Wuihh...

Lama juga ya updateannya ketunda...

Hehehe...

Ini dia chapter 4!

Disclaimer: (Liat chapter 1 aja... :D )


Act 3:

The fated Meeting

Di depan tangga istana tampak dua orang pengawal sedang berjaga. Yang berbadan tegap tampak asik dengan sebatang rokoknya, dan yang berbadan agak gemuk tampak sedang asik membaca buku berisikan data penduduk-penduduk di kerajaan amestris.

"Oyy... Breda, boleh nggak sih gua masuk ikutan dansa ke dalam?" Tanya penjaga yang merokok tersebut.

"Gila aja lu, Voc! Minta dibakar ama kol.. eh, maksudnya ama pangeran ya?" Jawab si gempal.

Tiba-tiba datanglah sebuah kereta cantik yang ditarik oleh empat makhluk yang tidak cocok dengan image dari keretanya sendiri. Dan dari dalam kereta muncullah seorang wanita tinggi besar yang 'berusaha' bersikap sopan terhadap kedua penjaga tersebut.

"Permisi... Saya datang untuk mengikuti pesta dansa." Ujar Wanita tersebut.

"Hmm.. Olivierella dari gang xxx jalan xxx ya? Sayang sekali, tetapi pesta sudah cukup lama dimulai, aku tak tahu apakah tamu baru masih boleh masuk atau tidak..." Jawab Breda sambil membaca 'buku catatan rakyat amestris' miliknya.

"Tolonglah..." Pelas Olivierella.

"Sudah biarkan saja..." Sela Havoc kepada temannya tersebut.

"Lagipula..." Ia menambahkan, "Gadis can..."

Tiba-tiba Havoc seakan tersedak, danberusaha mengeluarkan kata-kata yang tersangkut tersebut.

"Gadis... c.c...c.. cantik... seperti itu... biarkan saja masuk..." Ujarnya setelah dengan bersusah payah dapat menyebutkan kata 'cantik' tersebut.

...

Di ruang dansa.

...

"Hahaha! Mari menari... ayo! Siapa lagi?" Roy Mustang yang tidak bisa menahan diri untuk berakting sesuai skenario, tampak sedang asik berdansa dengan wanita-wanita pemeran figurang yang memanfaatkan kesempatan untuk berdansa dengan jendral muda tersebut.

"Ayo dan..." Tiba-tiba pangeran Mustang menghentikan rayuan gombalnya, dan wajahnya berubah menjadi serius menatap ke pintu masuk ruang dansa.

Di sana berdirilah sesosok wanita yang balik menatap tajam sang pangeran. Heroine kita, Olivierella.

Mereka lalu mulai mendekat satu sama lain.

Di mata orang awam, pertemuan mereka seperti pertemuan yang ditakdirkan. Mereka memasang wajah tersenyum manis terhadap satu sama lain. Lagipula mereka sangat fokus terhadap calon partner dansanya tersebut, sehingga menambah kesan romantis.

Tetapi untuk para tentara yang terbiasa berada di medan perang. Aura dari kedua tokoh utama tersebut berkata lain.

Dan Kedua tokoh utama kita tersebut lalu melakukan komunikasi telepati yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang punya pengalaman pertarungan hidup mati. Bahasa telepati yang disamarkan oleh percakapan manis.

...

Note:

"..." = Percakapan normaal

(...) = Percakapan Telepati.

...

Mustang mulai mendekati Olivierella.

"Apakah gerangan yang membawa wanita secantik anda datang kemari?" (Eh, Gorilla! Udah siap mati ya?)

Olivierella membalas pertanyaan sang pangeran dengan senyum ramah.

"Saya hanya ingin mencoba berdansa dengananda tuanku pangeran..." (siap? Bukannya lo yang mesti siap-siap ya?)

Pangeran lalu berjalalan mendekati...

"Gaya dansa apa yang kau bisa? Wahai putri yang sangat cantik nan manis.." (Gitu? Mesti dikasih pelajaran dulu ya loe biar sadar kemampuan diri?)

"Bagaimana dengan Salsa pangeran?" (biar bisa gua injek injek tuh kaki loe!)

"Boleh... Bagaimana kalau sedikit dicampur dengan ballet modern?" (Silahkan dicoba! Gue ingetin kalo gue itu udah 'dan empat' Judo lho...)

Olivierella menunduk sambil tersipu malu.

"Itu akan sangat menyenangkan untukku, pangeran..." (Cukup basa-basinya! Gua terima tantangan lo!)

Pangeran Mustang lalu menjulurkan tangan kanannya, tanda untuk mengajak sang gadis memulai dansa mereka.

"Shall we dance?" (Game On?)

"Baiklah, pangeran..." (Game On!)

...

...

Di singgasana, tampak sang Raja memandang 'putranya' yang 'akhirnya' mendapat pasangan dansa tersebut dengan senyum puas. Tetapi sang ratu tampak khawatir, dan lalu ia berbisik pada 'suaminya' tersebut.

"Fuhrer Grumman... Apa tidak apa-apa seperti ini? Mereka berniat membunuh satu sama lain loh..." Ujar Riza diluar dialog.

"Hohoho... Kalau salah satunya mati, tidak bisa jadi Fuhrer selanjutnya dong..." Jawabnya enteng, diiringi sweatdrop dari beberapa orang yang menengar percakapan tersebut.

...

To be Continued!

...


Sorry Telat update!

Semoga di liburan ini ge makin rajin update!

Aminnn...