Ini adalah editan dari 3th chapter, yang ada sedikit kesalahan.
Untuk :
*Vampire 9irl : thanks bgt buat reviewnya.
Chapter lalu :
Wajah Sakura berubah menjadi pucat saat ia melihat halaman pertama dalam dokumen itu yang menyertakan sebuah foto tentang orang yang mereka selidiki.
'Dia? Tidak mungkin.' Batin Sakura tak percaya.
3th Chapter
Cepat-cepat ia kembali ke kelas setelah memasukkan kembali dokumen ke dalam amplopnya lagi, dan menghampiri Ino yang tengah asik bertelepon ria, mungkin dengan pacar barunya. Ino yang melihat Sakura kembali, segera menghentikan pembicaraannya dengan orang yang sedari tadi ia telepon.
"Ada apa, Sakura?' tanya Ino khawatir, sebab melihat perubahan wajah sahabatnya itu berubah menjadi pucat.
"Tidak ada apa-apa kok, Ino. Aku pulang dulu, ya." pamitnya sambil membereskan barang-barangnya ke dalam tas. Sesekali dia melirik pemuda yang ada di pojok kanan, yang sedari tadi melihatnya penuh curiga. 'Dia tidak boleh tau siapa aku.' batin Sakura.
"Tapi, SAKURA." teriakan Ino tidak di pedulikan Sakura yang langsung keluar kelas tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
Sembari berjalan keluar kampus, dia menelepon Gaara untuk menunggunya di depan KHS. Sakura segera menstarter mobil Bugatti Veyron miliknya. Di belakangnya Sasori dan Kankuro tengah mengekorinya. Setelah menjemput Gaara, mereka segera pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah,
"Ada apa sebenarnya, Sakura?" tanya Kankuro yang ikut berjalan cepat di samping Sakura heran. Sasori dan Gaara yang mengikutinya di belakang juga tak mengerti apa yang tengah terjadi.
"KAKASHI!" teriak Sakura ketika membuka pintu rumah dengan tergesa-gesa. Orang yang dicari malah berjalan pelan tanpa ada beban yang mengantung.
"Kenapa teriak-teriak, Saku." kata Kakashi masih tak mengerti ada apa dengan adik tersayangnya ini.
"Lihat ini." jawab Sakura seraya menyodorkan amplop dari Shikamaru tadi. "Ini hasil permintaanmu, dari Shikamaru pagi tadi." lanjutnya. Kemudian menghempaskan diri di sofa ruang tamu, sambil meminum air putih yang tadi sempat di bawa oleh Kakashi.
"Lalau kenapa?' tanya Kakashi dengan nada tidak mengerti setelah melihat isi smplop yang di berikan Sakura.
"Masalahnya adalah-" perkataan Sakura terpotong karena dia sangat haus. "Karena bocah itu adalah murid baru di kelasku." lanjutnya lagi.
"Apa?" kali ini Sasori yang terlihat kaget dengan pernyataan Sakura barusan. "Tapi, dia mengenalimu kan?" imbuhnya lagi.
"Tentu saja tidak, baka." balas Sakura tak mau kalah. "Kau kira aku orang seperti apa, yang gampang sekali ketahuan."
Malam hari,
"Sakura, kita mendapat permintaan yang menarik. Dan Kaa-san yakin Uchiha pasti akan terlibat kali ini." tiba-tiba Tsunade berkata pada putrinya setelah selesai makan malam.
"Hn. Kapan?" tanya Sakura sambil menyeruput teh hijau dalam cangkir porselen di tangannya.
"Tiga hari lagi. Pada peresmian sebuah hotel di Konoha." jelas Tsunade.
"Siapa, Kaa-san?" kali ini Gaara yang bertanya. Sambil memainkan pisau buah yang segera diambil alih oleh Sakura untuk memotong apel.
"Hyuuga Hiashi." tambahnya. Lalu, mengambil apel yang telah di potong-potong oleh Sakura tadi. "Tapi, kali ini dia meminta Kakashi yang melakukannya." imbuh Tsunade.
"Ya, tak apalah. Yang penting aku bisa bermain-main dengan bocah Uchiha itu." balas Sakura dengan sedikit rasa kecewa. "Dan siapa tau aku bisa ketemu-" lanjutnya dengan sedikit malu-malu.
"Hyuuga Neji." sambung Sasori memotong perkataan Sakura seenaknya.
"Hyuuga Neji?" tanya Tsunade penuh tanda tanya. Lalu, berpaling melihat putrinya yang kini wajahnya mulai memerah karna malu. "Apa maksudnya, Sakura?" lanjutnya.
"Dia suka pada bocah Hyuuga itu, Kaa-san." terang Sasori, menyela sakura yang baru membuka mulut untuk menjawab dan menjelaskan.
"Tidak! Siapa yang bilang aku suka padanya?" tantang Sakura balik.
"Barusan aku yang bilang kan." balas Sasori enteng, tanpa mempedulikan orang-orang yang sedang heran di sekitarnya.
"Sakura." kali ini sela Tsunade. "Kapan kalian bertemu? Dimana?" ibunya kini ingin tau tentang apa hubungan antara putrinya dengan salah satu calon pewaris Hyuuga itu.
"Itu..." Sakura bingung bagaimana menjelaskan tentang Hyuuga Neji pada ibunya. "Sebenarnya, sebenarnya, dia adalah senpai ku di kampus, Kaa-san." jawab Sakura sedikit lirih.
"Apa maksudnya?" tanya Tsunade masih tak mengerti dengan kata-kata putrinya itu.
Sasori yang tau dengan maksud Kaa-sannya pun menjelaskan. "Begini Kaa-san, sewaktu Sakura baru masuk kampus. Bocah Hyuuga itulah yang sering membantunya jika dalam masalah."
Tsunade mengangguk pada penjelasan putranya itu, lalu ia berpaling pada putrinya lagi. "Oo... lalu apa hubungan kalian berdua?"
"Kami tidak ada hubungan apa-apa kok, Kaa-san." jawab Sakura.
"Dia itu menyukai bocah Hyuuga itu," potong Sasori LAGI. "Dan sepertinya, Bocah Hyuuga itu juga punya perasaan yang sama pada Sakura."
"Baiklah, persoalan tentang bocah Hyuuga ini kita hentikan dulu. Yang lebih penting adalah tentang pekerjaan kali ini." Perintah Tsunade yang sudah bosan mendengar nama Hyuuga disebut-sebut.
Tiga hari kemudian, paginya,
"Jadi, kalian sudah mengerti apa tugas dan siapa yang akan menjadi tanggung jawab kalian masing-masing?" tanya Kakashi meyakinkan, bahwa semua akan berjalan sesuai rencana.
"Hai." jawab sisa orang yang berkumpul disana berbarengan.
"Sakura, kau juga harus memperhatikan gerak-gerik bocah Hyuuga itu. Karna yang ku dengar, dia juga mempunyai beberapa keahlian di bidang bela diri dan senjata." lanjut Kakashi.
"Hn. Tenang saja, aku pasti berhati-hati. Pekerjaan adalah pekerjaan." kata Sakura meyakinkan Kakak sulungnya itu.
"Bagus." anggunk Kakashi sebagai tanda puas atas jawaban adiknya itu.
"Shikamaru, bagaimana dengan kamera pengintai yang ada disana?" Kakashi berpaling pada pemuda berambut nanas yang duduk di sebelahnya itu.
"Semua sudah beres, Bos. Hanya tinggal di gunakan saja." jawab pemuda itu sambil sesekali menguap.
"Sasori, bagaimana dengan tempatnya?" kali ini dia berpaling pada pemuda berambut merah di depannya.
"Beres. Aku sudah menghafalkan semua jalan pintas yang ada disana, bahkan gorong-gorong tikus yang bisa digunakan apabila terdesak." jawabnya sambil mengacungkan kedua jempol kanan kiri.
"Oya, lalu, dimana Gaara?" sekarang baru dia sadari bahwa adik bungsunya tidak ada di ruang rapat sejak awal tadi.
"Dia sedanga mengambil pakaian yang sudah di pesan Kaa-san untuk kita dalam pekerjaan kali ini." kali ini Sakura menjawab dengan malasnya.
"Kira-kira pakaian apa ya, yang akan kita pakai untuk acara formal ini?" kali ini Naruto ikut berbicara.
Halaman depan,
"Gaara, apa sebanyak ini?" suara Kankuro terdengar dari arah belakang pemuda berambut merah.
"Ya, aku sendiri tidak tau. Karna hanya di suruh mengambil saja." jawab Gaara enteng, sambil menjinjing sebuah tas dan berjalan masuk ke dalam rumah. Sementara Kankuro yang ada di belakangnya membawa beberapa men suit.
Di dalam rumah,
"Tadaima." teriak Gaara tanpa peduli kalau sekarang sedanga ada rapatdi ruang tamu.
"Hei, apa yang kau bawa Gaara?" tanya Naruto menghampiri Gaara, dengan rasa ingin tau yang super tinggi.
"Dress." yang di tanya hanya menjawab dengan enteng.
"Hah! Untuk apa kau memakai itu? Kau masih normalkan?" teriak Naruto kaget.
"Tentu saja aku masih normal, BAKA!" jawab Gaara ketus, lalu menjitak kepala Naruto. "Nee-chan, ini." Gaara lalu menyodorkan tas yang berisi dress pada Sakura.
"Heh? Ini punyaku?" tanya Sakura setelah membuka isi tas yang di berikan Gaara padanya.
Dalam tas itu terdapat sebuah dress selutut, berwarna hijau, yang berhiaskan bunga-bunga sakura kecil pada bagian bawah dress tersebut.
"Woah, Sakura. Aku tidak sabar melihatmu memakai dress itu." kata-kata Naruto membuyarkan keheningan sesaat yang ada.
Kemudian, Kankuro menyodorkan sebuah jas berwarna hitam dengan kemeja putih pada Kakashi. Sebuah jas berwarna putih dengan kemeja merah, segera di ambil oleh pemiliknya, Gaara. Sedangkan Sasori mendapat sebuah jas berwarna hitam. Sedang yang tersisa hanya sebuah jas berwarna hijau gelap dengan kemeja warna putih bermotif garis-garis. Ya tentu saja itu adalah milik Shikamaru.
"Lalu, bagaimana dengan ku?" tanya Naruto seperti anak kecil yang tidak kebagian permen gratis.
"Bukankah di rumahmu kau memiliki beberapa jas?" tanya Gaara kembali.
"Oh, iya benar." cengirnya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Kalau begitu, aku pulang dulu ya. Kita ketemu di sana saja langsung." teriaknya lagi sambil berlari keluar rumah.
Malam hari, pukul 17.00,
Terlihat Sakura, Saori, Gaara, dan Kakashi tengah bersiap-siap di kamar masing-masing. Memang acara yang di maksud di mulai pada pukul 19.00, tetapi mereka harus bertemu dan berkumpul di sana setengah jam sebelum acara.
Setelah selesai bersiap, mereka berempat segera menuju garasi. Dimana mobil yang akan mereka pakai telah siap menunggu dengan anggunnya. Kakashi dan Sasori memasuki mobil Aston Martin One-77 berwarna hitam metalik. Sementara, Sakura dan Gaara segera menaiki Chrysler Me-412 berwarna hitam.
Beberapa saat kemudian, kedua mobil mewah itupun meninggalkan kediaman Senju. Tidak sampai satu jam mereka telah sampai di depan sebuah hotel mewah yang baru saja berdiri. Kakashi melirik jam Armani AR4639 dipergelangan tangan kanannya, yang telah menunjuk angka 7.
Mereka berempat turun dari mobil masing-masing, dan berjalan menuju pintu depan. Disana Naruto dan Shukamaru telah menanti. Mereka bereman pun menuju meja penerima tamu, setelah sedikit basa-basi dengan wanita yang ada disana, Kakashi kembali dengan memberi setiap orang sebuah bunga berwarna perak, khas klan Hyuuga.
"Hoy, Teme." teriak Naruto pada seorang pria berambut hitam kebiruan, yang kemudian berbalik mencari asal sumber suara yang memanggil namanya.
Pria itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Uchiha Sasuke berjalan kearah Naruto, sambil berkata, "Dobe, hn."
Sakura yang melihat kejadian ini sangat terkejut. 'Naruto kenal dengan dia.' Batinnya.
"Oya, kenalkan. Ini sepupuku, Sakura." Naruto menunjuk Sakura pada pria itu.
"Aa. Kami sudah saling kenal." jawab Sasuke singkat.
"Kapan, dimana?" Naruto mulai memberondong Sasuke dengan pertanyaan.
"Di kampus. Dia murid baru di kelas Jiraiya sensei." kata Sakura tanpa memandang Sasuke sedikitpun.
"Oo. Jadi, kalian sekelas pada mata kuliah Ero Senin." ulang Naruto lagi.
"Siapa dia, Naruto?" tanya Kakashi menunjuk Sasuke. Di belakangnya Sasori, Gaara, dan Shikamaru berjejer rapi, seperti pengawal yang mengawal bos besarnya.
"Oh, ni Sasuke." jawab Naruto enteng.
Mendengar nama yang disebut Naruto, Kakashi langsung menyipitkan mata dan memandang pria yang lebih muda didepannya ini dengan serius. Kemudian, menjulurkan tangan untuk berjabatan yang di balas juga oleh Sasuke.
"Senju Kakashi." katanya.
"Uchiha Sasuke." balas Sasuke, tanpa mengedipkan mata sekalipun.
"Ah, Sakura." sebuah suara maskulin terderang, memecah hawa-hawa pembunuh yang mulai keluar.
"Ah, Neji Senpai." sapa Sakura dengan suara yang dibuat seceria mungkin.
Melihat ada orang lain yang bergabung, Kakashi segera melepaskan tangan Sasuke, dan berpaling menyapa Hyuuga muda itu.
"Yo, Neji." sapa Kakashi sambil melabaikan tangan. Yang di sapa hanya membungkukan badan, sebagai balasan.
"Aku tidak tau kau juga diundang, Sakura." kata Neji, kembali berpaling melihat Sakura dari atas ke bawah. "Kau cantik malam ini," imbuhnya.
"Arigato, Senpai." balas Sakura malu-malu.
"Hai, Neji-kun." jawab gadis berambut pink itu.
"Oya, Sakura. Aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang." kata Neji tiba-tiba, sambil menawarkan tangannya untuk digandeng oleh Sakura.
Di tempat lain,
"Hiashi-sama." panggil Neji sesopan mungkin pada pria paruh baya yang tengah berbincang-bincang dengan rekan bisnisnya.
"Ada apa, Neji?" tanya pria itu. Dari suaranya saja kita dapat merasakan betapa tinggi derajat orang ini.
"Saya ingin mengenalkan seseorang pada anda." jawab Neji, sedikit malu-malu. "Ini Senju Sakura." Neji sedikit mendorong Sakura maju.
"Oh, Senju. Cantik sekali. Apa dia calonmu, Neji?" Hiashi memandang wajah keponakannya dengan serius dan ada rasa bangga di dalamnya.
"Em, belum. Maksud saya bukan." ralat Neji dengan cepat.
"Begitu. Tapi, bila memang dia calonmu, aku akan memberikan restuku padamu, Nak." lanjut Hiashi.
Kata-kata pria barusan itu sukses menbuat semburat merah muncul di kedua pipi sakura. Dia lalu menundukkan kepalanya, karna malu.
"Kalau begitu, selamat menikmati pesta ini." kata Hiashi lagi. "Calon memantu." tambahnya dengan tertawa.
Setelah itu, Hiashi kembali berbincang-bincang dengan rekan bisnisnya yang lain.
"Gomen, Sakura. Pamanku suka bercanda." kata Neji memecah keheningan.
"Tidak apa-apa." balas Sakura, kali ini sudah tidak menundukkan kepala. Namun, memandang wajah tampan Neji di depannya.
"Tapi," kata-katanya mengantung. "Bagaimana kalau aku memang berharap begitu." lanjutnya lirih. Tapi, masih bisa di dengar Sakura.
Tiba-tiba, ponsel milik Sakura berbunyi. Sakurapun menggangkatnya, di ujung lainnya sebuah suara terdengar. Ia tau kalau yang meneleponnya adalah Kakashi.
"Sudah waktunya, Sakura." kata suara itu.
Buat 4th chapter tunggu aja ya...
