Kyuhyun menatap nanar wajah manis sang istri yang sedang tertidur pulas di sampingnya. Ia menggunakan tangan kanannya yang bebas untuk menopang kepala sang istri, sedangkan tangan kirinya ia pergunakan untuk mengelus pipi kenyal istrinya.

"Maafkan aku, andai pertemuan kita tidak terlalu terlambat seperti ini."

Setelah puas memandang wajah sang istri, Kyuhyun pun mengakhiri dan memutuskan untuk ikut pergi tidur, Kyuhyun mencium kening istrinya, membiarkan tangan kanannya tetap berada di bawah kepala istrinya dan lengan kirinya beralih untuk mendekap tubuh sang istri.

"Selamat tidur, Cho Sungmin."

Jam digital yang berada di kamar luas tersebut menunjukan pukul 1 malam. Larut sekali, lalu apakah Kyuhyun tidak bisa tertidur hingga ia masih terjaga pada jam-jam seperti ini? Jawabannya tidak. Kyuhyun memang selalu menyempatkan diri terbangun untuk sekedar menatap, mencium dan mendekap istrinya. Lebih mudah jika sang istri sedang tidur pulas seperti ini.

Mudah?

Well, we'll see...

.

.

.

.

.

Sungmin terbangun saat cahaya matahari menelusup masuk ke jendela kamar. Sungmin mengedarkan pandangannya sebentar lalu beranjak pelan-pelan menuju kamar mandi. Memegangi kepalanya yang seketika berdentum sakit, karena anemia nya selalu kambuh jika pagi hari begini.

"Selamat pagi, sayang." Suara bass itu menyambut langkah Sungmin saat ia menuruni lantai menuju ke arah ruang tamu.

"P-pagi Kyuhyun" Sungmin merutuki dirinya yang masih belum bisa mengubah kegugupan dalam suaranya.

"Kamu mau makan apa pagi ini? Kemarilah" Kyuhyun melambaikan tangannya menyuruh Sungmin untuk duduk di sebelahnya.

"T-terserah kau saja Kyuhyun." Sungmin duduk di sofa samping—seberang Kyuhyun.

"Hn, kalau begitu biar kupikirkan" Kyuhyun mendekatkan jarak diantaranya dan Sungmin. Mengelus rambut dan pipi Sungmin. Sungmin bereaksi seperti biasa. Kalian tahu? Gemetaran dan menundukkan kepalanya dalam-dalam dengan tangan yang menyatu takut di pahanya.

Kyuhyun yang sudah terbiasa diperlakukan seperti ini hanya bisa menampilkan senyum sendunya pada Sungmin. Ia mengelus-elus tangan Sungmin yang gemetaran, menyiaratkan agar lengan Sungmin menjadi lebih rileks.

"Kita makan pancake dan susu hangat buatanmu saja bagaimana, hm?" Dengan menggunakan tangan kanannya yang bebas Kyuhyun mengangkat dagu Sungmin perlahan, agar wanita itu mau melihat wajahnya.

"B-baik, akan kubuatkan untuk Kyuhyun" Sungmin masih terus berusaha—tentu saja.

"Kamu selalu terlihat cantik, jangan tundukkan kepalamu terus" Sambil tersenyum teduh, Kyuhyun pun menarik Sungmin ke arah dapur. "Ayo"

.

.

.

.

.

Kyuhyun menatap punggung sang istri yang sibuk berkutat di dapur mereka.

Lalu secara tiba-tiba Kyuhyun melayangkan pikirannya menuju beberapa bulan silam.

Kalian bertanya-tanya kan, mengapa Sungmin bertingkah laku seperti itu?

Kronologinya seperti ini Kyuhyun menemukan Sungmin di jalanan sedang berjualan kue-kue ringan—yang Kyuhyun yakin buatannya Sungmin sendiri sekitar 1 bulan yang lalu. Singkat saja, love at first sight you know.

Kyuhyun langsung jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat Sungmin saat itu. Kyuhyun tidak memperdulikan pangkatnya yang seorang Eksekutif muda berpenampilan kelewat rapi langsung saja menghampiri Sungmin saat itu.

Untuk basa basi Kyuhyun membeli beberapa kue-kue yang di sajikan di tempat jualan sederhana Sungminnya.

Kyuhyun terkejut saat Sungmin benar-benar tidak mau menatap dirinya yang posisinya sebagai pembeli itu.

Sungminnya juga seperti gemetaran saat memberikan pesanannya, dan kata-kata yang dikeluarkan dari bibir M-shape itu terbata-bata gugup sekali.

Kyuhyun tak bisa melakukan apapun selain hanya bisa mengernyitkan dahinya.

Karena penasaran, Kyuhyun menunggu pembeli lain datang untuk membeli kue-kue ringan ini. Kyuhyun ingin melihat reaksi Sungmin pada pembeli lain, apakah hanya pada dirinya Sungmin gemetaran gugup seperti itu?

Dan

BINGO!

Ternyata tidak hanya pada dirinya, Kyuhyun sudah menghitung sekitar tiga laki-laki yang datang membeli, dan reaksi Sungminnya sama seperti pada Kyuhyun tadi.

'Apa dia memiliki trauma pada laki-laki?' Segelintir pemikiran Kyuhyun dari otak jeniusnya yang tidak meleset sama sekali.

Kyuhyun yang sejak saat itu sudah memutuskan akan menjadikan Sungmin sebagai miliknya, jadi tak gentar mendekati dan mencoba untuk mengambil hati Sungminnya.

Waktu selama satu bulan ini di pergunakan Kyuhyun untuk melangsungkan pernikahannya dengan Sungmin.

Kyuhyun bertindak nekat seperti itu karena Kyuhyun tahu, Sungmin hanya hidup sebatang kara di Seoul ini. Tidak ada teman maupun saudara yang ia kenal.

Kyuhyun bertanya kenapa bisa seperti itu?

Tentu saja Sungmin tak menjawabnya sampai sekarang.

Kyuhyun yakin seiring waktu berjalan, maka Sungmin pun akan mau membuka hatinya

untuk Kyuhyun dan akan menjelaskan semuanya pada Kyuhyun.

Untuk sementara ini, Kyuhyun hanya mempunyai satu tujuan.

Yaitu melindungi Sungminnya.

Perlukah Kyuhyun tekankan sekali lagi?

Cho Kyuhyun sangat mencintai Lee—Cho Sungmin. Sangat—itu saja.

.

.

.

.

.

"K-Kyuhyun, pancake nya sudah siap" Sungmin dengan gugup meletakan dan menata

makanannya di meja makan.

Kyuhyun tersenyum menyambut Sungmin, menyuruhnya untuk tidak duduk berseberangan

di meja makan melainkan di samping Kyuhyun saja.

Sungmin memulai makannya dalam diam. Sesekali Kyuhyun yang juga menyantap pancake

buatan Sungmin mengulurkan tangannya untuk sekedar menyeka pipi Sungmin yang

sedikit banyak terkena saus pancake.

"Ke kampus hari ini kan?" Kata Kyuhyun

"Iya" Jawab Sungmin

"Keluar jam berapa? Aku akan menjemputmu." Kata Kyuhyun "Oh ya, jangan lupa belilah jeruk sebanyak yang kamu inginkan ya."

"Iya, mungkin jam 5 sore Kyuhyun"

Hanya satu hal yang Sungmin ceritakan tentang hidupnya. Yaitu pendidikannya. Sungmin

Mengatakan dia berjualan kue-kue kering itu semata-mata untuk membiayai biaya kuliahnya

yang dia ingat sempat terhenti itu.

"Panggil aku 'Kyu' saja, hm?" Mata topaz Kyuhyun menatap Sungmin yang masih saja menundukan kepalanya dalam-dalam.

"B-baik"

Kyuhyun tersenyum dan beranjak mengenakan jas kerjanya. Lalu melirik Sungmin yang sedang bersiap-siap dengan peralatan kampusnya.

"Sudah siap?"

Sungmin mengangguk sebagai jawabannya. Kyuhyun lalu menggenggam lengan Sungmin menuju X5 nya. Membukakan pintu dan mulai melesat menuju kampus Sungmin.

"Nanti bersama Hyukie lagi kan?"

"Ya, Tentu Kyu."

Kyuhyun terkekeh geli mendengar namanya disebut dengan gugup seperti itu. Dia mengulurkan tangan untuk mengelus pucuk kepala Sungmin.

Hyukie? Eunhyuk tepatnya, adalah sahabat karib Kyuhyun serta gadis yang ia percayai untuk menjaga Sungminnya di kampus. Hyukie tentu saja sudah mengetahui semuanya melalui Kyuhyun.

Kyuhyun juga meminta Hyuk agar menjaga Sungmin dari laki-laki yang macam-macam padanya.

.

.

.

.

.

"Sudah sampai" Kyuhyun beranjak membukakan pintu mobil untuk Sungmin.

"Terima kasih, K-Kyu"

"Nanti aku akan menjemputmu, katakan pada Hyukie ya. Aku mecintaimu" Kyuhyun mengecup kening Sungmin.

Sedangkan Sungmin hanya bisa memejamkan matanya mendapat hujaman ciuman, elusan, dekapan, yang ia dapatkan sehari-hari dalam kurun waktu satu bulan ini.

"Akan kuhubungi nanti, perhatikan ponselmu ya." Kyuhyun masuk ke dalam mobilnya.

"H-hati hati di jalan, Kyu."

DEG

Kyuhyun yang mendengarnya hanya bisa terpana, ini pertama kali Sungminnya mengucapkan kata-kata seperti itu padanya.

"Ya, apa saja untukmu"

Dan mobil itupun melesat menjauh pergi dari pandangan Sungmin.

.

.

.

.

"Jadi bagaimana? Ada perkembangankah?" Tanya Eunhyuk sambil meminum jus yang ia pesan.

Mereka berada di kantin kampus sekarang, seperti biasa.

"Tidak ada Hyukie-ya. Aku harus bagaimana? Aku tetap tidak bisa mengatasinya jika berada di dekat laki-laki. A-aku takut mengecewakan Kyuhyun." Sungmin mengupas bulat jeruk ke-enamnya pelan-pelan, dan memakannya satu persatu.

"Tenanglah, kau pasti bisa Sungmin. Ini kan hanya baru lewat satu bulan. Tenanglah" Ujar Eunhyuk.

"Terima kasih Hyukie"

Sungmin tersenyum manis seraya menyuap jeruk kesekiannya ke dalam mulut. Melihat sampah kupasan jeruk di atas meja kantin, Sungmin sedikit meringis. Sungmin membeli satu lusin jeruk di supermarket dekat kampusnya dengan uang yang diberikan oleh Kyuhyun untuk persediaan jeruk dirumah. Tapi saat menghabiskan kupasan jeruk ke-enamnya, Sungmin tak yakin sisa enam jeruk itu akan utuh.

"Padahal aku membeli jeruk ini untuk Kyuhyun" Sungmin bergumam.

Eunhyuk tertawa. Ia bertanya "Lalu, kenapa kau habiskan?"

Sungmin hanya menggeleng sambil memasukkan jeruk kesekiannya dalam mulutnya.

.

.

.

.

Sungmin berjalan menuju kelas bahasa Biologi dengan setengah melamun. Sungmin bahkan tidak menyadari ketika ia sampai, pelajaran sudah dimulai.

Sungmin beruntung, Pak Kim belum tiba di kelas ketika Sungmin sampai. Sungmin bergegas duduk di kursinya, sadar seisi kelas menatapnya.

Lalu Pak Kim masuk, dan mengabsen satu per satu. Ia memain-mainkan beberapa kotak kecil
di tangannya. Diletakkannya kotak-kotak itu di meja Jungmo—teman yang Sungmin ketahui namanya, menyuruhnya membagikannya ke yang lain.

"Oke, perhatian semuanya, aku mau kalian mengambil satu potongan dari masing-masing kotak," kata Pak Kim seraya mengambil sepasang sarung tangan karet dari saku jas lab-nya, lalu mengenakannya. Suara yang keras terdengar ketika sarung tangan itu masuk hingga pergelangan tangannya terdengar tidak menyenangkan bagi Sungmin.

"Yang pertama kalian ambil seharusnya kartu indikator" Pak Kim melanjutkan, meraih kartu persegi dengan empat persegi diatasnya, lalu memperlihatkannya ke depan kelas. "Yang kedua aplikator segi empat," ia mengangkat sesuatu yang mirip sisir yang nyaris tak bergerigi ",dan yang ketiga jarum suntik kecil steril." Pak Kim mengangkat benda kecil yang terbuat dari plastik biru dan membukanya.

Memang dari jauh ujung jarumnya tidak kelihatan, tapi perut Sungmin langsung mulas.

"Aku akan berkeliling dengan air tetes untuk mempersiapkan kartu kalian, jadi tolong jangan mulai sebelum aku datang." Pak Kim mulai dari meja Jungmo lagi, berhati-hati meneteskan setetes air pada masing-masing keempat kotak itu. "Lalu aku mau kalian dengan hati-hati menusuk jari kalian dengan jarum..." Ia meraih
tangan Jungmo dan menusukkan jarum itu ke ujung jari tengah Jungmo.

Cairan lengket mengalir keluar di hadapan Sungmin.

"Taruh setetes darah, sedikit saja, pada masing-masing kotak." Pak Kim memeragakannya, meremas jari Jungmo hingga darahnya mengalir.

Sungmin menelan air liurnya karena tegang, perut Sungmin rasanya mau meledak.

"Kemudian oleskan ke kartu," Pak Kim selesai dengan peragaannya, memperlihatkan kartu yang sudah ditetesi darah di depan kelas.

Sungmin memejamkan mata, berusaha mendengar penjelasan Pak Kim dengan telinganya yang seketika berdenging.

"Palang Merah menggelar acara donor darah di distrik Gangnam akhir pekan yang akan datang, jadi kupikir kalian harus tahu golongan darah kalian, yah kalian mahasiswa, tapi Palang Merah ingin hasil yang benar-benar akurat." Pak Kim terdengar bangga.

Pak Kim berkeliling dengan air tetesnya. Sungmin menempelkan pipinya ke permukaan meja yang hitam, mencari kesejukan dan berusaha tetap sadar. Di sekelilingnya, Sungmin bisa mendengar jeritan, suara anak-anak mengeluh, dan suara tawa ketika teman-teman sekelas menusuk jari mereka. Sungmin menghirup napas pelan lewat mulutnya.

"Cho Sungmin, kau baik-baik saja?" tanya Pak Kim. Suaranya terdengar sangat dekat, mengagetkan Sungmin. "A-Aku sudah tahu golongan darahku, Pak Kim," kata Sungmin lemah. Sungmin takut mengangkat kepala. "Apa kau mau pingsan?"

"Y-ya sepertinya pak," gumam Sungmin takut-takut, diam-diam menendang dirinya sendiri karena tidak ikut Eunhyuk membolos. "Ada yang mau menolong bawa Sungmin ke UKS?" seru Pak Kim.

'Oh tidak.'

Sungmin tak perlu melihat untuk mengetahui Jungmo-lah yang mengajukan diri.
"Kau bisa jalan?" tanya Pak Kim.

"Y-ya," bisik Sungmin. Keluarkan saja aku dari sini, pikirnya. Kalau perlu, Sungmin akan merangkak.

"Ada yang bisa menghubungi kerabat Sungmin? katakan padanya sepertinya Sungmin harus pulang." Seru Pak Kim

.

.

.

.

.

Jungmo menarik Sungmin pelan menyeberangi koridor kampus. Ketika mereka tiba di sekitar kafetaria, tidak terlihat dari gedung empat, kalau-kalau Pak Kim memperhatikan, Sungmin berhenti.

"B-biarkan aku duduk dulu sebentar," Sungmin berkata takut-takut padanya. Jungmo membantu Sungmin duduk di ujung jalan setapak.

"D-dan apapun yang kau lakukan, j-jaga tanganmu," kata Sungmin mengingatkan.

Sungmin masih sangat pusing. Sungmin merebahkan diri dengan posisi miring, menempelkan pipi ke lapisan semen yang dingin dan lembap, memejamkan mata. Sepertinya ini agak membantu.

"Wow, kau gemetaran dan pucat, Sungmin," kata Jungmo khawatir.

Sungmin tahu gemetaran itu bukan efek kejadian di kelas tadi, ini murni rasa takutnya pada Jungmo.

"K-kau bisa pergi. T-terima kasih" Pinta Sungmin.

"Aku akan menunggu sampai suamimu datang. Maka dari itu sebaiknya kita ke UKS sekarang" Kata Jungmo final.

'A-apa? Suami?' itu berarti Kyuhyun! Oh tidak, Sungmin tidak berharap Kyuhyun ada disini sekarang. Melihatnya seperti ini. Bagaimana jika Kyuhyun marah padanya hanya karena hal sepele seperti ini Kyuhyun harus menyempatkan dirinya menjemput Sungmin lebih awal dan meninggalkan rapat-rapat pentingnya.

Kenapa Pak Kim berinisiatif memanggil Kyuhyun?!

"A-aku tidak apa-apa. Kembalilah. K-kumohon" Sungmin bergegas meraih ponselnya.

"Tidak. Aku akan menemanimu disini"

Dan Sungmin pun semakin gemetaran.

Sungmin sudah akan menelfon Kyuhyun, menyuruh agar pria itu tidak perlu repot-repot datang kesini hanya untuk menjemputnya. Sampai...

"Sungmin?" suara yang berbeda memanggil dari jauh.

Tidak! Tolong biarkan suara yang sangat kukenal itu hanya imajinasi. Batin Sungmin.

"Apa yang terjadi—apa dia sakit?" Suaranya lebih dekat sekarang, dan ia terdengar muram dan cemas. Sungmin tidak sedang berkhayal. Sungmin terus memejamkan mata, berharap dirinya mati. Atau setidaknya, tidak muntah.
Jungmo tampak sangat khawatir. "Kurasa dia pingsan. Aku tidak tahu apa yang terjadi, dia bahkan tidak menusuk jarinya."

"Sungmin." Kyuhyun sudah merangkul Sungmin ke dalam dekapannya sekarang, lega. "Kau bisa mendengarku?"

"Aku sedang membawanya ke UKS," Jungmo menjelaskan dengan nada defensif, "tapi dia tak bisa berjalan lebih jauh lagi."

"Aku akan membawanya pulang," kata Kyuhyun. Sungmin masih bisa mendengar nada khawatir dalam kata-katanya. "Kau bisa kembali ke kelas. Terima kasih."

Jungmo menggertakan gigi. "Tidak. Aku yang seharusnya melakukannya." Kyuhyun yang malas berdebat dengan bocah satu ini, maka dengan tenang mengabaikannya.

Tiba-tiba jalan setapak seolah lenyap dari bawah Sungmin. Sungmin membuka matanya karena terkejut. Kyuhyun telah menggendongnya, begitu mudahnya seolah berat Sungmin hanya lima kilo, bukannya 55.

"T-Turunkan a-aku" Kumohon, kumohon, jangan biarkan aku muntah di tubuhnya. Batin Sungmin.

Kyuhyun mengabaikannya. "Kau tampak kacau," Katanya pada Sungmin dengan nada cemas. "Kau pasti sangat tidak nyaman dengan laki-laki tadi. Maaf aku terlambat."

"M-maaf, aku malah merepotkanmu" Sungmin bergetar dalam gendongan Kyuhyun—gugup. "Laki-laki itu beruntung dia tadi tidak kuhajar karena melihat keadaanmu" Kyuhyun meracau tidak jelas, mengabaikan kata-kata Sungmin.

"K-kyu, aku bisa sendiri. T-turunkan aku" Sungmin masih sangat gugup, berada dalam gendongan seorang laki-laki—yang meskipun suaminya. Ayunan langkahnya tidak membuat Sungmin lebih baik. Kyuhyun membopongnya dengan lembut, menaruh seluruh berat tubuh Sungmin pada lengannya, dan ini sepertinya tidak mengganggunya.

"Aku senang aku datang, aku jadi mengetahui beberapa hal tentang dirimu lagi" Kyuhyun mencoba menghilangkan nada cemas dalam suaranya.

"Jadi kamu pingsan karena melihat darah?" Sungmin tidak menyahut. Dipejamkan matanya lagi dan dengan segenap tenaga melawan mual. Dikatupkan bibirnya rapat-rapat. "Jadi, Cho Sungmin yang takut dengan darah, dan addicted pada jeruk" Kyuhyun tersenyum memandang Sungmin dalam gendongannya.

Sungmin tidak tahu bagaimana Kyuhyun membuka pintu mobil sambil menggendongnya, tapi tiba-tiba suasananya hangat, jadi Sungmin tahu mereka berada di dalam mobil Kyuhyun.

"Tidurlah, kita pulang. Akan ada Dokter Jung dirumah" Sungmin sudah setengah sadar saat Kyuhyun mengatakan hal tersebut dan memakaikannya seatbelt. "Jeruknya aku—" Sungmin ingin mengatakan tidak perlu membuat Dokter Jung datang segala, toh dia sudah baikan. Hanya butuh tidur. Tapi yang keluar malah kata-kata itu—jeruk.

"Iya, aku tahu. Nanti akan ku belikan lagi untuk persediaan dirumah" potong Kyuhyun sambil tersenyum.

Yasudah apa boleh buat, Sungmin sudah berada di ambang kesadarannya. Lebih baik tertidur daripada muntah—batin Sungmin.

Sampai sebuah elusan hangat di pipi Sungmin dan sebuah kecupan di kelopak matanya membuat Sungmin pun benar-benar jatuh tertidur.