Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada para readers yang sudah mereview fic ini.

Dan buat :

*Thia2rh & Vampire 9irl : sorry baru bisa update skr, cz lagi sibuk2nya kuliah.

*Riku Aida : untuk GaaSaku yg pasti gak mungkin. merekakan saudaraan...

Buat yang dah nunggu lanjutan fic ini, silahkan puaskan rasa penasaran kalian.


Chapter lalu :

Terlihat Naruto tengah berlari menuju kamar sakura, mungkin maksudnya ingin membangunkannya. Tapi apa yang dia lihat di kamar Sakura membuatnya berteriak, sehingga tidak hanya memebangunkan Sakura sajan namun juga orang-orang yang ada di rumah itu. Kakashi, Sasori, Konohamaru, dan juga Tsunade berlari menuju ke arah kamar Sakura, ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat seorang Namikaze Naruto berteriak pagi-pagi buta.


2nd Chapter

"Ada apa, Naruto?" tanya Tsunade yang telah terlebih dulu sampai sebelum yang lainnya. Namun, yang di tanya hanya bisa menunjuk tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.

Tsunadenpun melihat kesrah tempat tidur dimana Sakura masih tertidur lelap dengan Gaara yang memeluk dan menenggelamkan kepalanya kali ini di dada Sakura.

Di belakang Tsunade, Kakashi dan Sasori juga ikut melihat. "Ku kira ada apa." kata Kakashi dengan suara yang masih mengantuk.

"Kakashi-niisan, tidak lihat mereka sedang apa." kata Naruto kaget dengan penuturan orang yang telah dianggapnya sebagai guru itu.

"Memangnya mereka sedang apa. Aku sih tidak heran, karna biasanya kami berempat bahkan tidur bersama-sama." lanjut Kakakshi lagi, kali ini diikuti anggukan dari Sasori.

"APA?" teriak Naruto di dekat telinga Tsunade, yang membuatnya mendapat jitakan super-duper keras.

Pagi hari, ruang makan,

"Ohayo, minasan." kata Sakura dari arah pintu ruang makan dengan nada ceria.

"Ohayo, Saku. Lalau bagaimana pekerjaan semalam?" tanya Tsunade sambil mengoleskan selai di roti tawar dan menyerahkannya ke arah Sakura.

"Bosan." jawab Sakura sekenannya sambil melahap roti yang tadi di sodorkan oleh ibunya.

"Kenapa?" tanya Tsunade lagi.

"Pekerjaan beberapa minggu ini tidak menyenangkan. Apa lagi semenjak para Uchiha-Uchiha itu tidak ikut terlibat." balas Sakura dengan nada malas.

"Baiklah kalu begitu. Akan ku carikan pekerjaan yang mengikut sertakan Uchiha." jawab Tsunade enteng. Membuat senyum Sakura terkembang.

"Arigato, Kaa-san." ucap Sakura senang.

"Lagu pula, beberapa hari ini aku dengar ada bocah Uchiha baru yang akan bergabung dengan organisasi." tambah Tsunade. "Kakashi." putra sulungnya langsung mengalihkan pandangan ke arah ibunya. "Cari tau siapa bocah baru itu." timpal Tsunade setelah yakin Kakashi mendengarnya dengan serius.

Kakashi tau setiap kali ibunya berbicara harus di dengarkan dengan serius dan sungguh-sungguh. Dia tidak mau mengalami hal sama seperti Sasori, adiknya. Dengan segera setelah mereka selesai sarapan, Kakashi segera menghubungi salah seorang temannya. "Shikamaru, cari tau semua tentang bocah Uchiha yang baru itu." perintahnya pada lawan bicaranya yang berada di sisi lain.

"Mendokuse. Baiklah, nanti ku kabari lagi." setelah itu terdengan suara telepon di tutup.

Halaman rumah,

"Gaara, ayo berangkat. Kalau tidak cepat-cepat ku tinggal lho." teriak Sakura dari dalam mobil Ferarri Dino merahnya.

Setelah Gaara masuk, belum sempat di memakai sabuk pengaman, Sakura sudah tancap gas. Hal itu sukses membuat Gaara mengumpat kesal.

"Dimana Sasori?" tanyanya setelah mobil berhenti karna lampu merah.

"Katanya dia mau berangkat lebih awal. Dia membawa mobil baruku lagi." keluh Sakura, lalu kembali tancap gas setelah lampu beruh hijau. Setelah menurunkan Gaara Di halaman KHS, Sakura kembali membelah jalanan menuju kampus Konoha Fire University. Setelah memarkirkan mobilnya, ketika hendak masuk kedalam kampus, dia melihat Sasori yang sedang memamerkan mobil miliknya di parkiran. Sebuah ide muncul di benaknya.

"Hey, Sasori. Kembalikan mobil MILIKKU." teriak Sakura sambil berjalan anggun ketempat kakaknya berada. Semua perhatian para wanita yang tadinya tertuju pada Sasori kini beralih pasa Sakura.

"Jadi, ini milik Sa-ku-ra." ledek Kankuro yang berdiri di samping Sasori, lalu tertawa terbahak-bahak. Kerumunan itupun bubar dengan sendirinya.

Dalam kelas,

"Hey, Sakura." sapa seorang gadis cantik berambut kuning hampir pirang dan berwarna biru laut.

"Pagi juga, Ino." balas Sakura, lalu duduk di sebelah sahabatnya itu.

"Eh, sudah dengar belum. Katanya ada anak baru." kata Ino, membuka gosip hariannya. "Terus dari yang ku dengar, dia sangat tampan." tambahnya dengan suara kecentilan yang mulai keluar.

Lalu, seorang dosen memasuki kelas Sakura, di belakang dosen itu seorang pemuda berambut hitam kebiruan bergaya seperti pantat ayam, bermata onix, berkulit pucat, dan tampan mengekor dosen itu.

"Selamat pagi, sayangku semuanya." sapa dosen yang sudah lumayan tua, tetapi masih genit itu kepada seluruh murid-muridnya-dalam tanda kutip murid perempuan. "Hari ini kita mendapatkan teman baru." tambahnya lagi, lalu mempersilahkan pemuda tadi memperkenalkan dirinya.

"Ohayo, minasan. Perkenalkan namaku Sasuke. Uchiha Sasuke." katanya singkat, padat, jelas.

Seketika itu juga banyak murid perempuan yang memberondong Sasuke dengan berbagai macam pertanyaan, seperti alamat rumah, status, nomor hp, dll. Sedangkan yang ditanya hanya diam tanpa kata. Dia lalu, menuju bangku yang tadi ditunjuk oleh dosen tua itu.

"Baiklah, murid-muridku. Hari ini sampai disini saja ya. Jangan lupa kalian belajar, untuk tes minggu depan." kata dosen itu lagi sebelum melenggang keluar kelas, didikuti sahutan para murid-muridnya, "baik, Jiraiya-sensei."

"Kira-kira apa yang dia lakukan sekarang ya, Sakura?" tanya Ino tiba-tiba dengan malas.

"Kau seperti tidak kenal dengan pak tua itu saja. Pastinya sekarang dia sedang mengintip dosen-dosen wanita lainnya di kamar mandi." jawab Sakura enteng.

Dari arah pintu kelas Sakura, tiba-tiba seorang pemuda dengan rambut gaya nanas masuk dan menghampiri Sakura. "Aku ingin bicara sesuatu." katanya.

Sakurapun pamit pada Ino dan keluar bersama pemuda bernama Shikamaru itu. Di sudut pojok kanan, terlihat Sasuke mengawasi tingkah laku mereka berdua. Di depan kelas , shikamru menyerahkan sebuah amplop coklat berisi dokumen hasil permintaan dari Kakashi pagi ini. Setelah itu, pemudaitupun meninggalkan Sakura yang masih melihat-lihat isi dokumen tersebut.

Wajah Sakura berubah menjadi pucat saat ia melihat halaman pertama dalam dokumen itu yang menyertakan sebuah foto tentang orang yang mereka selidiki.

'Dia? Tidak mungkin.' Batin Sakura tak percaya.