Buat semua readers fic ini, saya bener-bener minta maaf.

Karena baru sekarang saya bias meng-update fic ini.

Semoga chapter kali ini dapat mengobati rasa penasaran dan menambah lagi rasa penasaran para readers.

Akhir kata,

Happy reading.

Chapter lalu :

Tiba-tiba, ponsel milik Sakura berbunyi. Sakurapun menggangkatnya, di ujung lainnya sebuah suara terdengar. Ia tau kalau yang meneleponnya adalah Kakashi.

"Sudah waktunya, Sakura." kata suara itu.

4th Chapter

Setelah menutup sambungan. Sakura segera pamit pada Neji.

"Gomen, Neji-kun. Sepertinya, Nii-san sedang mencariku." kata Sakura.

"Tak apa. Pergilah." balas Neji. Sebenarnya dia masih ingin berduaan dengan Sakura.

Di tempat Kakashi,

"Kemana saja kau, Sakura-chan?" tanya Naruto khawatir.

"Tidak keman-mana. Ayo." kata Sakura tidak menghiraukan pertanyaan Naruto.

Kemudian, mereka berenampun mulai melaksanakan aksinya. Sesampainya di sebuah kamar yang telah jauh hari di pesan. Mereka mempersiapkan senjata masing-masing.

Lalu, mereka membagi kelompok menjadi dua. Kakashi, Shikamaru, dan Naruto, akan menjadi tim pertama. Yang bertugas menghabisi tokoh utama. Sedangkan, Sakura, Gaara, dan Sasori, bertugas menjadi tim kedua. Mereka yang akan menggalihkan perhatian para bodyguard dan orang-orang yang ada di sekitar tokoh utama.

"Sakura, bersiaplah." perintah Kakashi dari ear phone di telinga kanan Sakura.

"Hn." jawab Sakura singkat. M9 Beretta kesayangannya sudah siap di tangan.

"Dalam hitungan ketiga, lampu akan di padamkan oleh Shikamaru. Waktu kita hanya 30 detik." lanjut Kakashi.

"Tenang saja." jawab Sasori yang mendekatkan wajahnya ke Sakura. Sebuah Rugent SR9, telah siap di tangan kanannya.

Sedangkan Gaara yang bertugas sebagai sniper, tengah mempersiapkan sebuah Barrett M98B.

Dalam hitungan ketiga, lampu tiba-tiba padam. Seluruh undangan menjadi sangat panik. Lalu, suara tembakan terdengan dimana-mana.

"Tokoh utama telah di jatuhkan." suara Kakashi kembali terdengar. "Tinggal 10 detik lagi."

Dengan segera Sakura kembali ke kamar hotel tadi. Di sana semua sudah berkumpul.

"Apa ada yang terluka?" tanya Kakashi was-was.

"Iie." jawab mereka serempak.

"Baiklah, sekarang kita kembali ke pesta. Dan beraktinglah sepuas kalian." katanya malas.

Tak lupa sebelum keluar dari kamar, Kakashi melemparkan tas berisi senjata tadi. Di bawah sana, Kankuro telah siap.

Kembali ke dalam pesta,

Sakura segera berlari menuju tempat Neji berada sekarang. Pria itu berdiri mematung, melihat tubuh tak bernyawa milik pamannya. Tak sepatah katapun dia ucapkan.

"Neji-kun?" tanya Sakura khawatir, sambil memegang pundak pria itu.

Neji, lalu melihat ke arah Sakura. Di matanya dapat Sakura lihat sedikit kelegaan dan juga kesedihan.

"Sakura. Kau tidak apa-apakan?" tanyanya, tiba-tiba memeluk tubuh Sakura.

Belum sempat Sakura menjawab tiba-tiba sesosok pemuda berdiri disamping kedua insan itu. Sosok itu tidak lain adalah sang bungsu Uchiha.

"Maaf menganggu anda Hyuuga-sama." kata pemuda itu, diikuti oleh anggukan dari Neji.

"Tidak apa-apa. Ada apa Sasuke-san?" tanya balik Neji pada pemuda tersebut.

"Anda harus segera kembali ke kediaman Hyuuga. Ada sedikit masalah diantara para tetua mengenai kematian Hiashi-sama." lenjut Sasuke menjelaskan.

Neji yang sudah paham akan kondisi ini, mengangguk sekali lagi. Dia lalu berpaling memandang Sakura.

"Maaf Sakura, aku harus pergi. Biar driver yang akan mengantarmu pulang." kata Neji seakan tidak rela meninggalkan gadisnya.

"Tidak apa. Aku bisa pulang sendiri kok." jawab Sakura meyakinkan.

Lalu Neji bersama Sasuke dan beberapa orang lain pergi meninggalkan tempat itu. Setelah melihat punggung Neji yang menghilang di balik pintu, Sakura juga segera meninggalkan tempat itu mencari keberadaan saudara-saudaranya.

Di luar gedung,

Seseorang berambut pirang melambai-lambaikan tangannya kearah sakura, dan berteriak memanggilnya. "Sakura, ayo pulang."

Gadis yang dipanggilpun berlari dan masuk kedalam mobil, yang segera menancap gas keluar menuju jalan raya yang ramai.

"Aku tadi melihat Hyuuga keluar tergesa-gesa." Kakashi yang tengah menyetir sesekali melihat adik perempuannya yang tengah duduk di kursi belakang.

"Katanya para tetua Hyuuga melakukan masalah. Selain itu aku tidak tau." terang Sakura yang tau maksud dari perkataan kakaknya itu.

"Ya, paling tidak pekerjaan kali ini beres." kata Naruto santai.

"Oya, ngomong-ngomong dimana Gaara dan Shika?" tanya Sakura yang baru sadar, kalau mereka berdua tidak ada.

"Sudah pulang lebih dulu. Aku yang memintanya." lanjut Kakashi masih berkonsentrasi menyetir.

Kediaman Senju,

Seorang wanita paruh baya berambut pirang tengah duduk sambil menikmati segelas white wine. Di depannya, dua orang pria dan seorang gadis tengah duduk dan menatap ibu mereka dengan serius.

"Aku baru mendapat undangan dari keluarga Hyuuga." kata Tsunade menggoyang-goyangkan gelas di tangannya.

"Apa Kaa-san akan datang?" tanya Gaara menatap sang ibu.

"Memangnya sejak kapan acara pemakaman merupakan acara yang penting, hah?" tanya Tsunade balas bertanya pada anak bungsunya itu.

"Jadi, kali ini siapa yang datang?" potong Kakashi. "Aku tidak bisa." imbuhnya.

"Gaara, Sakura. Kali ini kalian yang mewakili Kaa-san." perintah Tsunade, diikuti anggukan dari keduanya. "Oya, jangan lupa ajak si pemalas Sasori juga." tambah Tsunade, lalu pergi meninggalkan ruang tamu.

"Tentang Sasori, dimana dia?" tanya Kakashi pada kedua adiknya.

"Entahlah, mungkin bermalas-malasan." jawab Sakura keenaknya.

"Hn," tambah Gaara.

Kediaman Hyuuga,

Neji segera memasuki ruang pertemuan. Disana para tetua telah berkumpul.

"Kami turut berduka cita, Neji-sama." kata salah seorang tetua yang berambut hampir seluruhnya beruban.

"Arigato." balas Neji datar. "Lalu ada masalah apa, sehingga diadakan pertemuan mendadak?" tanya Neji melihat satu persatu tetua yang ada.

"Ini mengenai siapa penerus klan Hyuuga ini." kata seorang tetua yang duduk paling pinggir.

Hal ini sukses membuat Neji men-deathglare orang tua itu.

"Kami tau ini terlalu dini, tapi kami butuh tau siap penerusnya. Agar tidak ada berebutan tentang siapa yang berhak." terang tetua lain yang memandang Neji serius.

Neji memejamkan kedua matanya dan sedetik kemudian membukanya perlahan. Dia menarik nafas dalam sebelum mengeluarkan kata-kata, "tentang hal itu akan diumumkan setelah acara pemakaman Hiashi-sama besok."

Semua yang ada disana merasa sedikit kecewa, namun, mereka akhirnya meninggalkan tempat pertemuan itu. Setelah semua tetua pergi, tinggalah Neji seorang diri disana. Dia terduduk sanbil memundukkan kepala. Tangan sebelah kanan ia hantamkan ke lantai. Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, seorang gadis berambut panjang hitam kebiruan terduduk disamping Neji. Gadis itu tidak lain adalah Hyuuga Hinata, adik sepupunya. Gadis itu menangis tersedu-sedu, terlihat air mata mengalir membasahi kedua pipinya.

"Maafkan aku, Hinata." kata Neji tiba-tiba. "Aku memang orang yang tidak berguna."

"Tidak. Jangan salahkan dirimu Nii-san." kata Hinata sambil memandang Neji dengan sendu.

Neji mengelus ubun-ubun Hinata, dan kemudian memeluknya.

Esok hari,

Pemakaman Umum Konoha,

"-bagi yang keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan-" ucap pendeta, sebelum peti dimasukkan kedalam liang kubur.

Dibarisan terdepan terlihat beberapa keluarga terdekat Hyuuga Hiashi, termasuk Neji, Hinata, dan Hanabi, adik Hinata. Setelah pemakaman selesai, tamu-tamu undangan mulai meninggalkan pemakaman setelah memeberi penghormatan terakhir. Sebelum meninggalkan pemakaman, Sakura, Gaara, dan Sasori menghampiri Neji.

"Kami mewakili seluruh keluarga Senju mengucapkan turut berduka cita." kata Sasori, diikuti anggukan dari Gaara.

"Neji-kun, apa kau sudah baikkan?" tanya Sakura dengan nada khawatir, lalu memeluk Neji.

Pria itu hanya mengangguk dan mempererat pelukannya pada Sakura. Seolah tidak ingin melepaskan gadis yang ada di dalam pelukannya sekarang ini.

"Maaf, tapi, kami harus pergi dulu." potong Gaara.

Sakura segera melepaskan pelukannya pada Neji. Sebelum menyusul Gaara dan Sasori, Sakura mengecup pipi Neji.

"Kalau butuh sesuatu hubungi aku saja," tambah sakura sebelum pergi.

Ketiga Senju itupun akhirnya meninggalkan pemakaman. Setelah beberapa saat mobil itu berhenti tepat didepan sebuah restoran mewah.

Seolah mengerti dengan tatapan kedua adiknya, Sasori menjelaskan. "Aku lapar."

Mereka bertiga memasuki restoran itu. Mereka memilih tempat di pojok. Seorang pramusaji mendatangi meja mereka.

"Apa pesanannya, tuan, nona?" tanya pelayan wanita itu, sesekali mengedipkan sebelah mata ke arah Gaara dan Sasori dengan genit.

"Satu beef-steak middle, dan cappucino latte." kata Sasori tanpa melirik ke arah pelayan genit itu. "Kau apa Gaara?"

"Pesan dua orange juice." potong Sakura sambil melihat kearah si pelayan.

"Baik, pesanan segera datang." kata pelayan itu dengan tidak sopan pada Sakura, seolah menantang.

Setelah peyan itu pergi, mereka kembali terdiam sampai Sasori memecah keheningan.

"Pelayan itu tidak tau diri. Dia kira siapa dirinya, heh!" kata Sasori kesal.

"Dia itu hanya pelayan yang kurang kerjaan." kata Sakura membalas.

Beberapa saat kemudian, pelayan itu kembali dengan pesanan mereka masing-masing. Sebelum pergi, dia sempat sengaja memperlihatkan belahan dadanya pada Gaara. Lalu tersenyum genit sebelum pergi.

"Shit." umpat Gaara kesal.

"Sudah-sudah." potong Sakura.

Sebelum mereka meninggalkan restoran itu, si pelayan genit sempat mengoda Gaara dan melambai-lambaikan tangannya.

Kediaman Senju,

Sesampainya dirumah, Gaara segera menghempaskan dirinya di sofa ruang tamu diikuti oleh Sakura.

"Kenapa kau, Gaara?" tanya Naruto menepuk bahu Gaara dari belakang.

"Seorang pelayan genit merayunya." jawab Sakura menggantikan Gaara.

"Ha-ha-ha." Naruto yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya yang mulai sakit.

"Diam kau, Baka." teriak Gaara marah, yang malah membuat Naruto makin keras tertawa.

Karena kesal, Gaara pergi menuju kamarnya dilantai dua.

Malam hari,

Kediaman Senju,

Sakura tengah menonton program berita ditelevisi bersama Kakashi. Tiba-tiba, Shizune datang mendekati kedua orang tersebut.

"Maaf, Sakura-sama." kata Shizune menarik perhatian Sakura dari layar televisi.

"Ada apa, Shizune?" tanya Sakura

"Ada telepon untuk untuk nona." jawabnya.

"Dari siapa?" tanya Sakura lagi, meraih telepon dari tangan Shizune.

"Tidak tau, nona." kata Shizune berlalu.

'Kira-kira dari siapa ya?' batin Sakura.

"Halo, siapa ini?" tanya Sakura pada si penelepon misterius.

"Senju Sakura." jawab si penelepon.

"Ya. Siapa ini?" tanya Sakura masih penasaran.

"Uchiha Sasuke." akhirnya si penelepon membuka kedoknya.

Mendengar jawaban dari si penelepon sukses membuat wajah cantik Sakura berubah pucat. Kakashi yang ada disampingnya merasa khawatir dengan adik perempuannya.

"Apa maumu?" balas Sakura, berusaha menyembunyikan rasa kagetnya.

"..."

"Hey, apa maumu?" bentak sakura tidak sabar.

"..."

"Kalau kau tidak menjawab, kumatikan saja." kata Sakura akhirnya.

"Aku tau-" akhirnya ada jawaban dari sebrang.

"Tau apa, heh?" potong sakura cepat.

"Aku tau siapa pembunuh Hyuuga Hiashi." jawab Sasuke.

Review, Review, Review

Pwease,