HANDSOME APPA!

.

YUNJAEYOOSUMIN

.

Selamat membaca ^^ muah#sundulsayang

.

.

Setelah insiden yang menyebabkan Kim Jaejoong hampir diperkosa oleh namja bule bernama Sam Lansky, Yunho mengajak Jaejoong kembali ke Seoul besok paginya, itu karena namja dengan pipi chubby yang selalu terlihat merah itu terlihat sangat shock, tatapan matanya yang selalu bersinar kini seakan redup, bahkan Jaejoong sangat sensitif terhadap sentuhan, membuat Yunho harus ekstra hati-hati jika ingin mendekati namja cantiknya itu.

Tak butuh waktu lama untuk tiba di Seoul dengan menggunakan pesawat pribadi. Begitu sampai dirumah, Yunho langsung memerintahkan Pengurus Lee untuk mengurus semua keperluan Jaejoong dan menjaganya sementara Yunho menelpon dokter Hankyung untuk membuat janji agar besok Jaejoong bisa diperiksa, ia takut jika pria asing itu sudah melakukan sesuatu yang lebih jauh terhadap anak baptisnya itu.

Untuk sementara pabrik Jung yang baru saja dibuka di LA di urus oleh Yuchun, karena Yunho hanya terfokus pada Jaejoong. Ia begitu cemas dan hatinya terasa sakit, perasaannya seperti dicabik saat melihat keadaan Jaejoong tanpa mengenakan apapun sedang ditindih oleh pria brengsek yang ingin menodai Jaejoong. Sikap Yunho memang dingin tapi sungguh ia sangat menyayangi anak sahabatnya itu, sayang dalam artian yang sulit untuk dijabarkan.

PRANG~!

Terdengar bunyi pecahan kaca dari kamar Jaejoong, dengan cepat Yunho berlari menuju kamar 'anaknya' yang terletak di lantai dua.

CKLEK~

"Jae ada ap...Astaga Jaejoong! Pengurus Lee apa yang terjadi?"

"T-tidak tahu tuan besar, tuan muda tiba-tiba melempar kaca dan semua barang-barang yang ada dikamar"

Jaejoong meringkuk di atas kasur, seluruh tubuhnya bergetar ketakutan, keringat membasahi rambut yang menutupi dahi indahnya. Melihat itu Yunho segera menghampiri Jaejoong.

"Jae~ah ada apa hum? Gwaenchana?"

Jaejoong tidak menjawab, tatapan matanya entah kemana tubuhnya bergetar hebat.

"Pengurus Lee tinggalkan kami"

"Nde tuan besar"

Saat pintu kamar tertutup Yunho kembali mendekati Jaejoong, perlahan tapi pasti Yunho meraih pundak namja cantik itu untuk direngkuhnya.

"LEPASKAN JOONGIE!"

Bukannya tenang Jaejoong malah mendorong Yunho dan menamparnya cukup keras, sehingga meninggalkan bekas kemerahan di pipi namja tampan itu.

"Kim Jaejoong tatap aku! Lihat aku! Lihat siapa yang ada di depanmu!" bentak Yunho.

"Hiksss lepaskan Joongie hikssss, Joongie tidak mau hiksss lepas hiksss"

Jaejoong menggeleng, ia tidak menatap Yunho yang duduk di hadapannya.

"Jaejoong~ah kumohon jangan seperti ini, ini aku Yunho tatap aku Jae"

"LEPASKAN JOONGIE! Hiksss lepaskan Joongie hiksss hiksss, Umma hiksss"

Melihat tangis Jaejoong yang tidak berhenti membuat Yunho harus mengambil keputusan, ia memeluk anak baptisnya itu erat tidak peduli teriakan maupun rontaan Jaejoong. Ia masih terus memeluk dan bertahan dengan amukan namja cantik itu.

"Ini aku Jae, aku disini kau tidak perlu takut, kumohon tatap aku, ini aku Yunho"

"Hiksss hiksss lepaskan aku hiksss" tangisnya mulai melemah, ia tidak lagi meronta.

"Aku tidak akan melepaskanmu sampai kau melihatku, lihat aku Jaejoong~ah aku Yunho"

Merasa tenaga Jaejoong melemah, Yunho melepaskan pelukannya dan membiarkan namja cantik itu memandangainya lekat, matanya sembab dan wajahnya memerah, sangat kontras dengan wajahnya yang putih pucat.

"Hiksss A-Appa? Hiksss Yunho hiksss Yunho Appa?"

"Ne ini aku Jae ini aku, Yunho"

"Hikss Appa hiksss"

"Ssssss uljima tenanglah, kau aman bersamaku Jaejoong~ah"

Tangis Jaejoong kembali pecah saat Yunho memeluknya lagi, doe indah yang selalu memancarkan keceriaan itu kini buram, jujur saja Yunho benci melihat sorot mata Jaejoong seperti sekarang.

"Appa hiksss jangan tinggalkan Joongie hiksss jangan pergi dari Joongie Appa hiksss"

"Aku ada disini Jae aku ada disini, tenanglah"

Perlahan tapi pasti, Jaejoong terlelap dalam pelukan Yunho. Namja tampan itu membaringkan Jaejoong dan menyelimutinya, ia menghapus jejak air mata di wajah tanpa cacat Jaejoong dan entah keberanian darimana ia mengecup kening Jaejoong lembut.

"Jaljayo, Jaejoongie"

_HANDSOME APPA_

*SEOUL INTERNATIONAL HOSPITAL*

"Jaejoong mengalami traumatiK, sedikit sentuhan bisa membuatnya mengingat kejadian buruk itu, kau harus ekstra sabar menjaganya Yun"

"Apa dia bisa sembuh Hankyung~ah?"

"Tentu, tentu saja bisa, asal dia mau menutup masa lalu dan membuka pikirannya untuk tidak lagi terbayang hal itu dia pasti bisa melewatinya, cepat atau lambat tergantung usahamu menjaganya"

"Lalu bagaimana caranya agar ia bisa cepat pulih seperti biasa? Aku aku tidak bisa melihatnya seperti ini terus"

Dokter keturunan China itu membetulkan letak kacamatanya sambil menulis resep.

"Intinya, kau harus bisa mengambil seluruh perhatiannya, ingatannya dan semuanya usahakan hanya terfokus padamu, jadi Jaejoong bisa melupakan apa yang sudah terjadi padanya"

"Maksudmu?" tanya Yunho kepada teman se-Universitasnya itu.

"Buat dia jatuh cinta, maka seluruh perhatiannya hanya akan terfokus pada orang yang ia cintai"

"Jatuh cinta? Dengan siapa dia harus jatuh cinta? Aku tidak pernah tahu apa dia sudah punya pacar atau belum"

"Kalau begitu buat dia menyukaimu"

"Y-Ya Hankyung~ah kau kan tahu dia anak..."

"Siwon? Dia hanya anak baptismu Yun bukan anakmu, Kka ini vitamin dan obat penenang diminum sebelum makan, jangan sampai terlewat karena untuk sementara Jaejoong memerlukan obat penenang, sisanya tergantung usahamu Yun"

"Keunde apa tidak ada cara lain selain harus membuatnya jatuh cinta? A-Aku tidak bisa membuatnya mencintaiku"

"Itulah saranku sebagai ahli Psikiater Jung, kalau lulusan Bisnis Management sepertimu mempunyai ide yang lebih baik, silahkan"

Yunho diam, ia mencerna ucapan Hankyung.

'Membuat Jaejoong jatuh cinta? Pada siapa ia akan jatuh cinta? Apa harus aku? Hell no, bagaimana-pun dia anakku meski yeah anak baptis yang tidak memiliki hubungan darah tapi...errrr ini sungguh merepotkan!'

Hankyung tersenyum melihat reaksi Yunho, ia mengerti bahwa entah sadar atau tidak sebenarnya Yunho sudah membuat Jaejoong menyukainya, begitupun sebaliknya, namja tampan teman se-Universitasnya itu sebenarnya sudah terpikat akan pesona Kim Jaejoong.

"Kka, aku harus memeriksa pasien, minggu depan Jaejoong harus cek up kesini lagi kau jangan lupa Yun"

"Ne ne arraso"

Setelah menebus resep yang diberikan Hankyung, Yunho membawa Jaejoong kembali kerumah, ia tidak masuk kerja untuk sementara sampai kondisi anak cantiknya itu membaik. Alis tebalnya tertarik keatas saat ia mendapati Audy A6 hitam terpakir di halaman rumahnya yang luas.

CKLEK~

Saat pintu rumah terbuka ia mendapati namja jangkung yang tak lain tak bukan adalah teman Jaejoong, Shim Changmin yang tengah asik menikmati camilan yang disediakan, ia bahkan tidak menyadari bahwa tuan rumahnya sudah tiba.

"Minnie?" panggil Jaejoong

Saat tahu Jaejoong datang, Changmin langsung menghampiri Jaejoong namun ia tidak berani memeluknya karena menurut kabar yang ia dapat dari Yuchun, namja cantik itu sensitif terhadap sentuhan sekarang.

"Anyeong Joongie, kata Lee ahjussi kau ke dokter? Apa kau sakit?"

"Neeee Joongie tadi ke dokter tapi Joongie baik-baik saja, Minnie menghabiskan semua kue-kue Joongie karena menunggu lama?"

Jaejoong melirik dua toples kue yang tadinya cukup terisi penuh kini sudah bersih sampai tidak perlu dicuci.

"Hehehe begitulah, habis Joongie lama sekali jadi daripada membuang-buang waktu lebih baik membuang kue itu ke perutku" cengir namja Shim itu lebar.

Jaejoong berdecak pura-pura kesal, ia meninggalkan Yunho dan Changmin yang tengah duduk di ruang tamu, entah apa yang namja cantik itu kerjakan di dapur.

"Ahjussi, bagaimana keadaan Joongie?" sengaja Changmin memelankan suaranya agar tidak didengar Jaejoong.

"Apa aku tidak terlalu tua dipanggil ahjussi? Panggil hyung saja"

"Ne ne, padahal memang sudah tua" gumamnya pelan namun masih bisa terdengar Yunho.

"Apa kau-"

"Lupakan, hyung bagaimana keadaan Joongie?"

"Dia baik-baik saja, beruntung namja brengsek itu tidak melakukan hal yang jauh padanya, Jaejoong hanya sedikit trauma"

"Hum, aku sudah mendengarnya dari Yuchun hyung, Joongie tidak bisa disentuh untuk sementara"

Yunho memincingkan matanya curiga.

"Kau berniat untuk menyentuh Jaejoong?"

"Tentu saja! M-Maksudku kami biasa berpelukan, b-berpelukan dalam artian sahabat, aish hentikan tatapan matamu itu hyung! Menyeramkan seperti psikopat"

Yunho berhenti menatap tajam Changmin, dia mengambil ponsel dalam saku celananya bermaksud untuk mengsms Yuchun dan menanyakan kabar tentang pabrik baru Jung di LA, serta menanyakan namja bule yang telah dengan kurang ajarnya hampir memperkosa Jung Jaejoong.

"Euunng, hyung apa aku boleh bertanya sesuatu?"

"Hm"

"Hyung, apa maksud hyung tentang Joongie anak baptis? Apa Jaejoong bukan anak kandung hyung?"

Jari lentik Yunho berhenti, dia menoleh kearah Changmin dengan wajah penuh tanda-tanya.

"Kenapa kau ingin tahu?"

"Aniya, aku hanya bertanya kalau tidak boleh tahu ya sudah tidak usah dijawab" ucap Changmin santai sambil membuka toples yang masih terdapat beberapa kue disana.

"Dia memang bukan anaku"

Kalimat Yunho membuang napsu makan Changmin, segera saja ia mendekatkan tubuhnya agar bisa mendengar cerita Yunho lebih jelas. Penasaran sekali eoh?

"Dia anak dari sahabatku, Choi Siwon dan Kim Heechul"

"Jadi sebenarnya marga Joongie itu Choi?"

"Hum, tapi karena hubungan mereka tidak direstui keluarga Siwon, Jaejoong tetap menggunakan marga Heechul, Siwon menitipkan Jaejoong padaku karena aku Appa baptisnya dan agar aku bisa menjaganya"

"Menjaganya? Menjaganya dari apa?"

"Dari keluarga Siwon yang masih mengincar Jaejoong, keluarga Choi itu salah satu anggota triad terkuat di Asia, saat Siwon tahu bahwa hubungannya dengan Heechul tidak direstui, Siwon nekat membawa kabur Heechul yang ternyata sudah hamil, dan karena Siwon putera mereka satu-satunya kemungkinan mereka akan mencari Jaejoon untuk balas dendam"

"Omo kisah hidup Joongie seperti sinetron saja, kalau begitu Joongie dalam bahaya?"

"Hum, bisa dibilang begitu"

"Aigoooo kasihan sekali uri Joongie, tapi hyung tenang saja selama disekolah aku akan menjaganya hehehe"

Yunho kembali memincingkan matanya, anak yang duduk disampingnya ini benar-benar aneh.

"Tadaaaaa, Joongie bawakan kue lagi untuk Minnie"

Jaejoong kembali dari dapur sambil membawa sepiring penuh kue-kue yang nampak melambaikan tangan kearah Changmin, dan tentu saja kesempatan itu tidak akan di sia-siakan namja bertubuh tinggi itu.

"Kka, habiskan Minnie~ya Appa tidak suka makan manis-manis"

"Jinjja hyung? Kalau begitu aku habiskan neee hahaha"

Yunho mengehela napasnya pelan, dalam hati ia berpikir 'bagaimana bisa Jaejoong memiliki teman sepertinya?'. Yunho beranjak dari duduknya.

"Appa mau kemana?"

"Aku akan ke kantor sebentar, ada masalah di pabrik baru kita di LA, Yuchun kurang bisa mengatasinya"

"Appa mau kembali ke LA?"

"Ani, aku hanya akan memantaunya dari kantor pusat, aku pergi"

"Tunggu dulu"

Yunho dan Changmin menatap Jaejoong bersamaan, namja cantik itu terlihat memegang ujung bajunya sambil tertunduk, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu.

"Ada apa Jae?"

"Eung, Appa tidak akan lama kan dikantor? Maksud Joongie...eung"

"Aku akan pulang sebelum makan malam"

Wajah cantik itu terangkat, memperlihatkan mata berbinarnya senang.

"Uhm! Joongie akan menunggu Appa dirumah"

Yunho mengangguk, dia membuka pintu ruang tamunya dan menghilang menuju kantor. Sejak kepulangannya ke Korea ia belum memeriksa keadaan kantornya, urusan Jaejoong sungguh menyita seluruh perhatiannya.

"Joongie, bagaimana kalau kita menyuruh si pantat bebek itu kesini? Sepertinya akan menyenangkan kalau ada dia disini"

"Ide bagus Minnie~ah, sudah lama kita tidak berkumpul bersama, tapi apa Suie sudah pulang dari Saipan?"

"Huummm sepertinya sudah, aku telepon dulu neee"

Akhirnya tiga sahabat itu meramaikan kediaman Jung, Junsu yang baru tiba berlibur dari Saipan membawa hadiah untuk Jaejoong dan Changmin, tidak lupa juga dia membawanya untuk Yunho dan Yuchun. Hari semakin larut, Changmin dan Junsu sudah pulang sejak 30 menit lalu, tapi Yunho belum menampakan hidungnya dirumah.

"Tuan muda, apa anda tidak menunggu di dalam saja? Di luar udaranya sangat dingin"

"Shiruh, Joongie ingin menunggu Appa disini"

"Tapi tuan besar sepertinya akan pulang larut malam, sebaiknya anda menunggu di dalam"

"Ahjussi, Joongie mau diam disini saja ahjussi tidak usah mengkhawatirkan Joongie"

Karena keras kepala, Pengurus Lee meninggalkan Jaejoong yang duduk di depan teras rumahnya, udara sedikit berangin dan membuat cuacanya mendingin tapi itu tidak membuat Jaejoong mundur, ia tetap ingin menunggu Yunho pulang.

45 Menit berlalu, waktu telah menunjukan pukul 10:25 malam dan namja Jung itu belum juga tiba. Saat Jaejoong memutuskan untuk masuk kedalam rumahnya, mendadak ada cahaya yang berasal dari lampu mobil yang bersinar kearahnya. Dan Jaejoong yakin itu adalah lampu mobil Appanya.

"Appa!" ia berlari kecil menuju mobil Yunho.

"Jaejoong? Kau belum tidur? Ini sudah malam" ucapnya yang baru saja keluar dari mobil, Jaejoong mengambil tas kerja Yunho.

"Joongie menunggu Appa, kajja kajja kita makan bersama"

"Kau belum makan? Kenapa menungguku huh? Itu berarti obatmu belum kau minum?"

Namja cantik itu menggeleng takut, ia takut Yunho marah.

"Aish, kau ini! Kka kita makan"

Wajah ketakutan itu berganti cerah, ia mengangguk dan entah sadar atau tidak ia menggandeng lengan Yunho sambil bercerita bahwa Junsu dan Changmin bermain dirumahnya tadi. Sekilas, mereka seperti pasangan suami-istri.

.

.

Hari demi hari kondisi Jaejoong semakin membaik, Yunho selalu berada di sisinya dan hal itu membuat si cantik Kim tidak bisa jauh dari Appanya, ia menjadi sangat manja sekarang.

"Jae, aku sudah lelah bermainnya besok saja lagi ne?"

"Appa! Joongie belum naik komidi putar, kajja kita naik itu"

Seperti sekarang dimana sang 'anak' mengajaknya bermain di Theme Park. Dan ini semua adalah saran gila yang datangnya dari dokter Hankyung, menyuruh Yunho agar Jaejoong bisa tergantung padanya dan menaruh hati pada namja tampan itu. Yeah setidaknya itu lebih baik daripada Jaejoong harus menyukai namja lain yang tidak jelas, pikir Yunho.

"Whoaaaaa kyoptaaaaaa" ucapnya kagum saat komidi putar itu sudah berjalan dan memperlihatkan padanya sebagian kota Seoul.

"Kau senang huh?"

"Uhm! Senang sekali Appa, gomawo"

Yunho memang tidak takut apapun hanya saja dia phobia terhadap tinggi, itu terlihat dari wajahnya yang memucat, dan Jaejoong hanya terkekeh melihat wajah lucu 'Appanya'.

"Kenapa kau tertawa?"

"Hihihi Appa takut eoh?"

"A-Ani! S-siapa bilang aku takut? A-aku hanya tidak suka anginya, angin diatas sini terlalu kencang!"

Jaejoong makin tertawa saat komidi putar itu berhenti di tengah-tengah dan tangan Yunho mencengkram erat pinggiran kursi.

"Kubilang jangan tertawa Kim Jaejoong"

Namja cantik itu sontak menghentikan tawanya, meski ia masih tersenyum-senyum tidak jelas. Pandangan matanya tertuju pada wajah kecil nan tampan milik namja Jung yang berada dihadapannya, suasana malam yang gelap dan hanya tersinari oleh cahaya bulan dan lampu-lampu yang berada di Theme Park, membuat malam itu terasa romantis.

"Kalau kita bukan Appa dan anak, Joongie pasti sudah jatuh cinta sama Appa"

Kalimat Jaejoong membuat hati Yunho berdesir hangat, ia balas menatap anak cantiknya yang kini tengah tersenyum indah sambil melihat pemandangan diluar.

"Appa sangat tampan, tubuh Appa juga bagus, sifat Appa meski terkadang menyebalkan tapi Joongie suka"

"Jeongmal, kalau saja Appa bukan Appa Joongie, Joongie pasti sudah menyukai Appa" lanjutnya.

"B-bagaimana kalau benar aku bukan Appamu? Apa...kau akan tetap menyukaiku meski usia kita berbeda jauh?"

"Hihihi bagi Joongie umur tidak terlalu menjadi masalah, kita hanya berbeda 18 tahun aniya?"

"Tapi aku akan terlihat seperti pedofil, ahjussi mesum yang menyukai bocah" dengus Yunho.

"Ahahahaha, Appa tidak akan terlihat seperti ahjussi ahjussi mesum, Appa akan terlihat seperti hyung tampan kalau jalan bersama Joongie"

Jaejoong tertawa, Yunho terpana. Sungguh, ia tidak pernah melihat Jaejoong tertawa seindah hari ini.

"J-Jaejoong~ah"

"Hum?"

"A-ada yang ingin aku katakan padamu"

"Soal apa Appa?"

"I-Itu...i-itu"

"Hum?"

"I-itu a-aku b-bukanlah..."

"Silahkaaaaannn"

Saat Yunho akan menyampaikan kenyataan bahwa ia bukan Appa kandung Jaejoong, petugas komidi putar sudah membuka pintu tanda bahwa permainan mereka telah berakhir, ish hampir saja Jung!

"Kajja Appa kita turun"

Yunho mengangguk, ia ikut turun dan berjalan di belakang Jaejoong. Entah dia merasa lega atau justru semakin gugup, yang pasti udara yang berangin dan cukup dingin itu tidak membuat keringatnya berhenti mengucur.

"Appa Joongie mau...eoh? Appa waeo? Appa sakit? Omo, Appa berkeringat"

Si cantik Kim menghapus keringat yang jatuh di pelipis Yunho dengan tangannya sendiri, jarak diantara mereka begitu dekat, membuat kedua orang itu saling berpadangan. Doe mata indah Jaejoong berkedip cepat, dari jarak sedekat ini ia bahkan bisa mencium wangi tubuh Yunho yang sangat, manly. Benar-benar wangi tubuh seorang pria dewasa, tidak sepertinya wangi bedak bayi.

"J-Joongie akan membeli minum, A-appa haus kan?"

Jaejoong melepaskan tangannya dari pelipis Yunho dan berlari kecil menuju kedai minuman, sambil berlari ia memegangi dadanya yang berdegup kencang.

"Pabo pabo! Kenapa jantung ini berdetak kencang dengan Appamu sendiri Jaejoooooong, pabooo!" rutuknya.

Tak berbeda jauh dengan Jaejoong, si tampan Jung juga tengah mengontrol deru napas dan jantungnya yang tidak beraturan, beruntung bahwa Jaejoong sudah menjauh darinya jadi dia bisa menyembunyikan kegugupan itu.

Yunho duduk di bangku taman yang tak jauh darisana, dari kejauhan ia bisa melihat anak cantiknya sedang memilih-milih permen kapas, bibir tebal itu menarik seulas senyum saat permen kapas yang diyakini Yunho akan dibeli Jaejoong sudah direbut oleh anak kecil, dan namja cantik itu hanya menghentakan kakinya kesal

"Yunho Oppa? Kau Jung Yunho kan?"

Panggilan yang mengalun lembut itu datang dari seorang yeoja cantik bertubuh tinggi yang kini berdiri di depannya.

"S-Sooyung? Choi Sooyung?" kaget Yunho.

"Anyeong Yunho Oppa, lama tidak bertemu"

"Ne, lama tidak bertemu" ucapnya yang kini sudah berdiri di hadapan yeoja cantik itu, tinggi mereka hampir sama ternyata.

"Oppa kemana saja huh? Sudah lama tidak berkunjung kerumah, Appa sering menanyakanmu"

"I-Itu aku"

"APPA! Permen kapasnya sudah dibeli bocah kecil itu, padahal kan Joongie yang ambil duluan, ish menyebalkan! Jadi Joongie hanya membeli minum saja"

Yunho dan Sooyung menoleh bersamaan, pupil mata yeoja cantik itu mengecil saat menyadari bahwa namja cantik yang kini tengah menenteng dua botol minuman ringan serta satu bungkus hot dog itu sekilas mirip dengan seseorang.

"Eoh? Nugu? Apa dia teman Appa? Neomu yeppo"

Yunho yang sudah mulai bisa menenangkan diri dari kejadian bertemu dengan Sooyung, kembali bersikap biasa.

"Hum, dia adik dari sahabat Appa"

"Aaaaah, anyeong nae Kim Jaejoong imnida, bangapsumnidaaaa"

"Kim Jaejoong?" selidik Sooyung.

"Neeee Kim Jaejoong, Joongie anaknya Appa Yunyun"

Sooyung yang menyadari ada ketidakberesan hanya menatap Yunho penuh tanda tanya.

"Jae, kau kembali ke mobil dulu Appa harus bicara dengan Sooyung noona"

"Neeeee, bye noona cantik"

Saat Jaejoong berjalan menjauh, Sooyung menarik lengan Yunho dengan tatapan curiga dan raut wajah yang sulit diartikan.

"Oppa, ada apa ini? Apa benar dia anakmu? Kau sudah menikah? Kenapa marga kalian berbeda? Marganya Kim, seperti marga...oh Tuhan jangan bilang kalau anak itu"

"Ne, dia anak Oppamu dan Heechul"

Mata Sooyoung melebar, ia terkejut bukan main akan ucapan Yunho.

"A-apa itu benar? Be-benarkah dia anak Siwon Oppa?"

Yunho mengangguk.

"J-Jadi, saat di gereja waktu itu, bayi yang...bayi yang sedang dibaptis adalah?"

Yunho kembali mengangguk.

"Dan Oppa ayah baptisnya?"

"Ne, Jaejoong adalah anak baptisku dan Siwon yang memintaku untuk menjaganya dari keluargamu, dia tidak ingin mereka menemukan Jaejoong karena takut keluargamu akan melakukan sesuatu yang buruk pada Jaejoong"

"Oppa! Apa keluargaku se-begitu jahatnya? Kami memang sedang mencari anak Siwon Oppa keunde kami tidak akan melakukan hal buruk terhadapnya"

"Benarkah? Bukannya Choi ahjussi sangat membenci Heecul karena sudah membuat Siwon meninggalkan kalian?"

"Appa memang tidak menyukai Heechul Oppa, tapi kami tidak pernah membenci darah daging keluarga kami sendiri, aku bahkan ditugaskan mencari keturunan Siwon Oppa karena kudengar Heechul Oppa hamil, Appa sangat ingin bertemu dengan cucunya"

Yunho terlihat berpikir, ia yakin Sooyung tidak berbohong, karena yeoja manis itu adalah yeoja yang tidak pandai berbohong sejak kecil, Yunho sangat mengenalnya. Choi Sooyung adalah anak kedua dari klan Choi, usianya sama dengan Yuchun dan bagi Yunho, Sooyung sudah seperti adik perempuannya.

"Dia belum tahu yang sebenarnya Sooyung~ah, aku belum mengatakan apapun padanya"

"Kalau begitu biar aku yang akan mengatakannya, dia harus mengetahui bahwa kakeknya sedang mencarinya Oppa"

"A-aku yang akan bicara padanya nanti Soo"

Yunho menarik tangan Sooyung saat yeoja cantik itu akan pergi menemui Jaejoong yang sedang duduk tenang di mobil.

"Appaku sudah tua Oppa, kondisinya kurang bagus akhir-akhir ini, Appa sangat ingin bertemu dengan anak Siwon Oppa, kumohon mengertilah Oppa"

"Keundeu, tidak bisakah kau tidak membawanya? Maksudku..."

"Soal itu aku hanya bisa serahkan pada Appa, dia bagian keluarga Choi tentu saja seharusnya ia berada di lingkungan keluarga kami"

Ucapan Sooyung membuat Yunho berpikir, itu benar semua benar, Jaejoong tidak memiliki ikatan darah dengannya, ia hanya seseorang yang ditugaskan untuk menjaga namja cantik itu, selagi Jaejoong masih memiliki keluarga ia tidak berhak mencampuri atau menghalang keinginan Jaejoong untuk tinggal bersama keluarganya. Dan kalau sudah begitu Jaejoong akan kembali kepada mereka dan tidak lagi tinggal bersama Yunho.

Yunho dan Sooyung yang masih mengobrol bersama, tidak menyadari bahwa si cantik Kim itu melihat kebersamaan mereka, Jaejoong menganggap bahwa yeoja manis itu adalah kekasih Appanya, terlihat mereka begitu dekat dan intim. Hatinya mendadak panas dan terasa tidak nyaman.

BRUK~

"Appa tidak boleh menyukai yeoja itu! Yunho Appa hanya milik Joongie" ucapnya kesal sambil memukul dashbor mobil, cemburukah?

TBC

Dua chap lagi selesai ^^ terima kasih dukungannya