bahak. "Dia memberi pelajaran pada Muggle kotor, dan itu ilegal sekarang, begitu?"
"Ya, sayangnya ya, itu ilegal." kemudian ia menarik gulungan kecil perkamen dari saku dalamnya dan membuka gulungan itu.
"Apa itu, vonisnya?" suara ayah meninggi karena marah.
"Ini panggilan agar ia datang dari Kementerian untuk sidang—"
"Panggilan! Panggilan? Kaupikir siapa kau ini, berani-beraninya memanggil anakku?" ujar ayah membela Morfin.
"Saya Kepala Pasukan Pelaksanaan Hukum Sihir."
"Dan kau menganggap kami orang-orang tak berguna, kan?" ayah berteriak dan sekarang mendekati pegawai Kementerian itu, menunjuk dadanya dengan jari. "Orang tak berguna yang akan segera berlari datang kalau dipanggil Kementerian? Tahukah kau, sedang berbicara dengan siapa, kau Darah-campurah kotor?"
"Saya sangka saya sedang berbicara kepada Mr Gaunt," ia tampak waspada tetapi tetap bertahan ditempatnya.
"Betul!" ayah meraung. Kemudian ayah menunjukkan cincin keluarga kami di jari tengahnya. Cincin bermata-batu-hitam yang selalu dipakai ayah. Menggoyangkan jarinya di depan mata laki-laki itu.
"Lihat ini? Lihat ini? Tahu apa ini? Tahu dari mana asalnya? Sudah berabad-abad cincin ini ada dalam keluarga kami, sudah sebegitu tuanyalah kami, dan seluruhnya berdarah-murni! Tahu berapa banyak yang ditawarkan untuk ini, dengan lambang Peverell terukir di batunya?"
"Saya sama sekali tidak tahu," laki-laki itu berkata, mengerjap ketika cincin itu terbang dua setengah senti dari hidungnya, "dan itu tak penting, Mr Gaunt. Anak Anda telah melanggar—"
Ayah meraung murka. Berlari kemudian menarikku ke arah laki-laki itu pada rantai emas di sekeliling leherku.
"Lihat ini?" ayah berteriak, menggoyangkan liontin emas berat di depan laki-laki itu, sementara aku gemetar dan tersengal kehabisan napas karena tercekik.
"Saya lihat, saya lihat!" laki-laki itu buru-buru berkata.
"Kalung Slytherin!" teriak ayah. "Kalung Salazar Slytherin! Kami turunan terakhirnya yang masih hidup, apa komentarmu, eh?"
"Mr Gaunt, anak Anda!" laki-laki itu terdengar mencemaskanku. Akhirnya ayah melepaskan tangannya dari kalungku. Aku terhuyung menjauh, kembali ke sudut, menggosok leherku dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Jadi!" ayah berkata penuh kemenangan, seolah baru saja berhasil membuktikan topik rumit tanpa bisa dibantah lagi. "Jangan berani-berani bicara kepada kami seakan kami debu di sepatumu! Bergenerasi-generasi darah-murni, semua penyihir—lebih daripada yang bisa kaukatakan, aku yakin!"
Dan ayah meludah di lantai di depan kaki laki-laki itu. Morfon terbahak lagi. Menyukai pertunjukan yang terjadi. Aku hanya meringkuk di sebelah jendela, menundukan kepala menyembunyikan wajahku dengan rambut panjang tipis yang menjuntai, tidak berkata apa-apa.
"Mr Gaunt," laki-laki itu berkata dengan tabah seperti berbicara dengan anak umur lima tahun, "sayangnya baik leluhur Anda maupun leluhur saya tak ada hubungannya dengan persoalan ini. Saya berada di sini karena Morfin, Morfin dan si Muggle yang diserangnya semalam. Informasi yang kami dapat," ia menunduk membaca gulungan perkamennya, "Morfin memantrai atau mengutuk Muggle itu, membuat wajahnya dipenuhi gatal-gatal yang menyakitkan."
Morfin terkikik.
"Diam, Nak." ayah membentak Morfin dalam Parseltongue, dan Morfin terdiam lagi.
"Memangnya kenapa kalau dia begitu?" ayah menantang pegawai Kementerian itu. "Kukira kau sudah membersihkan wajah kotor si Muggle itu, dan memorinya sekalian—"
"Bukan itu masalahnya, kan, Mr Gaunt?" ia berkata. "Ini serangan tanpa provokasi pada seorang Muggle tak berdaya—"
"Ah, aku sudah mengenalimu sebagai pecinta Muggle begitu aku melihatmu," cibir ayah, dan ia meludah di lantai lagi. Ayah bukan hanya membenci Muggle tapi juga para penyihir yang membela mereka.
"Diskusi kita tidak maju-maju," ia berkata tegas. "Jelas dari sikap anak Anda bahwa dia sama sekali tidak menyesali perbuatannya." lalu ia membaca perkamennya lagi. "Morfin akan menghadiri sidang pada tanggal empat belas September dengan tuduhan menggunakan sihir di depan Muggle dan menyebabkan celaka dan stres terhadap Muggle yang sam—"
Ia berhenti berbicara. Bunyi gemerincing, derap kaki kuda, dan tawa keras terdengar dari jendela yang terbuka. Ayah membeku, mendengarkan, matanya melebar. Morfin mendesis dan menoleh ke arah suara-suara itu, ekspresinya lapar. Sedangkan aku berubah pucat pasi. Aku mengenali suara orang-orang itu.
"Ya ampun, bikin sakit mata saja!" aku bahkan tahu suara perempuan ini. Cecilia. "Tidak bisakah ayahmu menyingkirkan gubuk itu, Tom?"
"Itu bukan milik kami," kali ini suara Tom yang terdengar. "Segala sesuatu di sisi lain lembah milik kami, tapi gubuk itu milik gelandangan tua bernama Gaunt dan anak-anaknya. Anak laki-lakinya agak gila, coba kalau kau mendengar cerita-cerita yang beredar di desa—"
Cecilia tertawa. Bunyi gemerincing dan derap kaki kuda semakin lama semakin keras. Morfin beranjak dari kursi berlengannya. Ia pasti ingin menyerang mereka karena telah berbicara hal buruk tentang kami.
"Tetap di tempat dudukmu," ayah memperingatkan Morfin, dalam Parseltongue.
"Tom," suara Cecilia terdengar dekat sekali, pasti sekarang mereka berada di sebelah rumah, "aku mungkin keliru—tapi apa ada orang yang memaku ular di pintu?"
"Astaga, kau benar!" Tom berseru. "Pasti anak laki-lakinya, kan sudah kubilang ada yang tidak beres dengan otaknya. Jangan melihatnya, Cecilia, darling."
Bunyi gemerincing dan derap kaki kuda sekarang semakin menjauh dan pelan lagi.
"Darling," bisik Morfin dalam Parseltongue, ia memandangku. "Dia memanggilnya 'darling'. Jadi, dia tidak mau denganmu."
Aku semakin pucat. Bukan karena Tom memanggil Cecilia 'darling' tapi karena Morfin mengatakannya di depan ayah. Jadi inilah saatnya. Aku tetap belum siap menanggung reaksi ayah.
"Apa maksudmu?" ayah bertanya tajam, juga dalam Parseltongue, bergantian memandang Morfin dan aku. "Apa katamu, Morfin?"
"Dia suka memandangi Muggle itu," kata Morfin, ia memandangku dengan ekspresi keji. Aku semakin ketakutan. "Dia kan selalu berada di halaman kalau Muggle itu lewat, mengintipnya lewat pagar tanaman? Dan semalam—"
Aku menggelengkan kepala menyentak, memohon agar ia tidak melanjutkan perkataannya, namun Morfin tidak peduli dan tetap melanjutkan tanpa belas kasihan, "Nongkrong di jendela, menunggu dia lewat pulang, kan?"
"Nongkrong di jendela mau melihat Muggle?" ayah berkata perlahan namun berbahaya.
Kami sudah melupakan bahwa di ruangan ini juga si pegawai Kementerian yang sudah pasti tidak mengerti apa yang kami bicarakan karena ayah dan Morfin terus mendesis-desis menggunakan Parseltongue.
"Betulkah?" ayah bertanya dengan suara mengerikan, maju satu atau dua langkah mendekatiku yang semakin ketakutan. "Anakku—keturunan Salazar Slytherin yang berdarah murni—mendambakan Muggle kotor, berpembuluh lumpur?"
Aku menggelengkan kepala dengan panik, menekankan tubuhku ke dinding, tak sanggup berbicara sepatah kata pun.
"Tapi kukerjai dia, Ayah!" Morfin tergelak. "Kukerjai dia waktu lewat, dan dia tidak tampan lagi dengan bintik-bintik merah gatal di seluruh tubuhnya, iya kan, Merope?"
"Kau Squib menjijikkan, pengkhianat kotor!" ayah meraung kehilangan kendali lalu mencekik leherku.
Aku mendegar si pegawai Kementerian berteriak, "Jangan!" Mengangkat tongkat sihirnya dan berseru, "Relashio!"
Ayah terlempar ke belakang akibat mantra itu. Menabrak kursi dan jatuh terkapar. Dengan raung murka Morfin melompat dari kursinya dan berlari mendekati laki-laki itu, mengayunkan-ayunkan pisaunya yang berlumuran darah dan melancarkan kutukan membabi-buta dari tongkat sihirnya.
Pegawai Kementerian itu berlari menyelamatkan diri. Aku hanya bisa menjerit ngeri melihat apa yang sedang terjadi.
Morfin tidak mengejarnya, tetapi menghampiri ayah yang pingsan sambil meraung-raung mendekapnya. Aku masih dalam keadaan setengah shock setengah kesakitan akibat cekikan ayah.
Setelah beberapa menit menenangkan diri aku bangkit menghampiri ayah yang masih pingsan dan Morfin yang masih mendekapnya.
"Mau apa kau?" Morfin mendesis saat aku sudah berada di sampingnya.
"Aku ingin menyadarkan ayah." suaraku bergetar. Mengeluarkan tongkat shirku.
Morfin langsung bangkit dan mencekik leherku dengan satu tangannya, "Tidak. Kau bukan ingin menyadarkan ayah. Kau pasti ingin membunuhnya."
Astaga dalam keadaan seperti ini Morfin masih saja memiliki pikiran seperti itu. Apakah ia benar-benar tidak pernah menggunakan otaknya?
Dengan napas tersengal aku menjawab, "Mo… Morfin… a… aku… benar… benar ingin… me… nyadarkan… ayah." tanganku yang tidak memegang tongkat sihir berusaha melepaskan tangannya yang berada di leherku.
Lalu ia menarik tangannya. Aku terbatuk-batuk dan menghirup udara. Sepertinya jika sekali lagi ada yang mencekikku, aku benar-benar akan mati.
Aku mengarahkan tongkatku kepada ayah, "Ennevarte!" Ayah mulai membuka matanya perlahan, Morfin membantu mendudukkan ayah.
"Kemana si brengsek pecinta Muggle itu?" ayah masih bisa meraung seperti itu padahal kepalanya baru saja terbentur kursi dengan cukup keras.
"Ia kabur tunggang-langgang setelah aku menyerangnya dengan berbagai macam kutukan, Ayah." Morfin menggertakan giginya. Sisa amarah masih terpancar di wajah kejinya.
"Kalau bertemu dengannya lagi, akan kubunuh dia." geram ayah.
Tiba-tiba terdengar banyak suara pop di luar rumah. Sepertinya baru saja ada yang ber-Apparate di halaman kami. Ayah dan Morfin segera bangkit dalam keadaan siap memegang tongkat sihir mereka. Aku mencium bau duel yang akan berlangsung tidak lama lagi. Jadi aku mundur dan mencari tempat berlindung,
"Mr Gaunt menyerahlah dan keluar dari rumah sekarang!" itu suara si pegawai Kementerian tadi.
Ayah dan Morfin saling bertukar pandang. Mereka melempar kutukan melewati pintu. Membuat pintu depan hancur seketika. Dari luar juga tak mau kalah. Terdengar suara sekitar setengah lusin pria meneriakan "Stupefy." Cahaya merah masuk ke dalam rumah dan mengenai perabotan-perabotan serta menghancurkannya. Morfin dan ayah kembali melayangkan kutukan dengan tak kalah ganasnya.
Lima menit berduel akhirnya para pegawai Kementerian berhasil mengalahkan ayah dan Morfin. Mereka hanya membuat ayah dan Morfin pingsan. Lima pria mengenakan seragam Kementerian dan si pegawai Kementerian yang tadi masih menggunakan pakaian anehnya, masuk ke dalam rumah.
Aku masih mengintip dari dalam kamar. Belum berani menampakkan batang hidungku.
"Dimana anak perempuan Gaunt yang kau bilang tadi, Ogden?" salah satu pegawai Kementerian yang rambut cokelat panjangnya diikat kuda bertanya kepada si pegawai Kementerian berpakaian aneh.
"Mungkin dia bersembunyi atau malah sudah kabur." Ogden menjawab temannya.
Aku melihat pegawai Kementerian yang lain mengikat ayah dan Morfin dengan tali yang keluar dari tongkat mereka, dan ada juga yang mengambil tongkat sihir ayah dan Morfin diantara puing-puing perabotan yang telah hancur. Sepertinya sekarang sudah waktunya aku keluar menampakkan diri.
Mereka semua mengalihkan pandangannya ketika mendengar langkahku. "Apakah kau baik-baik saja, Nak?" Ogden bertanya padaku dengan nada kabapakan.
"Sa... saya baik-baik saja." aku menjawab gugup, menunjuk ayah dan Morfin yang sudah terikat, "a… apakah ayah dan kakak saya baik-baik saja?"
"Tenang, Nak. Ayah dan kakakmu hanya pingsan. Kami mengikatnya agar mereka tidak menyerang lagi saat kami membawa mereka ke Kementerian." salah satu pegawai Kemeterian yang berwajah kasar namun berbicara dengan lembut kepadaku.
"Apakah kalian akan membawa mereka ke Azkaban juga?"
"Sayangnya, ya. Mereka akan dimasukan ke Azkaban untuk sementara waktu sambil menunggu sidang." kali ini Ogden yang menjawab, "Apakah kau baik-baik saja tinggal sendirian di rumah?"
Aku tidak tahu harus merasa senang atau sedih dengan fakta bahwa aku akan tinggal sendirian tanpa tekanan dari ayah dan teror dari Morfin lagi. "Nak, apa kau akan baik-baik saja?" Ogden mengulangi pertanyaannya lagi.
"Ya. Saya akan baik-baik saja. Sa... saya bisa mengurus diri saya sendiri, saya rasa."
"Baiklah. Kalau begitu kami harus segera membawa ayah dan kakakmu sebelum mereka sadar." Ogden memberikan perintah dengan menganggukkan kepala kepada anak buahnya untuk membuat ayah dan Morfin melayang ke tandu-tandu yang entah sejak kapan sudah berada disana. Si pegawai Kementerian yang berambut ikat kuda melambaikan tongkat sihirnya untuk membersihkan kekacauan yang telah mereka lakukan. Dalam sekejap perabotan-perabotan kembali ke dalam keadaan semula, bahkan pintu yang telah hancur berkeping-keping kembali menempel pada engselnya.
"Kami akan memberikan surat pemberitahuan kapan sidangnya akan dilaksanakan… jika kau ingin datang." Ogden menambahkan sebelum mereka semua ber-Disapparate.
Sekarang setelah mereka pergi, setelah yang tersisa hanyalah keheningan di gubuk ini, aku menyadari apa yang akan terjadi pada hidupku beberapa bulan atau beberapa tahun ke depan. Kebebasan.
To be Continued
A/N Makasih buat kalian semua yang udah mau nyempetin baca fic ini walaupun masih ada yang tetep jadi silent reader ;)
Makasih banyak tentunya buat yang udah review di chapter 2, follow dan favorit fic ini :D
Balasan review buat yang gak pake akun
pinky kyukyu: makasih buat reviewnya pinky ^^ iya endingnya bakal aku bikin miris karena ini kan side story yang di buku. Semoga kamu tetep baca sampai akhir ya ;)
tidakpenting: makasih ya udah review :) aku juga seneng kalo pada suka sama cerita ini *senyum malu-malu* #mintadilemparkedanauhitam tapi maaf aku nggak bisa bikin Merope nya cantik, itu kuasanya Mama Rowling. Aku cuma bikin side story hasil imajinasi aku tapi inti kisah ini dan semua tokoh yang ada di dalamnya (kecuali yang gak disebutin di buku) adalah haknya J. K. Rowling. Aku gak berani ubah apapun :/ maaf yaaa
Guest: makasih guest udah review :)
Again I'm never bored to remind you, would you mind to review this fic, instead of being silent reader? ;)
