HANDSOME APPA!

.

YUNJAEYOOSUMIN

.

GJ, TYPO, pasaran dll, author suka YJ, author cinta YJ dan hanya ingin menulis tentang YJ, karena akhir-akhir ini HOMIN stan semakin bertebaran dimuka bumi*ketok2meja* jadi dont be afraid be a YJS and JYJ SUDAH DITEMUKAN(?)sedang berjalan-jalan di kota Frankfurt setelah kemarin beredar rumour mereka kaga nongol di Paris. Yosh selamat membaca readers en author tidak hiatus selama Ramadhan, hepi fasting for all moslem#kecup2

.

.

"Kajja masuklah Su, Appaku pulang nanti sore sebelum makan malam apa tidak apa-apa kau menunggu?"

"Ne gwaenchana Joongie~ah, sekalian aku bisa main kerumahmu kan eukyangkyang"

"Hehe gomawo, Su kau mau minum apa?"

"Nanti saja Joongie"

"Baiklah, kalau begitu aku keatas dulu ganti baju nanti setelah itu aku akan membuatkanmu minuman yang lezat, kau tunggu disini ne"

"Ndeee"

Kim Junsu menunggu Jaejoong diruang tamu, bosan ia mengambil majalah yang berada dibawah meja. Ia membolak-balik majalah olah raga itu tanpa berniat membacanya.

"Eh? Nuguya?" sapa seseorang yang membuat namja imut itu terkejut, ia langsung berdiri dan membungkukan badannya sopan.

"Anyeong haseyo nan Kim Junsu imnida, aku teman sekolahnya Joongie"

Namja yang baru saja menyapa itu melirik Junsu dari atas sampai bawah, ia merasa bahwa teman sekolah Jaejoong itu begitu manis.

"Aaah arraso, namaku Jung Yuchun aku pamannya Jaejoong"

"Ndee anyeong Yuchun ahjussi"

"Ahahahah panggil hyung saja, aku belum terlalu tua untuk dipanggil ahjussi"

"N-Ne"

"Dimana Joongie?"

"Joongie sedang diatas berganti baju"

"Huumm, baiklah kau tidak minum sesuatu atau mau makan mungkin?"

"Aniya, tidak perlu hyung"

"Ah benarkah atau kau mau….."

"Suie kajja kita kedapur Joongie akan membuatkan creemy capucino, eh Yuchun ahjussi sudah pulang? Appa eoddi?"

"Joongie~ah mulai hari ini panggil aku hyung saja ok?"

"Eh? Waeo?" tanyanya polos

"Aish aku tidak terlalu tua untuk dipanggi ahjussi, hyung saja ok? Hyung"

"Humm arraseo, kajja Su kita ke dapur"

"Uhm!"

Duo Kim yang nampak menggiurkan sebagai uke itu berjalan beriringan menuju dapur, Jaejoong sangat suka memasak karena itu terkadang ia sendiri yang membuat bekal makan siangnya atau sekedar iseng membuat camilan untuk dirinya sendiri dan Changmin, sahabat barunya yang memiliki hobi makan selain mengoleksi majalah porno.

"Joongie, Yuchun hyung itu pamanmu?" tanya Junsu sambil duduk dikursi meja makan dan memperhatikan namja cantik sahabatnya itu tengah sibuk menyiapkan minuman special untuknya.

"Ne, Yuchun hyung adik Appaku waeo?"

"Ani, ahjussi Joongie tampan hehehehe"

"Aish kau jangan coba-coba menyukainya Su, Yuchun hyung itu playboy sejak aku pindah kesini Yuchun hyung sudah berganti yeoja sebanyak 4 kali, Appa saja sampai bosan dibuatnya"

"Jinjja? Sayang sekali padahal dia sangat tampan dan siapa tahu aku bisa mendekatinya"

Jaejoong terkekeh mendengar celotehan polos Junsu yang apa adanya, mungkin karena itu Jaejoong merasa nyaman berteman dengan namja yang terkadang dipanggil Xiah itu.

"Tadaaaaa minumannya sudah jadi, diluar sedang panas kalau minum ini pasti terasa segar, kka minumlah dan ini cookienya selamat menikmatiiii"

"Gomawo Joongie, kalau Minnie ada pasti dia yang akan menghabiskan kue kue ini"

"Hihihi aku akan membawakan kue ini untuknya besok, rasanya menyenangkan saat melihat wajah seseorang menyukai masakanmu"

"Uhm! kau sangat pintar memasak Joongie, Appamu pasti bangga memiliki anak yang pandai sepertimu" ucap Junsu sambil memakan cookies buatan Jaejoong.

"Appaku belum pernah mencoba masakanku, aku sudah pernah membuatkan masakan untuknya hehe tapi sepertinya dia tidak menyentuh masakanku sedikitpun"

"Joongie~ah gwanchana?" tanya Junsu khawatir karena melihat air muka Jaejoong berubah sendu.

"Gwaenchana, sudah habiskan saja kuenya dan jangan lupa minumannya kalau tidak habis kau tidak akan kubawakan kue buatanku lagi"

"Siap bos"

Hari berganti malam sekarang sudah hampir pukul delapan tapi belum nampak tanda-tanda Jung Yunho sang kepala keluarga itu tiba dirumah. Jaejoong semakin tidak enak karena Junsu masih setia menemaninya, tekadnya membantu Jaejoong karena itulah namja bebek itu masih betah berada dirumah Jung Family.

"Suie, kau pulang saja ini sudah malam nanti orang tuamu khawatir"

"Tenang saja Joongie aku sudah menghubungi Umma dan Appa, lagipula supirku akan menjemputku nanti"

"Keundeu aku jadi merepotkanmu Su, mianhe"

"Yah, apa-apaan wajah sedihmu itu aish tidak apa-apa Joongie sungguh, aku kan ingin membantumu"

"Ndeee tidak biasanya Appa pulang selarut ini"

"Mungkin Appamu sedang banyak pekerjaan"

"Uhm, sepertinya begitu"

Hingga tak lama kemudian, Yunho memasuki ruang tamu rumahnya dan mendapati Jaejoong bersama seseorang yang belum ia kenal. Ia terlalu lelah hingga sedikit malas hanya untuk sekedar menyapa 'anaknya', namja berwajah angkuh itu melewati Jaejoong dan Junsu.

"Appa" sapa Jaejoong saat tahu Appanya sudah kembali dari kantor.

Yunho yang sebenarnya malas mau tidak mau harus menghentikan langkahnya menaiki tangga. Dia hanya menolehkan kepalanya saja.

"Appa, ini Junsu dia sahabatku disekolah"

"Anyeong Jung ahjussi, nan Kim Junsu imnida"

"Hm" sahut Yunho.

"Appa, Appa sudah makan? Pengurus Lee sudah membuatkan makan malam, Appa makan dulu ne"

"Aku sudah makan" jawab Yunho yang berniat untuk menuju kamarnya.

"Appa"

Yunho menghela napasnya berat, ia kesal karena 'anaknya' yang satu itu terus saja memanggil namanya.

"Ada apa? Aku lelah sekali, jadi kalau ada yang ingin kau bicarakan segera bicarakan sekarang"

"I-itu, aku…."

"Jung ahjussi, sabtu besok sekolah kami akan mengadakan perlombaan atletik bersama orang tua, dan itu salah satu syarat agar kami bisa lulus di pelajaran olah raga"

"Lalu?"

Junsu menatap Jaejoong ragu, sungguh ia tidak tahu akan mendapatkan reaksi dingin seperti itu.

"A-apa Appa bisa datang ke perlombaan atletik-ku nanti?" ucap Jaejoong pelan, wajahnya tertunduk antara takut dan sedih.

"Aku tidak bisa, sabtu besok aku harus ke LA mengurus cabang perusahaan disana"

"Eh? Tapi Appa ini untuk nilai kelulusanku" ujar Jaejoong menatap 'Appanya' dengan wajah sendu.

"Kau pergilah dengan Yuchun, bilang saja dia Appamu"

"Mwo?"

Jaejoong kecewa? Tentu saja, bagaimana bisa 'Appanya' berkata sekejam itu, baginya Jung Yunho itu 'Appanya' bukan Jung Yuchun dan ia harus berpura-pura menganggap ahjussinya itu sebagai 'Appanya'.

"Su sepertinya memang tidak bisa, gwaenchana mungkin aku memang tidak akan lulus dimata pelajaran olah raga"

"Joongie~ya, tapi"

"Gwaenchana Suie, tidak apa-apa mian sudah merepotkanmu, ini sudah terlalu malam kau pulanglah orang tuamu pasti khawatir"

"Joongie, benarkah tidak apa-apa?"

"Hum" angguk Jaejoong sambil tersenyum, mencoba menguatkan diri agar Junsu tidak mencemaskannya.

"Arraseo, aku pulang dulu ne supirku sudah berada di depan perumahan jadi aku menunggu di depan saja"

"Nde, mianhe ne Suie~ah"

Junsu mengangguk dan menepuk pundak Jaejoong pelan, setelahnya ia berpamitan dengan Yunho meski tidak ada tanggapan sama sekali dari Yunho. Setelah Junsu pergi, Jaejoong memutuskan untuk beristirahat, kepalanya mendadak sakit, ia melewati 'Appanya' yang masih setia berdiri di tangga memperhatikan dirinya.

"Akan kuhubungi kepala sekolah Han dan meminta meluluskanmu di pelajaran olah raga, jadi kau tidak perlu ikut perlombaan itu"

Jaejoong menghentikan langkahnya, ia kini berdiri berdampingan dengan sang 'Appa' berada diatas tangga.

"Mwo? maksud Appa?"

"Semuanya akan ku-urus, jadi kau tidak perlu cemas"

Jaejoong mendecih, ia tidak menyangka Jung Yunho yang terhormat memilih cara menyogok hanya agar dirinya bisa lulus dalam mata pelajaran sekolah, ia berfikir apa benar orang yang berdiri disampingya itu adalah seorang Ayah? Seorang Ayah yang harusnya mengajarkan kejujuran.

"Tidak perlu repot-repot, aku lebih baik tidak lulus daripada harus menggunakan cara kotor seperti itu!"

"Cara kotor? Apa maksudmu?"

"Iya, cara kotor seperti yang akan Appa lakukan, menyogok kepala sekolah demi meluluskan aku"

"Kau! Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untukmu, berusaha agar kau bisa lulus tanpa harus bersusah payah!" ucapan Yunho kini semakin keras.

"Sayangnya aku lebih suka bersusah payah untuk mendapatkan sesuatu daripada mendapatkannya dengan mudah tapi dengan cara yang tidak terhormat!"

"Baik, kalau memang itu maumu lakukan saja aku tidak peduli!"

"Nde, kau memang tidak pernah peduli padaku sejak awal jadi untuk apa sekarang bersusah payah mencoba peduli eoh?" Jaejoong tidak tahan, memang sudah hampir satu bulan ia tinggal disana tapi orang yang dianggap 'Appanya' itu selalu saja mengacuhkannya, bahkan pembantu dirumahnya saja lebih memperhatikannya daripada sang 'Appa'

"Kau bersikap seolah aku tidak ada, tidak pernah menyapaku jika bukan aku dulu yang menyapa, tidak pernah mau berbicara atau sekedar menanyakan keadaanku, bagaimana sekolahku atau apa aku suka tinggal disini atau tidak! Bagaimana Ummaku meninggal-pun kau seakan tidak peduli" isaknya.

"Kalau kau memang tidak suka aku berada disini, lebih baik pulangkan saja aku ke Chungnam! Aku merasa lebih dihargai disana daripada disini"

Jaejoong berlari menaiki tangga menuju kamarnya, air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi, meski ia kuat meski ia bertahan tapi ia hanya manusia biasa jika diperlakukan semena-mena, baginya 'Appanya' sudah keterlaluan. Jaejoong menutup pintu kamarnya kasar dan membenamkan dirinya kebawah bantal dan menangis kencang, salah satu sifatnya yang tidak bisa ia rubah adalah menangis, ia suka sekali menangis, terkadang tingkahnya mirip seperti yeoja.

"HUEEEEEEEEEEEEE APPA JAHAT! APPA TIDAK SAYANG JOONGIE HUEEEEEEEEEEEEEE JOONGIE BENCI APPAAAAA! JOONGIE MAU PULANG HUEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE"

Sementara Jaejoong menangis keras dikamarnya, Yuchun yang mendengar pertengkaran Jaejoong dan Yunho langsung turun menemui kakaknya, ia terlambat karena saat ia tiba Jaejoong sudah menutup pintu kamarnya.

"Yah hyung, ada apa eoh? Apa kalian bertengkar?"

"Tidak ada apa-apa, aish anak itu membuat kepalaku pusing!"

Yuchun terkekeh melihat sang kakak memijat pelipisnya.

"Sifatnya sedikit mirip denganmu hyung, meski yeah sama keras kepalanya dengan Siwon hyung"

"Mirip denganku? Dia memiliki ribuan gen Choi Siwon didalamnya bukan gen-ku dan aish anak itu benar-benar merepotkan, ia memintaku untuk datang ke perlombaan atletik disekolahnya Sabtu besok"

"Yasudah tinggal datang saja"

"Sabtu besok aku harus ke LA mengunjungi pabrik kita yang baru dibuka disana"

"Masalah itu biar aku yang handle, hyung datang saja ke sekolah Joongie"

"Shiruh, untuk apa aku datang?"

"Hyung kan 'Appanya' tentu saja harus datang"

"Appa baptis Chun ingat Appa baptis"

"Sama saja, yang Joongie tahu kau itu Appanya hyung"

"Aish benar-benar merepotkan! Ini semua salah Siwon kenapa dia harus memiliki anak di usia 18 tahun dan memaksaku untuk jadi Appa baptisnya!"

"Hehehe mungkin sudah takdir hyung, Siwon hyung menitipkan Joongie untuk hyung jaga bukan untuk hyung marahi"

"Ck, kau tahu sifatku Yuchun~ah aku tidak mudah akrab dengan orang baru"

"Jinjja? Tapi sepertinya aku selalu mendapati hyung menatap Joongie diam-diam"

"Aish apa yang kau katakan? Dia itu anaku"

"Anak baptis hyung" kali ini Yuchun membalik perkataan Yunho

Yunho mendelik kearah Yuchun yang terkekeh karena menggoda hyung sulungnya itu.

"Kenapa menatapku begitu hyung? Apa aku benar? Hehe lagipula kalau memang hyung tidak menyukainya kenapa tidak kembalikan Joongie ke Chungnam? Disana kan masih ada halmonimnya"

"Surat wasiat Siwon yang memintaku untuk menjaga Jaejoong"

Yuchun mengangguk mengerti hingga tak berapa lama ia menepuk pundak namja berwajah kecil itu pelan.

"Kalau begitu jagalah dia hyung jangan terlalu tegas padanya melunaklah sedikit, Jaejoong itu sudah tidak mempunyai orang tua terlebih keluarga Siwon hyung tidak pernah mengakui pernikahan diam-diamnya dengan Heechull hyung, dan otomatis mereka juga tidak akan bisa menerima Jaejoong"

"Haaaaahh kenapa namja pabo itu harus meninggal di usia muda? Dua tahun setelah Jaejoong lahir ia justru pergi" keluh Yunho.

"Karena itu ia menitipkan Joongie padamu hyung, apa isi surat wasiat Siwon hyung?"

"Hm? Tidak ada, ia hanya menitipkan Jaejoong padaku saat usianya menginjak 17 tahun"

Yuchun mengangguk lagi.

"Keunde, Siwon hyung itu sedikit kejam, kenapa dia tidak membiarkan Jaejoong tahu bahwa Appa kandungnya sudah tidak ada? Dan lagi kenapa Jaejoong tidak menggunakan marga Siwon hyung"

"Kau seperti tidak tahu keluarga Choi saja Chun, keluarga Choi itu masih keturunan yakuza di Jepang dan mereka benar-benar tidak menyukai Heechull jadi demi keselamatan Heechull dan Jaejoong, maka Jaejoong tidak menggunakan marga Siwon dan menganggap bahwa Appanya adalah aku"

"Apa menurut hyung keluarga Siwon hyung masih mencari keberadaan Joongie? Maksudku setelah Heechull hyung meninggal sekarang satu-satunya 'peninggalan' Siwon hyung hanyalah Joongie, hyung apa Joongie dalam bahaya?" cemas Yuchun.

"Itulah sebabnya Siwon hyung memintaku untuk menjaga Jaejoong, agar identitasnya tidak diketahui keluarga mereka"

"Ne, semoga saja tidak terjadi apapun padanya"

"Hm, semoga"

"Kka aku harus pergi hyung, aku ada janji"

"Dengan siapa lagi kali ini Jung Yuchun?"

"Hehehe dengan HyunA"

Yunho hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, adik plaboynya itu memang tidak pernah berubah selalu menyukai gadis cantik berbodi aduhai. Kepalanya yang penat karena baru saja ia pulang dari kantor memaksanya untuk beristirahat, masalah Jaejoong bisa diselesaikan besok, pikirnya.

_HANDSOME APPA_

"Aku sudah selesai" Ucap Jaejoong sambil meletakan sendok dan garpu diatas piring yang masih terdapat banyak sekali nasi goreng bulgogi.

"Eh? Kenapa sarapannya tidak dihabiskan Joongie?"

"Kenyang ahjussi, Joongie berangkat ne bye"

Jaejoong mengambil tas cangklongnya dan pergi begitu saja dari ruang makan, ia bahkan tidak mempedulikan Appanya yang masih berada asik menikmati sarapan paginya, Jaejoong masih kesal rupanya.

"Hyung, kau belum mengatakan apapun?"

"Hm? Mengatakan apa?" cuek Yunho yang terus menerus memasukan nasi kedalam mulutnya.

"Aish, tentang perlombaan itu hyung bukankah perlombaannya hari ini? Hyung benar-benar tidak akan datang?"

Yunho menggeleng.

"Hyung, kau akan benar-benar membuat Jaejoong kecewa"

"Sudahlah aku harus pergi ke kantor sekarang nanti siang aku langsung ke LA, dan kau jangan lupa hari ini penandatanganan MOU dengan perusahaan Go jangan terlambat, Ahra tidak suka menunggu"

"Ne ne arraso"

Yunho mengambil tas kerja lalu mengelap mulutnya dan beranjak dari ruang makan, mobil pribadinya sudah menunggu dan siap meluncur kemanapun Yunho pergi.

*SUNHWA SENIOR HIGH SCHOOL*

"Joongie hyuuuuunnnggg, hari ini bawa bekal apa? Apa hyung bawa kue-kue juga? Kata bebek hyung Joongie hyung kemarin membuat cookies? Mana mana berikan padaku"

Suasana hati namja cantik kita hari ini sedang tidak baik, ia tidak menanggapi celotehan adik kelasnya yang memang sangat amat doyan makan dan selalu memajak bekal makan siangnya setiap hari. Dengan wajah yang tertekuk Jaejoong mengambil bekal makanannya dan memberikannya begitu saja pada namja ber-marga Shim itu.

"Hahahah gomawo hyuuuunnngg, ah ne semua sudah berkumpul di lapangan mana Appa hyungie?" tanyanya sambil melirik ke kanan dan kiri.

"Aku tidak punya Appa!"

"Yah, kemarin hyung bilang Umma Kim yang sudah meninggal apa sekarang Appa hyung juga meninggal?"

"Aish Shim Changmin kau ini cerewet sekali! Bekal makan siang dan cookiesnya kan sudah kuberikan jadi jangan bertanya apapun lagi" kesal Jaejoong.

Merasa bahwa sahabat barunya itu sedang ada masalah, Changmin memilih untuk tidak bersuara lagi, ia mengikuti Jaejoong dari belakang sambil sesekali tangannya terjulur kedalam kotak makanan untuk mengambil beberapa cookies.

Saat dilapangan semua murid kelas tiga sudah berpakaian olah raga lengkap ditemani Umma atau Appa mereka, kebanyakan teman-teman Jaejoong membawa Ummanya karena Appa mereka bekerja. Jaejoong duduk diam di sudut lapangan tanpa berniat untuk sekedar menyapa teman-temannya, ia sedang dalam mood kurana baik hari ini.

"Joongie~ah" sapa Junsu

"Hi Su"

"Joongie, Appa Joongie benar-benar tidak datang?"

Jaejoong mengangguk.

"Jinjjayo? Aigooo eotte? Joongie tidak bisa ikut perlombaan kalau begitu, apa ahjussi Joongie juga tidak datang?" tanyanya antusias.

Jaejoong menggeleng.

"Ah sayang sekali, ah ne Joongie itu Ummaku….Umma" panggil Junsu dan melambaikan tangannya menyuruh Umma Kim mendekat padanya.

"Anyeong haseyo Kim Jaejoong imnida" bungkuk Jaejoong dan tersenyum ramah, ia tidak mungkin bersikap tidak sopan aniya?

"Anyeong, kau yang bernama Joongie? Aigoooo cantik sekali, Junsu sering menceritakan tentang dirimu"

"Hehehe ne Umma Joongie ini sahabat Suie, sama Minnie juga ah keunde dimana namja kulkas itu?"

"Dia disana" Jaejoong menunjuk ke barisan penonton, dan benar saja nampak Changmin yang kali ini memegang segelas susu pisang yang sepertinya hasil memajak dari adik kelas 1 mereka, Lee Taemin.

PRIIIIIITT~

Terdengar bunyi peluit menandakan bahwa perlombaan akan dimulai, perlombaan ini dimaksudkan untuk memberikan kenangan kepada siswa kelas 3 serta mengikat tali kekeluargaan diantara para murid dan orang tua, itulah kenapa perlombaan Atletik tahunan ini sangatlah penting bagi siswa kelas 3 yang akan lulus.

Jaejoong berbaris di paling belakang, saat semua murid berbaris bergandengan bersama Umma atau Appa mereka, Jaejoong hanya berbaris sendiri. Sedih? Tentu saja, ia merasa menjadi berbeda dengan teman-temannya yang lain.

Yoo Jae Suk songsaenim mengabsen mereka satu persatu, dan saat tiba giliran nama Kim Jaejoong, Jaejoong hanya mengangkat tangannya saja.

"Jaejoong~ah kemana orang tuamu? Apa mereka tidak datang?"

"Aniyo sam, mereka sibuk"

"Keunde kalau tidak ada perwakilan dari orang tua kau tidak bisa mengikuti perlombaan ini, kecuali kalau kedua orang tuamu sudah meninggal kau bisa diwakili orang lain"

"Anggap saja aku tidak memiliki orang tua" gumamnya pelan.

"Kim Jaejoong kau bisa duduk disamping kalau begitu, kau tidak bisa mengikuti perlombaan"

Jaejoong menghela napasnya berat, ia berbalik dan bermaksud untuk duduk di bangku penonton.

"Mianhe saya terlambat, acaranya belum dimulai kan?"

Jaejoong berhenti melangkah, ia sepertinya hapal betul dengan suara itu. Ia menolehkan kepalanya kesamping.

"APPA?!"

Yunho tersenyum tipis, ia datang dan Jaejoong senang bukan kepalang, ia tidak mempercayai apa yang dilihatnya adalah Appanya, bahkan Yunho sudah mengenakan baju olah raga sekarang. Tubuhnya yang tinggi dengan pinggang panjang yang seksi dan lengan yang berotot menjadi pemandangan tersendiri bagi para Umma yang datang dan guru-guru yeoja. Tak sampai 30 menit, Jung Yunho 'Appa' Kim Jaejoong sudah menjadi primadona di sekolah 'puteranya'.

"Appa, Appa datang? Bukankah Appa bilang Appa harus ke LA?"

"Aku akan ke LA nanti sore setelah perlombaan selesai"

"Benarkah? Kyaaaaaaaaaa Appa yang terbaik!" ucap Jaejoong senang sambil mengangkat kedua jempolnya.

Yunho yang entah kenapa merasa sangat senang melihat Jaejoong tersenyum nampak mengacak rambut Jaejoong, perasaan yang menginginkan senyum indah itu terus tercetak di bibir plum Jaejoong. Tanpa sadar ia meraih tangan mungil Jaejoong dan menggenggamnya. Mungkin benar kata Yuchun, Yunho harus sedikit melunak padanya karena dialah yang diminta untuk menjaga Jaejoong, putera sahabatnya, Choi Siwon&Kim Heechull.

"Appa, kita berusaha hari ini ne? FIGHTING!"

"Hum, kita harus menang"

"UHM!"

Mendadak perasaan Jaejoong menjadi lebih baik saat Appanya kini sudah berdiri disampingnya sambil menggenggam tangannya, dan mendadak pula Jaejoong jadi merasa gugup, entah gugup karena perlombaan ataukah gugup karena hal lain? itu hanya Kim Jaejoong sendiri-lah yang tahu.

TBC