HANDSOME APPA!
.
YUNJAEYOOSUMIN
.
Anyeong, part ini dibuat lebih panjang selain karena hanya akan terdiri dari 5 chap, author juga mau mudik jadi updatenya kemungkinan bakal lama hehe pisseeu, so mohon maaf lahir bathin ne reader~shi, miaaann kl ff-ff author kurang menarik dan full of typo, GJ, dll*bow* Yosh, pokonya hepi reading en hepi mudiiikkk :D #gotongkoperbarengYuchun
.
.
"Yaiiiiiiiiyyy kita menaaaaanng, Appa hebat! Bagaimana Appa bisa berlari sekencang itu?" ucapnya sambil tersenyum lebar sementara piala kemenangan berada dipelukannya.
"Kau istirahatlah hari ini sangat menguras tenaga kau pasti lelah"
"Uhm! gomawo untuk hari ini Appa, Joongie senang sekali jeongmal gomawo"
Yunho mengangguk, ia bersiap untuk mandi dan terbang dengan pesawat pribadi menuju LA.
"Appa, Appa jadi ke LA hari ini? Yuchun hyung sudah sampai disana?"
"Dia sudah sampai sejak tadi pagi, Kka kau masuklah ke kamarmu mandi, makan lalu tidur"
"Ish Appa Joongie bukan anak kecil lagi harus disuruh tidur siang, Appa juga lelah tapi tidak istirahat"
"Pekerjaanku banyak Joongie jadi aku harus segera berangkat ke LA"
"Berapa lama Appa di LA?" tanya Jaejoong lagi sebelum menaiki tangga.
"Entahlah, mungkin 3 atau 5 hari"
"Lama sekali" poutnya lucu.
"Kau bisa mengajak teman menginap untuk menemanimu"
"Suie tidak bisa menginap karena besok dia akan berlibur ke Saipan, Joongie bingung apa yang harus dilakukan saat musim libur seperti ini"
"Kalau begitu kau harus belajar, bukankah bulan depan sudah ujian kenaikan?"
"Neee nanti Joongie belajar, tapi tidak dihari libur kalau Appa pergi Joongie sendirian dirumah, menyebalkan"
"Kenapa tidak mengunjungi halmonim di Chungnam?"
"Aniyo, kemarin Joongie menelpon halmonim katanya sedang berlibur ke Euisong menemui teman dekat halmonim dan menginap beberapa hari disana"
"Yasudah kalau begitu kau dirumah saja" ucap Yunho sambil berjalan menuju kamarnya, tanpa ia tahu bahwa sang anak baptis mengekor dibelakang.
"Appa~"
"YAH! Kenapa kau mengikutiku? kembali ke kamarmu"
"Eung, Appa Joongie boleh minta sesuatu?" tanyanya dengan senyum yang terkembang lebar.
Yunho memincingkan mata, anak baptisnya ini sungguh keterlaluan aniya? Kemarin dia meminta dirinya untuk ikut dalam perlombaan atletik dan sekarang dia akan meminta sesuatu lagi? dan sesuatu itu pasti bukan hal yang mudah bagi CEO muda Jung.
"Appa, eung itu eung"
"Cepat katakan Kim Jaejoong"
"Appa Joongie boleh ikut Appa ke LA? Hiiiiii" Jaejoong mengucapkan kalimat itu dengan cepat lalu diakhiri cengiran lebarnya, berharap sang Appa mau menuruti permintaannya.
"Kau jangan aneh-aneh Kim, sekarang kembali ke kamarmu dan lakukan apapun yang kau mau dirumah ini! Aku harus mandi dan segera pergi ke LA, dan jangan mengganggu arachi?!"
"Ish Appa keunde apa yang harus Joongie lakukan selama Appa tidak ada dirumah?"
"Lakukan apapun terserah!"
"Ck, menyebalkan! Appa pelit!"
"Aish anak itu, sebenarnya sewaktu kecil Heenim mengidam apa sampai memiliki anak sepertinya"
BRUK~
Namja cantik dan langsing itu menutup pintu kamarnya kesal, disimpannya di meja piala kemenangan yang ia raih bersama sang Appa, ia sendiri langsung tertelungkup kedalam bantal, kebiasaannya saat sedang marah.
"AAAAAAAAAAHHHH! Hikss Appa tidak sayang Joongie, kenapa Joongie tidak diajak ke LA? Joongie kan tidak merepotkan hiksss, HUEEEEEEEEEEEEEEEEEE lalu selama seminggu apa yang harus Joongie lakukaaaaaaaannn"
Jaejoong masih berusia 17 tahun, tentu kelakuannya akan sama seperti anak remaja umumnya. Saat kesal ia akan membaringkan tubuhnya dan berguling-guling tidak jelas atau menendang-nendang kakinya ke udara.
"Ah telepon Minnie saja, suruh si tiang itu menginap dirumah dengan imbalan selusin kue, hehehe kau cerdas Kim"
Jaejoong mengambil ponselnya dan mengetik nomor yang sudah ia hapal.
"Yeoboseoooo Minnie~aaaahh aku merindukanmuuuuu"
"Kau jangan aneh-aneh hyung, baru beberapa jam lalu kita bertemu kau sudah merindukanku, yah apa kau menyukaiku Joongie hyung? Mian tapi hatiku hanya milik Kyunnie"
"-_- Shim Changmin apa yang kau katakan aku tidak mengerti, Yah kau sedang apa huh? Apa kau punya rencana berlibur?"
"Berlibur? Haha tentu saja, aku diajak Umma dan Appa ke LA sore ini hehehe, kau sendiri hyung?"
"MWO? LA? Appaku juga akan kesana hari ini, eung apa kau harus ikut Minnie~ya? Maksudku kau bisa berlibur dirumahku dan aku setiap hari akan memasak kue dan makanan-makanan lezat untukmu, eotte?"
"Ummaku akan mentraktirku seluruh makanan-makanan enak di LA dan aku pikir tawaran itu lebih menggiurkan daripada tawaran kuemu hyung"
"YAH! Aish menyebalkan, hiks lalu apa yang harus kulakukan saat semua orang berlibur? hiksss"
"Hyung kenapa tidak ikut Appa hyung ke LA juga? Siapa tahu nanti kita bisa bertemu disana"
"Sudah kucoba tapi Appa tetap tidak mau mengajak-ku"
"Hehe kalau begitu memang sudah takdirmu hyung, ah hyung mian aku sudah harus berangkat bye hyung sampai bertemu minggu depaaaann"
KLIK~
"YAH Shim Changmin? YAAAAHH KENAPA KAU MENUTUP TELEPONNYAAAA! HUEEEEEEEEEEE MENYEBALKAAAANNN~!"
Sementara Jaejoong masih 'sibuk' dengan aksi beguiling-gulingnya, Yunho nampak terlihat tampan dengan jas mahal yang membalut tubuh atletisnya, ia sangat sempurna. Yunho melangkah keluar kamar dan bersiap menuju LA dengan pesawat peribadi miliknya, namun saat melewati kamar Jaejoong ia mendengar bahwa 'puteranya' seperti sedang berteriak-teriak tidak jelas.
"Tuan besar mobil sudah menunggu anda"
"Ne"
DDDDRRRRRRRTTTTTTTTT DDDDDRRRRRTTTTTTTTT
"Yeoboseo"
"Hyung eoddie? Kau sudah di bandara?"
"Masih dirumah Yuchun~ah, sebentar lagi akan langsung ke bandara"
"Ah oke, hyung Joongie sedang libur kan? Kenapa tidak kau ajak dia? aku yakin dia belum pernah kemana-mana selain rumahnya di Chungnam"
"Tidak perlu, biar dia dirumah saja merepotkan kalau harus mengajaknya"
"Aish kau tega sekali hyung, Joongie itu kan masih dalam incaran keluarga Choi bagaimana kalau saat hyung tidak ada lalu terjadi sesuatu dengannya"
Oke, Yunho tidak memikirkan sampai kesana, baginya Jaejoong remaja 17 tahun bawel dan sedikit menyebalkan serta hobi mengatur dirinya.
"Akan ada yang menjaganya dirumah Yuchun~ah kau jangan berlebihan, lagipula itu sudah 15 tahun yang lalu apa mungkin keluarga Siwon masih mengincarnya?"
"Tidak ada yang tidak mungkin hyung, sudahlah demi keselamatan Joongie apa susahnya mengajaknya ikut bersamamu? Menyenangkan hatinya tidak buruk aniya?"
Yunho berpikir sejenak, apa seharusnya ia mengajak Jaejoong?
"Hyung are you still there?"
"Hm"
"Oke aku harus pergi melihat-lihat persiapan pembukaan pabrik kita, jangan lupa mengajak Joongie neeeeee bye hyung"
KLIK~
"Tuan besar, pesawat anda akan berangkat 20 menit lagi anda harus segera berangkat tuan agar bisa sampai ke LA tepat waktu"
"Hm, semua keperluanku sudah kau bawa Pengurus Lee?"
"Sudah tuan besar"
"Bagus, kalau begitu panggil Jaejoong dan bantu dia mengurus pakaiannya, aku tunggu dibawa 5 menit, jika terlambat aku akan meninggalkannya"
"Y-Ye? Maaf tuan besar maksud anda?"
"Aku akan mengajak anak itu ke LA, jadi cepat bantu dia mengurusi semua keperluannya"
"B-baik tuan besar"
"10 menit Pengurus Lee"
"Ne tuan besar"
Saat Yunho berjalan menuju mobilnya, Pengurus keluarga Jung yang setia itu secepat kilat masuk ke kamar Jaejoong, tidak peduli Jaejoong yang nampak termenung diatas kasur.
"Tuan muda tuan muda Ppali cepat bersihkan diri tuan muda 2 menit lalu berpakaian yang rapi, aku akan memasukan baju-baju tuan muda kedalam koper"
"Eh? Ahjussi wae geure? Yah yah kenapa Joongie di dorong-dorong? Yah ahjussii~"
"Aish, tuan muda akan diajak tuan besar ke LA jadi tuan muda harus cepat karena hanya diberi waktu 5 menit kalau tidak tuan muda akan ditinggal"
Loading please
Still loading
"MWOOOO? A-Appa mengajak Joongie ke LA? JINJJAYOOOO?"
"Neee untuk itulah saya bilang tuan muda harus cepat, omo sisa waktunya 4 menit lagi, yah tuan muda tidak usah mandi cuci muka saja"
"KYAAAAAAAAAAAAA JOONGIE AKAN KE LAAAAAAAAAAAAA, YAIIIIIIIIIIIIIIYYYY...Aniyo Joongie mau mandi! Joongie bau, sebentar saja 3 menit ani ani 2 menit chakkamaaaannnn" secepat kilat namja dengan kadar keimutan diluar batas itu bergegas menuju kamar mandi, entah apa yang dilakukannya hingga dalam waktu kurang dari 2 menit ia sudah menyelesaikan mandi 'koboinya'
"Ahjussi ahjussi baju Joongie, omo Joongie harus pakai baju apa?" paniknya
"Di LA sedang musim semi sedikit berangin, pakai ini saja tuan muda"
Dengan cepat Pengurus pribadi keluarga Jung memakaikan sweater rajut berwarna peach lengkap dengan skiny jeans putih dan syal senada yang mengalungi leher jenjangnya, Jaejoong nampak indah meski hanya dengan pakaian sederhana. Waktu yang tersisa hanya tinggal satu menit, dan Jaejoong kini sedang berlari menuruni tangga sambil menarik koper besarnya secara tidak ber-pri-koperan(?). Tentu saja ia tidak ingin terlambat.
CKLEK~
BRUK~
"Haaaaahh haaaahhh haaaaahhhh, Jo uhuk Joongie siap uhukuhuk"
"Kau terlambat 15 detik"
"Mwo?"
"Hyun Woo, jalankan mobilnya"
"Nde tuan besar"
Jaejoong melebarkan matanya yang sudah lebar, ia tidak percaya Appanya tidak menyuruhnya turun hanya karena ia terlambat 15 detik. Dan ia tersenyum senang karena itu.
"Appa gomawo sudah mengajak Joongie, Joongie janji tidak akan merepotkan Appa"
"Hm"
"Ah, Appa masih ingat temanku yang tinggi seperti tiang listrik yang tadi Joongie kenalkan pada Appa? Shim Changmin, dia juga akan berlibur ke LA! Hihihi pasti akan menyenangkan jika bisa bertemu Minnie disana, haaaaahh sayang Suie memilih berlibur ke Saipan hanya karena disana banyak pohon kelapanya"
"Euunngg Appa, disana sedang musim semi ne? Joongie menyuruh Pengurus Lee membawakan banyak jaket karena disana sedikit berangin hehehe, Appa bawa jaket? Kenapa Appa hanya mengenakan jas saja?"
"Kau bisa diam tidak? atau aku akan turun disini dan menyuruh Hyun Woo mengantarkanmu kembali kerumah" ucap Yunho sinis.
"Neee Appa, mian"
Jaejoong belum pernah ke bandara dan tentu saja ia juga belum pernah naik pesawat, meski Jaejoong takut ketinggian tapi sepertinya naik pesawat itu menyenangkan ditambah ia pergi bersama Appanya. Sounds great huh?
"WHOAAAAAAAAAA jadi kita akan naik pesawat ini Appa?" tanya Jaejoong dengan tatapan kagum saat ia telah sampai di bandara Gimpo.
"Tuan besar" sapa sang kapten pesawat sambil membungkuk hormat.
"Kita harus segera berangkat Kapten Kang"
"Nde tuan besar, silahkan lewat sini"
"Jaejoong ka...yah apa yang kau lakukan disana?!"
"Eoh? berfoto waeo?"
Jaejoong yang memang tidak pernah melihat pesawat secara langsung apalagi menaikinya, sungguh merasa kagum dengan 'burung' baja itu hingga ia memutuskan untuk ber-selca ria dengan sang pesawat.
"Cepat naik atau kutinggal!" ujar Yunho sambil berjalan menaiki pesawat, anak baptisnya itu benar-benar unik.
"Y-Yah Appa tunggu Joongieeeee"
Tidak diluar pesawat, didalam pesawat-pun Jaejoong masih terpesona dengan interior-interior mewah pesawat milik keluarga Appanya itu. Ia tahu bahwa Jung Yunho sang Appa adalah orang kaya, tapi ia tidak bahwa kayanya itu adalah sangat sangat sangat kaya.
"Silahkan tuan muda anda duduk disini" sapa seorang pramugari cantik itu ramah.
"Eh? Kenapa Joongie duduk disini? Joongie mau duduk disamping Appa"
"Kau duduklah disana, aku harus mengerjakan sesuatu kalau kau disini kau hanya akan menggangguku" ucapan Yunho membuat bibir Jaejoong ter-pout imut.
"Eung noona pramugari, apa nanti akan ada guncangan? Joongie pernah baca di internet saat pertama take off pesawat akan berguncang, apa tidak apa-apa?"
Pramugari itu tersenyum ramah, putera semata wayang bos-nya itu sunggu polos aniya?
"Tenang saja tuan muda, pesawat memang akan mengalami turbulence tapi setelah beberapa menit semuanya akan baik-baik saja"
"Aaaaahhh arraseo, gamsahamnida noona pramugari"
"Nee, tuan mudah silahkan pakai safety beltnya"
Jaejoong mengangguk patuh, ia teringat belum mematikan ponsel dan dengan segera ia mematikan ponselnya kemudian bersender nyaman dan matanya berkeliling memandang takjub pesawat milik keluarga Appanya. Sampai mata doe indahnya jatuh pada sang Appa yang nampak sibuk memperhatikan kertas-kertas yang diyakini Jaejoong sebagai kertas kerja Appanya. Ia terus memandangi Yunho tanpa namja tampan itu sadari karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya, Jaejoong menyimpulkan satu hal bahwa sang Appa sangatlah tampan, ia jadi berfikir bahwa Umma-nya adalah orang yang paling beruntung di dunia karena telah 'menikah' dengan Jung Yunho, tampan, kaya, pintar yeah meski sedikit dingin.
"Penumpang yang terhormat, selamat datang di Pesawat Jung's Air dengan nomor penerbangan 9095, penerbangan dari bandara Gimpo-Korea akan menuju bandara LAX di Westchester Los Angeles, mohon kencangkan sabuk pengaman anda dan pastikan ponsel, Ipad, maupun laptop dalam keadaan mati. Pesawat ini dikemudikan oleh Kapten Kang In dengan Co-Pilot Kapten Lee Sungmin. Jika terjadi sesuatu selama perjalanan kantung udara otomatis akan keluar dari bagasi yang terletak diatas kepala anda sedang pelampung terletak dibawah kursi anda, pintu darurat berada dibelakang dan pintu utama terletak disebelah kanan, jika terjadi sesuatu mohon gunakan pintu darurat, selamat menikmati perjalanan anda dan terima kasih"
PROK PROK PROK
Semua orang yang berada di dalam pesawat termasuk Yunho kompak menoleh kearah Jaejoong terlihat sedang bertepuk tangan. Apa yang dia lakukan? Pikir Yunho bingung.
"Kereeeeeeeennn, Joongie kalau sudah besar juga ingin menjadi pramugari! Sepertinya menyenangkan hehehehe"
Kedua alis Yunho bertemu, Jaejoong anak baptisnya yang sangat amat cantik itu ingin menjadi pramugari? Well, dia itu namja kalau ia memilih menjadi pilot cukup masuk akal tapi kenapa menjadi seorang PRAMUGARI? Oke, Yunho merasa ada yang tidak beres dengan anak cantiknya itu.
"KYAAAAAAAAAAAAA PESAWATNYA BERGERAAAAKKK OMO OMO, EOMMAAAAA YA TUHAN SELAMATKAN JOONGIE SELAMATKAN JOONGIEEEE"
Jaejoong bergumam ketakutan saat pesawat berukuran sedang itu tinggal landas, sedikit berguncang memang, namun bagi yang sudah terbiasa seperti Yunho ia nampak tenang-tenang saja bahkan ia masih sempat membubuhkan tanda tangan di kertas kerjanya, tapi bagi Jaejoong? Ia merasa seperti sedang naik komidi putar yang berputar kencang layaknya jet coaster. Saat pesawat sudah mengangkasa, semuanya kembali tenang tapi tidak dengan namja cantik kita, ia masih mengeratkan pegangannya pada jok pesawat dan matanya masih tertutup rapat.
"Tuan muda, tuan muda anda baik-baik saja?"
Merasa tangannya disentuh seseorang Jaejoong membuka matanya perlahan.
"Anda baik-baik saja tuan muda?"
"Ugh noona pramugari, Joongie pusing"
"Apa anda mau segelas teh hangat tuan muda? Dan maaf saya akan mencabut safety belt anda agar anda merasa nyaman"
Jaejoong mengangguk, ia membenarkan letak duduknya saat parmugari ber-name tag Choi Sooyung itu melepas safety belt miliknya. Hal yang dirasakannya saat ini kepalanya sedikit berputar yang disebabkan turbulence saat pesawat tinggal landas tadi.
"Saya akan mengambilkan teh hangat anda tuan muda, tuan besar apa anda ingin memesan sesuatu?"
"Coffee Latte panas Sooyung~ah"
"Ne tuan besar, pemanisnya dengan madu kan bukan gula?"
Yunho melirik Jaejoong yang kini lebih diam tidak berisik seperti tadi. Ia sedikit terkejut saat wajah Jaejoong yang pucat semakin pucat, apa benar Jaejoong phobia ketinggian?
"Jae, gwaenchana?"
Jaejoong mengangguk lemah, ia kembali menundukan kepalanya, jendela pesawat ia tutup sehingga ia tidak melihat pemandangan diluar yang membuat kepalanya berdenyut.
"Wajahmu pucat, kau benar-benar takut ketinggian?"
"Joongie tidak apa-apa Appa"
"Tidak apa-apa bagaimana? Wajahmu pucat begitu, Seo Hyun~ah bawa Jaejoong kesini"
"Ne tuan besar, tuan muda kajja pelan-pelan"
Seo Hyun, pramugari cantik itu memapah Jaejoong yang nampak lemah padahal tadi ia sangat bersemangat sekali. Seo Hyun mendudukan Jaejoong dikursi disamping Yunho, waeo? Bukankah tadi Yunho tidak menginginkan Jaejoong berada disisinya? Khawatir hum?
"Tuan besar ini coffee anda, dan ini teh anda tuan muda"
"Yah, minumlah tehnya kau akan merasa lebih baik"
Jaejoong mengambil cangkir yang ada di nampan yang dibawa Sooyung kemudian menyesapnya pelan, teh panas itu membuatnya sedikit rileks tapi tidak membuat keadaannya lebih baik.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Sudah membaik hanya uhuk sedikit mual"
"Yah, kau ini merepotkan sekali sudah kukatakan kau dirumah saja tapi memilih ikut denganku padahal takut ketinggian"
"Hikss Appa kenapa marahin Joongie? Bukannya tadi Appa sendiri yang mengajak Joongie? Kalau tahu akan dimarahi Joongie memilih tidur dirumah dengan Jiji! Hikss"
Selamat Jung, anda telah membuat keadaan pasien Kim menjadi lebih parah karena sekarang kedua mata indahnya telah berkaca-kaca.
"Sooyung~ah apa kau punya obat pereda mual atau pereda sakit atau obat apapun yang bisa membuatnya lebih baik?" tidak ingin bertengkar lebih lanjut, Yunho memilih mengalah daripada Jaejoong menangis di pesawat karena dirinya.
"Sepertinya ada obat pereda mual tuan besar, tunggu sebentar"
"Habiskan teh-mu setelah itu minum obat dan tidur"
"Hum, Appa tidak minum kopinya?"
"Bagaimana aku bisa minum kopi dengan tenang kalau keadaanmu seperti ini"
Jaejoong memajukan bibirnya, ia dihinggapi rasa bersalah karena telah membuat Appanya sibuk mengurusi dirinya.
"Mianhe"
"Jangan cerewet, Kka habiskan teh-mu"
"Tuan besar ini obatnya dan ini air putihnya"
"Hum gomawo Sooyung~ah"
"Nde tuan besar, tuan muda silahkan minum obatnya agar merasa lebih baik"
"Gomawo noona pramugari"
"Nee, permisi"
Yunho membuka plastik obat dan memberikannya pada Jaejoong, namja cantik itu menyerengit karena rasa obatnya yang pahit, ia buru-buru meminum air putihnya hingga tak tersisa setetes-pun. Tak ayal, kejadian itu membuat Yunho tersenyum kecil melihatnya
"Ugh Pahit! Whueeee"
"Kau sudah minum obat mungkin sebentar lagi akan mengantuk, aku harus kembali bekerja dan kau diamlah oke? Jangan mengganggu pekerjaanku"
"Ne Appa gomawo"
"Yah yah kau mau kemana?"
"Mau pindah ke tempat duduk Joongie, waeo?"
"Aish! Kau tetap duduk disini agar aku bisa menjagamu, kembali kesini"
"Eung nanti Joongie"
"Karena itu aku menyuruhmu diam, Kka kembalilah kesini aku masih banyak pekerjaan!"
Hatinya senang bukan main karena Yunho menyuruh Jaejoong duduk disampingnya, ia tersenyum kecil seolah melupakan mual yang tadi dirasanya.
Jaejoong kembali duduk, ia melihat kesana kemari sebelum matanya tertuju pada kertas kerja Yunho, dahinya mengkerut bingung.
"Omo bahasa Inggris, Appa mengerti bahasa Inggris? Dikelas hanya Joongie dan Suie yang nilainya selalu jelek dimata pelajaran Bahasa Inggris, meski Suie jauh lebih buruk dari Joongie hehehe"
"Yang terpintar itu Henry, hummm mungkin karena dia dari Amerika" lanjutnya.
SRAK~
Yunho menghentak kasar kertas kerjanya, ia menatap Jaejoong tajam. Bagimana ia tidak menatap tajam Jaejoong kalau namja cantik itu sudah diberitahu bahwa jangan mengganggu dirinya saat bekerja, but see? Setelah mualnya hilang ia malah kembali berceloteh.
"Hehehe mian Appa" kekeh Jaejoong dengan peace sign ditangannya.
Pesawat sudah memasuki 60 menit perjalanan, dan diluar matahari nampak sudah hampir tenggelam. Yunho yang sedaritadi sibuk dengan pekerjaannya kini terlihat meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Sooyung sang pramugari cantik mendatanginya.
"Tuan besar apa anda ingin makan sesuatu?"
"Hum, aku ingin sirloin steak tambahkan sedikit black papper dan kentang aku tidak ingin makan nasi"
"Ne tuan besar, dan tuan muda omo dia tertidur"
Yunho menoleh kesamping dan mendapati anak baptisnya tertidur dengan posisi yang terlihat kurang nyaman.
"Biarkan saja"
"Apa tidak dipindahkan ke kamar saja tuan? Dengan posisi seperti itu tulang lehernya akan terasa sakit saat bangun"
Pesawat dengan kamar pribadi? Oh come on, Jung Air ini dirancang hampir mirip dengan Air Force One milik Presiden Amerika, jadi jangan heran kalau ada kamar didalamnya, bahkan meja billiard-pun tersedia.
"Akan kupindahkan"
SRET~
Yunho mengangkat tubuh ringan Jaejoong dan membawanya ke kamar, setelah ia membaringkan Jaejoong ia akan kembali ke kabin namun Jaejoong yang masih dalam keadaan terlelap tiba-tiba menarik lengan Yunho hingga si tampan Jung itu ikut berbaring disebelahnya, dan saat itu lengan Jaejoong langsung memeluk perut Yunho erat. Yunho berusaha melepasnya tapi percuma, pelukan itu entah kenapa melemahkan seluruh sistem kekuatan tubuhnya yang sekuat beruang.
"Ngghh Eomma Jiji nakal, merusak pita gajah Joongie ngghh" Jaejoong mengigau.
Yunho menelan salivanya, dan tunggu kenapa suhu dikamar itu mendadak panas. Ia merasa kalau lenguhan Jaejoong barusan terdengar eeerrr seksi?
TOK TOK TOK
"Tuan besar makanan anda sudah siap" ucap Sooyung dari luar kamar.
"N-Ne Sooyung~ah taruh saja diluar"
"Nde tuan besar"
Oke sekarang ia harus mencari cara bagaimana ia bisa keluar dari kukungan namja penyuka kucing ini, Yunho mencoba menggerak-gerakan badannya agar pelukan itu melonggar.
"Ish Jiji! Diam atau Joongie tidak akan membelikanmu Wishkas rasa anggur lagi, arraso!" Jaejoong kembali mengigau dan kali ini pelukan itu malah semakin erat. Apa yang namja cantik itu impikan?
"Ugh" Yunho tidak merasa nyaman dengan keadaan dimana tubuhnya tidak bisa bergerak melainkan jantungnya yang bergerak cepat, ditambah wajah Jaejoong yang begitu dengannya.
Hingga posisi seperti itu bertahan sampai akhirnya Yunho ikut terlelap dan menyadari bahwa mereka telah sampai di LA. Kini mereka telah berada di Hotel untuk istirahat. Sejak mereka turun, Yunho sama sekali tidak menatap ataupun berbicara dengan Jaejoong, dirinya terlalu malu karena kejadian tidur-bersama-Jaejoong tadi.
"Eung Appa, kenapa kamar kita berjauhan? Apa tidak bisa Joongie sekamar dengan Appa saja?"
Oow, alarm tanda bahaya berbunyi. Sekamar dengan JAEJOONG? HELL NO! Tadi saja ia sudah tidak bisa bernapas, apalagi kalau harus tidur bersama anak baptisnya selama 5 hari?
"K-kau tidur dikamarmu sendiri, aku lelah kau istirahatlah"
"Keunde, Joongie ada dikamar 701 sedang Appa dikamar 710 ish jauh sekali" poutnya lucu.
Seolah tidak mendengar keluhan sang anak, Yunho memilih masuk kedalam kamarnya dan membiarkan Jaejoong sendirian membawa koper besar menuju kamarnya sendiri.
"Haaaaaahh, arraso Joongie tidur sendiri saja"
_HANDSOME APPA_
"Yo hyung, kau sudah datang eoh? kapan sampai?"
"Tidak bisakah kau mengetuk pintunya dulu Jung Yuchun?"
"Hehe mian hyung, yah mana Joongie? Dia ikut kan?"
"Dia dikamar 701"
"MWOOOOO? Jauh sekali? Kenapa tidak sekamar denganmu saja hyung? Atau dikamar sebelahmu? Oh my, hyung kau keterlaluan bagaimana kalau terjadi sesuatu dengannya?"
"Jangan berlebihan, dia itu namja dewasa dan pasti bisa melindungi dirinya"
"Oh Come on hyung ini LA bukan Seoul, aku akan menjemputnya kalau hyung tidak mau berbagi kamar dengannya biar Joongie tidur denganku saja"
Huh? Apa tadi? Yuchun bilang apa? Jaejoong tidur dengan playboy cap jidat sepertinya yang dipastikan tidak bisa menahan diri? Well, meski ia adalah pamannya Jaejoong oke ralat paman angkat Jaejoong tapi saat melihat Kim itu tidur dipastikan adik bungsunya itu tidak akan tidur dengan 'tenang'. Yap, Yunho mengalaminya sendiri tadi sore ehehehe.
"Y-Yuchun~ah" panggil Yunho dan menaruh kertas kerjanya di meja.
"Wae?"
"K-kau sudah makan malam? Aku lapar! Kajja kita makan, kau tunggulah dibawah aku akan mengajak Joongie"
"Eeeh? Kenapa tiba-tiba lapar?"
Yunho mengacuhkan tatapan bingung Yuchun, dia berjalan melewati si bungsu menuju kamar Jaejoong yang terletak didepan. Ia harus mengalihkan perhatian Yuchun agar Jaejoong tidak sekamar dengannya, mungkin ia memang harus berganti kamar agar lebih dekat dengan 'anaknya' itu. Khawatir eoh?
TING TONG~
CKLEK~
"Yah kenapa kau langsung membuka pintu? Kenapa tidak mengintipnya dulu dari lubang ini" ucap Yunho sambil menunjuk lubang kecil untuk melihat tamu.
"Hum? Apa harus?"
"Aish, bagaimana kalau ada orang yang berniat jahat padamu lalu kau membukanya begitu saja eoh?!"
"Memangnya siapa yang mau berniat jahat sama Joongie?" matanya berkedip cepat, menambah kadar keimutan yang melebihi batas. Dan namja tampan di depannya memilih menghindar daripada harus berhadapan dengan mata indah itu.
"Kka kita makan malam"
"Yaiiiiiyy makan, Joongie sudah lapar sejak tadi hehehe kajja kajja"
Jaejoong menutup pintu kamar dan tidak lupa ia membawa serta kartu sebagai akses masuk ke-kamarnya.
"Joongie~yah"
"Yuchun hyuuuuuunngg"
"Aigooo akhirnya kau ikut juga hum? Yah bagaimana pertandingannya? Kudengar kalian memenangkannya?"
"Uhm! Tentu saja, Appa hebat! Appa memenangkan lomba lari jarak dekat hehehe"
"Jinjja? Lalu apalagi yang terjadi?"
"Hummmm, kita hampir memenangkan semua perlombaan hyung karena itulah Joongie mendapatkan piala sebagai juara umum"
"Benarkah? Kau sepertinya senang sekali"
"Ehehehe tentu saja! Joongie senang Appa bisa datang, jadi Joongie bisa ikut ujian kelulusan nanti"
"Neeeee belajar yang rajin hum?" Yuchun mengacak rambut ponakannya itu gemas.
"Siap bos"
"Kka sekarang ceritakan bagaimana keadaan teman seksimu itu"
"Hum? Teman seksi?"
"Junsu" ucap Yuchun sambil menaik-turunkan alisnya disertai senyuman yang sulit diartikan
"Aaaaahh Suie? Su bilang besok dia akan berlibur ke Saipan, hyung tahu tidak dia itu terobsesi dengan pohon kelapa! Dan menurutnya Saipan adalah surga-nya pohon kelapa, itulah kenapa dia ingin berlibur kesana"
"Jeongmal? Lalu lalu" tanya Yuchun antusias.
Kedua paman-ponakan itu asik berbincang sambil berjalan menuju ruang makan, tanpa menyadari bahwa dibelakang mereka Yunho nampak merengut bosan melihat keakraban JaeChun. Bosan atau cemburu Jung. Begitupun saat mereka sudah tiba diruang makan hotel mewah tersebut, Jaejoong dan Yuchun masih nampak sibuk membicarakan Junsu.
"JAEJOONG HYUNG?"
"Huh? Minnie? Kyaaaaaaaa Minnieeee, bagaimana kau bisa sampai disini eoh?"
"Aku baru saja datang hyung, perutku lapar jadi Umma dan Appa ke kamar aku kesini hehehe"
"Kau menginap disini juga? Dikamar berapa?"
"702"
"OMO! kamar kita berdekatan Minnie! Joongie dikamar 701, Kka sini sini duduklah disini, Yuchun hyung ini Minnie sahabat Joongie disekolah"
"Anyeong Shim Changmin imnida"
"Anyeong Shim" sapa Yuchun ramah, berbeda dengan Yunho yang hanya menatap Changmin sebentar kemudian kembali memilih makanan di buku menu.
Mereka ber-empat asik menikmati makan malam, meski sebenarnya yang terlihat sangat senang hanyalah Jaejoong Changmin dan Yuchun, sedang Yunho entah kenapa dia merasa bad mood, apa karena Jaejoong terlalu sering bercanda dengan Changmin? Molla. Setelah makan malam mereka bersiap kembali ke kamar masing-masing, Jaejoong berdiri di depan lift menunggu Appanya dan Yuchun yang sedang berbicara dengan staf hotel, kebetulan acara pesta pembukaan pabrik terbaru milik keluarga Jung diadakan di hotel itu. Sedang Changmin? Dia 'berkunjung' ke snack bar yang ada di dalam resto hotel, sekedar untuk membawa camilan malam untuk dikamar begitu katanya.
"Aish kenapa mereka lama sekali, ck Joongie ngantuk!" Jaejoong mengetuk-ngetukan kakinya bosan.
"Hffffttt, apa Joongie ke kamar saja duluan ya?" sambungnya
TRING~
Pintu lift itu terbuka, menampilkan sosok pria asing tinggi semampai yang bisa dibilang tampan. Jaejoong memundurkan tubuhnya agar pria asing itu bisa lewat, tapi pria Amerika itu terhenti sejenak melihat Jaejoong dan menatap namja cantik itu intens. Jaejoong merasa tidak nyaman dengan cara pria asing itu menatapnya, ia mencoba berbicara dengan pria asing itu meski tidak pandai berbahasa Inggris.
"I-Im sorry sir"
"Ah yes" jawab pria asing itu terkejut karena 'sapaan' Jaejoong.
"Why you looking me like that sir?" tanya Jaejoong dengan terbata.
"Oh Im sorry if you feel uncomfortable, but I think I saw an angel come down from heaven" jawab pria Amerika itu sambil tersenyum.
"Eh? Ish apa yang dia katakan? Joongie tidak mengerti! Eung ok ok sir, thank you"
"Nevermind, btw may I know your name gorgeous?"
"Huh? George? No no my name is not George, Im Jaejoong Kim Jaejoong" sepertinya cast utama kita harus benar-benar belajar bahasa Inggris dari Park Yuchun.
"Aaaaahh I see, nice name Im Sam...Sam Lansky, are you from Japan?"
Jaejoong kembali meloading perkataan si bule itu dan memecahkan kalimatnya satu persatu.
"Name nama, Im Sam saya Sam, ah apa namanya Sam? Dan apa tadi Jepang? Apa dia dari Jepang? Kenapa wajahnya tidak mirip orang Jepang? Dia tampak seperti orang Amerika" gumamnya.
"Im sorry are you from Japan? Im from New York, I stay here for business, you're also a guest in this hotel Jaejoong?"
"Ck, apa yang dia katakan? Joongie tidak mengerti!"
"Im sure you're a guest, what your number room?"
"Huh? N-number?"
"Yes, what your number room? Maybe we can talk in your room? Yeah like friend"
"Friend? Maksudnya teman? Apa dia ingin berteman denganku?"
"Or we can talk on my room maybe? Come on" pria asing itu memegang tangan Jaejoong.
"Omo, yah apa yang kau lakukan? Kenapa memegang tangan Joongie?"
"Lets go to my room"
"Omo omo, no no Joongie tidak mau pergi denganmu, ish bagaimana bahasa Inggrisnya?! No mister nooo"
"Take your hands from him!"
Jaejoong dan pria asing bernama Sam itu menoleh kesamping dan dilihatnya sang Appa serta pamannya sudah berdiri disana, Yunho bahkan menatap tajam seolah ingin menelan Sam hidup-hidup.
"Appa~"
"Joongie kemari" panggil Yuchun, dan Jaejoong langsung melepas cengkraman si bule dari tangannya.
"Im sorry I don't know if..."
"Don't ever touch him again or you will regret it!"
"Oh ok, sorry buddy I just fascinated him, he looks so beautifull"
Yunho tidak menjawab, ia masih menatap tajam Sam dan melewati pria asing itu untuk masuk kedalam lift, Jaejoong dan Yuchun juga mengekor dibelakangnya. Saat didalam lift, Jaejoong melirik kearah Appanya yang air mukanya terlihat sangat masam.
"Joongie gwaenchana?"
"Hum? Gwaenchana hyung"
"Yah, kau ini jangan suka berbicara dengan orang yang tidak kau kenal, dia sepertinya memiliki niat tidak baik padamu tadi"
"Mianhe hyung, Joongie pikir tadi dia hanya ingin berteman dengan Joongie, tapi dia malah menarik-narik tangan Joongie" adunya dengan raut wajah sendu.
"Kau ini terlalu polos atau bodoh Kim Jaejoong?" tanya Yunho sarkastis.
"M-Mwo?"
"Hah, mana ada pria asing yang mau berteman denganmu begitu saja, apa kau tidak lihat caranya memandangmu tadi seperti ingin langsung membawamu ke tempat tidur?"
"Hyung"
"Mana Joongie tahu kalau namja itu mau berbuat jahat sama Joongie!" ucap Jaejoong tak kalah ketus, ia ingin Yunho membelanya bukan memarahinya seperti ini.
"Harusnya kau tidak usah terlalu ramah pada semua orang yang kau temui, membuat orang lain menganggap dirimu namja yang bisa diajak apa saja"
"Hyung hentikan"
"Neee aku memang ramah, aku terlalu baik pada semua orang dan tidak menganggap mereka semua orang jahat! Ummaku yang mengajarkan seperti itu agar kita selalu berbuat baik! Kalau Appa tidak suka itu urusan Appa bukan urusanku!"
TRING~
Dengan kesal Jaejoong berjalan mendahului Yunho dan Yuchun, tak butuh waktu lama karena kamarnya tepat berada di samping lift ia langsung masuk kedalam, pintu berkamar nomor 701 itu tertutup kencang seolah tidak peduli tamu hotel lain akan protes terhadapnya.
"Hyung kau keterlaluan, bagaimana bisa kau mengatakan hal sekejam itu pada anakmu sendiri"
"Aku harus menjaganya Chun, bukankah itu yang di inginkan Siwon padaku? Sifatnya yang terlalu ramah pada siapa saja justru bisa membahayakan dirinya"
Yunho berjalan cepat, dirinya juga tidak tahu kenapa bisa sangat emosi seperti itu.
"Sifat ramahnya menurun dari Siwon hyung, tapi justru itulah kelebihan Jaejoong dia memiliki banyak teman dan semua orang menyukainya"
"Yeah, sampai-sampai dia tidak tahu kalau pria asing tadi ingin berbuat sesuatu yang buruk padanya"
"Arrayo, tapi hyung harusnya tidak usah mengatakan hal sekejam tadi"
"Aku lelah, kita bertemu besok"
BRUK~
Yunho menutup pintu kamarnya dan meninggalkan sang adik yang bergumam sendiri diluar.
"Hfffffffttt, pasangan ini membuat kepalaku sakit, nite hyung"
_HANDSOME APPA_
Ke-esokan harinya, Yunho dan Yuchun pergi untuk mengecek pabrik Jung yang baru dibuka, meninggalkan Jaejoong sendirian di hotel dengan bosan. Sedang Changmin sibuk berkeliling wisata kuliner, sebenarnya dia mengajak Jaejoong tadi, tapi Yunho tidak mengijinkannya. Malam hari-pun tiba, saatnya pesta pembukaan pabrik baru Jung digelar, para tamu undangan terdiri dari kolega maupun pengusaha-pengusaha ternama, baik dari Korea maupun warga Amerika itu sendiri. Jung Corp's sudah memasuki kancah international tidak heran kalau pesta itu dipenuhi orang-orang borjuis dari beberapa Negara.
Jaejoong nampak menawan dengan kemeja merah maroon yang dibalut rompi berwarna putih gading yang membalut ditubuh rampingnya, Yunho dan Yuchun-pun tak kalah tampan dengan tuxedo mahal mereka. Changmin yang diundang Jaejoong agar menemaninya juga terlihat sempurna, meski sejak lima belas menit lalu ia hanya sibuk berkeliling disekitar stand makanan.
Jaejoong duduk disebuah meja bundar ditemani Changmin yang memilih mencomot kue-kue kecil daripada berbincang dengan Jaejoong. Sedang si cantik itu nampak sibuk memandangi sang Appa tampannya yang tertawa-tawa senang dengan beberapa gadis yang tidak diketahuinya.
"Minnie~ya, siapa gadis-gadis itu? kenapa mereka selalu mengikuti Appa?"
"Molla"
"Appa seharusnya tidak tebar pesona begitu! Appa tidak boleh melupakan Umma" pout Jaejoong.
"Kau mengkhawatirkan Appamu yang takut melupakan Ummamu? Yunho ahjussi itu kan duda, tentu saja ia harus mencari pengganti Ummamu kan?"
"Shiruh! Appa tidak boleh melupakan Umma! Ck, gadis berambut merah itu centil sekali cantikan Ummaku daripada dia huh"
"Hehehe kau seperti seorang istri yang cemburu Joongie~ah"
"Mwo? ish jangan berpikiran yang aneh-aneh Minnie~ya, Yunho itu Appaku"
"Arraso, keunde hanya saja aku heran kenapa marga kalian berbeda dan wajah kalian tidak mirip sama sekali"
"Aku mengikuti marga Ummaku, dan lagi aku lebih nyaman menggunakan nama Kim dibanding Jung, aku sangat mirip dengan Umma untung saja tidak mirip Appa, tidak terbayang kalau aku mirip dengan Appa yang wajahnya tidak pernah tersenyum itu"
Jaejoong masih memandang Yunho, matanya sedaritadi tidak lepas dari gadis-gadis yang entah darimana datangnya yang terus mengerubungi Appanya seperti lalat. Sepanjang ia tinggal bersama Yunho ia tidak pernah melihat CEO muda itu tertawa, dan sekarang ia terpesona melihat tawa renyah Yunho yang begitu menawan. Dan hatinya menghangat saat melihat senyum itu terkembang.
Saat sedang asyik melihat tawa sang Appa, Jaejoong dikejutkan dengan seorang yeoja berambut gelombang yang datang dan langsung mencium pipi Yunho. Namja cantik itu melebarkan matanya, ia mencengkram gagang gelas itu keras, mendadak hati yang menghangat lembut tadi berubah menjadi bara api yang menyala.
SRAK~
"Hyung, kau mau kemana?"
"Tidur! Aku lelah"
"Yah, bagaimana denganku? Aku belum selesai 'berburu' hyung"
"Terserah, kau lanjutkan saja makanmu"
"Hum? Oke"
Jaejoong dengan wajah yang masam serta bibir yang mengerucut berjalan kembali ke kamarnya dengan perasaan yang ia sendiri sulit mengartikannya. Tadi ia baik-baik saja tapi kenapa sekarang ia ingin marah-marah? Apa hanya karena melihat Yunho dicium seorang gadis?
"Ish Appa nappeun! Awas saja kalau sampai melirik gadis lain selain Umma! Joongie tidak mau punya ibu tiri!"
"Hi Jaejoong"
"Eoh? Sam? Ah Hi"
"How are you?"
"Fine thank you"
Jaejoong yang sedang tidak mood untuk berbicara dengan siapapun memilih untuk masuk kedalam kamarnya, tapi tanpa ia duga lelaki asing itu malah ikut bersama Jaejoong.
"Omo, yah apa yang kau lakukan? Kenapa masuk kedalam kamarku?!"
"Jaejoong, I like you really like you please be mine"
Pria bernama lengkap Sam Lansky itu mencengkram tangan Jaejoong dan membawanya semakin kedalam kamar, Jaejoong tersudut ke tembok.
"YAH! APA YANG KAU LAKUKAN? LEPASKAN!"
"I love you Jaejoong, please be mine Im gay so we can make some relation, you are so beautifull"
"JOONGIE TIDAK MENGERTI YANG KAU KATAKAN! LEPASKAN TANGAN JOONGIEEEE, AH"
Usaha Jaejoong untuk melepaskan diri sia-sia karena toh pria yang jauh lebih tinggi darinya itu sudah melempar dan menindihnya diatas kasur, dengan kasar ia menciumi perpotongan leher namja cantik berkulit mulus tanpa cacat itu.
"Lepas! Hiksss lepaskan Joongie hiksss Appa"
Merasa tidak berdaya dan lemas karena tenaganya habis harus melawan si pria asing itu, ia memilih diam dan menangis memanggil Appanya yang tidak kunjung datang. Yang bisa dilakukannya hanya menangis tersedu.
"Lepaskan Joongie hikss kumohon lepaskan Joongie"
SRET~
Namja itu melepas paksa kemeja Jaejoong hingga hanya tersisa kaus dalamnya saja, Jaejoong reflek menutupi dadanya ia tidak ingin pria bule itu bertindak lebih jauh. Tapi percuma karena sedetik kemudian kaus dalam itupun dirobeknya.
"You looks so delicious Jaejoong"
Dan tanpa membuang waktu, Sam menciumi dada Jaejoong ia memeras serta mengulum nipplenya. Ingin rasanya ia melempar Sam dari atas gedung hotel sekarang juga, tapi apa daya tubuh Sam lebih besar darinya, justru hanya menguras tenaga kalau harus melawan.
"So yummy, hmm ah this is so hmmm"
Tidak puas dengan tubuh bagian atas milik si cantik Kim, Sam langsung menarik celana Jaejoong dan jadilah namja bermata kucing itu tidak memakai apapun. Tergoda dengan tubuh 'lezatnya', Sam langsung saja bermain dengan junior mungil Jaejoong dan mengelus-elus bagian paha dalam milik anak baptis Jung itu. Dan membuat Jaejoong bergidik geli serta ketakutan yang teramat dalam. SUngguh ia ingin melawan tapi ia tidak sanggup, kekuatan namja asing diatasnya terlalu kuat, yang bisa dilakukannya hanya berdoa semoga ada seseorang yang bisa menolong dirinya.
BRAK~
"LEPASKAN JAEJOONG!"
SRET~
BUGH~
BUGH~
BRAK~
"KAU BERANI MENYENTUHNYA HAH?!"
"Omo Joongie! Changmin bawa Joongie keluar! Ppali"
"N-ne hyung"
"KURANG AJAR! BERANI SEKALI KAU MENYENTUHNYA! BRENGSEK!"
BUGH~
"Hyung sudah hentikan, Yunho hyung"
Yuchun menahan Yunho yang terus menerus memukuli Sam, sampai namja itu babak belur bahkan wajahnya sudah tidak berbentuk.
"Hyung tenanglah kumohon tenanglah, dia sudah hampir mati, aku akan panggil keamanan"
"BRENGSEK!"
"Hyung tenang! daripada hyung menghajarnya lebih baik hyung menghibur Joongie dia terlihat sangat shock!"
"J-Joongie? Jaejoong, dimana Jaejoong?"
"Changmin membawa Jaejoong kekamarnya, Kka hyung pergilah biar si brengsek ini aku yang urus"
Yunho langsung berlari ke kamar Changmin yang terletak disebelah kamar Jaejoong, ia mendapati anak baptisnya diam tak bergerak, pandangan matanya kosong, tubuhnya kini sudah terbalut selimut hotel, saat Yunho mendekati dan akan memeluknya, tubuh Jaejoong bergetar ketakutan.
"J-Joongie, ini aku Joongie ini aku Yunho"
Jaejoong menggeleng keras, air mata sudah menumpuk di matanya dan memundurkan tubuhnya dari Yunho. Bisa Yunho liat leher Jaejoong penuh 'cetakan' dari si bule brengsek itu. Hatinya sakit, sungguh ia merasa sakit melihat Jaejoong seperti itu.
"Joongie~ah ini Yunho, aku Appamu...Appa baptismu"
"Ap-Appa baptis?" gumam Changmin.
"Joongie~ah kumohon jangan takut padaku"
"Hikss andwe! Jangan mendekat jangan mendekat ANDWEEE!"
Yunho tahu ia tidak akan bisa membujuk Jaejoong, dengan cepat ia menarik namja cantik itu dan langsung memeluknya, Jaejoong meronta tapi beberapa menit kemudian ia terdiam, ia mencium wangi mint yang menguar dari tubuh besar yang kini sedang memeluknya, wangi harum tubuh itu adalah milik Yunho, milik Appanya, wangi yang membuat dirinya merasa terlindungi hingga Jaejoong kini membalas pelukan Yunho, menangis sejadinya di dada Yunho, mencoba melepaskan semua ketakutannya didalam pelukan Yunho, karena ia yakin Yunho akan selalu melindunginya.
"Appa hiksss Appaa"
TBC
Kim Jaejoong : 17 yo
Jung Yunho : 35 yo
Jung Yuchun : 30 yo
Shim Changmin : 15 yo
Kim Junsu : 16 yo
