Hahaha….

Makasih review-nya…

Nggak nyangka pairing ini bisa jadi populer juga… XD

Sipp…

Mari kita mulai drama-nya…

Cinderella Alchemist

Act: 1

Introducing Prince and Cinderella.


Di pusat kota Amestris, tampak para penduduk berbondong-bondong mengunjungi sebuah lapangan tanah kosong luas yang memang disiapkan untuk acara-acara penting di ibukota tersebut.

Di pinggir lapangan tersebut, sebuah panggung besar dan indah tampak menjadi pusat perhatian. Ya, di panggung itulah para pahlawan-pahlawan perang melawan homonculus akan menghibur para penduduk dengan drama improvisasi mereka.

Dan yang membuat menarik, para pemeran tidak tahu siapa yang memerankan apa sampai drama berjalan. "Untuk memastikan unsur kelucuan dan ke-alami-an…" Kata sang fuhrer saat diwawancara.

Drama Start!

Seorang laki-laki dengan muka minta dikasihani, tetapi dengan ekspresi galak yang dibuat-buat, memasuki panggung mengenakan pakaian wanita yang sangat 'wah'.

"APA-APAAN INI?" Teriaknya.

"Ada apa Falmannia?" Tanya seorang laki-laki berbadan subur dan tinggi badan di bawah rata-rata yang masuk mengikuti.

"Coba ligat ini Alphonsia!" Jawab Falman kepada Alphonse Elric. "Makanan kita dilalati! Apa saja sih kejanya Cinderella itu?"

"Ada apa Anak-anakku sayang?" Tanya seorang pria berkulit hitam dengan sunglass yang juga memakai baju yang sangat 'wah'. Ya, Mayor Miles, sang Ishval dari Briggs-lah yang ditunjuk untuk menjadi sang ibu tiri dalam drama ini.

"Ini ma… Cinderella nggak menjaga makan siang kita… Dilalatin deh…" Curhat Alphonsia kepada ibunya.

"I.. Iya… Lalat. Serangga terbang berkaki enam yang membawa ratusan kuman di badannya. Lalat bisa saja mendarat di kotoran atau sampah ebelum mnginjakkan kakinya di makanan kita…" Jelas Falmannia panjang lebar, dan sukses membuat penonton dan pemeran lain Sweatdropped.

"Baiklah kalau begitu… Mari kita marahi Cinderella…" Kata Ibu Miles. "CINDERELLA! Cepat Kemari!" Panggilnya dengan berteriak.

Tapi yang muncul dari balik pintu panggung justru membuat mereka bertiga gemetar ketakutan.

Sang ratu es, Olivier Mira Armstrong muncul di atas panggung mengenakan kaus oblong dan celana training.

Olivier masuk sambil membungkuk-bungkuk, dengan wajah yang 'rencananya' menampakkan ekspresi takut.

"A.. ada apa kakanda dan ibunda memanggilku kemari?" Tanyanya sambil bersimpuh.

Dan alih-alih memarahi, para aktor lain di atas panggung tersebut malah saling berbisik.

"Oi, ibu.. Cepat marahi Cinderellanya…" Perintah Al kepada Miles.

"Ngg… Y.. yang punya masalah pertama kan si Falmannia… Fal, cepat marahi dia…." Ujar Miles mencoba mengalihkan tanggung jawab.

"Ta… tapi kan kalau di cerita sebenarnya, seharusnya Alphonsia yang memarahi…."

"Halahh… Kita ini kan pemeran pembantu, mana ada yang memperhatikan sih?"

"Pokoknya, jangan aku yang memarahinya…"

"Dikira kamu doang yang takut? Aku juga takut tahu?"

"Apalagi aku… Aku sudah lama bekerja dengannya… Akulah yang paling tahu betapa menyeramkannya Jendral…"

Begitulah bisik-bisik yang terdengar…

Merasa tidak sabar, sang 'Cinderella'pun mendekati saudara-saudara tirinya dan menatap mata mereka dalam-dalam.

"A. Da… Yang… Bi. Sa… Ku. Ban. Tu…?" Katanya pelan-pelan. Dan dengan sukses membuat ketiga aktor antagonis kita itu semakin gemetar.

"Aa… Anu… Makanannya dilalati…." Ujar Alphonsia tergagap-gagap…. "Lain kali, a.. awasi yanng.. b..benar, ya…"

"Baiklah Kakanda…" Ujar 'Cnderella' sambil bersimpuh. "Lalu apa lagi yang harus kulakukan?" Lanjutnya.

"Su.. sudah i..itu saja…" Jawab sang 'ibu' dengan terbata-bata.

'Cinderella' kemudian berdiri dan menatap saudara-saudara tirinya dengan tatapan yang seakan mengatakan 'Hoi! Aku tahu ceritanya… Kalian harus menyuruhku macam-macam tahu?'

"Benarkah itu saja?" Tanya 'Cinderella' dengan tatapan membunuh yang sama.

"aahh…. Kalau begitu, sebaiknya kau menyapu dan mengepel lantai seluruh rumah, lalu potong rumput, dan bersihkan jendela…" Perintah Falmannia. Dan dengan itu, para pemeran antagonis meninggalkan panggung (dengan berlari).

"Hiks… Teganya mereka menyuruh-nyuruh aku melakukan semua pekerjaan ini sendirian…" 'Cinderella' mengeluh sambil menangis.

Dan sosok seorang Olivier yang mengeluh sambil 'akting' menangis cukup untuk membuat para penonton terdiam…. Dengan muka pucat.

Setting pun berubah ke Istana.

Tampak Raja Grumman dan Ratu Riza sedang duduk di singgasana, dan anak mereka, Pangeran Roy berlutut di hadapan mereka.

"Roy Anakku… Kamu ini sudah cukup berumur… Kapan kamu mau menikah?" Tanya sang raja.

"Ayahanda…" Jawab pangeran Roy. "Aku masih belum menemukan seorang wanita yang sesuai dengan keinginanku…"

"Seperti apakah wanita impianmu, anakku?" Tanya ratu Riza.

"Aku mau wanita yang menerimaku apa adanya, bukan karena posisiku sebagai pangeran. Wanita yang baik danmemiliki hati yang kuat… dan…"

"Dan apa?" Tanya Raja dan Ratu bersamaan.

"Dan mau dipoligami…" Jawab Pangeran dengan nada serius.

'Gubrak!' Raja dan Ratu pun jatuh terjungkal.

"Sudahlah… Aku ada ide…" Ujar Raja. "Kita akan mengadakan pesta dansa dan mengundang wanita-wanita lajang di seluruh ibukota… Dan kau akan memilih salah satu diantara mereka, Roy."

"Ta.. tapi…" Sang pangeran mencoba protes.

"Kau tidak suka ideku, Roy?" Tanya sang Raja.

"Bukannya tidak suka… tapi…" Roy mencoba menjelaskan. "Cuma boleh memilih salah satu? Tidak boleh lebih?"

'DOR!'

Suara tembakan terdengar, dan sebuah lubang peluru terbentuk tepat di samping telapak kaki sang pangeran.

"Kau mengatakan sesuatu, anakku?" Tanya sang Ratu dengan mata yang bersinar mengerikan.

"Ti… Tidak Ibunda… maafkan hamba…"

….

….


Yup…

Act 1 Selesai…

Hehehe..

Sorry, emang pendek-pendek per act-nya… :P

Saran dan kritik diterima selama itu masuk akal… XD

Act Selanjutnya:

Persiapan ke pesta dansa!

Muncunya Edward Erlic! :D